Tag: Tanam

  • Musim Tanam Tiba, Petani Dipersulit Membeli Pupuk

    Musim Tanam Tiba, Petani Dipersulit Membeli Pupuk

     

    7cloud.asia – Seiring dengan makin sering turunya hujan musim tanam padi pun mulai terjadi di sejumlah daerah di Ciamis, Jawa Barat sejak awal Januari lalu. Para petani dengan suka hati mengolah tanah dan menanam padi.

    Namun suka cita itu hanya berlangsung tak lama. Pupuk kini dibatasi dan petani pun mengaku kesulitan untuk membeli pupuk bersubsidi.

    Seperti yang dialami oleh Salman, salah seorang petani di Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat.

    Saat ia membeli pupuk 1 karung urea dan 1 karung phonska yang beratnya masing-masing 50 kilogram.

    Salman harus rela difoto dan data pribadinya dicatat sebagai bukti pembelian pupuk bersubsidi ini.

    Baca: Pupuk organik ramah lingkungan untuk petani

    Tidak hanya itu, untuk sawah seluas 4500 meter persegi, Salman hanya mendapat jatah pupuk 100 kilogram atau 1 kwintal. Padahal dulu, saat pembelian pupuk masih belum dibatasi, ia bebas membeli pupuk untuk sawahnya.

    “Sekarang mah ribet, 200 kilo untuk dua musim tanam. Kartu tani nggak berlaku lagi. Jadi lama kalau mau beli,” jelas Salman kepada 7cloud.asia.

    Untuk menyiasati kekurangan pupuk, Salman biasanya meminjam KTP milik kerabatnya yang sawahnya tidak luas.

    “Padahal kalau mau naik dikit ya nggak papa asal kita mudah dapat pupuk, bebas kayak dulu. Nggak dibatas-batasi lagi,” katanya.

     

    Baca: Musim kemarau, biaya tanam melonjak

    Kondisi ini semakin sulit bagi petani yang harus menghadapi kenaikan biaya produksi seperti pembelian obat semprot, biaya penyewaan traktor, dan biaya lainnya.

    Hal senada juga diungkapkan oleh Jajang Rusdiana. Bapak dua anak ini mengaku kaget dirinya harus difoto saat hendak membeli sebanyak 4 kilogram pupuk untuk kebutuhan pembenihan.

    Selain itu, dia harus menandatangani formulir dan di aplikasi penyalur pupuk. Menurutnya cara seperti ini membuat petani tidak nyaman.

    “Ini semua hal yang nggak biasa atau asing untuk para petani yang rata-rata pendidikannya hanya lulusan SD. Jadi kami diibaratkan seperti penjahat atau penipu,” cetus Jajang.

     

    Baca: Imbas El Nino, petani di Ciamis tunda masa tanam

    Selanjutnya Jajang menjelaskan cara seperti ini harus dilalui para petani yang akan membeli pupuk meski hanya membeli pupuk sedikit.

    Sementara itu, Haji Enceng, salah seorang pedagang pupuk serta obat-obatan semprot mengakui banyak keluhan dari para pelanggan saat akan membeli pupuk.

    Pasalnya kini para petani hanya mendapat jatah 100 kilogram untuk sekali tanam. Namun, dirinya tidak dapat berbuat banyak saat mendapat protes dari para pembeli.

    “Terserah sawahnya mau seluas apa, ya tetep segitu jatahnya. Setiap petani dapat 200 kilo untuk dua kali musim tanam” kata Haji Enceng. 

    Baca: Dampak El Nino mulai dirasakan petani

    Padahal, dahulu sekali tanam petani mendapat jatah pupuk 200 kilogram. Namun jumlah itu kini dikurangi.  

    Jika petani butuh pupuk lebih banyak, maka ia terpaksa harus membeli pupuk non subsidi yang dijual dengan harga Rp 8000 per kilogram. Padahal pupuk subsidi dijual dengan harga Rp 2.250 per kilogram.

    “Ini kayak gini sejak Januari, nggak berlaku lagi tuh Kartu Tani. Cuma pakai NIK KTP,” katanya.

    Karena itu, baik Salman, Jajang maupun Haji Enceng berharap siapapun presidennya yang terpilih nanti dapat memperhatikan kondisi petani.

    Baca: Produksi beras yang adaptif terhadap perubahan iklim

    Mereka dapat dengan mudah membeli pupuk dan harga obat semprot harga murah seperti dahulu.

    Tidak seperti saat ini, di mana biaya bercocok tanam mahal tidak sebanding dengan hasil panen.

    ‘Harga beras mahal, kami mah tetep aja biayanya tinggi. Tidak merasakan hasilnya,” ungkap Salman menutup perbincangan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Tanam Pohon Serentak, Upaya Mitigasi Perubahan Iklim

    Tanam Pohon Serentak, Upaya Mitigasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Ada banyak cara yang dapat dilakukan sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Salah satunya dengan menanam pohon serentak seperti yang dilakukan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya.

    Penanaman pohon ini dalam rangka peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-41 yang juga dilakukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

    “Penanaman serentak sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, pemulihan kualitas lingkungan hidup, dan percepatan rehabilitasi hutan dan lahan merupakan upaya memperbaiki kualitas lingkungan dengan memperbanyak tegakan pohon atau tanaman,” jelas Siti Nurbaya.

    Melansir Antaranews, Siti dalam sambutan yang dibacakan oleh Staf Ahli Menteri LHK Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Tasdiyanto Rohadi mengatakan penanaman serentak tak hanya menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.

    Baca: Menteri Siti ajak gen Y dan gen Z tanam pohon

    Penanaman serentak juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan wawasan dan pemahaman masyarakat umum atas pelaksanaan program pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan khususnya kegiatan penanaman pohon.

    Penanamn pohon ini perlu dilakukan karena pohon memiliki manfaat multiguna untuk seluruh makhluk hidup.

    Pohon tidak hanya sebagai penyedia oksigen, tetapi juga menjadi tempat penyimpanan karbon yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya di bumi.

    Pohon juga bermanfaat bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Selain itu, pohon juga berperan penting dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca, sumber kehidupan makhluk hidup.

    Manfaat lain pohon adalah untuk menyimpan air, menjaga suhu udara, meredam kebisingan, dan mengurangi terjangan angin. Pohon juga menjadi solusi atas berbagai persoalan polusi udara.

    Baca: Dinas kehutanan Kalsel tanam 1500 pohon

    Dampak perubahan iklim secara nyata sudah dirasakan seperti suhu udara yang panas, musim kemarau yang berkepanjangan dan lain-lain.

    Karena itu keberadaan pohon dan tutupan lahan yang baik akan meningkatkan daya dukung alam dalam mitigasi perubahan iklim, ketahanan pangan, energi dan kesejahteraan seluruh makhluk hidup.

    “Ini adalah langkah positif untuk merestorasi dan melindungi lingkungan. Kita tidak hanya memberikan manfaat bagi bumi, tetapi juga menciptakan warisan untuk generasi mendatang,” ujarnya.

    Indonesia sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia mempunyai arti sangat penting dalam upaya pengendalian iklim global.

    Hutan merupakan salah satu kunci untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, mendinginkan udara dan melindungi dari kekeringan, panas ekstrem, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati, atau Triple Planetary Crisis.

    Baca: KLHK siapkan lebih dari 2 ribu bibit untuk refleksi akhir tahun

    karena itu, dalam memperingati Hari Bhakti Rimbawan ke-41, Siti mengajak seluruh rimbawan baik di Kementerian LHK, pemerintah daerah, bisnis leaders dan para aktivis, para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat bekerjasama memberikan  kontribusi pemikiran dan kegiatan nyata di tingkat tapak secara masif dan terukur.

    Menurutnya, Indonesia memandang sangat penting untuk memastikan bahwa komitmen-komitmen tersebut dipenuhi melalui kebijakan dan aksi-aksi nyata untuk menurunkan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya melalui Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

    “Salah satunya dengan menanam dan memelihara pohon sebanyak mungkin,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani