Tag: umkm

  • Dukung UMKM Tanah Air, TikTok Sebut Tak Akan Buka Project S di Indonesia.

    Dukung UMKM Tanah Air, TikTok Sebut Tak Akan Buka Project S di Indonesia.

    7cloud.asia – Kepala Komunikasi TikTok Indonesia Anggini Setiawan menekankan bahwa TikTok Shop tidak akan membuka bisnis lintas batas atau Project S di Indonesia.

    Langkah TikTok untuk tidak membuka Project S di Indonesia ini guna mendukung usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal di Tanah Air.

    “Sejak awal ketika meluncurkan TikTok Shop di Indonesia, kami memutuskan untuk tidak membuka bisnis lintas batas atau cross border di Indonesia dengan bendera Project S. Ini komitmen kami,” ujar Anggini dalam jumpa pers Kementerian Koperasi dan UKM bersama TikTok Indonesia di Jakarta, Rabu (26/7/2023).

    Baca: Pengguna TikTok raup puluhan juta sebulan dari TikTok Shop

    Anggini menyampaikan, TikTok Shop mendukung misi pemerintah Indonesia untuk memberdayakan UMKM lokal.

    TikTok Shop juga mengklaim bahwa 100 persen penjual di social commerce-nya memiliki entitas bisnis lokal yang terdaftar atau UMKM lokal dengan verifikasi KTP/paspor.

    Dengan pernyataan ini, Anggini membantah bahwa TikTok akan meluncurkan inisiatif lintas batas atau yang dikenal dengan istilah Project S.

    Baca: Kelebihan TikTok Shop dibanding Shopee

    Project S adalah platform elektronik niaga yang diluncurkan oleh perusahaan induk TikTok, ByteDance di pasar Inggris pada Juni 2023.

    Proyek terbaru TikTok ini disebut memiliki konsep berbeda dengan TikTok Shop yang telah lebih dulu ada.

    Platform terbaru ini, akan menjual langsung dagangannya kepada konsumen dari lintas negara layaknya Amazon.

    Baca: Ini alasan untuk beralih ke pembalut kain

    Menurut Anggini, Project S disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasar. Sementara Indonesia lebih sesuai dengan TikTop Shop yang lebih memberdayakan UMKM nasional.

    “Kami tidak berniat untuk menciptakan produk e-commerce sendiri yang akan berkompetisi dengan para penjual Indonesia,” kata Anggini.

    Anggini menyampaikan, TikTok akan selalu menghormati hukum dan peraturan yang berlaku di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan komitmen TikTok guna memajukan UMKM.

    Baca: Thrifting, cara anak muda merawat lingkungan

    Sementara itu, Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Fiki Satari mengatakan, UMKM harus bersaing keras dengan produk-produk impor yang dijual dengan harga sangat murah di social commerce dan e-commerce.

    Menurut Fiki, social commerce memiliki kelebihan lain dibanding lokapasar yakni algoritma sebagai media sosial sehingga mampu menangkap data dari pengguna platform.

    “Tiba-tiba diserbu gini kan, sedangkan penggunanya banyak dan mereka punya algoritma yang luar biasa. Karena mereka punya algoritma sebagai media sosial, mereka bisa menangkap data, di sisi lain mereka juga punya e-commerce untuk berdagang,” kata Fiki.

    Baca: Ini mengapa Gen Z lebih memilih Tiktok Shop ketimbang Shopee

     

  • Kunjungi Inacraft, Ganjar Pranowo Dicurhati Pengrajin UMKM

    Kunjungi Inacraft, Ganjar Pranowo Dicurhati Pengrajin UMKM

    7cloud.asia – Bakal Calon Presiden (Bacapres) Ganjar Pranowo, Sabtu (7/10/2023) nengunjungi pameran International Handicraft Trade Fair (Inacraft) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan Jakarta.

    Dalam kesempatan itu, Ganjar Pranowo dicurhati para pelaku UMKM yang mengikuti Inacraft. Para pelaku UMKM menannyakan seputar strategi untuk melindungi UMKM di tengah gempuran e-commerce dan barang impor.

    Kepada para pelaku UKM psereta Inacraft Ganjar Pranowo pun mengungkapkan gagasannya  agar produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) tetap berkembang di tengah perdagangan yang kian mengglobal karena digitalisasi.

    Baca: Pemerintah resmi larang TikTok Shop, ini penjelasannya

    “Iya sebenarnya kita juga mengonlinekan mereka. Memfasilitasi mereka agar bisa masuk pasar dunia. Peran pemerintah jadi begitu penting,” kata Ganjar Pranowo.

    Ganjar Pranowo menekankan pentingnya perlindungan kepada UMKM Indonesia agar tetap bersaing dengan penjualan barang secara online ataupun barang import dari luar negeri.

    Langkahnya, kata dia, dengan membuat hak kekayaan intelektual (HAKI) agar produk UMKM bisa masuk pasar dunia dan tidak tergerus oleh perubahan teknologi.

    Baca: Perdagangan di media sosial harus diatur untuk lindungi UMKM

    “Kita dorong, kita proteksi, kemudian HaKI-nya kita proteksi juga sehingga ini bisa laku dan kalau sudah mendunia ya kita harus masuk pasar dunia jangan kemudian kita jadi pemain lokal terus. Kita serbu,” kata Ganjar Pranowo.

    Ia pun mencontohkan salah satu langkah yang pernah dilakukan ketika menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah yaitu mengirim produk UMKM asal Indonesia ke luar negeri.

    Pemprov Jawa tengah pernah mengirim ke Prancis sudah dua kali ya. Terus ke Osaka pernah. Kita kenalkan. Kita gempur mereka dengan produk-produk kita.

    “Mereka sangat suka sehingga kita harus berani bersaing soal itu. Kita memberikan fasilitasi dan proteksi,” tuturnya.

    Baca: Seperti ini perdagangan online di TikTok mematikan UMKM

    Lebih jauh, mengaku senang karena kualitas UMKM asal Indonesia yang tampil di Pameran Inacraft semakin berkualitas setiap tahunnya.

    “Makanya saya seneng banget melihat berbagai UMKM dan karya semua tampil di sini keliatan betul bahwa mereka rata-rata seperti semua sudah dikurasi,” tegas dia.

    “Dari waktu ke waktu selalu ada saja, memunculkan sesuatu yang menakjubkan karena memunculkan desain yang baru terus kemudian bentuk-bentuk baru, inovasi seperti yang di belakang ini,” imbuhnya.

    Baca: Alternatif setelah TikTok Shop Ditutup Pemerintah

  • Komisi VI DPR Soroti Penerapan Agunan Bagi UMKM yang Ajukan KUR di Bawah Rp 100 Juta

    Komisi VI DPR Soroti Penerapan Agunan Bagi UMKM yang Ajukan KUR di Bawah Rp 100 Juta

    7cloud.asia – Fakta yang ditemukan Komisi VI DPR di lapangan mengungkap bahwa masih banyak masyarakat dan pelaku UMKM yang tak berani mengajukan kredit usaha rakyat atau KUR. 

    Menyikapi kondisi ini, Ketua Komisi VI DPR Faisol Riza menilai pemerintah perlu lebih memberikan pendidikan literasi perbankan dan memberikan insentif untuk menarik para pelaku UMKM dalam memanfaatkan KUR.

    Selain itu, Bank yang tergabung di Himbara juga perlu menuntaskan persoalan agunan yang menjadi penghambat pelaku UMKM ketika mengajukan KUR.

    Baca: Kunjungi Inacraft Ganjar dicurhati pelaku UMKM

    “Pemerintah harus selalu mendidik masyarakat melalui literasi industri keuangan, perbankan khususnya, terus menerus dilakukan, baik melalui kegiatan-kegiatan formal maupun mereka bisa melakukan dengan kelompok dan komunitas,” ujarnya kepada Parlementaria di Kabupaten Gianyar,  Bali, Rabu (4/10/2023).

    Selain itu, pemerintah juga perlu mulai memberikan banyak insentif kepada para pelaku UMKM terutama yang bisa mengakses KUR.

    “Jangan hanya yang para investor asing saja ya yang diberikan insentif, tapi juga para pelaku usaha UMKM yang luar biasa perannya di dalam masyarakat ini, harus diberikan insentif yang lebih banyak lagi,” tukasnya.

    Baca: Perdagangan di media sosial diatur untuk lindungi UMKM

    Menueut Riza, yang harus dilakukan pemerintah bukan hanya bunga yang diturunkan tetapi juga soal adanya persyaratan agunan bagi para pelaku UMKM perlu dituntaskan.

    Ia melihat persoalan agunan ini menjadi penghambat bagi para pelaku UMKM yang ingin mengajukan KUR.

    “Sayang kalau ini upaya yang sudah kita lakukan bersama-sama dan sudah berhasil pada taraf tertentu ini, kalau tidak kita lanjutkan akan membuat usaha UMKM kita  yang sudah mulai maju ini menjadi terhambat,” imbuhnya.

    Baca: Pedagang Tanah Abang keluhkan sepinya pembeli 

    Hal yang sama juga diungkapkan anggota Komisi VI lainnya, I Nyoman Parta yang memberikan catatan kepada Himbara di Provinsi Bali soal syarat agunan yang dinilai memberatkan bagi para pelaku UMKM yang mengajukan KUR di bawah Rp100 juta.

    Ia menilai KUR di bawah Rp100 juta seharusnya tidak perlu ada agunan, dan hal ini diatur Permen  (nomor) 1 tahun 2022 maupun (nomor) 1 tahun 2023.

    “Namun di lapangan, masih dikenakan agunan, itu tidak boleh dilakukan dan itu bisa dikenakan sanksi bagi penyalur KUR yang masih menggunakan agunan untuk kredit Rp0 sampai Rp100 juta,” ujarnya.

    Baca: Meski kaya raya, aktor ini memilih tidak boros

    Ia menegaskan, seharusnya agunan untuk pengajuan KUR di bawah Rp 100 juta tidak boleh dilakukan oleh Bank Himbara dan penyalur KUR yang masih melakukan bisa dikenakan sanksi.

    “Kalau menurut saya, sanksi yang harus diberikan di tingkat kepala unit bukan kepada para pemasar. Kasihan mereka itu, mereka melakukan itu kan karena pasti perintah kepala unit,” imbuh Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

    Sumber: Parlementaria

  • Bagaimana UMKM Bisa Didorong untuk Terlibat dalam Menahan Laju Perubahan Iklim

    Bagaimana UMKM Bisa Didorong untuk Terlibat dalam Menahan Laju Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim Global ke-28 atau COP 28, UNFCCC mendorong transformasi juga dilakukan untuk meningkatkan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mengatasi perubahan iklim.

    Sejauh ini, berbagai kajian global menggarisbawahi kebijakan lingkungan belum berhasil mengoptimalkan peran UMKM dalam mengatasi perubahan iklim. 

    Dengan asumsi skala ekonomi korporasi yang jauh lebih besar, dalam mengatasi dampak perubahan iklim pemerintah cenderung lebih berfokus terhadap korporasi besar ketimbang UMKM.

    Padahal, UMKM tak hanya menyumbang sekitar separuh dari total emisi gas rumah kaca dunia bisnis, tapi juga lebih terdampak terhadap perubahan iklim dan lonjakan harga energi.

    Baca: Peran UMKM dalam menahan laju perubahan iklim

    Lantas, pembenahan seperti apa agar UMKM dapat lebih dilibatkan dan berperan dalam menanggulangi dampak perubahan iklim?

    Albert Hasudungan, Dosen  Universitas Prasetiya Mulya dalam tulisannya di The Conversation menyebutkan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mendorong peran UMKM dalam menahan laju perubahan iklim. 

    Albert menyebut kajian kebijakan manajemen dan kebijakan lingkungan terkini menekankan pentingnya unsur 3C (concern, capacity, conditions) dalam mempercepat transformasi UMKM untuk mengatasi persoalan sampah dan perubahan iklim global.

    Concern menggarisbawahi kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk agenda peran UMKM dalam isu sampah dan emisi karbon.

    Baca: Ekonomi hijau dan manfaatnya untuk pendapatan negara

    “Pemerintah di Indonesia perlu lebih banyak memfasilitasi diskusi terpumpun (focus group discussion/FGD) dalam menetapkan peta jalan kebijakan meningkatkan peran UMKM dalam perubahan iklim di Indonesia,” ujarnya.

    Tantangan yang perlu diatasi adalah perubahan persepsi pemerintah dari hanya mencapai pertumbuhan ekonomi menjadi pembangunan yang inklusif, atau melibatkan semua pihak.

    Sedangkan dalam hal capacity, perlu ada peningkatan kapasitas UMKM yang menekankan kolaborasi multipihak dalam meningkatkan kemampuan UMKM mengatasi masalah kebijakan sampah dan perubahan iklim.

    Sebagai contoh, korporasi besar bisa lebih meningkatkan transfer kapabilitas UMKM dalam manajemen lingkungan dan bisnis.

    Baca: Ekonomi hijau bisa ciptakan 19,4 juta lapangan kerja baru

    “Hal ini penting, karena UMKM tersebut ada dalam rantai nilai manajemen lingkungan korporasi tersebut,” imbuhnya.

    Dalam aspek conditions, pengambil kebijakan kunci terkait dapat menciptakan payung hukum yang jelas untuk kemitraan korporasi besar dan UMKM untuk mengatasi perubahan iklim.

    “Kolaborasi tersebut akan terlaksana apabila mereka dijamin dengan payung hukum dan insentif yang tepat,” pungkasnya.

    Disarikan dari tulisan Albert Hasudungan, Dosen  Universitas Prasetiya Mulya yang telah terbit di The Conversation.

  • Nggak Cuma Korporasi, UMKM Bisa Berperan Besar Atasi Dampak Perubahan Iklim

    Nggak Cuma Korporasi, UMKM Bisa Berperan Besar Atasi Dampak Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) mengakui bahwa selama tiga dekade terakhir, upaya mengatasi perubahan iklim dari sisi bisnis masih berfokus kepada peran korporasi besar.

    Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim Global ke-28 atau COP 28, UNFCCC mendorong transformasi juga dilakukan untuk meningkatkan kemampuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mengatasi perubahan iklim.

    Sejauh ini, kajian global menggarisbawahi kebijakan lingkungan belum berhasil mengoptimalkan peran UMKM dalam mengatasi perubahan iklim.

    Dengan asumsi skala ekonomi korporasi yang jauh lebih besar, pemerintah cenderung lebih berfokus terhadap korporasi besar.

    Padahal, UMKM tak hanya menyumbang sekitar separuh dari total emisi gas rumah kaca dunia bisnis, tapi juga lebih terdampak terhadap perubahan iklim dan lonjakan harga energi.

    Baca: Manfaat yang bisa dipetik jika beralih ke ekonomi hijau

    Di sisi lain, rezim penguasa di negara yang kaya akan sumber daya alam cukup lunak dalam menegakkan aturan lingkungan kepada korporasi besar karena memberikan kontribusi pajak dan penyerapan tenaga kerja yang signifikan.

    Upaya menuntut korporasi memperbaiki manajemen lingkungan mereka mungkin lebih dipandang sebagai risiko kehilangan potensi ekonomi bagi para konservatif dan populis di konteks negara tersebut.

    Di Indonesia, sebuah studi menunjukkan bahwa transformasi UMKM mengatasi perubahan iklim masih menjadi retorika saja.

    Masalah yang mengemuka adalah tidak terhubungnya rantai nilai antara korporasi besar dan UMKM dalam mengatasi perubahan iklim.

    Ini tidak lepas dari tidak jelasnya instrumen kebijakan untuk kolaborasi korporasi dan UMKM mengatasi perubahan iklim.

    Baca: Ekonomi hijau janjikan 19,4 juta lapangan kerja baru

    Menurut laporan Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada 2022, negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia memang masih memprioritaskan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berisiko merusak lingkungan.

    Kebijakan manajemen lingkungan di Indonesia terlalu terfokus kepada korporasi besar karena kontribusi korporasi terhadap PDB jauh lebih signifikan dibandingkan UMKM.

    Padahal, UMKM adalah aktor sentral dalam pengolahan limbah plastik. Produksi plastik berkontribusi melepaskan gas rumah kaca karena mengandalkan bahan bakar fosil.

    Limbah plastik–yang tidak bisa diurai di alam–turut menyumbang emisi ketika mereka terkena radiasi matahari atau terpecah menjadi mikro-plastik di lautan.

    Baca: Mendulang cuan dari pengolahan sampah

    Di Indonesia, berdasarkan analisis data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 80% struktur ekonomi PDB lima tahun terakhir ditopang konsumsi masyarakat.

    Industri makanan dan minuman adalah industri penting yang menyuplai konsumsi masyarakat ini. Berdasarkan kajian dari McKinsey pada 2022, pelaku industri makanan dan minuman ini dikuasai segelintir korporasi besar.

    Jumlah perusahaan besar tersebut kurang dari 20%, tapi menguasai lebih dari 50% pangsa pasar Indonesia.

    Banyak dari produk makanan dan minuman ini dikemas dengan plastik.

    Ketika sampai kepada limbah plastik, sebagian korporasi besar enggan berpartisipasi mendaur ulang plastik yang mereka hasilkan.

    Sebab, mereka menganggap industri daur ulang memiliki potensi konsumen yang kecil dan keuntungannya tidak besar biar gampang dicerna.

    Baca: Pengembangan energi terbarukan di Indonesia berjalan lamban

    Ditambah lagi, di Indonesia, belum banyak inovasi teknologi daur ulang sampah yang efisien link text.

    Sementara, bagi pelaku UMKM, daur ulang limbah plastik membawa potensi ekonomi yang besar.

    Menurut laporan USAID 2022, para pelaku UMKM di Indonesia justru mendominasi aktivitas pengolahan limbah–tapi kapasitas mereka masih sangat kecil.

    Selama 5 tahun terakhir, PDB industri pengolahan sampah masih jauh tertinggal 100 kali lipat dari industri makanan dan minuman.

    Made with Flourish
    Data tersebut menunjukkan bahwa dengan pertumbuhan dan besarnya skala industri makanan dan minuman, besar pula potensi sampah yang tidak dapat terdaur ulang oleh industri pengolahan limbah yang ada.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem guna ulang

    Kesenjangan kemampuan UMKM vs. industri besar
    Ada kesenjangan antara pelaku UMKM dan korporasi besar dalam mengelola bisnis yang ramah lingkungan.

    Kesenjangan tersebut ada dalam aspek manajemen operasional, sumber daya manusia (SDM), strategi, dan finansial.

    Dalam sisi SDM, para sarjana yang baru lulus lebih memilih berkarir di Fast Moving Consumer Goods (FMCG) atau perusahaan produksi barang konsumsi ketimbang di UMKM daur ulang limbah.

    Akibatnya, di tengah kelangkaah SDM yang terdidik, sulit bagi UMKM untuk meningkatkan produktivitasnya.

    Selain itu, korporasi makanan dan minuman terkemuka menggunakan robot dan kecerdasan buatan untuk mengelola produksi mereka.

    Hal yang sama juga berlaku bagi manajemen finansial dan manajemen strategi mereka.

    Baca: Membangun ekosistem guna ulang

    Sementara, sebagian pengumpul sampah skala kecil di kota-kota besar masih mengandalkan perhitungan manual yang sarat kesalahan.

    Pelaku UMKM dalam industri daur ulang mempunyai modal dan kemampuan terbatas untuk memulai manajemen keuangan berbasis digital dan automasi.

    Pelaku UMKM ini sebenarnya dapat menjadi aktor kunci dalam rantai nilai sampah kemasan.

    Bagi para pebisnis informal pengolahan sampah, pemberdayaan anggota keluarga dan sedikit pembelanjaan modal usaha dapat membantu menekan biaya produksi dan memberikan keuntungan yang optimal dalam memungut dan mengolah limbah sampah.

    Namun, bagi korporasi besar tersebut, mereka akan enggan berkolaborasi jika tidak difasilitasi oleh payung hukum dan insentif aturan yang jelas dari pemerintah kota atau kabupaten dengan kewenangan pengelolaan sampah ada di tangan mereka.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation; Penulis: Albert Hasudungan, Dosen  Universitas Prasetiya Mulya

     

  • Kampanye di Jawa Tengah, Puan Maharani Kenalkan Program 3PM untuk Kembangkan UMKM

    7cloud.asia –  Saat bertemu dengan sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Pusat Layanan Unit Terpadu (PLUT) Kabupaten Semarang pada Jumat (12/1/2024), Puan Maharani mengenalkan 3 M. 

    Setidaknya, ada 60.000 unit usaha yang berada di PLUT yang merupakan UMKM Center Kabupaten Semarang.

    Di lokasi ini, Puan melihat berbagai produk UMKM Kabupaten Semarang. Dari makanan sampai batik. Bahkan Puan ikut menganyam eceng gondok kering menjadi kerajinan di salah satu unit UMKM.

    “Senang sekali diajari menganyam eceng gondok oleh ibu-ibu pengrajin UMKM,” kata Puan dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, di Jakarta, Sabtu (13/1/2024)

    Usai melihat berbagai produk UMKM di PLUT, Puan kemudian sarasehan dengan pelaku UMKM Kabupaten Semarang. Dalam acara dialog itu, ia mengatakan ekonomi Indonesia akan kuat dan naik kelas apabila UMKM-nya sukses.

    Baca: Peran UMKM dalam menahan perubahan iklim

    Puan lantas mengenalkan program 3 PM-nya untuk mengembangkan UMKM. Adapun PM pertama yang dimaksud Puan adalah permodalan.

    Ia menegaskan, urusan permodalan bagi UMKM terus diperjuangkan oleh anggota dewan, baik DPR di pusat maupun DPRD di daerah.

    “Bapak dan Ibu butuh modal kan? Nah PM yang pertama ini Permodalan salah satu yang diperjuangkan oleh anggota dewan ke Pemerintah. Supaya ada bantuan modal untuk UMKM dan makin mudah prosesnya,” jelas Puan.

    PM yang kedua itu pembinaan. Pembinaan ini menjadi aspirasi dari banyak UMKM bahwa setelah mendapat modal perlu tetap mendapat pembinaan seperti pelatihan.

    “Nah makanya saya juga minta Pemda agar banyak dilakukan pembinaan atau pelatihan untuk UMKM agar usahanya makin bagus, makin rapih, makin modern,” tambahnya.

    Baca: UMKM perlu didorong untuk lebih berperan dalam ekonomi hijau

    Kemudian PM ketiga yang dimaksud adalah Pemasaran. Puan menyatakan, pemasaran yang baik dari hasil produksi UMKM menjadi salah satu faktor yang penting untuk kemajuan usaha.

    Kalau sudah dapat modal, sudah dibina, tapi kalau gak ada yang beli barangnya kan sama aja. Bapak Ibu ingin jualannya makin laris manis kan? Jadi soal PM yang ketiga ini juga penting yaitu Pemasaran,” ungkap Puan.

    Puan lantas memberi contoh, salah satu pemasaran terbaik yang dapat dilakukan di era saat ini adalah dengan metode daring. Puan mendorong para pelaku UMKM untuk promosi dan menjual produksinya secara online untuk memperbesar pasar.

    “Sekarang UMKM sudah harus melek digital, sudah harus bisa jualan lewat smartphone-nya. Ini penting menjadi perhatian Pemda. Semoga pelaku UMKM bakery di sini makin laris manis ya usahanya,” sebutnya.

    Baca: Ekonomi hijau ciptakan 19,4 juta lapangan kerja baru

    Dari PLUT Kabupaten Semarang, Puan kemudian mengunjungi sentra batik warna alam yang berada di Malon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

    Bersama para pengrajin, Puan ikut membatik dengan canting yang dilakukan dengan proses warna alami menggunakan tumbuhan seperti daun indigo, mangrove, tingi, kayu tageran, dan kulit kayu secang.

    Sentra Batik Malon merupakan sentra batik satu-satunya yang memanfaatkan limbah mangrove dan propagule kering yang sangat ramah lingkungan. Limbah yang dimanfaatkan ini menghasilkan warna coklat.

    Di sentra batik ini, Puan membeli beberapa produk UMKM. Seperti tas karung goni dari toko De Qipaz Gift and craft yang pembuatan tasnya dengan mesin, namun tetap handmade (menggunakan manual) untuk beberapa bagian seperti pegangan tas dan gambarnya.

    Baca: Manfaat jika beralih ke ekonomi hijau

    Puan juga terlihat meninjau pembuatan payung lukis di unit usaha Bebby Batik Art. Kepada Puan, sang pemilik toko menunjukkan payung yang dilukisnya sendiri. Lukisan di payung itu bercerita tentang kisah Bandung Bondowoso.

    Pada payung lukis tersebut, Bebby sang pemilik toko melukis kisah pembuatan Candi Prambanan dengan canting di media kain selebar 3 meter. Sementara pengerjaan payung ia serahkan kepada pengrajin payung.

    “Batik tulis khas Semarang cakep-cakep,” ucap Puan.

    Para pengrajin Sentra Batik Malon diketahui menerapkan teknik baru, yakni menggabungka teknik batik dengan shibori (teknik ikat).

    Baca: 

    Pengelola Sentra Batik Malon, Marheno mengatakan anggota komunitas di Sentra Batik Malon juga memberi pelatihan ke seluruh Indonesia.

    “Terjauh ke Papua untuk pelatihan batik dengan memanfaatkan limbah mangrove, atau sumber daya alam yang ada di daerah masing-masing. Tujuannya agar mereka tidak ketergantungan dengan bahan baku dari Jawa,” jelas Marheno.

     

  • TransJakarta Sediakan Ruang untuk UMKM di Sejumlah Halte

    TransJakarta Sediakan Ruang untuk UMKM di Sejumlah Halte

    7cloud.asia – PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) mengalokasikan ruangan hingga 30 persen di sejumlah halte untuk gerai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

    Langkah ini sebagai bentuk nyata dukungan PT TransJakarta bagi perkembangan perekonomian khususnya UMKM di DKI Jakarta.

    “UMKM di (beberapa) halte TransJakarta itu sekitar 20-30 persen, ada khusus UMKM dan non UMKM. Semua itu sebagai bagian mendukung perekonomian lewat UMKM,” kata Direktur Pelayanan dan Bisnis TransJakarta, Fadly Hasan kepada pers di Jakarta, Senin (22/1/2024).

    Fadly menjelaskan, TransJakarta juga bekerjasama dengan berbagai lembaga terkait yang melibatkan UMKM di beberapa halte TransJakarta.

    Baca: Penumpang TransJakarta ditargetkan naik jadi 340 juta pada 2024

    Dilansir Antaranews.com, PT TransJakarta juga melayani pelaku UMKM yang tertarik untuk membuka usahanya di halte TransJakarta.

    “Kita juga terbuka di Divisi Komersial TransJakarta, kami akan layani kalau ada ketertarikan untuk mengisi halte. Sehingga masyarakat bisa menikmati fasilitas apa yang ada di halte-halte TransJakarta,” ujar Fadly.

    Ia melanjutkan, TransJakarta selalu berupa memberikan pelayanan yang terbaik kepala pelanggannya.

    Baca: Integrasi transportasi publik di Jakarta

    Salah satu upaya yang ditekankan oleh TransJakarta, kata Fadly, terkait bisnis dan pengoptimalan aset-aset yang ada di TransJakarta dengan berbagai aktivitas.

    Hal tersebut menyangkut optimalisasi tata ruang publik untuk pemberdayaan masyarakat seperti “sharing economy” (berbagi ekonomi), “lifestyle” (gaya hidup) dan “tourism” (pariwisata).

    Fadly mencontohkan Halte CSW, di Bundaran HI, lalu Halte Dukuh Atas memiliki banyak ritel yang dapat dinikmati sambil menunggu TransJakarta ataupun untuk bertemu dengan seseorang.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publiknya

    Ritel tersebut dari skala nasional hingga internasional, mulai dari minimarket, “coffee shop” (kedai kopi), UMKM hingga bisnis.

    Fadly menegaskan, TransJakarta ingin memanfaatkan segala aset yang ada sebagai ekosistem ataupun kehidupan baru yang bisa terkoneksi langsung dengan masyarakat di Jakarta.

    “Contoh kita bisa konser kecil di halte kayak Raisa, ‘fashion show’ batik lokal, ‘launching’ produk, artis-artis konser di halte kita hingga komunitas.

    Baca: Stasiun Tanah Abang akan direnovasi

    Pihak TransJakarta juga dilibatkan penyambutan tahun baru bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI di Bundaran HI.

    “Bisa sambil ngopi, menikmati pemandangan tidak kalah seperti di luar negeri,” kata Fadly.

    Fadly berharap di tahun 2024 TransJakarta bisa terus memperbaiki pelayanan ataupun fasilitas di setiap halte TransJakarta sehingga bisa memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pelanggan setia TransJakarta.

    Baca: Stasiun Manggarai bakal jadi stasiun sentral

    “Pendapatan nontiket atau NFB TransJakarta sebesar Rp120 miliar atau naik dua kali lipat dibandingkan 2022 yaitu Rp61,3 miliar. Lalu skor indeks kepuasan pelanggan 2023 adalah 4,42 dari skala 5,00,” kata Fadly.

    Sebelumnya, Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) Welfizon Yuza menyebutkan jumlah pelanggan TransJakarta selama 2023 naik menjadi 280 juta orang.

    Meningkatnya jumlah penumpang ini menjadi penyemangat Pemprov DKI Jakarta dalam memberikan target pelanggan ke TransJakarta pada 2024 menjadi 340 juta pelanggan.

    Baca: Skybrigde Bojonggede yang sedang ngehit

    Target tersebut merupakan target terbesar yang diterima PT TransJakarta. Adapun kunci untuk mencapai target tersebut, yakni meningkatkan kualitas integrasi TransJakarta.

    Selain itu memperbaiki integrasi ataupun operator integrasi antaroperator berbasis jalan maupun integrasi antarmoda seperti dengan MRT, LRT dan lain sebagainya.

     

  • Kenali Plus-Minus Crowdlending sebagai Alternatif Pembiayaan Bersama untuk UMKM

    Kenali Plus-Minus Crowdlending sebagai Alternatif Pembiayaan Bersama untuk UMKM

    7cloud.asia – Crowdlending atau pembiayaan bersama tengah menjadi tren di industri keuangan belakangan ini, khususnya di negara-negara Asia seperti Singapura dan Indonesia.

    Meski begitu, aspek kepercayaan masih menjadi tantangan besar untuk industri Crowdlending ini agar bisa berkembang.

    Crowdlending sebenarnya hanyalah nama lain dari peer-to-peer lending atau pinjaman online (pinjol), yang kerap mendapat cap negatif karena berbagai permasalahan seperti bunga tinggi dan aktivitas penagihan yang tidak bertanggung jawab, terutama yang diselenggarakan oleh pinjol ilegal.

    Bedanya dari pinjol pada umumnya, crowdlending memungkinkan individu meminjamkan uang kepada peminjam yang tidak dikenal hanya dengan beberapa klik mouse.

    Model ini juga membuka peluang bagi investor untuk menanamkan uangnya ke berbagai kampanye atau usaha mikro dan kecil-menengah (UMKM).

    Platform crowdlending yang ditujukan untuk kepentingan produktif alih-alih konsumtif ini sebenarnya memberikan dampak positif.

    Baca Juga: Klinik Investasi: Gak Ada Uang ya Gak Cuan

    Singapura dan Malaysia, misalnya, memiliki pasar crowdlending yang relatif matang dan teratur dengan platform seperti Funding Societies dan MoneyMatch, yang fokus pada pinjaman UMKM dan beragam produk keuangan.

    Di sisi lain, Indonesia memiliki platform seperti Modalku, Modal Rakyat, dan Akseleran yang menyediakan berbagai pinjaman termasuk syariah.

    Namun, ketika algoritma dan transaksi virtual menggantikan interaksi tatap muka, masalah kepercayaan menjadi krusial.

    Dari sisi investasi, tak mudah untuk mempercayakan uang hasil jerih payah ke platform online karena absennya kehadiran sosial atau fisik.
    Penelitian menunjukkan bahwa kehadiran sosial bisa meningkatkan kepercayaan ketika seseorang melakukan transaksi keuangan, misalnya ketika berbelanja.

    Minimnya kepercayaan berpotensi membuat start-up yang bergerak di industri keuangan mengalami kesulitan dalam mengakuisisi ataupun mendistribusikan dana.

    Misalnya, investor potensial bisa saja merasa khawatir dan tak aman untuk menanamkan uang mereka di start-up crowdlending yang menawarkan platform investasi online sebab perusahaan belum memiliki reputasi yang mapan.

    Baca Juga: Nggak Cuma Korporasi, UMKM Bisa Berperan Besar Atasi Dampak Perubahan Iklim

    Menetapkan kepercayaan antara platform dan penggunanya untuk memastikan pengalaman investasi yang aman dan terpercaya amatlah penting.

    Untuk memahami bagaimana sebenarnya investor membangun kepercayaannya terhadap crowdlending, tim peneliti dari Monash University, Singapore Institute of Technology, dan George Washington University melakukan penelitian dengan menggunakan survei berbasis kuesioner.

    Data dikumpulkan dari partisipan yang sedang berinvestasi atau memiliki pengalaman meminjamkan uang di platform crowdlending di Singapura.

    Membangun kepercayaan di arena crowdlending
    Crowdlending tumbuh pesat di Asia akibat peningkatan akses internet, kekecewaan terhadap perbankan tradisional, dan permintaan kredit yang tinggi dari UMKM dan individu.

    Selain itu, crowdlending memberikan layanan yang lebih cepat dan ringkas dibandingkan dengan perbankan tradisional.

    Platform online inovatif ini memungkinkan peminjam terhubung dengan pemberi pinjaman tanpa perlu perantara fisik tradisional serta menawarkan jalur investasi alternatif yang semakin populer bagi pemilik dana.

    Baca Juga: Benarkah Masyarakat Terjebak Pinjol dan Judi ‘Online’ karena Tak Paham Literasi Keuangan?

    Sama seperti bentuk pinjaman yang lain, crowdlending melibatkan risiko potensial bagi investor seperti peminjam yang gagal bayar.

    Untuk meminimalkan risiko ini, platform selayaknya beroperasi di bawah lisensi dan regulasi resmi oleh otoritas keuangan, untuk di Indonesia misalnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Untuk melihat apa upaya yang dibutuhkan dalam membangun kepercayaan terhadap platform crowdlending yang tengah pesar berkembang ini, kami mengumpulkan jawaban kuisioner dari 232 partisipan.

    Karakteristik sampel menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia antara 26 hingga 35 tahun, dengan latar belakang industri yang beragam, termasuk keuangan dan asuransi, serta aktivitas teknis.

    Kuesioner yang kami susun mencakup tujuh variabel, yakni isyarat pinjaman, manfaat yang dirasakan, mitigasi risiko, isyarat peminjam (aktivitas dan riwayat peminjam), pengaruh sosial, kualitas teknologi yang dirasakan, dan kepercayaan dalam crowdlending.

    Kami menyempurnakan metode pengukurannya dengan berkonsultasi dengan praktisi dari sebuah perusahaan start-up crowdlending di Singapura.

    Baca Juga: Komisi VI DPR: Perdagangan Online di Media Sosial Harus Diatur untuk Lindungi UMKM

    Penelitian ini mendukung hipotesis bahwa isyarat peminjam, mitigasi risiko, dan kualitas yang dirasakan, berpengaruh positif terhadap kepercayaan dalam crowdlending.

    Isyarat pinjaman berkaitan dengan informasi bunga dan tenor pinjaman. Bunga yang tinggi menandakan pinjaman berisiko tinggi.

    Mitigasi risiko adalah langkah antisipasi jika terjadi gagal bayar oleh peminjam. Untuk melindungi investor, platform crowdlending seharusnya mengasuransikan pinjaman agar pokok investasi tetap bisa dikembalikan jika terjadi gagal bayar.

    Sementara, kualitas teknologi platform berkaitan dengan ketersediaan fitur, dukungan dari platform, dan kemudahan fasilitas yang diberikan kepada investor untuk menavigasi platform crowdlending dan melakukan penelusuran mengenai investasi yang sudah mereka lakukan di crowdlending.

    Sebagian besar responden menganggap ketiga faktor tersebut penting: 76% untuk isyarat pinjaman, 95% untuk kualitas teknologi, dan 91% untuk mitigasi risiko.

    Artikel ini telah terbit di The Converstaion, penulis Arif Perdana,
    Associate Professor Digital Strategy and Data Science, Monash University

  • Menkop UKM Teten Masduki Peringatkan Adanya Aplikasi yang Lebih Mematikan UMKM Dibanding TikTok Shop

    Menkop UKM Teten Masduki Peringatkan Adanya Aplikasi yang Lebih Mematikan UMKM Dibanding TikTok Shop

    7cloud.asia – Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki, mengatakan bahwa ada aplikasi digital yang bisa mematikan UMKM Indonesia. Aplikasi itu bernama Temu.

    Dilansir detik.com, Teten mengatakan, dampak dari aplikasi Temu ini terhadap UMKM akan lebih dahsyat dibanding TikTok Shop.

    “Kita, belum lama ini dihadapkan dengan masuknya produk-produk dari China lewat platform digital global dalam negeri,” kata Teten di sela Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (10/6/2024).

    Awalnya dalam agenda Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR, Teten menjelaskan selain pemberdayaan dan akses pembiayaan, pemerintah perlu melindungi UMKM Indonesia dari produk-produk luar jika ingin naik kelas.

    Teten kemudian menjelaskan, bahwa saat ini terdapat satu aplikasi digital yakni Temu yang bisa melakukan perdagangan antarnegara yang mengancam UMKM Indonesia.

    Menurutnya, dampak dari aplikasi ini lebih parah dari TikTok Shop yang beberapa waktu lalu sempat menghebohkan publik.

    “Nah, ini yang saya khawatir ada satu lagi satu aplikasi digital, cross border yang saya kira akan masuk ke kita dan ini lebih dahsyat dari Tiktok (shop),” kata Teten.

    Baca Juga: DPR Apresiasi Langkap Pemerintah Larang Perdagangan di Media Sosial Macam TikTok Shop

    Pasalnya, lanjut Teten, aplikasi itu bisa menghubungkan langsung produk-produk dari pabrik kepada pembeli.

    Hal inilah yang bisa mematikan pelaku UMKM. Sebab, tidak akan ada lagi reseller, afiliator, dan pihak ketiga yang bisa terlibat dalam rantai pasok produk tersebut.

    “Dari ratusan pabrik dia langsung masuk ke konsumen, jadi akan ada berapa banyak lapangan kerja di distribusi akan hilang. Nggak ada lagi itu namanya reseller, afiliator, nggak ada lagi,” tegasnya.

    Teten menambahkan, produknya akan sangat murah karena diproduksi massal, pabrikan, dengan menghadapi UMKM yang diproduksi kecil-kecilnya. Dan tanpa dukungan supply chain seperti industri lain.

    Dari penelusuran 7cloud.asia, aplikasi Temu ini telah tersedia di Google Play.

    Di laman resminya, temu.com tertulis, Temu didirikan pada 2022 di Boston, Massachusetts, AS.

    “Temu adalah perusahaan e-commerce yang menghubungkan konsumen dengan jutaan mitra merchandise, produsen, dan merek dengan misi memberdayakan mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Temu berkomitmen untuk menawarkan produk berkualitas dengan harga terjangkau yang memungkinkan konsumen dan mitra merchandise mewujudkan impian mereka akan lingkungan inklusif,” demikian Temu menjelaskan dirinya di about us.

    Baca Juga: TikTok Shop Resmi Dilarang, Ini Penjelasan Pemerintah

    Ditemui usai RDP, Teten kemudian membongkar identitas aplikasi tersebut. Aplikasi itu disebutnya bernama Temu. Teten menjelaskan bahwa aplikasi itu berasal dari China dan sudah masuk ke total 58 negara.

    Menurut Teten, aplikasi Temu berpotensi berbahaya sebab terhubung langsung dengan 80 pabrik di China. Menurutnya, aplikasi ini lebih berbahaya daripada TikTok Shop.

    “Nah kalau TikTok kan masih mending lah, masih ada reseller, ada afiliator, masih membuka lapangan kerja. Kalau ini kan akan memangkas langsung,” bebernya.

    “Selain harganya lebih murah, juga memangkas banyak lapangan kerja di jalur misalnya distribusi,” sambungnya.

    Teten menjelaskan bahwa kehadiran Temu memang belum dibahas dalam Rapat Terbatas bersama Presiden.

    Meskipun demikian, ia mengaku khawatir meskipun pemerintah sudah mempunyai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2023 yang mengatur mengenai social commerce,

    Saya khawatir, ujarnya, kan dulu juga TikTok melanggar aturan dibiarkan 2 tahun kan oleh pemerintah. Karena itu Tetan mengingatkan, karena keadaan ekonomi UMKM saat ini indeks bisnisnya sedang turun.

    “Karena itu (angka) NPL (Non Performing Loan/Kredit Macet) juga naik. Nah kalau ditambah lagi nanti masuk persaingan produk UMKM dengan produk dari China, pabrikan dari China yang pasti murah. Ya lewat platform global ini, ini sudah pasti berat,” pungkasnya.

    Sumber: detik.com

     

  • Bisa Mematikan UMKM, Pemerintah Diminta Antisipasi Masuknya Aplikasi Temu

    Bisa Mematikan UMKM, Pemerintah Diminta Antisipasi Masuknya Aplikasi Temu


    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira mengingatkan bahwa dengan hadirnya aplikasi Temu dapat mengancam keberadaan UMKM lokal

    Pasalnya kehadiran aplikasi Temu ini hanya akan menjadikan Indonesia hanya sebagai pasar bagi barang-barang impor yang bisa mengancam keberlanjutan UMKM.

    “Indonesia hanya dijadikan pasar, akan banyak pelaku usaha yang terancam gulung tikar dan menciptakan PHK massal terutama di sektor industri pengolahan,” ujar Bhima dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (15/6/2024).

    Kementerian Koperasi dan UKM melalui staf khususnya Fiki Satari juga tegas menolak masuknya aplikasi Temu ke Indonesia.

     

    Baca Juga: Menkop UKM Teten Masduki Peringatkan Adanya Aplikasi yang Lebih Mematikan UMKM Dibanding TikTok Shop

    Menurutnya, semua e-commerce semacam aplikasi Temu masuk tersebut harus sesuai dengan regulasi yang ada.

    “Harus ditolak. Jadi sebenarnya secara regulasi ini sulit untuk beroperasi. Ada PP nomor 29/2002 tentang Larangan Penggabungan KBLI 47,” ucap Fiki.

    Fiki menambahkan, bisa juga yang kita revisi Permendag nomor 31/2023, Pengawasan Pelaku Usaha Sistem Elektronik, ada cross border langsung jadi tidak boleh.

    Untuk diketahui, aplikasi Temu adalah platform global cross-border yang berasal dari China. Aplikasi Temu menggunakan metode penjualan Factory to Consumer (penjualan langsung dari pabrik ke konsumen).

    Baca Juga: Kenali Plus-Minus Crowdlending sebagai Alternatif Pembiayaan Bersama untuk UMKM

    Metode tersebut dinilai bisa berdampak buruk pada UMKM dan lapangan pekerjaan di Indonesia. Saat ini Temu telah penetrasi ke 58 negara.

    Sebelumnya, Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki menyampaikan kekhawatiran akan masuknya aplikasi lokapasar baru yang dapat menghubungkan langsung antara pabrik di China langsung ke konsumen Indonesia.

    “Ini yang saya khawatir, ada satu lagi aplikasi digital cross-border yang saya kira akan masuk ke kita, dan lebih dahsyat daripada TikTok, karena ini menghubungkan factory direct kepada konsumen,” ujar Teten di Jakarta, Senin (10/6/2024).

    Teten menyebutkan aplikasi bernama Temu ini berasal dari China dan sudah masuk ke 58 negara.

    Baca Juga: Bagaimana UMKM Bisa Didorong untuk Terlibat dalam Menahan Laju Perubahan Iklim

    Menurutnya, aplikasi tersebut terhubung dengan 80 pabrik di China dan produknya bisa langsung diterima oleh seluruh konsumen di dunia.

    Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, nilai ekonomi digital UMKM dapat mencapai Rp4.531 triliun pada 2030, mengingat potensi peningkatan akses pasar yang lebih luas dalam ekosistem digital.

    Teten mengingatkan, kehadiran aplikasi ini harus jadi perhatian. Terlebih, keadaan ekonomi UMKM saat ini indeks bisnisnya sedang turun.

    “Karena itu (angka) NPL (Non Performing Loan/Kredit Macet) juga naik. Nah kalau ditambah lagi nanti masuk persaingan produk UMKM dengan produk dari China, pabrikan dari China yang pasti murah. Ya lewat platform global ini, ini sudah pasti berat,” pungkasnya.

    Sumber:Antaranews.com