Walhi: Sumur Resapan Jadi Solusi Efektif Jaga Ketersediaan Air di Perkotaan

Written by

in

7cloud.asia – Sumur resapan merupakan salah satu solusi efektif untuk menjaga ketersediaan air di kawasan perkotaan dalam menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem.

Penggunaan sumur resapan di perkotaan perlu diutamakan berdasarkan prioritas, dimulai dari kebutuhan pokok seperti air untuk konsumsi, diikuti kebutuhan lainnya selanjutnya untuk ternak dan tanaman pangan.

Demikian diungkapkan Manager Kampanye Infrastruktur dan Tata Ruang WALHI Eksekutif Nasional Dwi Sawung seperti dikutip Antaranews.com, Kamis Kamis.(19/9/2024).

“Sumur resapan sangat besar perannya ketika musim penghujan dan musim kemarau, menjaga neraca air seimbang, ini juga mesti dibarengi dengan menjaga RTH yang cukup di lingkungan sekitar,” kata Dwi,

Ia menambahkan penting juga untuk memastikan bahwa semua sistem pipa dan tempat penyimpanan air tidak mengalami kebocoran, agar tidak ada air yang terbuang sia-sia.

Baca: Konservasi air dengan memperbanyak pembangunan sumur resapan

Selain itu, menjaga ruang terbuka hijau (RTH) di sekitar juga sangat mendukung fungsi sumur resapan.

Dwi memaparkan efektifitas sumur resapan bergantung pada kondisi geologi daerah dan tingkat penggunaan air tanah.

Dia mencontohkan, di daerah dengan penggunaan air yang masif dan tanah yang kurang mampu menyimpan air, manfaat sumur resapan mungkin kurang optimal.

Namun, dia menegaskan sumur resapan tetap dirasa memiliki banyak dampak, baik jangka panjang maupun pendek.

“Manfaat jangka panjangnya mengendalikan banjir dipermukaan dan penurunan muka air tanah dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Baca: Konservasi air di Jakarta andalkan pada waduk dan embung

Dengan memanfaatkan sumur resapan secara optimal, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi tantangan kemarau dan menjaga keberlanjutan sumber daya air.

Dengan langkah-langkah yang tepat, sumur resapan dapat menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan air di masa depan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan 38 daerah di tujuh provinsi di Indonesia mengalami kekeringan ekstrem karena tidak ada hujan selama lebih dari dua bulan.

Seperti daerah yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur meliputi Kota Kupang (144 hari), Sumba Timur (141 hari), Sabu Raijua (128 hari), Kupang (116 hari), Lembata (97 hari), Timor Tengah Selatan (97 hari), Sikka (72 hari), Rote Ndao (70 hari), Sumba Barat Daya (69 hari), dan Ende (69 hari).

Kondisi serupa juga menimpa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat, dan Provinsi Banten.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *