Blog

  • Jejak Kerusakan Hutan di Riau dan Kalimantan Tengah di Balik Produksi Viskose

    Jejak Kerusakan Hutan di Riau dan Kalimantan Tengah di Balik Produksi Viskose

    7cloud.asia – Riset yang dilakukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada 2024 menemukan, serat viskose Indonesia, terutama diproduksi oleh PT Asia Pacific Rayon (APR), perusahaan yang beroperasi di bawah kelompok usaha Royal Golden Eagle (RGE)

    Viskose produksi PT RGE ini diekspor ke lebih dari 20 negara pusat manufaktur tekstil seperti Bangladesh, Turki, Pakistan, India, China dan Vietnam, sebelum masuk ke rantai pasok berbagai merek fesyen internasional.

    Sayangnya, di balik kemilau industri viskose ini, ada jejak kerusakan lingkungan yang dilakukan perusahaan, antara lain dilaporkan terjadi di Riau dan Kalimantan Tengah.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (26/6/2026) Direktur Eksekutif Daerah WALHI Riau, Eko Yunanda memaparkan kerusakan lingkungan hidup oleh perusahaan perkebunan yang memproduksi viskose juga terjadi di Riau.

    Salah satunya oleh PT Sumatera Riang Lestari (SRL), mitra pemasok APRIL yang kemudian kayunya diolah menjadi viskose oleh PT APR.

    Perusahaan ini menyebabkan kerusakan lingkungan hidup di tiga kabupaten di Provinsi Riau. Bahkan keberadaan perusahaan ini juga turut merusak ekosistem pesisir dan pulau kecil, tepatnya di Pulau Rupat dan Pulau Rangsang.

    Baca: WALHI Desak EU Masukkan Viskose dalam EUDR

    Selain itu, temuan WALHI Riau juga menunjukkan adanya indikasi pelanggaran ketenagakerjaan oleh perusahaan ini, khususnya di areal kerja Pulau Rupat.

    Meski saat ini izin perusahaan tersebut telah dicabut, hingga saat ini belum ada upaya pemulihan lingkungan hidup maupun hak masyarakat di eks areal kerja PT SRL.

    “Pencabutan izin PT SRL adalah bukti nyata persoalan industri viskose. Sebab viskose yang diproduksi oleh PT APR berasal dari kebun kayu mitra pemasok APRIL yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan merampas ruang hidup masyarakat,“ tandasnya.

    Selain itu, pencabutan izin seharusnya tidak menghilangkan tanggung jawab PT SRL terhadap kerusakan lingkungan hidup dan pelanggaran lainnya yang telah mereka lakukan.

    ”Kemudian negara juga harus segera memulihkan hak atas ruang hidup masyarakat yang selama ini dirampas oleh PT SRL, baik di Pulau Rupat, Pulau Rangsang, maupun Bayas,” ujar Eko.

    Kondisi serupa juga terjadi di Kalimantan Tengah, salah satu perusahaan Hutan Tanaman Industri yang turut berkontribusi buruk bagi lingkungan dan masyarakat adalah PT Industrial Forest Plantation (PT IFP), merupakan salah satu anak perusahaan Royal Golden Eagle (RGE).

    Baca: Slow Fashion Jadi Solusi Dampak Lingkungan Fast Fashion

    Sejak pertama kali masuk, PT RGE ditolak oleh masyarakat di desa Humbang Raya dan desa Gawing karena masyarakat khawatir akan kehilangan akses terhadap lahan produktif yang menjadi sumber penghidupan mereka.

    Aktivitas perusahaan juga menimbulkan berbagai dampak lingkungan dan sosial, termasuk deforestasi, dugaan pencemaran sumber air, kerusakan habitat satwa liar, serta gangguan terhadap kawasan yang memiliki nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat.

    Temuan WALHI Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa operasional perusahaan tidak hanya mengubah kondisi ekosistem setempat, tetapi juga memicu konflik sosial dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan bagi komunitas terdampak.

    Direktur eksekutif WALHI Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai mengatakan bahwa kasus PT Industrial Forest Plantation (IFP) merupakan cerminan kegagalan tata kelola hutan tanaman industri yang masih memungkinkan terjadinya kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak masyarakat.

    Karena itu, pemerintah Indonesia perlu segera melakukan evaluasi dan reformasi kebijakan pengelolaan hutan tanaman industri.

    ”Sementara Uni Eropa perlu memasukkan viskose ke dalam cakupan EUDR untuk memastikan rantai pasok global tidak lagi memperoleh keuntungan dari deforestasi, degradasi gambut, dan perampasan ruang hidup masyarakat,” ujarnya.

    Baca: Industri Fast Fashion Didesak Lebih Ramah Lingkungan

  • Ada Jejak Perusakan Hutan Indonesia. WALHI Desak Uni Eropa Masukkan Viskose dalam EUDR

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mendesak Uni Eropa untuk memasukkan viskose ke dalam cakupan European Union Deforestation Regulation (EUDR), atau undang-undang anti deforestasi di Uni Eropa.

    Viskose adalah serat selulosa buatan (sering disebut rayon) yang diekstraksi dari bahan tanaman seperti kayu atau bambu. Viskose adalah selulosa berbentuk benang halus yang umumnya dipakai untuk industri sutra buatan.

    Dengan teksturnya yang sangat lembut, halus, dan memiliki efek jatuh (drape) yang elegan seperti sutra, viskose menjadi pilihan karena tak hanya indah tetapi juga nyaman digunakan.

    Viskose populer sebagai bahan pakaian kasual, gaun, blus, dan lapisan dalam (lining). Serat ini menyusut saat dicuci, mudah kusut, dan kurang kuat ketika dalam keadaan basah.

    Desakan WALHI ini didasarkan pada fakta bahwa rantai pasok viskose masih bergantung pada model pengembangan hutan tanaman industri (HTI) di Indonesia.

    Dalam banyak kasus, hutan tanaman industri ini berkontribusi terhadap hilangnya hutan alam, kerusakan ekosistem gambut, konflik tenurial, dan pelanggaran hak asasi manusia.

    Baca: Upaya Mengerem Dampak Fast Fahion pada Lingkungan

    Dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (26/6/2026), WALHI menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil rayon terbesar ketiga di dunia, dan menguasai lebih dari 70 persen pasar rayon viskose dunia.

    Menurut riset WALHI (2024), serat viskose yang diproduksi di Indonesia, terutama oleh PT Asia Pacific Rayon (APR), perusahaan yang beroperasi di bawah kelompok usaha Royal Golden Eagle (RGE), konglomerasi global yang didirikan oleh Sukanto Tanoto.

    Viskose diekspor ke lebih dari 20 negara pusat manufaktur tekstil seperti Bangladesh, Turki, Pakistan, India, China dan Vietnam, sebelum masuk ke rantai pasok berbagai merek fesyen internasional.

    Namun, kompleksitas dan rendahnya transparansi rantai pasok, terutama pada tingkat pemasok bahan baku (Tier 3), membuat deforestasi, memicu kerusakan lingkungan, dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di tingkat hulu

    Semua ini sering kali tidak terlacak hingga ke produk akhir.

    Selain melalui APR, bahan baku dari Indonesia juga diproses oleh Sateri di China yang juga bagian dari Royal Golden Eagle (RGE), produsen serat selulosa terbesar di dunia yang memasok industri fesyen global.

    Baca: Industri Fast Fashion Didesak Lebih Ramah Lingkungan

    Koordinator Pengkampanye WALHI Nasional, Uli Arta Siagian mengatakan, dari rantai pasok ini kita dapat melihat bahwa persoalan-persoalan yang terjadi di kampung adalah dampak dari konsumsi global.

    “Semakin tinggi permintaan fast fesyen, ujarnya, maka akan semakin besar dan luas dampak di lokasi-lokasi dimana serta kayu untuk viscose dihasilkan,” ujar Ully

    Oleh karena itu, selama viskose tidak diatur secara eksplisit dalam EUDR, maka produk tekstil yang dijual di pasar Eropa tetap dapat berasal dari rantai pasok yang terkait dengan deforestasi dan pelanggaran HAM yang terjadi pada tingkat konsesi HTI di Indonesia.

    Ully juga menyoroti ketiadaan pengaturan secara eksplisit dalam EUDR ini akan membuat permintaan tanpa batas viscose untuk memenuhi fast fashion akan tetap terus mendorong deforestasi dan pelanggaran HAM di Indonesia.

    Kerusakan lingkungan akibat produksi viskose ini, antara lain dilaporkan terjadi di Riau dan Kalimantan Tengah. Ikuti kisahnya dalam tulisan selanjutnya.

    Baca: Uni Eropa Resmi Larang Pemusnahan Produk Garmen yang Tidak Laku Dijual

  • 32 Orang Tewas dan 700 Lainnya Luka-luka Akibat Gempa Magnitudo 7,5 yang Melanda Venezuela

    32 Orang Tewas dan 700 Lainnya Luka-luka Akibat Gempa Magnitudo 7,5 yang Melanda Venezuela

    7cloud.asia – Sekurangnya 32 orang tewas dan 700 lainnya terluka akibat gempa besar yang melanda Venezuela pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat.

    Angka tersebut merupakan informasi pertama yang disampaikan pemerintah Venezuela terkait jumlah korban gempa.

    Para seismolog mengkonfirmasi gempa besar pertama bermagnitudo 7,2 melanda dekat kota San Felipe, ibu kota negara bagian Yaracuy.

    Sekitar 40 detik kemudian, gempa kedua dengan kekuatan lebih besar bermagnitudo 7,5 kembali terjadi di tenggara kota Yumare.

    Gempa tersebut merupakan gempa terbesar yang pernah melanda Venezuela dan yang terkuat selama 125 tahun terakhir.

    Baca: Puluhan Orang Tewas Akibat Gempa di Filipina Selatan

    Menurut dinas Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), episentrum gempa terletak di kedalaman 10 kilometer dari permukaan tanah dan titiknya berada di barat wilayah pesisir Moron.

    Gempa tersebut terasa dengan sangat kuat di ibu kota Caracas sehingga menyebabkan ambruknya sejumlah bangunan.

    USGS memperkirakan jumlah korban tewas dapat mencapai ribuan, dengan rentang jumlahnya dari 10 ribu hingga 100 ribu orang.

    Dengan tujuan utama untuk menyelamatkan nyawa, Presiden Rodriguez mengatakan bahwa otoritas setempat berfokus menyelamatkan korban yang terjebak di reruntuhan gedung dan rumah-rumah yang hancur, menurut laporan teleSUR.

    Menurut data teknis terkini dari USGS, gempa ganda tersebut mengguncang wilayah Venezuela utara dengan sangat keras.

    Sumber: Antaranews.com

  • Tingkatkan Produktivitas Lahan Pertanian, UGM Kenalkan Pertanian Cerdas Lewat Teknologi Agrivoltaic

    Tingkatkan Produktivitas Lahan Pertanian, UGM Kenalkan Pertanian Cerdas Lewat Teknologi Agrivoltaic

    7cloud.asia – Menurut laporan BPS tahun 2021, 89,54 persen lahan pertanian di Indonesia dinilai belum memenuhi standar produktivitas yang berkelanjutan akibat penggunaan bahan kimia, pengolahan tanah dan penggunaan air berlebihan, serta adanya konflik sosial.

    Di sisi lain, petani masih menghadapi dampak perubahan iklim yang menyebabkan ancaman kekeringan akibat kemarau berkepanjangan disebabkan el nino yang diperkirakan akan berlangsung hingga awal 2027.

    Sebagai solusi pemanfaatan lahan pertanian yang efisien, Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM, Ahmad Agus Setiawan, Ph.D., mengenalkan konsep agrivoltaic yang mengintegrasi panel surya di atas lahan pertanian.

    Konsep agrivoltaic ini terinspirasi dari keberhasilan PLTS terapung di Waduk Cirata yang berkapasitas 149 MW hingga 190 MW.

    Dilansir ugm.ac.id, Agus mengatakan teknologi ini diterapkan di desa pandowoharjo Sleman yang dioperasikan langsung oleh masyarakat dan dimanfaatkan langsung oleh petani setempat.

    Rencananya teknologi ini akan dibawa mahasiswa KKN UGM yang mengabdi di daerah terpencil. Mereka membawa paket kombinasi panel surya sebagai sumber daya dan Starlink untuk menyediakan akses internet bagi masyarakat.

    “Kita mengharapkan mahasiswa tumbuh bersama masyarakat,” ungkapnya dalam Seminar Internasional yang bertajuk ‘Smart Agrivoltaic Nusantara: Membangun Kedaulatan Pangan, Energi, dan Air Berbasis Teknologi Hijau dari Desa untuk Indonesia’ di Fakultas Teknik UGM, Rabu (24/6/2026).

    Inovasi teknologi agrivoltaic dikembangkan bersama Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho.

    Menurut Bayu, teknologi smart framing ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu Management Information System (IMS) untuk pengambilan keputusan, Precision Agriculture (pertanian presisi), serta optimalisasi dan robotik.

    Melalui penggunaan smart framing, Bayu menilai banyak keunggulan yang didapat, yaitu meningkatkan produktivitas, data informasi yang diperoleh secara real-time dan akurat, meningkatkan efisiensi, mempermudah monitoring dan kontrol, dan tentunya mampu meningkatkan kualitas produk.

    “Makanya dengan smart farming itu akan memudahkan kita dalam mendapatkan informasi melalui sensor yang dipasang. Seperti, tanah di sini itu kekurangan pupuk N, oleh karenanya yang diberikan adalah pupuk Nm bukan malah diberikan pupuk K,” ungkapnya.

    Akan tetapi, dalam penerapan teknologi tersebut di lahan terbuka jauh lebih menantang dibandingkan dengan di dalam greenhouse, karena terdapat faktor cuaca yang tidak menentu.

    Oleh karena itu, dalam penelitiannya, ia mengembangkan integrasi antara drone baik drone surveillance untuk pemetaan maupun drone sprayer untuk penyemprotan dengan sensor cuaca di atas tanah dan sensor tanah portabel di bawah tanah guna memberikan informasi real-time mengenai kebutuhan tanaman secara presisi.

  • APBN Tak Cukup Memadai Sediakan Pendanaan Iklim: Perlu Kreatif Menggali Sumber Lain

    APBN Tak Cukup Memadai Sediakan Pendanaan Iklim: Perlu Kreatif Menggali Sumber Lain

    7cloud.asia – Kebutuhan pendanaan iklim yang terus meningkat tidak mungkin hanya mengandalkan APBN dan APBD. Karena itu, diperlukan upaya untuk mengoptimalkan berbagai sumber pembiayaan, baik dari dalam maupun luar negeri.

    Hal ini diungkapkan Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Joko Tri Haryanto dalam Seminar Nasional Ketahanan Iklim yang Berkelanjutan: Pengalaman dari Lima Proyek Adaptation Fund di Indonesia yang diselenggarakan KEMITRAAN bersama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup di Jakarta, pekan ini.

    “Tugas utama kami adalah menghimpun berbagai sumber pendanaan, baik dari dalam negeri maupun dari berbagai sumber internasional, seperti lembaga multilateral, bilateral, filantropi, maupun sektor swasta, kemudian menyalurkannya kepada para penerima manfaat secara lebih fleksibel,” jelasnya.

    Joko menegaskan bahwa penguatan pendanaan iklim membutuhkan kerja sama banyak pihak. BPDLH, menurutnya, tidak hadir untuk menggantikan peran organisasi masyarakat sipil atau lembaga non-pemerintah, melainkan untuk saling melengkapi.

    “Justru kami saling melengkapi. Kami membutuhkan NGO sebagai mitra implementasi, begitu pula NGO membutuhkan BPDLH sebagai pengelola dana. Salah satu contohnya adalah KEMITRAAN yang menjadi Lembaga Perantara BPDLH sekaligus telah lebih dahulu menjadi accredited entity Green Climate Fund,” ujarnya.

    Baca: Masyarakat Adat Kesulitan Mengakses Pendanaan iklim

    Selain mengelola Dana Abadi Kebencanaan, BPDLH juga mengembangkan berbagai skema pendanaan untuk mangrove, blue carbon, dan blue financing, serta mulai memperluas dukungan terhadap program-program adaptasi hingga level komunitas.

    “Melalui program Layanan Dana Masyarakat, BPDLH juga membuka akses pembiayaan bagi individu, kelompok masyarakat, masyarakat adat, kelompok tani hutan, hingga penerima penghargaan lingkungan melalui skema hibah skala kecil,” tutupnya.

    Sementara itu, National Designated Authority (NDA) GCF dari Kementerian Keuangan, Ruhadiantama Wicaksono, menjelaskan bahwa arah kebijakan saat ini semakin memberi perhatian pada program-program adaptasi.

    “Mulai tahun 2026, GCF mendorong keseimbangan antara mitigasi dan adaptasi sehingga proyek-proyek adaptasi menjadi prioritas yang semakin kuat,” katanya.

    Menurut Ruhadia, perubahan tersebut membuka peluang yang semakin besar dengan dua Direct Access Entity nasional, yaitu KEMITRAAN dan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI). Kedua lembaga tersebut menurutnya dapat menjadi pintu masuk untuk mengakses pendanaan GCF.

    Baca: Pelibatan Masyarakat Tapak Sangat Penting dalam Menyusun Mitigasi Krisis Iklim

    Namun ia juga mengingatkan bahwa peluang tersebut harus diimbangi dengan kesiapan yang memadai.

    Dia menambahkan, walaupun Green Climate Fund memiliki fleksibilitas pendanaan yang tinggi, proses pengajuannya tidak sederhana.

    ”Ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, mulai dari environmental safeguard, social safeguard, governance safeguard, hingga koordinasi dengan kementerian, pemerintah daerah, NGO, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya.

    Direktur Eksekutif KEMITRAAN, Nurina Widagdo, menambahkan bahwa pengalaman lembaganya menunjukkan ketersediaan sumber pendanaan saja tidak cukup untuk menjamin sebuah program memperoleh dukungan pembiayaan.

    “Pengalaman kami menunjukkan bahwa akses terhadap pendanaan perubahan iklim tidak hanya bergantung pada tersedianya sumber dana, tetapi juga pada kesiapan lembaga yang mengajukan proposal. Banyak proses yang harus dipenuhi sebelum sebuah proposal dapat disetujui oleh donor internasional,” katanya.

    Menurut Nurina, kualitas perencanaan menjadi salah satu faktor yang paling menentukan. Program yang diajukan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

    Baca: Perubahan Iklim Kian Nyata, Adaptasi Iklim Butuh Kolaborasi Semua Pihak

    Selain itu, data pendukung, desain program, serta sistem monitoring dan evaluasi juga harus dipersiapkan dengan baik sejak awal.

    Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program adaptasi tidak mungkin dicapai oleh satu pihak saja.

    “Program adaptasi perubahan iklim hampir tidak mungkin berhasil apabila hanya dijalankan oleh satu institusi. Diperlukan keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, hingga organisasi masyarakat sipil agar program benar-benar memberikan dampak yang berkelanjutan,” ujarnya.

    Dari sektor swasta, Wakil Ketua Umum Bidang Industri Hijau KADIN, Halim Kalla berharap skema pembiayaan ketahanan iklim dapat melibatkan sektor swasta dengan akses yang lebih mudah dan insentif yang memungkinkan investasi hijau dapat berkembang

    “Ke depan kami berharap semakin banyak skema pembiayaan yang dapat melibatkan sektor swasta sehingga investasi pada program-program adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim menjadi lebih menarik dan dapat berkembang dalam skala yang lebih besar,” harapnya.

  • Anak-anak Pesisir Menanggung Dampak Pembangunan yang Abai Krisis Iklim dan Hak Antar Generasi

    Anak-anak Pesisir Menanggung Dampak Pembangunan yang Abai Krisis Iklim dan Hak Antar Generasi

    7cloud.asia – Krisis iklim tidak lagi bisa dibaca sebatas cuaca ekstrem, tetapi juga ancaman terhadap keadilan antar generasi. Laporan Children’s Climate Risk Report 2026 dari UNICEF menunjukkan hampir seluruh anak di dunia terpapar risiko iklim.

    Di mana sekitar 1,1 miliar anak menghadapi tiga ancaman sekaligus: kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang panas.

    Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut WALHI, Mida Saragih memaparkan, berdasarkan laporan global UNICEF tentang Children’s Climate Risk Report 2026, anak-anak berada di garis depan krisis iklim.

    ”Sedikitnya 33 juta anak terdampak banjir pesisir dan 337 juta terdampak banjir sungai. Kerentanan mereka semakin kompleks karena faktor usia, gender, dan kondisi disabilitas, terutama saat harus mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada media pada Jumat (26/6/2026)

    Di Indonesia, kondisi ini tergambar jelas di Pantai Utara Jawa. Kajian BRIN (2026) mencatat 65,8 persen wilayah pesisir mengalami erosi sejak 2000–2024, yang diperparah penurunan muka tanah.

    Baca: Penurunan Tanah Bervariasi dan Kenaikan Permukaan Laut di Pantura hingga 4,3 Milimeter per Tahun

    Tingginya paparan krisis iklim di pantai utara Jawa menciptakan tekanan lingkungan dan ekonomi, serta tekanan fisik dan psikologis yang berdampak langsung pada tumbuh kembang anak.

    ”Akibatnya, mereka terpaksa tumbuh dalam situasi yang mengancam kesehatan, pendidikan dan masa depan,” pungkas Mida.

    Salah satu daerah pesisir yang merasakan dampak krisis iklim adalah kawasan Pantura di Jawa Tengah memiliki 341 desa pesisir yang tersebar di 17 kabupaten/kota.

    Data WALHI Jawa Tengah menunjukkan bahwa 96,6 persen desa pesisir di Jawa Tengah tergolong rentan terhadap dampak bencana iklim.

    Salah satu wilayah yang berada dalam kondisi kritis adalah Kabupaten Demak, khususnya Kecamatan Sayung, yang terdampak banjir rob seluas 1.266 hektare.

    Baca: Tanggul Laut Raksasa Bukan Solusi Tepat untuk Masalah Lingkungan di Pantura

    Banjir rob terjadi secara berulang dan memaksa warga di Desa Sriwulan, Bedono, dan Sidogemah untuk meninggikan rumah mereka setiap beberapa tahun.

    Berdasarkan BPS (2023), luas Desa Bedono mencapai 739 hektare atau sekitar 9,38 persen dari total wilayah Kecamatan Sayung (7.880 hektar), menjadikannya desa terluas di kecamatan tersebut.

    Namun, penelitian WALHI Jawa Tengah (2024) dengan metode pemetaan partisipatif dan analisis spasial menunjukkan daratan Desa Bedono kini berkurang drastis.

    Hasil penelitiannya menunjukkan penyusutan daratan Desa Bedono hingga tersisa 94,33 hektare. Warga Desa Bedono terpaksa berpindah karena huniannya tenggelam.

    Mereka termasuk di antaranya Dusun Tambaksari dalam rentang 1999-2000, Dusun Rejosari (Senik) pada 2006, dan Dusun Mondoliko pada 2023.

    Situasi ini dipengaruhi akumulasi kenaikan muka air laut -/+ 15,5 cm per tahun dan penurunan muka tanah antara 7–21 cm per tahun.

    Baca: Pelibatan Masyarakat Tapak Sangat Penting dalam Menyusun Mitigasi Krisis Iklim

    Direktur Eksekutif WALHI Jawa Tengah menegaskan, Fahmi Bastian mengatakan, bagi warga yang bermukim di Jawa Tengah, ini merupakan situasi mendesak untuk negara memenuhi kewajibannya melindungi generasi sekarang dan generasi akan datang.

    ”Jika terus membiarkan pesisir tenggelam, maka negara bukan hanya gagal melindungi anak-anak hari ini, tetapi negara juga sedang merampas hak generasi masa depan atas ruang hidup yang aman, sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

    Dia mengingatkan bahwa menjadi hak antar generasi menuntut agar tiap kebijakan pembangunan diuji dengan melihat apa kontribusinya pada keselamatan, keberlanjutan, dan kualitas hidup.

    Kami, tandasnya, menghendaki penanganan bencana iklim yang menyentuh akar kerentanan, yakni penyelamatan pantura Jawa. Pembangunan yang bertumpu pada proyek skala besar akan memperparah kerentanan pesisir.

    ”Sehingga, Pemerintah sudah sepatutnya menghentikan pengembangan mega proyek Giant Sea Wall dan Kawasan Strategis Nasional Kedungsepur yang mencakup Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, dan Purwodadi,” tutup Fahmi.

  • 4 Calon Manajer Koperasi Merah Putih Meninggal Saat Pelatihan Militer, Politisi PDI Perjuangan Minta Dilakukan Evaluasi Menyeluruh

    4 Calon Manajer Koperasi Merah Putih Meninggal Saat Pelatihan Militer, Politisi PDI Perjuangan Minta Dilakukan Evaluasi Menyeluruh

    7cloud.asia – Jumlah calon manajer Koperasi Desa Merah Putih peserta Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bertambah menjadi empat orang

    Diberitakan korban meninggal dunia antara lain Anisa Muyassaroh asal Balikpapan yang dilaporkan mengalami heat stroke dan henti jantung, Yonanda Muhammad Taufiq asal Baturaja yang dilaporkan meninggal karena cardiac arrest (henti jantung).

    Korban lainnya adalah Novia Rahmadhani Sihotang dari Jakarta yang disebut meninggal dunia setelah menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan tuberkulosis (TBC).

    Sedangkan yang terakhir adalah Muhammad Rifqi yang mengikuti pendidikan di Satdik Yon Parako 465. Muhammad Rifki awalnya mengeluhkan sesak napas pada Kamis (25/6/2026) kemudian mendapat penanganan awal dari tim kesehatan satuan.

    Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin menyampaikan keprihatinan mendalam atas terus bertambahnya korban meninggal dalam Latsarmil Koperasi Desa Merah Putih.

    Baca: 2 Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih Meninggal Saat Ikut Pelatihan Militer

    Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius dan menyeluruh terhadap desain pelatihan yang diberikan kepada calon pengelola koperasi.

    “Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial di Koperasi Desa, maka fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang secara relevan,” kata TB Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2026).

    “Pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja,” sambung pensiunan TNI itu.

    TB Hasanuddin menjelaskan, pelatihan dasar tersebut dapat diarahkan untuk membangkitkan kekompakan, disiplin pribadi, dan kebersamaan.

    Seperti misalnya, baris-berbaris demi kerapian, santiaji, apel untuk belajar menghormati waktu, dan senam pagi untuk menjaga kebugaran.

    Baca: Dana Rp3 miliar untuk 40.000 Koperasi Desa Merah Putih Dikhawatirkan Akan Menguap

    Itu pun sebelumnya harus lolos tes kesehatan sebelum mengikuti aktivitas fisik. Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter.

    “Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, maka ketika peserta mengikuti latihan dengan beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal,” sebutnya.

    TB Hasanuddin pun menilai, kasus ini perlu ditindaklanjuti melalui evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme seleksi kesehatan, tingkat intensitas latihan, pengawasan medis selama kegiatan, serta kesesuaian materi pelatihan dengan kebutuhan tugas peserta.

    “Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas SDM tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta,” tegas TB Hasanuddin.

  • Jakarta Masuk Daftar 100 Kota Terbaik di Dunia Versi Resonance Consultancy

    Jakarta Masuk Daftar 100 Kota Terbaik di Dunia Versi Resonance Consultancy

    7cloud.asia – Kota Jakarta masuk peringkat 53 dalam daftar 100 World’s Best Cities 2026 yang dirilis Resonance Consultancy baru-baru ini

    Laporan 2026 World’s Best Cities Report yang dirilis setiap tahun ini mengidentifikasi 100 kota terbaik dari lebih dari 270 kota di seluruh dunia.

    Dilansir di laman resminya, Resonance Consultancy menyebut penilaian kota terbaik ini didasarkan pada kombinasi analisis berbasis data dan persepsi masyarakat global.

    Resonance Consultancy menilai kota-kota yang memiliki pengaruh besar secara global, pertumbuhan ekonomi yang kuat, serta daya tarik tinggi sebagai tempat untuk tinggal, dikunjungi, maupun berinvestasi.

    Baca: Peringkat Jakarta dalam Global Cities Index 2025, Naik Tiga Tingkat

    Itu sebabnya kota-kota besar semacam Helsinki, Frankurt, Seatle bahkan ibu kota negara adidaya macam Beijing ataupun Washington DC tidak masuk daftar teratas.

    Dalam laporan tersebut, ibu kota Inggris, London menempati posisi teratas sebagai kota terbaik di dunia tahun 2026, yang kemudian secara berurutan diikuti oleh New York, Paris, Tokyo, Madrid, Singapura, Roma, Dubai, Berlin, dan Barcelona di posisi sepuluh besar.

    Sementara Jakarta, berada di peringkat 53 dalam daftar kota terbaik dunia tahun 2026. Posisi Jakarta ini di bawah sejumlah negara tetangga seperti Singapura (peringkat 6) Bangkok, Thailand (22) dan Kuala Lumpur, Malaysia (50).

    Namun, Jakarta di atas sejumlah kota di Amerika Serikat, seperti Las Vegas (57), Boston (58) dan Washington DC yang berada di peringkat 59.

    Baca: Ketimpangan Jadi Hambatan Jakarta Menjadi Kota Global

    Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno bangga capaian Jakarta yang berhasil menempati peringkat ke-53 dalam daftar 100 World’s Best Cities 2026. Dalam pemeringkatan tersebut, Jakarta berada di atas sejumlah kota besar dunia, termasuk Washington DC.

    Menurut Rano, capaian ini menjadi penyemangat bagi Pemprov DKI untuk terus meningkatkan kualitas kota.

    Penilaian positif tersebut didorong oleh tingginya aktivitas masyarakat, popularitas Jakarta di media sosial, serta kuatnya aspek lovability atau daya tarik kota melalui destinasi seperti Kota Tua dan Pantai Indah Kapuk (PIK).

    Selain itu, peningkatan integrasi transportasi publik, investasi, dan pembangunan kawasan perkantoran premium semakin memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang diperhitungkan di tingkat internasional.

    Baca: Rencana Jangka Panjang Jakarta Menjadi Kota Global

    Berikut daftar lengkap Laporan 2026 World’s Best Cities Report dari Resonance Consultant:
    London
    New York
    Paris
    Tokyo
    Madrid
    Singapore
    Rome
    Dubai
    Berlin
    Barcelona
    Sydney
    Los Angeles
    Seoul
    Amsterdam
    Beijing
    Shanghai
    Toronto
    São Paulo
    Hong Kong
    Istanbul
    Melbourne
    Bangkok
    Osaka
    Oslo
    Stockholm
    Miami
    Vienna
    San Francisco
    Bengaluru
    Mexico City
    Munich
    Dublin
    Copenhagen
    Zürich
    Chicago
    Milan
    Lisbon
    Prague
    Buenos Aires
    Mumbai
    Vancouver
    Rio de Janeiro
    Warsaw
    Hamburg
    Shenzhen
    Montreal
    Budapest
    Brussels
    Riyadh
    Kuala Lumpur
    Bogotá
    Guangzhou
    Jakarta
    Delhi
    Las Vegas
    Boston
    Washington D.C.
    Houston
    Auckland
    San Jose
    Helsinki
    Orlando
    Taipei
    Frankfurt
    Lima
    Atlanta
    Seattle
    Perth
    Manchester
    Cape Town
    Kraków
    Valencia
    Ottawa
    Athens
    Santiago
    Medellín
    Cologne
    Dallas
    Brisbane
    Hangzhou
    San Diego
    Hyderabad
    Chengdu
    Denver
    Calgary
    Abu Dhabi
    Austin
    Philadelphia
    Baltimore
    Stuttgart
    Rotterdam
    Lyon
    The Ruhr
    Busan
    Düsseldorf
    Mecca
    Porto
    Bucharest
    Birmingham
    Doha

  • Amnesty Internasional Tolak Pelibatan Taruna Akademi Militer dalam Mendidik Siswa Sekolah Rakyat

    Amnesty Internasional Tolak Pelibatan Taruna Akademi Militer dalam Mendidik Siswa Sekolah Rakyat

    7cloud.asia – Kementerian Sosial dan TNI tengah menyiapkan program pembentukan karakter bagi para siswa Sekolah Rakyat dengan melibatkan sekitar seribu Taruna Akademi Militer (Akmil).

    Program itu akan dimulai awal Agustus 2026. Lewat program ini, pemerintah akan menempatkan lima Taruna Akmil untuk tiap Sekolah Rakyat untuk memberikan sejumlah materi, seperti soal kerapian pakaian maupun kamar asrama dengan dalih untuk membentuk karakter pelajar agar lebih disiplin dan rapi.

    Akademi TNI akan mengirimkan seribu Taruna Tingkat 1 dan Tingkat 2 untuk melaksanakan pembinaan pembentukan karakter di 178 titik Sekolah Rakyat.

    Menanggapi pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) dalam mendidik pelajar Sekolah Rakyat, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid mengatakan, hal ini menjadi bukti semakin meluasnya militerisasi ruang sipil di Indonesia.

    Dalam pernyataan tertulisnya pada media, Jumat (26/6/2026) Usman mengatakan, pemerintah terkesan menutup mata terhadap kritik kebijakan pelibatan tentara dalam program pemerintah di luar urusan pertahanan.

    “Jelas pemerintah tidak belajar dari tragedi meninggalnya tiga warga sipil saat mengikuti latihan dasar kemiliteran untuk menjadi pengurus koperasi desa merah putih dan kampung nelayan,“ ujarnya.

    Baca: Pramono Anung Siapkan Payung Hukum Program Sekolah Gratis di Jakarta

    Usman menegaskan, ruang pendidikan sipil adalah ruang netral yang harusnya menjadi tempat anak didik mengembangkan potensi penalaran dan berpikir kritis.

    Ruang kelas harus bebas dari intervensi militer. Dalih pembentukan karakter dan kedisiplinan anak, menurutnya, bukan alasan untuk memberikan jalan bagi militer masuk ke ranah pendidikan sipil.

    Kedisiplinan militer pada dasarnya dibentuk melalui sistem komando, rantai hierarki yang kaku, dan berbasis kepatuhan hirarkis.

    Hal ini bertentangan secara diametral dengan prinsip pendidikan sipil yang memupuk nalar kritis, kemerdekaan berpikir, dan ruang aman berpendapat tanpa dibatas hirarki ala militer.

    Bagaimana mungkin anak-anak bisa belajar berpikir kritis jika ekosistem belajarnya menggunakan pendekatan pendidikan militer yang mengutamakan kepatuhan, kekuatan, dan bahkan kekerasan?

    Lebih mengkhawatirkan lagi, program ini menargetkan Sekolah Rakyat, sebuah fasilitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Penempatan para taruna Akmil di setiap sekolah akan menciptakan ketimpangan relasi kuasa terhadap kelompok rentan.

    Baca: Inovasi Pendidikan yang Digagas Ganjar Pranowo di Jawa Tengah Dijadikan Best Practice

    “Padahal anak-anak sejatinya membutuhkan pendekatan yang welas asih, memanusiakan, dan memotivasi, bukan doktrinasi kepatuhan ala prajurit,“ tandas Usman

    Usman menambahkan, berdasarkan Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi Indonesia, selain pengembangan kepribadian, bakat dan kemampuan mental dan fisik anak, pendidikan anak harus diarahkan untuk pengembangan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasar.

    Oleh karena itu, pemerintah harus segera meninjau ulang dan membatalkan rencana ini.

    Pemerinath diminta fokus pada pendidikan yang mengutamakan pemahaman nilai-nilai universal HAM, dan penguatan identitas mereka sebagai masyarakat sipil yang bermartabat, bukan mereduksinya dengan menggunakan pendekatan pendidikan militer.

    Dominasi militer di ruang sipil termasuk di pemerintahan tidak pernah menjadi jalan keluar bagi perbaikan kinerja pemerintah apalagi pengentasan kemiskinan seperti yang diemban oleh Sekolah Rakyat.

    Orde Baru memberikan pelajaran penting bahwa militerisme ruang sipil berujung menguatnya praktik otoriter pelanggaran hak asasi manusia. Ketika militerisme ruang sipil menguat maka korbannya adalah warga.

    ”Jangan sampai siswa-siswi sekolah rakyat yang menjadi korban selanjutnya,” pungkasnya

     

  • Kontroversi Artjog 2026: Saat Oligarki Masuk Ruang Seni, Independensi Budaya dalam Tanda Tanya

    Kontroversi Artjog 2026: Saat Oligarki Masuk Ruang Seni, Independensi Budaya dalam Tanda Tanya

    7cloud.asia – Jumat malam, 19 Juni 2026, seorang laki-laki berbaju hitam berdiri di pintu masuk Jogja National Museum, lokasi penyelenggaraan Artjog, pameran seni bergengsi di Yogyakarta.

    Ia menebar kembang lalu berkata, “Sastra telah mati, seni telah mati. Intelektual tanpa hasrat pemberontakan adalah perpanjangan tangan negara.” Beberapa saat kemudian, petugas keamanan menghentikan aksinya.

    Mudah menganggap peristiwa itu sebagai gangguan kecil di tengah perhelatan seni tahunan. Namun, kontroversi Artjog 2026 sesungguhnya tidak bermula dari aksi tersebut.

    Persoalan yang lebih penting dikritisi adalah keputusan Artjog menggandeng Didit Hediprasetyo Foundation—yayasan milik putra Presiden Prabowo Subianto—sebagai mitra strategis.

    Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya soal sponsor. Tetapi dalam politik kebudayaan, sumber dukungan tidak pernah sekadar soal pendanaan. Ia juga menyangkut legitimasi, kedekatan dengan kekuasaan, dan batas independensi institusi budaya.

    Karena itu, kontroversi Artjog layak dibaca bukan sebagai polemik penyelenggaraan acara, melainkan sebagai gejala yang lebih besar: semakin kaburnya batas antara ruang seni dan jaringan kekuasaan politik di Indonesia. 

    Patronase budaya dan pertukaran modal simbolik

    Kontroversi ARTJOG 2026 berawal dari satu keputusan: menggandeng Didit Hediprasetyo Foundation sebagai mitra strategis. Didit, yang merupakan seorang desainer mode berbasis di Paris, adalah putra Presiden Prabowo Subianto. Nama Didit kini tiba-tiba melekat pada festival seni kontemporer paling bergengsi di Indonesia.

    Di kalangan komunitas seni dan aktivis, persoalannya bukan tentang selera estetika Didit, melainkan logika politik tentang apa yang dipertukarkan dalam kemitraan semacam ini.

    Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa arena kebudayaan merupakan ruang tempat modal simbolis—prestise, legitimasi, dan pengakuan publik—diproduksi dan dipertukarkan. Ketika aktor yang memiliki modal ekonomi atau politik masuk ke arena budaya, yang berpindah bukan hanya sumber daya finansial, tetapi juga legitimasi.

    Dalam kondisi tertentu, hubungan semacam ini dapat dianggap wajar. Namun konteks menentukan makna. Di Indonesia hari ini, hubungan antara institusi budaya dan lingkar kekuasaan tidak bisa dibaca sebagai kerja sama yang sepenuhnya netral.

    Vedi Hadiz (2016) dalam analisisnya tentang oligarki predatoris pasca-Suharto, menunjukkan bahwa oligarki Indonesia pasca-Orde Baru memiliki kemampuan adaptif yang tinggi.

    Oligarki predatoris adalah sistem ketika segelintir elite memanfaatkan kekuasaan untuk menguasai dan mengeksploitasi sumber daya demi kepentingan mereka sendiri.

    Kekuasaan tidak hanya bekerja melalui partai politik atau birokrasi negara, tetapi juga meresap ke berbagai arena sosial yang tampak independen, termasuk masyarakat sipil dan kebudayaan. Dalam konteks ini, sponsor budaya dapat berfungsi sebagai mekanisme akumulasi modal simbolik bagi jaringan kekuasaan.

    Ini bukan tentang apakah Didit Hediprasetyo Foundation berhak mendukung kegiatan seni, tetapi soal mengapa institusi budaya perlu membuka ruang legitimasi bagi yayasan yang memiliki kedekatan langsung dengan pusat kekuasaan politik. 

    Hegemoni bekerja melalui normalisasi

    Untuk memahami signifikansi kasus ini, kita perlu melihat kondisi ruang sipil Indonesia secara lebih luas. Laporan Civicus Monitor People Power Under Attack 2025 memberi Indonesia skor 42 dari 100 dan menempatkannya dalam kategori Hindered atau Terhambat.

    Laporan tersebut juga mencatat adanya kasus aktivis yang menghadapi tindakan hukum karena mengekspresikan pendapat di media sosial.

    Hamid dan Hermawan (2024) , dalam tinjauan akhir tahun yang diterbitkan oleh University of Melbourne, mencatat menyempitnya ruang gerak kelompok progresif, meluasnya peran militer di ranah sipil, serta semakin dalamnya penetrasi kepentingan negara ke dalam organisasi masyarakat sipil.

    Dalam situasi seperti ini, kemitraan antara institusi seni dan yayasan keluarga presiden tidak dapat dipahami sekadar sebagai urusan pendanaan acara.

    Antonio Gramsci (1971) menjelaskan bahwa hegemoni yang efektif tidak terutama bekerja melalui paksaan, melainkan melalui produksi persetujuan. Kekuasaan menjadi kuat ketika kehadirannya dianggap normal, bahkan diterima secara sukarela.

    Justru karena tidak ada karya yang disensor, tidak ada seniman yang dilarang berpameran, dan tidak ada larangan resmi terhadap kritik, persoalan ini menjadi penting. Hegemoni yang matang tidak datang melalui ancaman terbuka, melainkan melalui normalisasi hubungan yang sebelumnya dianggap problematis.

    Mengapa kritik publik penting?

    Aksi kelompok Artjokes, pengkritik Artjog tahun ini, pada malam pembukaan dapat dipahami sebagai bentuk institutional critique , yaitu tradisi dalam seni kontemporer yang mempertanyakan relasi antara institusi seni dan struktur kekuasaan yang menopangnya.

    Terlepas dari setuju atau tidaknya kita terhadap metode mereka, kritik tersebut mengangkat pertanyaan yang sah mengenai independensi ruang budaya. 

    Artjog kemudian menghapus nama Didit Hediprasetyo Foundation dari daftar sponsor, sementara Didit membatalkan kehadirannya dalam pembukaan acara. Respons ini menunjukkan bahwa tekanan publik masih memiliki daya koreksi.

    Namun, langkah tersebut tidak menghapus pertanyaan mendasar: mengapa kemitraan itu dianggap layak sejak awal?

    Laporan Arts Professional (2024) menunjukkan bahwa pemerintah yang tengah mengonsolidasikan kekuasaan sering memperluas pengaruhnya ke sektor budaya melalui cara-cara yang tampak lunak, termasuk patronase dan penempatan figur yang dekat dengan elite politik.

    Karena itu, isu utama dalam kontroversi Artjog bukanlah satu aksi protes atau satu nama sponsor. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan institusi budaya menjaga jarak kritis dari kekuasaan.

    Dalam situasi ketika jaringan politik semakin piawai memperoleh legitimasi melalui kebudayaan, pertanyaan tentang independensi ruang seni menjadi semakin mendesak.

    Jika batas itu terus kabur, seni berisiko kehilangan salah satu fungsi terpentingnya: menjadi ruang yang mampu berbicara kepada kekuasaan, bukan sekadar berbicara bersama kekuasaan.


    M.Febriyanto Firman Wijaya, Peneliti MOSSA Institute, Universitas Muhammadiyah Surabaya

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.