Tag: tapol

  • Mantan Tapol dan Napol Dukung Pembentukan Serikat Tahanan Politik Indonesia

    Mantan Tapol dan Napol Dukung Pembentukan Serikat Tahanan Politik Indonesia

    7cloud.asia – Penahanan para aktivis pro demokrasi masih berlanjut di Polda Metro Jaya. Mereka membentuk  Serikat Tahanan Politik Indonesia. Mantan Tahanan Politik (Tapol) dan Narapidana Politik (Napol) era orde baru mendukung langkah tersebut.  

    Dalam rilis yang diterima 7cloud.asia, para mantan Tapol dan Narapidana Politik (Napol) korban kekuasaan otoriter di Indonesia ini juga mengecam intimidasi dan berbagai tindak kekerasan oleh polisi saat pemeriksaan terhadap korban.

    Selain itu, mereka menuntut penghentian kriminalisasi atas aktivis dan pembebasan seluruh tahanan politik tanpa syarat. “Penjara tak membuat kami jera. Terus melawan!,” seru Petrus H. Harianto, mantan Tapol Partai Rakyat Demokratik (PRD).

    Baca: Polisi Kembali Menangkap Aktivis Mahasiswa Secara Brutal

    Para mantan Tapol dan Napol tersebut diantaranya adalah Fauzi Isman (mantan tapol kasus Talangsari, Lampung), Isti Nugroho (mantan napol buku Pramoedya Ananta Toer), Coen Husain Pontoh (mantan napol PRD), Wilson Obrigados (mantan tapol PRD), dan kawan-kawan.  

    Sebelumnya, pada 4 Oktober lalu sebanyak 27 orang aktivis pro demokrasi membentuk Serikat Tahanan Politik Indonesia. Serikat ini diketuai oleh aktivis Gejayan Memanggil, Syahdan Husein.

    Dia merupakan tersangka dugaan penghasutan terkait dengan demonstrasi Agustus 2025 dan telah ditahan sejak awal September 2025.

    Baca: Aparat Menangkap Kelompok Kritis Jadi Sorotan Dunia

    Serikat Tahanan Politik Indonesia ini untuk menyerap aspirasi anggota serikat tahanan politik selama proses hukum berlangsung.

    Selain itu juga sebagai sumber otentik perihal informasi mengenai kondisi para anggota selama proses penahanan. Para anggota juga mengajak tahanan politik di seluruh Indonesia untuk bergabung dalam serikat tersebut.

    “Kami mengajak seluruh tahanan politik yang ditangkap dan belum dibebaskan di seluruh Indonesia untuk bergabung ke Serikat Tahanan Politik Indonesia,” kata para tahanan.

  • Aliansi Eks Tapol/Napol: Kematian Alfarisi di Rutan Medaeng Indikator Serius Kegagalan Negara

    Aliansi Eks Tapol/Napol: Kematian Alfarisi di Rutan Medaeng Indikator Serius Kegagalan Negara

    7cloud.asia – Aliansi Mantan Tahanan dan Narapidana Politik (Tapol/Napol) Indonesia dan Papua menilai kematian Alfarisi bin Rikosen (21), seorang tahanan politik yang meninggal dunia, merupakan indikator serius kegagalan negara.

    “Setiap kematian dalam tahanan merupakan indikator serius kegagalan negara dalam memenuhi kewajibannya untuk melindungi hak asasi manusia,” demikian pernyataan tertulis aliansi dalam rilis pers yang diterima 7cloud.asia pada Kamis (01/01/2026).

    Alfarisi meninggal dunia sebelum memperoleh putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap dan masih berstatus sebagai terdakwa.

    Baca: Mantan Tapol dan Napol Dukung Serikat Tahanan Politik Indonesia

    Kematian Alfarisi menunjukkan adanya dugaan pelanggaran hak atas kesehatan, hak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan tidak manusiawi, serta hak atas proses hukum yang adil.

    Aliansi yang salah satu anggotanya mantan narapidana politik, Petrus Haryanto ini menilai negara harus bertanggung jawab penuh secara hukum atas keselamatan setiap orang yang berada dalam tahanan.

    Dalam tuntutannya, mereka mendesak pembentukan tim investigasi independen yang diberi akses penuh untuk menyelidiki kematian Alfarisi, termasuk di dalam Rutan Medaeng dan institusi kepolisian.

    Baca: Keluarga Tapol Jakarta Utara Mengadu ke Komnas HAM

    Selain itu, mereka meminta evaluasi menyeluruh terhadap kondisi penahanan di Rutan Medaeng dan rutan lainnya guna memastikan layanan kesehatan yang layak dan perlakuan manusiawi bagi seluruh tahanan tanpa diskriminasi.

    Aliansi juga mendesak pembebasan seluruh tahanan politik yang ditangkap dalam kasus demonstrasi Agustus 2025 di berbagai daerah, termasuk tahanan politik di Papua.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, Alfarisi merupakan demonstran yang ditangkap dalam rangkaian penindakan massa aksi Agustus–September 2025.

    Baca: Kontras Desak Usut Tuntas Tahanan Politik yang Meninggal Dalam Tahanan

    Ia telah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Medaeng, Surabaya sejak September 2025 lalu dan menghembuskan nafasnya pada Selasa (30/12/2025) pagi.

    Korban diketahui berasal dari Sampang, Madura. Alfarisi merupakan anak yatim piatu yang tinggal bersama kakak kandungnya di sebuah kamar kos sederhana di kawasan Jalan Dupak Masigit, Kecamatan Bubutan, Surabaya.

    Untuk memenuhi kebutuhan hidup, keduanya mengelola warung kopi kecil di teras tempat tinggal mereka.

    Pasca penangkapan di rumahnya pada 9 September 2025 lalu, Alfarisi sempat ditahan di Polrestabes Surabaya sebelum dipindahkan ke Rutan Kelas I Medaeng. Perkaranya dijadwalkan memasuki tahap penuntutan pada Senin (05/01/ 2026).

    Baca: Delpedro Marhaen Tulis Surat dari Tahanan, Ini Isinya

    Ia kemudian ditetapkan sebagai terdakwa dengan sangkaan Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP, terkait dugaan kepemilikan atau keterlibatan dengan senjata api, amunisi, atau bahan peledak.

    Selama masa penahanan, Alfarisi dilaporkan mengalami penurunan berat badan drastis hingga diperkirakan hanya mencapai 30–40 kilogram. Berdasarkan keterangan rekan satu sel, sebelum meninggal dunia Alfarisi sempat mengalami kejang-kejang.

    Jenazah Alfarisi telah dipulangkan ke kampung halamannya di Sampang, Madura, untuk dimakamkan di pemakaman umum setempat.

     

     

  • Aksi Kamisan Ke-897 Soroti Nasib Tapol Demonstrasi Agustus 2025 dan Diskriminasi terhadap Guru

    Aksi Kamisan Ke-897 Soroti Nasib Tapol Demonstrasi Agustus 2025 dan Diskriminasi terhadap Guru

    7cloud.asia – Dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat terhadap massa dan mahasiswa dalam aksi bulan Agustus tahun 2025 yang menyebabkan belasan korban jiwa menjadi sorotan Aksi Kamisan ke-897 di Jakarta, pada Kamis (12/2/2026).

    Puluhan mahasiswa dan massa dengan menggunakan pakaian hitam-hitam dan menggunakan payung berwarna sama meramaikan Aksi Kamisan yang dihelat di seberang Istana Merdeka.

    Massa tetap semangat menggelar aksi, meski diguyur gerimis hujan dan dikawal ketat oleh puluhan aparat kepolisian.

    Seperti Aksi Kamisan sebelumnya, massa juga menyerukan yel-yel yang mengajak masyarakat untuk tidak diam, melawan impunitas dan melawan Prabowo sebagai penguasa yang melanggar HAM.

    Spanduk bertuliskan, ”Tuntaskan Seluruh Kasas Pelanggaran Berat HAM” dan “Soeharto Bukan Pahlawan” turut menegaskan tuntutan pengunjukrasa.

    Dalam Aksi Kamisan kali ini turut hadir Salman Alfarisi, Kharis Anhar serta Wibi yang mengadvokasi para tahanan politik yakni mahasiswa dan masyarakat sipil yang ditahan aparat karena demonstrasi Agustus 2025..

    Dalam keterangannya kepada media, Salman yang sempat mendapat siksaaan aparat saat ditahan, menyoroti ketidakadilan yang ia rasakan sebagai guru yang sudah lama bekerja namun bergaji minim.

    Bila dibandingkan dengan karyawan MBG yang dalam waktu singkat langsung diangkat menjadi PPPK bahkan ASN bergaji besar, gajinya jauh lebih kecil. Salman adalah seorang guru dan memiliki ibu yang juga seorang guru yang sudah mengajar 30 tahun lebih.

    Baca: 17 Tahun Aksi Kamisan, 800 aksi dan 500 surat yang masih menunggu jawab

    “Ibu saya baru diangkat PPPK di umur 58 tahun dan ia bukan diangkat sebagai ASN, sekarang ibu saya umurnya 59 tahun. Padahal ibu saya selalu mengajar anak didiknya, tapi apa yang diberikan negara untuk ibu saya? Nggak ada!” jelasnya mris.

    Salman sendiri pernah mengalami mernerima gaji Rp 200 .000/bulan lantas naik
    menjadi Rp 700.000/ bulan, bahkan pernah meneima gaji Rp1,2 juta per dua bulan.

    “Tapi kalau saya tidak mengajar murid saya, siapa lagi? Apakah sepantaran saya mau menjadi guru? Mungkin mau, ketika dia sudah tak mendapatkan pekerjaan yang lain,” ujarnya, seraya menyebutkan pengalamannya itu dirasakan setelah lulus dari pesantren.

    Banyak temannya yang tidak kuat menjalani profesi sebagai guru karena gaji yang tidak memuaskan dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi mereka yang tinggal di kota besar.

    “Namun tiba-tiba ada MBG yang karyawannya diangkat menjadi PPPK, sedangkan guru yang mengajarkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indnesia, nasibnya masih disiksa,” ucapnya geram.

    Oleh karena itu, Salman menegaskan, jika tidak sekarang mengubah kulitas guru bukan tak mungkin akan bepengaruh pada nasib generasi ke depannnya.

    “Karena itu saya tidak akan pernah menyerah! Saya sebagai guru akan terus berusaha mendidik meskipun payment saya kecil dan masa daepan saya sendiri pun tak tau kemana?” ujarnya lirih.

    Sementara itu Wibi menjelaskan seputar nasib tapol lainnya bernama Azriel, lelaki yang baru lulus sekolah, yang masih ditahan di Rutan Salemba.

    Baca: Aksi Kamisan ke-879 tuntut penuntasan Tragedi Semanggi

    “Saat ini Azriel mengalami tulang belakang yang bengkok membentuk angka tujuh dan karena akibat benturan di kepalanya menyebabkan bicaranya tak jelas,” katanya.

    Ada satu momen, tambah Wibi, saat Azriel ke toilet tiba-tiba tumbang dan mulutnya mengeluarkan busa. Wibi menduga Azriel mengalami geger otak akibat benturan benda tumpul.

    “Kita beberapa kali sudah mengajukan penangguhan penahanann, tapi ditolak!” tandasnya.

    Vonis Aziel sendiri selama 7 bulan dan penahanan sudah berjalan selama 5 bulan. Jadi sekarang tinggal 2 bulan lagi, yang seharusnya selama 2 bulan itu bisa dilakukan operasi.
    Pihak rutan juga menolak memberikan penangguhan dan tidak memberi ijin untuk operasi di luar.

    ”Sampai saat ini pun Azriel tinggal di klinik rutan, karena takut terjadi hal-hal yang tdak diinginkan,” jelasnya

    Dijelaskan Wibi, Azriel sebenarnya tak mengikuti aksi saat Agustus tahun lalu. Dia hanya penasaran dan menonton aksi massa yang terjadi.

    Ketika aksi massa pecah di bawah fly over Slipi, Azriel terdorong dan terjatuh, bertepatan dengan Brimob yang melintas mengendarai motor trail.

    “Saat itulah Azriel mengalami penyiksaan. Dia dipukul, dipitting, ditendang dan ditarik motor trail hinga beberapa meter oleh brimob,” jelasnya.