Tag: Tumbuhan

  • Tumbuh Liar dan Kerap Dianggap Gulma, Ini Manfaat Meniran Bagi Kesehatan

    Tumbuh Liar dan Kerap Dianggap Gulma, Ini Manfaat Meniran Bagi Kesehatan

     

    7cloud.asia – Banyak orang yang menganggap meniran sebagai gulma yang sangat mengganggu.

    Padahal meniran yang tumbuh liar ini mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan, di antaranya meningkatkan imunitas tubuh.

    Meniran adalah jenis tumbuhan yang memiliki bentuk batang bulat tegak lurus. Tinggi tumbuhan meniran kebanyakan dua jengkal orang dewasa, namun juga bisa mencapai satu meter lebih dalam kondisi tanah subur.

    Daun dari tumbuhsn meniran biasanya bertulang menyirip genap, setiap satu tangkai meniran memiliki daun majemuk dengan ukuran yang kecil dan berbentuk lonjong.

    Baca: Manfaat temulawak untuk kesehatan

    Bunga tumbuhan meniran ini terdapat pada setiap ketiak daun serta menghadap ke bagian bawah.

    Tumbuhan ini biasanya tidak dipelihara, bahkan dibuang oleh masyarakat lantaran dianggap sebagai gulma dan bisa mengganggu pertumbuhan tanaman lain yang sengaja ditanam dan dipelihara.

    Melansir Antaranews, Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) mengatakan meniran memiliki manfaat bagi kesehatan terutama untuk meningkatkan imunitas tubuh.

    Menurut Ketua Umum PDPOTJI, Inggrid Tania, meniran memiliki segudang manfaat bagi tubuh manusia yang dapat memodulasi sistem imun.

    Baca: Manfaat teh hijau untuk kesehatan

    Sebab meniran mengandung sejumlah senyawa flavonoid, filantin, hipofilantin, dan asam galat yang bermanfaat untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi.

    Bahkan secara klinis meniran sudah teruji dapat menyembuhkan beberapa penyakit infeksi seperti influenza, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tuberkulosis paru, hepatitis B, herpes zoster, varicella, bahkan kandidiasis vagina.

    Tak hanya itu, meniran dapat membantu penyembuhan dan pengobatan darah tinggi, diabetes, batu di sistem saluran dan kandung kemih, memperbaiki fungsi liver, radang dan batu empedu.

    Meniran tak harus digunakan ketika seseorang sakit, tetapi juga bisa dikonsumsi saat kondisi badan yang sehat.

    Baca: Mengapa air kelapa tak disarankan untuk mereka yang memiliki masalah ginjal

    Mengonsumsi meniran secara rutin, seseorang dapat memiliki kekebalan yang baik sehingga tak mudah diserang virus maupun bakteri penyebab berbagai jenis penyakit.

    Cara kerja dari kandungan tanaman tersebut dengan menstimulasi sistem imun seluler dan humoral yang dapat memodulasi komponen sistem imun, satu diantaranya adalah sitokin proinflamasi.

    Sitokin proinflamasi sangat penting untuk mengoordinasikan respon imun yang dimediasi sel dan memainkan peran penting dalam memodulasi sistem kekebalan tubuh.

    Komponen ini pada umumnya mengatur pertumbuhan, aktivasi sel, diferensiasi, dan penempatan sel imun ke tempat infeksi dengan tujuan untuk mengendalikan dan memberantas patogen intraseluler, termasuk virus.

    Baca: Makanan sehat bisa membantu menangkal dampak polusi udara 

    Ketika dikonsumsi dalam keadaan sakit, maka meniran dapat berfungsi mempercepat proses penyembuhan dan meredakan gejala dari penyakit itu sendiri.

    Karena itu, Inggrid menyayangkan banyak masyarakat belum mengetahui manfaat meniran yang dikategorikan sebagai tanaman liar karena mudah tumbuh di mana saja.

    “Meniran memiliki segudang manfaat, kalau tumbuh tidak sengaja di pekarangan sekitar, jangan dimusnahkan,” katanya.

    Meniran bisa dirapikan atau dipangkas, tetapi bukan untuk dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan dan dikonsumsi sehari-hari, karena baik untuk kesehatan tubuh manusia.

    Baca: Gaya hidup dan pola makan sehat bisa cegah risiko autoimun

    Selanjutnya Inggrid menjelaskan cara mengolah meniran dengan mengambil daun meniran seberat 10–30 gram, kemudian direbus dalam 400 mililiter air yang sudah mendidih selama 15 sampai dengan 30 menit, kemudian siap untuk diminum.

    Takaran tersebut berlaku untuk satu kali minum, jika perlu minum dua atau tiga kali dalam sehari maka jumlahnya bisa disesuaikan.

    Aturan minum air rebusan ekstrak meniran ini disesuaikan dengan kebutuhan. Jika diminum ketika dalam keadaan sehat maka cukup satu sampai dua kali sehari.

    Sementara untuk pengobatan atau membantu proses penyembuhan suatu penyakit sebaiknya diminum dua sampai tiga kali dalam sehari.

    Baca: Manfaat meditasi untuk kesehatan fisik dan mental

    Selain direbus, pengolahan meniran di rumah juga bisa dilakukan dengan cara diseduh seperti membuat minuman teh.

    Meniran cukup dimasukkan ke dalam gelas kemudian disiram air mendidih, diamkan selama 15 menit dalam keadaan gelas tertutup.

    Dari dua langkah tersebut, merebus meniran menjadi cara terbaik karena air yang dihasilkan lebih kental, dan daya kerja dari ekstrak meniran akan lebih kuat pula.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Tumbuhan Juga Berkomunikasi, Bagaimana Caranya Simak di Sini

    Tumbuhan Juga Berkomunikasi, Bagaimana Caranya Simak di Sini

    7cloud.asia – Kemampuan berkomunikasi secara lisan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan evolusi manusia. Mulai dari memperingatkan satu sama lain soal bahaya hingga menyampaikan berbagai informasi rumit.

    Tapi ternyata, bukan hanya manusia dan hewan yang mengembangkan komunikasi kompleks, tumbuhan juga.

    Banyak orang menganggap tumbuhan sebagai makhluk pasif, padahal sebenarnya mereka memiliki cara sendiri untuk berinteraksi satu sama lain. Keunikan mereka bahkan banyak menginspirasi film-film Hollywood seperti Avatar.

    Temuan sains terbaru menunjukkan bahwa sistem komunikasi tumbuhan jauh lebih kompleks daripada yang kita bayangkan.

    Jaringan komunikasi, baik pada manusia maupun tumbuhan, sangat rentan dan keseimbangannya mudah terganggu. Kita tentu bisa membayangkan betapa chaos dunia jika sistem jaringan komunikasi global tiba-tiba rusak.

    Gangguan jaringan yang baru-baru ini terjadi pada CrowdStrike—perusahaan keamanan siber international asal Amerika Serikat (AS)—hanyalah salah satu contoh.

    Peristiwa ini menunjukkan kepada kita, rusaknya jaringan komunikasi bisa berdampak signifikan pada aktivitas perusahaan-perusahaan besar dunia. Hal yang sama juga berlaku pada tumbuhan.

    Untuk memahami bagaimana organisme yang tidak bisa berbicara menyampaikan informasi satu sama lain, kita perlu menyadari bahwa manusia juga memiliki sistem komunikasi non-verbal. Ini termasuk indera penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa, dan sentuhan.

    Baca: Konservasi tumbuhan di kebun raya

    Misalnya, ketika perusahaan energi menambahkan bahan kimia yang disebut mercaptan ke dalam gas alam.

    Campuran senyawa ini akan menimbulkan bau “telur busuk” yang khas sehingga kita bisa mendeteksi kebocoran. Selain itu, kita juga telah mengembangkan bahasa isyarat, dan banyak orang mahir membaca gerak bibir.

    Di samping indera-indera tersebut, kita juga memiliki kemampuan lain seperti equilibrioception (kemampuan untuk menjaga keseimbangan dan postur tubuh), proprioception (kemampuan untuk merasakan posisi relatif bagian-bagian tubuh).

    Juga thermoception (kemampuan untuk merasakan perubahan suhu), dan nociception (kemampuan untuk merasakan rasa sakit). Semua kemampuan ini memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan alam.

    Spesies lain, termasuk tumbuhan, juga menggunakan indera mereka untuk menyebarkan informasi. Namun tentunya, dengan cara mereka sendiri.

    Tumbuhan saling memantau tetangga
    Sebagian besar dari kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan bau rumput yang baru dipotong.

    Bau itu sebenarnya berasal dari senyawa volatil atau zat kimia yang dilepaskan oleh rumput untuk memberitahu tanaman lain bahwa ada pemangsa yang datang mendekat, misalnya mesin pemotong rumput.

    Peringatan tersebut kemudian mendorong penyesuaian dalam pertahanan tumbuhan. Alih-alih menggunakan isyarat pendengaran atau petunjuk suara, tumbuhan mengandalkan komunikasi yang dipicu oleh zat kimia.

    Baca: Tumbuhan liar ini menyimpan banyak manfaat untuk kesehatan

    Namun, komunikasi tumbuhan tidak berhenti di situ. Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan adanya “sistem pengawasan tetangga” pada tumbuhan.

    Sama seperti tetangga yang saling memperhatikan dan memperingatkan satu sama lain tentang ancaman di lingkungan mereka, tumbuhan juga berkomunikasi dan “memantau” satu sama lain melalui akar, sinyal, jaringan jamur bawah tanah dan mikroba tanah.

    Sistem ini memungkinkan mereka untuk berbagi informasi tentang hama atau perubahan lingkungan—mirip dengan sistem pemantauan yang dimiliki oleh komunitas manusia yang saling menjaga lingkungan mereka.

    Saat ini kita mengenal elektrofisiologi—sebuah disiplin ilmu baru yang mempelajari sinyal listrik pada tumbuhan.

    Dengan kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), penelitian di bidang ini berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa para ilmuwan semakin mampu memahami kompleksitas komunikasi listrik dalam tumbuhan.

    Para ilmuwan mulai mengintegrasikan komunikasi sinyal listrik dalam dan antar tumbuhan ke dalam rumah kaca modern.

    Ini memungkinkan mereka untuk memantau dan mengontrol penyiraman tanaman atau mendeteksi kekurangan nutrisi, yang dapat meningkatkan hasil pertanian.

    Dengan menggunakan probe listrik kecil, mirip dengan jarum akupunktur, para ilmuwan menguji bagaimana perubahan sinyal listrik mempengaruhi kinerja tumbuhan, seperti dalam proses mengangkut air, nutrisi, dan konversi cahaya menjadi gula yang penting bagi tumbuhan.

    Baca: Tanaman khas Jakarta ini diabadikan menjadi nama daerah

    Penelitian juga menunjukkan bahwa para peneliti dapat mempengaruhi perilaku tumbuhan dengan mengirimkan sinyal listrik dari ponsel, sehingga tumbuhan dapat merespons dengan membuka atau menutup daun, seperti pada tumbuhan venus flytrap.

    Melihat perkembangan ini, mungkin tidak lama lagi kita bisa menerjemahkan sepenuhnya bahasa tumbuhan.

    Sebagian besar komunikasi antar tumbuhan terjadi di bawah tanah, difasilitasi oleh jaringan jamur besar yang dikenal sebagai “wood wide web” atau jaringan kayu yang luas.

    Jaringan jamur ini menghubungkan pohon dan tumbuhan di bawah tanah, memungkinkan mereka untuk berbagi sumber daya seperti air, nutrisi, dan informasi. Melalui sistem ini, pohon yang lebih tua dapat membantu pohon yang lebih muda untuk tumbuh, dan pohon-pohon dapat saling memperingatkan satu sama lain tentang bahaya seperti hama.

    Sistem ini mirip dengan jaringan internet bawah tanah yang membantu mereka saling mendukung dan berkomunikasi satu sama lain. Jaringan tersebut sangat luas, dengan lebih dari 80% tumbuhan diyakini terhubung, menjadikannya salah satu sistem komunikasi tertua di dunia.

    Sama seperti internet yang memungkinkan manusia untuk terhubung, berbagi ide, pengetahuan, dan informasi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, “wood wide web” memungkinkan tumbuhan menggunakan jamur simbiosis untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan lingkungan.

    Namun, kerusakan tanah akibat bahan kimia, penggundulan hutan, atau perubahan iklim dapat mengganggu simpul komunikasi tumbuhan akibat siklus air dan nutrisi dalam jaringan yang terdampak, sehingga membuat mereka kurang terhubung. Penelitian mengenai efek dari gangguan jaringan ini memang masih sangat terbatas.

    Namun, kita tahu bahwa perilaku responsif tumbuhan, seperti respons pertahanan dan regulasi gen, dapat diubah oleh jaringan jamur jika mereka terhubung ke jaringan tersebut.

    Oleh karena itu, gangguan komunikasi dapat membuat tumbuhan lebih rentan, menyulitkan perlindungan dan pemulihan ekosistem di seluruh dunia. Dan tentunya, masih banyak yang harus dipelajari para ilmuwan tentang jaringan yang sangat kompleks ini.

    Kita tahu bahwa penting untuk membantu anak-anak belajar membaca agar mereka bisa menjelajahi dunia di sekitar mereka. Ini sama pentingnya dengan memastikan bahwa kita tidak memutus jalur komunikasi tumbuhan.

    Bagaimana pun juga, kita bergantung pada tumbuhan untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup kita.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Sven Batke, Associate Head of Research and Knowledge Exchange – Reader in Plant Science, Edge Hill University

  • Eksplorasi di Taman Nasional Kerinci Seblat Temukan 100 Jenis Tumbuhan Langka

    Eksplorasi di Taman Nasional Kerinci Seblat Temukan 100 Jenis Tumbuhan Langka

    7cloud.asia – Unit Penunjang Akademik (UPA) Konservasi Flora Sumatera (KFS) Institut Teknologi Sumatera (Itera) atau Kebun Raya Itera sukses menyelesaikan eksplorasi tumbuhan di Taman Nasional Kerinci Seblat, Provinsi Jambi.

    Eksplorasi tumbuhan di Taman Nasional Kerinci Seblat ini berhasil menambah 100 koleksi tumbuhan langka.

    Ketua Tim Eksplorasi sekaligus Ketua Kebun Raya Itera, Alawiyah mengatakan, kegiatan eksplorasi ini bertujuan memperkaya koleksi flora yang akan dikonservasi secara ex-situ di Kebun Raya Itera.

    “Eksplorasi ini tidak hanya memperluas koleksi tumbuhan tetapi juga membuka peluang penelitian ilmiah, edukasi, dan pengembangan wisata berbasis flora Sumatera,” katanya di Bandarlampung, Selasa (12/11/2024)

    Ia menjelaskan, tim berhasil mengumpulkan 100 spesies tumbuhan Sumatera, di mana 39 di antaranya termasuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature IUCN.

    Baca: Kebun Raya di Indonesia untuk dikunjungi

    Sedangkan jenis tumbuhan dengan kategori konservasi dari Least Concern (LC) atau risiko rendah sebanyak 33 spesies.

    “Lalu dua spesies masuk dalam Near Threatened (NT) atau mendekati terancam punah, Vurnarable (VU) atau rentan satu spesies, Endanger (EN) atau genting dua spesies, hingga Critical (CR) atau kritis satu spesies,” kata dia.

    Kategori status konservasi IUCN Red List adalah kategori yang digunakan oleh IUCN untuk melakukan klasifikasi terhadap berbagai spesies makhluk hidup yang terancam punah.

    Beberapa tumbuhan yang berhasil dikoleksi termasuk jenis yang terancam, seperti Aquilaria sp., Shorea sp., dan Dipterocarpus sp., yang merupakan tumbuhan wild spesies paling terancam.

    “Tumbuhan ini didapatkan selama kegiatan eksplorasi di Kabupaten Merangin, Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang berada di bawah pengelolaan Kantor Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I,” kata Alawiyah.

    Baca: Belajar di Geopark anggota UNESCO Global Geoparks

    Identifikator tumbuhan dari Biologi Pencinta Alam Sumatera Utara Yusran Efendi Ritonga menyampaikan tim mereka menduga bahwa eksplorasi ini juga mengungkap dua spesies potensial baru.

    “Satu spesies anggrek dan satu spesies Begonia, yang membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk konfirmasi,” kata dia.

    Kegiatan eksplorasi ini adalah lanjutan dari upaya KFS yang pada 2023 telah melakukan eksplorasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Way Kambas, fokus pada flora aromatik, bambu, tanaman industri, obat, dan anggrek Sumatera.

    Kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan diharapkan dapat meningkatkan jumlah flora yang dikonservasi di kawasan Kebun Raya Itera sesuai dengan tema konservasi Kebun Raya Itera yakni “Konservasi Tumbuhan Pamah Sumatera”.

  • Perubahan Iklim Memaksa Tumbuhan Lebih Sering “Berpuasa”

    Perubahan Iklim Memaksa Tumbuhan Lebih Sering “Berpuasa”

    7cloud.asia – Tahukah kamu jika puasa bukan cuma dilakukan manusia, tapi juga terjadi di dunia tumbuhan?

    Tentu saja, jangan membayangkan tumbuhan “berpuasa” dalam arti tradisional seperti cara puasa yang dilakukan manusia. Tumbuhan punya cara sendiri dalam berpuasa.

    Jika manusia biasanya berpuasa pada waktu tertentu seperti saat bulan Ramadan, tumbuhan berpuasa saat kondisi tertentu. Misalnya, saat tidak ada asupan air di masa kekeringan atau saat cuaca panas ekstrem.

    Selama “berpuasa”, tumbuhan memperlambat aktivitas metabolisme tubuhnya demi bertahan hidup dalam kondisi yang kurang mendukung.

    “Puasa” tumbuhan biasa dilakukan dalam beberapa bentuk, seperti:

    1. Dormansi biji
    Dormansi berarti tidur, mengurangi aktivitas pertumbuhan, atau bisa disebut juga “berpuasa tumbuh”. Biji akan dorman saat berada dalam kondisi lingkungan sekitar yang tidak cocok untuk perkecambahan.

    Misalnya, biji jatuh di bebatuan atau tanah yang kering akan menyebabkan biji “berpuasa” atau tidak banyak melakukan aktivitas pertumbuhan.

    Ada dua hormon penentu kapan biji harus “berpuasa” atau berkecambah, yakni asam absisat (ABA) dan giberelin. Kadar ABA tinggi menyebabkan biji tetap “berpuasa”, dan sebaliknya, giberelin yang tinggi akan membuat biji berkecambah.

    Baca: BRIN dorong pemuliaan tanaman pisang liar 

    2. Dormansi tunas
    Tunas adalah bagian ujung dari tumbuhan, yang biasanya ada di batang, daun, atau akar. Tunas disebut dorman saat meristem atau jaringan tumbuhan yang aktif membelah, tidak bekerja.

    Dormansi tunas umum terjadi pada pohon yang hidup di negeri empat musim, seperti pohon poplar (Populus tremula) atau sakura (Prunus serrulata), saat mereka memasuki musim dingin.

    3. Absisi atau menggugurkan daun
    Jika kamu pernah melihat pohon-pohon menggugurkan daun, itu juga adalah salah satu bentuk “puasa” tumbuhan.

    Daun adalah “dapur” tumbuhan tempat mereka memasak bahan-bahan “makanan” yang diperoleh dari tanah (air) dan udara (karbon dioksida) dengan bantuan cahaya matahari.

    Proses memasak ini disebut sebagai fotosintesis. Jika tumbuhan tidak punya bahan-bahan makanan, maka “dapur” mereka akan “ditutup” sementara dengan cara menggugurkan daun.

    Strategi ini membantu tumbuhan menghemat air dan energi agar mereka bisa bertahan hidup lebih lama.

    Lantas, kapan tumbuhan “berpuasa”? Tumbuhan biasanya “berpuasa” pada kondisi tertentu, seperti berikut ini:

    1. Peralihan musim gugur-dingin-semi
    Suhu yang turun drastis di musim dingin bisa mengakibatkan pembekuan seluler dan mengganggu suplai air dari perakaran di tanah. Pembekuan seluler ini seperti balon kecil dengan air membeku di dalamnya.

    Air beku ini dapat dengan mudah merusak kulit sel tumbuhan. Angin musim dingin yang kering juga mengganggu kelembapan daun dan berpotensi merusak fungsi daun.

    Dengan “berpuasa”, tumbuhan bisa mengurangi risiko kerusakan dan bertahan hingga musim semi.

    Baca: Indonesia miliki lebih dari 300 jenis tanaman pisang lokal

    2. Kekeringan
    Dalam kondisi kekeringan, tumbuhan umumnya “berpuasa” dengan menghemat penggunaan air hanya untuk fungsi vital, salah satunya adalah fotosintesis.

    Bahkan di daerah yang sering kering, beberapa tumbuhan tetap “berpuasa” meski sudah memasuki musim hujan, karena mereka terbiasa mengandalkan cadangan air daripada menyerap langsung dari tanah.

    Contohnya adalah Pohon Baobab yang menyimpan air di dalam batangnya yang besar untuk bekal menghadapi kemarau panjang. Pohon ini disebut juga semi-sukulen atau tanaman yang mampu menyimpan air.

    Kerabatnya dari jenis sukulen sejati, seperti kaktus, melakukan hal serupa untuk bertahan di lingkungan yang gersang.

    Saat kondisi benar-benar kering, beberapa jenis tumbuhan bahkan bisa “berpuasa ekstrem”. Tumbuhan akan tampak seperti mati karena kehilangan sebagian besar kandungan airnya.

    Laju metabolisme tumbuhan akan pulih saat kondisi air lingkungan mencukupi. Itulah mengapa mereka dikenal sebagai ressurection plant atau tanaman kebangkitan, salah satu contohnya adalah Craterostigma plantagineum atau blue carpet yang banyak tumbuh di Afrika.

    3. Perubahan iklim dan polusi
    Polusi dan cuaca yang tidak menentu akibat perubahan iklim juga bisa membuat tumbuhan stres. Ketika tumbuhan mengalami stres, mereka harus mengalihkan energi dari pertumbuhan dan reproduksi ke mekanisme pertahanan.

    Proses-proses ini membutuhkan energi, sehingga tumbuhan harus mengurangi atau menghentikan sementara pertumbuhan dan reproduksi, seperti “berpuasa”.

    Baca: Beragam jenis pohon Ficus yang menjaga ekosistem Hutan Sanggabuana

    Selain perubahan iklim, polusi juga membuat tumbuhan harus lebih sering “berpuasa”. Polusi ozon (O3) di udara bisa merusak daun. Sementara polusi logam berat di tanah secara umum bisa mengganggu pertumbuhan tumbuhan dan perkecambahan biji.

    Masih banyak informasi yang harus digali lewat penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana perubahan iklim dan polusi membuat tumbuhan harus “berpuasa”.

    Intinya, “berpuasa” bagi tumbuhan bukan sekadar fenomena alam, melainkan bagian dari survival mode atau strategi bertahan hidup saat kondisi lingkungan tidak mendukung.

    Masalahnya, jika sebelumnya mayoritas tumbuhan hanya “berpuasa” di musim dingin atau kemarau, kini cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim dan pencemaran yang disebabkan oleh manusia memaksa mereka “berpuasa” lebih keras, sekaligus lebih lama.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Mafrikhul Muttaqin (Lecturer, Department of Biology, IPB University)

  • Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Tumbuhan Araceae Asal Riau

    Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Tumbuhan Araceae Asal Riau

    7cloud.asia – Tim Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama mitra taksonom berhasil mengidentifikasi satu spesies baru tumbuhan dari famili Araceae (aroid) yang ditemukan di Riau.

    Spesies ini diberi nama Homalomena chikmawatiae sebagai bentuk penghargaan kepada Prof. Tatik Chikmawati (IPB University) atas dedikasinya dalam pengembangan ilmu biosistematika tumbuhan di Indonesia.

    Spesies baru Homalomena chikmawatiae dideskripsikan berdasarkan sejumlah ciri khas, antara lain daun berbentuk perisai (peltate), spadix dengan bagian steril (appendix) yang menonjol, serta bunga jantan yang hanya memiliki satu benang sari (monandrus).

    Tanaman ini awalnya ditemukan oleh masyarakat lokal di Riau, kemudian dibudidayakan di Bogor. Tim BRIN selanjutnya melakukan pengamatan morfologi dan analisis molekuler terhadap spesimen tersebut.

    “Tanaman ini memiliki kombinasi ciri yang tidak biasa dalam kelompoknya, terutama daun peltate dan appendix steril besar. Ini memperkaya pemahaman kita tentang variasi morfologi dan hubungan evolusi dalam Homalomena,” jelasnya.

    Baca: 8 Spesies Nepenthes endemik Sumatera terancam punah

    Secara filogenetik, H. chikmawatiae ditempatkan dalam Cyrtocladon Supergroup, meskipun beberapa cirinya menyimpang dari karakter umum kelompok tersebut.

    Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan taksonomi integratif dalam memahami kompleksitas evolusi tumbuhan aroid di kawasan Malesia.

    Saat ini, H. chikmawatiae hanya diketahui dari satu populasi, sehingga direkomendasikan berstatus Data Deficient (DD) berdasarkan pedoman IUCN.

    Selain mendeskripsikan spesies baru, studi ini juga menyusun kunci identifikasi terbaru untuk kelompok Homalomena dengan spadix bertipe Furtadoa di wilayah Malesia.

    Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Muhammad R. Hariri, mengatakan, Homalomena chikmawatiae merupakan spesies baru dari Riau, yang secara morfologi menyerupai genus Furtadoa.

    Baca: Ratusan jenis lumut jadi kekayaan Gunung Gede

    Adapun ciri khas genus ini adalah daun memerisai dan bagian steril cukup besar pada spadix.

    Penelitian filogenetik berbasis sekuen ITS menunjukkan bahwa genus Furtadoa bersifat polifiletik dan seluruh spesiesnya kini direklasifikasikan ke dalam genus Homalomena.

    Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan taksonomi integratif dalam memahami kompleksitas evolusi famili Araceae Malesia.

    “Penelitian kami menunjukkan bahwa keragaman morfologi dalam Homalomena, khususnya kelompok dengan spadix bertipe Furtadoa, jauh lebih kompleks dari yang selama ini diperkirakan,” ujarnya.

    Dia menambahkan bahwa temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan taksonomi integratif dalam memahami kompleksitas evolusi famili Araceae di kawasan Malesia.

    Baca: Beragam Ficus jadi penjaga ekosistem Hutan Sanggabuana

    Sebagai tindak lanjut, dua spesies sebelumnya dalam genus Furtadoa kini resmi diklasifikasikan ulang: Furtadoa indrae menjadi Homalomena indrae, dan Furtadoa sumatrensis menjadi Homalomena sumatrensis.

    Studi ini juga menyusun kunci identifikasi terbaru untuk kelompok Homalomena bertipe spadix Furtadoa di wilayah Malesia.

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Webbia: Journal of Plant Taxonomy and Geography, Volume 80(1), halaman 99–104, April 2025, dengan judul “Nomenclatural Changes and New Species in Malesian Homalomena (Araceae)” (Irsyam et al., 2025).

    Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi data morfologi dan molekuler dalam studi taksonomi tumbuhan, serta perlunya revisi sistematika agar mencerminkan hubungan evolusioner yang lebih akurat.

    Temuan ini tidak hanya memperkuat koleksi ilmiah nasional, tetapi juga membuka peluang baru bagi konservasi dan pengembangan riset biosistematika di Indonesia.

    Baca: Peneliti BRIN temukan anggrek akar tak berdaun endemik Pulau Sumatera

  • Tantangan Konservasi Tumbuhan dan Pohon Langka di Indonesia

    Tantangan Konservasi Tumbuhan dan Pohon Langka di Indonesia

    7cloud.asia – Ketua Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), Tukirin Partomihardjo dalam kegiatan Jamming Session Seri 1 Tahun 2025, dengan bertema “Konservasi dan Pemanfaatan Tumbuhan Khas Indonesia” memaparkan tantangan dalam konservasi tumbuhan khas Indonesia.

    Kegiatan itu digelar pada April lalu, dan diinisiasi oleh Kelompok Riset Autekologi Flora Endemik dan Dilindungi (AFEL) serta Kelompok Riset Autekologi Flora Perdagangan.

    Ia menjelaskan bahwa konservasi tidak hanya bertujuan untuk melestarikan keanekaragaman hayati, namun juga menjaga sistem pendukung kehidupan sekaligus memastikan pemanfaatannya yang berkelanjutan.

    “Dari kurang lebih 6.500 spesies tumbuhan yang sudah dikaji statusnya, 21,4 persen tumbuhan terancam punah, 1 jenis sudah punah dan 2 jenis punah di alam, sedangkan pemerintah baru menetapkan 116 spesies atau 13 persen tumbuhan,” ujarnya

    Tukirin menekankan pentingnya konservasi tumbuhan khas Indonesia sebagai langkah terpadu untuk menjaga kelestarian dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

    Ia menyoroti bahwa strategi konservasi perlu mencakup perlindungan habitat, pengelolaan kawasan secara berkelanjutan, dan restorasi lahan terdegradasi.

    Baca: Konservasi pohon Ulin di Taman Biodiversitas Hutan Hujan Tropis

    Pada akhir paparannya, Tukirin menekankan pentingnya kerjasama berbagai stakeholder, akademisi, peneliti dan masyarakat untuk penyelamatan pohon langka di Indonesia.

    Kepala Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (PREE BRIN), Asep Hidayat menekankan peran strategis kajian ilmiah dalam mendukung konservasi keanekaragam hayati di Indonesia.

    Asep menyebutkan bahwa kajian ilmiah dalam konservasi, tidak berdampak secara instan. Namun demikan, jika dimanfaatkan secara tepat bisa mempunyai pengaruh yang sangat besar.

    “Konservasi bukan hanya soal pelestarian, tapi juga tentang bagaimana kita mengelola kekayaan hayati ini secara berkelanjutan dengan pendekatan berbasis pengetahuan, teknologi modern, dan kearifan lokal,” ujarnya.

    Asep juga menyoroti ancaman seperti alih fungsi lahan, deforestasi, dan perubahan iklim menjadi tantangan nyata, sehingga upaya konservasi yang terintegrasi dan berkelanjutan adalah hal yang penting untuk dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor berbasis data ilmiah.

    Menurutnya, ribuan spesies tumbuhan khas Indonesia bersifat endemik, langka, dan memiliki nilai ekologis, ekonomis, serta budaya yang tinggi.

    Baca: Mengenal pohon Ulin yang tergolong pohon langka

    “Keberadaan flora kita sedang menghadapi tekanan besar mulai dari deforestasi, konversi lahan, perambahan hutan, hingga perubahan iklim. Sehingga, tak sedikit spesies kini berada di ambang kepunahan,” ujarnya mengingatkan.

    Maka dari itu, lanjut Asep, dibutuhkan ruang strategis untuk mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi.

    Meski forum ini bersifat informal, Asep menegaskan tujuan forum ini jelas yakni mendorong kolaborasi, memperkaya pengetahuan bersama, dan memetakan arah riset serta inovasi.

    “Khususnya terkait konservasi dan pemanfaatan tumbuhan khas Indonesia, seperti Nepenthes ataupun spesies lain yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi tinggi,” jelasnya.

    Asep berharap, forum ini dapat melahirkan inovasi dan rekomendasi konkret yang memperkuat kebijakan konservasi serta mendorong pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.

    Baca: Para pejuang di garis depan kawasan konservasi

    Sementara itu, Tika Dewi Atikah, Peneliti PREE memaparkan mengenai “Potensi Jenis-jenis Tumbuhan yang Diperdagangkan”.

    Dalam paparannya, ia menyoroti beberapa jenis tumbuhan yang bernilai ekonomi tinggi dan aktif diperdagangkan, seperti spesies penghasil gaharu (Aquilaria sp.) dan Dalbergia parviflora atau akar laka.

    “Salah satu hasil penelitian di Pulau Buru menunjukkan rata-rata biomassa Aquilaria sp. mencapai 600,5 kilogram per hektare, menunjukkan potensi ekonominya yang signifikan,” ungkapnya.

    Selain itu, ia memaparkan bahwa Dalbergia parviflora (akar laka), tumbuhan yang digunakan sebagai bahan dupa dan obat, masih banyak diperdagangkan, khususnya kayu yang telah mati dan lapuk.

    “Sedikitnya 1.300 warga di tiga kabupaten di Kalimantan Tengah terlibat dalam rantai perdagangan akar laka. Ini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat,” terang Tika.

    Ia menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dan pendekatan sosial untuk mengelola perdagangan spesies bernilai tanpa mengabaikan aspek konservasinya.

     

  • Perkenalkan, Homalomena Lingua-felis Spesies Baru Araceae Temuan Peneliti BRIN

    Perkenalkan, Homalomena Lingua-felis Spesies Baru Araceae Temuan Peneliti BRIN

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan tim dari Herbarium Bandungense SITH ITB, Universitas Sebelas Maret, IPB University, Universitas Lampung, Yayasan Botani Tropika Indonesia, dan Jungle Farm Nursery berhasil menemukan satu spesies baru tumbuhan aroid endemik Indonesia, yaitu Homalomena lingua-felis.

    Penemuan ini menambah data keanekaragaman flora Indonesia, khususnya kelompok Araceae, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

    Araceae mencakup berbagai macam tumbuhan monokotil terestrial atau terkadang sedikit akuatik dengan ciri khas bunga majemuk bertipe “tongkol” yang berseludang (spatha).

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Internasional PhytoKeys Volume 271, halaman 161–172, dengan judul A new densely-haired aroid species of Homalomena (Araceae) from North Sumatra, Indonesia.

    Artikel ilmiah tersebut dapat diakses di tautan:https://doi.org/10.3897/phytokeys.271.172410.

    Penemuan spesies baru ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Muhammad Rifqi Hariri bersama tim.

    Baca: Dua spesies baru anggrek Gastrodia ditemukan di Bromo-Tengger

    Penelitian dilakukan melalui ekspedisi lapangan di wilayah Batang Toru, Tapanuli, Sumatra Utara pada Januari 2024, serta kajian morfologi dan analisis molekuler di laboratorium dan herbarium.

    Dalam publikasinya, para peneliti melaporkan Homalomena lingua-felis merupakan spesies yang memiliki kemiripan dengan Homalomena pexa, namun menunjukkan perbedaan morfologi dan genetik yang jelas.

    Menurut Rifqi, spesies ini memiliki karakter morfologi yang khas, terutama pada permukaan daun bagian atas yang dipenuhi rambut lebat dengan tekstur menyerupai lidah kucing.

    “Nama lingua-felis berasal dari bahasa Latin lingua dan feles yang berarti lidah dan kucing, merujuk pada tekstur unik permukaan daunnya,” ujarnya.

    Selain tekstur daun, perbedaan juga terlihat pada tangkai daun yang lebih pendek, permukaan bawah daun dan tangkai yang berbintil, serta struktur bunga jantan berbentuk kerucut.

    “Karakter morfologi tersebut menjadi dasar utama dalam penetapan spesies ini sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

    Baca: BRIN temukan 51 spesies baru sepanjang tahun 2025

    Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan sampel di habitat alami berupa dinding batu di sekitar air terjun pada ketinggian rendah. Spesimen yang dikoleksi kemudian diamati secara detail dan dibandingkan dengan koleksi herbarium.

    Untuk memperkuat hasil identifikasi, tim juga melakukan analisis DNA berbasis sekuens ITS guna memastikan posisi kekerabatan spesies ini dalam kelompok Homalomena.

    Spesies baru ini diketahui memiliki sebaran terbatas di wilayah Tapanuli dan bersifat endemik Sumatra Utara. Berdasarkan kajian awal menggunakan kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies ini diusulkan berstatus Rentan (Vulnerable).

    Hal ini karena spesies tersebut memiliki sebaran yang sangat terbatas dengan luas area hunian yang sempit serta menghadapi ancaman kebakaran hutan dan pengambilan ilegal akibat nilai estetikanya sebagai tanaman hias.

    Tim peneliti BRIN akan terus melakukan eksplorasi dan kajian biodiversitas tumbuhan di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.