Tag: wfh

  • PJJ dan WFH di Jakarta Akan Diujicobakan pada Senin Mendatang

    PJJ dan WFH di Jakarta Akan Diujicobakan pada Senin Mendatang

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) kapasitas 50 persen bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

    Namun pemberlakukan WFH dan PJJ tersebut bukan karena polusi udara di Jakarta, tapi karena Jakarta akan menjadi tuan rumah KTT ke-43 ASEAN.

    Baca: DPR Dukung penerapan WFH untuk terkait polusi udara di Jakarta

    ASEAN Summit atau KTT ASEAN akan digelar pada 5-7 September. Pemberlakuan WFH dan  PJJ bagi pelajar di DKI bertujuan untuk mengurangi kemacetan saat penyelenggaraan rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN. 

    “Iya (PJJ dan WFH) untuk KTT ASEAN,” ujar Heru Budi usai rapat di Gedung Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jumat (18/8/2023).

    Baca: Kebijakan pemerintah atasi polusi udara di Jakarta

    Namun, Heru memastikan bahwa dia tidak akan memberlakukan PJJ selama tiga bulan ke depan sebagai langkah penanganan polusi udara di Jakarta yang kian memburuk dalam beberapa pekan terakhir.

    Pun, dia tidak akan menerapkan WFH bagi ASN di lingkungan Pemprov DKI Jakarta meski polusi udara di jakarta Dikatakan sangat buruk.

    Baca: Sikapi polusi udara di Jakarta, Kemenaker belum akan terapkan WFH

    Adapun pemberlakukan WFH dan PJJ di Jakarta ini akan efektif diberlakukan mulai 28 Agustus hingga 7 September, dan diujicobakan pada Senin (21/8/2023) mendatang.

    “Khusus KTT kita mulai, kalau DKI Jakarta saya minta Pak Sekda mulai uji coba di 28 Agustus masuk (WFH dan WFO) yaitu 50-50 persen,” kata Heru di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Selasa (15/8/2023) lalu.

    Baca: Kemenparekraf terapkan WFH 4:1

    Pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan diberlakukan bagi siswa yang bersekolah di sekitar berlangsungnya KTT ASEAN. yakni sebesar 50 persen PJJ dan 50 persennya lagi mengikuti pembelajaran luring di sekolah.

    “Terkait nanti dengan KTT ASEAN Pemda DKI karyawannya WFH dan WFO 50 persen-50 persen. Sekolah nanti juga sama,” ujar Heru.

    Baca: Polusi udara bisa memicu hipertensi

    Sementara bagi karyawan swasta, kebijakan WFH sifatnya hanya imbauan. Kebijakan diserahkan kepada masing-maisng perusahaan.

    “Nanti untuk imbauan yang swasta silahkan saja pemilik (perusahaan) masing-masing (yang memutuskan),” kata Heru saat dikonfirmasi di Jakarta.

    Baca: Dampak polusi udara bagi kesehatan, dari ISPA hingga serangan jantung

     

  • Pemprov DKI Jakarta Terapkan WFH 50 Persen Mulai Hari Ini

    Pemprov DKI Jakarta Terapkan WFH 50 Persen Mulai Hari Ini

    7cloud.asia – Pemprov DKI Jakarta akan menerapkan uji coba kebijakan bekerja dari rumah (WFH) bagi ASN mulai hari ini, Senin (21/8/2023).

    Penerapan WFH bagi ASN di lingkungan Pemprov DKI Jakarta ini diberlakukan bagi 50 persen, sedangkan sisanya akan bekerja secara offline atau hadir di kantor.  

    Kebijakan WFH bagi ASN di lingkungan Pemprov DKI Jakarta ini tidak berlaku pada RSUD, Puskesmas, Satpol PP, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Perhubungan, hingga pelayanan tingkat kelurahan.

    Jajaran Pemprov DKI Jakarta tetap berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat secara optimal. Kami pastikan penerapan WFH tidak berdampak pada pelayanan publik dan pekerjaan tetap dilakukan sebagaimana mestinya.

    Baca Juga: Warga Rusunawa Marunda Keluhkan Debu Batubara Picu Masalah Kesehatan

    Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi mengatakan, WFH badi ASN ini berlaku dari 21 Agustus hingga 21 Oktober bagi ASN yang melakukan fungsi staf atau pendukung.

    Kebijakan ini diterapkan guna mengurangi kemacetan di ibu kota selama penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN 2023 pada 4-7 September.

    Pada saat KTT ASEAN berlangsung persentase pegawai yang melaksanakan WFH  dan kehadiran ASN di kantor akan disesuaikan kembali dan tidak lagi 50:50. 

    Rinciannya, pegawai yang WFH sebanyak 75 persen dan bekerja dari kantor sebanyak 25 persen.

    “Penyesuaian ini berlaku pada kantor-kantor pemerintahan yang dekat dari lokasi KTT ASEAN, seperti Kantor Dinas Pariwisata di Kuningan, Jakarta Selatan,” katanya.

    Baca Juga: Temukan Sanctuary untuk Sesi Slow Living di Tengah Kota yang Sibuk

    Selain itu Pemprov DKI Jakarta juga akan memberlakukan pembelajaran jarak jauh, di mana presentase kehadiran siswa sebanyak 50 persen.

    Namun, guru dan tenaga pendidik di sekolah tersebut, diminta tetap hadir dan beraktivitas 100 persen.

    Heru Budi mengatakan setelah KTT ASEAN berlangsung, sekolah di sekitar venue dapat melaksanakan pembelajaran seperti biasa atau 100 persen kehadiran siswa.

    Sekolah yang menerapkan PJJ hanya yang berlokasi di sekitar venue KTT ASEAN, seperti di daerah Thamrin, Sudirman, Tanah Abang, Kuningan, dan Menteng.

    Sedangkan untuk sekolah yang jauh dari venue KTT ASEAN, seperti di daerah Jakarta Barat dan Jakarta Timur, tetap beraktivitas normal dengan masuk 100 persen. 

    Baca Juga: Ratusan Nama Gagal Masuk DCS di Pemilu 2024, Masukan Masyakarat Ditunggu Hingga 28 Agustus

     

  • Aturan WFH tuk Atasi Polusi Udara Jakarta Harus Didukung Kebijakan Daerah Penyangga

    Aturan WFH tuk Atasi Polusi Udara Jakarta Harus Didukung Kebijakan Daerah Penyangga

    7cloud.asia – Selain bekerja dari rumah atau WFH, pemerintah diminta memperbanyak langkah dalam mengatasi masalah polusi udara, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek)

    Kebijakan WFH 50 persen bagi ASN DKI Jakarta sudah mulai diterapkan dalam upaya mengurangi polusi udara di Jabodetabek. 

     

    Program WFH tidak berlaku bagi pegawai yang bekerja pada layanan langsung kepada masyarakat seperti RSUD, Puskesmas, Satpol PP, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan hingga Dinas Perhubungan. 

    Kebijakan WFH diterapkan atasi polusi udara sekaligus untuk atasi kemacetan lalu lintas dalam rangka menyambut agenda internasional Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara ASEAN pada September 2023.

    Baca: Pembatasan jumlah kendaraan bermotor sudah mendesak dilakukan

    Ketua DPR, Puan Maharani berharap, uji coba WFH ini akan berdampak langsung bagi kualitas udara di Jakarta. 

    Puan menilai program WFH di lingkungan ASN DKI Jakarta sejalan dengan upaya global untuk menjaga lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim.

    Dengan berkurangnya jumlah kendaraan yang beroperasi setiap hari, diharapkan emisi karbon juga berkurang.

    WFH kini telah menjadi tren global seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

    Baca: Langkah yang ditempuh pemerintah atasi polusi udara di Jakarta

    “Pandemi Covid-19 telah mempercepat adopsi WFH di berbagai sektor, termasuk pemerintahan. Kita harapkan dengan kebijakan ini, akan mengurangi polisi udara di Jakarta,” papar Puan. 

    Dengan adanya WFH, para ASN pun akan belajar tentang bagaimana manajemen waktu, penggunaan teknologi, dan kerja kolaboratif jarak jauh.

    “Saya berharap, ini akan meningkatkan profesionalisme para pegawai pemerintah kita untuk menciptakan pelayanan yang baik bagi masyarakat,” ungkap Puan seperti dikutip Parlementaria, Senin (21/8/2023). 

    Meski begitu, Puan menilai permasalahan polusi udara tidak bisa hanya dengan penerapan WFH. 

    Baca: PLTU Batubara dituding sebagai sumber utam apolusi udara di Jakarta

    Kebijakan pemberlakuan WFH bagi ASN DKI Jakarta demi mengurangi polusi udara harus dibarengi dengan berbagai pendekatan lain, yakni meminimalisir pergerakan kendaraan bermotor yang menjadi penyumbang emisi karbon.

    Perlu berbagai upaya lain juga harus diprioritaskan termasuk dengan mengatur industri-industri nakal yang penyumbang polusi udara.

    Cara lainnya adalah dengan memperbanyak promosi penggunaan transportasi umum seperti KRL, bus Transjakarta, LRT maupun MRT.

    “Program WFH ASN yang sudah diinisiasi di DKI juga harus didukung dengan kebijakan dari kota-kota penyangga ibu kota, seperti dengan melakukan pengawasan ketat dan evaluasi  terhadap pabrik penyumbang polusi udara,” ujarnya.

    Baca: Pemerintah juga diminta merazia industri pengguna batubara

    Selain itu, Pemerintah perlu memperkuat edukasi dan sosialisasi ke pelaku industri untuk mendorong pemanfaatan sumber energi bersih seperti energi matahari dan angin untuk keperluan rumah tangga industri.

    “Solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah polusi udara yang bisa dilakukan ialah memperkenalkan bahan bakar berkualitas lebih baik bagi peralatan industri guna mengurangi emisi polutan udara,” terang Puan. 

    Puan juga mendorong  pemerintah membenahi transportasi umum yang menunjang masyarakat khususnya di kota-kota penyangga Jakarta.

    Dengan begitu, kata Puan, ketertarikan untuk menggunakan kendaraan umum pun meningkat.

    Baca: Butuh langkah ekstrem untuk atasi polusi udara yang sudah ekstrem

    Pemerintah pusat dan daerah perlu bersinergi untuk memperbaiki akses transportasi di daerah penyangga Jakarta.

    “Jadi subsidinya harusnya dialihkan saja untuk perbaikan transportasi terintegrasi ke permukiman-permukiman sampai ke wilayah pinggiran, sehingga orang mau beralih moda transportasi,” jelasnya.

    Pemerintah perlu membuat terobosan lain agar masyarakat mulai melirik kendaraan berbasis listrik yang ramah lingkungan dan mulai meninggalkan kendaraan yang masih menggunakan bahan bakar fosil.

    “Insentif bagi kendaraan listrik yang semakin tinggi juga bisa menjadi salah satu alternatif solusi dari permasalahan polusi udara yang semakin memburuk khususnya di Jakarta,” tutup Puan. 

  • Penerepan WFH di Jakarta Hanya untuk ASN Tertentu

    Penerepan WFH di Jakarta Hanya untuk ASN Tertentu

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menegaskan, penerapan kerja dari rumah (work from home/WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai 16-17 April 2024 berlaku secara selektif.

    Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi DKI Jakarta Maria Qibtya mengatakan, penerapan WFH ini hanya untuk ASN kelompok tertentu.

    “WFH diberikan secara selektif, khususnya bagi ASN yang mudik ke kampung halaman selama libur Hari Raya Idul Fitri 1445 H dan tidak memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat,” katanya dikutip Antarananews, Senin (15/4/2024).

    Maria menyebut, hanya pegawai ASN yang tugasnya dapat dikerjakan melalui media atau aplikasi digital, dapat melakukan WFH.

    Kemudian, katanya, sektor esensial seperti layanan kesehatan, keamanan dan ketertiban, penanganan bencana, energi, transportasi, utilitas dasar dan sejenisnya, tidak bisa.

    “Mereka bisa melakukan tugas kedinasan secara WFH pada 16-17 April 2024,” katanya.

    Hal itu, lanjutnya, menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Nomor 1 Tahun 2024 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Pegawai Aparatur Sipil Negara pada Instansi Pemerintah Setelah Libur Nasional dan Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah.

    Selain itu, Maria menegaskan bagi ASN yang menerapkan WFH wajib melaksanakan sejumlah aturan, seperti melaporkan kehadiran atau presensi melalui absensi portabel dan melaporkan capaian kinerja harian kepada atasan langsung melalui sistem informasi Tambahan Penghasilan Pegawai (e-TPP).

    “Para Kepala Perangkat Daerah atau Biro agar memastikan pelaksanaan WFH tidak mengganggu pencapaian sasaran dan target kinerja organisasi dengan mengoptimalkan peran atasan langsung untuk melakukan pengawasan,” jelas Maria.

    Sebelumnya, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhajir Effendi mengatakan penerapan kerja dari rumah (work from home/WFH) usai Lebaran pada 16 dan 17 April 2024 hanya berlaku untuk Aparatur Sipil Negara (ASN).

    “WFH Selasa dan Rabu, Kamis dan Jumat masuk, tidak boleh bolos,” kata Menko Muhajir saat membuka sistem satu arah dari gerbang Tol Kalikangkung Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (13/4).

    Baca juga: Pemprov DKI awasi kerja dari rumah ASN lewat rekam presensi sore

    Oleh karena itu ia meminta ASN yang mudik untuk menyesuaikan waktu kembali ke tempat kerjanya.

    Pada September 2023, Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta Etty Agustijani menyebutkan ASN Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 51.714 dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebanyak 6.395.

  • Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    7cloud.asia – Polusi udara Jabodetabek menjadi perbincangan hangat di musim kemarau tahun lalu, sehingga pemerintah menerapkan kebijakan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah.

    Pakar ekonomi transportasi dan energi dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Alloysius Joko Purwanto, mengemukakan WFH adalah kebijakan yang mendesak.

    WFH menurutnya layak menjadi ‘jalan pintas’ untuk memangkas polusi udara di Jakarta.

    “Kalau kita mau jalan pintas, ya WFH ini kita memotong di sisi demand permintaan pergerakan. Ini langkah yang efektif untuk dibuat lebih serius, jadi cukup urgent,” ujar Joko yang juga anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), kepada The Conversation.

    Mengapa WFH penting dan mendesak? Joko memulai argumennya dengan berkaca pada pembatasan pergerakan masyarakat dan kewajiban WFH bagi mayoritas pekerja saat pandemi Covid tahun 2020.

    Dia saat itu mengamati data kualitas udara di Jakarta membaik.

    Sebaliknya, begitu pembatasan mengendur, polusi udara berangsur meningkat. Pada 14 – 20 Juni 2022, kualitas udara kota Jakarta secara berturut-turut berada di kategori “tidak sehat” (unhealthy) menurut situs pemantau kualitas udara IQAir.com.

    Baca: Memasuki kemarau polusi udara Jakarta memburuk

    Perburukan kualitas ditandai peningkatan konsentrasi partikel debu (PM2.5) yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan, gangguan paru-paru, hingga gangguan kardiovaskular.

    Riset dari Adhe Rizky Anugerah dari Universiti Putra Malaysia pada 2021, juga mengungkapkan temuan senada.

    Studi yang berbasiskan data kualitas udara DKI ini mengungkapkan penurunan material pencemar seperti Nitrogen Oksida atau NOx (7,5%), Sulfur Dioksida atau SOx (5,7%), dan Karbon Monoksida atau CO (39,9%) di seluruh wilayah Ibu Kota–kecuali Jakarta Utara.

    Ketiganya merupakan polutan utama yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor.

    Selain berkaca dari kondisi pandemi Covid, Joko mengatakan WFH penting karena saat ini ketergantungan para pekerja terhadap kendaraan pribadi sangat tinggi.

    Berkaca dari survei indikatif Dewan Transportasi Kota Jakarta ke 881 pekerja di Ibu Kota pada Mei lalu (belum dipublikasi), mayoritas responden (41%) masih menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda transportasi utama.

    Baca: Polusi udara mengakibatkan kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat

    Ada juga 26% responden pengguna taksi atau ojek online yang–berdasarkan tingkat keterisiannya–dapat dianggap sebagai kendaraan pribadi.

    “Sisanya hanya kendaraan umum. Ketergantungan kita pada kendaraan pribadi sangat tinggi untuk pergerakan setiap hari,” kata Joko.

    Pendapat tersebut juga menjadi simpulan dalam riset berbasiskan simulasi efektivitas WFH terhadap pengurangan polusi yang dilakukan di Barcelona, Spanyol, pada 2021.

    Riset ini menyatakan bahwa pemberlakuan WFH selama 2 – 4 hari dalam sepekan dapat mengurangi emisi NOx 4 – 10%.

    Studi yang ditulis Alba Badia (Universitat Autònoma de Barcelona) dan rekan-rekan tersebut juga turut menggarisbawahi efek WFH lainnya seperti menyokong work-life balance, hingga mengurangi tingkat kecelakaan di jalanan.

    Memberlakukan WFH massal
    Joko mengapresiasi inisiatif pemerintah DKI yang memberlakukan WFH. Namun, karena gentingnya persoalan kualitas udara saat ini, pemerintah seharusnya memperluas kebijakan WFH ke sektor swasta.

    Baca: Atasi polusi udara di Jakarta dibutuhkan transportasi publik yang berkualitas

    Pemerintah dapat merumuskan kebijakan WFH bersama sektor swasta. Tujuannya untuk mengidentifikasi sektor-sektor mana saja yang memungkinkan bagi pegawainya untuk bekerja di rumah.

    Identifikasi oleh pemerintah diperlukan karena angka sektor yang dapat menerapkan WFH berbeda-beda di setiap kota, bahkan antarnegara. Misalnya, 50% sektor ekonomi di Luxembourg bisa berlangsung dari rumah. Sementara, di Turki, porsinya hanya 21%.

    Selain itu, pembahasan juga patut dilakukan untuk mengetahui berapa hari dalam sepekan para pekerja dapat WFH.

    Joko meyakini kegiatan sejumlah sektor ekonomi dapat berjalan tanpa adanya kewajiban ke kantor. Sebab, mereka sudah melalui dan cukup terbiasa dengan kebijakan pembatasan pergerakan yang berlangsung saat pandemi.

    Agar kebijakan ini efektif, pemerintah juga harus memberikan insentif bagi perusahaan yang menerapkan WFH. Pemanis ini dapat diberikan dalam kerangka upaya pengendalian pencemaran udara sekaligus penghematan energi di DKI.

    “Insentif bukan ke arah pengguna (pekerja) langsung tapi ke pemberi kerja yang bersangkutan. misalnya dapat kelonggaran pajak daerah,” kata Joko.

    Baca: Kendaraan tak lolos uji emisi harus bayar lebih mahal

    Insentif untuk meningkatkan persentase WFH juga sudah diterapkan di beberapa negara. Misalnya, di Irlandia dan Belanda, perusahaan dapat mendapatkan pengurangan pajak jika mereka membolehkan karyawannya bekerja dari rumah.

    Pengurangan ini dihitung berdasarkan biaya tunjangan WFH ataupun ongkos lainnya yang dikeluarkan perusahaan kepada karyawan.

    Diiringi berbagai kebijakan
    Dosen dari Departemen Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, mengatakan kebijakan WFH massal merupakan langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi polusi udara dari sektor transportasi di Jabodetabek.

    Walau begitu, dia menggarisbawahi WFH ini sulit efektif meredam pencemaran jika tidak dibarengi kebijakan lainnya.

    Menurut Djoko, sembari menerapkan WFH massal, pemerintah dapat memanfaatkan luangnya jalan-jalan di Jakarta maupun di kota penyangga untuk memperbaiki sarana transportasi umum, perluasan trayek, integrasi antarmoda, dan pengadaan bus.

    Fokus solusi ini adalah untuk mengakomodasi sekitar 8,8 juta warga Jabodetabek yang belum terhubung dengan simpul transportasi massal.

    Baca: Atasi polusi udara di Jakarta pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan

    Selain pembenahan transportasi publik, dia turut menyarankan pemerintah memberlakukan kebijakan pembatasan kendaraan pribadi. Misalnya dengan penerapan kebijakan jalan berbayar, ataupun aturan 4-in-1 di sejumlah ruas jalan utama.

    Harapannya, ketergantungan pekerja Jabodetabek terhadap kendaraan pribadi–khususnya sepeda motor–dapat berkurang sehingga mereka lebih memilih angkutan publik untuk bekerja.

    “Solusi yang dilakukan haruslah mengatasi masalah bukan cuma polusi udara tapi kecelakaan, kemacetan, bahkan inflasi,” kata Djoko yang juga Wakil Ketua Bidang Penguatan dan Pengembangan Kewilayahan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Robby Irfany Maqoma, Environment Editor

  • Ada Dua Agenda Akbar, Warga Jakarta Diimbau WFH pada Kamis, 5 September 2024

    Ada Dua Agenda Akbar, Warga Jakarta Diimbau WFH pada Kamis, 5 September 2024

    7cloud.asia – Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengimbau warga untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH) pada Kamis, 5 September 2024.

    Imbauan WFH pada Kamis 5 September untuk pekerja ini berkenaan dengan dua agenda besar yang akan berlangsung di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

    Dua agenda yang dimaksud, yakni Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024 dan Misa Akbar yang dipimpin oleh Paus Fransiskus.

    Pemerintah Indonesia akan menggelar Indonesia ISF di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, pada 4-6 September 2024. Indonesia ISF 2024 adalah transformasi dari Indonesia Sustainability Forum (ISF) pada 2023.

    Forum ini mempertemukan pemangku kebijakan, pakar, serta investor dari seluruh dunia untuk membangun kemitraan di bidang keberlanjutan dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi hijau dunia.

    Heru Budi menyampaikan, acara internasional tersebut akan dihadiri oleh banyak tamu dari berbagai negara.

    “Penekanan kami adalah bahwa di tanggal 5 (September) selain ada kepala negara, tamu negara, juga ada kegiatan kenegaraan lainnya yang bersamaan yaitu Indonesia Sustainability Forum,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir dari Kompas.com, Senin (26/8/2024).

    Baca Juga: Misa Akbar yang Dipimpin Langsung Paus Fransiskus Diikuti 86.000 Umat Katolik

    Tidak hanya itu, Kamis (5/9/2024) juga bertepatan dengan Misa Akbar bersama Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus.

    Misa Akbar sebagai agenda utama dan penutup rangkaian kunjungan Paus ke Tanah Air ini akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dan Stadion Madya, Jakarta Pusat.

    Oleh karenanya, Heru berharap warga Jakarta dapat menerapkan WFH secara mandiri pada hari tersebut.

    “Pada tanggal 5 ada dua kegiatan besar, maka kami harapkan masyarakat bisa melihat ini mencermati ini sehingga bisa mengambil keputusan untuk melakukan work from home secara mandiri,” kata Heru.

    Kendati demikian, dia melanjutkan, aparat akan menerapkan rekayasa lalu lintas pada titik-titik tertentu agar arus kendaraan tetap berjalan lancar.

    Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Jakarta Syafrin Liputo mengimbau masyarakat untuk menghindari jalan-jalan tertentu pada 5 September mendatang.

    Jalan tersebut, antara lain Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Soebroto, serta Jalan Gerbang Pemuda dan Jalan Asia Afrika, Jakarta.

    Dalam rangka Misa Akbar dan Indonesia ISF 2024, pihaknya pun mengaku sudah menyiapkan rute-rute alternatifnya yang dapat dilintasi oleh warga DKI Jakarta.

    “Contohnya, yang dari arah selatan ke utara, bisa menggunakan Jalan Kebayoran Baru. Kemudian, masuk ke Jalan Arteri Pondok Indah, berputar di kawasan Arteri Pondok Indah,” ujar Syafrin, dikutip dari Kompas.com, Rabu (28/8/2024).

    Baca Juga: Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    “Kemudian, menuju ke kawasan Jalan Teuku Arif. Selanjutnya, masuk ke Tentara Pelajar, Pejompongan, dan seterusnya sampai Wahid Hasyim maupun ke Mas Mansyur untuk menuju ke arah selatan,” imbuh Syafrin.

    Demikian pula sebaliknya, masyarakat dari arah utara dan hendak ke arah selatan dapat melintasi rute alternatif tersebut.

    “Selanjutnya, untuk yang lainnya bisa melintasi melalui Tendean, seterusnya ke Jalan HR Rasuna Said dan ke arah selatan,” paparnya.

    Syafrin turut mengimbau agar masyarakat yang akan menuju GBK pada Kamis (5/9/2024) dapat menggunakan layanan angkutan umum.

    Untuk kegiatan di GBK, khususnya Misa Akbar, Transjakarta bersama dengan Polda Metro Jaya dan Satpol PP pun sudah menyiapkan tambahan transportasi dan kantong-kantong parkir.

    “Untuk kantong parkir, ada 1.800 bus yang akan datang ke GBK. Jadi, kantong parkirnya itu seluruhnya akan kami bagi. Ada yang di Kemayoran, kemudian ada yang di Cawang, dan Taman Mini,” kata Kabag Ops Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Dermawan Karosekali.

    Dishub DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya pun menegaskan kepada masyarakat yang tidak berkegiatan di kawasan itu untuk menghindari jalan-jalan yang sudah disebutkan.

  • Antisipasi Cuaca Ekstrem: Pemprov Daerah Khusus Jakarta Keluarkan Surat Edaran WFH

    Antisipasi Cuaca Ekstrem: Pemprov Daerah Khusus Jakarta Keluarkan Surat Edaran WFH

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengeluarkan surat edaran berisi imbauan agar pegawai dapat bekerja dari rumah (work from home/WFH) bila memang terjadi banjir di hari kerja.

    Surat Edaran berisi imbauan WFH ini untuk mengantisipasi cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada bulan Desember 2024 ini.

    “Kalau memang banjir, nanti dari kami akan keluarkan surat edaran seperti waktu pandemi Covid-19. Kami buat surat edaran ke kantor-kantor supaya nanti dari sisi pengusaha dan pekerja clear,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Nakertransgi) DKI Jakarta, Hari Nugroho di Jakarta, Rabu (11/12/2024)

    Pernyataan ini guna menanggapi keputusan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperpanjang status peringatan dini cuaca ekstrem hingga 15 Desember 2024.

    Baca: BMKG perpanjang peringatan cuaca ekstrem di Jabodetabek

    Dalam pernyataannya BMKG menyebutkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek terus meningkat dan akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

    Menurut BMKG, pada puncak cuaca ekstrem yakni 15 Desember mendatang, curah hujan bisa mencapai 100 milimeter sehingga ini perlu diwaspadai.

    Sebelumnya, BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem pada 7-8 Desember 2024. Peringatan ini diperpanjang hingga 15 Desember mengingat curah hujan di Jabodetabek masih tinggi.

    Guna mengantisipasi banjir, Pemerintah Provinsi DKI melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melakukan operasi modifikasi cuaca hingga akhir Desember nanti.

    Baca: Modifikasi cuaca sukses kurangi potensi bencana hidrometeorologi

    Operasi modifikasi cuaca ini kemudian dinyatakan mampu mengurangi curah hujan khususnya di Jakarta secara signifikan.

    Pemprov DKI lalu kembali akan melakukan operasi modifikasi cuaca pada 12-14 Desember 2024 untuk mengurangi intensitas hujan dan memitigasi banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

    Dalam kesempatan berbeda, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi mengatakan kemungkinan memberlakukan kebijakan WFH untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem yang berpotensi menyebabkan banjir, terutama jika banjir terjadi pada hari kerja.

    Adapun pertimbangan WFH akan diberlakukan bagi siswa sekolah hingga aparatur sipil negara (ASN). Namun tidak menutup kemungkinan bagi kementerian atau lembaga lainnya.

  • Jebakan WFH dan Fleksibelitas yang Justru Mengakibatkan ‘Burnout’

    Jebakan WFH dan Fleksibelitas yang Justru Mengakibatkan ‘Burnout’

    7cloud.asia – Tren work-from-home (WFH) atau bekerja dari rumah, bisa diartikan juga sebagai kerja jarak jauh, kini telah mengubah lanskap ketenagakerjaan secara permanen di seluruh dunia.

    Praktik yang mulai muncul pada awal 2020, karena didorong oleh pandemi Covid-19, ini memaksa adaptasi global terhadap cara kerja jarak jauh. Sebelum pandemi, hanya sekitar 3 persen karyawan global yang bekerja terutama dari rumah.

    Model kerja WFH pada awalnya menjanjikan fleksibilitas, terutama secara waktu, dengan asumsi pekerja dapat mengatur ritme kerja mereka sendiri. Laporan McKinsey tahun 2021 menyebutkan banyak perusahaan dan pekerja yang merasakan manfaat fleksibilitas WFH.

    Namun, realitas di lapangan saat ini mulai bergeser. Model kerja WFH dianggap berpotensi lebih penuh tekanan daripada bekerja dari kantor.

    Laporan ILO tahun 2021 menyebutkan adanya fenomena jam kerja meningkat, burnout, dan kesulitan memisahkan waktu bekerja dan waktu pribadi di rumah.

    Ini sejalan dengan hasil studi kualitatif kami–yang masih berlangsung–terhadap 10 remote workers dan 10 pimpinan perusahaan (employers) yang menerapkan kebijakan WFH di Indonesia.

    Kami menemukan dinamika sosial-psikologis di balik praktik WFH, termasuk kondisi kelelahan yang “unik”.

    Kelelahan mereka tidak berasal dari tumpukan pekerjaan, tetapi dari tuntutan untuk terus-menerus membuktikan bahwa mereka betul-betul sedang bekerja.

    Semua ini bermuara pada satu dilema atau ‘tarik-ulur’ antara kebutuhan manajer untuk mengontrol dan kebutuhan pekerja untuk dipercaya.

    Manajer cemas, karyawan ‘terpaksa sibuk’
    Dari FGD tersebut, kami mengidentifikasi sumber kecemasan utama mereka adalah hilangnya mekanisme pengawasan secara langsung yang semula bisa mereka lakukan dalam mode luring.

    Manajer yang terbiasa memantau pekerjaan timnya secara fisik/langsung di kantor kini kehilangan visibilitas tersebut. Kecemasan ini kemudian bermanifestasi menjadi kekhawatiran spesifik bahwa “komunikasi akan mandek” dan produktivitas tim menjadi tidak terlihat.

    Sebagai solusi “instan”, para manajer ini pun menerapkan “pengawasan digital” yang berlebihan. Ini melahirkan beban baru yang harus ditanggung oleh para pekerja.

    Salah satu responden kami mengaku justru lebih tertekan saat WFH. Ia terpaksa menggeser fokus kerjanya, yang semula sibuk menyelesaikan pekerjaan, kini sibuk melaporkan/menunjukkan bahwa ia benar-benar bekerja.

    Bagaimana caranya? Ia menghabiskan waktu menyempurnakan laporan harian (semacam logbook) berisi rincian aktivitas per jam selama durasi kerja.

    Kondisi inilah yang kami sebut sebagai “visibilitas performatif”, atau beban psikologis yang dialami pekerja untuk “tampil sibuk” di hadapan atasan. Hal ini menggerus energi pekerja, baik secara kognitif maupun emosional, sehingga berpotensi memengaruhi kinerja yang sesungguhnya.

    Beban ini seringkali diperparah oleh apa yang kami istilahkan sebagai “coordination tax”.

    Dalam konteks remote working, “pajak” ini mengacu pada biaya tersembunyi dalam bentuk waktu, upaya, atau produktivitas. Contoh praktiknya adalah rentetan rapat yang sebenarnya tidak perlu.

    Pajak ini dikeluarkan oleh organisasi dan tim dengan dalih untuk menjaga semua orang tetap terkoordinasi, terinformasi, dan bekerja menuju tujuan bersama saat tidak berada di lokasi yang sama.

    Namun, ini sebenarnya hanya untuk merespons kecemasan manajer akan “produktivitas yang tak terlihat”. Pada akhirnya, sumber daya yang berupa tenaga dan waktu pekerja yang berharga dihabiskan untuk koordinasi pekerjaan, bukan untuk melakukan pekerjaan.

    Fleksibilitas tanpa aturan jelas
    Jika temuan studi kami dihubungkan dengan kebijakan publik di Indonesia, terlihat bahwa burnout ini diperparah oleh “perangkap fleksibilitas” yang diciptakan oleh regulasi kita, terutama semangat UU Cipta Kerja (Omnibus Law).

    Aturan ini secara efektif memberikan payung hukum untuk fleksibilitas WFH, tanpa disertai “perlindungan” memadai sebagai penyeimbang. Karyawan jadi merasa perlu aktif bekerja 24 jam, dan tidak ada satu pun pasal yang melindungi kesejahteraan mental dan fisik mereka.

    Dampaknya, fleksibilitas kerja justru menjadi senjata tersembunyi bagi perusahaan. Sebab, beberapa manajer menafsirkannya sebagai hak untuk menuntut pekerja siap sedia dan bisa dihubungi kapan saja demi mengejar produktivitas.

    Kondisi ini pada akhirnya memperparah ketidakseimbangan kuasa antara pemberi kerja dan karyawan.

    Padahal, Undang Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 menyiratkan pemerintah bersama pengusaha mempunyai tanggung jawab bersama dalam mewujudkan hubungan kerja yang adil dan kondusif.

    Hak untuk tak terhubung
    Situasi WFH di Indonesia sangat kontras dengan berbagai negara maju yang telah memberlakukan “right to disconnect” secara hukum sebagai respons langsung terhadap era kerja digital dan remote.

    Australia, misalnya, mengesahkan regulasi pada 2024 yang memberi pekerja hak untuk menolak memonitor, membaca, atau merespons kontak dari atasan di luar jam kerja, kecuali jika penolakan tersebut dianggap tidak wajar.

    Portugal, dalam aturan kerja remote tahun 2021, secara tegas melarang pengusaha menghubungi pekerja di luar jam kerja (kecuali untuk keadaan darurat) dan memberlakukan denda bagi perusahaan yang melanggar.

    Sementara Spanyol dalam “UU Kerja Jarak Jauh” (2021) secara tegas mencantumkan hak pekerja remote untuk terputus secara digital. Ini bertujuan menjamin waktu istirahat dan privasi mereka.

    Jalan keluar dari siklus burnout
    Agar janji fleksibilitas WFH dapat benar-benar terwujud dan tidak sekadar menjadi beban, kita memerlukan pergeseran mendasar dari kontrol (mengawasi aktivitas) menjadi kepercayaan (fokus pada output).

    Untuk menciptakan ekosistem kerja jarak jauh yang lebih sehat di Indonesia, diperlukan solusi praktis yang berjalan di dua level.

    Di level pembuat kebijakan, pemerintah harus segera beralih dari mindset “darurat pandemi” melalui pendefinisian ulang “Kerja Jarak Jauh” serta membuat pedoman khususnya. Ini mencakup standar minimum kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di lingkungan rumah, jam kerja, dan hak atas tunjangan.

    Panduan semacam itu dapat memberikan kepastian hukum bagi perusahaan dan pekerja.

    Di level perusahaan, perusahaan dapat menerapkan “right to disconnect”. Kebijakan ini secara langsung menjawab dua masalah sekaligus: melindungi pekerja dari burnout akibat merasa “harus tampak sibuk” (visibilitas performatif), sekaligus meredakan kekhawatiran perusahaan akan target yang tidak tercapai.

    Dengan menerapkan “jam tenang” (misalnya, di luar jam 18.00-08.00), perusahaan justru akan mendapatkan tenaga kerja yang lebih fokus dan produktif.

    Kebijakan right to disconnect juga perlu dibarengi dengan sosialisasi bagi seluruh lini perusahaan dan implementasi desain kerja berbasis output.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Fitri Arlinkasari
    (Associate professor, Universitas Yarsi), Melok Roro Kinanthi (Dosen Psikologi, Universitas Yarsi) dan Sari Zakiah Akmal (Dosen, Universitas Yarsi)

  • Wacana Work from Home bagi ASN untuk Efisiensi BBM

    Wacana Work from Home bagi ASN untuk Efisiensi BBM

    7cloud.asia – Anggota Komisi II DPR, Ujang Bey, meminta pemerintah membuat desain kebijakan work from home (WFH) secara jelas dan terukur jika nantinya diterapkan.

    Bey menegaskan hal tersebut menanggapi usulan berbagai pihak agar ASN bekerja dari rumah atau WFH sebagai upaya efisiensi BBM di tengah potensi dampak ekonomi akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran di Timur Tengah.

    Salah satunya dari usulan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar.

    “Ketika nanti pemerintah akan menerapkan WFH, saya kira pemerintah perlu juga membuat desain WFH ini dengan jelas dan terukur,” kata Bey, Senin (16/3/2026).

    Baca: Iran tuntut AS tarik pasukannya dari Teluk Persia

    “Saya sebagai anggota Komisi II mengapresiasi usulan tersebut (WFH) dalam rangka efisiensi BBM. Memang beberapa hari lagi juga kita akan menghadapi libur Hari Raya Idulfitri dan Nyepi,” tandas politisi Partai NasDem itu.

    Menurut Bey, pemerintah perlu menghitung secara detail potensi penghematan BBM dari kebijakan tersebut. Selain itu, ia menekankan agar pelayanan publik tetap berjalan maksimal, meski diterapkan WFH.

    “(Perlu dihitung) baik secara data berapa BBM yang kita mau hemat serta bagaimana pelayanan terhadap masyarakat tetap berjalan dengan baik dan efektif meskipun WFH diberlakukan,” ujarnya.

    Pemerintah juga perlu menentukan instansi atau kementerian mana saja yang dapat menerapkan kebijakan WFH. Sebab, jumlah PNS yang ada saat ini cukup besar.

    “Karena instansi dan kementerian kan banyak ada berapa ribu PNS. Tinggal instansi/kementerian mana saja yang akan menyelenggarakan WFH dengan rentang waktu yang sudah ditetapkan, mungkin nanti di situ akan terlihat berapa BBM yang bisa dihemat,” tukasnya.

    Baca: Harga BBM bersubsidi belum akan naik

  • Kebijakan WFH Sehari dalam Sepekan Dinilai Kurang Efektif Menekan Konsumsi BBM, DPR Sebut Harus Disertai Pengetatan Penyaluran BBM Bersubsidi

    Kebijakan WFH Sehari dalam Sepekan Dinilai Kurang Efektif Menekan Konsumsi BBM, DPR Sebut Harus Disertai Pengetatan Penyaluran BBM Bersubsidi

    7cloud.asia – Pemerintah berencana menerapkan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan sebagai upaya menekan konsumsi BBM (bahan bakar minyak).

    Dengan kebijakan ini, pemerintah menargetkan dapat melakukan efisiensi konsumsi BBM hingga 20 persen dari total kebutuhan BBM nasional tercatat mencapai 232,417 juta liter per hari.

    Anggota Komisi XII DPR Ateng Sutisna menilai kebijakan ini tidak menjamin bakal efektif menurunkan konsumsi BBM, karena itu dia meminta pemerintah mengkaji lebih mendalam agar tidak meleset dari kondisi riil di lapangan.

    Menurut Ateng, upaya menekan beban subsidi energi memang menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan harga minyak global dan ketidakpastian geopolitik.

    Namun, kebijakan yang diambil harus berbasis perhitungan yang matang dan tepat sasaran, bukan sekadar asumsi.

    “WFH satu hari belum tentu efektif menurunkan konsumsi BBM. Ada potensi pergeseran aktivitas, dari mobilitas kerja menjadi mobilitas non esensial,” ujarnya dalam keterangannya kepada Parlementaria, di Jakarta Jumat (27/3/2026).

    Baca: Wacana WFH bagi ASN untuk menekan konsumsi BBM

    Ateng menilai, pendekatan yang terlalu sederhana dalam membaca pola konsumsi energi justru berisiko meleset dari tujuan awal. Tanpa pembatasan aktivitas seperti pada masa pandemi, masyarakat tetap akan melakukan perjalanan.

    Bahkan, jika diterapkan mendekati akhir pekan, kebijakan ini berpotensi mendorong peningkatan mobilitas ke luar kota. Selain aspek konsumsi BBM, Ateng juga menyoroti potensi dampak ekonomi yang kerap luput dari perhitungan.

    Berkurangnya aktivitas perkantoran dapat menekan pendapatan pelaku usaha kecil di sekitar pusat kerja, seperti pedagang kaki lima hingga pengemudi transportasi daring.

    “Jangan sampai kebijakan penghematan energi justru memukul ekonomi rakyat kecil yang bergantung pada aktivitas harian di kawasan perkantoran,” ujarnya.

    Di sisi lain, ia menambahkan, biaya operasional tidak benar-benar hilang, melainkan bergeser ke rumah tangga, seperti meningkatnya konsumsi listrik. Hal ini membuat efektivitas kebijakan WFH dalam konteks penghematan energi menjadi dipertanyakan.

    Karena itu, Ateng menegaskan bahwa arah kebijakan penghematan energi seharusnya difokuskan pada pembenahan sistem distribusi subsidi agar lebih tepat sasaran.

    Baca: Harga BBM bersubsidi belum akan naik

    “Masalah utamanya bukan pada jumlah konsumsi semata, tetapi pada siapa yang menikmati subsidi. Ini yang harus dibenahi,” kata politisi PKS ini.

    Ia mendorong pemerintah untuk memperketat penyaluran BBM bersubsidi, termasuk membatasi penggunaannya bagi kendaraan dengan kapasitas mesin besar.

    Langkah ini dinilai lebih berdampak langsung dalam menekan konsumsi tanpa membebani masyarakat kecil.

    Selain itu, percepatan reformasi skema subsidi juga dinilai krusial agar bantuan energi benar-benar diterima oleh kelompok yang berhak.

    “Penghematan harus dilakukan dengan cara yang tepat. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru membebani masyarakat, tetapi tidak menyentuh akar persoalan,” pungkasnya.