Tag: unrwa

  • Sekjen PBB Tunjuk Kelompok Independen untuk Evaluasi Netralitas UNRWA di Gaza

    7cloud.asia – Sebuah kelompok peninjau independen yang dipimpin mantan Menteri Luar Negeri Prancis Chatherine Colonna akan melakukan penilaian terhadap badan pengungsi PBB untuk Palestina UNRWA mulai Senin (5/2/2024).

    Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, langkah ini diambil setelah Israel menuduh beberapa staf UNRWA terlibat dalam serangan militan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.

    Dalam melakukan penilaian terhadap UNRWA, Colonna akan bekerja sama dengan Institut Raoul Wallenberg di Swedia, Institut Chr. Michelsen di Norwegia, dan Institut Hak Asasi Manusia Denmark.

    Baca: 80 persen warga Gaza terusir dari rumahnya akibat perang

    Ia akan menyerahkan laporan awal kajian terhadap UNRWA ini pada akhir Maret dan laporan akhir pada akhir April, yang kemudian akan dipublikasikan.

    Guterres mengatakan, peninjauan independen oleh pihak luar terhadap UNRWa itu akan dilakukan bersamaan dengan penyelidikan yang kini sedang dilakukan oleh Kantor Layanan Pengawasan Internal PBB.

    “Kerja sama dengan pihak berwenang Israel, yang melemparkan tuduhan-tuduhan ini, sangat penting demi keberhasilan penyelidikan ini,” kata Guterres dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan Palestina yang merdeka dan berdaulat?

    Sementara penyelidikan berjalan, UNRWA tetap berupaya menjalankan tugasnya membantu para pengungsi Palestina 

    Komisioner Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan di X bahwa ia menemui menteri luar negeri Uni Emirat Arab pada hari Senin untuk membahas kinerja UNRWA.

    UNRWA tetap berupaya “menjaga stabilitas di kawasan” dan menyalurkan bantuan ke dua juta penduduk Gaza.

    Baca: Keputusan Mahkamah Internasional diharapkan hentikan impunitas untuk Israel

    Juru Bicara UNRWA Juliette Touma dikutip VOA Indonesia mengatakan  Lazzarini juga akan mengunjungi Qatar dan Kuwait pekan ini.

    Sebanyak 15 negara donor UNRWA yang paling penting, termasuk Amerika Serikat, telah menangguhkan pendanaan bagi badan PBB tersebut setelah Israel menuduh 12 dari 13.000 staf UNRWA terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober.

    UNRWA memperingatkan pekan lalu bahwa mereka mungkin harus terpaksa menghentikan operasinya pada akhir Februari apabila pendanaan masih terhenti.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Guterres mengatakan sebelumnya bahwa sembilan staf UNRWA yang diduga terlibat telah dipecat, satu tewas dan identitas dua lainnya masih dipastikan.

    UNRWA punya peran besar dalam membantu pengungsi Palestina selama perang Israel-Hamas.

  • UNRWA: 80.000 Warga Palestina Tinggalkan Rafah Sejak Invasi israel

    UNRWA: 80.000 Warga Palestina Tinggalkan Rafah Sejak Invasi israel

    7cloud.asia – Badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina, UNRWA, Kamis (9/5/2024) mengatakan bahwa sekitar 80 ribu orang telah mengungsi dari Rafah sejak Israel meningkatkan operasinya pada Senin (6/5/2024).

    “Apa yang dialami keluarga-keluarga ini tidak tertahankan. Tidak ada tempat yang aman,” tulis UNRWA di X.

    Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, Kamis (9/5/2024) mengatakan bahwa militer Israel “akan terus memerangi Hamas hingga kehancurannya.”

    Pernyataannya disampaikan sehari setelah Presiden AS Joe Biden mengatakan AS tidak akan memberikan senjata ofensif kepada Israel untuk digunakan di Rafah, sambil menyatakan komitmen terhadap pertahanan Israel.

    Baca Juga: Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    Langkah itu diambil setelah para pejabat AS berpekan-pekan menyatakan tentangan terhadap rencana Israel melakukan ofensif di Rafah.

    Sementara itu para pejabat Israel mengatakan perlunya melakukan operasi di kota itu untuk mencapai target mengalahkan Hamas dan memastikan pembebasan para sandera yang ditawan di Gaza.

    Para saksi mata melaporkan Israel hari Kamis (9/5/2024) menggempur Rafah, sementara militer Israel melaporkan pihaknya menyerang posisi-posisi Hamas di Gaza Tengah.

    Para pejabat PBB menyatakan kekhawatiran mengenai pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk bahan bakar, di tengah-tengah serangan Israel di kawasan Rafah.

    Baca Juga: 12 Relawan MER-C Masih Terjebak di Rafah Saat Israel Lancarkan Serangan

    Rafah adalah penyeberangan utama untuk membawa masuk bantuan dari Mesir, sementara penyeberangan di dekatnya, Kerem Shalom, memungkinkan pengiriman bantuan itu dari Israel ke Gaza Selatan.

    Militer Israel, Rabu (8/5/2024) mengatakan telah membuka kembali pos penyeberangan Kerem Shalom.

    Namun, PBB mengatakan belum ada bantuan kemanusiaan yang sudah masuk wilayah Palestina karena tak seorang pun yang hadir untuk menerimanya. Para pekerja meninggalkan daerah itu sebelumnya karena serangan Israel di dekatnya.

    Penyeberangan Kerem Shalom ditutup akhir pekan lalu setelah serangan roket Hamas menewaskan empat tentara Israel.

    Baca Juga: Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    Pada hari Selasa, satu brigade tank Israel merebut penyeberangan Rafah yang berada di antara Gaza dan Mesir, yang juga memaksa penutupannya.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sekitar 1,2 juta orang berlindung di Rafah, dan lebih dari setengahnya adalah anak-anak.

    Banyak dari mereka berasal dari daerah-daerah lain di Gaza yang mengungsi untuk mencari keselamatan dan perlindungan, sewaktu serangan Israel terhadap Hamas menyebabkan sebagian besar Jalur Gaza hancur.

    Perang Israel-Hamas dipicu oleh serangan Hamas 7 Oktober lalu di Israel Selatan yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan sekitar 250 orang disandera, menurut para pejabat Israel.

    Baca Juga: Di Tengah Ancaman Serangan ke Rafah, Optimisme Warnai Perundingan Israel-Hamas di Kairo, Mesir

    Sekitar 100 sandera telah dibebaskan dalam gencatan senjata sepekan pada akhir November 2023 lalu.

    Serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 34.900 orang Palestina, sekitar dua per tiganya adalah perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan di Gaza.

    Militer Israel mengatakan korban tewas mencakup ribuan anggota Hamas yang dibunuhnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Pemerintah Indonesia Kutuk Keras Pembakaran Markas UNRWA oleh Israel

    Pemerintah Indonesia Kutuk Keras Pembakaran Markas UNRWA oleh Israel

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk keras pembakaran markas The United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) milik PBB oleh warga kelompok ekstrem Israel di Yerusalem, pada Kamis (9/5/2024) malam.

    “Kekerasan tersebut terjadi di depan mata polisi Israel di wilayah pendudukan. Pembiaran ini tidak dapat diterima dan membuktikan bahwa Israel bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan tersebut,” kata Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di akun resmi X pada Jumat (10/05/2024).

    Tiindakan kekerasan secara tegas tidak dapat diterima karena menyangkut markas badan PBB yang bergerak di bidang kemanusiaan.

    Baca: Mesir desak Hamas dan Israel gencatan senjata

    Kemlu menjelaskan adanya pembakaran ini menciptakan preseden sangat buruk terhadap keselamatan dan keamanan gedung, serta personil PBB dan misi kemanusiaan lainnya.

    “Peristiwa tersebut menambah daftar panjang kekerasan, pendudukan ilegal, dan berbagai pelanggaran hukum internasional dan hukum humaniter internasional yang dilakukan oleh Israel,” kata Kemlu RI.

    Pemerintah Indonesia juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran hukum internasional yang terus dilakukannya.

    “Saatnya DK PBB, terutama negara pemegang veto, menunjukkan kepemimpinan dan kebijaksanaannya demi keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian,” kata Kemlu RI.

    Baca: Sebanyak 80 ribu warga Palestina tinggalkan Rafah

    Aksi pembakaran oleh warga Israel tak hanya dilakukan kali ini saja.

    Menurut Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini pemukim Israel dua kali membakar perimeter kantor pusat mereka di Yerusalem Timur yang diduduki.

    Dalam dua aksi kebakaran tersebut tidak ada korban jiwa, tetapi menyebabkan sejumlah kerusakan di luar Markas UNRWA.

    Mengingat insiden mengerikan kedua yang terjadi dalam waktu kurang dari sepekan ini, Lazzarini memutuskan untuk menutup kompleks tersebut “sampai keamanan pulih kembali.”

    Insiden terbaru ini menandai serangan kedua terhadap kantor pusat UNRWA di Yerusalem Timur dalam waktu kurang dari dua hari.

    Baca: Serangan Israel tewaskan lebih dari 15 ribu anak

    Pada Selasa (07/05/2024) lalu, kelompok sayap kanan melakukan aksi protes di depan kantor UNRWA di kawasan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur. Mereka menuntut penutupan kantor tersebut.

    Mereka juga menuduh beberapa staf UNRWA terlibat dalam serangan terhadap Israel pada 7 Oktober tahun lalu yang dilakukan kelompok Hamas Palestina.

    UNRWA merupakan badan yang dibentuk Majelis Umum PBB lebih dari 70 tahun untuk membantu warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari tanah mereka.

    Badan ini memberikan dukungan penting kepada jutaan pengungsi Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, Suriah dan wilayah lain di mana sejumlah besar warga Palestina yang terdaftar tinggal.

    Reporter: Nurakhmayani

  • UNRWA: 800.000 Warga Rafah Mengungsi ke Lokasi Minim Fasilitas

    UNRWA: 800.000 Warga Rafah Mengungsi ke Lokasi Minim Fasilitas


    7cloud.asia – Kepala badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina atau UNRWA pada Sabtu (18/5/2024) memperkirakan 800 ribu orang telah meninggalkan Kota Rafah di perbatasan selatan Gaza.

    UNRWA menyebut Warga Rafah ini berbondong-bondong mengungsi sejak militer Israel melancarkan serangan darat di sana dua pekan lalu.

    Philippe Lazzarini, Kepala UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East) menulis di X, bahwa warga sipil yang pernah mengungsi sebelumnya meninggalkan Rafah.

    Mereka menuju ke “daerah tengah dan Khan Younis termasuk ke bangunan-bangunan yang sudah hancur.”

    Lazzarini mengatakan orang-orang mengungsi ke tempat-tempat yang kekurangan air atau sanitasi yang memadai.

    Baca: Pemerintahan Israel terancam pecah

    Tempat mengungsi itu termasuk Al-Mawasi, sebuah kota pesisir, dan Kota Deir al-Balah, yang penuh dengan pengungsi baru-baru ini.

    Amerika Serikat (AS), sekutu terdekat Israel, telah menyatakan keberatannya terhadap perluasan operasi di Rafah di mana 1,4 juta warga sipil Palestina berlindung sebelum operasi dimulai.

    Bentrokan hebat dan pengeboman baik dari darat dan udara mengguncang Rafah pada Sabtu (18/5/2024), ketika Israel menguasai wilayah dalam serangan terhadap militan Hamas, menurut wartawan AFP di daerah tersebut.

    Israel sedang melancarkan apa yang disebutnya “operasi tepat terhadap teroris dan infrastruktur” di Rafah dan Jabalia di Gaza utara melawan munculnya kembali militan Hamas di sana.

    Pasukan dan tank Israel menyerbu ke Jabalia pada Sabtu, kamp pengungsi terbesar dari delapan kamp pengungsi bersejarah di Jalur Gaza.

    Baca: AS hentikan pengiriman bom untuk militer Israel

    Serangan itu menewaskan 15 warga Palestina dan puluhan lainnya terluka.

    Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas dan Layanan Darurat Sipil di Gaza, mengatakan bahwa pihaknya menerima lusinan panggilan telepon tentang kemungkinan korban jiwa.

    Tetapi mereka tidak dapat menanggapi panggilan tersebut karena serangan darat dan pengeboman udara.

    Sementara militer Israel mengatakan, IAF (angkatan udara) terus beroperasi di Jalur Gaza dan menyerang lebih dari 70 sasaran teror selama beberapa hari terakhir.

    “Termasuk fasilitas penyimpanan senjata, situs infrastruktur militer, teroris yang menjadi ancaman bagi pasukan IDF (Pasukan Pertahanan Israel/Israel Defense Forces), dan militer. kompleks,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Pasukan Israel Serang Sekolah UNRWA di Gaza, 39 Pengungsi Tewas

    Pasukan Israel Serang Sekolah UNRWA di Gaza, 39 Pengungsi Tewas

    7cloud.asia – Pasukan Israel kembali menyerang instalasi milik milik badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA pada Kamis (6/6/2024).

    Kali ini serangan Israel menyasar sebuah sekolah yang dikelola UNRWA dan menampung ribuan pengungsi di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza bagian tengah.

    Sedikitnya 39 pengungsi Palestina meninggal akibat serangan udara Israel ke sekolah milik UNRWA tersebut.

    Dalam pernyataannya pada Kamis (6/6/2024), otoritas media pemerintah Gaza menyatakan, serangan pasukan Israel terhadap sekolah milik UNRWA itu turut menyebabkan puluhan warga lainnya cedera.

    Otoritas tersebut menyatakan, “pembantaian” tanpa henti Israel di Jalur Gaza semakin membuktikan Israel tengah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.

    Baca: Israel kecilkan prospek gencatan senjata di Gaza

    Pejabat Rumah Sakit Martir Al-Aqsa turut mengkonfirmasi bahwa serangan tersebut menewaskan 39 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya.

    Jumlah korban tersebut kemungkinan besar bertambah karena masih ada korban-korban lain yang belum dievakuasi ke rumah sakit.

    Sementara, militer Israel mengakui bahwa pihaknya benar melancarkan serangan udara ke sekolah UNRWA di kamp pengungsi Nuseirat.

    Tentara negara Zionis itu mengeklaim bahwa serangan tersebut diarahkan kepada pejuang Hamas yang “bersembunyi” di dalam sekolah itu.

    Agresi Israel ke Jalur Gaza yang terus berlanjut sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 36.600 warga sipil, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.

    Baca: AS desak Israel sepakati gencatan senjata di Gaza

    Agresi militer Israel juga melukai lebih dari 83.000 jiwa, dan hampir sejuta warga Palestina hidup dalam pengungsian.

    Menurut PBB, serangan Israel itu menyebabkan 85 persen penduduk Gaza terusir dari tempat tinggalnya, 60 persen infrastruktur di Gaza rusak dan hancur, serta menyebabkan kelangkaan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah.

    Dalam putusan terbarunya, Mahkamah Internasional (ICJ) memerintahkan Israel untuk menghentikan agresinya ke kota Rafah di Gaza selatan, tempat lebih dari satu juta warga sipil mengungsi dari perang.

    Meski demikian, Israel terus bergeming dan justru tetap terus melanjutkan serangannya ke Rafah.

    Sumber: Antara/Anadolu

  • UNRWA: Anak-anak Gaza Habiskan 8 Jam Sehari untuk Mendapatkan Makanan

    UNRWA: Anak-anak Gaza Habiskan 8 Jam Sehari untuk Mendapatkan Makanan

    7cloud.asia – Agresi berkelanjutan Israel di Jalur Gaza, mengakibatkan penderitaan tak terperi pada anak-anak di wilayah konflik itu.

    Menurut badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi Palestina (UNRWA), anak-anak di Gaza menghabiskan waktu hingga 8 jam sehari hanya untuk mendapatkan makanan dan air bersih.

    “Anak-anak di Gaza bisa menghabiskan 6—8 jam sehari mengumpulkan air dan makanan, bahkan mereka harus membawa beban berat dan berjalan jauh,” demikian UNRWA dalam pernyataannya di media sosial, Sabtu (6/7/2024).

    “Fasilitas sanitasi dan infrastruktur rusak parah, sehingga memaksa ribuan keluarga mengandalkan air laut untuk mencuci, mandi, dan bahkan minum,” kata badan PBB tersebut.

    Baca Juga: Bantuan Kemanusiaan Makin Sulit Masuk, Gaza Terancam Bencana Kelaparan

    Israel tak kunjung menghentikan penyerbuan ke Jalur Gaza meski Mahkamah Internasional (ICJ) memerintahkan Israel, melalui putusannya yang bersifat mengikat, untuk menghentikan serangan di Rafah yang diduga melanggar Konvensi Genosida.

    Serangan Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan setidaknya 38.089 warga Palestina dan melukai lebih dari 87.705 lainnya.

    Selain itu, setidaknya 10 ribu orang masih belum diketahui nasibnya dan diduga masih tertimbun reruntuhan bangunan yang hancur akibat bom Israel.

    Organisasi internasional dan Palestina turut menyebut bahwa sebagian besar korban yang tewas dan cedera adalah wanita dan anak-anak.

    Baca Juga: AS Desak Israel Lindungi Pekerja Kemanusiaan di Jalur Gaza

    Agresi Israel juga menyebabkan sebagian besar wilayah Gaza hancur dan hampir dua juta warga Palestina terusir dari tempat tinggalnya. 

    Agresi Israel juga menyebabkan eksodus pengungsi Palestina terbesar sejak tragedi Nakba pada 1948.

    Sebagian besar dari mereka terpaksa mengungsi di kota Rafah yang berbatasan dengan Mesir.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA-OANA

  • UNRWA: 453 Serangan Israel Menyasar Fasilitas Kemanusiaan Milik UNRWA

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Rabu (10/7/2024) mengatakan bahwa fasilitas mereka di Gaza telah menjadi sasaran 453 serangan Israel sejak 7 Oktober 2023.

    “Dua pertiga dari sekolah kami di Gaza diserang dan 524 orang yang mengungsi di fasilitas kami terbunuh,” ungkap UNRWA melalui sebuah pernyataan.

    Komisaris Jenderal UNRWA, Filippo Lazzarini, menyerukan gencatan senjata segera “sebelum kami kehilangan apa yang tersisa dari rasa kemanusiaan kami”.

    “Sekolah sudah berubah dari tempat yang aman untuk pendidikan dan harapan bagi anak-anak, menjadi pengungsian yang penuh sesak, yang seringkali berujung menjadi tempat kematian dan penderitaan,” katanya.

    Baca: Perjuangan anak-anak Gaza agar tak kelaparan

    Lazzarini mengatakan empat sekolah yang dikelola PBB digempur dalam empat hari terakhir.

    “Sembilan bulan lamanya, berdasarkan pengawasan kami, pembunuhan, kehancuran, dan keputusasaan yang tanpa henti masih terjadi. Gaza bukan tempat bagi anak-anak,” katanya.

    Pada Selasa (9/7) sedikitnya 25 orang tewas dan 53 orang lainnya terluka dalam serangan Israel terhadap salah satu sekolah yang menampung para pengungsi di Kota Abasan, sebelah timur Khan Younis di Jalur Gaza selatan.

    Serangan itu menyusul sedikitnya 16 korban tewas dan puluhan korban luka saat Israel melancarkan aksi serupa di sebuah sekolah di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah pada 6 Juli 2024.

    Baca: 80 Persen warga Gaza kehilangan tempat tinggal akibat perang

    Israel, yang mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal ke Gaza.

    Agresi militer Israel masih berlangsung di Gaza sejak kelompok perjuangan Palestina Hamas meluncurkan serangan pada 7 Oktober.

    Hampir 38.300 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, terbunuh, dan lebih dari 88.200 orang lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Memasuki bulan kesembilan perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza luluh lantak akibat pengepungan terhadap akses makanan, air bersih serta obat-obatan yang melumpuhkan.

    Baca: Rumah Sakit Indonesia jadi tumpuan utama warga Gaza

    Israel dituding melakukan genosida dalam kasus yang dilayangkan di Mahkamah Internasional (ICJ), yang keputusan terbarunya memerintahkan Israel untuk segera menghentikan operasi militer di Kota Rafah.

    Di Rafah inilah, lebih dari satu juta warga Palestina berlindung dari perang sebelum kota itu diserbu pada 6 Mei 2024 lalu.

    Sumber: Anadolu/Antaranews.com

  • UNRWA: Jika Serangan Israel Berlanjut, Gaza Berpotensi Kehilangan Seluruh Generasi Anak-anak

    UNRWA: Jika Serangan Israel Berlanjut, Gaza Berpotensi Kehilangan Seluruh Generasi Anak-anak

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) mengatakan bahwa Jalur Gaza berpotensi besar kehilangan seluruh generasi anak-anak.

    Hal ini akibat agresi Israel yang hingga kini masih berlangsung di wilayah tersebut sejak 7 Oktober 2023.

    Direktur Komunikasi UNRWA, Juliette Touma, melalui unggahan di X menjelaskan lebih dari 600.000 anak di Gaza belum dapat bersekolah sejak perang Israel berlangsung pada Oktober.

    Baca: Lebih dari 50 ribu anak kekurangan gizi akut

    Touma juga merujuk pada penutupan sejumlah besar sekolah dan berubahnya sekolah UNRWA menjadi penampungan bagi pengungsi internal.

    “Ini artinya bahwa jika perang ini terus berlanjut, kami bakal kehilangan seluruh generasi anak-anak,” tulisnya di X.

    Pejabat UNRWA itu juga menyerukan agar segera dilakukan gencatan senjata demi anak-anak di Gaza.

    Baca: Sebanyak 453 serangan Israel sasar UNRWA

    Sebelumnya, UNRWA mengatakan bahwa fasilitas mereka di Gaza telah menjadi sasaran 453 serangan Israel sejak 7 Oktober 2023.

    “Dua pertiga dari sekolah kami di Gaza diserang dan 524 orang yang mengungsi di fasilitas kami terbunuh,” ungkap UNRWA melalui sebuah pernyataan.

    Komisaris Jenderal UNRWA, Filippo Lazzarini, menyerukan gencatan senjata segera “sebelum kami kehilangan apa yang tersisa dari rasa kemanusiaan kami”.

    “Sekolah sudah berubah dari tempat yang aman untuk pendidikan dan harapan bagi anak-anak, menjadi pengungsian yang penuh sesak, yang seringkali berujung menjadi tempat kematian dan penderitaan,” katanya.

    Sumber: WAFA

  • Indonesia Kecam Sikap Israel Melabeli UNRWA sebagai Organisasi Teroris

    7cloud.asia – Indonesia mengutuk keras siasat Israel dalam memandulkan fungsi badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi Palestina (UNRWA) dengan menyatakannya sebagai “organisasi teroris”.

    Parlemen Israel, Knesset, pada Senin (22/7/2024) meluluskan pada tahap pertama tiga rancangan undang-undang (RUU) yang apabila disahkan akan secara efektif melarang aktivitas UNRWA dalam bentuk apapun di Israel.

    “Upaya sistemik Israel untuk membubarkan UNRWA tidak dapat diterima dan akan menghilangkan hak pengungsi Palestina untuk kembali dan dipulangkan ke rumah mereka,” demikian menurut Kementerian Luar Negeri RI, Rabu (24/7/2024).

    Melalui pernyataannya di media sosial, Kementerian Luar Negari RI menegaskan komitmen Indonesia mendukung penuh UNRWA.

    Indonesia juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk terus membela misi kemanusiaan yang dijalankan badan itu bagi kelangsungan hidup jutaan rakyat Palestina.

    Baca Juga: UNRWA: 453 Serangan Israel Menyasar Fasilitas Kemanusiaan Milik UNRWA

    “UNRWA harus terus melaksanakan mandatnya sesuai dengan hukum internasional dan resolusi PBB terkait,” ucap Kemlu RI.

    Ketiga RUU yang disahkan Knesset tersebut terdiri dari RUU untuk melarang UNRWA beroperasi di wilayah Israel, RUU untuk mencabut imunitas dan hak khusus personel UNRWA di Israel.

    Satu lainnya adalah RUU yang menyatakan UNRWA sebagai “organisasi teroris” dan mewajibkan pihak Israel memutus hubungan kerja sama.

    Ketiga RUU tersebut akan melalui pembahasan lanjutan dalam komite hubungan luar negeri dan pertahanan Knesset sebelum sidang paripurna digelar untuk pengesahannya.

    Tindakan Israel membatasi kerja UNRWA ini turut dikecam pemerintah sejumlah negara selain Indonesia, seperti Palestina, Turki, dan Yordania.

    Baca Juga: Hamas dan Fatah Bersatu, Sepakati Deklarasi di Beijing

    Sebagai bentuk dukungan terhadap UNRWA, Indonesia menyampaikan komitmen meningkatkan kontribusi sukarela reguler sebesar 1,2 juta dolar AS (Rp19,43 miliar) per tahun mulai 2024 dalam “Pledging Conference” UNRWA pada 12 Juli lalu.

    Selain janji menaikkan kontribusi tahunan, Indonesia turut berkomitmen memberi hibah sebesar 2 juta dolar AS (Rp32,23 miliar) untuk membantu memenuhi kebutuhan dalam “UNRWA Flash Appeal” periode April—Desember 2024.

  • UNRWA: Ratusan Pengungsi Tewas Saat Berlindung di Bawah PBB

    UNRWA: Ratusan Pengungsi Tewas Saat Berlindung di Bawah PBB

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan ada lebih dari 560 pengungsi yang tewas di Jalur Gaza saat mengungsi di tempat-tempat pengungsian milik PBB.

    wakil komisaris jenderal UNRWA, Antonia Marie De Meo mengatakan kantor pusat UNRWA di Gaza telah dihancurkan hingga tidak dapat dikenali.

    ”Lebih dari 560 pengungsi, termasuk banyak perempuan dan anak-anak, terbunuh saat berlindung di bawah bendera PBB,” ujarnya dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, pada Jumat (26/7/2024).

    “Banyak dari sekolah kami dihancurkan dan tidak lagi dapat digunakan sebagai sekolah. Dalam dua pekan terakhir saja, delapan sekolah UNRWA, yang semuanya menjadi tempat penampungan pengungsi, telah diserang.

    Baca Juga: UNRWA: Wabah Polio Membayangi Lokasi Pengungsian di Seluruh Jalur Gaza

    De Meo mengatakan, perempuan, anak-anak, jurnalis dan pekerja kemanusiaan semuanya terus membayar “harga yang sangat mahal”.

    “Tidak terkecuali UNRWA. 199 rekan kami kini telah terbunuh, sebagian besar bersama keluarga mereka,” katanya, seraya menegaskan kembali bahwa “tidak ada tempat yang aman di Gaza.”

    Dengan mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, Israel menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal yang terus berlanjut di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

    Serangan itu mengakibatkan sekitar 39.200 warga Palestina telah terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 90.400 orang terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Baca Juga: UNRWA: 453 Serangan Israel Menyasar Fasilitas Kemanusiaan Milik UNRWA

    Lebih dari sembilan bulan setelah serangan Israel, sebagian besar wilayah Gaza menjadi reruntuhan di tengah blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan.

    Israel digugat melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan operasi militer di kota Rafah di selatan.

    Wilayah ini menjadi tempat bagi lebih dari 1 juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum diserbu pada 6 Mei lalu.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu