Spesies keong darat yang ditemukan dalam penelitian di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti, Nusa Tenggara Timur pada 2016. A. bimaensis cochlostyloides, b. C. argillacea, c. A. latestrigatus (Sumber: Mujiono & Isnaningsih, 2021)
7cloud.asia – Keong darat (land snail) adalah kelompok hewan yang berperan penting bagi kesuburan tanah. Keong darat dapat memperkaya kandungan nitrogen dan senyawa organik pada tanah, didukung oleh kebiasaannya memakan bahan organik.
Keong darat dapat ditemukan di berbagai lanskap: hutan hujan, pertanian, karst, dan dataran tinggi maupun rendah. Kebanyakan keong dalam kelompok ini memiliki cangkang, meski ada juga yang tidak.
Sayangnya, keong darat seolah terabaikan dalam perbincangan publik seputar pelestarian kehidupan liar. Tak banyak pula peneliti, penjelajah, dan naturalis Indonesia yang memerhatikan kelompok spesies ini.
Eksplorasi keong darat di Indonesia, berdasarkan catatan sejarah, sudah berlangsung sejak tiga ratus tahun silam.
Catatan ekspedisi keong darat terawal di Wallacea diterbitkan oleh seorang naturalis asal Jerman, Georgius Everhardus Rumphius. Ia dipekerjakan oleh Perusahaan Perdagangan India Timur atau VOC.
Pada abad 20, ulasan dari para ilmuwan banyak berfokus pada penemuan spesies keong darat di Indonesia. Misalnya, ekspedisi Siboga yang dipimpin oleh Max Carl Wilhelm Weber, Direktur Museum Zoologi Amsterdam, selama 1899-1900.
Weber adalah salah satu naturalis penting penggagas konsep kawasan biodiversitas khusus di sepanjang Maluku hingga Timor Leste—dikenal dengan garis Weber.
Baca: Mengenal spesies bernama keong darat dan perannya dalam kelestarian lingkungan
Ekspedisi penting pada era tersebut dilakukan Karl Friedrich (Fritz) Sarasin dan sepupunya, Paul Benedict Sarasin ke Sulawesi. Pada tahun 1899 mereka mempublikasi temuan 198 spesies keong darat hasil ekspedisinya di Pulau Sulawesi.
Ekspedisi penting lainnya dilakukan oleh Bernhard Carl Emmanuel Rensch ke kepulauan Sunda Kecil pada tahun 1927. Ia berhasil mendata spesies keong darat dari Bali (32 spesies), Lombok (9 spesies), Sumbawa (19 spesies), dan Flores (27 spesies).
Walaupun tidak melakukan ekspedisinya sendiri, Woutera (Tera) Sophie Suzanna Van Benthem Jutting, Malakologist Belanda yang lahir di Batavia, juga menelaah keong darat dari kawasan Walacea yang dikoleksi oleh banyak penjelajah.
Setidaknya terdapat 125 spesies keong darat yang tercatat di Maluku dari publikasinya.Pada abad 21, sejumlah ekspedisi keong darat di Wallacea juga dilakukan ahli Malakologi Indonesia.
Misalnya, pada Ekspedisi Sumba yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Nova Mujiono dan Nur Rohmatin Isnaningsih mengoleksi 44 spesies keong darat dan sungai di pulau Sumba.
Pada 2022, tim peneliti melakukan ekspedisi keong darat di Maluku Utara yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara di bawah koordinator Ayu Savitri Nurinsiyah dari Research Center for Biosystematics and Evolution BRIN.
Berdasarkan ekspedisi tersebut, tim menemukan satu spesies baru Palaina motiensis dari Pulau Moti. Ada juga setidaknya delapan kandidat spesies baru dari Pulau Ternate, Pulau Bacan, dan Pulau Morotai.
Baca: Dampak rusaknya keanekaragaman hayati pada lingkungan
Walau begitu, ekspedisi kami turut menyoroti beberapa spesies yang ditemukan oleh Wallace belum dapat ditemukan kembali.
Ada dua kemungkinan mengapa hal ini dapat terjadi. Pertama, lokasi pengambilan sampel yang kami tidak sama dengan Wallace, atau kedua Lanskap lokasi pengambilan sampel sudah berubah dan spesies tersebut sudah punah.
Melampaui penemuan spesies
Keong darat merupakan kelompok fauna yang rentan punah. Spesies ini bergerak sangat lambat. Ia juga sangat rentan terhadap kekeringan.
Keduanya juga menjadi faktor penyebab beberapa spesies keong darat memiliki daerah sebaran yang terbatas atau dikenal dengan spesies endemik.
Sayangnya, hingga saat ini, belum ada spesies keong darat yang masuk ke dalam daftar satwa dilindungi di Indonesia. Hanya sebagian kecil dari spesies ini yang berada dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).
Padahal, spesies ini banyak menghadapi ancaman seperti kehilangan habitat akibat perubahan tata guna lahan dan penambangan, dan keberadaan spesies asing invasif.
Walau begitu, beberapa upaya telah dilakukan beberapa pihak di Indonesia untuk menghadapi kendala-kendala tersebut.
Baca: Mengenal apa itu Hari Spesies Terancam Punah Sedunia
Misalnya, Masyarakat Moluska Indonesia, gerakan lintas kelompok yang gencar melakukan penyadartahuan melalui Buletin Moluska Indonesia dan Jurnal Moluska Indonesia.
Upaya yang tidak kalah pentingnya adalah mencetak generasi penerus pemerhati dan peneliti terutama keong darat. Selain bekerja sama dengan beberapa universitas, kami juga memanfaatkan platform untuk mencetak taksonom baru keong darat melalui Bantuan Riset Tugas Akhir (Barista), Research Assistant (RA) dan lain-lain.
Dalam dokumen Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati yang diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pada Agustus lalu, Indonesia memiliki misi pengelolaan keanekaragaman hayati melalui perlindungan, pemanfaatan berkelanjutan, pengayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan sumber daya dan tata kelola.
Hal tersebut untuk mencapai visi hidup selaras dengan alam untuk keberlangsungan seluruh bentuk kehidupan di Indonesia.
Seluruh strategi rencana aksi di atas perlu mencakup tujuan pelestarian populasi fauna endemik Indonesia termasuk keong darat di Wallacea.
Artikel ini telah terbit di The Converstaion, Penulis: Vinna Windy Putri
(Post-doctoral Researcher BRIN) dan Ayu Savitri Nurinsiyah (Researcher in the Research Center for Biosystematics and Evolution BRIN; Presiden Indonesian Mollusk Society BRIN)

Leave a Reply