Tag: soekarno

  • Jalan-jalan ke Monas Nggak Hanya Bisa Nikmati Suasana Jakarta, Tapi Juga Belajar Sejarah Indonesia

    Jalan-jalan ke Monas Nggak Hanya Bisa Nikmati Suasana Jakarta, Tapi Juga Belajar Sejarah Indonesia

    7cloud.asia – Bulan Juli ini tepat satu tahun Monumen Nasional atau Monas dibuka kembali secara penuh untuk wisatawan umum. Jadi buat kamu yang sedang jalan-jalan ke Jakarta, maka sempatkan mampir ke Monas.

    Nah, buat kamu yang ingin menyambangi Monas, ada banyak spot yang bisa kamu nikmati. Dan, di Monas kamu nggak hanya bakal melancong, kamu bisa belajar banyak di ikon Jakarta yang dibangun di era Presiden Soekarno ini.

    Tugu Monas bisa dibedakan menjadi empat titik, yakni Taman Monas, Pelataran Bawah Monas Pelataran Cawan, Pelataran Puncak, dan Lidah Api. 

     

    Jadi kamu tak hanya bisa naik ke Puncak Lidah Api Monas untuk menikmati keindahan Jakarta dari ketinggian. Kamu juga bisa belajar tentang sejarah Indonesia sejak jaman purba hingga pasca kemerdekaan serta mengenal para pahlawan nasional.

    Baca: Wisata ramah lingkungan itu seperti apa?

    Penasaran? Segera saja simak daftar aktivitas yang bisa dinikmati saat menyambangi Tugu Monas yang berada di jantung Kota Jakarta ini: 

    1. Taman Monas 

    Taman Monas memiliki luas 65,4 hektare, merupakan ruang terbuka hijau di pusat Jakarta. Kalau kamu ingin mengitari Taman Monas disarankan memakai alas kaki yang nyaman ataupun topi agar lebih nyaman menjelajahi seluruh sudut di Taman Monas ini. 

    Jangan lupa juga membawa minuman ya, dan yang pasti jangan membuang sampah sembarangan.

    2. Fasilitas olahraga 

    Monas juga punya fasilitas olahraga, seperti lapangan futsal, lapangan voli, dan juga lapangan basket.  Tersedia area tempat refleksi tubuh yang bisa dicoba secara gratis bagi para wisatawan. 

    Baca: Belajar budaya Betawi pesisir di Museum Si Pitung

    3. Patung Diponegoro 

    Selain bisa menikmati berbagai fasilitas yang menarik, di kawasan Monas juga ada beberapa patung para pahlawan Indonesia. Salah satunya adalah Patung Diponegoro yang terletak sisi utara kawasan Monas. 

    Patung itu dulunya adalah pemberian dari mantan Konsul Jenderal Kehormatan Indonesia di Italia, Dr Mario Pitto.

    Patung Diponegoro dibuat oleh pemahat Italia bernama Profesor Cobertaldo.  Diponegoro adalah pahlawan nasional kelahiran Yogyakarta pada 11 November 1785. Dia menjadi tokoh utama dalam Perang Jawa pada periode 1825-1830 melawan Hindia Belanda. 

    Diponegoro dianggap berjasa dan hingga kini masih dijadikan teladan bagi masyarakat Indonesia. 

    Baca: Mengenal batik di 5 museum batik ini

    4. Patung Ikada 

    Di sebelah selatan kawasan Monas ada Patung Ikada, singkatan dari Ikatan Atletik Djakarta. Jika patung lain di Monas menggambarkan pahlawan Indonesia, patung ini berbentuk sosok lima pemuda yang memasang bendera Merah Putih.

    Patung Ikada dibuat untuk mengenang salah satu peristiwa bersejarah di Indonesia, yakni Rapat Raksasa Ikada pada 19 September 1945. 

    Rapat tersebut diabadikan menjadi sebuah patung guna menandai pertama kalinya Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dan Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta bertemu dengan rakyat. 

    5. Patung MH Thamrin 

    Di sebelah barat Monas ada Patung Muhammad Husni (MH) Thamrin. MH Thamrin dianggap sebagai pahlawan kemerdekaan asli Betawi.

    Patung MH Thamrin dibuat oleh seniman bernama Arsono serta diresmikan pada 11 Januari 1982.  Bukan hanya terkenal sebagai pahlawan nasional, MH Thamrin juga dikenal sebagai pedagang yang dermawan.

    MH Thamrin diketahui pernah memberikan sejumlah uang kepada keluarga Soekarno.

    Baca: Daftar desa adat yang bisa kita sambangi

    6. Patung RA Kartini 

    Patung RA Kartini dipajang di sisi barat Monas. Di sana ada tiga buah patung yang menggambarkan RA Kartini tengah menari dengan gerakan berbeda. 

    Jika Patung Diponegoro pemberian dari Italia, Patung RA Kartini di Monas ini adalah pemberian dari Pemerintah Jepang kepada Indonesia.

    Bukti patung RA Kartini adalah pemberian Jepang terlihat dari adanya ukiran huruf Jepang di bagian bawah patung. 

    7. Patung Chairil Anwar

    Selain pahlawan, Di Monas juga ada  patung seorang penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar. Patung Chaiaril Anwar diletakkan di kawasan utara Monas.  Patung setengah badan tersebut menggambarkan wajah Chairil Anwar dengan pandangan lurus ke depan.

    Patung berbahan perunggu tersebut juga dibuat oleh Arsono. Peresmian Patung Chairil Anwar dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta R Suprapto pada 21 Maret 1986.   

    Baca: Mengenal flora dan fauna di Kebun Raya

    8. Museum Sejarah Perjuangan Nasional 

    Selain Monas, wisatawan juga bisa berkunjung ke Museum Sejarah Perjuangan Nasional. Museum yang punya tinggi ruangan sampai delapan meter dengan luas 80×80 meter itu berisi 12 diorama dengan menampilkan berbagai peristiwa bersejarah di Indonesia.

    Lebih dari 30 diorama tersebut menggambarkan sejarah Indonesia dari era pra sejarah, zaman kerajaan, masa penjajahan Belanda dan Jepang, hingga peristiwa reformasi Mei 1998.  

    9. Pelataran Bawah 

    Bagian Pelataran Cawan Monas luasnya mencapai 45×45 meter, dikutip dari laman Museum Jakarta. 

    Adapun jarak antara tinggi Monas hingga area Pelataran Cawan lebih kurang 17 meter. Dari tempat ini wisatawan bisa melihat Taman Monas yang menjadi salah satu area beraktivitas masyarakat di Jakarta.

    Baca: Mengenal sejarah bebatuan di Bumi di geopark

    10. Pelataran Puncak 

    Naik ke bagian lebih atas ada Pelataran Puncak Monas yang areanya semakin kecil, punya luas 11×11 meter. Buat wisatawan yang tertarik menuju ke area Pelataran Puncak Monas, bisa naik lift atau tangga.

    Dari Pelataran Puncak Monas ini, kita bisa melihat pemandangan Kota Jakarta. Jika cuaca cerah bisa melihat panorama Gunung Salak serta Kepulauan Seribu. 

    11. Lidah Api 

    Lidah Api Monas menjaid tujuan utama para pengunjung. Lidah api Monas tampak mencolok dengan bentuk seperti kobaran api keemasan.

    Lidah Api Monas terbuat dari bahan perunggu dengan tinggi 17 meter, berdiameter 6 meter, dengan berat 14,5 ton. Bagian luarnya dilapisi dengan emas seberat 45 kilogram (kg) dan terdiri dari 77 bagian kemudian disatukan. 

    Baca: Akankah pembangunan hunian berkonsep TOD mampu atasi kemacetan?

  • Festival Bulan Bung Karno: Ganjar Ajak Anak Muda Teladani Semangat Soekarno yang Tak Bicara Kepentingan Pribadi dan Keluarga

    Festival Bulan Bung Karno: Ganjar Ajak Anak Muda Teladani Semangat Soekarno yang Tak Bicara Kepentingan Pribadi dan Keluarga

    7cloud.asia – Calon Presiden Pemilu 2024 Ganjar Pranowo mengajak generasi muda untuk belajar dari tokoh pendiri bangsa yakni Soekarno atau Bung Karno.

    Soekarno atau Bung Karno tidak pernah berbicara kepentingan pribadi maupun keluarga dalam proses panjang perjuangannya.

    Dalam mendirikan, memimpin maupun mengurus Republik Indonesia, Soekarno yang kemudian menjadi presiden pertama Indonesia selalu mengedepankan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

    Untuk itu, Ganjar mengajak agar semangat api Soekarno atau yang lebih dikenal dengan Bung Karno tetap diwariskan oleh para pemuda, dan jangan justru mewarisi abunya.

    Baca: Bung Karno melelang peci untuk bagi sedekah bagi rakyat

    “Apinya api perjuangan, tidak pernah menyerah tidak pernah takut,” kata Ganjar usai mengikuti lomba marathon Soekarno Run di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (30/6/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Ganjar menilai bahwa saat ini kondisi bangsa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Maka dia mengajak para pemuda dan masyarakat pada umumnya untuk meluruskan sesuatu yang bengkok dengan membawa semangat yang dikobarkan oleh Bung Karno.

    Ganjar turut mengikuti lomba marathon yang digelar PDI Perjuangan sebagai rangkaian Festival Bulan Bung Karno dengan berlari sejauh 5 kilometer, bersama ribuan peserta lainnya.

    Ganjar memaknai lomba lari ini bukan sebatas olah raga saja, melainkan juga merupakan lomba yang menghidupkan kembali semangat para pendiri bangsa termasuk Bung Karno.

    Baca: Ki Hajar Dewantoro perumus kebijakan pendidikan nasional

    Para pendiri bangsa yang tetap tidak pernah berhenti berjuang walaupun harus lari dari sebuah proses politik bangsa yang tidak mengenakkan.

    “Dia dipenjara, dia dibuang, dan Soekarno tidak pernah berhenti,” kata Mantan Gubernur Jawa Tengah itu.

    Selain Ganjar, sejumlah tokoh PDI Perjuangan turut berpartisipasi dalam kegiatan rangkaian Festival Bulan Bung Karno tersebut

    Meskipun memulai start dengan agak telat, Ganjar berhasil menyelesaikan larinya hingga garis finish dengan waktu kurang lebih 25 menit. Lomba tersebut dimulai dari Plaza Parkir Timur dan diakhiri di garis finish di titik yang sama.

    Sumber:Antaranews.com

  • MPR Tetapkan TAP MPRS XXXIII Tak Lagi Berlaku, Keluarga Soekarno Tak Akan Tuntut Keadilan di Muka Hukum

    MPR Tetapkan TAP MPRS XXXIII Tak Lagi Berlaku, Keluarga Soekarno Tak Akan Tuntut Keadilan di Muka Hukum

    7cloud.asia – Ketua MPR Bambang Soesatyo menyerahkan surat pimpinan MPR RI tentang tidak berlakunya lagi TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintah Negara dari Presiden Soekarno.

    Surat tersebut diserahkan langsung kepada sejumlah anak Soekarno atau Bung Karno, di antaranya Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Guntur Soekarnoputra, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

    “Saudara-saudara yang hadir pada pagi hari ini akan menjadi saksi sejarah secara langsung untuk mengikuti acara penyerahan surat pimpinan MPR RI kepada Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia serta kepada keluarga besar Bung Karno perihal tindak lanjut tidak berlakunya TAP MPR Nomor XXXIII/MPRS/1967 tanggal 12 Maret 1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintah Negara dari Presiden Soekarno,” kata Bamsoet, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/9/2024).

    Bamsoet menjelaskan bahwa MPR telah menerima Surat Menteri Hukum dan HAM perihal tidak lanjut tidak berlakunya TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967.

    Pimpinan MPR telah merespons surat tersebut dengan membawa dan membahasnya dalam rapat pimpinan MPR pada 23 Agustus 2024.

     

    Baca: Bung Karno adalah pemimpin yang selalu pikirkan nasib rakyat kecil

    “Sesuai dengan hasil keputusan rapat pimpinan MPR yang telah ditandatangani 10 orang pimpinan MPR tersebut, kami telah bersepakat untuk menjawab secara resmi kelembagaan Surat Menteri Hukum dan HAM tersebut, yang isinya sebagaimana telah dibacakan oleh Pelaksana Tugas Sekjen MPR,” ujarnya.

    Meski sudah dicabut, Bamsoet menyadari ada persoalan psikologis dan politis terkait tuduhan kepada Presiden Soekarno telah mendukung pemberontakan dan pengkhianatan Gerakan 30 September (G30S) PKI pada tahun 1965.

    “TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 telah dinyatakan sebagai kelompok Ketetapan MPRS yang tidak perlu dilakukan tindakan hukum lebih lanjut, baik karena bersifat einmalig (final), telah dicabut, maupun telah selesai dilaksanakan,” katanya.

    Dalam kesempatan itu, Putra Sulung Soekarno, Guntur Soekarnoputra, mewakili keluarga Soekarno mengatakan pihaknya tidak akan mempersoalkan dan menuntut soal terbitnya TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintah Negara dari Presiden Soekarno.

    “Kami sekeluarga telah bersepakat tidak akan mempersoalkan, apalagi menuntut ketidakadilan di muka hukum terhadap apa yang pernah dialami Bung Karno tersebut pada saat ini,” kata Guntur di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin.

     

    Baca: Serunya Festival Bulan Bung Karno untuk warisi semangat dan ajaran Bung Karno

    Sebaliknya, pihak keluarga Soekarno menginginkan rehabilitasi nama baik Soekarno atas tuduhan pengkhianatan terhadap bangsa dengan mendukung Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965.

    “Keinginan tersebut bukan hanya bagi nama baik Bung Karno di mata anak-anak, cucu-cucu dan cici-cicitnya, tetapi lebih penting dari itu semua adalah bagi kepentingan pembangunan mental dan karakter bangsa, khususnya bagi generasi penerus bangsa ini,” tuturnya.

    Dia menuturkan bahwa pihaknya harus menunggu selama 57 tahun lamanya demi terbitnya keadilan atas pendongkelan Soekarno sebagai presiden dan tuduhan terkait dengan G30SPKI dalam TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 itu, hingga akhirnya surat pimpinan MPR tentang tidak berlakunya TAP MPRS tersebut keluar tahun ini (2024).

    “Faktanya kami telah menunggu dan menunggu selama lebih dari 57 tahun enam bulan alias 57 tahun setengah akan datangnya sikap perikemanusiaan dan keadilan sesuai dengan Pancasila yang mana termaktub sila kemanusiaan yang adil dan beradab dari lembaga MPR kepada Bung Karno,” katanya.

    Bahkan, dia mengatakan bahwa pendongkelan Soekarno dari kursi presiden tersebut merupakan perkara biasa, sebab menuntut dia tampuk kekuasaan memang memiliki batas dalam demokrasi.

    Baca: Bung Karno melelang peci untuk sedekah hari raya

    “Bagi kami keluarga besar Bung Karno dan bagi rakyat Indonesia yang mencintai Bung Karno, perihal Bung Karno harus berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia adalah perkara biasa karena memang kekuasaan seorang presiden Indonesia harus ada batasnya, tidak peduli siapapun dia Presiden Indonesia itu, memang harus ada batasnya,” tuturnya.

    Dia menyebut yang justru tidak dapat diterima oleh pihaknya ialah alasan pemberhentian Presiden Soekarno karena dituduh mengkhianati bangsa dan negara dengan memberikan dukungan terhadap pemberontakan G30SPKI pada 1965.

    “Tuduhan keji yang tidak pernah dibuktikan melalui proses peradilan apapun juga seperti itu telah memberikan luka yang sangat mendalam bagi keluarga besar kami, maupun rakyat Indonesia yang patriotik dan nasionalis yang mencintai Bung Karno sampai ke akhir zaman,” ucapnya.

    Menurut dia, tuduhan tersebut tidak masuk nalar dan logika akal sehat. “Bagaimana mungkin seorang proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia mau melakukan pengkhianatan terhadap negara yang ia proklamasikan sendiri kemerdekaannya?”.

    Meski demikian, dia mengatakan bahwa pihaknya telah memaafkan pendongkelan Soekarno dan tuduhan yang dialamatkan kepadanya selama ini.

    Baca: Mengenal apa itu Dedication of Life Soekarno

    Ia berharap apa yang dialami Soekarno tidak terjadi lagi di kemudian hari sebab semua orang memiliki hak untuk diperlakukan sama di mata hukum.

    “Atas dasar pertimbangan tersebut dan demi persatuan serta kesatuan bangsa dan demi masa depan generasi muda yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa, kami sekeluarga telah bersepakat untuk memaafkan semua yang terjadi di masa lalu, menyangkut perlakuan terhadap diri Bung Karno dan keluarganya,” ujarnya.

    Dia pun menilai penyerahan surat tentang tidak berlakunya lagi TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 oleh pimpinan MPR RI kepada keluarga Soekarno dan Menkumham, terbitnya Keputusan Presiden Nomor 83/TK/Tahun 2012, serta pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo di Istana Negara tanggal 7 November 2022 menggugurkan tuduhan yang dialamatkan ke Soekarno selama ini.

    Tuduhan terhadap Bung Karno telah melakukan pengkhianatan kepada bangsa dan negara telah tidak terbukti dan gugur demi hukum, sekali lagi tidak terbukti dan gugur demi hukum.

    “Hal tersebut kami pandang sebagai ikhtiar kita untuk menghapus stigma buruk kepada seorang proklamator dan bapak bangsa kita sendiri, serta untuk membangun rekonsiliasi nasional demi persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya.

    Sumber:Antaranews.com

  • 60 Tahun Komplek Gedung MPR/DPR/DPD: Berawal dari Mimpi Besar Presiden Soekarno

    60 Tahun Komplek Gedung MPR/DPR/DPD: Berawal dari Mimpi Besar Presiden Soekarno

    7cloud.asia – Pada 19 April 2025 ini, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD yang berlokasi di Senayan, Jakarta Pusat berusia tepat 60 tahun.

    Memperingati 60 tahun Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, 7cloud.asia mengulas sejarah bangunan yang kini sering menjadi tujuan para demonstran untuk mengekspresikan aspirasinya.

    Salah satu gedung yang paling unik di Komplek MPR/DPR/DPD adalah Gedung Nusantara, yang memiliki makna filosofis merepresentasikan Indonesia. Bentuk kubah menyimbolkan kepakan sayap Garuda, lambang negara Indonesia.

    Sedangkan, dua struktur beton yang melewati kubah menyimbolkan cengkraman Garuda yang bermakna bahwa Indonesia dapat terbang tinggi melampaui bangsa-bangsa lain dengan tetap berpegang pada identitas dan jati dirinya.

    Secara teknis, bentuk atap Gedung Nusantara dibuat sedemikian rupa agar di dalam Ruang Sidang Paripurna I tidak ada tiang yang akan menghalangi pandangan peserta sidang serta agar tidak mengurangi kapasitas kursi di dalamnya.

    Belakangan, terjadi penambahan beberapa gedung baru, baik untuk Sekretariat Jenderal DPR, ruangan Anggota DPR, tempat ibadah, ruang terbuka hijau, dan lain sebagainya.

    Baca: Menelusuri jejak Rusia di Kota Jakarta

    Gedung Nusantara, Gedung Nusantara II, Gedung Nusantara III, Gedung Nusantara IV, dan Gedung Nusantara V telah ditetapkan menjadi Bangunan Cagar Budaya Tingkat Provinisi DKI Jakarta, sejak tahun 1993.

    Komplek MPR/DPR/DPD saat ini menjadi monumen hidup perjalanan demokrasi bangsa Indonesia. Komplek ini masih digunakan sebagai tempat rapat dan sidang para anggota DPR, DPD maupun MPR.

    Berawal dari CONEFO
    Gedung MPR/DPR/DPD ini awalnya ditujukan sebagai sekretariat Conference of the Emerging Forces (CONEFO).

    CONEFO merupakan lembaga perserikatan bangsa-bangsa bentukan Presiden Soekarno yang memiliki spirit untuk meredam neo-kolonialisme dan neo-imperialisme, terutama dari negara- negara Barat.

    Salah satu Langkah awal yang dilakukan oleh Soekarno adalah membangun kawasan sekretariat CONEFO yang berfungsi sebagai tempat rapat dan bersidang para anggota CONEFO kelak.

    Presiden Soekarno kemudian memilih sebagian kawasan Senayan yang luasnya mencapai 80 hektare sebagai tempat sekretariat CONEFO.

    Baca: Gereja Imamnuel salah satu gereja tertua di Jakarta

    Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan pada 19 April 1965 atau bertepatan pada momentum peringatan sepuluh tahun penyelenggaraan Konferensi Asia- Afrika.

    Komplek CONEFO yang dirancang Soejoedi Wirjoatmodjo, Dpl.Ing ini mengusung konsep kepribadian bangsa Indonesia yang mampu menjawab tantangan zaman, dan megah.

    Presiden Soekarno, saat itu menunjuk arsitek-arsitek handal dari Indonesia untuk merancang Kompleks CONEFO. Dalam merancang bangunan ini, Soejoedi dibantu arsitek handal lain, seperti: Soetami, Slamet Wirasonjaya, dan Nurponco.

    Pembangunan Komplek CONEFO melibatkan banyak pekerja, baik profesional maupun sukarelawan. Tercatat, terdapat kurang lebih 27.000 tenaga yang membangun bangunan CONEFO ini.

    Banyaknya jumlah pekerja kemudian memunculkan istilah “armada semut”, karena jika dilihat dari kejauhan, ribuan pekerja tampak seperti semut yang bekerja.

    Baca: 305 Objek jadi cagar budaya dalam empat tahun terakhir

    Kompleks CONEFO ditargetkan selesai pembangunannya pada 17 Agustus 1966. Namun, target tersebut tidak tercapai karena terdapat peristiwa G30S pada 30 September 1965.

    Peristiwa tersebut turut menyumbang dampak terhambatnya pembangunan Kompleks CONEFO. Pasca Peristiwa G30S, kekuasaan Soekarno tampak melemah dan mengakibatkan surutnya pergerakan CONEFO di kancah internasional.

    Lengsernya Soekarno berakibat pada mandeknya proyek Komplek CONEFO. Akhirnya, Soeharto yang memiliki kuasa lewat Supersemar, mengalihfungsikan Kompleks CONEFO menjadi Kompleks Parlemen pada 9 November 1966.

    Pembangunan terus berlanjut. Terdapat 4 gedung utama yang dibangun pada masa awal, yaitu: Gedung Konferensi, Gedung Sekretariat, Gedung Perjamuan, dan Gedung Pastjad.

    Akhirnya, pada 18 Maret 1968, Kompleks Parlemen dapat difungsikan sebagai tempat bersidang oleh Badan Pekerja MPRS untuk Sidang Umum ke-V.