Tag: sumatera utara

  • Suhu Panas Landa Sumatera Utara, Terdeteksi 105 Titik Panas

    Suhu Panas Landa Sumatera Utara, Terdeteksi 105 Titik Panas

    7cloud.asia – Suhu panas melanda wilayah Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir. Akibatnya sebanyak 105 titik panas atau hotspot terpantau di wilayah ini.

    “Ke-105 titik panas tersebut terpantau berdasarkan pantauan sensor medis yakni Satelit Tera, Aqua, SNPP, dan NOAA20,” ungkap prakirawan cuaca Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) wilayah I Medan, Martha Manurung seperti yang dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Martha menjelaskan 105 titik panas tersebut masing-masing terpantau 3 titik di Humbang Hasundutan, 1 di Labuhanbatu Selatan, 7 di Labuhanbatu Utara, 1 di Mandailing Natal, 2 di Padang Lawas Utara.

    Selain itu tedapat 2 titik panas di Padang Lawas dan satu titik di Pakpak Bharat, 3 di Serdang Bedagai, 6 di Tapanuli Selatan, 4 di Tapanuli Utara, 13 di Toba, 2 di Asahan, 4 di Dairi, satu di Deli Serdang, 6 di Karo.

    Baca: Waspada suhu panas hingga 37 derajat celsius di wilayah Sumatera Utara

    Titik panas terbanyak terdeteksi di wilayah Labuhanbatu 35 titik, 2 titik di Langkat dan 12 titik panas di Samosir.

    “Informasi mengenai keberadaan titik panas tersebut juga sudah disampaikan kepada pemangku kepentingan agar dapat menjadi perhatian,’ ujarnya.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca pada Kamis (25/7/2024) pagi sebagian besar wilayah Sumatera Utara berawan.

    Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpeluang terjadi pada siang dan sore hari di wilayah Humbang Hasundutan dan sekitarnya.

    Kemudian malam harinya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpeluang terjadi di wilayah Humbang Hasundutan Sibolga, Langkat, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara.

    Baca: Titik panas di Riau capai 124 titik

    Suhu udara diperkirakan berkisar antara 15 hingga 36 derajat celcius dengan tingkat kelembapan udara antara 50 hingga 90 persen. Angin bertiup dari Tenggara-Barat Daya dengan kecepatan 05 – 15 km/jam.

    “Waspada potensi suhu udara yang cukup panas dan gerah di wilayah dataran rendah, perkotaan, dan pesisir pantai Sumatera Utara,” ucapnya.

    Dia mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membersihkan lahan karena sebagian wilayah Sumatera Utara sudah memasuki musim kemarau.

     

  • WALHI: Banjir Bandang di Sumatera Utara Cermin Kegagalan Negara Kendalikan Kerusakan Lingkungan

    WALHI: Banjir Bandang di Sumatera Utara Cermin Kegagalan Negara Kendalikan Kerusakan Lingkungan

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara menyebut banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah kabupaten/kota di wilayah itu bukan semata bencana alam akibat hujan ekstrem yang dipicu badai tropis Senyar.

    Seperti diberitakan, sejak Selasa (25/11/2025), sedikitnya 8 kabupaten/kota di Sumatera Utara terdampak banjir bandang dan longsor, dengan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah sebagai wilayah paling parah.

    Puluhan ribu warga mengungsi, ribuan rumah hancur, serta ribuan hektare lahan pertanian rusak tersapu banjir. Hingga kini, tercatat 51 desa di 42 kecamatan terdampak, dengan banjir melumpuhkan perekonomian, merusak infrastruktur, rumah ibadah, dan sekolah.

    Banjir bandang paling parah melanda wilayah-wilayah yang berada di Ekosistem Harangan Tapanuli (Ekosistem Batang Toru), yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.

    Direktur Eksekutif WALHI Sumut, Rianda Purba, dalam pernyataannya kepada media mengatakan, bahwa kerusakan hutan turut memperburuk dampak yang diakibatkan badai tersebut.

    Dia menegaskan, banjir dan tanah longsor yang menewaskan puluhan orang ini adalah bencana ekologis akibat kegagalan negara mengendalikan kerusakan lingkungan.

    Baca: DPR dorong Presiden tetapkan banjir Sumatera sebagai Bencana Nasional

    “Setiap banjir membawa kayu-kayu besar, dan citra satelit menunjukkan hutan gundul di sekitar lokasi. Ini bukti campur tangan manusia melalui kebijakan yang memberi ruang pembukaan hutan,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada media yang diterima Jumat (28/11/2025).

    Ia menambahkan, setidaknya ada tujuh perusahaan sebagai pihak yang diduga menjadi penyebab utama bencana ekologis yang melanda kawasan Tapanuli.

    Ketujuh perusahaan tersebut beroperasi di atau sekitar ekosistem Batang Toru yang menjadi habitat orangutan Tapanuli, harimau Sumatera, tapir, dan spesies dilindungi lainnya.

    WALHI Sumatera Utara menegaskan bahwa kehadiran industri ekstraktif telah menyebabkan deforestasi yang mengorbankan lingkungan dan masyarakat.

    Ekosistem Batang Toru: Penyangga hidrologis yang terus terkikis
    Rianda memaparkan, ekosistem Harangan Tapanuli/Batang Toru merupakan salah satu bentang hutan tropis esensial terakhir di Sumatera Utara.

    Sebagai bagian dari Bukit Barisan, hutan ini menjadi sumber air utama, mencegah banjir dan erosi, serta menjadi pusat Daerah Aliran Sungai (DAS) menuju wilayah hilir.

    Baca: Aceh tetapkan status darurat bencana banjir

    Secara administratif, 66,7 persen Ekosistem Batang Toru berada di Tapanuli Utara, 22,6 persen di Tapanuli Selatan, dan 10,7 persen di Tapanuli Tengah.

    Adapun tujuh perusahaan yang beroperasi di Ekosistem Batang Toru adalah:
    1. PT Agincourt Resources – Tambang emas Martabe
    2. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) – PLTA Batang Toru
    3. PT Pahae Julu Micro-Hydro Power – PLTMH Pahae Julu
    4. PT SOL Geothermal Indonesia – Geothermal Taput
    5. PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) – Unit PKR di Tapanuli Selatan
    6. PT Sago Nauli Plantation – Perkebunan sawit di Tapanuli Tengah
    7. PTPN III Batang Toru Estate – Perkebunan sawit di Tapanuli Selatan

    WALHI mendesak pemerintah untuk segera menghentikan aktivitas industri ekstraktif di Ekosistem Batang Toru, antara lain dengan mengevaluasi dan mencabut izin sejumlah perusahaan

    WALHI juga mendesak pemerintah mengevaluasi dan menghentikan proyek PLTA Batang Toru (NSHE), menutup dan mencabut izin PT Toba Pulp Lestari, termasuk praktik PKR; serta menghentikan aktivitas keempat perusahaan lain yang disebut sebelumnya

    Pemerintah juga diminta menindak tegas pelaku perusakan lingkungan, termasuk tujuh perusahaan yang diindikasikan merusak hutan dan lahan di DAS Batang Toru.

    Pemerintah juga didesak untuk segera menetapkan Kebijakan Perlindungan Ekosistem Batang Toru melalui RTRW Kabupaten, Provinsi, dan Nasional secara terpadu.

    Baca: Dua siklon tropis bisa picu hujan lebat dan angin kencang di sejumlah daerah

  • Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Termasuk Aceh

    Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Termasuk Aceh

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah pada Senin (01/12/2025). Diantaranya Aceh dan Sumatera Utara.

    Selain itu, wilayah Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali juga berpeluang terjadi hujan berintensitas sedang hingga lebat.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi terjadi di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, dan Papua Selatan.

    Sedangkan hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur wilayah Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan Papua Pegunungan.

    BMKG mengajak masyarakat mewaspadai adanya potensi angin kencang yan akan melanda wilayah Jawa Barat dan Banten.

  • Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Hujan Sangat Lebat Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Termasuk Aceh dan Sumatera Utara

    Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Hujan Sangat Lebat Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Termasuk Aceh dan Sumatera Utara

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia pada Sabtu (06/12/2025), termasuk Aceh dan Sumatera Utara.

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi pula mengguyur wilayah Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Maluku.

    Sementara hujan berintensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

    Kondisi cuaca serupa berpeluang pula terjadi di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara.

    Wilayah Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan juga berpeluang terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

    BMKG juga mengajak masyarakat agar mewaspadai potensi angin kencang yang berada di wilayah Jawa Barat, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Status Siaga Hujan Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah

    Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Status Siaga Hujan Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia –Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah di Indonesia pada Kamis (11/12/2025).

    Wilayah tersebut adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat.

    Baca: Waspada Bibit Siklon Tropis yang Picu Cuaca Ekstrem di Sumatera Utara

    Kondisi cuaca yang sama berpeluang pula terjadi di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya dan Papua Barat.

    BMKG juga mengajak masyarakat agar mewaspadai potensi angin kencang di wilayah Bengkulu, Jawa Barat, Kepulauan Bangka Belitung dan Papua.

    Kondisi cuaca tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. BMKG telah melakukan pemantauan intensif selama 24 jam terhadap perkembangan Bibit Siklon Tropis 91S yang saat ini berada di Samudera Hindia sebelah Barat Provinsi Lampung.

    Baca: sepekan Kedepan Cuaca Ekstrem Masih Landa Sejumlah Wilayah

    Dinamika atmosfer aktif saat ini mempengaruhi intensitas hujan di wilayah Sumatra, dan Bibit Siklon 91S berpotensi memicu peningkatan curah hujan lebat hingga sangat lebat tersebut.

    “Masyarakat juga harus waspada adanya potensi peningkatan tinggi gelombang di Samudra Hindia mulai dari sebelah barat Nias hingga selatan Banten, serta di perairan Selat Sunda bagian Selatan,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, di Sibolga, Sumatra Utara, Rabu (10/12).

    BMKG menegaskan potensi 91S untuk berkembang menjadi siklon tropis dan memasuki wilayah daratan, seperti halnya Siklon Tropis Senyar, berada dalam kategori rendah.

    Baca: Memasuki Puncak Musim Hujan, Waspada Bencana Hidrometeorologi

    Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar tetap tenang, tidak panik, dan terus memperbarui informasi cuaca dari BMKG secara real-time.

    Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis terkini, pergerakan 91S diprakirakan cenderung bergerak ke arah selatan hingga barat daya mulai 11 Desember 2025 siang atau sore hari.

    Selanjutnya, sistem diperkirakan mulai menunjukkan pola pegerakan yang konsisten ke barat daya, menjauhi wilayah Indonesia pada 12 Desember 2025.

    Baca: Delapan Hari Sebelum Bencana Sumatera, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    “BMKG Pusat bersama BMKG Provinsi telah melakukan koordinasi dengan BNPB dan BPBD di wilayah terdampak untuk memastikan langkah mitigasi berjalan optimal sesuai kondisi potensi cuaca yang dipengaruhi oleh keberadaan 91S,” kata Guswanto.

    Pun, pemerintah daerah melalui BPBD diminta memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir dan gangguan cuaca lainnya.

    Kolaborasi lintas sektoral yang solid, adalah kunci utama untuk menciptakan keharmonisan antara sistem peringatan dini (early warning) dan tindakan dini (early action).