7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan peringatan dini bencana banjir, kebakaran hutan, pencairan gletser dan gelombang panas akan menjadi lebih umum dan intens di masa depan.
Peringatan dini ini dilakukan seiring dengan naiknya suhu global hingga bertahun-tahun ke depan.
Data dari WMO, suhu rata-rata global pada 2023 telah meningkat sekitar 1,4 derajat celsius dibandingkan masa pra-industri.
Melansir Antaranews, kenaikan suhu global saat ini hanya 0,1 derajat di bawah batas 1,5 derajat celcius yang ditetapkan oleh Perjanjian Iklim Paris pada 2015.
Baca: Pemanasan global picu masalah serius bagi lingkungan
Perjanjian Paris merupakan perjanjian internasional yang ditandatangani oleh hampir 200 negara yang bertujuan mencegah supaya kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat celcius pada akhir abad ini.
WMO menyebut tingkat karbon dioksida atau CO2 di atmosfer telah melonjak hingga 50 persen di atas level yang pernah tercatat pada era pra-industri.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa suhu akan terus meningkat dalam jangka waktu lama, bahkan jika langkah-langkah pengurangan emisi drastis diterapkan.
Menurut WMO periode 2015 hingga 2023 merupakan periode paling hangat yang pernah tercatat.
Baca: November 2022 hingga Oktober 2023 periode dengan suhu terpanas sepanjang sejarah
Temuan ini memang berdasarkan data hingga Oktober 2023.
Namun, WMO menegaskan bahwa dua bulan terakhir tahun ini tidak mungkin cukup untuk mencegah tahun 2023 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.
Karena itu, WMO menekankan perlunya tindakan segera untuk mengatasi perubahan iklim.
Sebelumnya lembaga pemerhati perubahan iklim Climate Central Bulan menganalisis November 2022 hingga Oktober 2023 merupakan periode terpanas sepanjang sejarah.
Baca: Pemanasan suhu bumi capai 2derajat celcius,apayang terjadi pada planet bumi
WMO menyebut rata-rata temperatur global 1,3 derajat diatas temperatur pada masa pra industri.
Demikian hasil analisis yang disampaikan oleh Wakil Presiden Bidang Sains Climate Central, Andrew Pershing.
“Rekor akan terus terjadi pada tahun depan, terutama ketika El Nino semakin meningkat, dampaknya menyebabkan panas yang tidak biasa,” ungkap Andrew.
Lebih lanjut Andrew menjelaskan dampak iklim parah terjadi di negara-negara berkembang di khatulistiwa dan gelombang panas ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim melanda Amerika Serikat, India, Jepang, dan Eropa.
Baca: Emisi karbon cetak rekor pada 2023
Artinya tidak ada negara yang aman dari dampak perubahan iklim. Termasuk Indonesia sebagai salah satu negara Asia yang beriklim tropis mengalami kenaikan suhu dalam setahun terakhir.
Sementara Prof Edvin Aldrian, peneliti BRIN yang menjadi penulis Laporan Intergovernmental Panel on Climate Changemengungkapkan kekhawatirannya.
Kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat celcius dikhawatirkan lebih cepat terjadi dari yang diperkirakan pada 2030 dengan kondisi kenaikan suhu saat ini.
“Memang ada faktor-faktor alam seperti fenomena El Nino, atau posisi matahari yang mendekati Bumi, tetapi aktivitas manusialah yang paling banyak memengaruhi kenaikan suhu global ini,” kata Edvin.
Reporter: Nurakhmayani

Leave a Reply