7cloud.asia – Kementerian Pariwisata berupaya mengembangkan pariwisata berbasis produk indikasi geografis atau Geographical Indication Tourism guna menghadirkan pariwisata yang memberi nilai tambah, baik bagi warga setempat maupun wisatawan yang datang.
Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata Kemenpar Itok Parikesit mengatakan pengembangan wisata tematik itu dilakukan bersama dengan Kementerian Hukum (Kemenhum).
Saat ini, kolaborasi tersebut telah memasuki tahap audiensi dan pemetaan awal untuk mengidentifikasi potensi produk serta destinasi yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Geographical Indication Tourism yang berkelanjutan.
“Wisata tematik ini akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal,” kata Itok saat dikutip Antaranews.com, Senin (22/6/2026).
Baca: Daerah Ini Hadirkan Agrobiodiversitas sebagai Atraksi Wisata
Itok menjelaskan bahwa inisiatif itu bertujuan menjadikan produk-produk indikasi geografis sebagai pintu masuk pengembangan wisata tematik berbasis pengalaman (experience-based tourism).
Sehingga wisatawan tidak hanya mengenal atau membeli produk khas suatu daerah, tetapi juga terdorong mengunjungi daerah asalnya untuk menikmati proses produksi, budaya, tradisi, serta atraksi lokal yang melatarbelakanginya.
Menurut Itok, hal itu sejalan dengan adanya tren pariwisata dunia yang telah bergeser dari semula wisatawan hanya gemar melihat-lihat, kini menjadi mencari pengalaman yang membumi.
“Wisatawan tidak lagi hanya ingin membeli kopi atau kain tenun, tetapi juga ingin mengetahui cerita di balik produk tersebut,” ujar Itok.
Baca: Tayangan Kuliner di Netflix Mendorong Eksplorasi Budaya dan Wisata
Oleh karena itu, Itok mengatakan produk khas daerah perlu dikemas menjadi sebuah pengalaman wisata yang utuh (story-driven tourism).
Sebagai contoh, kopi tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengunjungi kebun kopi, bertemu petani.
“Sekaligus mengikuti proses panen dan pengolahan, belajar teknik penyeduhan, menikmati kuliner lokal, hingga mengenal budaya masyarakat setempat,” imbuh Itok.
Ketika produk dikemas menjadi sebuah narasi perjalanan yang autentik, katanya, barang tersebut akan berpotensi meningkatkan lama tinggal (length of stay) dan pengeluaran wisatawan (spending), sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah.

Leave a Reply