Tag: swasembada beras

  • Pernyataan Gibran Soal Swasembada Beras Dinilai Keliru Besar

    Pernyataan Gibran Soal Swasembada Beras Dinilai Keliru Besar

    7cloud.asia – Saat debat cawapres pada Minggu (21/1/2024) lalu cawapres 02 Gibran Rakabuming Raka menyebutkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras pada masa Presiden Joko Widodo.

    Pernyataan ini disanggah oleh Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah. Ia menegaskan tidak ada program swasembada beras di masa pemerintahan Jokowi.

    “Sebagai anggota DPR, yang memiliki tanggung jawab pengawasan, saya ingin menyampaikan kondisi seobjektif mungkin agar persoalan pangan rakyat tidak menjadi komoditas elektoral, serta tidak berbasis pada data yang benar,” tutur Said Selasa (23/1/2024) dikutip Parlementaria.

    Said menegaskan, debat capres dan cawapres adalah ajang untuk menunjukkan kualitas kepemimpinan nasional, bukan dari sisi kemampuan pengetahuan semata.

    Debat cawapres juga menjadi sarana rakyat untuk mengetahui kualitas kejujuran, dan kepemimpinan.

    Baca: Debat cawapres dinilai tak singgung akar masalah krisis iklim

    Jadi, ujarnya, sebaiknya calon pemimpin harus berani mengungkapkan data yang jujur. Apalagi urusan beras ini menyangkut hajat hidup orang banyak.

    “Itulah sebabnya Banggar DPR dan pemerintah sejak awal menyepakati negara harus menjamin pangan rakyat, khususnya beras karena memiliki pengaruh besar atas tingkat kemiskinan mereka dalam bertahan hidup,” ujarnya.

    Said berharap urusan beras, data dan kebijakannya jangan dijadikan komoditas politik elektoral, apalagi jika disampaikan dengan tidak jujur.

    “Tentu hal itu tidak baik. Bagi pemimpin, berani jujur itu bukan kehebatan, tetapi keharusan. Sebab kata-kata dan perbuatannya berpengaruh luas kepada rakyat,” tandas legislator Jawa Timur XI itu.

    Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia disbut selalu melakukan impor beras sepanjang tahun 2014 hingga 2023.

    Baca: Keadilan iklim tak jadi bahasan di debat cawapres

    Tercatat, Pemerintah Indonesia memutuskan melakukan Impor beras 844 ribu ton pada tahun 2014, 861 ribu ton pada tahun 2015.

    Tidak berhenti, impor beras melonjak signifikan menjadi 2,25 juta ton pada tahun 2018, dibandingkan pada tahun 2017 sebesar 305 ribu ton.

    Sedangkan impor beras pada tahun 2023 mencapai 3,06 juta ton. Angka ini menandai bahwa Indonesia telah menjadi negara dengan impor beras terbesar sepanjang sejarah republik ini berdiri.

    Ia menegaskan, tidak relevan jika impor beras dikaitkan dengan bencana el nino, tentu tidak relevan. Bahwa benar pada tahun 2023 lalu, Indonesia mengalami el nino, musim kering yang agak panjang.

    “Namun, masa ini berlangsung kurang dari 4 bulan, dan memang ada kebutuhan untuk menutup pasokan kebutuhan beras dalam negeri sebagai cadangan bila persawahan ada gagal panen,” ujar politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu.

    Said juga mempertanyakan sikap pemerintah Indonesia yang memutuskan untuk mengimpor beras mencapai 3,06 juta ton akibat gagal panen.

    Baca: Food Estate dinilai sebagai proyek gagal

    Data BPS mengungkapkan, produksi beras pada tahun 2022 sebesar 31,5 juta ton dan periode Januari-Oktober 2023 mencapai 30,9 juta ton.

    Artinya, ada kemungkinan perubahan data produksi beras sampai Desember 2023. 

    Jika membandingkan hasil panen pada tahun 2022 dan 2023, BPS mencatat pada tahun 2022 produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 54, 75 juta ton.

    Sementara pada tahun 2023, data terakhir yang disajikan BPS pada Oktober 2023 produksi GKG mencapai 53,63 juta ton.

    Data ini belum ditambahkan perhitungannya sampai Desember 2023. Artinya, produksi GKG sepanjang 2023 potensi lebih besar dari data rilis terakhir BPS,” papar Said.

    “Jadi, sangat tidak tepat kalau el nino dijadikan rujukan untuk mengungkapkan kebutuhan impor beras dengan skala massif, terbesar dalam sejarah republik ini berdiri. Saya melihat ada indikasi ketidakwajaran dalam hal besarnya volume impor beras pada tahun 2023,” sebutnya.

    Baca: Gibran terlalu banyak gimmick, banyak isu lingkungan tak muncul di debat cawapres

    Pada tahun 2020 lalu, selaku Ketua Banggar, Said sudah mengusulkan kepada pemerintah agar mengubah skema impor, dari sistem kuota menjadi impor dengan model pengenaan tarif.

    Pasalnya, kebijakan impor dengan sistem kuota, sarat dengan upaya memburu rente para pejabat. 

    Said lantas merujuk temuan Ombudsman, adanya perbedaan antara dokumen kuota impor bawang dengan realisasi yang lebih besar dari dokumen.

    Rekomendasi izin impornya sebesar 560 ratus ribu ton di ratas Kemenko Perekonomian, tetapi rekomendasi di Kementan mencapai 1,2 juta ton.

    “Saya pastikan dengan model impor pengenaan tarif, negara lebih banyak untungnya, dan model perburuan rente pada kegiatan impor bisa lebih dikurangi,” terang Said.

     

  • Swasembada Beras Belum Diikuti Peningkatan Kesejahteraan Petani

    Swasembada Beras Belum Diikuti Peningkatan Kesejahteraan Petani

    7cloud.asia – Anggota Komisi IV DPR Usman Husin menegaskan, swasembada beras tak boleh berhenti sebagai angka statistik atau klaim keberhasilan pemerintah.

    Sebab, realitas petani masih jauh dari kata sejahtera. Usman mengatakan mayoritas petani di Indonesia adalah petani kecil dengan lahan sempit, biaya produksi naik, sementara harga gabah kerap tak menutup ongkos.

    Jika negara sudah swasembada beras, tetapi petaninya tetap miskin, maka ada yang keliru dalam tata kelola pangan.

    “Swasembada harus dimaknai sebagai jaminan bahwa hasil panen petani terserap secara maksimal dengan harga yang adil, bukan justru menekan petani di hulu,” ujar Usman dikutip Parlementaria, Rabu (7/1/2026).

    Menurutnya, swasembada beras sejatinya bertujuan melindungi Indonesia dari gejolak pangan global, krisis geopolitik, dan gangguan rantai pasok internasional. Namun, perlindungan itu harus dibarengi penguatan sektor pertanian di dalam negeri.

    Baca: Cetak sawah baru bukan solusi menuju ketahanan pangan

    “Selain itu, swasembada juga membuka peluang penguatan sektor pertanian nasional melalui perbaikan infrastruktur irigasi, distribusi pupuk, hingga pemanfaatan teknologi pertanian modern,” kata politisi Fraksi PKB ini.

    Usman mengingatkan, tantangan terbesar justru datang setelah status swasembada diklaim.

    Negara dituntut hadir memastikan kebijakan benar-benar berpihak pada petani, mulai dari penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang realistis, optimalisasi penyerapan gabah oleh Bulog, hingga perlindungan dari tengkulak dan permainan pasar.

    Ia menekankan bahwa tanpa intervensi kuat, surplus produksi justru berisiko menjatuhkan harga di tingkat petani.

    Ia juga menekankan agar pemerintah konsisten menutup keran impor, termasuk praktik impor terselubung, selama stok dalam negeri mencukupi. Lemahnya pengawasan, kata Usman, bisa merusak harga pasar dan mencederai klaim swasembada.

    Baca: Ada kebijakan yang tak adil untuk petani

    Ke depan, ujarnya, pemerintah harus menjadikan kesejahteraan petani sebagai salah satu indikator keberhasilan swasembada pangan.

    “Bukan hanya soal cukup atau tidaknya beras, tetapi apakah petani bisa hidup layak, menyekolahkan anaknya, dan berproduksi secara berkelanjutan,” tuturnya.

    Secara umum, perbandingan kesejahteraan yang diukur melalui pendapatan petani cenderung lebih rendah dibandingkan profesi non-pertanian, terutama jika dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) di berbagai daerah.

    Sebelumnya, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan stok pangan nasional berada dalam posisi kuat. Carry over stock pangan 2025 dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan 2026 tanpa impor.

    Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, Bapanas mencatat beras, jagung, dan gula konsumsi memiliki stok lanjutan yang kuat dari 2025. Pemerintah pun memutuskan tak melakukan impor beras, gula konsumsi, maupun jagung pakan tahun ini.

    Adapun carry over stok beras dari 2025 ke 2026 tercatat sebesar 12,529 juta ton, termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog yang hingga akhir Desember 2025 masih mencapai 3,248 juta ton.

    Baca: Petani mengeluh kesulitan membeli pupuk bersubsidi