Mengenal Tradisi Manugal Banih Patawungan di Kalangan Masyarakat Dayak

Written by

in

7cloud.asia – Pemerintah Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan melestarikan Manugal Banih Patawungan yang menjadi tradisi masyarakat Dayak Meratus Kecamatan Piani.

Tradisi Manugal Banih Patawungan atau tanam bersama ini dinilai memiliki potensi untuk menarik wisatawan.

“Manugal Banih Patawungan ini harus terus dilestarikan, ini masuk kategori wisata budaya,” ujar Penjabat Bupati Tapin Syarifuddin di Desa Harakit, Kabupaten Tapin, Sabtu.

Baca: UNESCO tetapkan jamu menjadi warisan budaya dunia

Syarifuddin menilai warisan budaya masyarakat Dayak ini sangat menjual dan bisa menjadi salah satu magnet untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kecamatan Piani Kabupaten Tapin.

“Di mana ini sudah turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Meratus di Tapin,” tutur Syarifuddin.

Tokoh Dayak Meratus Tapin Pangbalum atau Rusdiansyah mengatakan, Manugal Banih Patawungan memiliki arti menanam benih padi dan tanaman lain di satu lahan dengan cara gotong royong.

Baca: Mengenal ritual thudong di Borobudur

Tradisi Manugal Banih Patawungan ini biasanya dilakukan saat musim tanam, atau saat memasuki musim penghujan.

“Hasil panen nanti akan digunakan untuk pelaksanaan Aruh Ganal (ritual syukur panen besar),” ungkapnya.

Pangbalum mengungkapkan ritual Manugal Banih Patawungan untuk menolak bala hingga menyampaikan doa kepada Tuhan Sang Pencipta agar melimpahkan hasil panen dan berkah untuk masyarakat.

Baca: Sejak kapan Natal dirayakan

Keunikan acara Manugal Banih Patawungan, yakni adanya iringan musik khas setempat “kurung-kurung”.

Alat musik ini terbuat dari bambu khusus dengan panjang lebih lima meter yang dibentuk sedemikian rupa.

Di Kecamatan Piani, terdapat delapan desa dihuni masyarakat adat yang kompak berpartisipasi untuk meramaikan atau menanam benih di lahan tersebut.

Baca: Bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi di UNESCO

Dilihat secara seksama, peran kelompok laki-laki membuat lubang menggunakan tugal atau tongkat kayu, sedangkan kaum perempuan menyemai benih ke dalam lubang saat proses menanam.

Pada lahan seluas satu hektar lebih itu, aktivitas bercocok tanam dilakukan dengan waktu yang singkat karena melibatkan puluhan anggota masyarakat.

Sumber: Antaranews

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *