Tag: WMO

  • WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan peringatan dini bencana banjir, kebakaran hutan, pencairan gletser dan gelombang panas akan menjadi lebih umum dan intens di masa depan.

    Peringatan dini ini dilakukan seiring dengan naiknya suhu global hingga bertahun-tahun ke depan.

    Data dari WMO, suhu rata-rata global pada 2023 telah meningkat sekitar 1,4 derajat celsius dibandingkan masa pra-industri.

    Melansir Antaranews, kenaikan suhu global saat ini hanya 0,1 derajat di bawah batas 1,5 derajat celcius yang ditetapkan oleh Perjanjian Iklim Paris pada 2015.

    Baca: Pemanasan global picu masalah serius bagi lingkungan

    Perjanjian Paris merupakan perjanjian internasional yang ditandatangani oleh hampir 200 negara yang bertujuan mencegah supaya kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat celcius pada akhir abad ini.

    WMO menyebut tingkat karbon dioksida atau CO2 di atmosfer telah melonjak hingga 50 persen di atas level yang pernah tercatat pada era pra-industri.

    Peningkatan ini menunjukkan bahwa suhu akan terus meningkat dalam jangka waktu lama, bahkan jika langkah-langkah pengurangan emisi drastis diterapkan.

    Menurut WMO periode 2015 hingga 2023 merupakan periode paling hangat yang pernah tercatat.

    Baca: November 2022 hingga Oktober 2023 periode dengan suhu terpanas sepanjang sejarah

    Temuan ini memang berdasarkan data hingga Oktober 2023.

    Namun, WMO menegaskan bahwa dua bulan terakhir tahun ini tidak mungkin cukup untuk mencegah tahun 2023 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.

    Karena itu, WMO menekankan perlunya tindakan segera untuk mengatasi perubahan iklim.

    Sebelumnya lembaga pemerhati perubahan iklim Climate Central Bulan menganalisis November 2022 hingga Oktober 2023 merupakan periode terpanas sepanjang sejarah.

    Baca: Pemanasan suhu bumi capai 2derajat celcius,apayang terjadi pada planet bumi

    WMO menyebut rata-rata temperatur global 1,3 derajat diatas temperatur pada masa pra industri.

    Demikian hasil analisis yang disampaikan oleh Wakil Presiden Bidang Sains Climate Central, Andrew Pershing.

    “Rekor akan terus terjadi pada tahun depan, terutama ketika El Nino semakin meningkat, dampaknya menyebabkan panas yang tidak biasa,” ungkap Andrew.

    Lebih lanjut Andrew menjelaskan dampak iklim parah terjadi di negara-negara berkembang di khatulistiwa dan gelombang panas ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim melanda Amerika Serikat, India, Jepang, dan Eropa.

    Baca: Emisi karbon cetak rekor pada 2023

    Artinya tidak ada negara yang aman dari dampak perubahan iklim. Termasuk Indonesia sebagai salah satu negara Asia yang beriklim tropis mengalami kenaikan suhu dalam setahun terakhir.

    Sementara Prof Edvin Aldrian, peneliti BRIN yang menjadi penulis Laporan Intergovernmental Panel on Climate Changemengungkapkan kekhawatirannya.

    Kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat celcius dikhawatirkan lebih cepat terjadi dari yang diperkirakan pada 2030 dengan kondisi kenaikan suhu saat ini.

    “Memang ada faktor-faktor alam seperti fenomena El Nino, atau posisi matahari yang mendekati Bumi, tetapi aktivitas manusialah yang paling banyak memengaruhi kenaikan suhu global ini,” kata Edvin.

    Reporter: Nurakhmayani

  • WMO Kembali Ingatkan Tahun 2023 sebagai Tahun Terpanas Sepanjang Pencatatan Suhu Bumi

    WMO Kembali Ingatkan Tahun 2023 sebagai Tahun Terpanas Sepanjang Pencatatan Suhu Bumi

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) menyatakan 2023 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dengan tingkat panas lautan juga mencapai tingkat tertinggi.

    “Belum pernah kita sedekat ini, meski hanya sementara, dengan batas bawah 1,5 derajat Celcius Perjanjian Paris tentang perubahan iklim,” kata Sekjen WMO Celeste Saulo dikutip Anataranews.com, Rabu (20//2024).

    Dalam laporan WMO State of the Global Climate 2023 mengonfirmasi bahwa 2023 merupakan tahun terpanas dengan rata-rata temperatur global 1,45 derajat Celcius, di atas rata-rata pra-industri.

    Baca: WMO sebut pemanasan global akan picu lebih banyak bencana alam

    Tahun 2023 menjadi yang terpanas dalam catatan yang sudah dilakukan 174 tahun, mengalahkan rekor pada 2016 yang mencatat 1,29 derajat Celcius di atas rata-rata pra-industri.

    Rata-rata dalam sehari pada 2023, hampir sepertiga dari lautan global mengalami gelombang panas laut yang berdampak terhadap ekosistem penting dan sistem rantai makanan.

    Menuju akhir 2023, lebih dari 90 persen lautan mengalami kondisi gelombang panas laut di titik tertentu.

    Baca: Pemanasan global picu berbagai masalah lingkungan

    Rata-rata permukaan laut global juga mencapai rekor tertinggi pada tahun 2023.

    Laju kenaikan permukaan air laut dalam sepuluh tahun terakhir atau periode 2014-2023 meningkat lebih dari dua kali lipat sejak dekade pertama pencatatan satelit pada 1993-2002.

    Konsentrasi tiga gas rumah kaca (GRK) yaitu karbon dioksida, metana dan dinitrogen oksida mencapai rekor tertinggi pada 2022. Dengan data menunjukkan di beberapa lokasi memperlihatkan kenaikan kembali pada 2023.

    Baca: Mungkinkah dunia mencapai nol emisi pada 2050  

    Level CO2 lebih tinggi 50 persen dibandingkan masa pra-industri, memerangkap panas di dalam atmosfer. Tingkatan CO2 tersebut berarti temperatur akan terus naik dalam beberapa tahun ke depan.

    “Perubahan iklim tidak hanya terkait temperatur. Apa yang kita saksikan pada 2023, khususnya dengan pemanasan laut, penyusutan gletser dan hilangnya laut es Antartika juga menjadi kekhawatiran,” katanya.

    Namun, ada secercah harapan. Secara global pembangkit energi terbarukan terutama yang menggunakan tenaga matahari, angin dan air telah menjadi yang terdepan dalam upaya iklim.

    Baca: Kabar baik untuk lingkungan pada tahun 2023

    Berbagai jenis energi hijau ramah lingkungan ini sangat berpotensi dalam mengejar capaian target dekarbonisasi.

    Pada 2023, penambahan kapasitas energi terbarukan meningkat hampir 50 persen dari tahun 2022. Dengan total 510 gigawatt (GW), angka tertinggi dalam dua dekade terakhir.

    Sumber: antaranews.com

  • WMO Sebut Perubahan Iklim Penyebab Utama Panas Ekstrem di Seluruh Dunia

    WMO Sebut Perubahan Iklim Penyebab Utama Panas Ekstrem di Seluruh Dunia

     

    7cloud.asia – Perubahan iklim menjadi “kekuatan pendorong utama” yang menyebabkan panas ekstrem di seluruh dunia, menurut juru bicara Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

    Clare Nullis mengatakan kepada Anadolu bahwa WMO “mengukur suhu selama periode dasar 30 tahun, yang terbaru adalah 1991-2020.”

    “Jadi, negara-negara yang melaporkan di atas periode tersebut menunjukkan bahwa suhunya lebih hangat daripada rata-rata 30 tahun,” katanya seraya menambahkan: “Untuk tujuan pemantauan iklim, kami menggunakan dasar pra-industri.”

    “Perubahan iklim adalah kekuatan pendorong utama di balik panas yang berlebihan saat ini,” dia menekankan.

    Baca: Perubahan iklim picu gelombang panas

    Musim panas saat ini telah mencatat banyak rekor baru di stasiun-stasiun pengamatan, dengan beberapa negara Eropa tercatat mengalami situasi Juli terpanas, meskipun rekor tertinggi di benua ini tetap yang tercatat di Sisilia beberapa tahun yang lalu, tambahnya.

    Peringatan panas ekstrem di Belgia

    Suhu tinggi terus berlanjut di seluruh Eropa hingga Agustus, dengan Belgia kini menghadapi gelombang panas.

    Institut Meteorologi Kerajaan Belgia telah mengeluarkan “peringatan oranye” untuk 12 dan 13 Agustus di sebagian besar negara tersebut karena suhu yang diperkirakan melebihi norma musiman, berkisar antara 30 hingga 35 derajat Celsius (86 hingga 95 derajat Fahrenheit), dan mencapai 36 derajat Celsius (hampir 97 derajat Fahrenheit) di dekat perbatasan Prancis.

    Baca: Suhu udara capai 50 derajat di Timur Tengah

    Peringatan oranye adalah penanda bahwa cuaca akan sangat panas. Namun, “peringatan kuning” tetap berlaku di beberapa wilayah.

    Peringatan oranye di Prancis

    Di Prancis, menjadi tempat gelombang panas berlanjut, peringatan “oranye” dikeluarkan pada Senin di 45 provinsi.

    Meteo-France telah memperingatkan bahwa suhu akan tetap tinggi di sebagian besar wilayah negara tersebut.

    Suhu tertinggi, berkisar antara 36 hingga 38 derajat Celsius (hampir 97 hingga lebih dari 100 derajat Fahrenheit), diperkirakan terjadi di Ile-de-France, Provence-Alpes-Cote d’Azur, Burgundy, Centre, Haute-Normandie, dan Hauts-de-France.

    Baca: Hampir setengah juta orang meninggal per tahun akibat panas ekstrem

    Sementara itu, Kementerian Kesehatan Kosovo telah mengingatkan warga tentang suhu yang semakin tinggi, mengindikasikan bahwa tindakan seperti pembatasan jam kerja mungkin akan diberlakukan selama minggu ini.

    Hari terpanas di Inggris tahun 2024

    Tanggal 12 Agustus tercatat sebagai hari terpanas tahun ini di Inggris. Badan Meteorologi melaporkan suhu puncak sebesar 34,8 derajat Celsius (hampir 95 derajat Fahrenheit) di Cambridge. Ini adalah suhu tertinggi sejak 13 Agustus 2022.

    Badan Meteorologi lebih lanjut mencatat bahwa wilayah selatan negara itu akan terus mengalami panas pada Selasa, dengan perubahan menjadi hujan diperkirakan terjadi pada 14 Agustus.

    Paruh kedua bulan ini diperkirakan akan panas dan kering, dengan hujan sesekali.

    Selain itu, badan tersebut mengonfirmasi bahwa musim panas ini adalah musim panas terpanas ke-11 sejak 1961, dengan menyoroti bahwa delapan dari musim panas terpanas telah terjadi sejak tahun 2000, dengan enam di antaranya dalam dekade terakhir.

    Baca: Sebanyak 61 orang tewas akibat gelombang panas di Thailand

    Panas ekstrem di Italia

    Gelombang panas ekstrem yang berasal dari Afrika diperkirakan akan melanda Italia sepanjang minggu ini, dengan suhu yang mungkin mencapai 40 derajat Celsius (104 derajat Fahrenheit) pada Kamis, 15 Agustus.

    Kementerian Kesehatan telah menempatkan 19 kota, termasuk Roma, dalam kategori “merah”, yang menunjukkan tingkat risiko tertinggi untuk Selasa, 13 Agustus.

    Media Italia melaporkan bahwa suhu di Mont Blanc, puncak tertinggi di Pegunungan Alpen, tetap di atas 0 derajat Celsius (32 derajat Fahrenheit) selama 33 jam, menimbulkan kekhawatiran bahwa gletser gunung tersebut “sekarat” akibat panas yang ekstrem.

    Baca: Suhu udara hampir capai 50 derajat celcius, India tutup sekolah

    Swiss

    Swiss mengalami panas yang intens sepanjang akhir pekan, dengan suhu mencapai 33 derajat Celsius (lebih dari 91 derajat Fahrenheit) di Jenewa dan 34 derajat Celsius (lebih dari 93 derajat Fahrenheit) di Zurich pada 12 Agustus.

    Beberapa wilayah yang terkena gelombang panas mengalami hujan petir pada Senin malam.

    Di kanton Ticino, panas yang ekstrem terus berlanjut. Kantor Federal Meteorologi dan Klimatologi Swiss (MeteoSwiss) mencatat suhu tertinggi tahun ini sebesar 35,8 derajat Celsius (lebih dari 96 derajat Fahrenheit) pada 10 Agustus.

    Suhu di seluruh Swiss diperkirakan akan turun sekitar 4 derajat mulai Rabu.

    Eropa

    Eropa mengalami pemanasan dengan laju lebih dari dua kali lipat rata-rata global. Kedekatan benua tersebut dengan Kutub Utara memainkan peran yang signifikan.

    Baca: Gelombang panas landa Jepang, 6 orang tewas

    Dari Juni 2023 hingga Juni 2024, rekor suhu global telah dipecahkan selama 13 bulan berturut-turut.

    Menurut sistem pemantauan satelit Copernicus Uni Eropa, tanggal 21 Juli tercatat sebagai hari terpanas secara global dalam sejarah baru-baru ini.

    Pada tahun 2023, setiap benua mengalami gelombang panas yang meluas, intens, dan berkepanjangan, dan tren pemanasan Bumi terus berlanjut.

    Para ahli memprediksi bahwa suhu tinggi akan terus berlanjut di banyak wilayah dalam waktu dekat.

    Tahun ini, Eropa kembali terkena dampak besar dari panas ekstrem, terutama di Mediterania dan Balkan, di mana gelombang panas berkepanjangan tercatat pada bulan Juli.

    Sumber : Anadolu-OANA

  • WMO Sebut Banjir Spanyol sebagai Contoh Bencana Cuaca Ekstrem Global

    WMO Sebut Banjir Spanyol sebagai Contoh Bencana Cuaca Ekstrem Global

    7cloud.asia – Badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (WMO) pada Jumat (1/11/2024) menyatakan banjir bandang di Spanyol merupakan salah satu dari banyak bencana cuaca ekstrem yang terjadi secara global.

    Banjir bandang di Spanyol ini dilaporkan telah merenggut lebih dari 158 nyawa, dan memporak-porandakan Valencia selatan

    Dalam konferensi pers PBB, juru bicara WMO, Clare Nullis mengatakan bahwa pada tahun 2024 ini, hampir setiap minggu dunia menyaksikan peristiwa menyesakkan seperti ini.

    “Hujan deras yang memecahkan rekor dan banjir bandang yang melanda Spanyol, menyebabkan puluhan korban jiwa, gangguan besar, dan kerugian ekonomi yang masif,” ujarnya.

    Banjir Spanyol ini, ujarnya, adalah rangkaian terbaru dari bencana banjir yang menghantam masyarakat di seluruh dunia.

    Baca: Banjir bandang terburuk dalam sejarah Spanyol modern

    Dia menambahkan, dunia sedang menghadapi masalah iklim yang terus meningkat, baik karena kelebihan air maupun kekurangan air.

    Ia menyebutkan bahwa setiap kenaikan suhu udara 1°C dapat meningkatkan kapasitas udara jenuh untuk menampung uap air sebesar 7 persen seiring dengan pemanasan iklim global.

    Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) melaporkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir dan kekeringan telah menjadi lebih mungkin dan semakin parah.

    Peristiwa-peristiwa itu bisa terjadi akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia terkait dengan polusi atau lingkungan, kata juru bicara WMO tersebut.

    “Badai parah serupa telah terjadi di cekungan Mediterania di masa lalu, menunjukkan kerentanan kawasan tersebut terhadap peristiwa semacam itu,” ujar Nullis.

    Badai hebat di Spanyol mengakibatkan curah hujan setara dengan jumlah hujan setahun hanya dalam beberapa jam

    Baca: WMO sudah mengingatkan pemanasan global akan memicu bencana meteorologi

    Hujan deras ini menyebabkan sungai meluap dan memicu banjir bandang di wilayah Valencia, Spanyol. Jalan-jalan dengan cepat berubah menjadi sungai yang berarus deras.

    Kepala pemantauan iklim WMO, Omar Baddour, mengatakan dalam konferensi pers yang sama: bahwa cekungan Mediterania rentan terhadap badai parah dan siklon berat sepanjang tahun, terutama pada akhir musim panas.

    Kedatangan udara dingin berdampak pada wilayah kecil di atas Spanyol, Portugal, Maroko Utara, dan Prancis.

    Kondisi ini menciptakan ketidakstabilan atmosfer dalam istilah meteorologi, yang menyebabkan awan besar dan hujan deras di lokasi yang sangat terbatas.

    “Fenomena ini luas terjadi di kawasan Mediterania. Banyak badai parah seperti ini terjadi pada masa lalu.” imbuhnya.

    Pemerintah Spanyol telah menyatakan tiga hari masa berkabung nasional atas bencana banjir bandang ini. (Sumber: Antaranews/Anadolu)

  • Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Cuaca terasa lebih panas akhir-akhir ini? Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi kondisi ini akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

    Dalam laporan Global Annual-to-Decadal Climate Update,  memprediksi suhu rata-rata global akan tetap berada pada atau mendekati level tertinggi yang pernah tercatat hingga 2030.

    WMO memperkirakan suhu rata-rata global pada periode 2026-2030 akan berada 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius di atas rata-rata era pra-industri (1850-1900).

    Laporan tersebut menyebutkan terdapat peluang 86 persen bahwa salah satu tahun antara 2026 hingga 2030 akan melampaui rekor panas tahun 2024 (sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat).

    Baca: Kematia Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Lebih Tinggi 10 Kali Lipat

    WMO juga memperkirakan peluang 91 persen suhu global akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius setidaknya dalam satu tahun selama periode tersebut.

    Bahkan, kemungkinan rata-rata suhu lima tahunan 2026-2030 melebihi 1,5 derajat Celsius mencapai 75 persen.

    Penulis utama laporan, Dr. Leon Hermanson, dalam rilis WMO mengatakan prediksi kemunculan fenomena El Niño pada akhir 2026 berpotensi mendorong 2027 menjadi tahun pemecahan rekor suhu global berikutnya.

    Baca: Skenario Terburuk El Nino 2026, Neraka Panas yang Mengancam

    “Ada prediksi El Niño pada akhir tahun 2026, yang meningkatkan peluang tahun berikutnya, 2027, menjadi tahun pemecahan rekor berikutnya,” kata Leon.

    Selain itu, kawasan Arktik diprediksi mengalami pemanasan jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Suhu musim dingin di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 2,8 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, disertai penyusutan es laut di sejumlah wilayah utama.

    WMO menegaskan bahwa peningkatan suhu sementara di atas 1,5 derajat Celsius tidak otomatis berarti target jangka panjang dalam Perjanjian Paris gagal tercapai.

    Namun, frekuensi kejadian tersebut diperkirakan akan semakin sering seiring terus meningkatnya suhu bumi akibat perubahan iklim.

    Baca: Mengenal Lebih Jauh Godzilla El Nino

    Sementara di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 di Indonesia pada Agustus mendatang.

    Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menerangkan pada musim kemarau kali ini, Indonesia akan memasuki fenomena El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat pada Juli.

    Kondisi ini memperkuat terjadinya musim kemarau hingga mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.  “Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan akan dirasakan di banyak daerah,” ungkap Faisal.

    Selanjutnya Faisal menjelaskan, sebenarnya musim kemarau telah dimulai pada April dan akan berlangsung lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

    “Musim kemarau mulai dari April, Mei hingga Juni, dan banyak wilayah masuk pada Mei,” katanya.

    Baca: BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Agustus Mendatang

    Musim kemarau pada April akan lebih dahulu terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

    Bulan-bulan selanjutnya musim kemarau mulai meluas ke Pulau Jawa, terutama wilayah pesisir dan dataran tinggi, hingga ke Sumatera bagian selatan.

    BMKG menyebut ada enam provinsi yang diprediksi paling terdampak, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

     

     

  • WMO Peringatkan El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    WMO Peringatkan El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa fenomena El Nino berpotensi kembali berkembang dalam beberapa bulan mendatang, membawa risiko cuaca lebih kering di Indonesia serta meningkatkan ancaman cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

    Badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyatakan peluang kemunculan El Nino pada periode Juni hingga Agustus mencapai 80 persen.

    Sementara itu, kemungkinan fenomena tersebut bertahan setidaknya hingga November berada di kisaran atau bahkan melebihi 90 persen.

    Menurut WMO, perkembangan El Nino dipicu oleh suhu perairan yang luar biasa hangat di kawasan Pasifik tropis. Fenomena ini diketahui memengaruhi pola suhu dan curah hujan global serta meningkatkan risiko berbagai kejadian cuaca ekstrem.

    Indonesia termasuk wilayah yang berpotensi mengalami kondisi lebih kering akibat El Nino.

    Selain Indonesia, dampak serupa diperkirakan terjadi di Australia, Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, kawasan Karibia, serta sebagian wilayah Asia Selatan.

    Baca: Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata

    WMO juga memperkirakan suhu udara pada periode Juni hingga Agustus akan berada di atas normal di hampir seluruh wilayah dunia.

    Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stres akibat panas dan mempercepat terjadinya kekeringan di daerah yang mengalami penurunan curah hujan.

    “Ilmu pengetahuan sudah sangat jelas, El Nino akan tiba di hadapan kita dalam beberapa bulan mendatang dengan tingkat kepastian 90 persen. Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim yang mendesak,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pernyataan video, Selasa (2/6/2026).

    “Kondisi El Nino akan memperparah dampak dunia yang semakin menghangat. Dampaknya akan terasa lebih berat, menjangkau lebih luas, dan melintasi batas negara dengan kecepatan yang menghancurkan,” tambahnya.

    Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan dunia perlu bersiap menghadapi kemungkinan El Nino yang kuat karena fenomena tersebut dapat memperburuk kekeringan, hujan lebat, dan gelombang panas di daratan maupun lautan.

    Dunia, ujar Saulo, perlu bersiap menghadapi potensi El Nino yang kuat, yang akan memperparah kekeringan dan hujan lebat serta meningkatkan risiko gelombang panas di daratan maupun lautan.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    ”El Nino terbaru pada 2023-2024 merupakan salah satu dari lima yang terkuat yang pernah tercatat dan berperan dalam rekor suhu global yang terjadi pada 2024,” kata Saulo.

    Ia menambahkan bahwa prakiraan musiman yang lebih dini dan sistem peringatan awal sangat penting untuk menyelamatkan nyawa serta mengurangi dampak terhadap perekonomian dan masyarakat.

    El Nino merupakan fase hangat dari fenomena Osilasi Selatan El Nino (ENSO), yaitu pola iklim alami yang ditandai oleh suhu permukaan laut di atas rata-rata di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik ekuator.

    Fenomena ini umumnya muncul setiap dua hingga tujuh tahun dan dapat berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan.

    Selain memicu cuaca lebih kering di sejumlah wilayah, WMO mengingatkan bahwa El Nino juga dapat meningkatkan risiko banjir di kawasan lain yang mengalami curah hujan lebih tinggi dari normal.

    Karena itu, langkah kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini dinilai penting untuk melindungi masyarakat dan mengurangi dampak ekonomi yang ditimbulkan.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu