Tag: sumur resapan

  • Cegah Banjir, Kelurahan Malaka Jaya Bangun Resapan Air Bentuk Dadu

    Cegah Banjir, Kelurahan Malaka Jaya Bangun Resapan Air Bentuk Dadu

    7cloud.asia – Keberadaan sumur resapan memegang peran penting bagi ketersediaan air tanah di kota-kota besar yang padat bangunan.  

    Sumur resapan akan menangkap air hujan untuk kemudian diresapkan ke dalam tanah sehingga air tanah terjaga kelestariannya.

    Sumur resapan akan mengurangi intensitas genangan saat musim hujan dan menjaga persediaan air tanah saat musim kemarau. 

    Di Kota Jakarta kewajiban membangun sumur resapan diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 68 tahun 2005.

    Baca: Jakarta pilih kelola sampah dengan sistem RDF

    Dalam beleid itu disebutkan, perorangan dan badan hukum penanggung jawab bangunan yang menutup permukaan tanah; setiap pemohon dari pengguna sumur dalam wajib membuat sumur resapan.

    Kewajiban membangun sumur resapan juga berlaku pada setiap pemilik bangunan berkonstruksi pancang dan/atau memanfaatkan air tanah dalam yang lebih dari 40 m; setiap usaha industri yang memanfaatkan air tanah permukaan.

    Berbicara soal sumur resapan ini, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Jakarta Timur bisa dijadikan percontohan.

    Saat ini kelurahan Malaka Jaya telah mempunyai sumur resapan di dua titik, yaitu di Rt 08/Rw 04 dan satu titik lainnya di Rt 13/Rw 05 Malaka Jaya.

    Baca: Sodetan Kali Ciliwung

    Namun sumur resapan ini berbeda dengan resapan sebelumnya yang hanya berukuran 1 x 2 meter dan tak bergerak airnya.

    “Sumur resapan ini berukuran seperti dadu, yaitu 1 m x 1 m ke bawah. Kemudian sumur itu dibor lagi dengan kedalaman 15 sampai 30 meter hingga bertemu pasir,” kata Ketua RT 08/RW 04, Malaka Jaya, Tauifik Supriadi, di acara “PLN Mendukung Malaka Jaya Bersama Tumbuh Maju Melalui Aksi Peduli Lingkungan RT 008/RW04” Minggu (3/12/2023) lalu. 

    Acara yang dihadiri Kelurahan Malaka Jaya Asiyanto, dan Ketua RW 04 Malaka
    Jaya, Sularto ini terlebih dulu diawali dengan jalan santai yang diikuti oleh ratusan warga Malaka Jaya.

    Sembari berjalan, warga juga memunguti sampah yang berserakan di
    sepanjang trotoar dengan plastik yang diberikan panitia.

    Baca: Banjir Kanal Timur yang seru

    Lebih lanjut Taufik menjelaskan, sumur resapan Malaka Jaya memiliki pipa ke bawah.

    Sehingga bila ada air masuk, air tersebut kemudian akan dibuang lagi ke dalam bumi sampai ketemu pasir melalui pipa paralon yang dilubangi sisi kanan kirinya.

    “Sehingga ini bukan hanya melulu untuk mencegah banjir ya, karena makin banyak sumur resapan, Insya Allah air tanah kita akan aman dan terjaga,,” ujar lelaki karyawan BPK yang menggagas acara ini.

    Sementara itu Kepala Kelurahan Malaka Jaya Asiyanto, menyambut baik aktivitas jalan santai dan peduli lingkungan yang melibatkan ratusan warga Malaka Jaya.

    Ia pun menyarankan agar aktivitas semacam ini rutin dilakukan demi kemajuan Malaka Jaya dan sekitarnya. Dalam kesempatan ini juga ditandatangani prasasti PLN Peduli Malaka Jaya.

  • Sumur Resapan, Kisah Pengendalian Banjir dan Konservasi Air di Jakarta

    Sumur Resapan, Kisah Pengendalian Banjir dan Konservasi Air di Jakarta

    7cloud.asia – Bagi warga kota, termasuk kota Jakarta, hujan tak selalu menjadi momen yang ditunggu.

    Pasalnya, curah hujan tinggi bisa menyebabkan datangnya banjir dan sering kali menciptakan kisah pilu bagi kehidupan warga Jakarta.

    Mayoritas lahan di Jakarta yang tertutup bangunan membuat tanah yang tidak dapat menyerap air dengan baik ke dalam tanah. Pun demikian dengan aliran air di selokan dan sungai yang tersumbat sampah menjadi pemicu banjir.

    Letak geografis Jakarta yang berada di dataran rendah antara hulu sungai dan pesisir juga membuat ibukota rentan banjir.

    Untuk mengatasi permasalahan banjir yang kerap melanda Jakarta, Pemerintah Provinsi melakukan berbagai cara.

    Baca: Kelurahan Malaka Jaya bangun resapan air bentuk dadu

    Melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta, Pemprov DKI Jakarta melakukan berbagai inovasi pengendalian banjir melalui rencana peta jalan yang menjadi landasan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025 — 2045.

    Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembangunan sumur resapan. Pembangunan sumur resapan di lima wilayah Jakarta ini masuk dalam program prioritas hingga 2025.

    Sumur resapan ini, selain untuk meminimalisasi terjadinya banjir juga berfungsi sebagai wilayah tangkapan air dan konservasi air di Jakarta.

    Hingga Desember 2023, tercatat ada 29.833 titik sumur resapan di Jakarta. Pemprov DKI Jakarta berkomitmen menjaga sumur-sumur resapan tersebut demi menjaga efektivitas pengendalian banjir.

    “Saat ini Dinas SDA DKI Jakarta melakukan pembangunan dan revitalisasi embung di wilayah hulu yang fungsinya sebagai waduk konservasi,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum.

    Baca: Tak hanya mengendalikan banjir di Jakarta sodetan Kali Ciliwung bisa jadi pusat kegiatan

    Selain itu, Dinas SDA DKI Jakarta juga terus melakukan pengecekan untuk pemeliharaan agar sumur resapan berfungsi optimal dengan memperhatikan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan

    Komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menanggulangi banjir–melalui Dinas SDA–tetap menganggarkan biaya pemeliharaan sumur resapan di setiap Suku Dinas SDA di lima wilayah Kota Administrasi Provinsi DKI Jakarta.

    Pemprov DKI Jakarta juga mencatat, pada 2024 ini terdapat lima pompa polder yang sedang dibangun dan dua lokasi pompa stasioner yang direvitalisasi.

    Ada pula delapan waduk kecil yang dibangun, dengan rincian enam embung merupakan pembangunan lanjutan dan dua embung baru.

    Baca: Membangun waduk menjadi salah satu cara Pemprov Jakarta atasi banjir

    Penjabat (Pj.) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menyebutkan beberapa konsep untuk penanggulangan banjir di Jakarta, salah satunya membangun embung (waduk kecil).

    Berdasarkan data Dinas SDA DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI berencana membangun 12 waduk, situ, embung, dan empang pada tahun 2024. Delapan dari 12 perencanaan itu merupakan lanjutan dari pembangunan tahun-tahun sebelumnya.

    Adapun rinciannya, yakni Waduk Kampung Rawa Malang, Waduk Marunda (lanjutan), Waduk Kali Cipinang Kelurahan Dukuh (lanjutan), embung di Jalan Penganten Ali 3 (lanjutan), dan embung di Jalan H Dogol (lanjutan).

    Waduk Kompleks Puspalad, Cakung Barat (lanjutan), embung Jalan Mesjid 3 (Embung Bau Bangkong), Cipayung (lanjutan), dan RTH Kampung Dukuh, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati (lanjutan).

    Baca: Pembangunan bendungan menyimpan ancaman bagi lingkungan

    Lalu, Embung Pekayon, Pasar Rebo (lanjutan), Waduk Jalan Kaja II, Embung Pemuda dan Embung SD 01 Pesanggrahan. Hingga kini sebanyak 147 waduk, situ, embung, dan empang telah terbangun di wilayah DKI Jakarta.

    Selain itu, Dinas SDA DKI Jakarta juga menerapkan enam inovasi pengendali banjir yang ditempatkan pada lokasi-lokasi langganan banjir setiap kali hujan deras. Inovasi ini akan diimplementasikan dan diteruskan untuk meminimalkan dampak curah hujan tinggi.

    Enam inovasi pengendalian banjir, yakni pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti embung, penguatan tanggul kali, pembangunan sistem polder, penyiagaan, serta pengecekan berkala rumah pompa, pintu air, hingga penyediaan alat berat.

    Selanjutnya penyiagaan satuan tugas (satgas) di lapangan dan peningkatan kapasitas drainase kawasan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Walhi: Sumur Resapan Jadi Solusi Efektif Jaga Ketersediaan Air di Perkotaan

    Walhi: Sumur Resapan Jadi Solusi Efektif Jaga Ketersediaan Air di Perkotaan

    7cloud.asia – Sumur resapan merupakan salah satu solusi efektif untuk menjaga ketersediaan air di kawasan perkotaan dalam menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem.

    Penggunaan sumur resapan di perkotaan perlu diutamakan berdasarkan prioritas, dimulai dari kebutuhan pokok seperti air untuk konsumsi, diikuti kebutuhan lainnya selanjutnya untuk ternak dan tanaman pangan.

    Demikian diungkapkan Manager Kampanye Infrastruktur dan Tata Ruang WALHI Eksekutif Nasional Dwi Sawung seperti dikutip Antaranews.com, Kamis Kamis.(19/9/2024).

    “Sumur resapan sangat besar perannya ketika musim penghujan dan musim kemarau, menjaga neraca air seimbang, ini juga mesti dibarengi dengan menjaga RTH yang cukup di lingkungan sekitar,” kata Dwi,

    Ia menambahkan penting juga untuk memastikan bahwa semua sistem pipa dan tempat penyimpanan air tidak mengalami kebocoran, agar tidak ada air yang terbuang sia-sia.

    Baca: Konservasi air dengan memperbanyak pembangunan sumur resapan

    Selain itu, menjaga ruang terbuka hijau (RTH) di sekitar juga sangat mendukung fungsi sumur resapan.

    Dwi memaparkan efektifitas sumur resapan bergantung pada kondisi geologi daerah dan tingkat penggunaan air tanah.

    Dia mencontohkan, di daerah dengan penggunaan air yang masif dan tanah yang kurang mampu menyimpan air, manfaat sumur resapan mungkin kurang optimal.

    Namun, dia menegaskan sumur resapan tetap dirasa memiliki banyak dampak, baik jangka panjang maupun pendek.

    “Manfaat jangka panjangnya mengendalikan banjir dipermukaan dan penurunan muka air tanah dalam jangka panjang,” ungkapnya.

    Baca: Konservasi air di Jakarta andalkan pada waduk dan embung

    Dengan memanfaatkan sumur resapan secara optimal, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi tantangan kemarau dan menjaga keberlanjutan sumber daya air.

    Dengan langkah-langkah yang tepat, sumur resapan dapat menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan air di masa depan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan 38 daerah di tujuh provinsi di Indonesia mengalami kekeringan ekstrem karena tidak ada hujan selama lebih dari dua bulan.

    Seperti daerah yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur meliputi Kota Kupang (144 hari), Sumba Timur (141 hari), Sabu Raijua (128 hari), Kupang (116 hari), Lembata (97 hari), Timor Tengah Selatan (97 hari), Sikka (72 hari), Rote Ndao (70 hari), Sumba Barat Daya (69 hari), dan Ende (69 hari).

    Kondisi serupa juga menimpa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat, dan Provinsi Banten.

  • Cegah Banjir, Pemkot Jakarta Selatan Keruk Selokan dan Bangun Sumur Resapan di Tebet

    Cegah Banjir, Pemkot Jakarta Selatan Keruk Selokan dan Bangun Sumur Resapan di Tebet

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel) membangun lima sumur resapan di kawasan Patra, Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet.

    Sumur resapan ini memiliki kedalaman 28 sampai 30 meter, di mana setiap sumur resapan mampu menampung hingga 10.000 liter air.

    Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar mengatakan pembuatan sumur resapan ini penting, tidak hanya untuk mengatasi genangan, tapi juga berfungsi untuk menjaga kuantitas dan kualitas air tanah.

    “Saat musim hujan, sumur resapan dapat berfungsi mengatasi genangan. Sementara, saat musim kemarau bisa memastikan cadangan air tanah masih baik,” ujar Anwar di Jakarta, Senin (27/10/2025).

    Selain itu Pemkot Jakarta Selatan juga mengeruk lumpur dan membangun sumur resapan di Patra, untuk mencegah banjir di kawasan itu.

    Baca: Sumur resapan jadi solusi efektif jaga ketersediaan air di perkotaan

    “Pencegahan banjir di kawasan Patra ini dilakukan dengan melakukan pengerukan sedimen lumpur maupun sampah di Kali Cideng, Saluran Penghubung Patra, dan Saluran Penghubung Kemenkes,” imbuhnya

    Anwar menjelaskan, di lokasi-lokasi rawan genangan yang sudah dilakukan penanganan terbukti membuahkan hasil yang cukup baik.

    Ia menjelaskan, di beberapa daerah yang dibangun sumurresaan, jika terjadi hujan deras atau ekstrem, genangan sudah berkurang hingga 50 sampai 60 sentimeter (cm).

    Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan saluran makro dan mikro, embung, serta waduk dengan tidak menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah.

    “Kami rutin melaksanakan kerja bakti dengan melibatkan pengurus lingkungan dan unsur warga lainnya untuk memastikan kebersihan terjaga. Lingkungan yang bersih, rapi dan tertata termasuk di bantaran kali sangat penting,” ucapnya.

    Baca: Pengendalian banjir dan konservasi air di Jakarta

    Ratusan personel
    Sementara, Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan, Santo mengatakan dalam upaya penanganan genangan di kawasan Patra dikerahkan sebanyak 500 personel Pasukan Pelangi, lima ekskavator dan 10 truk pengangkut (dump truck).

    “Khusus untuk Kali Cideng, kita keruk sedimen lumpur dan sampah dengan ketebalan satu meter dilakukan sepanjang 600 meter. Pengerukan sekitar 1.100 meter kubik lumpur ini ditargetkan tuntas dalam dua bulan,” ucap Santo.

    Dia menjelaskan pengerukan Kali Cideng di Jakarta Selatan dilakukan dari hulu hingga ke hilir untuk mengoptimalkan fungsinya agar masyarakat semakin merasa nyaman tinggal di Jakarta Selatan.

    “Nanti kita menyambung yang di belakang Gedung KPK sampai Waduk Setiabudi yang saat ini juga kita sedang lakukan pengerukan. Melalui upaya ini semoga dapat menjawab persoalan genangan yang kerap terjadi saat hujan deras,” ucapnya.

    Baca: Sodetan Kali Ciliwung menjadi pusat kegiatan masyarakat