Tag: spesies

  • KLHK: Sejumlah Spesies Baru Ditemukan di Hutan Indonesia

    KLHK: Sejumlah Spesies Baru Ditemukan di Hutan Indonesia

    7cloud.asia – Di tengah berbagai berita tak sedap soal lingkungan, kabar gembira disampaikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),yakni ditemukan spesies baru di wilayah Indonesia.

    Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) KLHK, Satyawan Pudyatmoko menyebut dua spesies flora dan satu spesies fauna baru ditemukan di Indonesia. 

    Satyawan mengatakan spesies-spesies baru itu ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia yang lingkungan nya masih terjaga.

    Salah satu spesies endemik yang berhasil ditemukan pada tahun 2022 adalah Hanguana Sitinurbayai.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Dunia

    “Ini merupakan satu-satunya spesies hanguana yang tumbuh di hutan pegunungan berlumut. Spesies ini ditemukan di Cagar Alam Gunung Nyiut, Provinsi Kalimantan Barat,” kata Satyawan, Senin (21/8/2023).

    Hanguana Sitinurbayai termasuk ke dalam famili hanguanaceae, tumbuhan endemik Kalimantan yang mampu hidup di rawa pada ketinggian 1.540 meter di atas permukaan laut.

    Spesies flora baru lain yang ditemukan adalah Bulbophyllum Wiratnoi. Spesies yang ditemukan di wilayah Sorong, Papua Barat ini sebetulnya sudah ditemukan pada 2018, tetapi baru dipublikasikan di awal 2023.

    Bulbophyllum Wiratnoi merupakan spesies anggrek dengan habitus epifit atau tumbuhan yang menumpang pada tumbuhan lain, tapi tidak mengambil unsur hara secara langsung dari inangnya.

    Baca: KLHK akui 16 hutan adat di Gunung Mas

    Tumbuhan itu ditemukan di ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dengan ketinggian 114 meter di atas permukaan laut.

    “Spesies baru fauna yang ditemukan adalah Myzomela Irianawidodoae yang ditemukan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur,” ucap Satyawan.

    Myzomela Irianawidodoae adalah satwa endemik Pulau Rote yang termasuk dalam famili meliphagidae, dengan status dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.

    Ciri-ciri burung ini adalah bagian kepala hingga dada atas dan tengkuk berwarna merah; punggung dan ekor berwarna hitam; dan sayap berwarna hitam bercampur abu-abu gelap.

    Baca: Seperti ini pendidikan yang berperan dalam pelestarian lingkungan

    “Kita berharap setelah penemuan ini ada eksplorasi dan ekspedisi lanjutan di tempat lain, sehingga akan makin banyak terkuak kekayaan hayati yang sampai saat ini belum dikenal,” ujarnya.

    Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, mengatakan lebih dari 90 spesies baru telah ditemukan dalam kurun waktu 2021-2023.

    Penemuan spesies baru itu berdasarkan eksplorasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    “Masih banyak lagi jenis tumbuhan dan satwa liar selain mikrob yang belum terindetifikasi dan tereksplorasi yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia,” ucapnya.

    Baca: KLHK gugat 22 perusahaan yang dinilai picu kebakaran hutan

    Siti menilai penemuan berbagai spesies baru dapat menjadi angin segar dan harapan bagi upaya konservasi di Indonesia.

    Penemuan itu juga menjadi salah satu indikator bahwa kondisi keanekaragaman hayati di Indonesia masih sangat melimpah.

    “Kekayaan ini merupakan anugerah yang harus dijaga. Kolaborasi dan dukungan multi pihak tentunya selalu dibutuhkan dalam menciptakan hutan lestari yang kaya akan biodiversitas,” katanya.

    Bukan hanya itu, penemuan spesies baru tersebut juga menjadi penting untuk pengetahuan alam Indonesia serta sebagai upaya pengayaan spesies dan genetik.

    Baca: Mengenang 200 tahun Alfred Wallace

    Hal ini untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat. Lalu, untuk eksplorasi sumber daya alam hayati, spesies, dan genetik yang dapat secara langsung menyejahterakan masyarakat.

    “Masyarakat makin cerdas bahwa kita punya ini dan perspektif hutan kita diperkaya oleh ilmu pengetahuan,” tandas Siti.

    Indonesia terletak di dua wilayah biogeografi Australasia dan Indomalaya serta memiliki zona transisi Wallace.

    Dengan demikian Indonesia memiliki banyak satwa endemik yang tidak dimiliki oleh negara lain. Indonesia juga merupakan habitat bagi 17 persen satwa liar dunia dengan lebih dari seribu spesies yang berbeda.

    Baca: Food estate, pelestarian atau ancaman bagi keanekaragaman hayati?

    Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amir Hamidy, mengatakan hal tersebut membuat Indonesia diberkahi zona biogeografi yang unik.

    Indonesia, ujarnya, mempunyai kekayaan endemisitas yang tinggi. Jadi kekayaan endemisitas yang tinggi belum tentu memiliki populasi yang tinggi.

    “Tapi populasinya biasanya sedikit tapi sangat unik,” katanya.

    Amir pun mengungkapkan banyak kawasan di Indonesia yang lingkunga nya masih terlindungi dan belum dieksplorasi sehingga spesies-spesies baru sangat mungkin ditemukan.

    Baca: Dilema sawit, antara ketahanan pangan dan ancaman bagi lingkungan

    “Hampir seluruh wilayah Indonesia merupakan hotspot biodiversitas. Kalau diukur dalam kekayaan biodiversitas pasti akan tinggi dalam konsep jumlah genetik maupun ekosistem,” ungkapnya

    Amir mengatakan, untuk mempercepat penemuan spesies baru, Indonesia perlu mendalami teknologi molokuler, dan memperkuat kolaborasi antar kementerian, lembaga, dan akademisi.

    Amir menambahkan eksplorasi harus terus dilakukan agar jangan sampai ada spesies baru belum ditemukan atau belum diberi nama, tapi sudah punah atau justru kita tidak tahu manfaatnya.

    “Untuk tahu manfaatnya, kita mengetahui dahulu nama dan fungsi ekologi serta fisiologi. Lalu, ke ranah peningkatan pemanfaatan yang berkesinambungan,” pungkas Amir.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Indonesia Jadi Surga Penelitian Biodiversitas, BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

    Indonesia Jadi Surga Penelitian Biodiversitas, BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

    7cloud.asia =  Penemuan 49 spesies atau taksa baru pada tahun 2023, adalah bukti bahwa tanah Indonesia sangat kaya dan menjadi “surga” bagi penelitian biodiversitas atau keanekaragamanhayati. 

    Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Bayu Adjie mengatakan bahwa pengungkapan biodiversitas Nusantara, khususnya melalui penemuan spesies baru, menjadi salah satu prioritas utama BRIN.

    Meskipun hanya sebagian kecil dari cakupan riset biosistematika dan evolusi, penemuan jenis baru memiliki dampak besar dalam asesmen biodiversitas serta menarik perhatian publik dan media massa.

    Untuk itu, BRIN menarget jumlah penemuan spesies baru setiap tahunnya. Tahun 2024, BRIN menargetkan penemuan 50 jenis baru, termasuk dari hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme.

    Dalam mendukung upaya itu, berbagai skema pendanaan diluncurkan, seperti Rumah Program dan Riset dan Inovasi Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi.

    “Kami saat ini sedang mempersiapkan RIIM Invitasi Strategis Ekspedisi Biodiversitas Terestrial yang akan difokuskan di pulau Kalimantan,” ujar Bayu  seperti dilansir di laman resmi BRIN.

    Baca: BRIN luncurkan ekpedisi untuk eksplorasi keragaman biodiversitas di Kalimantan

    Menurut Bayu, sekitar 96 persen dari spesies baru yang ditemukan merupakan spesimen asal Indonesia.

    Ini terjadi karena fokus penelitian yang kuat pada spesies-spesies di Indonesia, yang terkenal dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya yang luar biasa.

    Meskipun sudah dieksplorasi sejak zaman kolonial, masih banyak yang belum terungkap di negeri ini, karena luasnya wilayah Indonesia dengan beragam ekosistem yang menjadi tempat penelitian biodiversitas.

    Lebih jauh, Bayu menjelaskan bahwa Indonesia demikian luas, terestrial maupun akuatik. Dengan demikian banyak tipe ekosistem, pulau-pulau, menjadi surga bagi penelitian biodiversitas.

    Menurutnya, negara-negara maju, rata-rata memiliki keanekaragaman hayati yang relatif rendah. Dengan SDM periset, anggaran dan infrastruktur yang maju bisa dianggap riset biodiversitas selesai di negaranya.

    Baca: Mengenal biodiversitas tanah Papua

    Sehingga mereka mengincar negara-negara dengan biodiversitas tinggi yang kebanyakan adalah negara berkembang untuk bekerja sama dalam riset biodiversitas.

    Untuk riset biodiversitas ini BRIN menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri, seperti lembaga riset, universitas, dan NGO.

    “Kolaborasi menjadi kunci untuk mengatasi kendala-kendala seperti SDM, anggaran, dan infrastruktur dalam riset biodiversitas,” tandas Bayu.

    Di sisi lain, setelah penemuan spesies tersebut, Bayu menjelaskan langkah selanjutnya yang dilakukan oleh BRIN adalah melakukan identifikasi dan studi lebih lanjut terhadap spesies baru tersebut.

    Hal ini meliputi studi biologinya, pemanfaatan atau bioprospeksi, serta upaya konservasi jika diperlukan.

    Baca: KLHK temukan spesies baru dari hutan Indonesia 

    Penemuan jenis baru membuka potensi baru dalam pemahaman kita akan keanekaragaman hayati dan mendesak perlunya perlindungan dan pelestarian spesies-spesies tersebut mengingat berbagai ancaman yang mereka hadapi.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Amir Hamidy menjelaskan proses pencarian dan identifikasi 49 taksa baru yang baru-baru ini diumumkan.

    Penemuan itu melalui serangkaian eksplorasi sebelumnya dan validasi spesimen yang ada, peneliti BRIN berhasil mengungkapkan keberadaan taksa-taksa baru yang mengagumkan.

    Dalam menentukan apakah sebuah taksa atau spesies merupakan taksa baru, Amir menekankan beberapa kriteria utama, termasuk karakter morfologi, molekuler, fisiologi, dan ekologi.

    “Pengamatan mendalam terhadap ciri-ciri ini membantu para peneliti dalam mengklasifikasikan dan mengidentifikasi spesies baru dengan akurat,” ungkapnya.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Waktu yang dibutuhkan untuk menentukan sebuah spesies baru sangat bervariasi, bisa kurang dari satu tahun atau bahkan lebih dari 30 tahun.

    Hal ini tergantung pada sejauh mana penelitian manusia telah mempelajari taksa atau spesies tersebut.

    Amir menerangkan dalam proses identifikasi, metode DNA Barcoding menjadi alat yang sangat berguna. Dengan menggunakan data sekuen DNA terkait, peneliti dapat dengan cepat membandingkan dan mem-validasi keberadaan spesies baru.

    Amir juga membagikan pengalamannya yang berkesan dalam penelitian dan eksplorasi biodiversitas di Indonesia.

    Menurutnya, setiap pengamatan menawarkan keunikan dan kekayaan keanekaragaman alam Nusantara yang memukau para peneliti.

  • KLHK: Ada Potensi Besar untuk Menemukan Lebih Banyak Spesies Anggrek di Tanah Papua

    KLHK: Ada Potensi Besar untuk Menemukan Lebih Banyak Spesies Anggrek di Tanah Papua

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan terdapat potensi untuk menemukan lebih banyak spesies anggrek di Indonesia, terutama di Pulau Papua.

    Reza Saputra, Pengendali Ekosistem Hutan di Balai Besar KSDA Papua Barat mengatakan, potensi temuan anggrek ini karena hingga saat ini masih banyak wilayah di Papua yang belum terjamah eksplorasi.

    Anggrek, ujarnya adalah famili dengan diversitas tertinggi di Indonesia, ada lebih dari 3.820 spesies dan highgest diversity-nya paling tinggi ada di Kalimantan dan Papua.

    “Tapi kemungkinan di Kalimantan akan terbalap karena di Papua belum banyak yang tergali,” kata Reza dalam diskusi yang diadakan KLHK diikuti daring dari Jakarta, Jumat.

    Baca Juga: Mengenal Keanekaragaman Hayati Tanah Papua

    Laki-laki yang menjadi spesialis dalam bidang konservasi jenis anggrek itu mengatakan, Indonesia memiliki jumlah koleksi anggrek lebih sedikit dibandingkan negara tetangga Papua Nugini yang juga berada di Pulau Papua tersebut.

    Sampai dengan Mei 2024, katanya, terdapat 2.893 spesies anggrek liar di Pulau Papua dengan 30 spesies hibrida.

    Sebanyak 2.501 spesies anggrek itu endemik atau hanya ditemukan di wilayah tersebut atau 86,47 persen dari total jenis anggrek yang diketahui saat ini.

    “Diperkirakan terdapat lebih dari 3.000 jenis anggrek di Pulau Papua,” ujar Reza saat diskusi yang diadakan dalam rangka Pekan Keanekaragaman Hayati 2024 itu.

    Baca Juga: Salah Satu Keanekaragaman Hayati Indonesia: Punya Lebih dari 300 Jenis Pisang Lokal

    Ia mengatakan telah melakukan eksplorasi anggrek di 27 titik dalam periode 2016-2024 dengan beberapa lokasi belum dapat didatangi karena berada di zona merah.

    Dari eksplorasi itu telah ditemukan lima anggrek baru dan yang sudah terpublikasi.

    Terdapat pula lebih dari 16 catatan baru dan 20 spesies penemuan kembali dari eksplorasi di Papua, salah satunya jenis didymoplexis torricellensis yang baru ditemukan kembali setelah 114 tahun.

    Selain itu, terdapat total 23 spesies yang diduga baru hasil eksplorasi 2022-2024 yang dilakukan bersama dengan pihak lain, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Papua Barat, Universitas Papua, dan RBG Kew.

    Baca Juga: Indonesia Jadi Surga Penelitian Biodiversitas, BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

    “Jenis-jenis baru ini sudah kita laporkan ke Pak Dirjen (KSDAE Satyawan Pudyatmoko) dan kita ikut arahan rencana kita akan menamakan untuk masyarakat lokal atau dengan kearifan lokal di sana,” ucapnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Mengenal Keong Darat: Spesies Penting dalam Ekosistem Tapi Terlupakan

    Mengenal Keong Darat: Spesies Penting dalam Ekosistem Tapi Terlupakan

    7cloud.asia – Keong darat (land snail) adalah kelompok hewan yang berperan penting bagi kesuburan tanah.

    Keong darat dapat memperkaya kandungan nitrogen dan senyawa organik pada tanah, didukung oleh kebiasaannya memakan bahan organik. Mereka adalah spesies pengurai yang efektif, bersama dengan kelompok cacing dan jamur.

    Kebanyakan kita mungkin mengenali keong darat sebagai bekicot. Padahal, bekicot—yang sebenarnya berasal dari Afrika Timur—hanya satu dari 263 spesies keong darat di Jawa.

    Selain itu, ada lebih dari 1.800 spesies keong darat di gugus kepulauan Indo-Australia. Bekicot adalah keong darat, tetapi keong darat belum tentu Bekicot.

    Keong darat sebetulnya dapat kita temukan di berbagai lanskap: hutan hujan, pertanian, karst, dan dataran tinggi maupun rendah. Kebanyakan keong dalam kelompok ini memiliki cangkang, meski ada juga yang tidak.

    Sayangnya, keong darat seolah terabaikan dalam perbincangan publik seputar pelestarian kehidupan liar. Tak banyak pula peneliti, penjelajah, dan naturalis Indonesia yang memerhatikan kelompok spesies ini.

    Sebagai ilmuwan malakologi, bidang ilmu yang mempelajari kehidupan moluska seperti keong, Tim riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ingin menekankan bahwa lika-liku keong darat penting untuk kita ketahui.

    Baca: Sejumlah spesies baru ditemukan di tanah Papua

    Eksplorasi keong darat di Indonesia, berdasarkan catatan sejarah, sudah berlangsung sejak tiga ratus tahun silam.

    Kami memfokuskan artikel ini untuk mengulas ekspedisi yang berlangsung di Wallacea, kawasan dengan kekayaan hayati luar biasa, membentang dari Lombok hingga Kepulauan Maluku.

    Catatan awal eksplorasi keong darat
    Catatan ekspedisi keong darat terawal di Wallacea diterbitkan oleh seorang naturalis asal Jerman, Georgius Everhardus Rumphius. Ia dipekerjakan oleh Perusahaan Perdagangan India Timur atau VOC.

    Dalam studinya yang berjudul D’amboinsche Rariteitkame (Koleksi dari Ambon), Rumphius mencatat 1.200 flora dan fauna di Maluku, termasuk beberapa spesies keong darat seperti Cochlea terrestris yang kemudian dikenal dengan nama Xesta citrina.

    Hasil penjelajahan Rumphius terbit pada tahun 1705, atau tiga tahun setelah ia meninggal dunia.

    Pada 1861 naturalis asal Jerman, Carl Georg Ludwig Pfeiffer (dikenal sebagai Louis Pfeiffer) menerbitkan 47 spesies keong darat dari koleksi Hugh Cuming Esq., kolektor asal Inggris.

    Cuming mendapatkan koleksinya dari perjalanan seorang naturalis masyhur asal Inggris, Alfred Russel Wallace—pencetus gagasan kawasan Wallacea—di Kepulauan Nusantara selama 1854-1862.

    Pada 1865, Wallace turut menerbitkan artikel di Proceeding of the Zoological Society of London seputar 125 spesies keong darat yang dia kumpulkan di Kepulauan Nusantara.

    Baca: Apa itu Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Dalam artikel tersebut, Wallace melengkapi deskripsi spesies, informasi sebarannya, dan beberapa gambar.

    Seperti pada kebanyakan fenomena distribusi fauna lainnya, Wallace juga menemukan pola distribusi yang unik pada keong darat. Lebih dari dua pertiga spesies yang ditemukan hanya terekam pada pulau-pulau tertentu.

    Selain itu, terdapat perbedaan yang jelas antara keong darat yang terdistribusi di area Indo-Malaya dengan area Austro-Malaya.

    Selain nama-nama di atas, riset seputar keong darat di Indonesia pada abad 19 diperkaya oleh karya-karya ilmuwan barat lainnya seperti André Étienne d’Audebert de Férussac dari Perancis.

    Juga ada William Doherty asal Irlandia, Alfred Hart Everett dari Inggris, Eduard von Martens, dari Jerman, Heinrich Zollinger dari Swiss, dan sebagainya.

    Bagaimana riset tentang keong darat pada abad ke-20, akan dikupas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Converstaion, Penulis: Vinna Windy Putri (Post-doctoral Researcher BRIN) dan Ayu Savitri Nurinsiyah (Researcher in the Research Center for Biosystematics and Evolution BRIN; President of Indonesian Mollusk Society BRIN)

  • Jelajah Keong Darat Wallacea: Spesies Penting yang Terlupakan

    Jelajah Keong Darat Wallacea: Spesies Penting yang Terlupakan

    Spesies keong darat yang ditemukan dalam penelitian di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti, Nusa Tenggara Timur pada 2016. A. bimaensis cochlostyloides, b. C. argillacea, c. A. latestrigatus (Sumber: Mujiono & Isnaningsih, 2021)

    7cloud.asia – Keong darat (land snail) adalah kelompok hewan yang berperan penting bagi kesuburan tanah. Keong darat dapat memperkaya kandungan nitrogen dan senyawa organik pada tanah, didukung oleh kebiasaannya memakan bahan organik.

    Keong darat dapat ditemukan di berbagai lanskap: hutan hujan, pertanian, karst, dan dataran tinggi maupun rendah. Kebanyakan keong dalam kelompok ini memiliki cangkang, meski ada juga yang tidak.

    Sayangnya, keong darat seolah terabaikan dalam perbincangan publik seputar pelestarian kehidupan liar. Tak banyak pula peneliti, penjelajah, dan naturalis Indonesia yang memerhatikan kelompok spesies ini.

    Eksplorasi keong darat di Indonesia, berdasarkan catatan sejarah, sudah berlangsung sejak tiga ratus tahun silam.

    Catatan ekspedisi keong darat terawal di Wallacea diterbitkan oleh seorang naturalis asal Jerman, Georgius Everhardus Rumphius. Ia dipekerjakan oleh Perusahaan Perdagangan India Timur atau VOC.

    Pada abad 20, ulasan dari para ilmuwan banyak berfokus pada penemuan spesies keong darat di Indonesia. Misalnya, ekspedisi Siboga yang dipimpin oleh Max Carl Wilhelm Weber, Direktur Museum Zoologi Amsterdam, selama 1899-1900.

    Weber adalah salah satu naturalis penting penggagas konsep kawasan biodiversitas khusus di sepanjang Maluku hingga Timor Leste—dikenal dengan garis Weber.

    Baca: Mengenal spesies bernama keong darat dan perannya dalam kelestarian lingkungan

    Ekspedisi penting pada era tersebut dilakukan Karl Friedrich (Fritz) Sarasin dan sepupunya, Paul Benedict Sarasin ke Sulawesi. Pada tahun 1899 mereka mempublikasi temuan 198 spesies keong darat hasil ekspedisinya di Pulau Sulawesi.

    Ekspedisi penting lainnya dilakukan oleh Bernhard Carl Emmanuel Rensch ke kepulauan Sunda Kecil pada tahun 1927. Ia berhasil mendata spesies keong darat dari Bali (32 spesies), Lombok (9 spesies), Sumbawa (19 spesies), dan Flores (27 spesies).

    Walaupun tidak melakukan ekspedisinya sendiri, Woutera (Tera) Sophie Suzanna Van Benthem Jutting, Malakologist Belanda yang lahir di Batavia, juga menelaah keong darat dari kawasan Walacea yang dikoleksi oleh banyak penjelajah.

    Setidaknya terdapat 125 spesies keong darat yang tercatat di Maluku dari publikasinya.Pada abad 21, sejumlah ekspedisi keong darat di Wallacea juga dilakukan ahli Malakologi Indonesia.

    Misalnya, pada Ekspedisi Sumba yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Nova Mujiono dan Nur Rohmatin Isnaningsih mengoleksi 44 spesies keong darat dan sungai di pulau Sumba.

    Pada 2022, tim peneliti melakukan ekspedisi keong darat di Maluku Utara yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara di bawah koordinator Ayu Savitri Nurinsiyah dari Research Center for Biosystematics and Evolution BRIN.

    Berdasarkan ekspedisi tersebut, tim menemukan satu spesies baru Palaina motiensis dari Pulau Moti. Ada juga setidaknya delapan kandidat spesies baru dari Pulau Ternate, Pulau Bacan, dan Pulau Morotai.

    Baca: Dampak rusaknya keanekaragaman hayati pada lingkungan

    Walau begitu, ekspedisi kami turut menyoroti beberapa spesies yang ditemukan oleh Wallace belum dapat ditemukan kembali.

    Ada dua kemungkinan mengapa hal ini dapat terjadi. Pertama, lokasi pengambilan sampel yang kami tidak sama dengan Wallace, atau kedua Lanskap lokasi pengambilan sampel sudah berubah dan spesies tersebut sudah punah.

    Melampaui penemuan spesies
    Keong darat merupakan kelompok fauna yang rentan punah. Spesies ini bergerak sangat lambat. Ia juga sangat rentan terhadap kekeringan.

    Keduanya juga menjadi faktor penyebab beberapa spesies keong darat memiliki daerah sebaran yang terbatas atau dikenal dengan spesies endemik.

    Sayangnya, hingga saat ini, belum ada spesies keong darat yang masuk ke dalam daftar satwa dilindungi di Indonesia. Hanya sebagian kecil dari spesies ini yang berada dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

    Padahal, spesies ini banyak menghadapi ancaman seperti kehilangan habitat akibat perubahan tata guna lahan dan penambangan, dan keberadaan spesies asing invasif.

    Walau begitu, beberapa upaya telah dilakukan beberapa pihak di Indonesia untuk menghadapi kendala-kendala tersebut.

    Baca: Mengenal apa itu Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Misalnya, Masyarakat Moluska Indonesia, gerakan lintas kelompok yang gencar melakukan penyadartahuan melalui Buletin Moluska Indonesia dan Jurnal Moluska Indonesia.

    Upaya yang tidak kalah pentingnya adalah mencetak generasi penerus pemerhati dan peneliti terutama keong darat. Selain bekerja sama dengan beberapa universitas, kami juga memanfaatkan platform untuk mencetak taksonom baru keong darat melalui Bantuan Riset Tugas Akhir (Barista), Research Assistant (RA) dan lain-lain.

    Dalam dokumen Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati yang diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pada Agustus lalu, Indonesia memiliki misi pengelolaan keanekaragaman hayati melalui perlindungan, pemanfaatan berkelanjutan, pengayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan sumber daya dan tata kelola.

    Hal tersebut untuk mencapai visi hidup selaras dengan alam untuk keberlangsungan seluruh bentuk kehidupan di Indonesia.

    Seluruh strategi rencana aksi di atas perlu mencakup tujuan pelestarian populasi fauna endemik Indonesia termasuk keong darat di Wallacea.

    Artikel ini telah terbit di The Converstaion, Penulis: Vinna Windy Putri
    (Post-doctoral Researcher BRIN) dan Ayu Savitri Nurinsiyah (Researcher in the Research Center for Biosystematics and Evolution BRIN; Presiden Indonesian Mollusk Society BRIN)

  • Keanekaragaman Hayati di Ambang Kritis, Jadi Tugas Besar Strategi Konservasi

    Keanekaragaman Hayati di Ambang Kritis, Jadi Tugas Besar Strategi Konservasi

    7cloud.asia – Keanekaragaman hayati dunia menurun drastis dalam beberapa dekade terakhir. Laporan terbaru Living Planet Index menunjukkan bahwa populasi satwa liar berkurang hingga 69% sepanjang rentang periode 1970 sampai 2018. Kondisi ini membuat pelaksanaan upaya-upaya konservasi semakin mendesak.

    Sebagai negara yang sangat kaya keanekaragaman hayati, Indonesia menjadi salah satu pusat krisis biodiversitas akibat tingginya tingkat kehilangan spesies dan habitat. Sayangnya, perhatian terhadap isu ini masih belum sebesar isu deforestasi atau perubahan iklim.

    Pada akhir 2022, Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (GBF) disepakati sebagai langkah global melindungi keanekaragaman hayati, dengan salah satu target ambius melindungi 30 persen luas daratan dan laut pada tahun 2030 (30×30). Indonesia yang turut mengadopsi kesepakatan ini perlu segera mengambil langkah konkret untuk mewujudkannya.

    Kondisi hari ini – tantangan konservasi keanekaragaman hayati
    Indonesia berada di peringkat kedua dunia dalam hal nilai keanekaragaman hayati dan nomor wahid untuk keanekaragaman spesies endemik.

    Sekitar 63 persen wilayah daratan Indonesia masih berupa hutan (~120 juta hektare), tapi hanya 18% diantaranya (22,1 juta hektare) yang berstatus kawasan konservasi.

    Meski memiliki kekayaan alam luar biasa, Indonesia menghadapi ancaman serius seperti deforestasi, perdagangan satwa ilegal, dan perubahan iklim.

    Sebagai contoh, Indonesia kehilangan 9,79 juta hektare hutan primer antara 2001-2019, terutama akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan, pertanian, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur.

    Selain itu, Indonesia menjadi pusat perdagangan satwa liar ilegal dengan kerugian mencapai Rp 8.7 triliun per tahun. Di sektor kelautan, aktivitas pencurian ikan mengakibatkan kerugian sebesar Rp 290 triliun setiap tahunnya.

    Perubahan iklim memperburuk situasi. Kebakaran hutan besar pada 2015 akibat fenomena El-Nino ekstrem membakar 4,6 juta hektare hutan. Ini adalah salah satu bencana lingkungan terbesar yang pernah terjadi. Dampaknya meluas hingga mengganggu kesehatan 40 juta orang di Indonesia dan negara tetangga.

    Sayangnya, penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan masih lemah. Dari 6.143 pengaduan yang diterima Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2015-2021, hanya 2.185 yang mendapat sanksi administratif.

    Sanksi tersebut sering kali tidak memberikan efek jera. Bahkan, banyak perusahaan yang terlibat dalam kebakaran hutan lolos dari hukuman.

    Keterbatasan pendanaan juga menjadi hambatan besar dalam mencapai target nasional maupun internasional seperti target 30×30 GBF. Untuk mencapai 14 target nasional dalam Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia 2025-2045, Indonesia membutuhkan setidaknya Rp75,53 triliun per tahun.

    Namun, realisasi pendanaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 terkait biodiversitas baru mencapai Rp 9,85 triliun atau hanya sekitar 13% dari kebutuhan tersebut.

    Di samping itu, kapasitas untuk memantau status biodiversitas juga masih terbatas, sehingga menyebabkan kebijakan konservasi sering kali tidak berbasis pada data ilmiah yang memadai.

    Melihat kondisi di atas, pemerintahan Prabowo-Gibran mendatang sepertinya akan menghadapi tantangan besar dalam mencapai target konservasi dan komitmen internasional seperti Pakta Kunming-Montreal.

    Catatan penting untuk Prabowo
    Misi pemerintahan Prabowo-Gibran lebih menekankan pada penguatan ekonomi dan ketahanan nasional. Meski demikian, perlindungan biodiversitas tetap menjadi bagian dari program ekonomi hijau mereka.

    Prabowo juga berencana membentuk badan khusus pengendalian perubahan iklim yang menunjukkan adanya perhatian terhadap isu iklim dan biodiversitas di masa mendatang.

    Komodo di Pulau Komodo, NTT, Indonesia. Komodo juga termasuk salah satu satwa langka yang dilindungi/shutterstock.
    Namun, beberapa catatan penting perlu diperhatikan untuk memastikan bahwa agenda pembangunan dapat berjalan selaras dengan konservasi alam.

    Misalnya, ambisi Prabowo menjadikan Indonesia sebagai pemimpin energi hijau. Pengembangan energi hijau melalui perluasan hutan tanaman energi dan perkebunan sawit berisiko meningkatkan deforestasi jika tidak direncanakan dengan matang.

    Pemerintah perlu memastikan bahwa ekspansi energi hijau tidak memanfaatkan kawasan hutan, apalagi area bernilai konservasi tinggi.

    Selain itu, UU No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang baru-baru ini disahkan telah memberikan pijakan hukum yang lebih kuat dengan memperketat sanksi dan membuka jalan bagi pendanaan swasta.

    Namun, penting bagi pemerintah untuk menghindari sentralisasi penetapan kawasan konservasi yang berpotensi mengabaikan hak masyarakat adat dan lokal.

    Pemerintah perlu menciptakan sistem konservasi yang lebih inklusif dengan mengakui peran masyarakat yang menjadi garda terdepan dalam upaya konservasi.

    Kebebasan akademik dan transparansi data menjadi kunci
    Pemerintahan Prabowo-Gibran harus mendorong keterbukaan informasi dan kebebasan akademik agar kebijakan konservasi berbasis bukti ilmiah yang kuat.

    Transparansi data sangat penting untuk mengetahui status biodiversitas secara akurat dan mengukur pencapaian target lingkungan. Tanpa data yang jelas, kebijakan seperti kapal tanpa kompas, terombang-ambing tanpa arah.

    Prabowo tidak boleh mengulang perilaku represi antisains yang terjadi pada pemerintahan sebelumnya. Tanpa kebebasan akademik, bagaimana mungkin kita bisa mengetahui kondisi biodiversitas yang sesungguhnya?

    Dengan mendorong budaya keterbukaan dan bekerja sama dengan komunitas ilmiah, pemerintah dapat membangun fondasi konservasi yang kuat dan berbasis sains, menjamin keberlanjutan biodiversitas Indonesia.

    Pemerintahan Prabowo-Gibran memiliki peluang besar untuk memulai berbagai langkah strategis dalam konservasi biodiversitas sejak awal masa jabatan mereka. Dengan memanfaatkan momentum ini, pemerintah dapat menunjukkan komitmen nyata dan keberanian untuk memprioritaskan kepentingan ekologis jangka panjang.

    Kolaborasi lintas sektor perlu diperkuat agar upaya konservasi berjalan efektif, dengan melibatkan semua pemangku kepentingan sehingga tercipta sinergi yang menghasilkan manfaat nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

    Artikel ini merupakan bagian edisi khusus #PantauPrabowo di The Conversation yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Penulis: Ardiantiono, PhD Student, University of Kent

  • Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Baru Kumbang Kura-Kura dari Sulawesi

    Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Baru Kumbang Kura-Kura dari Sulawesi

    7cloud.asia – Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan dua spesies baru kumbang kura-kura dari genus Thlaspidula di Sulawesi, Indonesia.

    Spesies yang diberi nama Thlaspidula gandangdewata dan Thlaspidula sarinoi ini menambah keanekaragaman hayati serangga di wilayah tersebut serta memberikan wawasan baru dalam studi taksonomi kumbang kura-kura (Chrysomelidae: Cassidinae).

    Koleksi spesimen dilakukan oleh Tim Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN dari dua lokasi berbeda, yaitu Gunung Gandangdewata dan Gunung Torompupu di Sulawesi Tengah.

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, penelitian ini mencakup deskripsi morfologi secara mendetail serta kunci identifikasi terbaru untuk semua anggota genus Thlaspidula.

    Menurut Anang Setyo Budi, Peneliti Ahli Pertama Pusar Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, kedua spesies baru ini memiliki ciri khas yang membedakannya dari spesies Thlaspidula lainnya.

    Baca: BRIN temukan 98 taksa baru sepanjang 2024

    Thlaspidula gandangdewata, T. sarinoi, dan T. boisduvali tergabung dalam grup spesies dari genus Thlaspidula yang memiliki bintik hitam lebar di bagian posterolateral pelebaran batas elytra saja.

    Namun ketiganya memiliki pola bintik hitam di elytra dan pronotum yang berbeda. Selain itu, perbedaan terletak pada bentuk morfologi cakar, mandibel, pronotum, dan tonjolan elytra.

    “Karakter lain yang juga dapat membantu membedakan spesies tersebut adalah panjang dan warna segmen pada antena,” jelas Anang.

    Kumbang dari genus Thlaspidula memiliki karakter umum seperti kumbang kura-kura lain yaitu elytra dan pronotum yang melebar (explanate) dan sering kali membentuk perisai yang menutupi kepala dan kaki.

    Namun, Thlaspidula memiliki bentuk labrum, proporsi tubuh, segmen antena, baris titik pada elytra, dan tekstur elytra yang khas. Hingga saat ini, baru delapan spesies yang tercatat dalam genus ini, tersebar dari Semenanjung Malaya hingga Papua.

    Baca: IUCN sebut sekitar 46.300 spesies terancam punah

    Spesimen yang diteliti dalam studi ini disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Indonesia. Material dikoleksi menggunakan jaring sapu dari Gunung Gandangdewata dan Gunung Torompupu di Sulawesi.

    Penemuan ini menjadi langkah penting dalam dokumentasi keanekaragaman hayati Indonesia, terutama di kawasan pegunungan Sulawesi yang merupakan salah satu pusat endemisme fauna.

    Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami ekologi, distribusi, serta upaya konservasi spesies baru ini.

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa (https://mapress.com/zt/article/view/zootaxa.5566.2.9) pada edisi bulan Januari 2025 dan dapat menjadi referensi bagi para taksonomis serta konservasionis dalam memahami dan melindungi keanekaragaman hayati Indonesia.

  • Membangun ‘Big Data’ Keanekaragaman Hayati Indonesia

    Membangun ‘Big Data’ Keanekaragaman Hayati Indonesia

    7cloud.asia – Eksploitasi alam secara berlebihan mengancam kelestarian lingkungan. Di masa depan, anak cucu kita belum tentu bisa melihat spesies, baik hewan atau tumbuhan yang kita lihat sekarang—mereka bisa saja punah.

    Dalam suatu model perhitungan yang melibatkan ribuan ahli, diperkirakan 24 spesies punah per hari. Perhitungan lain yang dilakukan U.N. Convention on Biological Diversity memperkirakan setiap hari ada 150 spesies punah dari dunia.

    Andai kita punya data yang cukup untuk mengetahui ancaman yang dihadapi spesies tertentu, mungkin kita masih bisa mengambil langkah antisipasi untuk menyelamatkan mereka.

    Sayangnya, data biodiversitas (keanekaragaman hayati) kita masih jauh dari cukup. Bahkan dari kepunahan yang tercatat, masih banyak kepunahan yang tidak kita tahu.

    Di Indonesia, khususnya, sudah banyak spesies langka yang punah sebelum sempat terdeteksi atau diteliti. Contohnya beberapa jenis burung gelatik jawa, manyar, betet biasa, hingga jalak putih yang mengalami penurunan populasi secara drastis pada pertengahan tahun 80-an dan akhirnya menghilang sebelum diketahui persebarannya.

    International Union for Conservation of Nature IUCN terus mencatat ada banyak spesies hewan dan tumbuhan langka di Indonesia yang jumlahnya menurun drastis bahkan terancam punah saat ini.

    Beragam varietas tanaman pangan lokal juga hilang karena kurangnya konservasi genetika. Sementara itu, eksploitasi sumber daya alam terus terjadi.

    Semua ironi ini mengarah pada satu hal: kebutuhan mendesak akan data raya (big data) biodiversitas yang komprehensif demi perlindungan biodiversitas yang lebih baik.

    Baca: Turunnya populasi lebah mengancam keanekaragaman hayati

    Data biodiversitas berserakan
    Hingga kini, Indonesia belum memiliki basis data nasional biodiversitas yang benar-benar lengkap dan terintegrasi.

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebetulnya punya data inventarisasi dan verifikasi jenis spesies dan lokasi di seluruh Indonesia.

    Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) juga menyusun Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) yang berisi informasi status keanekaragaman hayati, tren, dan dampak kegiatan pembangunan terhadap biodiversitas di habitatnya.

    Sementara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki jutaan data koleksi ilmiah dari berbagai spesies flora, fauna, bahkan mikrobiologi. Publikasi ilmiah hasil penelitian tentang berbagai potensi keanekaragaman hayati juga tersebar di berbagai jurnal.

    Sayangnya, informasi tersebut berserakan di berbagai institusi dan tidak terintegrasi, sehingga data-data ini sulit dikelola dan dimanfaatkan secara optimal. Imbasnya, upaya konservasi tidak bisa dilakukan dengan efektif dan berisiko gagal melindungi keanekaragaman hayati dari kepunahan.

    Lebih dari dua juta hektare kawasan konservasi di Indonesia mengalami kerusakan tanpa rencana restorasi yang efektif karena minimnya informasi tentang kondisi lahan.

    Penurunan populasi satwa liar juga semakin mengkhawatirkan, dengan sejumlah spesies di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, mengalami penurunan hingga 60% akibat kurangnya data mengenai peta distribusi dan ancaman.

    Keterbatasan data juga membuat potensi alam tidak bisa dikembangkan dengan optimal. Minimnya dokumentasi biodiversitas menghambat penelitian dan pengembangan di sektor ekonomi berbasis sumber daya hayati, seperti industri farmasi, pangan, energi dan bioteknologi.

    Baca: Harga yang harus dibayar akibat rusaknya keanekaragaman hayati

    Bersatu membangun big data biodiversitas
    Untuk menyatukan data biodiversitas di Indonesia, BRIN saat ini sedang berupaya mengembangkan sebuah portal sistem informasi koleksi biodiversitas nasional. Pengembangan portal direncanakan selesai pada akhir tahun 2025.

    Koleksi ilmiah ini akan dilengkapi dengan data spesies, status, lokasi habitat, dan gambar digital. Data ini rencananya akan diintegrasikan dengan data genetik dan publikasi ilmiah yang berhubungan dengan pemanfaatan koleksi.

    Koleksi ini akan dikembangkan menjadi big data yang bertujuan untuk menyediakan informasi komprehensif mencakup spesies, populasi, keanekaragaman genetik, ekosistem, serta potensi pemanfaatannya.

    Dokumentasi jumlah spesies flora dan fauna, status konservasi, serta sebaran geografis juga sangat penting dikumpulkan untuk menentukan kebijakan perlindungan yang tepat terhadap spesies atau habitat yang benar-benar kritis.

    Masalahnya, tidak mudah untuk mengumpulkan data biodiversitas yang terserak di mana-mana. Dari sisi regulasi, sudah ada aturan yang memberikan mandat kepada BRIN untuk mengelola data dan informasi biodiversitas. Namun pada tataran pelaksanaannya terganjal banyak kendala.

    Secara teknis, data biodiversitas di Indonesia tersebar dalam berbagai format, mulai dari dokumen cetak hingga data digital yang tidak selalu kompatibel satu sama lain. Selain itu, kurangnya koordinasi antarpemangku kepentingan semakin memperumit upaya pengelolaan data biodiversitas.

    Sederet hambatan ini hanya bisa dipecahkan jika semua pihak mengesampingkan ego sektoral, serta bekerja sama dalam mengumpulkan dan mengolah data biodiversitas. Ujungnya, semua data ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.

    Baca: Konservasi keanekaragaman hayati tak dapat ditunda

    Peta konsep pengembangan big data keanekaragaman hayati BRIN.
    Belajar dari praktik di negara megadiverse lain seperti Brasil, mereka sudah mengembangkan platform daring untuk memetakan dan memantau keanekaragaman hayati.

    Platform ini memungkinkan integrasi data dari berbagai sumber, seperti lembaga penelitian, pemerintah, dan organisasi konservasi.

    Sistem ini tidak hanya memudahkan akses informasi bagi peneliti dan pembuat kebijakan, tetapi juga melibatkan partisipasi publik melalui konsep citizen science—di mana masyarakat bisa ikut berkontribusi dalam pengumpulan dan verifikasi data biodiversitas.

    Langkah serupa harus diterapkan di Indonesia dengan membangun sistem basis data terintegrasi yang mengumpulkan informasi dari berbagai lembaga terkait keanekaragaman hayati.

    Dengan demikian, Indonesia bisa meningkatkan efektivitas konservasi dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.

    Indonesia adalah negara mega biodiversitas dengan ribuan spesies flora dan fauna. Banyak dari spesies tersebut merupakan endemik yang tak bisa ditemukan di negara lain, seperti anggrek hitam, kantong semar, komodo, hingga burung cenderawasih.

    Tanpa basis data yang kuat dan terintegrasi, sulit berharap adanya kebijakan yang tepat untuk melindungi keanekaragaman hayati, sementara negara ini berisiko kehilangan spesies berharga yang penting bagi generasi mendatang.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:
    1. Yaniasih (Peneliti Ilmu Informasi, Pemrosesan Bahasa Alami, dan Kajian Sains Kuantitatif BRIN)
    2. Al Hafiz Akbar Maulana Siagian (Peneliti Senior Kecerdasan Buatan (BRIN)
    3. Ira Maryati (Peneliti bidang Sistem Informasi BRIN)

  • Peneliti UGM Temukan 7 Spesies Baru Lobster Air Tawar di Papua Barat Daya

    Peneliti UGM Temukan 7 Spesies Baru Lobster Air Tawar di Papua Barat Daya

    7cloud.asia – Tim peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menemukan tujuh spesies baru lobster air tawar di wilayah Papua Barat.

    Dalam keterangan resmi yang dirilis Sabtu (21/6/2025) hasil eksplorasi biodiversitas itu dipublikasikan bersama peneliti independen dari Jerman serta lembaga riset di Berlin dalam jurnal internasional Quartil 2 Arthropoda pada 6 Juni 2025.

    Ketujuh spesies baru lobster air tawar yang diidentifikasi yakni Cherax veritas, Cherax arguni, Cherax kaimana, Cherax nigli, Cherax bomberai, Cherax farhadii, dan Cherax doberai.

    Spesimen tersebut ditemukan di sejumlah lokasi terpencil di Misool, Kaimana, Fakfak, dan Teluk Bintuni yang dikenal memiliki ekosistem air tawar yang masih alami dan minim aktivitas manusia.

    “Papua adalah hotspot keanekaragaman hayati yang masih menyimpan banyak misteri. Penemuan ini hanya sebagian kecil dari potensi luar biasa yang belum tereksplorasi,” kata Dr. Rury Eprilurahman, dosen Fakultas Biologi UGM yang menjadi salah satu penulis dalam publikasi ilmiah tersebut.

    Baca: Keanekaragaman hayati tanah Papua belum tereksplorasi

    Proses identifikasi dilakukan dengan pendekatan integratif, menggabungkan karakter morfologis dan filogeni molekuler menggunakan gen mitokondria 16S dan COI.

    “Kami tidak hanya melihat bentuk tubuh dan warna, tetapi juga membandingkan DNA-nya untuk memastikan bahwa ini benar-benar spesies yang berbeda,” ujar Rury.

    Menariknya, sebagian besar spesimen yang diteliti awalnya muncul di pasar internasional akuarium hias dengan nama dagang seperti Cherax sp., Red Cheek, Amethyst, dan Peacock.

    Rury menilai hal ini menunjukkan bahwa perdagangan spesies eksotik juga dapat menjadi pintu masuk eksplorasi ilmiah jika dikelola secara etis dan kolaboratif.

    “Komunitas pecinta lobster hias justru sering menjadi sumber awal informasi kami, yang kemudian kami tindak lanjuti dengan riset sistematis,” ucapnya.

    Baca: Konservasi di Kaimana Papua Barat

    Hasil analisis genetik menunjukkan bahwa ketujuh spesies tersebut masuk dalam kelompok northern lineage genus Cherax, yang sebelumnya hanya mencakup 28 spesies dan kini bertambah menjadi 35.

    Klasifikasi tersebut penting karena menegaskan Papua Barat sebagai pusat evolusi kelompok ini, yang berbeda dari spesies-serumpun di Australia atau Papua Nugini.

    Setiap spesies memiliki ciri khas tersendiri, baik dari warna tubuh, bentuk capit (chelae), maupun struktur rostrumnya. Misalnya, Cherax arguni memiliki tubuh biru gelap dengan belang krem dan capit berpatch putih transparan.

    Analisis molekuler menunjukkan kerabat terdekatnya adalah Cherax bomberai, dengan jarak genetik yang cukup signifikan untuk diklasifikasikan sebagai spesies tersendiri.

    Rury menjelaskan penentuan spesies dilakukan menggunakan metode Bayesian dan Maximum Likelihood berbasis data DNA mitokondria.

    “Perbedaan pada sekuens DNA mitokondria bisa mencapai 11 persen, yang menunjukkan adanya isolasi evolusioner yang cukup lama,” katanya.

    Baca: Membangun ‘Big Data’ keanekaragaman hayati Indonesia

    Dia menambahkan bahwa sebagian besar spesies baru itu hanya diketahui dari satu titik lokasi di sungai kecil atau anak sungai yang belum terpetakan secara ekologis, sehingga sangat rentan terhadap gangguan lingkungan.

    “Lokasi asal spesimen tidak sepenuhnya kami ungkap dalam publikasi demi menjaga kelestarian populasi di alam,” tutur Rury.

    Menurut dia, riset lanjutan dan pemetaan sebaran spesies sangat diperlukan untuk mendukung kebijakan konservasi yang berbasis data ilmiah.

    Dia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara eksplorasi sains dan perlindungan habitat, terlebih di wilayah yang mulai terjamah aktivitas manusia.

    Publikasi ini menambah daftar kontribusi penting UGM dalam riset biodiversitas tropis, sekaligus menegaskan kapasitas akademik Fakultas Biologi UGM dalam kolaborasi ilmiah global.

    “Kami percaya bahwa sains yang kuat harus berakar pada pemahaman lokal, demi masa depan yang lebih lestari,” ujar Rury.

    Baca: Harga yang harus dibayar akibat rusaknya keanekaragaman hayati

  • Diduga Punah, Genus Mamalia Baru “Tous Ayamaruensis“ Ditemukan di Papua

    Diduga Punah, Genus Mamalia Baru “Tous Ayamaruensis“ Ditemukan di Papua

     

    7cloud.asia – Mamalia bukanlah kelompok hewan dengan jumlah spesies terbanyak di dunia. Mamalia hanya memiliki 6.800 spesies, lebih sedikit dibandingkan amfibi yang memiliki sekitar 8.800 spesies, burung 11.000 spesies, dan reptil 12.500 spesies.

    Meski begitu, kebanyakan orang umumnya langsung memikirkan mamalia—seperti panda, orangutan, gajah, atau harimau—ketika membayangkan keanekaragaman hayati. Hewan-hewan itu biasa disebut mamalia karismatik alias hewan yang menarik perhatian.

    Menarik perhatian bisa juga berarti menarik masalah. Tak heran, mamalia menjadi organisme yang paling banyak diteliti—sekaligus yang paling terancam.

    Dalam daftar status konservasi spesies internasional, satu dari empat spesies mamalia termasuk ketegori rentan, terancam punah, atau terancam kritis.

    Namun, karena sibuk meneliti berbagai mamalia yang ada, para ilmuwan sangat jarang untuk fokus menemukan atau mendeskripsikan spesies mamalia baru.

    Penemuan olinguito (Bassaricyon neblina)—mirip kuskus—di Amerika Latin sempat menggemparkan dunia
    karena menjadi mamalia karnivora baru pertama yang diidentifikasi di benua Amerika dalam 35 tahun.

    Pada 2017, bukti DNA juga mengungkap bahwa dunia ternyata memiliki tujuh spesies kera besar—bukan enam seperti yang sebelumnya diyakini. Sebab, orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies yang berbeda: kera besar baru pertama yang berhasil diidentifikasi dalam hampir satu abad belakangan.

    Menemukan spesies baru sudah sangat menarik. Namun mengidentifikasi genus baru adalah hal yang lebih luar biasa.

    Genus adalah kelompok taksonomi yang mencakup satu atau lebih spesies. Ia berada satu tingkat di atas spesies dalam sistem klasifikasi Linnaeus yang dikembangkan oleh Carl Linnaeus. Contohnya, dalam nama ilmiah Homo sapiens, Homo adalah genusnya, dan sapiens adalah spesiesnya.

    Di seluruh dunia hanya ada sekitar 1.300 genus mamalia yang masih hidup.

    Penemuan genus mamalia yang benar-benar baru sangat jarang terjadi—bahkan mungkin hanya beberapa kali dalam setahun. Misalnya Nagasorex, sejenis celurut khas dari Nagaland, India yang ditemukan pada 2025.

    Ada juga Paucidentomys, seekor hewan pengerat dari Sulawesi pada 2012; dan Laonastes, tikus batu dari Laos yang ditemukan pada 2005.

    Karena itu, menetapkan genus baru adalah peristiwa langka dan sebuah keistimewaan tersendiri. Dan itulah yang baru saja kami lakukan—mendeskripsikan genus baru dari seekor marsupial atau kuskus kecil yang bisa meluncur di udara. Kami menemukannya hidup di Papua, Indonesia.

    Penemuan spesies Lazarus

    Kisah kami bermula dari sebuah foto.

    Pada 2015, seorang pekerja perkebunan di Papua menangkap seekor marsupial penghuni pohon yang tidak dikenalnya. Ia memotretnya beberapa kali. Kami tidak dapat menyebutkan namanya, karena lokasi penemuan harus dirahasiakan.

    Pekerja tersebut terlibat dalam proyek pemantauan keanekaragaman hayati berbasis warga (sains warga) yang kami inisiasi di Indonesia.

    Dalam proyek ini, kami meminta pekerja perkebunan memotret atau merekam setiap suara satwa liar yang mereka temui saat bekerja.

    Makhluk bermata besar dengan bulu cokelat dan telinga tanpa bulu ini secara sekilas mirip greater glider atau kelompok kuskus peluncur dari Australia. Namun, ada beberapa perbedaan jelas. Foto tersebut menunjukkan adanya patagium (selaput luncur) serta ekor yang dapat mencengkeram, berbulu di bagian atas tapi tidak di sisi bawahnya.

    Hewan itu tidak cocok dengan spesies apa pun yang diketahui dari Papua Nugini. Ketika meneliti foto tersebut, kami menyadari kemiripannya dengan seekor kuskus yang sebelumnya hanya dikenal dari beberapa fosil tulang.

    Fosil tersebut, yang awalnya dinamai Petauroides ayamaruensis, ditemukan puluhan tahun lalu di situs arkeologi di Papua Barat dan kemudian juga di Papua Nugini.

    Tulang-tulang itu berasal dari anggota kecil kelompok kuskus peluncur Australia yang disebut hemibelidines, atau kuskus ekor cincin.

    Terakhir kali, garis keturunan ini diyakini hanya ada di Australia timur. Di Pulau Papua yang sangat luas dan kaya keanekaragaman hayati, tidak ada bukti keberadaannya. Para ilmuwan bahkan menduga hewan ini telah punah sekitar 6.000 tahun lalu.

    Namun, foto tersebut menunjukkan bahwa dugaan itu salah. Apa yang kami lihat tampaknya merupakan “spesies Lazarus”: salah satu spesies yang menghilang dari catatan fosil, lalu muncul kembali.

    Contoh “spesies Lazarus” yang terkenal lainnya adalah coelacanth, ikan besar yang selama 66 juta tahun dianggap telah punah sebelum akhirnya ditemukan kembali di lepas pantai Afrika Selatan pada
    1938.

    Memperkenalkan genus baru: Tous

    Untuk memastikan bahwa ini memang genus baru, kami menganalisis foto-foto tersebut secara teliti dan membandingkannya dengan gigi fosil yang ditemukan di Papua serta sisa-sisa fosil lainnya yang lebih baru dari tempat lain di Papua Nugini.

    Pada mamalia, ukuran dan bentuk gigi—termasuk tonjolan kecilnya—sangat penting untuk membedakan satu spesies dari yang lain.

    Analisis kami dari fosil dan foto tersebut menunjukkan bahwa semuanya merujuk pada hewan yang sama.

    Untuk mengonfirmasi, kami juga memanfaatkan pengetahuan dari masyarakat adat setempat yang sejak lama mengenal hewan ini. Bahkan beberapa kelompok suku di wilayah tersebut menganggapnya hewan suci.

    Informasi ini menegaskan bahwa hewan tersebut bukan hanya individu yang masih hidup dari spesies yang sebelumnya hanya dikenal dari fosil, tetapi juga cukup berbeda untuk disebut sebagai genus baru. Kami kemudian menamainya Tous.

    “Tous” adalah istilah lokal yang digunakan untuk menyebut spesies hutan ini, yang oleh masyarakat setempat dikenal berbeda dari kuskus peluncur yang lebih kecil.

    Dalam wawancara dengan pemilik tanah adat, para tetua mengenali hewan dalam foto sebagai “Tous wansai”, membedakannya dari marsupial arboreal (penghuni pohon) lain yang serupa.

    Temuan ini sangat langka. Menetapkan genus baru berarti mengidentifikasi garis keturunan yang telah berevolusi secara terpisah selama jutaan tahun.

    Dalam kasus ini, bukti menunjukkan bahwa Tous termasuk garis keturunan kuskus yang sangat tua—yang dulu mungkin hidup dari Australia hingga Papua Nugini.

    Dan sekarang, ia hanya bertahan di sebagian kecil hutan Papua yang rawan.

    Pengetahuan tradisional menunjukkan bahwa Tous bersarang di lubang-lubang pohon pada pohon tertinggi di hutan hujan. Seperti halnya greater glider di Australia, hewan ini juga rentan kehilangan habitat karena ancaman penebangan hutan yang masif.

    Melindungi spesies baru

    Kerentanan spesies ini adalah hal yang paling kami khawatirkan.

    Ketika kami secara resmi mendeskripsikan Tous, kami tidak mengungkap lokasi pasti tempat foto pertama diambil. Kami juga tidak menyebut nama pemilik tanah adat setempat karena alasan yang sama.

    Dengan mata besar yang tajam, bulu lembut, dan ekor yang bisa mencengkeram, Tous pasti akan sangat menarik bagi para penyelundup satwa liar.

    Di era saat ini, ketika perdagangan satwa banyak dipicu oleh media sosial, daya tarik hewan ini bisa menjadi ancaman besar. Spesies yang baru ditemukan terkadang langsung menghadapi eksploitasi tak lama setelah diumumkan.

    Sebagai contoh, hanya butuh 22 tahun antara penemuan kembali badak jawa di Vietnam pada 1988 hingga ia dipastikan punah akibat perburuan liar pada 2010.

    Melindungi Tous tidak akan mudah. Kita masih belum mengetahui wilayah sebarannya secara pasti. Namun, semua bukti menunjukkan bahwa hewan ini terbatas pada wilayah kecil di Papua yang hutannya sedang terancam penebangan dan ekspansi pertanian.

    Bahkan dalam foto-foto ketika ditemukan, terlihat sisa penebangan dan perkebunan kelapa sawit di latar belakang gambar.

    Masyarakat setempat mengatakan hewan ini hidup berpasangan dan monogami (hanya memiliki satu pasangan), serta hanya melahirkan satu anak dalam setahun. Tingkat reproduksi yang kemungkinan rendah ini membuatnya sangat rentan terhadap perburuan dan kehilangan habitat.

    Pengetahuan yang membawa kami pada penemuan ini tidak hanya berasal dari fosil dan foto, tetapi juga dari komunitas lokal yang telah mengenal hewan ini selama beberapa generasi.

    Jika upaya konservasi dibangun di atas pengetahuan lokal tersebut—dan jika masyarakat memperoleh keuntungan dari menjaga satwa liar tetap hidup daripada menangkap atau menjualnya—maka Tous akan tetap ada, melanjutkan keturunannya sekaligus memiliki masa depan yang aman.


    Erik Meijaard, Honorary Professor of Conservation, University of Kent; Kristofer M. Helgen, Adjunct professor, University of Technology Sydney, dan Tim Flannery, Honorary Fellow, Australian Museum

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.