7cloud.asia – Dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat terhadap massa dan mahasiswa dalam aksi bulan Agustus tahun 2025 yang menyebabkan belasan korban jiwa menjadi sorotan Aksi Kamisan ke-897 di Jakarta, pada Kamis (12/2/2026).
Puluhan mahasiswa dan massa dengan menggunakan pakaian hitam-hitam dan menggunakan payung berwarna sama meramaikan Aksi Kamisan yang dihelat di seberang Istana Merdeka.
Massa tetap semangat menggelar aksi, meski diguyur gerimis hujan dan dikawal ketat oleh puluhan aparat kepolisian.
Seperti Aksi Kamisan sebelumnya, massa juga menyerukan yel-yel yang mengajak masyarakat untuk tidak diam, melawan impunitas dan melawan Prabowo sebagai penguasa yang melanggar HAM.
Spanduk bertuliskan, ”Tuntaskan Seluruh Kasas Pelanggaran Berat HAM” dan “Soeharto Bukan Pahlawan” turut menegaskan tuntutan pengunjukrasa.
Dalam Aksi Kamisan kali ini turut hadir Salman Alfarisi, Kharis Anhar serta Wibi yang mengadvokasi para tahanan politik yakni mahasiswa dan masyarakat sipil yang ditahan aparat karena demonstrasi Agustus 2025..
Dalam keterangannya kepada media, Salman yang sempat mendapat siksaaan aparat saat ditahan, menyoroti ketidakadilan yang ia rasakan sebagai guru yang sudah lama bekerja namun bergaji minim.
Bila dibandingkan dengan karyawan MBG yang dalam waktu singkat langsung diangkat menjadi PPPK bahkan ASN bergaji besar, gajinya jauh lebih kecil. Salman adalah seorang guru dan memiliki ibu yang juga seorang guru yang sudah mengajar 30 tahun lebih.
Baca: 17 Tahun Aksi Kamisan, 800 aksi dan 500 surat yang masih menunggu jawab
“Ibu saya baru diangkat PPPK di umur 58 tahun dan ia bukan diangkat sebagai ASN, sekarang ibu saya umurnya 59 tahun. Padahal ibu saya selalu mengajar anak didiknya, tapi apa yang diberikan negara untuk ibu saya? Nggak ada!” jelasnya mris.
Salman sendiri pernah mengalami mernerima gaji Rp 200 .000/bulan lantas naik
menjadi Rp 700.000/ bulan, bahkan pernah meneima gaji Rp1,2 juta per dua bulan.
“Tapi kalau saya tidak mengajar murid saya, siapa lagi? Apakah sepantaran saya mau menjadi guru? Mungkin mau, ketika dia sudah tak mendapatkan pekerjaan yang lain,” ujarnya, seraya menyebutkan pengalamannya itu dirasakan setelah lulus dari pesantren.
Banyak temannya yang tidak kuat menjalani profesi sebagai guru karena gaji yang tidak memuaskan dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi mereka yang tinggal di kota besar.
“Namun tiba-tiba ada MBG yang karyawannya diangkat menjadi PPPK, sedangkan guru yang mengajarkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indnesia, nasibnya masih disiksa,” ucapnya geram.
Oleh karena itu, Salman menegaskan, jika tidak sekarang mengubah kulitas guru bukan tak mungkin akan bepengaruh pada nasib generasi ke depannnya.
“Karena itu saya tidak akan pernah menyerah! Saya sebagai guru akan terus berusaha mendidik meskipun payment saya kecil dan masa daepan saya sendiri pun tak tau kemana?” ujarnya lirih.
Sementara itu Wibi menjelaskan seputar nasib tapol lainnya bernama Azriel, lelaki yang baru lulus sekolah, yang masih ditahan di Rutan Salemba.
Baca: Aksi Kamisan ke-879 tuntut penuntasan Tragedi Semanggi
“Saat ini Azriel mengalami tulang belakang yang bengkok membentuk angka tujuh dan karena akibat benturan di kepalanya menyebabkan bicaranya tak jelas,” katanya.
Ada satu momen, tambah Wibi, saat Azriel ke toilet tiba-tiba tumbang dan mulutnya mengeluarkan busa. Wibi menduga Azriel mengalami geger otak akibat benturan benda tumpul.
“Kita beberapa kali sudah mengajukan penangguhan penahanann, tapi ditolak!” tandasnya.
Vonis Aziel sendiri selama 7 bulan dan penahanan sudah berjalan selama 5 bulan. Jadi sekarang tinggal 2 bulan lagi, yang seharusnya selama 2 bulan itu bisa dilakukan operasi.
Pihak rutan juga menolak memberikan penangguhan dan tidak memberi ijin untuk operasi di luar.
”Sampai saat ini pun Azriel tinggal di klinik rutan, karena takut terjadi hal-hal yang tdak diinginkan,” jelasnya
Dijelaskan Wibi, Azriel sebenarnya tak mengikuti aksi saat Agustus tahun lalu. Dia hanya penasaran dan menonton aksi massa yang terjadi.
Ketika aksi massa pecah di bawah fly over Slipi, Azriel terdorong dan terjatuh, bertepatan dengan Brimob yang melintas mengendarai motor trail.
“Saat itulah Azriel mengalami penyiksaan. Dia dipukul, dipitting, ditendang dan ditarik motor trail hinga beberapa meter oleh brimob,” jelasnya.