Tag: terdampar

  • Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar di Pantai: Bisa Jadi Pertanda Rusaknya Ekosistem

    Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar di Pantai: Bisa Jadi Pertanda Rusaknya Ekosistem

    7cloud.asia – Beberapa pekan lalu, puluhan ikan paus pemandu sirip pendek (short-finned pilot whale) terdampar di pesisir Kecamatan Pureman, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

    Fenomena ini memang bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia, namun hal ini dapat menjadi sebuah pertanda terjadinya gangguan terhadap ekosistem ikan paus pemandu sirip pendek

    Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, Putu Liza Kusuma Mustika menjelaskan terdamparnya puluhan ikan paus pemandu sirip pendek dapat disebabkan oleh faktor alamiah maupun faktor antropogenik.

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, Icha, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ikan paus merupakan mamalia laut yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, seperti penggunaan sonar di bawah laut, pencemaran air, kontaminasi sampah laut, hingga badai matahari yang menyebabkan gangguan elektromagnetik pada kutub-kutub bumi.

    Paus menggunakan sonar untuk sistem navigasinya, sehingga bisa terganggu oleh penggunaan perangkat yang memancarkan gelombang elektromagnetik atau sonar di dalam laut seperti pada kegiatan eksplorasi migas.

    Baca: Kaimana ditetapkan menjadi lokasi konservasi Hiu Paus

    Menurunnya kualitas air juga dapat menurunkan imunitas paus, sedangkan semakin banyaknya sampah laut (terutama plastik) telah menyebabkan lebih banyak paus yang mati karena menelan sampah-sampah tersebut.

    “Fenomena terdamparnya paus, seperti pada paus sperma, dapat juga berkaitan dengan terjadinya badai matahari,” tambah Icha.

    Icha menyebut bahwa faktor alami lain seperti penyakit atau usia tua dapat membuat paus lebih rentan terdampar.

    “Paus yang sakit atau tua sering kali kehilangan kemampuan navigasinya, atau terpisah dari kawanan, yang menyebabkan mereka lebih rentan terdampar di pantai,” tambahnya.

    Menurut Icha, kejadian ini perlu mendapatkan perhatian serius karena paus merupakan spesies yang dilindungi.

    Baca: KLHK dan Pertamina identifikasi individu baru hiu paus

    Untuk itulah jejaring penanganan mamalia laut terdampar di Indonesia yang beranggotakan pegiat lingkungan, pemerintah pusat dan daerah, organisasi non-pemerintah, serta komunitas masyarakat di seluruh pesisir Indonesia terus bekerja sama melakukan tindakan penanganan dengan cara yang tepat.

    Langkah yang dilakukan seperti upaya pengembalian paus ke laut bagi biota yang masih hidup, atau penguburan bagi biota yang sudah mati.

    Upaya penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab spesifik terdamparnya paus juga perlu dilakukan melalui nekropsi (bedah bangkai hewan).

    Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Achmad Sahri menambahkan dari sisi pola distribusi kejadian paus terdampar di Indonesia.

    BRIN juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, untuk melakukan riset terkait ekologi paus dan kejadian terdampar, guna memahami lebih jauh tentang tingkah laku biota ini dan mencegah terulangnya kejadian serupa.

    Riset yang dikerjakannya bersama Icha-Ketua Tim Peneliti dan beberapa peneliti dari Indonesia dan Amerika Serikat menelaah data kejadian terdampar selama 26 tahun dari tahun 1995-2021.

    Hasilnya akan dikupas dalam tulisan selanjutnya.

  • Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar, Ini Rekomendasi BRIN

    Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar, Ini Rekomendasi BRIN

    7cloud.asia – Beberapa pekan lalu, puluhan ikan paus pemandu sirip pendek (short-finned pilot whale) terdampar di pesisir Kecamatan Pureman, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

    Fenomena ini memang bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia, namun hal ini dapat menjadi sebuah pertanda terjadinya gangguan terhadap ekosistem ikan paus pemandu sirip pendek

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Achmad Sahri menyoroti fenomena ini dari sisi pola distribusi kejadian paus terdampar di Indonesia.

    BRIN juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, untuk melakukan riset terkait ekologi paus dan kejadian terdampar.

    Hal ini untuk lebih memahami lebih jauh tentang tingkah laku biota ini sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa.

    Baca: Seringnya ikan paus terdampar bisa jadi pertanda kerusakan ekosistem

    Riset yang dikerjakannya bersama Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, Putu Liza Kusuma dan Ketua Tim Peneliti dan beberapa peneliti dari Indonesia dan Amerika Serikat menelaah data kejadian terdampar selama 26 tahun dari tahun 1995-2021.

    Achmad Sahri mengatakan, selama periode 1995-2021, setidaknya ada 26 spesies paus dan lumba-lumba yang terdampar di perairan Indonesia.

    ”Satu dari enam spesies yang paling sering terdampar adalah paus pemandu sirip pendek yang juga terdampar di perairan Alor NTT beberapa minggu lalu,” imbuh Sahri.

    Dikatakan Sahri, dengan memahami pola sebaran spasial dan temporal dari kejadian mamalia laut terdampar di Indonesia dapat mendukung upaya penyelamatan biota tersebut.

    “Informasi ini sangat penting bagi penanganan kejadian terdampar, terutama berguna untuk pengalokasian personil atau kemungkinan mendatangkan alat berat,” ungkap Sahri.

    Baca: Kaimana ditetapkan menjadi wilayah konservasi hiu paus

    “Identifikasi area rawan tersebut juga dapat meningkatkan kesempatan bagi keberlangsungan hidup biota yang terdampar,” tambahnya.

    Kedua narasumber mengimbau, masyarakat di sekitar pesisir diminta untuk melaporkan kejadian serupa kepada pihak berwenang dan tidak melakukan tindakan yang bisa membahayakan paus.

    Masyarakat juga dihimbau untuk tidak mengganggu/menaiki tubuh paus yang terdampar, karena hewan ini dalam kondisi lemah dan perlu penanganan yang tepat. Segera laporkan kepada pihak berwenang untuk penanganan lebih lanjut.

    Dengan meningkatnya frekuensi kejadian terdamparnya paus di perairan Indonesia, BRIN bekerja sama dengan berbagai pihak akan terus melakukan penelitian terkait fenomena alam ini.

    Hal tersebut sebagai upaya untuk mencari solusi pencegahan yang lebih efektif serta memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut.

  • Seekor Paus Sperma Raksasa Terdampar di Pesisir Pantai Pindu Hurani Tabundung Sumba Timur

    Seekor Paus Sperma Raksasa Terdampar di Pesisir Pantai Pindu Hurani Tabundung Sumba Timur

    7cloud.asia – Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional (BKKPN) Kupang melaporkan bahwa seekor mamalia jenis paus sperma mati terdampar di pesisir pantai Pindu Hurani Tabundung Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Kepala BKKPN Kupang Imam Fauzi dilansir Antaranews.com di Kupang, Rabu (6/11/2024) pagi, mengatakan saat ini tim BKKPN telah berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT untuk mengecek kondisi paus sperma tersebut.

    “Saat ini masih ditangani oleh tim di lapangan. Lokasinya jauh dan susah sinyal sehingga kami juga belum data lengkap,” katanya.

    Berdasarkan informasi yang didapat dari warga sekitar, mamalia paus sperma itu baru terdampar pada Selasa (5/11/2024) malam.

    Imam menambahkan bahwa jika dilihat dari fisik serta kondisi paus yang terdampar itu, belum mengalami pembusukan, dan diperkirakan baru satu hari mati.

    Baca: Puluhan ikan paus pemandu sirip pendek terdampar di pantai

    “Kalo lihat fisiknya belum mengalami pembusukan, hitungannya mungkin sekitar baru satu harian mati,” ujar dia.

    Saat ini ujar dia, kondisi paus sperma masih di lokasi, dan masih menunggu informasi terbaru dari tim yang berangkat ke lokasi. Terkait ukuran panjang dan lebar paus tersebut juga ujar dia, tim masih melakukan pendataan.

    Dia berharap agar masyarakat atau nelayan tidak mengkonsumsi mamalia yang terdampar dan mati tersebut, karena dilindungi oleh undang-undang.

    Dalam sebuah diskusi pada September lalu, ahli Cetacea dari James Cook University, Australia, Putu Liza Kusuma Mustika membagikan saran kepada masyarakat pesisir jika menemukan kejadian paus terdampar di lingkungan sekitarnya.

    “Yang paling penting adalah crowd control, karena banyak anggota masyarakat yang menaiki hewan atau menarik anggota tubuh hewan, dan bukannya membantu proses rescue,” katanya.

    Selanjutnya, Icha, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya kontrol terhadap keramaian, yang salah satu caranya bisa diperoleh dengan menghubungi aparat keamanan setempat, untuk selanjutnya diberikan garis polisi.

    Baca: Kaimana Papua Barat ditetapkan menjadi lokasi konservasi Hiu Paus

    Kemudian, sambungnya, masyarakat yang mengetahuinya bisa menghubungi kepala/perangkat desa setempat, untuk meneruskan informasi terdamparnya paus tersebut ke pemangku kepentingan terkait.

    “Jika massa bisa dikendalikan dan ada community leader yang bisa dikontak, masyarakat bisa membantu dengan membasahi kulit hewan, tetapi tidak di daerah lubang napas,” ujarnya.

    Icha menekankan tindakan memasukkan air ke dalam lubang napas seekor paus, yang kerap dilakukan oleh masyarakat awam sangat berbahaya bagi paus itu sendiri, sebab, paus merupakan mamalia yang bernapas dengan paru-paru.

    Di samping itu, dalam proses evakuasi, lanjutnya, petugas terkait agar tidak menarik sirip paus, sebab sirip terdiri atas tulang-tulang lunak yang fatal bagi paus.

    Masyarakat, kata dia, juga diimbau untuk tidak mengganggu/menaiki tubuh paus yang terdampar, karena hewan ini berada dalam kondisi yang lemah dan perlu penanganan yang tepat.

    Adapun dalam pencegahan kasus paus terdampar, kata Icha, masyarakat yang menemukan paus secara langsung di habitatnya agar berhenti dengan jarak 150 meter dari paus, serta mematikan mesin kapal dan membiarkan paus datang/lewat.

    “Kalau melihat paus atau lumba-lumba, jangan dihadang atau dibuntuti, karena bisa merusak kohesi sosial dan bisa menyebabkan mereka panik. Kalau mereka panik, maka akan membuat mereka stres, sakit, dan lalu kemudian terdampar,” tutur Icha Mustika.