Tag: unicef

  • UNICEF: Pengeboman Terparah di Gaza Selatan Tewaskan Banyak Anak

    UNICEF: Pengeboman Terparah di Gaza Selatan Tewaskan Banyak Anak

    ruangkota – Gaza selatan saat ini menghadapi “pengeboman terparah” sejak agresi Israel 7 Oktober, kata juru bicara badan PBB untuk urusan anak-anak (UNICEF) James Elder, pada Minggu (3/12).

    “Ini pengeboman perang terparah saat ini di Gaza selatan. Saya melihat begitu banyak korban anak-anak,” kata Elder di X.

    Dia menambahkan: “Kami mendapatkan peringatan terakhir untuk menyelamatkan anak-anak di Gaza; serta suara hati nurani kami.”

    Baca: Banyak bukti untuk seret Presiden Israel ke Mahkamah Internasional

    Dalam pesan video terpisah, Elder mengaku telah “kehabisan cara” untuk menggambarkan kengerian yang dihadapi anak-anak di Jalur Gaza.

    “Saya merasa seperti hampir gagal dalam kapasitas untuk menyampaikan tentang pembantaian terhadap anak-anak yang tiada henti di sini,” katanya.

    Pasukan Israel kembali membombardir Jalur Gaza pada Jumat pagi setelah jeda kemanusiaan selama sepekan dinyatakan berakhir.

    Baca: Gencatan senjata Hamas dan Israel berakhir hari ini

    Sedikitnya 509 warga Palestina tewas dan 1.316 lainnya terluka akibat serangan udara Israel sejak Jumat, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

    Israel terus menerus meluncurkan serangan udara dan darat di Jalur Gaza menyusul serangan lintas batas oleh kelompok perlawanan Palestina Hamas pada 7 Oktober.

    Sejak saat itu lebih dari 15.500 warga Palestina, mayoritas anak-anak dan perempuan, tewas.

    Sementara itu, korban tewas di pihak Israel mencapai 1.200 orang.

    Sumber: Antaranews

  • UNICEF: Anak-anak di Jalur Gaza Kena Dampak Serius Akibat Perang Israel

    UNICEF: Anak-anak di Jalur Gaza Kena Dampak Serius Akibat Perang Israel

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Badan PBB untuk Anak-anak (UNICEF), Catherine Russell, kembali memperingatkan komunitas internasional tentang dampak perang Israel yang serius terhadap anak-anak di Jalur Gaza.

    Ia mengatakan bahwa anak-anak di Gaza menderita malnutrisi akut dan berada di ambang kematian.

    Melalui akun media sosial X miliknya, Russell, mengaku terkejut atas laporan sehari sebelumnya yang menyebutkan sekitar 10 anak meninggal akibat malnutrisi di Gaza.

    “Hal baru yang mengerikan di Gaza bahwa hingga kini sedikitnya sepuluh anak meninggal karena kekurangan gizi dan dehidrasi, sementara masih banyak anak lainnya yang berada di ambang kematian”, tulisnya.

    Baca: Genosida di Jalur Gaza akan terus berlanjut jika tak ada gencatan senjata

    Dia menambahkan bahwa 1 dari 6 anak di bawah usia dua tahun di Gaza utara mengalami malnutrisi akut.

    Russell menyerukan “gencatan senjata sekarang”, dengan alasan bahwa “setiap menit berarti” bagi anak-anak di Gaza yang menghadapi malnutrisi “mematikan”.

    Menurutnya, keterlambatan satu menit dalam mengakses makanan, air, perawatan medis dan perlindungan dari peluru dan bom Israel bagi anak-anak Palestina di Gaza akan menimbulkan imbas yang mengerikan.

    Baca: Lebih dari 17 ribu anak hidup tanpa pendamping

    “Semua ini tak mungkin terjadi tanpa adanya gencatan senjata kemanusiaan di Gaza,” kata ketua UNICEF tersebut yang juga pernah menyebut Gaza sebagai “tempat paling berbahaya di dunia bagi anak-anak.”

    Para pejabat UNICEF telah mengeluarkan banyak peringatan sejak awal perang Israel di Gaza yang telah membunuh sebagian besar anak-anak dan perempuan.

    Salah satu pejabat UNICEF baru-baru ini mengatakan bahwa anak-anak di Gaza berkali-kali terpaksa menghindari pemboman Israel selama beberapa bulan terakhir dan mereka hanya makan sehari sehari.

    Sumber: IRNA-OANA

  • Sukses Turunkan Angka Stunting dengan Sanitasi Layak, Program WASH UNICEF Akan Dibahas di World Water Forum

    Sukses Turunkan Angka Stunting dengan Sanitasi Layak, Program WASH UNICEF Akan Dibahas di World Water Forum

    7cloud.asia – Program Air, Sanitasi dan Kebersihan (WASH) oleh Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) di Nusa Tenggara Barat, akan dibahas di World Water Forum ke-10.

    World Water Forum ke-10 akan diselenggarakan di Bali, pada 18-25 Mei 2024.

    “Program WASH menjadi salah satu agenda yang akan dibahas di World Water Forum ke-10, misalnya bagaimana komitmen para pemerintah negara untuk mendorong kerja sama mengatasi masalah air dan juga sanitasi,” ujar Spesialis WASH UNICEF Indonesia, Muhammad Zainal, Jumat (3/5/2024).

     

    Dilansir di laman resmi UNICEF, program WASH dilatarbelakangi dampak dari air, sanitasi dan kebersihan yang tidak aman pada anak bisa berakibat fatal.

    Lebih dari 700 anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap hari karena penyakit diare karena kurangnya layanan WASH yang memadai.

    Di wilayah konflik, anak-anak mempunyai kemungkinan 20 kali lebih besar untuk meninggal akibat penyakit diare dibandingkan akibat konflik itu sendiri.

    Baca Juga: Kasus Stunting Masih Tinggi, Pemprov DKI Jakarta Juga Diminta Benahi Sanitasi dan Layanan Air Bersih

    Zainal mengatakan layanan WASH pada fasilitas kesehatan dan sanitasi di unit pendidikan, yang selama ini berlangsung di NTB, sejalan dengan topik yang akan dibahas dalam World Water Forum Bali.

    Program WASH untuk mendukung sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) di sejumlah kabupaten di Provinsi NTB telah dimulai sejak 2017.

    Program WASH ditujukan untuk percepatan open defecation free, atau yang dikenal sebagai program bebas buang air sembarangan (BABS).

    Zainal menilai perkembangan pencapaian di NTB cukup bagus, terlebih dengan komitmen kuat para pemerintah daerah untuk mencapai target tujuan pembangunan berkelanjutan.

    Menyangkut target sanitasi, menurut dia, NTB ingin memastikan semua orang memiliki akses terhadap sanitasi yang layak.

    “NTB merupakan provinsi kedua di Indonesia yang berhasil mencapai ODF, open defecation free, atau BABS, Stop Buang Air Besar Sembarangan,” kata dia.

    Baca Juga: Sebanyak 621 Orang Meninggal Akibat DBD, Terbanyak di Bandung

    Zainal mengatakan target layanan WASH tidak hanya sekedar sanitasi layak, melainkan juga mewujudkan sanitasi aman.

    Karena itu, upaya yang diusung program tersebut –selain soal penggunaan jamban– juga mencakup upaya bagaimana tinja dapat diolah dengan aman dan tidak mencemari lingkungan sebelum dibuang ke lingkungan.

    UNICEF melihat dampak pada anak-anak, yakni menurunnya angka stunting (tengkes) secara signifikan di Sumbawa Barat.

    Sumbawa Barat, kata dia, menjadi kabupaten yang angka tengkesnya paling rendah di NTB.

    Berdasarkan hasil survei status gizi Indonesia (SSGI), angka tengkes Sumbawa Barat menurun dari 2019 sebesar 33,40 persen menjadi 10,5 persen pada 2023.

    “Kami mengharapkan bahwa program sanitasi ini akan berkontribusi langsung terhadap penurunan angka penyakit yang berbasis lingkungan pada anak-anak,” kata dia.

    Selain itu, UNICEF bersama Baznas dan pemerintah daerah NTB meninjau perkembangan advokasi pembangunan jamban dan tangki septik untuk para mustahik di Desa Kotaraja, Kabupaten Lombok Timur.

     

     

  • UNICEF: Serangan Israel yang Menewaskan 24 Anak Mengkhawatirkan

    UNICEF: Serangan Israel yang Menewaskan 24 Anak Mengkhawatirkan

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), Catherine Russel menyatakan kekhawatirannya atas kekerasan yang meningkat di Israel dan Lebanon.

    Kekhawatiran ini menyusul serangan yang menewaskan sedikitnya 24 anak di Lebanon selatan pada Senin (23/09/2024).

    “Saya sangat khawatir dengan meningkatnya serangan di Lebanon dan Israel, yang pada hari ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 24 anak di Lebanon selatan,” katanya.

    Dia menekankan bahwa meningkatnya kekerasan merupakan “eskalasi yang berbahaya” bagi warga sipil di wilayah tersebut.

    Baca: Akibat serangan Israel sejak Oktober 2023, 15 ribu anak Palestina tewas

    Menurut Russel, anak-anak di Lebanon dan Israel mengalami trauma psikologis berat akibat serangan udara dan pengungsian.

    Dia mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk mematuhi hukum kemanusiaan internasional yang melindungi warga sipil, infrastruktur, pekerja kemanusiaan, dan personel medis.

    Israel melancarkan serangan-serangan udara ke Lebanon selatan dan timur.

    Menurut otoritas kesehatan Lebanon, aksi militer Israel tersebut telah menewaskan sedikitnya 492 orang, termasuk 35 anak-anak, dan 1.645 lainnya terluka sejak Senin pagi.

    Baca: UNRWA kutuk pembantaian anak-anak Palestina oleh Zionis

    Ribuan warga sipil juga terpaksa harus meninggalkan rumah mereka. Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, dan Israel telah terlibat dalam konflik sejak Israel melancarkan agresi ke Jalur Gaza, Palestina.

    Israel mengintensifkan serangan mereka di Lebanon meski komunitas internasional memperingatkan bahwa tindakan itu akan memperluas konflik di Gaza ke wilayah lain.

    Sumber: Anadolu

  • Israel Blokade Bantuan, Kondisi Anak-anak di Jalur Gaza Kian Memburuk

    Israel Blokade Bantuan, Kondisi Anak-anak di Jalur Gaza Kian Memburuk

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), Catherine Russell, pada Jumat (2/5) menyuarakan keprihatinan serius atas memburuknya kondisi anak-anak di Jalur Gaza di tengah blokade bantuan yang terus diberlakukan oleh Israel.

    “Selama dua bulan terakhir, anak-anak di Jalur Gaza menghadapi gempuran tanpa henti, dan kehilangan akses terhadap kebutuhan pokok, layanan dasar, dan perawatan yang menyelamatkan nyawa,” kata Russell.

    “Setiap hari berlalu di tengah blokade bantuan, membuat mereka semakin terancam kelaparan, penyakit, dan kematian — tak ada yang bisa membenarkan ini,” katanya melanjutkan.

    Baca: Israel blokir vaksin polio, 600 ribu anak terancam

    Russell menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi keluarga-keluarga di Gaza, mulai dari lahan pertanian yang hancur, terbatasnya akses ke laut, hingga kelangkaan pangan dan air bersih.

    “Toko roti tutup, produksi air menurun, dan rak-rak pasar nyaris kosong. Bantuan kemanusiaan selama ini menjadi satu-satunya harapan hidup bagi anak-anak, dan kini stoknya hampir habis,” ujarnya.

    Menurut badan PBB tersebut, lebih dari 75 persen rumah tangga di Gaza melaporkan penurunan akses terhadap air bersih.

    “Mereka tidak memiliki cukup air untuk diminum, tidak bisa mencuci tangan saat dibutuhkan, dan sering kali dipaksa memilih antara mandi, membersihkan rumah, atau memasak,” kata Russell.

    Baca: Israel tangkap lebih dari 360 tenaga kesehatan

    UNICEF juga memperingatkan tentang penyebaran penyakit secara cepat dan meningkatnya angka malnutrisi, terutama pada anak-anak di bawah usia lima tahun.

    “Vaksin semakin menipis dan penyakit mulai menyebar — terutama diare akut berair, yang kini menyumbang 1 dari setiap 4 kasus penyakit yang tercatat di Gaza. Sebagian besar penderitanya adalah anak-anak di bawah lima tahun, yang berisiko tinggi kehilangan nyawa,” jelasnya.

    “Kasus malnutrisi juga meningkat. Sejak awal tahun, lebih dari 9.000 anak telah dirawat karena malnutrisi akut,” tambah Russell.

    Kepala UNICEF itu kembali mendesak agar blokade bantuan Israel dihentikan dan akses kemanusiaan dipulihkan.

    “Kami kembali menyerukan agar blokade bantuan dihentikan, agar barang-barang komersial diizinkan masuk ke Gaza, agar para sandera dibebaskan, dan agar semua anak mendapat perlindungan,” tegasnya.

    Baca: Israel melarang bantuan makanan, warga di Gaza terancam

    Sejak 2 Maret, Israel menutup seluruh perlintasan menuju Gaza, menghalangi masuknya pasokan penting ke wilayah tersebut, meskipun berbagai laporan telah menyebutkan adanya bencana kelaparan.

    Militer Israel kembali melancarkan serangan ke Gaza pada 18 Maret, mematahkan kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang telah tercapai dengan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada 19 Januari lalu.

    Sejak Oktober 2023, lebih dari 52.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel di wilayah tersebut.

    Sumber: Anadolu/Antaranews

  • Hampir 9300 Anak Balita di Gaza Alami Malnutrisi Akut

    Hampir 9300 Anak Balita di Gaza Alami Malnutrisi Akut

    7cloud.asia – UNICEF pada Sabtu (29/11/2025) melaporkan bahwa hampir 9.300 anak di bawah usia 5 tahun (balita) di Gaza didiagnosis menderita malnutrisi akut parah pada Oktober.

    “Tingkat malnutrisi yang tinggi terus membahayakan nyawa dan kesejahteraan anak-anak di Jalur Gaza, diperparah dengan datangnya cuaca musim dingin yang mempercepat penyebaran penyakit dan meningkatkan risiko kematian di antara anak-anak yang paling rentan,” kata badan PBB tersebut dalam sebuah pernyataan di situs webnya.

    Badan tersebut menyayangkan masih terhambatnya sejumlah besar pasokan musim dingin di perbatasan Gaza dan menyerukan pengiriman bantuan kemanusiaan yang aman, cepat, dan tanpa hambatan ke wilayah tersebut.

    Baca: Sebanyak 70 Ribu Orang Tewas Akibat Perang di Jalur Gaza

    “Saat cuaca musim dingin tiba, ribuan keluarga pengungsi tetap berada di tempat penampungan sementara tanpa pakaian hangat, selimut, atau perlindungan dari cuaca, sementara hujan deras telah menghanyutkan sampah dan limbah melalui banjir dan masuk ke daerah pemukiman,” tambah badan tersebut.

    Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell mengatakan bahwa “meskipun ada kemajuan, ribuan anak di bawah usia lima tahun masih mengalami malnutrisi akut di Gaza, sementara banyak lagi yang tidak memiliki tempat berlindung, sanitasi, dan perlindungan yang layak terhadap musim dingin,” demikian pernyataan tersebut.

    Russell juga menyerukan pembukaan semua penyeberangan ke Jalur Gaza, dengan prosedur izin yang disederhanakan dan dipercepat serta prioritas yang jelas untuk masuknya pasokan kemanusiaan melalui semua rute pasokan yang memungkinkan, termasuk melalui Mesir, Israel, Yordania, dan Tepi Barat.

    Baca: Serangan Israel ke Gaza Berlanjut Usai Gencatan Senjata

    Peringatan tersebut disampaikan mengingat meski gencatan senjata disepakati, dan mulai berlaku pada Oktober, Gaza tetap menghadapi tekanan kemanusiaan yang semakin meningkat.

    Kantor media pemerintah mengatakan pada Rabu bahwa badai musim dingin baru-baru ini merusak sekitar 22.000 tenda yang melindungi keluarga-keluarga yang mengungsi dan menyebabkan lebih dari 288.000 rumah tangga tanpa perlindungan dari dingin dan hujan.

    Pihak berwenang di Gaza memperkirakan wilayah tersebut membutuhkan sekitar 300.000 tenda dan unit rumah prefabrikasi untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal paling dasar bagi warga Palestina, setelah Israel menghancurkan infrastruktur sipil selama dua tahun perang.

    Sejak Oktober 2023, tentara Israel telah menewaskan hampir 70.000 orang di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 170.900 lainnya dalam perang yang berlangsung lebih dari dua tahun dan menghancurkan sebagian besar wilayah kantong tersebut.

    Sumber: Antaranews/Anadolu