60 Tahun Komplek Gedung MPR/DPR/DPD: Berawal dari Mimpi Besar Presiden Soekarno

Written by

in

7cloud.asia – Pada 19 April 2025 ini, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD yang berlokasi di Senayan, Jakarta Pusat berusia tepat 60 tahun.

Memperingati 60 tahun Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, 7cloud.asia mengulas sejarah bangunan yang kini sering menjadi tujuan para demonstran untuk mengekspresikan aspirasinya.

Salah satu gedung yang paling unik di Komplek MPR/DPR/DPD adalah Gedung Nusantara, yang memiliki makna filosofis merepresentasikan Indonesia. Bentuk kubah menyimbolkan kepakan sayap Garuda, lambang negara Indonesia.

Sedangkan, dua struktur beton yang melewati kubah menyimbolkan cengkraman Garuda yang bermakna bahwa Indonesia dapat terbang tinggi melampaui bangsa-bangsa lain dengan tetap berpegang pada identitas dan jati dirinya.

Secara teknis, bentuk atap Gedung Nusantara dibuat sedemikian rupa agar di dalam Ruang Sidang Paripurna I tidak ada tiang yang akan menghalangi pandangan peserta sidang serta agar tidak mengurangi kapasitas kursi di dalamnya.

Belakangan, terjadi penambahan beberapa gedung baru, baik untuk Sekretariat Jenderal DPR, ruangan Anggota DPR, tempat ibadah, ruang terbuka hijau, dan lain sebagainya.

Baca: Menelusuri jejak Rusia di Kota Jakarta

Gedung Nusantara, Gedung Nusantara II, Gedung Nusantara III, Gedung Nusantara IV, dan Gedung Nusantara V telah ditetapkan menjadi Bangunan Cagar Budaya Tingkat Provinisi DKI Jakarta, sejak tahun 1993.

Komplek MPR/DPR/DPD saat ini menjadi monumen hidup perjalanan demokrasi bangsa Indonesia. Komplek ini masih digunakan sebagai tempat rapat dan sidang para anggota DPR, DPD maupun MPR.

Berawal dari CONEFO
Gedung MPR/DPR/DPD ini awalnya ditujukan sebagai sekretariat Conference of the Emerging Forces (CONEFO).

CONEFO merupakan lembaga perserikatan bangsa-bangsa bentukan Presiden Soekarno yang memiliki spirit untuk meredam neo-kolonialisme dan neo-imperialisme, terutama dari negara- negara Barat.

Salah satu Langkah awal yang dilakukan oleh Soekarno adalah membangun kawasan sekretariat CONEFO yang berfungsi sebagai tempat rapat dan bersidang para anggota CONEFO kelak.

Presiden Soekarno kemudian memilih sebagian kawasan Senayan yang luasnya mencapai 80 hektare sebagai tempat sekretariat CONEFO.

Baca: Gereja Imamnuel salah satu gereja tertua di Jakarta

Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan pada 19 April 1965 atau bertepatan pada momentum peringatan sepuluh tahun penyelenggaraan Konferensi Asia- Afrika.

Komplek CONEFO yang dirancang Soejoedi Wirjoatmodjo, Dpl.Ing ini mengusung konsep kepribadian bangsa Indonesia yang mampu menjawab tantangan zaman, dan megah.

Presiden Soekarno, saat itu menunjuk arsitek-arsitek handal dari Indonesia untuk merancang Kompleks CONEFO. Dalam merancang bangunan ini, Soejoedi dibantu arsitek handal lain, seperti: Soetami, Slamet Wirasonjaya, dan Nurponco.

Pembangunan Komplek CONEFO melibatkan banyak pekerja, baik profesional maupun sukarelawan. Tercatat, terdapat kurang lebih 27.000 tenaga yang membangun bangunan CONEFO ini.

Banyaknya jumlah pekerja kemudian memunculkan istilah “armada semut”, karena jika dilihat dari kejauhan, ribuan pekerja tampak seperti semut yang bekerja.

Baca: 305 Objek jadi cagar budaya dalam empat tahun terakhir

Kompleks CONEFO ditargetkan selesai pembangunannya pada 17 Agustus 1966. Namun, target tersebut tidak tercapai karena terdapat peristiwa G30S pada 30 September 1965.

Peristiwa tersebut turut menyumbang dampak terhambatnya pembangunan Kompleks CONEFO. Pasca Peristiwa G30S, kekuasaan Soekarno tampak melemah dan mengakibatkan surutnya pergerakan CONEFO di kancah internasional.

Lengsernya Soekarno berakibat pada mandeknya proyek Komplek CONEFO. Akhirnya, Soeharto yang memiliki kuasa lewat Supersemar, mengalihfungsikan Kompleks CONEFO menjadi Kompleks Parlemen pada 9 November 1966.

Pembangunan terus berlanjut. Terdapat 4 gedung utama yang dibangun pada masa awal, yaitu: Gedung Konferensi, Gedung Sekretariat, Gedung Perjamuan, dan Gedung Pastjad.

Akhirnya, pada 18 Maret 1968, Kompleks Parlemen dapat difungsikan sebagai tempat bersidang oleh Badan Pekerja MPRS untuk Sidang Umum ke-V.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *