7cloud.asia – Kereta Cepat Jakarta Bandung “Whoosh” mulai beroperasi pada hari ini, Senin (2/10/2023) ini.
Beroperasinya Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh ini juga diharapkan bisa mendukung capaian target jumlah wisatawan di Indonesia pada tahun 2023.
Adapun hingga pertengahan semester tahun 2023, atau sebelum Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh resmi dioperasikan, jumlah pergerakan wisatawan nusantara telah mencapai sekitar 433 juta.
Dilansir Kompas.com, target pergerakan wisatawan nusantara tahun 2023 adalah 1,2 sampai 1,4 miliar.
“(Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh ) Ini tentunya akan mendukung peningkatan kualitas pariwisata yang dapat membantu konektivitas ke berbagai destinasi wisata,” kata Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Dessy Ruhati dalam rilis resmi, Minggu (1/1/2023).
Dengan begitu, sambung dia, kehadiran kereta cepat dapat menggerakkan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.
“Ke depan, (kereta cepat) akan juga dikembangkan tidak hanya sampai Bandung tapi sampai ujung Pulau Jawa seperti Surabaya,” ujar Dessy.
Menurut dia, KAI mungkin juga akan memperluas jaringan kereta cepat di Sumatera, Sulawesi, atau daerah lain dalam rangka menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Nantinya, tiket Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh dapat dipesan secara online lewat aplikasi KAI
“Pesan bisa melalui Access by KAI,” ucapnya.
Dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kelas pertama atau first class ada di dua gerbong kereta dengan masing-masing kapasitas 18 tempat duduk.
Sementara untuk kelas bisnis dengan susunan bangku 2-2 ada di satu gerbong kereta dengan kapasitas 28 tempat duduk.
Sedangkan sisanya, untuk kelas premium ekonomi berjumlah 555 tempat duduk dengan susunan bangku 2-3.
7cloud.asia – Wisatawan yang berasal dan ​​​datang ke Indonesia lebih menyukai akomodasi yang ramah lingkungan.
Demikian hasil survei pengelola aplikasi manajemen hotel SiteMinder bersama Kantar yang melibatkan sekitar 12 ribu wisatawan dari 14 negara pada 2024.
Menurut laporan survei bertajuk “SiteMinder’s Changing Traveller Report 2025”, sebanyak 95 persen dari 878 wisatawan asal Indonesia yang disurvei bersedia membayar lebih untuk akomodasi ramah lingkungan saat berlibur.​​​
Country Manager Indonesia SiteMinder, Rio Ricardo mengatakan bahwa wisatawan Indonesia semakin memilih akomodasi yang ramah lingkungan dan merencanakan anggaran yang lebih besar.
“Hal ini mencerminkan pergeseran ke arah perjalanan yang lebih bijaksana dan eksploratif,” katanya dalam acara pertemuan media di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2024)
Di antara wisatawan Indonesia, menurut hasil survei ada 36 persen yang bersedia membayar hingga 10 persen lebih mahal dan 35 persen yang bersedia membayar hingga 25 persen lebih mahal untuk akomodasi ramah lingkungan pada 2025.
Selain itu, ada 18 persen yang bersedia membayar hingga 50 persen lebih mahal dan tujuh persen yang bersedia membayar lebih mahal dari itu untuk akomodasi ramah lingkungan pada 2025.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa 96 persen wisatawan Indonesia berencana untuk mempertahankan atau meningkatkan anggaran akomodasi mereka saat berwisata pada tahun 2025.
Persentase tersebut mencakup sebagian besar Generasi Z (kelahiran 1997 sampai 2012) dan Generasi Milenial (kelahiran 1981 sampai 1996).
Berdasarkan hasil survei, sebanyak 93 persen wisatawan Indonesia melakukan perjalanan untuk menghadiri acara, termasuk konser dan festival musik (46 persen), reuni dan perayaan keluarga (41 persen), dan acara olahraga (32 persen).
Persentase wisatawan yang berencana tetap bekerja selama berlibur menurut hasil survei tahun 2024 mencapai 66 persen, meningkat hingga 13 persen dari hasil survei tahun sebelumnya.
Peningkatan itu juga tercermin dari banyaknya wisatawan yang berniat menghabiskan waktu di hotel atau penginapan, yang mencapai 78 persen.
Jika dirinci, sebanyak 44 persen wisatawan berniat menghabiskan sebagian besar waktu mereka di hotel dan 34 persen lainnya berencana menghabiskan cukup banyak waktu di hotel.
Sebanyak 98 persen wisatawan Indonesia menurut survei terbuka dengan penggunaan kecerdasan buatan dalam merencanakan, memesan, dan meningkatkan pengalaman menginap di hotel.
Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan persentase wisatawan dengan preferensi serupa dari negara seperti Kanada dan Australia (masing-masing 62 persen) serta Jerman, Prancis, dan Inggris (masing-masing 63 persen).
“Insight berbasis data, seperti yang disediakan oleh riset ini, menjadi semakin penting bagi para pelaku bisnis perhotelan seiring dengan perubahan kebiasaan wisatawan dari waktu ke waktu,” kata Rio.
“Dengan demikian, mereka dapat mengantisipasi kebutuhan para tamu sekaligus menawarkan pengalaman menginap yang senantiasa mereka cari,” katanya.
7cloud.asia – Sekelompok kecil wisatawan asing diizinkan mengunjungi Korea Utara dalam seminggu terakhir dan menjadi turis internasional pertama yang memasuki negara itu dalam lima tahun terakhir.
Selama ini, Pyongyang hanya mengizinkan wisatawan Rusia yang pergi ke Korea Utara seperti yang terjadi tahun lalu.
Dilansir VOA Indonesia, kedatangan turis mancanegara itu mengindikasikan Korea Utara mungkin bersiap untuk memulai kembali pariwisata internasionalnya secara penuh guna meningkatkan perekonomian
Para ahli menilai, kedatangan para turis itu menunjukkan Korea Utara bersiap untuk memulai kembali membuka diri untuk mendatangkan devisa yang sangat dibutuhkan guna menghidupkan kembali perekonomiannya yang sedang kepayahan.
Perusahaan perjalanan yang berbasis di Beijing, Koryo Tours, mengatakan bahwa pihaknya mengatur tur selama lima hari untuk 13 wisatawan mancanegara.
Selama tur yang berlangsung dari 20 Februari hingga 24 Februari, para turis mengunjungi Rason, kota perbatasan Korea Utara di timur laut, yang juga lokasi zona ekonomi khusus negara itu berada.
Manajer Umum Koryo Tours, Simon Cockerell, mengatakan para wisatawan yang berasal dari Inggris, Kanada, Yunani, Selandia Baru, Prancis, Jerman, Austria, Australia, dan Italia menyeberang melalui darat dari China.
Dia mengatakan bahwa di Rason, para wisatawan mengunjungi pabrik, toko, sekolah, dan patung Kim Il Sung dan Kim Jong Il, mendiang kakek dan ayah dari pemimpin saat ini, Kim Jong Un.
“Sejak Januari 2020, negara ini telah ditutup untuk semua wisatawan internasional, dan kami senang akhirnya menemukan peluang untuk berkunjung di daerah Rason, di ujung utara Korea Utara,” kata Cockerell.
“Tur pertama kami telah berakhir, dan sekarang lebih banyak wisatawan, baik yang datang untuk kunjungan kelompok maupun pribadi, datang untuk mengatur perjalanan,” tambahnya.
Setelah pandemi dimulai, Korea Utara dengan cepat melarang wisatawan, memulangkan diplomat, dan sangat membatasi lalu lintas perbatasan dalam salah satu pembatasan Covid-19 paling ketat di dunia.
Namun sejak 2022, Korea Utara perlahan-lahan melonggarkan pembatasan dan membuka kembali perbatasannya.
Pada Februari 2024, Korea Utara menerima sekitar 100 wisatawan Rusia, warga negara asing pertama yang mengunjungi negara itu untuk bertamasya.
Hal itu mengejutkan banyak pengamat, yang mengira wisatawan pascapandemi pertama akan datang dari China, mitra dagang terbesar dan sekutu utama Korea Utara.
Total sekitar 880 wisatawan Rusia mengunjungi Korea Utara sepanjang 2024, kata Kementerian Unifikasi Korea Selatan, mengutip data resmi Rusia. Tur kelompok China ke Korea Utara masih terhenti.
Ini menandakan seberapa dekat Korea Utara dan Rusia satu sama lain karena Korea Utara telah memasok senjata dan pasukan ke Rusia untuk mendukung perangnya melawan Ukraina.
Para pakar mengatakan hubungan antara Korea Utara dan China mendingin karena China menunjukkan keengganannya untuk bergabung dengan aliansi tiga arah anti-Amerika Serikat dengan Korea Utara dan Rusia.
Sebelum pandemi, pariwisata merupakan sumber devisa yang mudah dan sah bagi Korea Utara, salah satu negara yang paling banyak dikenai sanksi di dunia karena program nuklirnya.
Korea Utara diperkirakan akan membuka situs pariwisata besar-besaran di pantai timur pada Juni. Pada Januari ketika Presiden Donald Trump memuji-muji hubungannya dengan Kim Jong Un, Trump berkata bahwa
“Saya pikir ia memiliki kemampuan kondominium yang luar biasa. Ia memiliki banyak garis pantai.” Itu mungkin mengacu pada situs pantai timur.
Kembalinya wisatawan China akan menjadi kunci untuk menjadikan industri pariwisata Korea Utara menguntungkan karena mereka mewakili lebih dari 90 persen dari total wisatawan internasional sebelum pandemi, kata Lee Sangkeun, seorang ahli di Institut Strategi Keamanan Nasional, sebuah lembaga pemikir yang dijalankan oleh badan intelijen Korea Selatan.
Lee mengatakan bahwa di masa lalu, hingga 300.000 wisatawan China mengunjungi Korea Utara setiap tahun.
Pembatasan yang biasanya diberlakukan Korea Utara terhadap wisatawan asing — seperti persyaratan agar mereka bepergian dengan pemandu lokal dan pelarangan fotografi di tempat-tempat sensitif — kemungkinan akan menghambat upayanya untuk mengembangkan pariwisata.
Lee mengatakan bahwa Rason, lokasi di pantai timur, dan Pyongyang akan menjadi tempat-tempat yang menurut Korea Utara dapat dengan mudah memantau dan mengendalikan wisatawan asing.
7cloud.asia – Pemerintah China mendesak agen perjalanan domestik untuk mengurangi jumlah wisatawan ke Jepang sebesar 40 persen, kata sumber industri pada Kamis (25/12/2025)
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah perselisihan Beijing dan Tokyo atas pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi tentang kemungkinan serangan terhadap Taiwan.
Menurut sumber itu, agen perjalanan utama di China diberitahu pada akhir November untuk mengurangi jumlah permohonan visa Jepang sebesar 40 persen setelah pernyataan Takaichi di parlemen pada 7 November.
Saat itu Takaichi menyatakan bahwa serangan terhadap Taiwan dapat menjadi “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” bagi Jepang, yang mungkin melibatkan pasukan pertahanannya.
Sebelumnya pada pertengahan November, pemerintah China meminta warganya untuk menghindari kunjungan ke Jepang.
Alasan yang diungkap bahwa komentar Takaichi telah merusak suasana pertukaran antarmasyarakat dan meningkatkan risiko terhadap keselamatan warga China di Jepang.
Seperti diketahui, warga negara China perlu mendapatkan visa untuk mengunjungi Jepang dan mengajukannya melalui agen perjalanan yang ditunjuk di China.
Menurut laporan media China, lebih dari 1.900 penerbangan menuju Jepang, atau lebih dari 40 persen dari total penerbangan, dibatalkan di China pada Desember, sementara 2.195 penerbangan akan dibatalkan pada Januari, juga sekitar 40 persen.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang terdaftar sebagai salah satu tujuan wisata paling populer bagi wisatawan China.
Namun, Jepang tidak termasuk dalam 10 lokasi luar negeri terpopuler selama liburan musim dingin pada Januari dan Februari tahun depan, menurut media lokal.
Statistik Jepang menunjukkan jumlah pengunjung wisatawan China hanya meningkat 3,0 persen pada November dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka ini jauh menurun dibandingkan dengan peningkatan 22,8 persen pada Oktober, yang dipengaruhi oleh peringatan perjalanan yang dikeluarkan oleh pemerintah China.
7cloud.asia – Hasil laporan “Tourism Trends 2025 & Outlook 2026: Redefining The New Shape of Travel” menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini lebih suka melakukan liburan singkat dan berpergian dengan lingkup yang lebih akrab.
Laporan yang dirilis oleh biro perjalanan daring, tiket.com ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin mengutamakan perjalanan domestik singkat berbasis momentum.
“Pertumbuhan akomodasi dan atraksi yang pesat membuka peluang untuk menghadirkan produk perjalanan yang lebih modular, family-friendly, dan terintegrasi dengan inspirasi digital,” kata Chief Strategy Officer tiket.com Tifanny Tjiptoning dalam konferensi pers di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Temuan platform tersebut menunjukkan hampir 70 persen perjalanan liburan singkat berlangsung selama satu sampai tiga hari. Masyarakat pada umumnya memanfaatkan long weekend (libur panjang) atau hari libur nasional untuk pergi liburan.
Pola itu menjadikan perjalanan singkat sebagai rutinitas baru yang praktis dan mudah direncanakan, serta diproyeksikan semakin stabil pada 2026.
Riset tiket.com menemukan perjalanan keluarga dan perjalanan domestik sebagai pendorong utama pergerakan pariwisata dalam negeri.
Riset pariwisata itu juga menunjukkan pergeseran akomodasi selama liburan menjadi penginapan selain hotel. Platform tersebut mendapati pemesanan vila meningkat 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Vila menjadi pilihan para wisatawan karena perjalanan dilakukan bersama keluarga atau teman-teman sehingga mereka mencari akomodasi yang menawarkan ruang lebih luas dan privasi yang lebih baik.
Chief Data Officer Lokadata Suwandi Ahmad menambahkan pemilihan akomodasi penginapan seperti vila banyak diminati karena kapasitasnya dapat menampung lebih banyak orang dan suasananya cocok untuk bermain dengan nyaman bersama keluarga.
Tempat tinggal seperti itu dinilai dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga.
“Asumsi kami awalnya ini ditopang oleh trauma-trauma ketika pandemi Covid-19, apakah ketika pandemi jadi lebih nyaman kumpul dengan lingkaran yang sangat erat atau ada di hotel yang banyak orang berlalu lalang,” kata dia.
Pertumbuhan tren juga terjadi pada pemesanan kategori atraksi wisata, pemesanan tiket taman bermain melonjak secara signifikan sebesar 71 persen. Bagi keluarga urban, taman bermain menjadi pilihan merayakan liburan tanpa harus menempuh perjalanan jarak jauh.
7cloud.asia – Indonesia dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya ternyata masih kalah dalam menarik minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung.
Anggota Komisi VII DPR Bambang Haryo Soekartono menyebut kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, hingga Vietnam.
“Kalau kita lihat data, Malaysia pada 2025 menargetkan 40 juta wisatawan dan terealisasi 38 juta. Thailand juga sudah mencapai 39 juta, sementara Vietnam yang dulu di bawah kita kini sudah di angka 22 juta,” ujar Bambang Haryo dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR dengan Menteri Pariwisata di Komplek DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Ia mengungkapkan, kondisi tersebut menunjukkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan asing mengalami penurunan dibanding negara-negara tetangga.
Padahal pada periode 2017–2018, jumlah kunjungan wisatawan Indonesia tidak berbeda jauh dengan Malaysia.
Salah satu penyebab utama adalah belum terintegrasinya sistem transportasi pariwisata di Indonesia. Negara-negara seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam telah menghubungkan transportasi udara, darat, hingga laut dengan sistem transportasi publik yang terpadu.
“Di negara lain, dari bandara sampai ke hotel dan destinasi wisata sudah terintegrasi. Sementara di Indonesia, ke hotel saja sering kali harus pakai transportasi pribadi,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti persoalan keamanan dan keselamatan transportasi pariwisata. Bambang menilai masih banyak bus pariwisata yang tidak didukung oleh pengemudi dengan kompetensi khusus di bidang keselamatan transportasi.
“Sering kali sopir bus pariwisata diambil asal comot, bahkan ada yang sebelumnya sopir truk. Padahal sopir pariwisata itu harus punya keahlian khusus karena menyangkut keselamatan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung kondisi transportasi laut wisata, khususnya kapal-kapal wisata di kawasan kepulauan seperti Lombok. Menurutnya, banyak kapal wisata yang belum terdaftar di Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) yang memiliki standar internasional.
“Harusnya semua kapal wisata terdaftar, bukan hanya di pelabuhan setempat. Dari informasi KNKT, banyak kecelakaan terjadi karena masalah stabilitas kapal,” katanya.
Bambang menambahkan, dalam dua tahun terakhir telah terjadi sedikitnya enam insiden kapal wisata tenggelam yang membawa turis, namun hingga kini belum terlihat pembenahan yang signifikan.
Ia menilai kejadian tersebut mencoreng citra Indonesia di mata wisatawan internasional.
Ia juga mendorong pembentukan polisi pariwisata khusus seperti yang sudah diterapkan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Menurutnya, kehadiran polisi pariwisata dapat meningkatkan rasa aman dan kepercayaan wisatawan asing.
“Di Malaysia, Filipina, dan negara ASEAN lain sudah ada polisi khusus pariwisata. Indonesia juga perlu menyediakan aparat khusus untuk melindungi dan melayani wisatawan,” kata Bambang.
Bambang berharap Kementerian Pariwisata dapat melakukan pembenahan menyeluruh dan mencetak prestasi yang lebih baik pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
“Harapan kami, 2026 menjadi momentum perbaikan besar sehingga pariwisata Indonesia bisa kembali bersaing di tingkat Asia Tenggara,” pungkasnya.
7cloud.asia – Ada perubahan nyata terkait tren minat wisatawan beberapa tahun belakangan ini. Wisatawan kini cenderung mencari obyek wisata yang menghadirkan pengalaman dan cerita dengan perspektif baru.
“Wisatawan saat ini tidak lagi mencari perjalanan yang seragam, namun menginginkan pengalaman yang relevan secara personal, menghadirkan cerita dan memberi perspektif baru,” ujar General Manager Communications and CRM Golden Rama Tours & Travel Ricky Hilton dalam keterangannya Kamis (29/1/2026).
Tren ini menurutnya sejalan dengan temuan dari Mastercard Economics Institute dalam laporan Travel Trends 2025 yang mencatat bahwa wisatawan asal Asia Pasifik mulai meninggalkan tujuan wisata global yang sudah jenuh.
Wisatawan berkeinginan untuk menjelajah tujuan wisata non mainstream, termasuk Asia Tengah dan Asia Selatan sebagai alternatif
Berdasarkan rute yang dikembangkan pihaknya, rute Asia Tengah memiliki karakter empat musim, bentang alam ekstrem, serta kekayaan budaya dan spiritualitas yang kuat yang menghadirkan pengalaman kuat.
Salah satunya adalah Pakistan yang menjadi salah satu tujuan utama di Asia Selatan, menawarkan kombinasi alam pegunungan yang megah, sejarah peradaban yang panjang, serta pengalaman perjalanan yang masih relatif belum banyak dijelajahi wisatawan Indonesia.
Salah satu tujuan unggulan itu adalah Sarfaranga Cold Desert, sebuah gurun pasir bersuhu sejuk yang terletak di kaki pegunungan bersalju kawasan Skardu.
Lanskap kontras antara hamparan pasir, pegunungan es, dan langit terbuka menghadirkan pengalaman wisata yang unik dan jarang ditemui di destinasi lain.
Selain Pakistan, pihaknya juga menghadirkan rangkaian destinasi ikonik Asia Selatan yang dirancang bagi wisatawan yang mencari kedalaman pengalaman, bukan sekadar kunjungan singkat.
Di Nepal, perjalanan membawa wisatawan menuju Swayambhunath Stupa, situs warisan dunia UNESCO yang berdiri di atas bukit dan menghadap langsung ke Lembah Kathmandu.
Obyek wisata ini menjadi simbol spiritual sekaligus titik temu antara tradisi, kehidupan urban, dan lanskap alam.
Dari puncaknya, wisatawan dapat menyaksikan denyut kota dari kejauhan sambil merasakan atmosfer kontemplatif yang menjadikan Nepal sebagai tujuan ideal bagi mereka yang mencari keseimbangan antara eksplorasi budaya dan perjalanan batin.
Sementara itu, Bhutan menawarkan pengalaman yang lebih hening dan reflektif melalui Taktsang Monastery (Tiger’s Nest), biara legendaris yang menempel di tebing setinggi sekitar 900 meter di atas Lembah Paro.
Perjalanan menuju biara ini bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan proses refleksi yang mencerminkan filosofi Bhutan tentang kebahagiaan, kesederhanaan, dan harmoni dengan alam.
Di India bagian utara, Leh Ladakh, Golden Rama menyoroti Pangong Lake, danau air asin tertinggi di dunia yang berada di ketinggian ekstrem. Terkenal dengan perubahan warna airnya yang dramatis mengikuti pergerakan cahaya matahari.
7cloud.asia – Beberapa tahun terakhir pascapandemi Covid-19, banyak tempat wisata baru yang mendadak ramai karena viral di media sosial. Dalam hitungan hari, sebuah lokasi yang sebelumnya relatif sepi atau bahkan baru dikembangkan langsung dipadati pelancong yang FOMO atau khawatir ketinggalan tren.
Di berbagai destinasi pariwisata unggulan nasional, seperti Bali, lonjakan wisatawan kerap terjadi dan terus meluas karena viralitas. Setelah Canggu dan Ubud, keviralan beralih ke kawasan Nusa Penida.
Fenomena ini sekilas tampak menguntungkan karena meningkatkan eksposur, jumlah wisatawan, dan mempercepat lajunya roda ekonomi lokal. Tak salah jika pelaku industri pariwisata menganggap viralitas sebagai indikator keberhasilan utama pengembangan kawasannya.
Svargabumi Magelang jadi salah satu contoh situs destinasi pariwisata yang sempat viral. Tapi kini antusiasme warga terhadap lokasi ini amat rendah.
Sayangnya, begitu masa viralnya lewat, tempat wisata tersebut bak tak pernah muncul sejak awal. Jadi apakah pendekatan berbasis viralitas ini benar-benar ideal dan berkelanjutan bagi pariwisata Indonesia?
Ketika algoritma menjadi acuan keberhasilan
Dalam perspektif pemasaran, viralitas memang efektif untuk meningkatkan kesadaran merek (brand awareness). Strategi pemasaran digital saat ini cenderung berfokus pada satu metrik utama, yakni jangkauan (reach).
Semakin banyak orang melihat dan membagikan konten, pemasaran suatu produk semakin dianggap berhasil. Peran influencer dalam ekosistem ini juga tidak bisa diabaikan. Promosi destinasi melalui figur dengan jutaan pengikut mampu mempercepat arus kunjungan dalam waktu singkat.
Visual yang indah, pengalaman unik, dan lokasi yang “instagrammable” menjadi bahan bakar utama. Akibatnya, destinasi wisata direduksi menjadi sekadar objek visual yang siap dikonsumsi, bukan ruang hidup yang memiliki batas ekologis dan sosial.
Namun, pendekatan ini sering mengabaikan satu faktor krusial, yakni daya dukung destinasi. Sayangnya, peningkatan ini tidak selalu diikuti dengan kesiapan infrastruktur dan pengelolaan destinasi yang memadai.
Ketika kualitas pengalaman melancong menurun akibat keramaian berlebih, citra destinasi juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan daya saing dan keberlanjutan industri pariwisata.
Rentetan risiko yang muncul setelah viral
Yang perlu dipahami adalah algoritma media sosial tidak dirancang untuk mempertimbangkan keberlanjutan. Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan (engagement), sehingga konten yang paling menarik perhatian akan diperkuat dan disebarkan lebih luas.
Dalam konteks pariwisata, awareness tanpa kontrol justru dapat menjadi bumerang. Destinasi yang belum siap secara infrastruktur, tata kelola, maupun regulasi akan kesulitan mengelola lonjakan pengunjung yang datang secara tiba-tiba dan masif.
Siapa yang mau kembali, ketika mendatangi sebuah situs pariwisata baru, tetapi mengalami susah parkir, makanan mahal, dan berdesak-desakan tak karuan?
Ketika promosi tidak disertai informasi mengenai kapasitas destinasi, aturan lokal, atau etika berwisata, dampaknya tak hanya terhadap lingkungan tapi juga masyarakat dan penghidupan mereka.
Kelebihan jumlah wisatawan (overtourism) secara tiba-tiba kerap mendorong kenaikan harga barang dan jasa, yang pada akhirnya membebani masyarakat lokal. Lalu lintas kawasan jadi macet, penuh polusi, dan pembangunan yang cepat.
Dalam beberapa kasus, warga setempat justru tersisih dari ruang hidupnya akibat komersialisasi yang berlebihan.
Di kawasan seperti Canggu dan Seminyak, misalnya, peningkatan jumlah wisatawan mancanegara mendorong kenaikan harga sewa properti, tanah, hingga makanan.
Situasi serupa juga terlihat di Labuan Bajo. Pengembangan pariwisata yang berorientasi pada konsep super premium cenderung lebih banyak melibatkan investor berskala besar yang tak terjangkau oleh wisatawan berkantong tipis.
Tekanan terhadap lingkungan juga semakin terlihat di sejumlah destinasi utama. Di Kuta dan beberapa pantai populer lainnya di Bali, peningkatan jumlah wisatawan berkontribusi pada lonjakan volume sampah yang kerap melampaui kapasitas pengelolaan setempat.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan wisatawan, tetapi juga berdampak pada kualitas lingkungan pesisir.
Sementara itu, di Labuan Bajo, aktivitas pariwisata yang semakin intensif turut memberi tekanan pada ekosistem laut.
Pun lalu lintas kapal wisata yang sibuk berlebih berisiko merusak terumbu karang dan mengganggu keseimbangan biodiversitas laut.
Sebelum semua terlambat
Meski tidak bisa dibenarkan sepenuhnya, kondisi yang terjadi di Canggu dan Seminyak masih sedikit lebih baik. Sebab, kawasan ini tetap hidup meskipun menjelma jadi wilayah “jajahan” turis internasional dan meminggirkan masyarakat lokal, .
Persoalannya adalah tunas situs-situs pariwisata di wilayah nonpopuler tapi potensial. Tak sedikit dari mereka yang mati sebelum berkembang karena pengelola tak siap menghadapi lonjakan instan akibat sempat viral di media sosial.
Karena itu, konsep pemasaran berbasis keberlanjutan menjadi semakin relevan dalam konteks ini. Fokusnya tidak lagi semata-mata pada seberapa luas jangkauan promosi, tetapi juga pada seberapa sesuai jumlah wisatawan dengan kapasitas destinasi.
Dalam pendekatan ini, promosi pariwisata tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga mendukung keberlanjutan destinasi dan kesejahteraan masyarakat lokal. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah kurasi promosi destinasi.
Tidak semua lokasi perlu dipromosikan secara masif. Dilema antara algoritma dan keaslian alam bukanlah tentang memilih salah satu, melainkan tentang menemukan keseimbangan.
Media sosial dan teknologi digital tetap berperan penting dalam mempromosikan pariwisata. Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, kekuatan tersebut dapat berubah menjadi ancaman bagi keberlanjutan destinasi.
Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang datang, tetapi juga oleh seberapa baik sebuah destinasi mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan masyarakat lokal.
Tanpa perubahan sudut pandang dan sikap, viralitas hanya akan menjadi kemenangan jangka pendek yang berujung pada kerugian jangka panjang dan permanen.
7cloud.asia – Kementerian Pariwisata berupaya mengembangkan pariwisata berbasis produk indikasi geografis atau Geographical Indication Tourism guna menghadirkan pariwisata yang memberi nilai tambah, baik bagi warga setempat maupun wisatawan yang datang.
Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata Kemenpar Itok Parikesit mengatakan pengembangan wisata tematik itu dilakukan bersama dengan Kementerian Hukum (Kemenhum).
Saat ini, kolaborasi tersebut telah memasuki tahap audiensi dan pemetaan awal untuk mengidentifikasi potensi produk serta destinasi yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Geographical Indication Tourism yang berkelanjutan.
“Wisata tematik ini akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal,” kata Itok saat dikutip Antaranews.com, Senin (22/6/2026).
Itok menjelaskan bahwa inisiatif itu bertujuan menjadikan produk-produk indikasi geografis sebagai pintu masuk pengembangan wisata tematik berbasis pengalaman (experience-based tourism).
Sehingga wisatawan tidak hanya mengenal atau membeli produk khas suatu daerah, tetapi juga terdorong mengunjungi daerah asalnya untuk menikmati proses produksi, budaya, tradisi, serta atraksi lokal yang melatarbelakanginya.
Menurut Itok, hal itu sejalan dengan adanya tren pariwisata dunia yang telah bergeser dari semula wisatawan hanya gemar melihat-lihat, kini menjadi mencari pengalaman yang membumi.
“Wisatawan tidak lagi hanya ingin membeli kopi atau kain tenun, tetapi juga ingin mengetahui cerita di balik produk tersebut,” ujar Itok.
Oleh karena itu, Itok mengatakan produk khas daerah perlu dikemas menjadi sebuah pengalaman wisata yang utuh (story-driven tourism).
Sebagai contoh, kopi tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengunjungi kebun kopi, bertemu petani.
“Sekaligus mengikuti proses panen dan pengolahan, belajar teknik penyeduhan, menikmati kuliner lokal, hingga mengenal budaya masyarakat setempat,” imbuh Itok.
Ketika produk dikemas menjadi sebuah narasi perjalanan yang autentik, katanya, barang tersebut akan berpotensi meningkatkan lama tinggal (length of stay) dan pengeluaran wisatawan (spending), sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah.