Tag: UNEP

  • UNEP: Penerapan Ekonomi Sirkular Hasilkan Keuntungan Bersih hingga 108,5 Miliar Dolar per Tahun

    UNEP: Penerapan Ekonomi Sirkular Hasilkan Keuntungan Bersih hingga 108,5 Miliar Dolar per Tahun

    7cloud.asia – Dengan jumlah sampah kota yang diperkirakan akan meningkat hingga dua pertiga dan biayanya akan meningkat hampir dua kali lipat dalam satu generasi, butuh pengurangan drastis timbulan sampah guna menjamin masa depan yang layak untuk ditinggali dan terjangkau.

    Demikian hasil laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) yang diluncurkan pada sesi keenam Majelis Lingkungan Hidup PBB (UNEA-6), pada akhir Februari 2024 di kantor pusat UNEP di Nairobi, Kenya.

    Berjudul “Melampaui Usia Sampah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya,” UNEP Global Waste Management Outlook 2024 (GWMO 2024) memberikan pembaruan paling substansial mengenai timbulan sampah global dan biaya sampah serta pengelolaannya sejak tahun 2018.

    Analisis ini menggunakan penilaian siklus untuk mengeksplorasi keuntungan atau kerugian yang dapat diperoleh dunia dengan tiga skenario berbeda,

    Tiga skenario itu adalah melanjutkan bisnis seperti biasa, mengambil tindakan setengah-setengah, atau berkomitmen penuh terhadap masyarakat nihil sampah dan ekonomi sirkular.

    Menurut laporan tersebut, timbulan sampah padat perkotaan diperkirakan akan meningkat dari 2,3 miliar ton pada tahun 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada tahun 2050.

    Pada tahun 2020, biaya langsung global dari pengelolaan sampah diperkirakan mencapai 252 miliar dolar.

    Namun, jika memperhitungkan biaya tersembunyi berupa polusi, kesehatan yang buruk, dan perubahan iklim akibat praktik pembuangan limbah yang buruk, biayanya meningkat menjadi 361 miliar dolar.

    Tanpa tindakan segera dalam pengelolaan sampah, pada tahun 2050 biaya tahunan global ini bisa mencapai dua kali lipat hingga mencapai 640,3 miliar dolar.

    “Timbulnya sampah secara intrinsik terkait dengan PDB, dan banyak negara dengan pertumbuhan pesat mengalami kesulitan menghadapi beban pertumbuhan sampah yang pesat,“ ujar Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen,

    Laporan itu mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti menuju masa depan yang lebih berwawasan luas dan menekankan peran penting para pengambil keputusan di sektor publik dan swasta untuk bergerak menuju zero waste.

    ”Global Waste Management Outlook ini dapat mendukung upaya pemerintah dalam mencegah hilangnya peluang untuk menciptakan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan untuk mengamankan planet yang layak huni untuk generasi mendatang,” imbuh Inge.

    GWMO 2024 merupakan panduan dan seruan aksi untuk mengkatalisasi upaya kolektif guna mendukung solusi yang berani dan transformatif, membalikkan dampak buruk dari praktik pengelolaan limbah saat ini, dan memberikan manfaat nyata bagi setiap individu yang hidup di planet ini.

    Presiden ISWA, Carlos Silva Filho mengatakan, Sebagai mitra dan pendukung GWMO sejak awal, ISWA akan memastikan bahwa GWMO kini disebarluaskan dan diterapkan di lapangan dengan memberikan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi tantangan yang da.

    Pemodelan yang dibuat dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian sampah melalui tindakan pencegahan dan pengelolaan sampah dapat membatasi biaya tahunan bersih pada tahun 2050 menjadi 270,2 miliar dolar.

    Namun, proyeksi menunjukkan bahwa model ekonomi sirkular, di mana timbulan sampah dan pertumbuhan ekonomi dipisahkan dengan penerapan penghindaran sampah, praktik bisnis berkelanjutan, dan pengelolaan sampah secara menyeluruh, ternyata dapat menghasilkan keuntungan bersih hingga 108,5 miliar dolar per tahun.

    “Temuan-temuan dalam laporan ini menunjukkan bahwa dunia perlu segera beralih ke pendekatan nihil limbah, sekaligus meningkatkan pengelolaan limbah untuk mencegah polusi yang signifikan, emisi gas rumah kaca, dan dampak negatif terhadap kesehatan manusia.

    Polusi dari limbah tidak mengenal batas negara, sehingga setiap orang mempunyai kepentingan untuk berkomitmen terhadap pencegahan limbah dan berinvestasi dalam pengelolaan limbah jika terdapat kekurangan.

    ”Solusi sudah tersedia. Yang dibutuhkan saat ini adalah kepemimpinan yang kuat untuk menetapkan arah dan langkah yang diperlukan, dan untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal,” kata Zoë Lenkiewicz, penulis utama laporan tersebut.

  • UNEP Dorong Segera Terwujudnya Perjanjian Pembatasan Plastik Global

    UNEP Dorong Segera Terwujudnya Perjanjian Pembatasan Plastik Global

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Badan Lingkungan PBB (UNEP), Inger Andersen melihat ada tekad yang kuat dari seluruh negara-negara di dunia untuk mewujudkan perjanjian plastik global.

    Berbicara di pertemuan tahunan World Economic Forum, di Davos, Inge mengatakan dibutuhkan dorongan politik dan diplomasi intensif yang melibatkan semua pemangku kepentingan untuk meletakkan dasar bagi keberhasilan di INC 5.2.

    ”Dunia usaha telah terlibat sejak awal dan terus memainkan peran penting, begitu pula lembaga swadaya masyarakat dan kelompok lainnya. Bisnis telah menyerukan aturan global,” ujarnya seperti dikutip dari laman resmi UNEP, unep.org.

    Dalam kesempatan itu, Inge mengatakan masyarakat dunia sudah tahu apa yang harus dilakukan.

    Dunia, ujarnya, membutuhkan memiliki teks yang mempromosikan, mendorong, dan memastikan pengurangan produksi plastik sekali pakai dan berumur pendek.

    Baca: Sampah plastik dibahas di World Economic Forum

    Negara-negara di dunia, menurutnya harus bersama-sama merumuskan kebijakan tentang tanggung jawab produsen yang diperluas dan menetapkan target daur ulang sampah plastik.

    ”Kita perlu berpikir inovatif mengenai bahan kimia yang mengkhawatirkan, mengambil inspirasi dari perjanjian yang ada yang melindungi Bumi dari bahan kimia berbahaya,” tandasnya.

    Inge juga menyerukan kepada negara-negara di dunia perlunya memastikan bahwa daur ulang mekanis yang tidak terkontaminasi oleh bahan kimia berbahaya.

    Hal ini khususnya berlaku pada lokasi di mana daur ulang mekanis dilakukan dengan teknologi dasar—seringkali pada tingkat UKM yang lebih kecil.

    Kita perlu merancang produk untuk diisi ulang, digunakan kembali, dibongkar, dan didaur ulang. Meningkatkan transparansi, keterlacakan, dan pengungkapan.

    Baca: Perjalanan panjang wujudkan Perjanjian Plastik Global

    Inge mengajak para pemodal dan pemerintah di seluruh dunia untuk berinvestasilah dalam pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.

    Ditegaskannya ada banyak hal yang harus dilakukan terkait masalah plastik ini, seperti pembersihan plastik warisan, menyiapkan pendanaan dan membatasi produksi.

    ”Saya menghimbau para negosiator untuk fokus pada tiga elemen yang perlu dikerjakan terkait polusi plastik ini,” ujarnya.

    Diakui adanya perbedaan pandangan soal produksi dan penanganan limbah plastik. Tetapi dunia harus bersatu, guna memastikan bahwa perjanjian menghilangkan polusi plastik (termasuk di lingkungan laut), benar-benar terwujud.

    Dunia telah sepakat untuk mengakhiri polusi plastik, karena itu UNEP mengajak semua aktor terkait melakukan bagiannya untuk memenuhi komitmen mengakhiri polusi plastik.

  • Laporan Tahunan UNEP Sebut Masalah Utama Lingkungan Belum Terurai

    Laporan Tahunan UNEP Sebut Masalah Utama Lingkungan Belum Terurai

    7cloud.asia – Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP), Selasa (18/2/2025) merilis Laporan Tahunan dan menyerukan peningkatan dramatis dalam ambisi dan tindakan untuk lingkungan hidup.

    Laporan Tahunan 2024 UNEP merinci upaya organisasi selama setahun terakhir untuk menyediakan ilmu pengetahuan dan solusi guna mengatasi tantangan lingkungan yang terus meningkat.

    UNEP juga menyelenggarakan dan mendukung perjanjian dan negosiasi lingkungan multilateral, untuk menyelaraskan pendanaan dengan proses global, dan untuk mendukung Negara Anggota dalam memenuhi komitmen.

    Masyarakat dunia menyaksikan serangkaian negosiasi lingkungan penting yang berlangsung sepanjang tahun 2024.

    Sebut saja Sidang Umum Lingkungan Hidup PBB keenam (UNEA-6) di Kenya, Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP16) di Kolombia, Konferensi Iklim PBB (COP29) di Azerbaijan.

    Juga sesi kelima negosiasi tentang instrumen internasional yang mengikat secara hukum mengenai polusi plastik di Korea Selatan, dan COP Penggurunan PBB (COP16) di Arab Saudi.

    Baca: Uni Eropa dorong pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 90 persen pada 2040

    Meskipun masing-masing pertemuan ini menghasilkan kemajuan signifikan di beberapa bidang, beberapa isu utama terkait lingkungan masih belum terselesaikan, terutama terkait pengurangan emisi gas rumah kaca.

    Laporan UNEP menyoroti perlunya dunia untuk bekerja sama lebih erat lagi dan dengan tekad lebih kuat, untuk memastikan kesepakatan dan implementasi langkah-langkah yang akan membawa planet Bumi yang lebih berkelanjutan dan adil.

    Tahun lalu, laporan UNEP memberikan pengetahuan terbaru tentang isu-isu mendesak yang menjadi perhatian lingkungan global.

    Merenungkan tahun lalu dan menatap tahun 2025, Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, mengatakan bahwa multilateralisme lingkungan terkadang berantakan dan terkadang sulit ditangani.

    ”Namun, bahkan di masa geopolitik yang kompleks, kolaborasi lintas batas dan perbedaan adalah satu-satunya pilihan untuk melindungi fondasi keberadaan manusia – Planet Bumi.” ujarnya seperti dilansir di laman resmiunep.org.

    Inger menyerukan peningkatan dramatis dalam ambisi pengurangan emisi gas rumah kaca dan tindakan nyata di tahun 2025.

    Baca: Dokumen pengurangan emisi gas rumah kaca dunia

    Negara-negara harus berjanji dan memberikan pengurangan besar terhadap emisi gas rumah kaca dalam putaran Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (NDC) berikutnya, yang akan jatuh tempo pada bulan Februari 2025.

    ”Mereka harus mulai memberikan pendanaan yang diperlukan untuk adaptasi iklim dan untuk tindakan penggurunan dan keanekaragaman hayati. Dan mereka harus bekerja sama untuk menyepakati instrumen yang kuat guna mengakhiri polusi plastik sebelum UNEA-7 pada bulan Desember,” tambahnya.

    Laporan Kesenjangan Emisi tahunan memperingatkan bahwa negara-negara harus menutup kesenjangan emisi yang besar dalam janji iklim baru dan melakukan tindakan segera atau kehilangan tujuan Perjanjian Paris untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C pada tahun 2100.

    Laporan Kesenjangan Adaptasi UNEP 2024 menemukan bahwa meskipun aliran dana adaptasi publik internasional ke negara-negara berkembang meningkat dari 6 miliar dolar antara tahun 2021 dan 2022, masih terdapat kesenjangan besar antara kebutuhan dana adaptasi dan pendanaan publik internasional yang tersedia saat ini untuk adaptasi.

    Di Gaza, penilaian lingkungan awal oleh UNEP menemukan bahwa konflik telah menyebabkan tingkat polusi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan limbah, puing-puing, dan amunisi beracun yang mencemari tanah, air, dan udara.

    Baca: Emisi gas rumah kaca global terus meningkat

    Laporan tersebut mencatat bahwa degradasi lingkungan berisiko menimbulkan kerusakan tak terelakkan pada ekosistem alam Gaza.

    UNEP juga menyediakan data penting untuk mendukung negara dan perusahaan saat mereka bertindak mengatasi emisi metana.

    Sistem Peringatan dan Respons Metana, bagian dari Observatorium Emisi Metana Internasional UNEP – sistem data satelit dan pembelajaran mesin yang mengidentifikasi kebocoran metana besar – telah mengirimkan lebih dari 1.000 notifikasi ke pemerintah dan perusahaan selama dua tahun terakhir.

    Peringatan itu berhasil menutup kebocoran besar di Aljazair dan Nigeria, mencegah pelepasan gas rumah kaca yang setara dengan produksi 1 juta mobil dalam setahun.

    Pada tahun 2025, UNEP akan memobilisasi pendanaan yang signifikan dalam pembiayaan bersama dari para mitra, yang memungkinkan negara-negara untuk berfokus pada mobilitas listrik, efisiensi energi, energi terbarukan, dan bangunan rendah emisi.

    Prakarsa ini diharapkan memberi manfaat bagi lebih dari 17 juta orang dan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga hampir 300 juta ton, yang setara dengan menghilangkan 65 juta mobil dari jalan raya.

  • UNEP: Emisi dari Sektor Konstruksi untuk Pertama Kalinya Berhenti Meningkat Sejak 2020

    UNEP: Emisi dari Sektor Konstruksi untuk Pertama Kalinya Berhenti Meningkat Sejak 2020

    7cloud.asia – Kabar baik dibagikan oleh Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Progamme/UNEP) yakni semakin banyak negara berupaya untuk melakukan dekarbonisasi bangunan.

    Namun dalam laporan yang dirilis di laman resmi unep.org pada pertengahan Maret lalu, UNEP mengingatkan bahwa kemajuan dan pendanaan yang lamban membahayakan tujuan iklim global.

    Data ini merupakan temuan utama dari tinjauan tahunan sektor bangunan dan konstruksi, yang diterbitkan UNEP dan Aliansi Global untuk Bangunan dan Konstruksi (GlobalABC).

    Laporan Status Global untuk Bangunan dan Konstruksi 2024-2025 itu bukan sekadar menyoroti penggunaan batu bata untuk dinding.

    Laporan itu juga menyoroti kemajuan yang dibuat pada tujuan iklim global terkait dan menyerukan ambisi yang lebih besar pada enam tantangan, termasuk kode energi bangunan, energi terbarukan, dan pendanaan.

    Termasuk juga Kerangka kerja dan inisiatif global seperti Dewan Antarpemerintah untuk Bangunan dan Iklim, Terobosan Bangunan, dan Deklarasi de Chaillot mempertahankan momentum menuju penerapan rencana aksi iklim yang ambisius.

    Baca: Deklarasi de Chaillot menjadi upaya sektor konstruksi untuk lebih ramah lingkungan

    Tak ketinggalan Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (NDC), untuk bangunan dengan emisi nol bersih menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Belem, Brasil.

    Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen mengatakan bangunan tempat manusia bekerja, berbelanja, dan tinggal menyumbang sepertiga emisi global dan sepertiga limbah global.

    “Kabar baiknya adalah tindakan pemerintah berhasil. Namun, kita harus berbuat lebih banyak dan melakukannya lebih cepat. Saya mendorong semua negara untuk memasukkan rencana untuk memangkas emisi dari bangunan dan konstruksi dengan cepat dalam NDC baru mereka.” ujarnya.

    Meninjau kemajuan sejak Perjanjian Paris ditanda-tangani pada tahun 2015, laporan tersebut menemukan bahwa tahun 2023 adalah tahun pertama ketika pertumbuhan konstruksi bangunan yang berkelanjutan dipisahkan dari emisi gas rumah kaca sektor terkait

    Dengan mengadopsi kode energi bangunan wajib yang selaras dengan emisi nol bersih, standar kinerja wajib, dan memanfaatkan investasi efisiensi energi, intensitas energi sektor tersebut telah berkurang hampir 10 persen.

    Sementara pangsa energi terbarukan dalam permintaan energi final telah meningkat hampir 5 persen.

    Baca: Sektor konstruksi menyumbang sekaligus menjadi solusi perubahan iklim

    Langkah-langkah tambahan seperti praktik konstruksi sirkular, sewa hijau, perombakan bangunan lama yang hemat energi, dan memprioritaskan penggunaan bahan rendah karbon dapat lebih mengurangi konsumsi energi, meningkatkan pengelolaan limbah, dan mengurangi emisi secara keseluruhan.

    Meskipun ada sejumlah kemajuan, sektor konstruksi tetap menjadi pendorong utama krisis iklim, dengan mengonsumsi 32 persen energi global dan berkontribusi terhadap 34 persen emisi CO2 global.

    Sektor konstruksi bergantung pada bahan-bahan seperti semen dan baja yang bertanggung jawab atas 18 persen emisi global dan merupakan sumber utama limbah konstruksi.

    Mengingat hampir setengah dari bangunan di dunia yang akan ada pada tahun 2050 belum dibangun, penerapan kode bangunan energi yang ambisius sangat penting.

    Namun, data menunjukkan penurunan baru-baru ini dalam langkah-langkah yang sangat efektif seperti pemasangan pompa panas dan lebih dari 50 persen ruang lantai yang baru dibangun di negara-negara ekonomi berkembang dan baru muncul masih belum tercakup oleh kode bangunan.

    Laporan tersebut menetapkan tantangan bagi negara-negara penghasil karbon utama untuk mengadopsi kode energi bangunan nol-karbon pada tahun 2028, yang akan diikuti oleh semua negara lain paling lambat tahun 2035.

    Baca: Tantangan menerapkan infrastruktur ramah lingkungan dalam perencanaan kota

    Kode bangunan dan mengintegrasikan rencana reformasi kode bangunan dalam pengajuan NDC yang sedang berlangsung sangat penting untuk mencapai Ikrar Energi Terbarukan dan Efisiensi Energi Global COP28.

    Terakhir, semua negara, lembaga keuangan, dan bisnis perlu bekerja sama untuk menggandakan investasi efisiensi energi bangunan global dari 270 miliar dolar AS menjadi 522 miliar dolar pada tahun 2030.

    Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas dan praktik ekonomi sirkular –termasuk masa pakai bangunan yang lebih lama, efisiensi dan penggunaan kembali material yang lebih baik, daur ulang, desain pasif, dan pengelolaan limbah– disebut sebagai kunci untuk membantu menjembatani kesenjangan dalam pembiayaan.

    Sementara program pengembangan tenaga kerja sangat penting untuk mengisi kesenjangan keterampilan di sektor konstruksi ini.

    UNEP, anggota GlobalABC, dan mitra lainnya akan terus mendukung negara-negara dan bisnis untuk melakukan dekarbonisasi pada bangunan baru dan lama serta seluruh rantai nilai bangunan, termasuk menggunakan data ini untuk mendukung NDC yang ambisius menjelang COP30.

  • Inisiatif UNEP untuk Mendorong Industri Fesyen dan Tekstil yang Lebih Ramah Lingkungan

    Inisiatif UNEP untuk Mendorong Industri Fesyen dan Tekstil yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Sektor fesyen dan tekstil bukan hanya tentang gaya; sektor ini adalah garda terdepan dalam menghadapi tiga krisis planet yaitu perubahan iklim, hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

    Fesyen dan tekstil juga memiliki kepentingan budaya dan ekonomi yang sangat besar, menyediakan mata pencaharian dan rasa identitas bagi jutaan orang.

    Namun, pada saat yang sama fesyen dan industri tekstil menimbulkan risiko bagi pekerja dan lingkungan dalam setiap tahap siklus hidupnya. Karena itu, Program Lingkungan PBB (UN Environment Programme/UNEP) memberi perhatian khusus pada sektor fesyen dan tekstil.

    Inisiatif Tekstil UNEP memberikan kepemimpinan strategis dan mendorong kolaborasi di seluruh sektor untuk mempercepat transisi yang adil menuju rantai nilai tekstil yang berkelanjutan dan sirkular.

    Pekerjaan UNEP meliputi dukungan dan informasi kepada pemerintah, seperti melalui Dialog Kebijakan Tekstil Global, membantu industri, khususnya UKM di negara-negara berkembang, dalam beralih ke model bisnis sirkular

    UNEP juga meningkatkan penggunaan standar industri untuk sirkularitas, menghilangkan bahan kimia berbahaya, sambil mengadopsi pendekatan siklus hidup dan mengatasi kelebihan produksi dan konsumsi berlebihan untuk mendefinisikan ulang model ekonomi industri fesyen.

    Yang mendasari semua ini adalah dukungan untuk pengambilan keputusan berbasis bukti melalui laporan kepemimpinan pemikirannya.

    Mendukung kebijakan
    UNEP berupaya untuk memulai perubahan kebijakan terpadu menuju keberlanjutan dan sirkularitas.

    UNEP mendukung para pembuat kebijakan dalam pengambilan keputusan mereka dengan memetakan kebijakan, mengembangkan rekomendasi, dan menyediakan cetak biru kebijakan, lembar fakta, dan analisis tentang topik-topik tertentu seperti perdagangan tekstil bekas.

    UNEP juga berkontribusi pada koordinasi kebijakan global melalui kerja samanya dengan para pembuat kebijakan dalam ‘Tindakan kebijakan terhadap tekstil – Rangkaian dialog yang difasilitasi oleh UNEP’.

    Menangani bahan kimia berbahaya
    UNEP berupaya untuk menghapus bahan kimia yang menjadi perhatian yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

    Harapannya, sektor fesyen dan tekstil secara luas dapat berkontribusi pada target industri di bawah Kerangka Kerja Global tentang Bahan Kimia.

    UNEP mendukung upaya global dan di dalam negeri, termasuk di Kamboja, Indonesia, Trinidad & Tobago, dan Vietnam, untuk mengurangi penggunaan dan pelepasan bahan kimia yang mengkhawatirkan di seluruh rantai pasokan, termasuk Polutan Organik Persisten (POP) oleh UKM dalam fase pemrosesan basah.

    Mendukung UKM
    UNEP mendorong norma dan praktik industri menuju keberlanjutan. Transisi menuju sirkularitas akan mengharuskan semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama, dan UKM sangat penting untuk transisi ini.

    Di tingkat global, UNEP mendukung industri mode dan tekstil dengan menciptakan pengetahuan bersama dan mengubah wacana global dengan mitra strategis, termasuk melalui penyediaan alat untuk menginformasikan pengambilan keputusan.

    UNEP juga mendukung UKM tertentu di negara-negara berkembang termasuk India, india, Kenya, Afrika Selatan, Tunisia, dan Vietnam, serta di tingkat regional (seperti melalui West Asia Sustainable Fashion Academy) untuk menerapkan pendekatan siklus hidup.

    Misalnya, untuk menghitung jejak lingkungan produk fesyen dan tekstil, mengidentifikasi dan menangani bahan kimia berbahaya dalam produksi, dan beralih ke model bisnis sirkular.

    Menangani tekstil bekas
    Tekstil bekas harus dialihkan dari tempat pembuangan akhir dan pembakaran yang dapat dihindari, dan dikelola secara bertanggung jawab untuk memastikan produk tekstil tetap berada dalam sistem sirkular.

    UNEP berupaya mengidentifikasi prioritas utama dalam reformasi perdagangan dan kebijakan untuk meningkatkan sirkularitas tekstil bekas.

    UNEP juga mengembangkan pedoman global untuk menentukan kesesuaian produk perdagangan sebagai ‘tekstil bekas’ dan kriteria untuk membedakan antara tekstil bekas dan limbah tekstil.

  • UNEP: Minimnya Pengolahan Air Limbah Memicu Masalah Serius pada Lingkungan dan Kesehatan

    UNEP: Minimnya Pengolahan Air Limbah Memicu Masalah Serius pada Lingkungan dan Kesehatan

    7cloud.asia – Laporan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyebut, kurang dari 5 persen air limbah di banyak negara berkembang diolah sebelum mencapai lingkungan.

    Minimnya pengolahan air limbah ini berpotensi memicu krisis kesehatan, merusak ekosistem, dan merusak pembangunan berkelanjutan.

    Dengan 42 persen air limbah rumah tangga yang tidak diolah secara global, miliaran orang menghadapi risiko kesehatan yang semakin meningkat akibat polusi air, menurut laporan gabungan UNESCO dan UN-Water.

    Di banyak negara Afrika, risikonya bahkan lebih tinggi, karena lebih dari 90 persen air limbah dibuang tanpa diolah ke sungai, danau, dan lautan, menurut laporan oleh kelompok Bank Pembangunan Afrika.

    Dampaknya sangat parah di negara-negara berpenghasilan rendah, seperti penyakit yang ditularkan melalui air, resistensi antimikroba, sistem pangan yang tidak berkelanjutan, dan penggunaan kembali air yang tidak aman masih tersebar luas.

    Baca: Mayoritas sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar

    Di saat dilakukan upaya untuk memperluas infrastruktur pengolahan air limbah terus berlanjut, semakin banyak negara yang menyadari bahwa data air limbah yang lebih baik dapat mengisi kesenjangan pengetahuan yang penting dalam kesehatan masyarakat dan pemantauan lingkungan.

    Dilansir unep.org, kesadaran ini membantu para pembuat keputusan menanggapi ancaman dengan lebih cepat dan dengan cara yang lebih tepat sasaran dan hemat biaya.

    Inisiatif Pengawasan Air Limbah untuk Afrika (WWS) UNEP pun berupaya menyatukan negara-negara di kawasan tersebut untuk memajukan sistem yang hemat biaya dan dapat diskalakan untuk pemantauan dan analisis air limbah.

    Sistem ini dapat mendeteksi patogen dan penanda lainnya, menawarkan wawasan peringatan dini untuk pencegahan dan pengendalian penyakit, dan mendeteksi peningkatan risiko dan ancaman terhadap kesehatan manusia dan ekosistem.

    “Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan pemangku kepentingan yang relevan di negara-negara Afrika,” kata Heidi Savelli-Soderberg, Kepala Unit Sumber Polusi Laut UNEP.

    Baca: Warga diimbau tak lagi buang sampah ke sungai

    “Ini akan menyediakan ruang bagi mereka untuk berbagi pengalaman tentang pengawasan air limbah dan lingkungan, dan untuk saling belajar tentang cara mengubah data menjadi tindakan.”

    Inisiatif Pengawasan Air Limbah untuk Afrika, yang diluncurkan pada tahun 2024, bertujuan untuk memperkuat sistem pengawasan air limbah dan lingkungan di seluruh wilayah Afrika.

    Inisiatif ini sekaligus membekali negara-negara Afrika dengan kapasitas teknis dan manusia untuk menggunakan sistem ini guna melindungi kesehatan lingkungan dan publik.

    Pada awal April lalu, perwakilan lembaga pemerintah, ilmuwan, dan mitra dari 16 negara Afrika berkumpul di Afrika Selatan tentang Pengawasan Air Limbah untuk Kesehatan Lingkungan dan Publik di Johannesburg,

    Lokakarya yang diselenggarakan UNEP, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC) ini untuk mengidentifikasi prioritas peta jalan pengelolaan air limbah dan membangun sinergi antar sektor. 

    Baca: Polusi mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan

    Peserta lokakarya berbagi pengetahuan dan praktik terbaik dari kawasan tersebut, dan mengidentifikasi kebutuhan kapasitas untuk meningkatkan upaya pengawasan air limbah di negara mereka.

    Peta jalan yang diadopsi, penilaian kapasitas, dan umpan balik dari pemerintah yang berpartisipasi akan menginformasikan langkah selanjutnya di seluruh kawasan.

    Ini akan diarahkan untuk meningkatkan solusi yang ditargetkan, memperkuat kerangka kerja kelembagaan, dan memobilisasi investasi untuk pengawasan air limbah dan pengelolaan air limbah berkelanjutan di Afrika.

    Lokakarya ini merupakan bagian dari Prakarsa 30 bulan UNEP, “Pengawasan Air Limbah untuk Afrika” (WWS), yang didanai oleh Otoritas Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Kesehatan (HERA) Uni Eropa.

  • Upaya Terakhir Dunia untuk Hentikan Polusi Plastik

    Upaya Terakhir Dunia untuk Hentikan Polusi Plastik

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) Inger Andersen mengingatkan negara-negara di dunia untuk segera merumuskan kesepakatan untuk membatasi produksi plastik.

    Berbicara di pertemuan tingkat menteri Intergovernmental Negotiating Committee (INC) on Plastic Pollution Ministerial pada Kamis (1/5/2025) di Genewa, Inger mengingatkan dunia ada janji yang harus ditepati, yakni mewujudkan instrumen yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.

    Kebocoran plastik ke lingkungan diperkirakan akan meningkat 50 persen pada tahun 2040. Biaya kerusakan akibat polusi plastik diperkirakan akan meningkat hingga mencapai 281 triliun dolar AS antara tahun 2016 dan 2040.

    “Kita berbicara tentang hilangnya pendapatan dari pariwisata, pantai yang perlu dibersihkan, sungai yang tercemar, nelayan yang semakin banyak menangkap botol dan tas plastik,” tandasnya.

    Inger menambahkan. ilmu pengetahuan baru tentang risiko kesehatan dari polusi plastik terus bermunculan – khususnya tentang mikroplastik. Namun, para ilmuwan belum tahu persis apa dampak dan yang dilakukan mikroplastik ini terhadap tubuh manusia.

    Tetapi kita tahu bahwa mereka tidak seharusnya berada di sana. Dan, seiring dengan meningkatnya risiko kesehatan, demikian pula risiko bagi bisnis.

    Konsumen, pemegang saham, dan pasar mulai bergerak. Konsumen akan terus memilih dengan dolar, euro, dan shilling mereka. Pasar akan bergerak lebih cepat.

    Dia menegaskan, perusahaan yang berpegang pada model lama akan tertinggal. Dan,
    solusi untuk gelombang polusi plastik ini sudah di depan mata.

    Setelah dua tahun negosiasi mengenai instrumen untuk mengakhiri polusi plastik, yang dimulai oleh resolusi UNEA 5/14, masyarakat dunia mendekati apa yang diharapkan akan menjadi akhir yang pasti dari proses ini – dimulainya kembali sesi kelima Komite Negosiasi Antarpemerintah, atau INC-5.2.

    “Namun, negosiasi tidak pernah mudah. ​​Setiap negara hadir dengan posisi mereka, berdasarkan konteks nasional. Bagi sebagian negara, pertimbangan terpenting adalah menghentikan plastik agar tidak terdampar di pantai mereka. Yang lain lebih peduli tentang apa arti instrumen tersebut bagi industri mereka,” tandasnya

    Perbedaan tidak dapat dihindari. Bersatu dalam titik temu mengharuskan semua orang untuk bergerak sebanyak yang mereka bisa.

    Namun, lanjutnya, dunia masih dapat mengamankan perjanjian untuk selamanya, yang mengambil pendekatan siklus hidup penuh untuk melindungi kesehatan manusia, planet, dan ekonomi dari polusi plastik.

    Bagian pertama INC-5 di Busan, Republik Korea, telah membawa dunia maju. Sejumlah titik temu telah dicapai di seluruh teks. Akan tetapi, tidak ada satu pun dalam Teks Ketua yang disetujui hingga semuanya disetujui.

    Inger menyebut tiga area memerlukan kerja keras, yaitu zat aditif dalam produk plastik, produksi dan konsumsi berkelanjutan serta pembiayaan, termasuk mekanisme keuangan dan penyelarasan arus keuangan.

    Masyarakat dunia memiliki waktu 96 hari sebelum pembicaraan dilanjutkan di Jenewa. Dunia, ujarnya, harus berusaha untuk menutup kesenjangan antara posisi di ketiga area ini menjelang INC 5.2, alih-alih menunda semua kerja keras hingga Agustus.

    Para anggota melanjutkan pekerjaan antarsesi yang penting, termasuk pertemuan Kepala Delegasi yang akan datang.

    Untuk maju, lanjut Inger, masyarakat dunia perlu mempercepat dorongan politik dan diplomatik dalam tiga bulan ke depan, dengan melibatkan semua pemangku kepentingan. Dia menegaskan, bahwa setiap hari sangat berarti.

    Inger mengingatkan kepada para menteri yang hadir bahwa undangan UNEP untuk datang ke INC 5.2 guna membantu menyelesaikan pokok-pokok negosiasi yang rumit.

    “Jadi, kita dapat memastikan bahwa perjanjian ini mengarah pada penghapusan polusi plastik, termasuk di lingkungan laut, dan memicu transisi yang adil bagi semua, termasuk para pemulung,” pungkasnya.

  • Butuh Pelatihan Green Skill untuk Menahan Gelombang Polusi Plastik

    Butuh Pelatihan Green Skill untuk Menahan Gelombang Polusi Plastik

    7cloud.asia – Para ahli telah lama mengetahui resep untuk mengakhiri krisis polusi plastik yang membahayakan kehidupan dan lingkungan di planet Bumi.

    Dunia, kata mereka, harus menyebarluaskan praktek baik yang dikenal sebagai ekonomi sirkular atau sirkularitas, yang berfokus pada perpanjangan umur produk plastik dan menjauhkan polusi plastik dari lingkungan.

    Masalahnya, banyak perusahaan yang membuat dan menggunakan plastik tidak dapat menemukan pekerja dengan pengetahuan teknis untuk membuat operasi mereka lebih sirkular.

    “Di wilayah ini dan banyak wilayah lainnya, kurikulum akademis sering kali tertinggal dengan krisis lingkungan, termasuk polusi plastik,” kata Juan Bello, Direktur dan Perwakilan Kantor Regional untuk Amerika Latin dan Karibia Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    UNEP telah menjalin kemitraan dengan jaringan universitas regional untuk membekali siswa dengan sejumlah keterampilan hijau, termasuk yang terkait dengan sirkularitas.

    UNEP baru-baru ini berbincang dengan Bello tentang perjanjian tersebut dan mengapa mahasiswa pascasarjana saat ini menjadi pemain kunci dalam kampanye global melawan polusi plastik.

    Baca: UNEP ingatkan pentingnya Perjanjian Pembatasan Plastik Global

    Berikut petikan wawancaranya, sebagaimana 7cloud.asia kutip dari unep.org.

    Mengapa penting untuk membangun ekonomi yang lebih sirkular untuk plastik?

    Juan Bello (JB): Jawaban singkatnya adalah Bumi sedang dibanjiri oleh polusi plastik. Menurut salah satu perkiraan terkemuka, manusia menghasilkan 400 juta ton sampah plastik pada tahun 2024.

    Sebagian besar plastik itu berakhir di lingkungan – dari ladang petani hingga sungai. Plastik ini merusak ekosistem dan berada di tubuh kita, dengan dampak pada kesejahteraan kita yang belum sepenuhnya kita pahami.

    Model yang lebih sirkular akan membantu produk plastik bertahan lebih lama, dan membuatnya lebih mudah didaur ulang dan digunakan kembali, sehingga mencegahnya berakhir sebagai polusi.

    Apakah lulusan universitas dan perguruan tinggi teknik saat ini tahu banyak tentang sirkularitas?

    JB: Kaum muda lebih sadar dari sebelumnya tentang tekanan lingkungan yang dihadapi planet ini dan potensi bahaya polusi plastik.

    Baca: Butuh perubahan sistem agar ekonomi sirkular dapat diadopsi secara global

    Namun, di Amerika Latin dan Karibia – dan saya menduga wilayah lain – banyak yang tidak mendapatkan instruksi akademis yang mereka butuhkan untuk membantu mengatasi masalah tersebut, setidaknya secara sistemik.

    Bagaimana hal itu memengaruhi transisi ke ekonomi sirkular untuk plastik?

    JB: Itu memperlambatnya. Dukungan politik, bisnis, dan publik terhadap sirkularitas di kawasan ini semakin meningkat. Namun, beberapa solusi teknis yang dibutuhkan untuk transisi ini membutuhkan karyawan yang sangat terampil.

    Misalnya, bagaimana Anda mengubah komposisi plastik agar lebih mudah didaur ulang? Atau bagaimana Anda menciptakan alternatif plastik yang ramah lingkungan dan tetap tahan lama? Orang-orang yang dapat melakukan hal-hal tersebut tidak tumbuh di pohon.

    Kemitraan UNEP dengan ARIUSA merupakan hasil langsung dari Pakta Pekerjaan Hijau untuk Pemuda, sebuah dorongan PBB untuk menciptakan 1 juta pekerjaan yang disebut ramah lingkungan.

    Ini sekaligus juga membuat 1 juta pekerjaan yang sudah ada menjadi lebih ramah lingkungan.

    Pakta tersebut baru-baru ini didukung oleh menteri lingkungan dari Amerika Latin dan Karibia.

    Baca: Jalan panjang menuju lahirnya Perjanjian Pembatasan Plastik Global

  • UNEP Dorong Pembangunan Hutan Kota di Seluruh Dunia

    UNEP Dorong Pembangunan Hutan Kota di Seluruh Dunia

    7cloud.asia – Hutan kota di Toronto telah diakui oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation Environment Programme/UNEP) sebagai model bagi kota-kota lain yang ingin memulihkan ruang alami mereka.

    “Seperti di banyak tempat lain, ekstraksi sumber daya pada awalnya mendominasi,” kata Mirey Atallah, Kepala Cabang Adaptasi dan Ketahanan di Divisi Perubahan Iklim UNEP.

    Hutan kota tak hanya menyediakan jasa lingkungan yang bernilai jutaan dolar, tapi juga menyediakan kesempatan spiritual untuk rekreasi dan kesejahteraan bagi warga kota.

    Itulah sebabnya UNEP melaksanakan proyek untuk membantu kota-kota di seluruh dunia menghargai, memulihkan, dan melindungi ekosistem, termasuk dengan mengintegrasikannya ke dalam proses perencanaan dan pembangunan.

    Dalam artikel ini akan diulas bagaimana pemerintah kota Toronto sukses mengubah lahan rusak menjadi hutan kota yang hijau.

    Adanya kerangka hukum dan peraturan menjadi landasan kuat suksesnya pembangunan hutan kota di Toronto ini.

    Baca: Menjaga hutan yang tersisa di benua Eropa

    Aturan ini mencerminkan bagaimana para pemimpin provinsi dan kota menyadari bahwa kesehatan dan ketahanan kota, termasuk kapasitasnya untuk memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim, bergantung pada alam.

    Menurut pemerintah kota Toronto, jurang dan hutan kota yang telah direstorasi menyediakan jasa ekosistem senilai ratusan juta dolar per tahun dengan menawarkan kesempatan rekreasi, menghilangkan polusi, dan menghemat energi.

    “Membingkainya seperti itu adalah cara Anda mendapatkan dukungan politik,” kata Wendy Strickland, titik fokus Toronto untuk proyek Restorasi Generasi dan manajer strategi jurang kota.

    “Bagi sebagian orang, alam hanyalah ‘kenikmatan’, tetapi ketahanan sangat penting bagi kota.” imbuhnya.

    Kerangka hukum Toronto juga mencakup strategi ketahanan dan keanekaragaman hayati, serta rencana pengelolaan hutan.

    Peraturan daerah melindungi pohon-pohon di jalan dan mewajibkan penanaman, dan standar kinerja berkelanjutan dengan menawarkan insentif bagi pengembang untuk melampaui persyaratan hukum.

    Baca: Kisah sukses perhutanan sosial di Desa Wawowae, NTT

    Misalnya, pemerintah kota memprioritaskan area yang kurang terlayani dengan tutupan pohon yang rendah untuk upaya penanaman pohonnya dan mendorong warga untuk membantu memeliharanya.

    Pemerintah kota Toronto juga membantu komunitas tersebut mengakses jurang dengan, misalnya, mensubsidi acara-acara pribadi dan menyediakan penerjemahan untuk wisata alam berpemandu.

    Pemerintah kota juga menawarkan kesempatan menjadi sukarelawan dan insentif untuk penanaman pohon di lahan pribadi. Berdasarkan rencana rekonsiliasi, pemerintah kota juga memanfaatkan keterampilan pengelolaan lahan Masyarakat Adat.

    Misalnya, pihak berwenang belajar dari anggota masyarakat Adat saat mereka melakukan pembakaran terkendali tradisional untuk memulihkan ekosistem sabana di High Park kota, kata pejabat pemerintah kota.

    Untuk berbagi pengalaman dan berkolaborasi dalam mencari solusi, perwakilan Toronto mengadakan lokakarya dengan kota-kota lain di dunia, termasuk dari Douala di Kamerun, Quezon City di Filipina, dan Sirajganj di Bangladesh.

    Baca: Amazon, hutan tropis terluas di dunia

    Strickland mengatakan Toronto mendapatkan manfaat dari pertukaran ini, mengutip diskusi dengan seorang pejabat dari kota Manaus di Brasil tentang cara menjaga agar pohon-pohon jalan yang baru ditanam tetap terairi.

    “Kota-kota percontohan ini melakukan beberapa pemikiran yang sangat inovatif,” ujarnya.

    “Ini jelas bukan satu arah dan pelajaran yang kita semua pelajari dapat membantu kita menjadikan alam sebagai bagian integral dari kota-kota berkelanjutan di masa depan.”

    Kota-kota panutan lainnya dalam proyek Restorasi Generasi termasuk Montreal, kota terbesar kedua di Kanada, dan Glasgow di Skotlandia.

    Montreal sedang melaksanakan rencana kerangka pembangunan 2020–2030 yang berfokus pada iklim, alam, dan olahraga.

    Rencana-rencana ini mendorong kegiatan restorasi, termasuk penanaman pohon, penghijauan kembali tepi sungai, mengubah halaman rumput kota menjadi padang rumput yang dipenuhi satwa liar.

    Baca: Pengembangan hutan kota di kawasan industri

    Rencana ini juga meliputi perluasan pertanian perkotaan (urban farming) untuk meningkatkan produksi pangan di kota.

    Montreal bertujuan menanam 500.000 pohon di bawah rencana iklim 2020–2030 yang melibatkan warga dan kelompok masyarakat dalam berbagai bentuk restorasi.

    Upaya ini meliputi penghijauan kembali tepi sungai, mengubah halaman rumput kota menjadi padang rumput perkotaan yang kaya keanekaragaman hayati, dan memperluas pertanian perkotaan.

    Di Glasgow, penekanan pada keterlibatan masyarakat, termasuk melalui sekolah, bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan yang lebih besar terhadap ruang hijau kota

    Upaya ini antara lain dengan melakukan kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon, serta lebih banyak kesempatan untuk kegiatan luar ruangan.

  • Sistem Pangan Global Hadapi Tiga Hambatan Utama, Ini yang Harus Dilakukan

    Sistem Pangan Global Hadapi Tiga Hambatan Utama, Ini yang Harus Dilakukan

    7cloud.asia – Laporan berjudul “Membuka Transisi Berkelanjutan untuk Agribisnis” yang diterbitkan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Chatham House baru-baru ini menyoroti tiga hambatan utama yang dihadapi sistem pangan global.

    Sistem itu adalah paradigma pangan yang lebih murah, konsolidasi pasar, dan ketergantungan jalur investasi. Ketiganya harus diatasi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

    Wakil Direktur Divisi Ekosistem di UNEP, Doreen Robinson mengatakan sistem pangan global saat ini ditopang oleh subsidi, pajak, dan regulasi yang dibentuk oleh hambatan pertama, yakni paradigma pangan yang lebih murah.

    Daren menegaskan, paradigma ini harus diubah karena terbukti berdampak buruk pada lingkungan.

    ”Pangan harus murah untuk diproduksi dan dibeli, meskipun mahal bagi lingkungan dan kesehatan manusia dalam jangka panjang (misalnya melalui konsumsi berlebihan dan peningkatan limbah),” terang Daren seperti dilansir di unep.org.

    Baca: Pertanian regeneratif dilirik untuk amankan pasokan pangan dunia

    Daren menyebut, ada kebutuhan mendesak untuk mereformasi standar dan perpajakan di sektor pangan agar mencerminkan biaya lingkungan dan kesehatan jangka panjang.

    Hal ini membutuhkan pengalihan subsidi yang merugikan, peningkatan investasi dalam penelitian dan pengembangan publik, persyaratan transparansi, dan insentif untuk melindungi tanah yang sehat, mengurangi emisi, dan beralih ke pola makan yang lebih sehat.

    Laporan UNEP ini menyebut, paradigma pangan murah selanjutnya berkontribusi pada hambatan lainnya, yakni konsentrasi pasar di mana sektor swasta dapat resisten terhadap perubahan, persaingan, atau inovasi yang mengganggu dan membatasi agensi dan pendapatan petani.

    Kunci ketiga adalah ketergantungan jalur investasi, yang mencerminkan tren yang telah terbentuk selama 80 tahun terakhir.

    Ketergantungan ini berfokus pada peningkatan efisiensi dan penjualan, sekaligus meningkatkan ketergantungan petani pada benih, agrokimia, dan platform digital yang dikendalikan oleh perusahaan besar.

    Baca: Perubahan iklim mengancam produksi pangan global

    Sayangnya, semua ini menimbulkan biaya yang signifikan terhadap lingkungan dan tujuan pembangunan berkelanjutan lainnya.

    Karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk mereformasi standar dan perpajakan agar mencerminkan biaya lingkungan dan kesehatan jangka panjang.

    Hal ini membutuhkan pengalihan subsidi yang merugikan, peningkatan investasi dalam penelitian dan pengembangan publik, persyaratan transparansi, dan insentif untuk melindungi tanah yang sehat, mengurangi emisi, dan beralih ke pola makan yang lebih sehat.

    Daren menambahkan, tindakan konsumen dapat mempercepat pergeseran ke sistem pangan yang lebih berkelanjutan ini.

    Semakin banyak inisiatif yang dipimpin warga negara meningkatkan pengawasan terhadap praktik agribisnis dan keputusan investor, mendorong pengurangan emisi berbahaya, polusi tanah dan air, serta peningkatan nilai gizi pangan.

    Baca: Paradigma pangan harus murah menghambat transisi sistem pangan yang berkelanjutan

    Hal ini akan menghasilkan mesin pertanian dan produksi kimia yang kurang bergantung pada bahan bakar fosil; Pangan bersumber dari lanskap yang beragam alih-alih monokultur;

    Pengolahan daging dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar melalui produk berkualitas tinggi, berdampak rendah, dan bernilai kesejahteraan tinggi, serta alternatif daging nabati atau daging budidaya.

    Secara keseluruhan, sistem pangan dapat menjadi kurang intensif input dan teknologi, serta lebih beragam dan intensif pengetahuan.

    UNEP berkomitmen untuk mendukung evolusi pertanian menjadi kekuatan pelindung bagi manusia, hewan, dan ekosistem yang sehat.