Tag: wisata

  • Berniat Healing dengan Belajar Yoga di Bali? Ini Rekomendasinya

    7cloud.asia – Bali sebagai tujuan wisata menawarkan paket tujuan wisata yang lengkap, wisata alam yang indah, wisata kuliner yang beragam, wisata budaya yang menakjubkan serta tempat healing yang nyaman. 

    Orang datang ke Bali dengan beragam tujuan, melepaskan diri dari rutinitas, menyepi untuk  menemukan kedamaian, ataupun healing.

    Di Bali, kadang orang menemukan jati diri dengan menyelami budaya masyarakat Bali yang unik. 

    Sebagqi tempat healing, Bali menawarkan banyak padepokan Yoga buat pengunjungnya untuk menenangkan diri.

    Baca: Berpetualang sambil belajar geologi di geopark

    Berikut adalah kelas yoga di Bali yang paling direkomendasikan untuk kamu yang butuh healing dan mengecharge jiwa kamu: 

    1 | Gudang Yoga, Ubud

     

    Sanggar yoga ini terletak di tengah sawah di Ubud , sebuah kawasan yang dikenal sebagai pusat budaya Bali. The Yoga Barn mencoba mengusung tema pedesaan dan pribumi ke dalam studionya, karena itulah ia memilih istilah ‘gudang’ untuk namanya. 

    Manajemen studio ini juga bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang santai dan menginspirasi bagi para tamu dan guru, untuk menemukan kewarasan mereka yang damai. 

    Ada lebih dari 100 kelas yoga per minggu yang bisa kamu ikuti di sini, antara lain kelas Ayurveda, Detox, Breathwork, dan Healing. Yoga Barn menyediakan enam studio yang terdiri dari tiga studio untuk kelas dan lokakarya harian, dan tiga studio untuk retret dan pelatihan.

    Alamat: Jl. Hanoman, Pengosekan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571
    Instagram: theyogabarn


     

    2 | Prana Spa Bali, Seminyak

    Selain menawarkan pengalaman spa yang menenangkan, Prana Spa Bali juga membuka sejumlah kelas yoga setiap hari. Kamu bebas memilih kelas pagi atau sore untuk diikuti, termasuk Sivananda Yoga, Hatha Yoga, dan Vinyasa Flow. 

    Jangan khawatir dengan panas dan serangga karena studio ber-AC dan bebas nyamuk, sehingga kamu dapat mengikuti seluruh sesi dengan nyaman.

    Alamat: Jl. Kunti I No 118 X, Seminyak, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361
    Instagram:  pranaspabali
     

    3 | Samadi Bali, Canggu

    Rasakan fokus mendalam dan relaksasi di tempat yang dikelilingi oleh taman yang rimbun dan tenteram di Samadi Bali. Ini menyediakan studio dengan desain yang memukau dengan beberapa jendela lebar agar Anda mendapatkan udara segar. 

    Apakah kamu seorang pemula atau penggemar yoga berpengalaman, tempat ini akan selalu siap menyambut dan memenuhi kebutuhanmu. Ini menawarkan pengalaman yoga holistik untuk penyembuhan atau pembaharuan, dengan spesialisasi Yoga Asthanga.

    Alamat: Jl. Canggu Padang Linjong No.39, Canggu, Kec. Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361 Instagram:  samadibali

    Baca: Langgar aturan puluhan wisatawan masuk daftar hitam pendaki Gunung Gede Pangraro

    4 | Gokul Yoga Bali, Mengwi

    Sekolah yoga ini juga membanggakan lingkungan alam sebagai salah satu titik fokusnya. Itu ditempatkan di dalam Shanti Toya Asram yang dikelilingi oleh tanaman hijau subur. 

    Selain menyediakan kursus pelatihan untuk praktisi yoga profesional, Gokul Yoga Bali juga menawarkan retret yoga dan kelas yoga individual bagi mereka yang mendambakan relaksasi yang damai. 

    Sekolah ini memegang dua sertifikat yaitu RY200 dan RYS300 dari Yoga Alliance. Jadi kualitasnya, tidak diragukan lagi, luar biasa.

    Alamat: Jl. Umahanyar, Penarungan, Kec. Mengwi, Kabupaten Badung, Bali 80351
    Instagram:  gokulyogabali
     

    5 | Kekuatan Sekarang Oasis, Sanur 

    Sementara sebagian besar Pusat Kegiatan Yoga dikelilingi oleh tanaman hijau, Power of Now Oasis adalah satu-satunya di Sanur yang memiliki hak istimewa untuk menawarkan studio yoga dengan pemandangan laut.

    Dan yang lebih seru lagi, kamu bisa mengikuti kelasnya, dengan pengawasan instruktur profesional dari dalam dan luar negeri, gratis! 

    Mereka juga menyediakan kelas untuk pemula, dan kelas yang lebih dinamis untuk mereka yang sudah memiliki keterampilan yoga tingkat lanjut. Lebih baik lagi, di Power of Now Oasis Sanur, kamu dapat meminta sesi privat dengan grup sendiri untuk latihan.

    Alamat: Jl. Pantai Retro, Sanur Kauh Kec. Denpasar Sel., Kota Denpasar Bali 80224
    Instagram:  powerofnowoasis

    Baca: Kiat wisata ramah lingkungan

  • Jalan-jalan ke Kotagede, Merasakan Tata Kota Jawa di Masa Lalu

    Jalan-jalan ke Kotagede, Merasakan Tata Kota Jawa di Masa Lalu

    7cloud.asia – Kotagede yang menjaid cikal bakal kota Jogja, hingga masih menjadi tujuan wisata yang menarik.

    Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas menjadi tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi. 

    Jalan-jalan ke Kotagede kita akan menemukan toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng yang telah berusia ratusan tahun.

    Di Kotagede kita juga akan menemukan tata kota kerajaan Jawa di masa lalu yang biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan – utara.

    Baca: Mengenal sejarah Kotagede

    Berikut sejumlah tempat yang bisa disambangi saat melancong ke Kotagede: 

    1. Pasar Kotagede

    Pasar tradisional Kotagede yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini.

    Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar Kotagede ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah.

    Bila ingin berkelana di Kotagede, kita bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan kaki ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.

    Baca: Asal muasalh nama Kota Jogja

    2. Kompleks Makam Pendiri Kerajaan

    Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, kita akan menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh.

    Gapura ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran yang indah. Beberapa abdi dalem berbusana adat Jawa menjaga kompleks ini 24 jam sehari.

    Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam. Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana).

    Pengunjung hanya diperbolehkan masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat pukul 08.00 – 16.00 WIB.

    Untuk menjaga kehormatan para pendiri Kerajaan Mataram yang dimakamkan di sini, pengunjung dilarang memotret / membawa kamera dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam.

    Tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di sini meliputi: Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan keluarganya.

    Baca: makna sumbu filosofi dalam tata kota Jogja

    3. Masjid Kotagede

    Berkelana ke Kotagede tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Masjid Kotagede, masjid tertua di Yogyakarta yang masih berada di kompleks makam.

    Setelah itu tak ada salahnya untuk berjalan kaki menyusuri lorong sempit di balik tembok yang mengelilingi kompleks makam untuk melihat arsitekturnya secara utuh dan kehidupan sehari-hari masyarakat Kotagede.

    4. Rumah Tradisional
    Persis di seberang jalan dari depan kompleks makam, kita bisa melihat sebuah rumah tradisional Jawa.

    Namun bila mau berjalan 50 meter ke arah selatan, kita akan melihat sebuah gapura tembok dengan rongga yang rendah dan plakat yang yang bertuliskan “cagar budaya”.

    Masuklah ke dalam, di sana kita akan melihat rumah-rumah tradisional Kotagede yang masih terawat baik dan benar-benar berfungsi sebagai rumah tinggal.

    Baca: UNESCO akui sumbu filosofi sebagai warisan dunia

    5. Kedhaton
    Berjalan ke selatan sedikit lagi, Anda akan melihat 3 Pohon Beringin berada tepat di tengah jalan.

    Di tengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan “watu gilang”, sebuah batu hitam berbentuk bujur sangkar yang permukaannya terdapat tulisan yang disusun membentuk lingkaran: ITA MOVENTUR MUNDU S – AINSI VA LE MONDE – Z00 GAAT DE WERELD – COSI VAN IL MONDO.

    Di luar lingkaran itu terdapat tulisan AD ATERN AM MEMORIAM INFELICS – IN FORTUNA CONSOERTES DIGNI VALETE QUIDSTPERIS INSANI VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMNITE VOS CONSTEMTU – IGM (In Glorium Maximam).

    Entah apa maksudnya, barangkali Anda bisa mengartikannya untuk kami?

    Dalam bangunan itu juga terdapat “watu cantheng”, tiga bola yang terbuat dari batu berwarna kekuning-kuningan.

    Masyarakat setempat menduga bahwa “bola” batu itu adalah mainan putra Panembahan Senapati. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa benda itu sebenarnya merupakan peluru meriam kuno.

    Baca: Malioboro ditataulang sesuai posisinya dalam sumbu filosofi kota Jogja

    6. Reruntuhan Benteng
    Panembahan Senopati membangun benteng dalam (cepuri) lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling kraton, luasnya kira-kira 400 x 400 meter. Reruntuhan benteng yang asli masih bisa dilihat di pojok barat daya dan tenggara.

    Temboknya setebal 4 kaki terbuat dari balok batu berukuran besar. Sedangkan sisa parit pertahanan bisa dilihat di sisi timur, selatan, dan barat.

    Berjalan-jalan menyusuri Kotagede akan memperkaya wawasan sejarah terkait Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Pulau Jawa.

    Selain itu, kita juga bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang ratusan tahun silam berada di dalam benteng kokoh.

    Berbeda dengan kawasan wisata lain, penduduk setempat memiliki keramahan khas Jawa, santun, dan tidak terlalu komersil.

    Di Kotagede, kita takkan diganggu pedagang asongan yang suka memaksa. Ini memang sedikit mengejutkan, atau lebih tepatnya menyenangkan.

  • Wisata di Papua Barat, Nggak Cuma Ada Raja Ampat

    Wisata di Papua Barat, Nggak Cuma Ada Raja Ampat

    7cloud.asia – Papua Barat dianggap sebagai provinsi yang memiliki potensi wisata alam dan wisata budaya yang eksotis.

    Hal ini tak lepas dari keberadaan Raja Ampat yang sangat mendukung geliat wisata di Papua Barat sehingga menjadi pusat perhatian wisatawan dunia.

    Akan tetapi wisata di Papua Barat bukan hanya tentang Raja Ampat, masih ada potensi wisata lainnya yang siap mencuri perhatian dan dijamin bakal meninggalkan kesan mendalam untuk wisatawan yang berkunjung ke sana.

    Baca: Menggali potensi agrowisata di perkebunan teh Kayu Aro

    Nah, buat kamu yang punya rencana berlibur ke Papua Barat, pastikan juga mengunjungi dua tujuan wisata ini ya.. 

    1. Pagoda Sapta Ratna

    Banyak orang menganggap Kota Sorong, ibu kota Papua Barat hanya sebagai tempat transit menuju ke Raja Ampat.

    Padahal Sorong juga memiliki spot wisata berbasis religi dengan view yang sangat cantik dan mengagumkan, bernama Pagoda Sapta Ratna yang telah berdiri sejak tahun 1992 lalu.

    Baca: Belajar sejarah bebatuan di UNESCO Global Geopark

    Letaknya yang berada di atas bukit dengan bentuk bangunan yang artistik membuat Pagoda Sapta Ratna terlihat megah dari kejauhan dan mengundang rasa penasaran bagi siapa pun yang melihat bangunan berlantai tujuh ini.

    Lokasi Pagoda Sapta Ratna pun sangat strategis untuk ditempuh karena berada di tengah Kota Sorong, tepatnya di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 49, Klakubik, Sorong dan mudah diakses dengan berbagai moda transportasi.

    Untuk menuju ke lokasi pagoda ini Sobat Pesona bahkan bisa menggunakan angkutan umum, karena dari jalan utama hanya perlu sekitar 4 menit perjalanan saja ke area pagoda.

    Pagoda ini menjadi landmark kebanggaan masyarakat Sorong sekaligus sebagai simbol kerukunan antar umat beragama di ibukota provinsi Papua Barat ini.

    Baca:  Kawah Ijen ditetapkan menjadi anggota UNESCO Global Geopark

    2. Desa Wisata Arborek
    Desa Wisata Arborek merupakan tujuan wisata yang menawarkan fasilitas lengkap, baik wisata alam maupun wisata budaya.

    Desa wisata yang satu ini masuk sebagai salah satu dari jajaran pemenang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 untuk kategori ‘Daya Tarik Wisata’.

    Dari Sorong, Desa Wisata Arborek bisa dicapai dalam waktu sekitar 3 – 4 jam dengan menggunakan kapal ferry menuju Waisai lalu dilanjutkan lagi dengan menggunakan speed boat selama kurang lebih 2 jam perjalanan.

    “Mudah-mudahan ajang ADWI 2021 bisa membuka peluang untuk bangkitnya pariwisata dan ekonomi kreatif dan lapangan kerja kembali tersedia,” jelas Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, saat berkunjung ke Desa Wisata Arborek beberapa waktu lalu

    Baca: Mengenal batik di Museum Batik di sejumlah kota

    Ke Desa wisata Arborek jangan lewatkan keindahan bawah laut di sana, atau kita bisa menanam terumbu karang. Budidaya terumbu karang ini menjadi salah satu yang terus diperkuat oleh masyarakat setempat.

    Buat kamu yang ingin membeli cenderamata, tersedia berbagai produk kerajinan yang dibuat oleh para mama-mama di desa Arborek.

    Noken Arborek yang merupakan tas berbahan dasar daun pandan yang dibuat dengan teknik anyam serta ada juga anyaman topi yang berbentuk pari, bernama Topi Manta.

    Setelah mengetahui daya tarik dan cara menuju ke Desa Wisata Arborek, kini Sobat Pesona sudah bisa #MenyapaDesa dan menikmati waktu berkualitas selama berlibur di Desa Wisata Arborek ini.

     

  • Jalan-jalan ke Pulau Untung Jawa, Ini yang Bisa DIlakukan

    Jalan-jalan ke Pulau Untung Jawa, Ini yang Bisa DIlakukan

    7cloud.asia – Kepulauan Seribu tetap diminati wisatawan. Keberadaannya yang dekat dari daratan serta keindahan alam yang masih asli menjadi daya tarik Kepulauan Seribu.

    Salah satu tujuan wisatawan di Kepulauan Seribu adalah Pulau Untung Jawa. Pulau Untung Jawa menerima Anugerah Desa Wisata Indonesia oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI pada tahun 2021.

    Hal ini karena Pulau Untung Jawa memiliki objek wisata menarik. Selain lokasinya dekat dengan daratan Jakarta, Pulau Untung Jawa memiliki berbagai destinasi wisata menarik yang dapat dinikmati.

    Baca: Kiriman sampah ke Pulau Untung Jawa

    Menurut Suku Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kepulauan Seribu, berikut adalah 13 destinasi wisata yang di Pulau Untung Jawa:

    Kampung Jepang

    Para pengunjung bisa menikmati beraneka ornamen Jepang di wilayah ini. Selain itu, lokasinya yang dekat dengan Pantai Sakura, membuat Kampung Jepang kerap dipilih untuk menikmati segarnya udara pantai dan berwisata air.

    Tidak hanya itu, di Kampung Jepang, para pengunjung juga bisa memilih aneka kuliner.

    Pantai Arsa

    Berlokasi dekat dengan dermaga utama, Pantai Arsa menjadi pilihan banyak wisatawan karena di lokasi ini mereka bisa menikmati suasana pantai dengan kehadiran gazebo serta berbagai aneka wisata air atau sekadar menikmati sejuknya air laut di bibir pantai.

    Baca: Seperti ini penganut slow living saat jalan-jalan

    Jembatan Pengantin

    Lokasi ini menjadi salah satu pilihan wisata yang bisa membawa para pengunjung dekat dengan alam.

    Di lokasi ini pengunjung bisa menyusuri jalan setapak yang dekat dengan laut dan hutan mangrove serta mengelilingi pohon pengantin.

    Taman Clownfish

    Bagi pecinta snorkeling, spot clownfish menjadi daya tarik tersendiri. Di lokasi ini pengunjung bisa melihat lebih dekat clownfish atau yang dikenal ikan nemo yang tengah menari di dekat anemon.

    Syaifudin Boska, pencetus spot clownfish snorkeling, menyiapkan area spot yang dekat dermaga mangrove ini dengan kedalaman 1,5 meter, agar para wisatawan bisa berswafoto dengan clownfish.

    Baca: Spot wisata alam yang mudah diakses dari Jakarta

    Pantai Amiterdam

    Lokasinya berdekatan dengan RPTRA Amiterdam dan pengunjung bisa merasakan suasana pantai dengan ditemani rindangnya pohon. Di sini juga ada arena bermain anak yang mudah diakses.

    Benteng Martello Pulau Kelor

    Awalnya lokasi ini bernama Pulau Keurkof, yang dalam bahasa Belanda artinya adalah pulau makam.

    Hal ini karena Belanda mengubur para tahanannya di pulau ini. Namun semenjak diambil alih oleh Indonesia, pulau ini diberi nama Pulau Kelor.

    Sebagai peninggalan masa kolonial Belanda, pulau ini juga terdapat beberapa bangunan bersejarah, antara lain, galangan kapal dan benteng yang dibangun VOC untuk menghadapi serangan Portugis pada abad ke-17, yaitu Benteng Martello yang masuk ke dalam bangunan cagar budaya.

    Baca: Tetap ramah lingkungan saat liburan

    Suaka Marga Satwa Pulau Rambut

    Pulau yang berdekatan dengan Pulau Untung Jawa ini menjadi destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin melihat secara langsung satwa liar. Pengunjung akan dipandu mengenal lebih dekat berbagai satwa yang dilindungi ini.

    Tugu Perpindahan Pulau Ubi

    Tempat ini tanda sejarah perpindahan warga Pulau Ubi yang harus beralih karena mulai terkikis air laut. Pulau Untung Jawa menjadi pilihan warga Pulau Ubi karena berdekatan pada tahun 1954.

    Laguna Mangrove

    Bagi pecinta wisata mangrove, lokasi ini bisa menjadi pilihan karena wisatawan bisa menyusuri jalan yang dipenuhi tanaman bakau di pinggir pulau, dengan akses yang mudah.

    Baca: Wisata pohon raksasa di Agam

    Pantai Sentigi

    Lokasinya berdekatan dengan kantor Kelurahan Pulau Untung Jawa. Di pantai ini para pengunjung bisa menikmati kolam buatan yang diisi aneka ikan, dengan fasilitas gazebo yang memberikan kenyamanan bagi pengunjung untuk bersantai.

    Pantai Sakura

    Hampir sama dengan pantai yang ada di Pulau Untung Jawa, Pantai Sakura masih menawarkan keindahan pantai yang luas dengan aneka wisata air atau watersport.

    Di sini turis bisa memanfaatkan fasilitas swafoto yang disediakan, dengan ditemani kuliner khas pulau.

    Bumi Perkemahan

    Bagi wisatawan yang ingin berkemah, lokasi ini bisa menjadi pilihan. Lokasinya yang berdekatan dengan laut menambah kenyamanan pengunjung.

    Fasilitas pendukung bagi pengunjung juga tersedia, termasuk untuk akses jalan dengan kebutuhan lainnya.

    Baca: Mungkinkah relief di Candi Borobudur dihidupkan kembali

    Pulau Onrust

    Berada di dekat dengan Pulau Untung Jawa, Pulau Onrust menjadi tempat bersejarah bagi kejayaan VOC bersama dengan Pulau Cipir, Pulau Kelor, dan Pulau Bidadari. Hal ini karena di situ berdiri benteng VOC yang kokoh, kala itu.

    Ada 29 lokasi yang dapat dinikmati pengunjung di Pulau Onrust, meski mayoritas hanya berupa reruntuhan bangunan dan sisa fondasi yang menjadi saksi sejarah.

    Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi nilai sejarah Pulau Onrust, yang memiliki arti “tidak pernah beristirahat” atau dalam bahasa Inggrisnya adalah unrest.

    Maklum saja, pada tahun 1615 VOC pertama kali mendirikan sebuah galangan kapal dan sebuah gudang kecil.

    Selain sebagai galangan kapal, Pulau Onrust digunakan sebagai pulau pertahanan pada 1618. Sesuai namanya, on rust (dalam pemeliharaan), bangunan di pulau itu tampak mendapat pemeliharaan di berbagai sisi yang rusak akibat perang.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Membangun Desa Wisata yang Berkelanjutan Lagi Ramah Lingkungan

    Membangun Desa Wisata yang Berkelanjutan Lagi Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Pemerintah, melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan kewenangan penuh kepada desa untuk mengelola aset dan meningkatkan perekonomiannya.

    Kebijakan ini dimanfaatkan oleh banyak desa di Indonesia untuk membangun dan mengembangkan desa wisata.

    Desa wisata merupakan bentuk dari pariwisata berbasis komunitas yang mengedepankan konsep keberlanjutan sehingga dinilai mampu mengurangi efek buruk dari pengembangan pariwisata massal yang fokus pada kedatangan wisatawan dalam jumlah besar.

    Efek buruk ini termasuk berkurangnya sumber daya alam, tercemarnya lingkungan, banyaknya pengalihan fungsi lahan produktif, terjadinya eksploitasi sosial-budaya serta meningkatnya kriminalitas.

    Kepopuleran desa wisata terus mengalami peningkatan bahkan pascapandemi Covid-19.

    Baca: Mengenal desa wisata Sukarare

    Jenis pariwisata lewat desa wisata dinilai memiliki resiliensi tinggi terhadap berbagai macam perubahan sosial seperti perkembangan teknologi, perubahan daya beli masyarakat, bahkan pandemi, karena berbasis masyarakat setempat.

    Kondisi  ini meningkatkan jumlah desa wisata baru. Pada tahun 2023, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat adanya 4.674 desa wisata di Indonesia.

    Jumlah ini telah mengalami peningkatan sekitar 36.7% dari tahun sebelumnya yang hanya 3.419 desa wisata.

    Bertambahnya jumlah desa wisata di Indonesia sayangnya belum dibarengi dengan strategi yang matang untuk mempertahankan keberlanjutannya. Desa wisata yang ada sekarang ini cenderung mengikuti tren sesaat.

    Keinginan untuk viral dan diserbu banyak wisatawan menyebabkan banyak desa berlomba-lomba membangun berbagai atraksi yang cenderung sama.

    Baca: Dana desa dongkrak kesejahteraan warga desa jika dikelola dengan benar

    Sebut saja, jembatan kaca, sepeda tali, rumah kaca, dan berbagai objek foto unik lainnya yang bukan berasal dari desa itu sendiri.

    Kecenderungan ini menyebabkan banyak desa wisata hanya ramai sesaat atau bahkan tidak pernah ramai sama sekali.

    Selain itu, ketidaksiapan masyarakat lokal di bidang industri pariwisata juga menjadi salah satu penyebab tidak berkembangnya desa wisata.

    Kedua hal ini menyebabkan tujuan pembangunan desa wisata yang bersifat berkelanjutan sulit dicapai.

    Desa wisata yang diharapkan dapat menjadi solusi dari buruknya pariwisata massal akan menjadi pariwisata massal juga apabila perkembangannya tidak dikontrol dengan baik.

    Beberapa pariwisata yang sudah viral, misalnya, mengalami berbagai macam dampak buruk seperti sampah yang menumpuk, kerusakan lingkungan, dan berbagai masalah lainnya.

    Baca: Desa adat yang bisa dikunjungi untuk wisata yang lebih ramah lingkungan

    Lantas, apa solusinya? Agar menjadi model pariwisata yang berkelanjutan, pengembangan desa wisata perlu mengedepankan cara-cara berikut:

    1. Fokus pada potensi lokal

    Pembentukan desa wisata dapat diawali dengan mengidentifikasi potensi unik serta kearifan lokal untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata, apakah lanskap, keunikan sosio-kultural ataupun dengan inovasi.

    2. Kualitas daripada kuantitas

    Saat ini, pengembangan desa wisata menjadi program pemerintah dan tidak semua berangkat dari potensi yang ada di masyarakat. Akibatnya, perkembangan desa wisata mengalami stagnasi karena tidak dibarengi dengan sarana prasarana maupun sumber daya manusia yang memadai.

    3. Filling the gap dan asas sinergitas

    Akan lebih baik jika setiap desa wisata memiliki satu spesialisasi yang spesifik sehingga memberikan pengalaman yang berbeda bagi para wisatawan.

    Pada satu area wisata gunung misalnya, banyak bermunculan desa-desa wisata di sekeliling gunung tersebut. Sehingga, atraksi yang ditawarkan cenderung sama. Situasi seperti ini memperlukan spesialisasi.

    Baca: Jalan-jalan ke geopark, membolang untuk mengenal sejarah Bumi

    4. Program multi years

    Pengembangan pariwisata jangan dianggap dapat selesai dalam waktu singkat. Manfaat dari sektor pariwisata berkelanjutan tidak bisa secara instan diperoleh.

    Pengembangan secara massif di awal belum tentu dapat berlanjut, sehingga perlu pertimbangan kapasitas dan kemampuan seluruh elemen, baik kemampuan fisik, sosial, serta lingkungan.

    Hal ini mencakup diversifikasi produk dan kegiatan wisata yang memperhatikan keunikan alam. Setiap kegiatan tidak boleh melebihi daya dukung ekosistem.

    Diperlukan pembatasan jumlah pengunjung harian, tidak membangun infrastruktur secara intensif, pengelolaan limbah, penghematan energi dan air, penggunaan teknologi ramah lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal untuk berperan aktif dalam praktik berkelanjutan.

    5. Penguatan regulasi

    Regulasi yang ada masih bersifat nasional dan mengatur bagaimana teknis pembangunan amenitas atau fasilitas penunjang pariwisata yang ada di desa wisata termasuk di dalamnya pembangunan toilet, gazebo, tempat sampah, dan papan informasi.

    Belum ada regulasi yang secara spesifik mengatur pembangunan atraksi-atraksi wisata dengan mempertimbangkan bahaya dari lokasi fisik wilayah yang ditimbulkan.

    Misalnya pada desa wisata berbasis perairan atau sungai, banyak warung-warung di sekitarnya yang masih membuang limbahnya ke sungai sehingga menyebabkan sungai yang menjadi daya tarik utamanya justru tercemar.

    Kondisi ini memerlukan peraturan desa yang mengatur isu-isu spesifik terkait desa wisata seperti kepengurusan organisasi kepariwisataan, pengelolaan sampah, pembangunan atraksi wisata yang ramah lingkungan, dan isu-isu lingkungan lainnya yang mengganggu keberlanjutan aktivitas pariwisata.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Dian Wahyu Utami Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • 8 Destinasi Pilihan untuk Pelaku Slow Traveling

    8 Destinasi Pilihan untuk Pelaku Slow Traveling

    7cloud.asia – Slow traveling kini makin diminati oleh para pelancong, baik lokal maupun mancanegara.

    Dalam keterangan resmi Agoda di Jakarta, baru-baru ini penelusuran soal slow traveling telah meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir.

    Rilis data soal slow traveling oleh Agoda ini didasarkan pada data dari Google Trends.

    “Di dunia yang serba cepat saat ini, banyak wisatawan menyadari keinginan untuk memanfaatkan liburan mereka dengan beristirahat sejenak dari kesibukan sehari-hari” kata Senior Country Director Indonesia di Agoda Gede Gunawan.

    Gede menambahkan, para traveler kini menjalin hubungan yang lebih dalam dengan orang-orang dan tempat-tempat yang mereka kunjungi.

    Baca: Manfaat slow traveling

    Tempat wisata yang memiliki budaya unik dan biaya hidup yang terjangkau mnjadi tempat yang dipilih para pelaku slow traveling ini.

    Berbeda dengan konsep liburan pada umumnya, slow traveling belakangan lebih disukai karena perjalanannya cenderung lebih santai, sehingga bisa menikmati pengalaman liburan secara lebih maksimal.

    Menanggapi tren tersebut, pihaknya kemudian memberikan delapan rekomendasi tempat yang cocok bagi masyarakat untuk melakukan slow traveling yaitu:

    1. Khao Lak, Thailand

    Surga surfing Khao Lak menjadi tujuan wisata santai paling populer di Asia, bukan tanpa alasan. Banyak pantai dan tempat wisata alamnya yang kurang dikenal, namun merupakan tempat indah yang sempurna untuk bersantai dan menghilangkan penat sehari-hari.

    Di malam hari, bar dan restoran di sekitar jalan Phet Kasem adalah tempat yang tepat untuk menikmati musik rakyat Thailand dan bahkan mungkin permainan snooker yang dimainkan oleh para pemain lokal.

    Baca: Begini cara pelaku slow living saat traveling

    2. Seoul, Korea Selatan

    Jalan-jalan di Buam-dong yang tenang menawarkan perpaduan unik antara kafe modern berkelas dan toko-toko nostalgia dari tahun 1960an-70an, seperti penggilingan padi tradisional dan tempat pangkas rambut.

    Baeksasil Valley yang tenang menarik wisatawan untuk meninggalkan hiruk-pikuk kota dan membenamkan diri dalam peristirahatan alami yang menyegarkan, dengan air yang masih alami dan hutan yang terjaga dengan baik.

    Pencinta sastra dapat menjelajahi Seongbuk-dong, tempat kediaman Hanok yang bersejarah bagi para penulis terkenal Korea sejak tahun 1930-an.

    3. Kepulauan Perhentian, Malaysia

    Melarikan diri ke Kepulauan Perhentian, surga pantai klasik Malaysia di pesisir Terengganu, yang menawarkan pesona tropis nan tenang, di mana air jernih bertemu dengan pantai berpasir lembut.

    Perhentian Kecil dan Perhentian Besar merupakan tempat ideal untuk bersantai dan menikmati petualangan akuatik, seperti snorkeling dan menyelam di tengah terumbu karang yang penuh warna.

    Baca: Jalan-jalan ke desa adat, cara lain untuk slow traveling

    4. Tokyo, Jepang

    Tokyo dikenal sebagai kota yang tidak mungkin dijelajahi dalam satu kali perjalanan. Rasakan pesona Tokyo layaknya penduduk lokal dengan berjalan-jalan di beberapa lingkungan yang kurang terkenal.

    Sebut saja Shimokitazawa untuk berbelanja barang antik, Yanaka untuk suasana tradisional, dan lingkungan bohemian Koenji untuk menikmati musik alternatif dan punk rock.

    Lalu, akhiri hari dengan menikmati koktail rumahan di sebuah gang kecil di Sangenjaya.

    5. Kepulauan Siargao, Filipina

    Dijuluki “Surfing Capital of the Philippines,” tempat surfing ‘Cloud 9’ yang terkenal dan menghadap ke lautan lepas, memikat para penggemar surfing dengan ombak terbaiknya sepanjang tahun.

    Terlepas dari ukuran pulaunya yang kecil, Siargao memiliki banyak keajaiban alam yang layak dinikmati.

    Pulau ini bisa dijelajahi dengan menyewa sepeda motor. Magpupungko Rock Pools dipenuhi ukiran batu, dan singkap aura mistik Gua Hagukan yang bersinar di tengah kemegahan Sohoton Cove.

    Baca: Wisata ramah lingkungan untuk pelaku slow traveling

    6. Pekanbaru, Indonesia

    Lokasi-lokasi indah seperti Danau Siak dan Danau Kayangan menawarkan hari yang santai di atas air; menyewa perahu, berenang, atau sekadar bersantai di antara lingkungan yang indah.

    Gang-gang bersejarah di Kampung Bandar dipenuhi dengan rumah-rumah kayu dan penduduk setempat yang ramah. Untuk mendapatkan pengalaman budaya, kompleks kuil Budha Muara Takus dapat membawa wisatawan kembali ke suasana masa lalu.

    7. Kota Ho Chi Minh, Vietnam

    Kota Ho Chi Minh mengalirkan energi dinamis yang bisa dinikmati dengan sepenuh hati. Ikuti irama penduduk setempat dan resapi kota yang tenang dengan menyesap kopi tradisional Vietnam, Ca Phe Sua Da, di pagi hari.

    Menikmati budaya Vietnam dengan memanjakan diri di tengah beragam jajanan kaki lima yang epik, lalu beristirahat sejenak dari keramaian dan mencari ketenangan di antara koleksi lebih dari seribu pohon di Tao Dan Park yang jadi salah satu taman tertua di kota ini.

    Saigon menyajikan beragam pengalaman yang dapat ditemukan dengan menikmatinya secara perlahan.

    8. Ahmedabad, India

    Ahmedabad mengajak para petualang untuk meluangkan waktu menjelajahi jalur-jalur kota tua havelis era kolonial dan City Walls yang ikonik. Ada cita rasa autentik yang dapat ditemukan di pasar Manek Chowk dan pelipur lara di sepanjang Sungai Sabarmati.

    Kunjungan ke Ashram Sabarmati Gandhi dan Museum Tekstil Calico akan membawa wisatawan terhubung dengan sejarah kota ini, serta warisan industri tekstil katun yang kaya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Penataan Kawasan Waterfront City Pangururan Rampung, Danau Toba Siap Hadirkan Wisata Kelas Dunia

    Penataan Kawasan Waterfront City Pangururan Rampung, Danau Toba Siap Hadirkan Wisata Kelas Dunia

    7cloud.asia – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akhirnya berhasil merampungkan penataan Kawasan Waterfront City Pangururan untuk menghadirkan pariwisata berkelas dunia di Danau Toba.

    Penataan Kawasan Waterfront City Pangururan ini untuk mendukung pengembangan bagi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di seluruh Indonesia, termasuk Danau Toba

    Kawasan Waterfront City Pangururan seluas 64 hektar tersebut, dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi Building Information Modelling (BIM) untuk perancangan konstruksi dan pemanfaatan material sesuai prosedur yang berlaku.

    Penataan ini mencakup pembangunan jalan, penyediaan air baku dan bersih, pengelolaan sampah, sanitasi, serta perbaikan hunian penduduk.

    Infrastruktur menjadi prioritas utama, diikuti oleh fasilitas penunjang dan promosi besar-besaran untuk menarik wisatawan.

    Baca: Mengenal Geopark Danau Toba

    Direktur Pengembangan Kawasan Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya Wahyu Kusumosusanto mengatakan penataan kawasan Waterfront City Pangururan dibangun dengan anggaran sebesar Rp161,5 miliar.

    Penataan yang dilakukan mencakup kawasan Panorama Tele, dimulai pada 19 September 2022 dan selesai pada 23 Januari 2024.

    Setelah dilakukan penataan, saat ini Kawasan Waterfront City Pangururan memiliki wajah baru dan dilengkapi dengan berbagai instalasi seni yang dirancang untuk memperkaya pengalaman wisata di Danau Toba.

    Beberapa instalasi tersebut antara lain, Patung Boraspati Tano dan Boru Saniang Naga yang menggambarkan kebudayaan Batak.

    Kemudian juga Patung Pustaha dan Syair Tao Toba yang merepresentasikan kekayaan literatur lokal, serta display batuan geologi Toba yang bersifat edukatif.

    Baca: Mengenal Geopark yang ada di Indonesia

    Selain itu, atraksi seni air mancur “Aek Menari” dan panggung apung “Aek Natio” akan menjadi pusat pertunjukan seni dan budaya. Diputar pula instalasi seni musik “Aek Margondang” yang akan memperdengarkan musik tradisional Batak.

    “Dan juga Taman Rohani dan Instalasi Dry Fountain Plaza Rohani menawarkan ruang refleksi dan spiritual yang menenangkan,” kata Wahyu.

    Kawasan Waterfront City Pangururan juga akan dilengkapi dengan Galeri Samosir yang akan menampilkan kekayaan budaya dan sejarah Samosir. Di dalamnya terdapat instalasi seni tradisi “Solu Bolon” dan ukiran totem Batak.

    Selain itu, storytelling signages di Pangururan Waterfront juga akan memberikan wawasan mendalam tentang sejarah dan budaya setempat.

    Dengan berbagai fasilitas modern dan instalasi seni yang kaya akan nilai budaya, penataan kawasan ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik Danau Toba sebagai destinasi wisata unggulan yang menarik wisatawan domestik dan mancanegara.

    Baca: Wisata pohon raksasa berusia ratusan tahun

    Penataan Kawasan Waterfront City Pangururan ini merupakan komitmen pemerintah dalam memajukan sektor pariwisata melalui pengembangan infrastruktur berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.

    Diharapkan kawasan Danau Toba semakin dikenal secara internasional sebagai destinasi wisata dengan keindahan alam, kekayaan budaya, dan pengalaman yang tak terlupakan.

    Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menekankan pentingnya keterpaduan pembangunan infrastruktur di setiap Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

    Oleh karena itu, Kementerian PUPR juga telah menyusun Program Pengembangan Kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Danau Toba.

    Untuk pariwisata, ujarnya, pertama yang harus diperbaiki infrastrukturnya, kemudian amenities, dan gelaran, baru promosi besar-besaran.

    ”Itu yang harus kita jaga betul. Kalau hal itu tidak siap, wisatawan akan datang sekali saja dan tidak kembali lagi. Prinsip penataan kawasan wisata ini adalah mengubah wajah kawasan dengan cepat, terpadu dan memberikan dampak bagi ekonomi lokal dan nasional,” ujar Basuki di Jakarta, Senin.

    Sumber:Antaranews.com

  • Riset: Aktivitas Wisatawan Akibatkan Kawasan Wisata Bromo Makin Rawan Banjir

    Riset: Aktivitas Wisatawan Akibatkan Kawasan Wisata Bromo Makin Rawan Banjir

    7cloud.asia – Pada Januari lalu, derasnya hujan di kawasan Kaldera Tengger (dikenal dengan kawasan wisata Bromo), Jawa Timur, memicu banjir di permukaan hingga membentuk seperti aliran sungai besar.

    Kejadian banjir ini kemudian menghambat lalu-lintas warga maupun wisatawan yang sedang berkunjung ke kawasan wisata Bromo.

    Banjir bukan pertama kali terjadi. Lima tahun lalu, kawasan wisata Bromo mengalami kejadian serupa. Bahkan, menurut warga setempat, banjir di kawasan yang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini sudah terjadi sejak 2011.

    Tanah di kawasan wisata Bromo sebagian besar terdiri atas pasir vulkanis yang sebetulnya mudah menyerap air dan menjadi kawasan resapan air hujan.

    Namun, ada dugaan bahwa kaki-kaki wisatawan maupun kendaraan yang setiap hari melintas membuat pasir tersebut menjadi padat.

    Baca: Kawasan Wisata Bromo ditutup untuk acara Yadnya Kasada

    Riset yang dilakukan Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijayabekerja sama dengan pengelola TNBTS pada 2017-2018 memperkuat dugaan tersebut.

    Kawasan wisata Bromo mengalami pemadatan tanah akibat pijakan manusia, hewan, maupun kendaraan bermotor, di lokasi atau jalur-jalur ilegal (di luar jalur ‘resmi’ yang ditetapkan oleh pengelola taman nasional).

    Terbentuknya jaringan jalur-jalur ilegal dengan karakteristik tanah yang padat tidak hanya menyebabkan hilangnya vegetasi dipermukaan tanah.

    Ini juga berefek pada berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air. Dampaknya, terjadi peningkatan limpasan air permukaan dan banjir yang semakin sering terjadi di kawasan Bromo.

    Riset ini membagi kawasan wisata Kaldera Tengger ini menjadi lima titik panas, yaitu:
    1) Area jalur masuk dekat Wonokitri sebelah utara Gunung Bromo
    2) Area parkir kendaraan dekat Pura
    3) Area sebelum tangga kawah Gunung Bromo 4) Area Pasir berbisik sebelah barat Gunung Bromo
    5) Area Bukit Teletubbies sebelah selatan Gunung Bromo.

    Baca: Aksi bersih sampah di Kawasan Wisata Bromo

    Masing-masing area hotspots dibagi menjadi tiga zona berdasarkan intensitas aktivitas/gangguan, yaitu: zona 1 (kondisi alami/tidak terganggu), zona 2 (intensitas sedang-rendah), dan zona 3 (intensitas tinggi).

    Tim menemukan bahwa area dengan tingkat gangguan yang lebih tinggi (Zona 2 dan 3), khususnya di area sensitif seperti jalur masuk Wonokitri dan area savana Bukit Teletubbies, memiliki tanah yang lebih padat dibandingkan dengan area yang kurang terganggu.

    Hal ini terlihat dari peningkatan resistensi penetrasi tanah, terutama pada 40 cm pertama kedalaman tanah.

    Secara sederhana, resistensi penetrasi tanah dapat diartikan sebagai tingkat mudah atau sulitnya suatu benda dapat menembus tanah. Ini menunjukkan kepadatan atau kekerasan tanah tersebut.

    Semakin padat suatu tanah, kemampuannya menyerap air semakin rendah. Ini menyebabkan air langsung terlimpas ke permukaan dan dapat memicu banjir.

    Baca: Kebakaran di Kawasan Wisata Bromo

    Di area savana Bukit Teletubbies, laju resapan air pada area dengan intensitas gangguan tinggi (zona 3) mencapai 25 kali lebih lambat dibandingkan dengan kondisi alami tanpa gangguan (zona 1).

    Sayangnya, hingga saat ini belum ada penelitian kuantitatif tentang luas wilayah di kawasan Bromo yang mengalami pemadatan tanah.

    Sementara itu, di area lain seperti Pasir Berbisik dan parkir kendaraan dekat pura, lambatnya penyerapan air lebih terkait dengan lapisan tanahnya yang mengeras (cemented layer).

    Lapisan ini terbentuk penumpukan material vulkanik seperti pasir dan abu, belerang, dan air, bukan karena pijakan manusia ataupun kendaraan.

    Apakah kondisi ini bisa diperbaiki dan apa yang harus dilakukan akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Danny Dwi Saputra, Dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijaya

  • Bali Kembali Sabet Gelar Pulau Terbaik Versi DestinAsian Readers Choice Awards 2025

    Bali Kembali Sabet Gelar Pulau Terbaik Versi DestinAsian Readers Choice Awards 2025

    7cloud.asia – Bali kembali mendapatkan penghargaan sebagai pulau terbaik dalam ajang penghargaan bagi industri pariwisata Asia Pasifik, ​​​​​​​DestinAsian Readers Choice Awards 2025.

    Menurut siaran pers Kementerian Pariwisata di Jakarta, Sabtu (8/3/2025) dalam kategori penghargaan pulau terbaik, Bali berhasil mengungguli sejumlah pulau tujuan wisata baik di dalam maupun di luar negeri.

    Beberapa pulau tujuan wisata yang masuk dalam nomisasi ini adalah Lombok (Indonesia), ​​​​​​Maladewa, Boracay (Filipina), Phuket (Thailand), Phu Quoc (Vietnam), Palawan (Filipina), Koh Samui (Thailand), Langkawi (Malaysia), dan Penang (Malaysia)

    Bali dikenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa, mulai dari pantai-pantai eksotis seperti Kuta, Nusa Dua, Sanur, hingga Uluwatu.

    Tak ketinggalan pesona budaya khas seperti tarian tradisional, upacara keagamaan, dan keunikan arsitektur pura yang memikat wisatawan.

    Selain itu, keramahan masyarakatnya serta berbagai pilihan akomodasi, mulai dari resort mewah hingga penginapan budget-friendly, turut menjadi daya tarik utama.

    Baca: Konservasi di Kaimana didorong jadi ikon ekowisata

    Tak hanya itu, sektor kuliner dan wellness tourism juga berkontribusi besar dalam menarik wisatawan global. Restoran kelas dunia, spa, serta berbagai aktivitas seperti yoga dan meditasi di Ubud semakin mengukuhkan Bali sebagai destinasi wisata unggulan.

    DestinAsian, sebuah media ternama yang berfokus pada perjalanan dan pariwisata di kawasan Asia Pasifik. Kriteria penilaian meliputi kualitas layanan, fasilitas, keindahan alam, daya tarik budaya, hingga pengalaman wisata secara keseluruhan.

    Keberhasilan Bali dalam meraih penghargaan ini tentu tidak lepas dari peran pemerintah dan para pelaku industri pariwisata dalam menjaga kualitas layanan serta keberlanjutan lingkungan di Pulau Dewata.

    Upaya dalam memperkenalkan konsep pariwisata berkelanjutan juga menjadi nilai tambah yang diapresiasi wisatawan mancanegara.

    “Terima kasih telah memilih Bali sebagai The Best Island. Hal ini menunjukkan bahwa Bali masih menjadi top of mind wisatawan untuk berwisata ke Indonesia,” kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, yang menerima penghargaan itu dalam acara yang digelar di Ayana Resort Hotel Jimbaran, Bali, Jumat (7/3/2025).

    Dia mendedikasikan penghargaan itu untuk masyarakat, pemerintah daerah, serta seluruh pelaku industri pariwisata yang telah menjaga keindahan alam, kekayaan budaya, dan daya tarik wisata Bali.

    Baca: Masyarakat Pulau Pahawang kembangkan ekowisata berkelanjutan

    Ni Luh Puspa berharap penghargaan untuk Bali dapat menjadi inspirasi bagi pengelola destinasi wisata lain di Indonesia untuk berbenah.

    “Semoga prestasi ini juga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus memajukan industri pariwisata, dan memperkenalkan destinasi-destinasi luar biasa Indonesia lainnya kepada dunia,” katanya.

    DestinAsian Readers’ Choice Awards merupakan ajang penghargaan tahunan bagi industri pariwisata di kawasan Asia Pasifik.

    Dalam acara tahunan yang telah digelar selama 18 tahun itu, penerima penghargaan dipilih langsung oleh pembaca setia Majalah DestinAsian.

    Selain pulau terbaik DestinAsian Readers’ Choice Awards juga diberikan untuk sejumlah kategori lain seperti kota terbaik, hotel&resor terbaik, kapal pesiar terbaik dan sebagainya.

  • Wisata Kopi: Menelusuri Proses Produksi Kopi dari Hulu ke Hilir

    Wisata Kopi: Menelusuri Proses Produksi Kopi dari Hulu ke Hilir

    7cloud.asia – Wisata kopi dan agrowisata di Indonesia menawarkan sebuah pengalaman unik dan otentik bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara

    Kopi lokal memiliki keunikan tersendiri dan para wisatawan juga dapat merasakan keseruan wisata kopi dari hulu sampai ke hilir.

    Menginap di tengah kebun kopi, menjelajahi kebun kopi, mengikuti proses panen, hingga mempelajari pengolahan biji kopi akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi wisatawan.

    Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Hariyanto dikutip Antaranews.com mengatakan kopi lokal dan agrowisata dalam pariwisata Indonesia memiliki potensi yang besar.

    “Bagi wisatawan yang ingin mencicipi kopi lokal, dapat mendatangi daerah asalnya sambil menikmati pemandangan alam yang indah,” ujarnya.

    Wisatawan juga dapat melakukan tur kebun kopi dalam rangka mengenal budidaya kopi dan menikmati suasana perkebunan. Kebun kopi biasanya juga memberikan pengalaman memanen dan mengolah biji kopi.

    “Jadi wisatawan bisa ikut memetik biji kopi dan mempelajari proses pengolahannya. Di samping itu ada museum kopi sebagai wadah edukasi agar wisatawan memahami berbagai karakteristik kopi lokal,” ujarnya.

    Salah satu wisata kopi dapat ditemui di Sumedang, Jawa Barat yang menawarkan program agrowisata kebun kopi yang membudidayakan biji kopi excelsa.

    Wisatawan yang berkunjung tidak hanya dapat mencicipi kenikmatan kopi lokal, tetapi juga mempelajari proses pembuatan kopi dari hulu ke hilir, hingga kopi tersaji di atas meja.

    “Kemudian ada salah satu program utama yang sekarang digaungkan oleh kepala daerah yang baru, itu salah satunya agrowisata dengan memperhatikan konservasi lingkungan dan kualitasnya,” kata dia.

    Hariyanto menyebut inisiatif itu tidak hanya menawarkan pengalaman langsung kepada wisatawan di lokasi kebun kopi, tetapi juga mengedukasi mereka mengenai proses produksi kopi dari hulu ke hilir.

    Hal ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkenalkan ragam kopi lokal dan sekaligus melestarikan budaya serta lingkungan pertanian kopi yang bernilai sejarah.

    “Dalam hal ini, dukungan untuk UMKM dan petani kopi Ekselsa dukungan untuk UMKM dapat diperoleh melalui Kementerian UKM atau Kemenekraf, sementara para petani bisa mendapatkan bantuan dari Kementerian Pertanian.

    Dengan kolaborasi lintas sektor, pengembangan sektor kopi ini bisa berjalan lebih optimal,” ujarnya.

    Indonesia memiliki banyak perkebunan kopi sekaligus produsen kopi terbesar keempat di dunia bersama Brasil, Vietnam dan Kolombia. Indonesia mempunyai beragam jenis kopi unggulan yang dilindungi indikasi geografis.

    Minat global terhadap biji kopi Indonesia jadi semakin meningkat dengan menangnya seorang brewer bernama Ryan Wibawa yang meraih juara ke-3 dalam kompetisi World Brewers Cup 2024 di Chicago, Amerika Serikat.

    Kemenangan Ryan diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi warga sekitar kebun kopi.

    Kementerian Pariwisata juga sedang berusaha mempromosikan “Kopi Lokal Wisata Kopi,” sebagai satu atraksi wisata minat khusus juga tengah dikembangkan, lewat pola perjalanan Indonesia Coffee Trail.

    Pola perjalanan wisata kopi yang komprehensif secara nasional diharapkan mampu memberikan pengalaman yang berkualitas bagi wisatawan dalam menikmati wisata kopi nusantara.

    Wisatawan tidak hanya menikmati kopi fresh dari tempat asalnya namun juga menikmati suasana pegunungan, coffee plantation, aktivitas panen, bean roasting, mempelajari sejarah serta budaya, dan lainnya.

    “Ini nantinya akan membuka peluang pengembangan produk wisata baru untuk meningkatkan perekonomian daerah penghasil kopi. Tentunya potensi kopi bisa dikembangkan menjadi wisata gastronomi yang menjadi salah satu prioritas Kemenpar, dengan potensi market yang baik Kemenpar bisa mendukung dalam pengemasan produk dan workshop wisata gastronomi,” ucap Hariyanto.