Tag: tionghoa

  • Memiliki Makna Filosofis, Ikan Bandeng Jadi Menu Wajib Saat Imlek

    Memiliki Makna Filosofis, Ikan Bandeng Jadi Menu Wajib Saat Imlek

    7cloud.asia – Berbagai jenis makanan yang disantap saat Imlek atau Tahun Baru Cina. Salah satunya ikan bandeng, menu wajib masyarakat Tionghoa saat merayakan imlek karena dipercaya membawa kemakmuran.

    Dalam bahasa Mandarin bagian pertama dari frasa “ikan bandeng” adalah “lyu” atau “lee-yoo”.

    Pengucapan keduanya mirip dengan pencucapan kata “lee” yang jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “hadiah” dan “yoo” saat diucapkan memiliki arti surplus atau berlimpah.

    Karena itu ikan bandeng dipercaya sebagai sumber rezeki dan keberuntungan.

    Dengan mengonsumsi ikan bandeng saat Imlek dipercaya bisa membawa kemakmuran dan rezeki yang tak putus-putus sepanjang tahun.

    Baca: Alasan Tahun Baru Imlek dirayakan bulan Februari

    Melansir berbagai sumber, sebenarnya tradisi banyak orang membeli bandeng saat Imlek dipengaruhi oleh budaya masyarakat Betawi ratusan tahun yang lalu, sejak 1850-an.

    Orang Betawi sering menyajikan ikan bandeng di acara-acara khusus, teman-teman.

    Saat itu masyarakat Betawi banyak hidup berdampingan dengan etnis Tionghoa, maka budaya mereka pun bercampur.

    Sehingga orang Tionghoa keturunan suku Hokkian dari Tiongkok selatan ini juga ikut membeli bandeng.

    Jadi, masyarakat yang membeli ikan bandeng saat Imlek merupakan tradisi akulturasi budaya atau bercampurnya dua kebudayaan antara etnis Tionghoa dan Betawi.

    Baca: Jelang Imlek, kawasan Petak Sembilan ramai pengunjung

    Menyantap ikan bandeng saat Imlek tak terlepas dari makna filosofis bentuk ikan bandeng.

    Tubuh ikan bandeng yang memiliki banyak duri diartikan sebagai wujud kehidupan manusia yang penuh dengan hambatan dan tantangan.

    Kondisi yang membuat manusia harus hidup dengan lebih hati-hati, tidak putus asa, serta bersabar jika ingin mendapatkan hal yang diinginkan.

    Keberadaan duri sendiri, selain dianggap sebagai simbol rintangan, juga dianggap menggambarkan rezeki yang melimpah di tahun yang baru.

    Baca: Cara menyajikan kue keranjang yang benar

    Karena itu, masyarakat Tionghoa biasanya mencari ikan yang banyak durinya.

    Tradisi ikan bandeng saat Imlek sendiri sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga merupakan tradisi yang populer di China.

    Banyak keluarga China juga menyimpan beberapa potong ikan bandeng di rumah selama perayaan Imlek untuk membawa keberuntungan dan kesejahteraan finansial.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kerap Dikonsumsi Saat Imlek, Ini Dia Segudang Manfaat Ikan Bandeng Bagi Tubuh

    Kerap Dikonsumsi Saat Imlek, Ini Dia Segudang Manfaat Ikan Bandeng Bagi Tubuh

    7cloud.asia – Masyarakat Tionghoa percaya mengonsumsi ikan bandeng saat perayaan Imlek dapat membawa kemakmuran. Selain itu, ikan bandeng juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.

    Ikan bandeng yang kerap disebut bangus atau milkfish adalah jenis ikan laut yang populer di banyak negara di Asia Tenggara.

    Terkenal dengan dagingnya yang lezat dan berlemak, ikan ini menjadi salah satu lauk favorit di Indonesia.

    Ikan bandeng mengandung banyak nutrisi diantaranya kalsium, kalium, protein, zat besi, vitamin A, vitamin B serta asam lemak lemak omega-3. yang bermanfaat bagi tubuh.

    Baca: Makanan tinggi lemak tapi menyehatkan

    Dilansir dari berbagai sumber, banyak manfaat yang diperoleh dengan mengonsumsi ikan bandeng, yaitu:

    1. Menjaga Daya Tahan Tubuh

    Jurnal ilmiah berjudul The Effectiveness of Milkfish (Chanos Chanos) Scales Chitosan on Soft and Hard Tissue Regeneration Intooth Extraction Socket: A Literature Review, menemukan bahwa kitosan pada ikan bandeng dapat bekerja sebagai antiinflamasi.

    Kitosan juga dapat membantu mempercepat penyembuhan luka, bersifat antibakteri, dan meningkatkan angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru).

    Zat ini juga bisa menjaga daya tahan tubuh, dan membuat tubuh lebih tahan terhadap infeksi.

    Baca: Bahaya makan gorengan

    1. Membantu Menjaga Keseimbangan Kadar Kolesterol

    Asam lemak omega-3 yang terkandung dalam ikan bandeng dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dengan menurunkan kadar trigliserida, serta meningkatkan kadar kolesterol yang sehat.

    Hal ini sangat penting untuk mengontrol tekanan darah yang berkaitan langsung dengan kesehatan jantung.

    1. Merawat Tulang dan Gigi

    Ikan bandeng mengandung kalsium dan fosfor yang tinggi sertra bermanfaat menjaga kesehatan tulang dan gigi.

    Rutin mengonsumsi bandeng mampu menurunkan risiko penyakit tulang, seperti rakhitis dan osteoporosis.

    Hasil penelitian yang dimuat dalam Jurnal Akademika Kimia menyebutkan, semakin tua umur ikan bandeng, kadar kalsiumnya semakin tinggi.

    Baca: tumpukan lemak perut picu risiko alzheimer

    1. Bermanfaat untuk Ibu Hamil

    Kandungan nutrisi pada ikan bandeng terutama asam lemak omega-3, protein, dan berbagai vitamin serta mineral sangat berguna bagi ibu hamil.

    Asam lemak omega-3, berperan penting untuk perkembangan otak dan sistem saraf bayi dalam kandungan.

    Sedangkan protein dalam makanan sehat ini dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan sel-sel tubuh bayi yang sedang berkembang dalam rahim.

    1. Merawat Ginjal

    Asam lemak omega-3 yang terkandung dalam ikan bandeng memiliki sifat antiinflamasi. Senyawa ini dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh. Termasuk peradangan yang terkait dengan gangguan ginjal.

    Selain itu, protein berkualitas tinggi dalam ikan bandeng bermanfaat dalam memperbaiki dan memelihara jaringan, termasuk jaringan ginjal.

    1. Mencegah Defisiensi Mikronutrien

    Dari laporan The Food and Nutrition Board Institute of Medicine Filipina, seseorang dapat memperoleh 116 persen vitamin B12, 44 persen niasin, 24 persen vitamin B6, dan 15 persen asam pantotenat saat sekali makan ikan bandeng.

    Vitamin B kompleks sangat penting untuk sejumlah mekanisme vital tubuh. Mulai dari metabolisme, fungsi sistem saraf pusat, kesehatan kulit, sintesis DNA, hormon, dan sel darah merah.

    Baca: Kanker pankreas intai usia muda

    Menariknya lagi, satu porsi 3 ons ikan bandeng mengandung 25 persen fosfor dan selenium yang menjadi kebutuhan nutrisi wajib setiap harinya.

    Tubuh memerlukan fosfor untuk oksigenasi sel darah merah. Sedangkan selenium tubuh perlukan untuk mendukung fungsi tiroid dan sistem kekebalan tubuh.

    1. Menyehatkan Kulit

    Kandungan omega-3 yang terkandung dalam ikan bandeng dapat membantu menjaga tingkat kelembapan kulit dan mengurangi peradangan, serta mendukung penampilan kulit yang lebih sehat.

    1. Mencegah Risiko Anemia

    Kandungan folat dan zat besi di dalamnya berperan dalam pembentukan sel darah merah. Oleh karenanya, rutin mengonsumsi ikan ini dapat mencegah risiko perkembangan anemia, yakni kekurangan sel darah merah.

    1. Membantu Mengatasi Stres

    Makan ikan secara teratur dapat menurunkan risiko depresi. Ikan dan asam lemak omega-3 juga dapat membantu kondisi mental lainnya, seperti gangguan bipolar.

    Baca: Waspada penyakit kulit musim hujan

    1. Menjaga Kesehatan Mata

    Ikan bandeng mengandung vitamin A serta nutrisi lain seperti vitamin B, lutein, dan omega-3 yang juga mendukung kesehatan mata.

    1. Mendukung Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

    Ada berbagai macam nutrisi esensial yang terkandung dalam ikan bandeng.  Seperti protein, omega-3, kalsium, dan vitamin D.

    Nutrisi ini bermanfaat selama masa kehamilan. Selain itu juga sangat penting mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Masjid Tjia Kang Ho, Potret Toleransi dalam Beragama

    Masjid Tjia Kang Ho, Potret Toleransi dalam Beragama

    7cloud.asia – Masjid Tjia Kang Ho demikian masjid di Pasar Rebo, Jakarta Timur ini dinamai. Mungkin Anda agak heran dengan nama masjid yang tidak biasa ini.

    Jika Anda penasaran, simak artikel masjid Tjia Kang Ho yang terletak di Jalan Soleh,Pasar Rebo ini sampai habis.

    Nama Tjia Kang Ho diambil dari nama pemilik lahan di mana masjid ini dibangun. Berbeda dengan lazimnya masjid, masjid Tjia Kang Ho memadukan arsitektur China dan Betawi. 

    Ornamen khas China mendominasi tampilan Masjid Tjia Kang Ho. Pun demikian dengan warna dindingnya yang dicat merah layaknya bangunan China. 

    Baca: Masjid Agung Al Azhar, salah satu masjid tertua di Jakarta

    Tjia Kang Ho adalah seorang kakek asli Tionghoa yang kemudian memeluk agama Islam atau mualaf. Masjid yang menggabungkan nuansa Tionghoa dan Betawi di Jalan H Soleh RT 002/RW 07 Pekayon itu dibangun sebagai penghormatan untuk kakek tersebut.

    “Dulu ini lahan rumah kakek saya. Setelah wafat, orangtua ingin ada tapak tilasnya,” ungkap Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Tjia Kong Hoo, Muhamad Wildan Hakiki, kepada Kompas.com.

    Tjia Kang Hoo adalah seorang keturunan asli Tionghoa yang sudah lama menetap di Pekayon. Ia menjalin hubungan erat dengan warga setempat yang mayoritas orang Betawi, bahkan menikahi perempuan Betawi.

    Wildan tidak menuturkan kapan kakeknya menjadi mualaf. Namun, sejak saat itu, Tjia Kang Hoo mengubah namanya menjadi Abdul Soleh.

    Baca: 100 tahun Stasiun Tanjung Priuk

    Tjia Kang Hoo pun berkesempatan untuk naik haji. Semasa hidupnya, ia aktif dalam lingkup keagamaan dan kegiatan sosial kemasyarakatan. 

    Tjia Kang Hoo cukup berkontribusi perihal keagamaan maupun kemasyarakatan di sana, sehingga kehidupannya membekas di kalangan warga setempat meski telah wafat.

    Bahkan, Tjia Kang Hoo yang sempat menjabat sebagai Ketua RW setempat juga dituakan oleh warga setempat.

    “Kalau dari cerita yang saya dengar, kakek juga bikin jalanan depan masjid ini, makanya nama jalannya pakai nama beliau, Jalan Haji Abdul Soleh,” ungkap Wildan.

    Baca: Mengenal budaya Betawi pesisir di Museum Si Pitung

    “Pembangunan masjid juga untuk menjadi amal jariah nanti di akhirat bagi kakek saya. Jadi, keluarga besar rembukan dan rumah diubah total menjadi masjid daripada dibiarin jadi rumah tua,” imbuh dia.

    Saat ini, masyarakat sudah bisa berkunjung ke masjid yang bisa menampung hingga 300 jemaah itu, baik untuk shalat lima waktu atau tarawih. 

    Kendati demikian, anak kecil diimbau untuk tidak dibawa masuk demi keamanan dan keselamatan bersama. Sebab, pembangunan masjid masih belum rampung sejak peletakan batu pertama pada 8 Oktober 2022. 

  • Buku ”Mengembalikan Tionghoa ke Dalam Historiografi Indonesia” Bawa Diskusi Baru dalam Sejarah Indonesia

    Buku ”Mengembalikan Tionghoa ke Dalam Historiografi Indonesia” Bawa Diskusi Baru dalam Sejarah Indonesia

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Politik merilis buku karya Asvi Warman Adam, ”Mengembalikan Tionghoa ke Dalam Historiografi Indonesia”.

    Buku ini menyajikan eksistensi Tionghoa dalam konteks sejarah sosial politik di Indonesia, khususnya pada masa reformasi.

    Bedah buku berlangsung pada Kamis (7/11/2024) di Gedung Widya Graha Kantor BRIN Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jalan Gatot Subroto, Jakarta dengan menghadirkan Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami sebagai pembicara.

    “Menurut Prof. Asvi selaku penulis buku, peran Tionghoa tidak hanya perlu dimasukkan dalam sejarah nasional Indonesia, tapi juga mengangkat orang Tionghoa dalam jajaran Pahlawan Nasional Indonesia,” urai Athiqah.

    Dia berharap, Kehadiran buku ini membawa angin segar bagi diskusi mengenai perlunya pemahaman dan pentingnya rekognisi atas eksistensi dan kontribusi Tionghoa dalam proses pembangunan bangsa di Indonesia.

    Buku ini juga diharapkan akan menjadi rujukan dan referensi bagi penstudi atau pengamat sejarah nasional Indonesia.

    “Masyarakat umum yang ingin mengetahui peran kelompok minoritas dalam pembentukan identitas dan nasionalisme sebuah bangsa juga bisa menjadikan buku ini sebagai rujukan,“ ujarnya.

    Peluncuran buku ini sekaligus menandai momentum usia 70 tahun Asvi Warman Adam, sejarawan sekaligus peneliti bidang sejarah sosial politik Indonesia yang telah banyak menorehkan kiprah dan menghasilkan karya akademik di bidangnya.

    Tahun ini juga menandai purna tugasnya dari BRIN, setelah hampir 40 tahun mengabdi dan mengikuti metamorfosis lembaga riset nasional, mulai dari Lembaga Riset Kebudayaan Nasional (LRKN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hingga kini bernama BRIN.

    Dilansir brin.go.id, dalam diskusi buku, ada tiga hal penting diungkapkan Asvi melalui karyanya selama lebih dari empat dekade menjadi sejarawan dan peneliti.

    Pertama, tentang historiografi 1965. Sejak rezim Orde Baru runtuh seperempat abad silam, historiografi Indonesia bergejolak dan bergemuruh.

    Ramai-ramai para sejarawan, guru sejarah, intelektual, dan aktivis melontarkan kritik terhadap Sejarah Modern Indonesia, terutama seputar peristiwa kejatuhan Bung Karno, penumpasan komunis, dan kenaikan Soeharto sebagai penguasa.

    Asvi masuk ke dalam gelombang baru sejarah tersebut, dengan melontarkan wacana baru bernama pelurusan sejarah, terutama terkait peristiwa 1965.

    Karya monumental Asvi adalah naskah orasi ilmiah pengukuhannya sebagai profesor riset LIPI tahun 2018. Naskah tersebut berjudul “Dampak G30S: Setengah Abad Histografi Gerakan 30 September 1965”.

    Kedua, fokus Asvi pada historiografi 1965 menyimpulkan ada korban lain dari tragedi tersebut, yaitu etnik Tionghoa Indonesia. Tidak hanya dicap sebagai komunis, mereka juga mendapatkan perlakuan yang tidak adil, diawasi, dikucilkan, dan mendapatkan teror berkelanjutan.

    Mereka menjadi korban dari kebijakan ganti nama dan pembatasan ekspresi kultural di ruang publik. Selain itu, etnik Tionghoa juga absen secara historis dan kultural dalam sejarah Indonesia.

    Untuk itu, Asvi secara aktif berupaya mengintegrasikan Tionghoa dalam sejarah Indonesia. Ia memulai dengan gagasan pentingnya unsur etnik Tionghoa sebagai pahlawan nasional dan juga materi pengajaran sejarah di sekolah.

    Sejak 2002, Asvi menulis berulang-ulang di beberapa surat kabar nasional tentang usulan John Lie sebagai pahlawan nasional, hingga akhirnya John Lie diberi gelar sebagai pahlawan nasional pada 2008.

    Ketiga, sebagai sejarawan Indonesia yang berusaha mengoreksi rekayasa sejarah versi Orde Baru, peran Asvi dalam panggung sejarah kontemporer Indonesia juga dituangkan dalam bentuk karya lain.

    Hampir semua buku sejarah politik seputar 1960-an pasti mendapatkan resensi, komentar, dan kata pengantar darinya.

    Tidak jarang, peneliti sejarah, mahasiswa sejarah, dan jurnalis sejarah meminta saran, rekomendasi, dan referensi dari seorang Asvi.