7cloud.asia – Ada banyak cara yang dapat dilakukan sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Salah satunya dengan menanam pohon serentak seperti yang dilakukan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya.
Penanaman pohon ini dalam rangka peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-41 yang juga dilakukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Penanaman serentak sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, pemulihan kualitas lingkungan hidup, dan percepatan rehabilitasi hutan dan lahan merupakan upaya memperbaiki kualitas lingkungan dengan memperbanyak tegakan pohon atau tanaman,” jelas Siti Nurbaya.
Melansir Antaranews, Siti dalam sambutan yang dibacakan oleh Staf Ahli Menteri LHK Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Tasdiyanto Rohadi mengatakan penanaman serentak tak hanya menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.
Baca: Menteri Siti ajak gen Y dan gen Z tanam pohon
Penanaman serentak juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan wawasan dan pemahaman masyarakat umum atas pelaksanaan program pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan khususnya kegiatan penanaman pohon.
Penanamn pohon ini perlu dilakukan karena pohon memiliki manfaat multiguna untuk seluruh makhluk hidup.
Pohon tidak hanya sebagai penyedia oksigen, tetapi juga menjadi tempat penyimpanan karbon yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya di bumi.
Pohon juga bermanfaat bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Selain itu, pohon juga berperan penting dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca, sumber kehidupan makhluk hidup.
Manfaat lain pohon adalah untuk menyimpan air, menjaga suhu udara, meredam kebisingan, dan mengurangi terjangan angin. Pohon juga menjadi solusi atas berbagai persoalan polusi udara.
Baca: Dinas kehutanan Kalsel tanam 1500 pohon
Dampak perubahan iklim secara nyata sudah dirasakan seperti suhu udara yang panas, musim kemarau yang berkepanjangan dan lain-lain.
Karena itu keberadaan pohon dan tutupan lahan yang baik akan meningkatkan daya dukung alam dalam mitigasi perubahan iklim, ketahanan pangan, energi dan kesejahteraan seluruh makhluk hidup.
“Ini adalah langkah positif untuk merestorasi dan melindungi lingkungan. Kita tidak hanya memberikan manfaat bagi bumi, tetapi juga menciptakan warisan untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Indonesia sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia mempunyai arti sangat penting dalam upaya pengendalian iklim global.
Hutan merupakan salah satu kunci untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, mendinginkan udara dan melindungi dari kekeringan, panas ekstrem, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati, atau Triple Planetary Crisis.
Baca: KLHK siapkan lebih dari 2 ribu bibit untuk refleksi akhir tahun
karena itu, dalam memperingati Hari Bhakti Rimbawan ke-41, Siti mengajak seluruh rimbawan baik di Kementerian LHK, pemerintah daerah, bisnis leaders dan para aktivis, para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat bekerjasama memberikan kontribusi pemikiran dan kegiatan nyata di tingkat tapak secara masif dan terukur.
Menurutnya, Indonesia memandang sangat penting untuk memastikan bahwa komitmen-komitmen tersebut dipenuhi melalui kebijakan dan aksi-aksi nyata untuk menurunkan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya melalui Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
“Salah satunya dengan menanam dan memelihara pohon sebanyak mungkin,” ujarnya.
Reporter: Nurakhmayani

Leave a Reply