Tag: tradisi

  • Ngarak Perahu Maulid Meriahkan Maulid Nabi di Tangerang

    Ngarak Perahu Maulid Meriahkan Maulid Nabi di Tangerang

    7cloud.asia – Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan acara Ngarak Perahu Maulid yang merupakan tradisi budaya sejak 1939 di Masjid Al-Ittihad.

    Acara ini digelar dalam rangkaian Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) dapat terus dilestarikan sebagai khazanah budaya.

    “Ini merupakan wujud upaya kita dalam melestarikan khazanah budaya, sekaligus nilai-nilai kebudayaan islam di Kota Tangerang. Apalagi ini bekerja sama dengan Masjid Agung Al-Ittihad, masjid bersejarah yang juga ikon di Kota Tangerang,” kata Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah saat membuka acara Ngarak Perahu Maulid di Masjid Al-Ittihad Tangerang, Kamis (28/09/2023).

    Selain Ngarak Perahu Maulid, acara Maulidan Al-Ittihad juga dihadiri olah para habaib, ulama dan umaro Kota Tangerang.

    Lalu dilakukan pembacaan ratibul athos dan rawi simthud duror bersama Habib Alwi bin Thohir Alhusainy serta makan bareng 1445 porsi nasi kebuli serta pemberian santunan kepada anak-anak yatim.

    “Semoga momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, selain dapat meningkatkan ibadah dan ketaatan kita terhadap ajaran-ajaran nabi, juga dapat meningkatkan solidaritas dan kepedulian untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan,” kata Wakil Wali Kota Tangerang Sachrudin.

    Ketua Panitia Maulidan Masjid Al-Ittihad, Imam Bukhori, mengatakan ada tiga perahu yang diisi dengan berbagai hasil bumi. Dua perahu akan diarak berkeliling dan satu perahu paling besar tetap berada di halaman Masjid Al-Ittihad.

    “Dari perahu yang paling besar, itu ada hasil bumi di Kota Tangerang seperti sayur-sayuran, buah-buahan, tadi juga dilihat ada ikan karena Kota Tangerang ada Sungai Cisadane sebagai salah satu sumber mendapatkan ikan. Mudah-mudahan ini semua dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kota Tangerang yang ikut hadir ngarak perahu,” ucapnya.

    Ia tidak menyangka antusiasme masyarakat sangat tinggi dalam mengikuti serangkaian acara yang ada di Masjid Al-Ittihad. Selain itu terdapat juga gunungan-gunungan makanan dan juga buah-buahan yang dibawa oleh peserta.

    “Alhamdulillah, ribuan masyarakat Kota Tangerang dapat hadir hari ini dan saya tidak menyangka bahwa akan sebanyak ini. Pengamanan juga sudah disiapkan oleh pihak Kepolisian, Satpol PP Kota Tangerang dan lainnya,” kata Imam Bukhori.

    Ke depannya, kata dia, kegiatan ini akan rutin dilaksanakan setiap tahunnya, sehingga tradisi dapat terus berjalan dan dapat menjadi salah satu destinasi pariwisata di Kota Tangerang.

    “Kami selaku panitia dan juga pengurus DKM Masjid Al-Ittihad akan mengupayakan untuk kegiatan maulidan di Masjid Al-Ittihad dapat rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Mudah-mudahan dapat menjadi salah satu objek wisata religi di Kota Tangerang,” katanya.

    Sumber: Antaranews

  • Tradisi Perang Ketupat, Wujud Rasa Syukur Warga Bali atas Kesuburan Tanah

    Tradisi Perang Ketupat, Wujud Rasa Syukur Warga Bali atas Kesuburan Tanah

    7cloud.asia – Ribuan warga meramaikan  Tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon atau Tradisi Perang Ketupat di Desa Kapal, Badung, Bali, Jumat (29/9/2023).

    Tradisi perang ketupat di desa Kapal, Badung Bali ini sudah dimulai sejak tahun 1939 dan telah ditetapkan UNESCO  sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2019.

    Tradisi perang ketupat di Bali ini digelar setiap setahun sekali tepatnya pada hari suci purnama kapat untuk memohon kesejahteraan serta wujud syukur atas kesuburan pada lahan pertanian. 

    Dilansir punapiBali.com, prosesi Perang Ketupat diawali dengan upacara persembahyangan oleh warga secara bersamaan di pura setempat.

    Baca: Mengenal tradisi Seba dari masyarakat Badui

    Pada saat berlangsungnya upacara Perang Ketupat, pemangku adat mengikuti sambil membaca mantra-mantra dan memercikkan air suci ke seluruh warga setempat.

    Kemudian ia akan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar perang tersebut bisa sukses dan memberikan kesejahteraan serta keselamatan bagi warga desa.

    Setelah melakukan persembahyangan di pura setempat, peserta akan menyiapkan amunisi. Di sinilah sisi unik dari Perang Ketupat.

    Sebagaimana namanya, Perang Ketupat ini memiliki amunisi berupa ketupat yang dihasilkan dari sumbangan warga desa Kapal. Ketupat tersebut jumlahnya ribuan dan selanjutnya digunakan untuk memukul atau mengenai lawan.

    Baca: Tradisi mudik ternyata sudah ada sejak jaman Majapahit

    Peserta tradisi Perang Ketupat dibagi menjadi dua kelompok yang satu sama lain saling berhadapan.

    Perang pun dimulai dengan diberi aba-aba terlebih dahulu. Tradisi tersebut menjadi sangat menarik karena sorak-sorai dari warga setempat yang berpartisipasi dalam acara tersebut. 

     

    Tradisi perang ketupat ini menarik wisatawan yang datang, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

    Sebagaimana layaknya sebuah perang, warga akan saling berhadap-hadapan dan melempar ketupat ke arah lawan. Pesertanya adalah warga masyarakat di desa tersebut.

    Baca: UNESCO tetapkan sumbu filosofi Yogya menjaid warisan dunia

    Perang Ketupat merupakan sebuah acara adat, dimana semua peserta melakukan perang dengan saling melempar ketupat.

    Di Indonesia sendiri, tradisi perang ketupat juga ditemukan di Bangka Belitung dan Bali. Untuk Perang Ketupat di Bali disebut dengan Aci Rah Pengangon.

    Perang Ketupat di desa Kapal merupakan tradisi leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini. Perayaannya dilakukan satu tahun sekali.

    Tradisi Perang Ketupat sudah ada sejak tahun 1930an-an. Pada awal kemunculannya, tradisi tersebut melibatkan dua orang laki-laki yang bertelanjang dada. Masing-masing dari mereka bersenjatakan ketupat serta kue bantal.

    Baca: Tradisi ngarak Maulid di Tangerang

    Begitu Perang Ketupat dinyatakan mulai, kedua peserta akan saling menyerang dengan melemparkan ketupat ataupun kue bantal.

    Tidak ada aturan khusus dalam perang ketupat, setiap pemain bebas melempar ke arah manapun di kubu lawan.

    Warga Desa Kapal, Badung, Bali percaya bahwa dengan digelarnya Perang Ketupat, mereka akan memperoleh kesejahteraan.

    Bahkan, menurut ungkapan sesepuh di desa tersebut, perang ketupat dianggap sebagai simbol dari kemakmuran warga.

    Baca: Makna sebar apem ya qowiyyu di Klaten

    Perang Ketupat ini juga merupakan salah satu ritual yang diyakini sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas semua berkah yang selama ini telah diberikan.

    Kegiatan melempar ketupat ke arah lawan tersebut merupakan bentuk ekspresi, yang maksudnya adalah nasi dan ketupat tersebut dipersembahkan kepada alam semesta.

    Setelah selesai prosesi, ketupat-ketupat tersebut akan dinikmati oleh semua masyarakat.

     

  • Mengenal Tradisi Manugal Banih Patawungan di Kalangan Masyarakat Dayak

    Mengenal Tradisi Manugal Banih Patawungan di Kalangan Masyarakat Dayak

    7cloud.asia – Pemerintah Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan melestarikan Manugal Banih Patawungan yang menjadi tradisi masyarakat Dayak Meratus Kecamatan Piani.

    Tradisi Manugal Banih Patawungan atau tanam bersama ini dinilai memiliki potensi untuk menarik wisatawan.

    “Manugal Banih Patawungan ini harus terus dilestarikan, ini masuk kategori wisata budaya,” ujar Penjabat Bupati Tapin Syarifuddin di Desa Harakit, Kabupaten Tapin, Sabtu.

    Baca: UNESCO tetapkan jamu menjadi warisan budaya dunia

    Syarifuddin menilai warisan budaya masyarakat Dayak ini sangat menjual dan bisa menjadi salah satu magnet untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kecamatan Piani Kabupaten Tapin.

    “Di mana ini sudah turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Meratus di Tapin,” tutur Syarifuddin.

    Tokoh Dayak Meratus Tapin Pangbalum atau Rusdiansyah mengatakan, Manugal Banih Patawungan memiliki arti menanam benih padi dan tanaman lain di satu lahan dengan cara gotong royong.

    Baca: Mengenal ritual thudong di Borobudur

    Tradisi Manugal Banih Patawungan ini biasanya dilakukan saat musim tanam, atau saat memasuki musim penghujan.

    “Hasil panen nanti akan digunakan untuk pelaksanaan Aruh Ganal (ritual syukur panen besar),” ungkapnya.

    Pangbalum mengungkapkan ritual Manugal Banih Patawungan untuk menolak bala hingga menyampaikan doa kepada Tuhan Sang Pencipta agar melimpahkan hasil panen dan berkah untuk masyarakat.

    Baca: Sejak kapan Natal dirayakan

    Keunikan acara Manugal Banih Patawungan, yakni adanya iringan musik khas setempat “kurung-kurung”.

    Alat musik ini terbuat dari bambu khusus dengan panjang lebih lima meter yang dibentuk sedemikian rupa.

    Di Kecamatan Piani, terdapat delapan desa dihuni masyarakat adat yang kompak berpartisipasi untuk meramaikan atau menanam benih di lahan tersebut.

    Baca: Bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi di UNESCO

    Dilihat secara seksama, peran kelompok laki-laki membuat lubang menggunakan tugal atau tongkat kayu, sedangkan kaum perempuan menyemai benih ke dalam lubang saat proses menanam.

    Pada lahan seluas satu hektar lebih itu, aktivitas bercocok tanam dilakukan dengan waktu yang singkat karena melibatkan puluhan anggota masyarakat.

    Sumber: Antaranews

     

  • Tradisi Idul Fitri atau Lebaran yang Hanya Ditemukan di Indonesia

    Tradisi Idul Fitri atau Lebaran yang Hanya Ditemukan di Indonesia

    7cloud.asia – Setiap daerah tentu memiliki tradisi khas untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, begitu pula dengan umat muslim di Indonesia.

    Anda pasti sudah sangat familiar dengan mudik, takbiran, beli baju baru, dan lain sebagainya, bukan? Itu hanya sebagian kecil tradisi yang biasa dilakukan umat muslim di Indonesia.

    Ada beragam tradisi khas dengan cerita unik di balik tradisi lebaran tersebut. 

    Melakukan beragam tradisi tersebut kadang dibutuhkan persiapan yang matang sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak pekan pertama bulan Ramadhan.

    Termasuk saat membeli kebutuhan menjelang Idul Fitri, seperti beli baju baru, kebutuhan makanan pokok, THR, dan lain sebagainya.

    Baca: Idul Fitri 1445 Hijriah dirayakan bersamaan

    Berikut adalah beberapa tradisi Idul Fitri atau Lebaran di Indonesia yang masih dilakukan hingga saat ini:

    Mudik
    Pulang kampung atau mudik menjadi tradisi lebaran orang Indonesia yang cukup fenomenal. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari atau bahkan minggu sebelum Idul Fitri tiba.

    Tradisi ini jadi momen untuk saling bersilaturahmi antara keluarga yang sudah merantau ke berbagai daerah.

    Ketupat
    Perayaan Hari Raya Idul Fitri rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran ketupat dan lauk pauk lainnya. Ketupat menjadi salah satu makanan khas orang Indonesia saat lebaran tiba.

    Biasanya ketupat disajikan dengan opor, rendang, gulai, sambal goreng kentang, dan masakan khas lainnya.

    Baca: Mengapa Idul Fitri juga disebut Lebaran, dan apa maknanya

    Malam takbiran
    Tradisi lebaran selanjutnya yang identik dengan umat muslim di Indonesia yaitu malam takbiran, dalam segala bentuk rupanya.

    Biasanya takbiran dilakukan pada malam hari menjelang Idul Fitri, di mana orang-orang akan berkeliling mengumandangkan takbir sambil menabuh bedug dengan meriah.

    Namun, umumnya pawai takbiran ini pun berbeda-beda di setiap daerah, tergantung tradisi yang sudah turun temurun di daerah tersebut.

    Ziarah ke makam
    Tradisi selanjutnya yaitu ziarah atau ‘nyekar’ ke makam keluarga dan leluhur. Biasanya tradisi ini dilakukan sehari sebelum Idul Fitri atau setelah shalat Eid.

    Tak jarang pula orang yang membawa bunga-bunga atau kemenyan saat berziarah ke makam di hari Lebaran.

    Baca: ide hampers ramah lingkungan

    Parcel atau hampers lebaran
    Parcel atau hampers juga jadi salah satu tradisi Idul Fitri yang cukup populer di Indonesia. Biasanya orang-orang akan saling mengirimkan parcel atau hampers, baik untuk keluarga, sahabat, atau rekan kerja yang merayakan Idul Fitri.

    Saat ini banyak parcel lebaran cukup variatif dan kreatif sehingga lebih mudah bagi Anda untuk memilih parcel yang cocok.

    THR
    Tradisi lebaran lainnya yang identik di Indonesia yaitu pembagian fitrah atau tunjangan hari raya (THR).

    Biasanya tradisi ini dilakukan oleh anggota keluarga yang telah dewasa dan berpenghasilan, nantinya mereka akan membagikan amplop berisi sejumlah uang kepada saudara yang masih kecil. Tak heran jika THR menjadi tradisi yang ditunggu oleh anak-anak saat Idul Fitri tiba.

    Halal bi halal
    Idul Fitri di Indonesia juga sangat identik dengan silaturahmi dari satu rumah ke rumah lainnya. Biasanya kegiatan silaturahmi atau halal bi halal dilakukan di hari pertama dan kedua Idul Fitri.

    Ini merupakan momen untuk mengunjungi keluarga, sahabat, atau tetangga untuk saling memaafkan dan merayakan hari raya.

    Itulah beberapa tradisi lebaran yang identik dilakukan oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia. Ada beberapa di antaranya yang wajib dilakukan, namun ada juga yang bisa disesuaikan dengan kemampuan. 

  • Mengenal Tradisi Naik Dango di Kalangan Masyarakat Adat Dayak Kanayatn

    Mengenal Tradisi Naik Dango di Kalangan Masyarakat Adat Dayak Kanayatn

    7cloud.asia – Masyarakat adat Dayak di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat memiliki kearifan lokal bernama tradisi Naik Dango

    Tradisi Naik Dango ini dilaksanakan dengan ritual menyimpan padi di dango sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil alam yang melimpah.

    Hingga kini, tradisi Naik Dango terus dirawat dan bahkan menjadi atraksi wisata yang menarik pengunjung.

    “Naik Dango merupakan sebuah prosesi menyimpan seikat padi yang baru selesai dipanen di dalam dango atau lumbung padi,” ujar Ketua Panitia Naik Dango Kecamatan Sungai Ambawang, Petrus Muntai, di Sungai Ambawang, Sabtu (20/4/2024) seperti dikutip Antaranews.com 

    Ditambahkan Petrus jika tradisi Naik Dango merupakan wujud rasa syukur atas hasil panen padi dan berharap kelimpahan hasil panen di tahun berikutnya.

    Naik Dango menjadi satu di antara tradisi, adat istiadat dan kebudayaan yang ada di Dayak Kanayatn, sehingga harus dilestarikan dan dipertahankan dari generasi ke generasi.

    Baca Juga: Mengenal Tradisi Manugal Banih Patawungan di Kalangan Masyarakat Dayak

    Dilansir laman resmi kemendikbud.go.id, tradisi Naik Dango dilaksanakan setahun sekali setiap bulan April yang bertempat di rumah betang, rumah adat khas Suku Dayak.

    Upacara adat Naik Dango yang juga dikenal dengan Gawai Dayak merupakan bentuk kearifan lokal suku Dayak Kanayatn yang merupakan perkembangan dari pertunjukan kesenian.

    Naik Dango masih dilaksanakan masyarakat di beberapa wilayah di Kalimantan Barat, seperti Kabupaten Mempawah, Kabupaten Landak, Kabupaten Kubu Raya, Pontianak, hingga Kabupaten Sanggau.

    Upacara adat Naik Dango berasal mitos di kalangan orang Dayak Kanayatn mengenai asal mula tanaman padi yang berasal dari setangkai padi milik Jubata di gunung bawang.

    Suatu hari, setangkai padi milik Jubata dicuri seekor burung pipit dan jatuh ke tangan Ne Jaek yang saat itu sedang mengayau.

    Sejak saat itu, manusia yang dalam bahasa Dayak disebut Talino mulai mengenal padi sebagai makanan pokok mereka.

    Baca Juga: Tradisi Perang Ketupat, Wujud Rasa Syukur Warga Bali atas Kesuburan Tanah

    Tujuan Upacara Adat Naik Dango Upacara adat Naik Dango memiliki tujuan untuk menghaturkan rasa syukur terhadap Nek Jubata atau Sang Pencipta atas berkah berupa hasil panen padi. Selain itu, Naik Dango juga memiliki maksud agar hasil panen di tahun berikutnya bisa berlimpah. 

    Sesuai tradisi nenek moyang Dayak Kanayatn, Naik Dango akan diawali dengan pertemuan masyarakat setelah panen untuk merencanakan ritual.

    Setelah waktu ritual diputuskan, setiap keluarga akan melaksanakan kegiatan batutu’, dengan memasak semacam makanan beras ketan yang dimasak di dalam bambu berukuran besar dan tumpi (semacam roti cucur).

    Tidak lupa setiap keluarga juga akan menyediakan seekor ayam yang masih hidup. Bahan-bahan tersebut kemudian dibawa ke dalam lumbung padi (dango) oleh setiap kepala keluarga masyarakat dayak yang bertani atau berladang.

    Di dalam dango, dilakukan upacara nyangahatn atau disebut juga barema, di mana doa-doa dari pamane atau tetua adat teruntai kepada sang pencipta atau Nek Jubata.

    Baca Juga: Menggali Makna Tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu di Jatinom Klaten Jawa Tengah

    Pada hari pelaksanaan Naik Dango, akan dilakukan ritual nyangahatn sebanyak 3 kali ditempat yang berbeda.

    Pertama, nyangahatn diadakan di sami atau pelataran utama yang ada di radank dengan tujuan untuk memanggil jiwa atau semangat padi yang belum datang agar menuju ke rumah adat.

    Kedua, nyangahatn dilakukan di baluh atau langko (lumbung padi) untuk mengumpulkan semangat padi yang tadinya telah dipanggil agar di lumbung padi atau dango.

    Ketiga, nyangahatn dilakukan di pandarengan atau sejenis tempat penyimpanan beras besar untuk memberkati padi yang telah dipanen agar dapat bertahan dalam waktu yang lama serta tidak cepat habis.

    Selanjutnya, padi yang disimpan di dalam dango nantinya akan dijadikan bibit untuk ditanam bersama-sama dan sisanya menjadi cadangan pangan untuk masa-masa paceklik. 

    Puncak tradisi Naik Dango adalah saat dilakukannya nyangahatn. Dalam proses nyangahatn terdapat prosesi tingkakok nimang padi, yang menjadi simbol proses turunnya padi dari Jubata kepada manusia.

    Baca Juga: Tradisi Idul Fitri atau Lebaran yang Hanya Ditemukan di Indonesia

    Dalam tingkakok nimang padi, padi dari hasil panen setiap tahun akan dibawa ke lumbung padi dengan iringan tari-tarian. Prosesi ini menunjukkan ungkapan terima kasih dan rasa syukur yang mendalam atas berkat panen yang diberikan.

    Setelah para tetua adat melakukan ritual nyangahatn, masyarakat adat dari berbagai sub Suku Dayak Kanayatn dari berbagai kampung atau pangayokng akan menyerahkan hasil panen dengan ragam atraksi yang dihantar oleh para pemuda dan tokoh adat setempat.

    Ketua DAD Kecamatan Sungai Ambawang, Daniel Saputra, menambahkan jika pihaknya selalu berupaya berkoordinasi dengan para pengurus adat di setiap desa dan kepesirahan, untuk memberikan kontribusi pada kegiatan adat Naik Dango di Kecamatan Sungai Ambawang ini.

    “Kami selalu berusaha berkoordinasi bersama para pengurus adat di desa-desa di tiap kepesirahan dan berusaha berkontribusi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat adat istiadat, budaya dalam perkembangannya,” ujar Daniel.

    Pihaknya juga terus besinergi bersama pihak terkait guna menjaga ketenteraman dan berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat adat dengan berkoordinasi untuk keperluan pengurus adat seperti Naik Dango Sungai Ambawang.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

  • Tradisi ‘Katto Bokko’: Wujud Syukur Masyarakat Maros Atas Kelimpahan Hasil Panennya

    Tradisi ‘Katto Bokko’: Wujud Syukur Masyarakat Maros Atas Kelimpahan Hasil Panennya

    7cloud.asia – Di tengah gempuran pertanian modern, warga Marusu di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan tetap setia mempertahankan tradisi Katto Bokko saat panen raya Kekaraengan (Kerajaan adat).

    Pelaksanaan tradisi Katto Bokko ini dilaksanakan sekali dalam setahun umumnya digelar pada pekan terakhir bulan Maret atau April.

    Prosesi upacara adat atau tradisi Katto Bokko sebagai pertanda panen perdana dari pihak Kekaraengan Marusu dan diikuti masyarakat Marusu, Maros ini sarat nilai filosofi dalam menjaga keseimbangan alam.

    Mulai dari benih padi jenis ‘banda’ dengan ciri khas bulirnya berbulu adalah tanaman padi yang dikenal tahan hama dibandingkan jenis padi lainnya.

    Tradisi Katto Bokko biasa dilakukan saat menjelang panen, selepas salat subuh warga dan keturunan Kekaraengan Marusu di Kampung Kassi Kebo, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros

    Mereka berkumpul di rumah adat yang dikenal dengan nama Balla Lompoa. Sebelumnya, pemuka adat dan pemerintah setempat berkumpul di rumah adat untuk persiapan upacara adat yang digelar sekali setahun setiap musim panen awal tahun.

    Baca: Tradisi Naik Dango di kalangan masyarakat adat Dayak Kanayatn

    Suara gendang dan gong menyeruak di pagi buta, pertanda persiapan menuju sawah adat segera dilakukan.

    Para pemuda dan pemudi dengan mengenakan pakaian adat berbaris di gerbang Balla Lompoa, diikuti oleh para tokoh adat yang dipimpin oleh Pemangku Adat Kerajaan Marusu, Abdul Waris Karaeng Sioja.

    Suara gendang dan gong yang menghentak memicu langkah barisan pelaku adat semakin cepat menuju sawah adat seraya melintasi rumah warga.

    Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar satu kilometer dari rumah adat, dan sinar keemasan di ufuk timur menyambut kehadiran mereka di tengah sawah.

    Setelah pemangku adat berdoa sebagai awal penanda panen, Keluarga Kerajaan Marusu dan warga setempat berbaur memotong padi dengan menggunakan alat tradisional “anai-anai”.

    Kendati membutuhkan waktu yang cukup lama dibanding menggunakan sabit ataupun sistem mekanisasi saat ini dengan mobil pemotong padi, pihak keluarga kerajaan dan warga setempat tetap semangat dan bergotong-royong menyelesaikan sepetak sawah yang dipanen.

    Baca: Tradisi Manugal Banih Patawungan di kalangan masyarakat Dayak

    Jenis padi yang dipanen pun berbeda dengan padi pada umumnya yang ditanam warga. Padi tersebut adalah jenis “Banda” yang bibitnya sudah turun-temurun dari Kerajaan Marusu.

    Sekitar pukul 10.00 WITA saat matahari sudah mulai terik, padi-padi yang dipanen itu kemudian diikat dalam dua kelompok besar dan selebihnya dalam kelompok ikatan kecil.

    Selanjutnya dua kelompok besar padi yang baru saja dipanen tersebut dihiasi dengan bunga yang ada di sekitar rumah warga.

    Setelah itu padi tersebut diusung beramai-ramai ke rumah adat. Sebelum padi tersebut disimpan di loteng atau lumbung rumah adat, terlebih dahulu dilakukan upacara penyambutan dengan “A’ngaru” dengan syair atau seloka yang sarat petuah.

    Hasil panen Katto Bokko ini setelah melalui prosesi adat, belum boleh dikonsumsi, tetapi akan disimpan di lumbung padi di atas loteng rumah adat Balla lompoa.

    Barulah padi tersebut diturunkan dari loteng jika sudah ada penggantinya pada musim panen berikutnya yang sekali setahun prosesi adatnya.

    Baca: Tradisi Perang Ketupat, wujud rasa syukur warga Bali atas kesuburan tanah

    Hasil panen sawah adat ini, selain untuk menghidupi keluarga kerajaan, juga diberikan pada masyarakat yang kurang mampu di sekitar Balla Lompoa sebagai wujud solidaritas sosial.

    Tanaman padi di sawah adat ini pun hanya menggunakan pupuk organik dan proses bajak sawahnya tetap tradisional.

    Perlakuan pada sistem pertanian sawah adat yang masih menggunakan alat tradisional termasuk menggunakan bajak yang ditarik dengan dua ekor sapi adalah bentuk menjaga kearifan lokal yang ramah lingkungan.

    Menurut Karaeng Sioja yang merupakan anak dari Karaeng (Raja) Marusu ke-18 Tajuddin Karaeng Masiga ini, tradisi ‘Katto Bokko” adalah wujud kesyukuran setelah panen dan ajang silaturahmi keluarga kerajaan dan warga.

    Dia mengatakan, upacara ini juga merupakan wujud kebersamaan tanpa ada sekat antara pihak bangsawan dan masyarakat.

    Panen raya dengan tradisi “Katto Bokko” ini, sekaligus menjadi ajang halal bihalal ketika bertepatan setelah hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha.

    Baca: Uniknya tradisi Seba di kalangan masyarakat Badui

    Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Maros Ferdiansyah merupakan potensi wisata yang menarik untuk dikunjungi dan menjadi kalender tetap pariwisata Maros.

    Sementara itu, Bupati Maros HAS Chaidir Syam mengatakan, pihak Kerajaan Marusu, masyarakat dan Pemkab Maros dapat saling mendukung untuk pelestarian tradisi panen raya yang sarat dengan kearifan lokal.

    Prinsip demokrasi masih dijunjung tinggi, karena selain melibatkan pemangku adat, juga pemerintah daerah setempat baik dalam penentuan hari pelaksanaan Katto Bokko maupun pada acara adat turun sawah atau yang dikenal dengan istilah “Appalili”.

    Dari sisi lingkungan, tradisi Katto Bokko menekankan keseimbangan alam misalnya dari pemilihan benih yang tahan hama dan banyak bulirnya seperti padi jenis “Banda” dengan bulir padi yang memiliki bulu-bulu di sisinya.

    Karena itu, lanjut dia, wajarlah jika “Katto Bokko” tidak lekang oleh zaman, karena masih bisa beradaptasi tanpa meninggalkan ciri khasnya.

    Apalagi tradisi ini juga mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang patut dilestarikan, sehingga generasi berikutnya masih bisa langsung merasakan dan menyaksikannya.

  • Membaca Ulang Tradisi Sasi: Antara Sejarah, Realita, dan Harapan untuk Konservasi

    Membaca Ulang Tradisi Sasi: Antara Sejarah, Realita, dan Harapan untuk Konservasi

    7cloud.asia – Sasi dikenal sebagai sistem adat yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam di Maluku dan Papua. Saat sasi dibuka, berarti warga diperbolehkan memanen hasil laut dan hutan.

    Sebaliknya, ketika ditutup, warga dilarang mengambil sumber daya alam selama jangka waktu tertentu, supaya alam punya waktu untuk tumbuh dan berkembang kembali.

    Praktik sasi acap digambarkan sebagai praktik konservasi leluhur. Sasi menjadi contoh kearifan lokal yang hidup selaras dengan alam, berlawanan dengan masyarakat modern yang terus menguras alam tanpa henti.

    Ibaratnya, saat masyarakat modern tak bisa berhenti menguras ikan dari laut? Belajarlah dari Maluku.

    Namun, praktik adat ini ternyata juga tak lepas dari kontroversi. Dalam kerja-kerja lapangan di Maluku, saya berkali-kali mendengar keluhan dari masyarakat lokal terkait sasi.

    Ada yang bilang sasi kadang terlalu dipaksakan oleh ‘pihak luar’ dan menghilangkan penghidupan warga kampung. Namun, ada juga sebagian warga yang masih merasakan manfaat.

    Hal ini memperlihatkan bahwa ada hubungan tak mudah dan bergolak antara warga dengan “aturan adat”. Dan adat pun, sejatinya, selalu perlu dirajut ulang sesuai zaman dan kebutuhan masyarakat.

    Tapi, pembicaraan publik tentang sasi selama ini acap dilebih-lebihkan sebagai praktik konservasi tanpa cacat. Untuk itu, dalam artikel ini penulis ingin mengulas sasi berdasarkan realita yang berkembang di masyarakat.

    Baca: Kearifan lokal warga Papua menjaga lingkungan lewat tradisi Sasi

    Jejak kolonial
    Tradisi sasi pada mulanya merupakan komunikasi dengan arwah leluhur yang sarat dengan ritual adat dan mistis.

    Masyarakat lokal menganggap penutupan wilayah dengan sasi sebagai cara untuk menjaga agar roh-roh penunggu yang mendiami area tertentu tidak marah dan mengganggu manusia.

    Penjajah yang datang kemudian memodifikasi praktik sasi menjadi upacara penerapan dan pelepasan larangan mengeksploitasi alam.

    Peneliti dari Amerika Serikat yang banyak mengkaji konservasi sumber daya alam di wilayah Maluku, Charles Zerner mencatat hal ini dengan jelas.

    Pada awal abad ke-19, Belanda membangun struktur kelembagaan kolonial, lengkap dengan peta wilayah dan sistem administratif di Kepulauan Ambon.

    Untuk mengendalikan sumber daya alam, mereka membentuk jabatan kewang, semacam polisi sasi.

    Mengapa Belanda menganggap sasi diperlukan pada saat itu?

    Motifnya ekonomi. Usai anjloknya harga cengkeh, Maluku rentan limbung. Sasi lalu dipakai Belanda untuk menjaga stabilitas harga komoditas unggulan seperti pala dan kopra. Ini penting untuk memastikan pemasukan pajak pemerintah kolonial.

    Baca: Kisah para pejuang di garis depan kawasan konservasi

    Perkembangan sasi
    Mengikuti ketentuan hukum Belanda, pemerintahan negeri adat di sejumlah tempat pun kemudian ikut-ikutan memanfaatkan tradisi sasi untuk kepentingan politik dan ekonomi.

    Di Negeri Paperu, Maluku Tengah, pegawai kolonial T. Volker (dalam tulisan Zerner) mencatat pemerintahan adat menggunakan sasi untuk memastikan kelapa bisa dipanen tepat waktu, mempermudah penjagaan, dan menangkal pencurian.

    Asal-usul, tradisi, cara hidup, cara menjaga alam, hingga merawat sesama. Semuanya berakar dari pengetahuan lokal. Ada yang sebatas mitos dan tinggal cerita, ada juga yang masih hidup dan relevan, bahkan menjawab masalah terkini.

    Simak ‘Semburat Warna Adat’, menggali pengetahuan lokal berdasar riset dan pandangan para pakar.

    Di Kepulauan Tanimbar penutupan sasi membuat warga kampung dapat diarahkan untuk mengerjakan proyek desa lain seperti pembangunan gereja.

    Tradisi sasi juga banyak dipakai menjadi alat pemerintahan negeri untuk mengontrol kampung-kampung kecil di bawah naungannya.

    Sejak awal abad ke-20, warga Siri Sori Serani tercatat mengeluhkan kehadiran sasi, meskipun, menurut kewang yang menjadi perpanjangan tangan kolonial, aturan itu dibuat demi “menyejahterakan mereka”.

    Baca: Pemerintah diminta mengubah paradigma konservasi

    Sasi dan konservasi
    Dalam perkembangannya, sasi nyatanya terus dimodifikasi oleh berbagai pihak sesuai dengan kepentingan masing-masing.

    Kaitan sasi dengan konservasi baru menguat di era Orde Baru. Pada 1982 dan 1985, Kementerian Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup memberikan penghargaan Kalpataru kepada dua negeri di Maluku atas penerapan sasi, yang membuat bangga pejabat dan akademisi lokal.

    Namun, Negeri Haruku, salah satu penerima Kalpataru itu, sebenarnya baru saja menerapkan sasi kembali. Bahkan implementasinya pun sempat ditolak kaum muda lokal karena tidak banyak menguntungkan masyarakat.

    Sejak mendapat penghargaan itu, banyak LSM yang didukung dana-dana internasional, gencar berusaha menghidupkan sasi di berbagai daerah.

    Sasi lantas mulai dikenal luas dan dinarasikan sebagai cara hidup selaras dengan alam yang diwariskan secara turun-temurun.

    Tradisi ini kemudian berkembang menjadi instrumen perlawanan terhadap proyek-proyek ekstraktif.

    Salah satu yang paling monumental, pada 1997, para pemimpin adat dengan bantuan beberapa ornop (organisasi non pemerintah) melakukan sasi pulau di Nusa Laut, perairan Maluku.

    Saat itu, Nusa Laut ramai didatangi tim-tim survei pertambangan setelah beredar kabar ada cadangan emas besar di sana.

    Dari obrolan saya dengan tokoh adat di sana (pada Mei 2025), warga kala itu dilalap kecemasan karena khawatir mereka akan dipindahkan ke pulau lain. Relokasi paksa ini pernah terjadi terhadap warga Pulau Kei ke Pulau Seram.

    Sasi lantas dijadikan benteng simbolik.

    Jatuhnya Orde Baru pada 1998 membuat proyek tersebut akhirnya dibatalkan. Hingga kini, sasi di pulau tersebut belum pernah dicabut. Artinya, tidak ada yang boleh menambang di Nusa Laut.

    Tapi sayangnya, baru-baru ini saya melihat pantai di salah satu negeri di Nusa Laut itu tinggal tersisa karang. Pasir pantainya justru habis ditambang oleh warga sendiri.

    Baca: Konservasi hiu dan pari di perairan Indonesia Timur

    Sasi dan manusia
    Berdasarkan pengamatan saya, penerapan sasi yang kini banyak digerakkan oleh LSM, nampaknya acap terbentur dengan persoalan kesinambungan: kewang yang tak aktif patroli, pemerintahan yang terus-menerus bergantung pada bantuan LSM, hingga warga yang tak lagi merasa diuntungkan.

    Dan ini terjadi sejak dulu.

    Sebuah survei pada 1997 di 63 kampung di Maluku menunjukkan, alasan sasi masih bertahan di sejumlah kampung adalah karena warga merasakan manfaat langsung, seperti panen aman, atau terhindar dari pencurian.

    Sementara di tempat lain warga enggan menerapkannya karena merasa sasi tidak bermanfaat. Khususnya di desa dengan penduduk beragam dan dekat kota, sasi ditinggalkan karena dianggap tak relevan dengan kebutuhan ekonomi modern.

    Artinya, perlu ingat bahwa sebuah praktik kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari politik dan keberadaan manusia di baliknya.

    Pelaku sasi bukanlah figur karikatur yang tak lekang dari masa lalu. Masyarakat adat juga punya kebutuhan, sebagaimana manusia pada umumnya.

    Seorang kewang yang tak berpatroli mungkin sibuk dengan penghidupannya. Bisa jadi mereka tak tega menegur tetangga yang sedang mencari makan.

    Jadi, sasi mungkin masih relevan dihidupkan sebagai konservasi berbasis masyarakat, terlebih karena ingatan dan keakraban warga dengannya. Namun, kasus-kasus frustrasi warga terhadap sasi menjadi pengingat perlunya mempertimbangkan kepentingan warga di dalam pelestarian alam.

    Tanpa insentif, rasanya sulit memaksakan praktik ini terus bertahan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Geger Riyanto (Dosen Departemen Antropologi, Universitas Indonesia, Universitas Indonesia)

     

     

  • Film “Para Perasuk“: Drama Ambisi dan Ancaman Penggusuran Desa

    Film “Para Perasuk“: Drama Ambisi dan Ancaman Penggusuran Desa

    7cloud.asia – Pandangan umum tentang kerasukan kerap identik dengan horor dan ketakutan. Namun film Para Perasuk justru membalik asumsi tersebut.

    Di tangan sutradara Wregas Bhanuteja, kerasukan diolah menjadi ritual komunal yang jenaka, absurd, sekaligus menyimpan makna emosional yang dalam.

    Melalui tradisi fiktif “Pesta Sambetan”, kerasukan hadir sebagai medium katarsis—cara tak lazim bagi manusia untuk meluapkan emosi yang lama terpendam.

    Film ini tak sekadar menghibur, tetapi juga menyodorkan metafora tentang pelarian, tekanan hidup, hingga upaya berdamai dengan diri sendiri.

    “Film ini bebrbicara tentang obsesi seseorang. Tokoh utamanya, Bayu (Angga Yunanda) ingin menjadi perasuk terbaik. Tapi masalahnya desanya terancam digusur. Bayu dan warga berusaha mempertahankan desa agar tak terjadi penggusuran,” jelas Wregas di Jakarta pada Selasa (14/4/2026).

    Ambisi tersebut perlahan membutakan Bayu dari realitas di sekitarnya—termasuk ancaman penggusuran desa dan relasinya dengan keluarga, terutama sang ayah.

    Konflik ini menghadirkan ironi: ketika seseorang terlalu fokus mengejar ambisi personal, ia justru kehilangan hal-hal yang paling esensial.

    Wregas menyampaikan bahwa film ini berbicara tentang obsesi yang kerap dialami banyak orang. Ambisi yang tak terkontrol bisa membuat seseorang abai terhadap orang terdekat—sebuah refleksi yang terasa relevan dengan kehidupan modern.

    “Ini menceritakan Bayu yang sangat terobsesi sekali terhadap sesuatu, sehingga lupa dengan orang-orang sekitarnya termasuk bapaknya. Ambisi dan obsesi tersebut juga sangat relate dengan banyak yang dialami oleh kita, yang kadang mengejar ambisi sehingga bisa saja melupakan keluarga atau orang terdekat kita,” lanjutnya lagi. 

    Kehadiran Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri memberi warna tersendiri. Debutnya di layar lebar menghadirkan karakter spiritual yang kuat namun tetap membumi.

    “Setiap filmnya selalu memiliki isu sosial, caranya bercerita membuat kita tergugah dan membuat kita mempertanyakan banyak hal ke diri sendiri. Dan harapannya Para Perasuk juga bisa meninggalkan kesan ke semua orang,” papar Anggun.

    Secara visual, film ini dipenuhi adegan-adegan tak terduga—mulai dari tubuh yang melata bak lintah, posisi tubuh terbalik, hingga ritual mantra yang intens.

    Unsur absurditas ini menjadi kekuatan utama film, menghadirkan pengalaman sinematik yang unik sekaligus segar di tengah dominasi genre horor konvensional.

    Diproduksi oleh Rekata Studio, film ini juga diperkuat jajaran pemain seperti Maudy Ayunda, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Indra Birowo, dan Ganindra Bimo.

    Sebelum tayang luas pada 23 April 2026, Para Perasuk telah mencuri perhatian di berbagai festival internasional, termasuk pemutaran perdana di Sundance Film Festival 2026.

    Film ini juga telah berkeliling ke berbagai festival film internasional termasuk kompetisi di Miami Film Festival 43 pada program Marimbas Award, berkompetisi di Fantaspoa Brasil.

    Selain itu Para Perasuk menjadi official selection di program Artful Vision&Asian Frontier di MSPIFF, Amerika Serikat serta terpilih untuk berkompetisi di MOOOV Belgia.

    Pada akhirnya, Para Perasuk bukan sekadar film tentang kerasukan. Ia adalah refleksi tentang ambisi, tekanan sosial, dan kebutuhan manusia untuk melepaskan diri dari beban hidup—dengan cara yang tak selalu rasional, namun sangat manusiawi.