Blog

  • Cuaca Hari Ini: Sebagian Kota Berpotensi Hujan, Termasuk Yogyakarta

    Cuaca Hari Ini: Sebagian Kota Berpotensi Hujan, Termasuk Yogyakarta

    7cloud.asia – Kondisi cuaca hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di sebagian kota di Indonesia, termasuk Yogyakarta pada Minggu (31/05/2026).

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas ringan juga berpeluang terjadi di Kota Medan, Jambi, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, Bandung, Pontianak, Tanjung Selor, Banjarmasin.

    Kota, Mamuju, Palu, Kendari, Gorontalo, Manado, Ternate, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayawijaya dan Jayapura juga berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan. Sementara hujan  berintensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Merauke.

    Sedangkan untuk Kota Jakarta, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah cerah dan berawan tebal dari pagi hingga malam hari.

    Namun masih ada peluang hujan dengan intensitas ringan di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan pada siang dan sore hari.

  • Ilmuwan Menghapus Skenario Perubahan Iklim Terburuk: Pertanda Aksi Iklim Mulai Membuahkan Hasil

    Ilmuwan Menghapus Skenario Perubahan Iklim Terburuk: Pertanda Aksi Iklim Mulai Membuahkan Hasil

     

    7cloud.asia – Skenario baru tentang perubahan iklim selalu menarik perhatian. Sebab, skenario-skenario ini akan menggambarkan seperti apa iklim dunia di masa depan, yang tentunya sangat bergantung pada seberapa cepat aksi kita mengurangi emisi saat ini.

    Dalam skenario iklim terbaru yang diluncurkan pada Mei ini, komite ilmiah internasional—yang merupakan tim perancang skenario iklim untuk PBB dan IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim)—resmi menghapus skenario RCP8.5 dan penerusnya SSP5-8.5.

    Kedua skenario ini merupakan skenario emisi tertinggi (skenario terburuk) dalam proyeksi perubahan iklim

    Skenario tersebut sebelumnya memakai proyeksi bahwa negara-negara di dunia tidak melakukan upaya apa pun untuk mengurangi emisi dan malah memperluas penggunaan bahan bakar fosil.

    Akibatnya, pada 2100, kadar karbon dioksida di atmosfer akan bertambah hampir tiga kali lipat dan dunia akan menjadi 4,5°C lebih panas dibandingkan masa pra-industri.

    Para ilmuwan iklim yang menyusun berbagai kemungkinan iklim masa depan ini menghapus skenario RCP8.5 dengan alasan yang sangat kuat. Faktor utamanya adalah karena dunia sudah mulai menunjukkan perubahan dalam mengatasi perubahan iklim.

    Meskipun lambat dan belum cukup, aksi iklim perlahan menunjukkan hasil nyata. Kita berhasil menghindari masa depan iklim terburuk yang dulu dianggap mungkin terjadi.

    Namun pekerjaan kita tentu masih jauh dari kata selesai. Emisi kita masih berada pada rekor tertinggi dalam sejarah. Pemanasan global juga semakin cepat.

    Tapi yang jelas, tidak seperti klaim Donald Trump dan para peragu perubahan iklim, penghapusan skenario emisi tinggi ini bukanlah tanda ada kesalahan dalam pemodelan iklim sebelumnya atau bahwa perubahan iklim hanyalah hoaks.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Sebaliknya, ini adalah tanda bahwa perkembangan energi surya, angin, kendaraan listrik, dan baterai telah memperlambat pertumbuhan emisi.


    Berdasarkan skenario iklim terburuk sebelumnya, yaitu SSP5-8.5, suhu bumi diperkirakan akan naik sekitar 4,5°C pada tahun 2100.
    IPCC, CC BY-NC-ND

    Bagaimana skenario ini dibuat?

    Saat ini Bumi sudah memanas kira-kira sekitar 1,4°C dibanding zaman pra-industri. Dampak perubahan iklim nyata kita rasakan, terutama dengan cuaca yang semakin ekstrem.

    Karena penyebab utamanya adalah aktivitas manusia (seperti membakar batu bara, minyak, dan gas), maka manusia juga sebenarnya bisa mengurangi masalahnya untuk memperbaiki masa depan.

    Seperti apa masa depan itu? Apakah dunia akan terus memanas, atau akan ada aksi cepat untuk memangkas emisi dan menghentikan pemanasan? Jawaban ini akan sangat menentukan masa depan umat manusia.

    Memprediksi jawaban ini memang sulit. Namun sekelompok ilmuwan sudah membuat sejumlah skenario yang mewakili berbagai kemungkinan masa depan iklim.

    Karena masa depan tidak ada yang pasti, para ilmuwan menyusun berbagai kemungkinan jalur untuk emisi gas rumah kaca kita di masa depan.

    Baca: Empat Cara untuk Ikut Berkontribusi dalam Menjaga Keanekaragaman Hayati

    Mereka mendasarkannya pada apa yang sudah terjadi sejauh ini dan apa yang mungkin terjadi dalam politik dan teknologi selama beberapa dekade mendatang.

    Kemudian, mereka memilih jalur emisi yang dianggap paling masuk akal dan mengambil contoh berbagai masa depan yang kurang lebih optimistis terkait penggunaan bahan bakar fosil.

    Kelompok ilmiah di seluruh dunia lalu memodelkan skenario ini secara mendalam menggunakan berbagai model iklim untuk memastikan ketersediaan data yang cukup pada tingkat global, regional, dan lokal.

    Skenario-skenario ini tidak diberi peringkat berdasarkan kemungkinan terjadinya. Semua dianggap sebagai masa depan yang bisa terjadi. Rentang perbedaan antara skenario paling optimistis dan paling pesimistis pada 2100 punya selisih hampir 2°C. Hal ini menunjukkan betapa keputusan manusia saat ini menentukan masa depan.

    Kenapa penghapusan skenario RCP8.5 bikin heboh?

    RCP8.5 dan SSP5-8.5 adalah nama untuk skenario perubahan iklim yang paling buruk.

    Angka “8.5” menunjukkan proyeksi seberapa banyak (sebesar 8,5 watt per meter persegi) tambahan panas yang terjebak di bumi akibat gas rumah kaca pada 2100.

    Dalam skenario terburuk ini, dunia secara drastis meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil. Akibatnya, pemanasan global bisa sangat tinggi. Para ilmuwan sebetulnya juga sudah lama memperdebatkan apakah skenario ini realistis sejak awal, tapi sebagian ilmuwan beranggapan semua itu bisa saja terjadi.

    Tapi kini, tidak satu pun dari skenario iklim yang baru dirilis sepesimistis RCP8.5/SSP5-8.5. Skenario terburuk sekarang memperkirakan emisi paling tinggi akan menyebabkan pemanasan sekitar 3,5°C pada tahun 2100. Meski itu tetap akan sangat buruk. 

    Para skeptikal bermain narasi

    Para peragu perubahan iklim langsung menggunakan penghapusan RCP8.5 sebagai pembelaan klaim mereka bahwa proyeksi iklim para ilmuwan selama ini salah. Serangan-serangan ini sengaja dibuat untuk menimbulkan keraguan terhadap ilmu iklim. 

    Padahal jelas-jelas bahwa RCP8.5 dihapus karena penilaian objektif bahwa aksi iklim mulai menunjukkan hasil nyata mengurangi emisi.

    Kendati hasil terburuk berhasil dihindari, kita juga telah kehilangan peluang untuk mencapai hasil iklim terbaik.

    Ini terlihat dari skenario iklim terbaru yang tidak lagi memiliki jalur seoptimistis dulu. Skenario emisi terendah dari putaran proyeksi iklim besar sebelumnya adalah SSP1-1.9—satu-satunya skenario yang memenuhi tujuan Perjanjian Paris untuk menjaga pemanasan global sekitar 1,5°C.

    Karena emisi global belum juga menurun, skenario baru yang paling optimistis pun memprediksi pemanasan global akan tetap memuncak sekitar 1,9°C.

    Walaupun suhu Bumi hampir pasti akan naik melampaui 1,5°C dibanding zaman sebelum industri, harapannya kenaikan itu hanya sementara selagi manusia berupaya menurunkan kadar karbon dioksida di atmosfer agar suhu dapat kembali ke 1,5°C.

    Lintasan emisi kita saat ini berada di tengah-tengah. Dunia tidak menuju skenario terburuk, tetapi juga belum cukup baik untuk mencapai skenario paling optimistis.

    Kalau negara-negara tetap menjalankan kebijakan seperti sekarang, para ilmuwan memperkirakan suhu bumi akan naik sekitar 2.6°C pada 2100.

    Kamu mungkin masih bertanya-tanya, mengapa kita perlu terus memperbarui skenario iklim ini?

    Salah satu alasannya: fakta di lapangan terus berubah. Energi surya berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan, tetapi teknologi fracking atau pengeboran yang semakin canggih juga membuka cadangan bahan bakar fosil baru dalam jumlah besar.

    Pergeseran arah politik pun membuat aksi iklim menjadi lebih mungkin atau justru lebih sulit dilakukan.

    Alasan lainnya adalah karena model iklim kita terus membaik. Semakin baik modelnya, semakin akurat dan rinci pula proyeksi kenaikan permukaan laut dan dampak iklim lainnya. 

    Ya, ini adalah kemajuan

    Menghapus RCP8.5 dari daftar kemungkinan adalah sebuah tanda kemajuan—kita menghindari skenario terburuk. Tetapi di sisi lain, proyeksi terbaru juga menunjukkan kita telah kehilangan peluang untuk mencapai masa depan terbaik.

    Lima tahun ke depan bisa berjalan dalam banyak cara berbeda, membawa kita ke masa depan iklim yang lebih baik atau lebih buruk.

    Kita harus memahami dan mempersiapkan diri menghadapi situasi apa yang akan datang—dan menggandakan upaya kita untuk menciptakan masa depan terbaik yang masih mungkin dicapai.


    Andrew King, ARC Future Fellow and Associate Professor in Climate Science, ARC Centre of Excellence for 21st Century Weather, The University of Melbourne

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Presiden Instruksikan Sekolah Pelajari Bahasa Prancis, Komisi X: Kebijakan Jangan Dibuat Tergesa-gesa!

    Presiden Instruksikan Sekolah Pelajari Bahasa Prancis, Komisi X: Kebijakan Jangan Dibuat Tergesa-gesa!

    7cloud.asia – Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mewajibkan seluruh sekolah di Indonesia untuk mengajarkan Bahasa Prancis kepada siswa menuai kritik.

    Instruksi tersebut disampaikan Presiden Prabowo di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron saat pertemuan di Istana Kepresidenan Élysée, Paris, Kamis (28/5/2026).

    Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani mengatakan bahwa pihaknya akan meminta penjelasan resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait kejelasan rencana tersebut dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi X DPR.

    Menurutnya, Komisi X DPR tentu akan meminta penjelasan dari Kemendikdasmen soal kejelasan wajib belajar Bahasa Prancis di sekolah tersebut.

    “Karena sebelumnya juga sempat muncul wacana Bahasa Portugis, namun sampai sekarang belum terlihat tindak lanjut baik dari sisi roadmap, regulasi, maupun kesiapan implementasinya,” ujar Lalu Hadrian dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria, di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

    Baca: Quo Vadis Arah Kebijakan Pendidikan Nasional

    Menurutnya, penguatan kemampuan bahasa asing memang penting dalam menghadapi tantangan global. Namun, kebijakan pendidikan tidak boleh disusun secara tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan kesiapan sistem pendidikan nasional.

    “Kami memandang penguatan kemampuan bahasa asing memang penting. Namun kebijakan pendidikan harus disusun berdasarkan kebutuhan nasional, kesiapan tenaga pendidik, kurikulum, dan manfaat nyata bagi peserta didik,” kata Politisi PKB ini.

    Ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak dipersepsikan publik hanya sebagai bagian dari agenda diplomasi internasional semata.

    “Jangan sampai publik melihat kebijakan ini hanya sebagai bagian dari agenda diplomasi internasional tanpa perencanaan pendidikan yang matang,” tegasnya.

    Karena itu, Komisi X DPR akan memastikan lebih dahulu posisi kebijakan tersebut dalam agenda pendidikan nasional. Apabila kesiapan implementasi belum menyeluruh, maka penerapan pengajaran Bahasa Prancis sebaiknya dilakukan secara bertahap.

    “Jika kesiapan belum menyeluruh, maka penerapannya sebaiknya dilakukan secara bertahap, sebagai mata pelajaran pilihan, atau program khusus di sekolah tertentu,” pungkasnya.

    Baca: Revisi UU Sisdiknas, Apa Saja yang Perlu Berubah dalam Sistem Pendidikan di Indonesia

  • Film Dokumenter “Pesta Babi“, Tujuan SDGs dan Previlege Gen Z di Perkotaan

    Film Dokumenter “Pesta Babi“, Tujuan SDGs dan Previlege Gen Z di Perkotaan

    7cloud.asia – Michella Gitanova, mahasiswa Fakultas Hukum UGM yang mewakili DEMA Justicia, organisasi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada tak mampu menyembunyikan kegelisahannya.

    Sebagai generasi z, Gita memberikan catatan kepada peserta kegiatan “Nonton Bersama dan Diskusi Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” untuk lebih melek akan isu kemanusiaan.

    ”Walaupun isu kekerasan berkelindan dari hari ke hari, hal tersebut tidak dapat dinormalisasi,” ujarnya di sela nonton bareng di Kampus Fakultas Hukum UGM, awal Mei lalu.

    Acara ini diselenggarakan Pusat Kajian Hukum Adat Djojodigoeno yang berkolaborasi dengan Center for Restoration and Regeneration Studies (CERRES), Pusat Kajian Hukum dan Keadilan Sosial (LSJ), dan Dema Justicia,

    Antusiasme peserta terhadap kegiatan ini terlihat dari kehadiran lebih dari 250 penonton, baik dari kalangan mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat umum, yang memadati ruang auditorium.

    Pemutaran film berlangsung selama kurang lebih 90 menit dan ditutup dengan tepuk tangan meriah dari para peserta. Setelah sesi pemutaran selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu oleh Laksmi A. Savitri sebagai moderator.

    Diskusi menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang untuk memberikan perspektif yang beragam terkait isu yang diangkat dalam film.

    Gita menekankan pentingnya memanfaatkan privilese generasi muda berupa akses internet dan media digital sebagai sarana advokasi, penyebaran informasi, serta penguatan solidaritas terhadap isu-isu kemanusiaan.

    Narasumber kedua, Igam Wardana Dosen Hukum Lingkungan Fakultas Hukum UGM. Ia menekankan bahwa film tersebut menunjukkan fenomena legalisasi deforestasi. Hal itu kontradiktif dengan target Net Zero Emission (NZE) yang digagas oleh pemerintah.

    Kondisi ini dilatarbelakangi fakta bahwa program swasembada pangan dan energi yang digagas pemerintah lebih ditujukan untuk menguntungkan golongan tertentu, bukan untuk menjawab krisis pangan dan lingkungan.

    Selain itu, hukum tidak dapat semata-mata dilihat sebagai solusi atas kelindan permasalahan lingkungan dan penindasan masyarakat ketika sistem hukum masih condong pada keuntungan ekonomi semata.

    Lebih lanjut, narasumber ketiga, yaitu Sartika I. Pardani selaku Dosen Hukum Adat Fakultas Hukum UGM, menekankan bahwa film Pesta Babi membuktikan kondisi faktual bahwa terdapat kesenjangan antara norma dengan implementasinya di masyarakat.

    Hukum bukan hanya sebuah aturan tertulis, tetapi juga pengalaman yang hidup di masyarakat. Film ini menunjukkan pengalaman masyarakat, yang juga merupakan hukum, memiliki kuasa untuk menuntut penerapan kewajiban pemerintah untuk memberikan keadilan seluas-luasnya bagi masyarakat.

    Narasumber terakhir, yaitu Ferinando S. Yokit sebagai Pegiat Literasi Simpul Papua yang juga merupakan masyarakat adat Papua, memberikan pesan agar peserta berpedoman pada keadilan dalam berpikir dan bertindak.

    Masyarakat Papua membutuhkan solidaritas dari masyarakat Indonesia untuk melawan tindakan penjajahan ekologis dan budaya terhadap masyarakat Papua.

    Selain itu, ia memberikan catatan terhadap frasa “pesta babi” yang digunakan dalam film tersebut, yang mana frasa tersebut pada dasarnya kurang tepat untuk mendefinisikan ritual masyarakat adat Papua yang diangkat dalam film ini.

    Terdapat berbagai peserta yang turut terlibat dalam sesi diskusi, termasuk memberikan pandangannya terhadap Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

    Dori, misalnya, sebagai seorang generasi z yang menceritakan pengalaman temannya yang merasa tidak punya pilihan selain menerima fakta pelanggaran hak asasi manusia terhadap masyarakat Papua.

    Kondisi tersebut dilatarbelakangi karena perasaan putus asa atas perubahan kondisi di negeri ini.

    Melalui nonton bersama dan diskusi ini, Fakultas Hukum UGM berharap dapat memberikan kontribusi akademik sekaligus memperkuat dialog antara norma dan realitas hukum di masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan program swasembada pangan dan energi.

    Nonton bersama dan diskusi ini turut mendukung pencapaian beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 10 (Reduce Inequality) terkait perlindungan masyarakat adat terhadap program pemerintah yang bertentangan dengan hak masyarakat adat.

    Selanjutnya, SDG 15 (Life on Land) terkait perlindungan hak ruang hidup masyarakat adat di tanah ulayat dan SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions) berkaitan dengan pembukaan pintu keadilan melalui advokasi hak masyarakat adat berdasarkan kenyataan empiris.

    Diskusi yang melibatkan akademisi, peneliti, dan masyarakat umum juga mencerminkan semangat kolaborasi lintas sektor yang mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals).

  • Revisi UU Pemerintahan Aceh dan Kelanjutan Dana Otonomi Khusus

    Revisi UU Pemerintahan Aceh dan Kelanjutan Dana Otonomi Khusus

    7cloud.asia – Keberlanjutan Dana Otonomi Khusus (Otsus) menjadi salah satu substansi utama yang diperjuangkan dalam revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

    Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR Muslim Ayub menegaskan Dana Otonomi Khusus perlu diperpanjang tanpa batas waktu guna menjaga kesinambungan pembangunan dan pelayanan publik di Aceh.

    Hal tersebut disampaikannya usai Baleg DPR menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh sebagai usul inisiatif DPR RI.

    Menurut Muslim, dari berbagai pasal yang direvisi, isu paling mendesak adalah keberlanjutan Dana Otonomi Khusus yang menurut Undang-undang yang lama akan berakhir pada 2027.

    Ia mengingatkan bahwa penghentian Dana Otonomi Khusus berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan serta pembangunan di Aceh yang masih membutuhkan dukungan fiskal dari pemerintah pusat.

    Baca: Aceh Butuh Dukungan Pemerintah Pusat untuk Pemulihan Dampak Banjir Sumatera

    “Yang sangat urgen dan sangat kita harapkan adalah mengenai dana otonomi khusus. Dana otonomi khusus itu tinggal satu tahun lagi masa berlakunya. Tanpa perpanjangan, tentu roda pemerintahan di Aceh akan terganggu,” ujar Muslim dilansir Parlementaria, Selasa (26/5/2026).

    Politisi Partai NasDem itu menyampaikan apresiasi kepada Baleg DPR yang dinilainya memberikan perhatian serius terhadap aspirasi masyarakat Aceh.

    Menurutnya, respons positif tersebut menjadi modal penting agar revisi UU Pemerintahan Aceh dapat segera dibahas bersama pemerintah.

    Lebih lanjut, Muslim menegaskan pihaknya mengusulkan agar keberlakuan Dana Otsus tidak lagi dibatasi jangka waktu sebagaimana pengaturan sebelumnya. Ia berharap dana tersebut tetap diberikan selama status kekhususan Aceh masih berlaku.

    “Kita berharap dalam revisi undang-undang ini (Dana Otonomi Khusus) tidak ada lagi batas waktu. Sepanjang otonomi khusus itu berlaku di Aceh, sepanjang itu pula dana otonomi khusus diberlakukan,” katanya.

    Baca: Sengketa 4 Pulau antara Aceh dan Sumatera Utara

    Selain itu, ia juga mendorong peningkatan besaran Dana Otsus dari sebelumnya 2 persen menjadi 2,5 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) nasional.

    Usulan tersebut didasarkan pada kebutuhan pembangunan yang masih besar, termasuk pemulihan infrastruktur akibat konflik masa lalu maupun bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh.

    Muslim mencontohkan dampak banjir besar yang melanda beberapa daerah, termasuk Aceh Tamiang, yang menurutnya membutuhkan dukungan anggaran signifikan untuk proses pemulihan dalam jangka panjang.

    “Untuk membangun kembali infrastruktur dan pelayanan publik tentu membutuhkan biaya yang besar. Karena itu kami berharap usulan 2,5 persen dapat disetujui,” ujar Politisi asal Dapil Aceh I itu.

    Ia optimistis revisi UU Pemerintahan Aceh akan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari peningkatan kualitas infrastruktur, pelayanan kesehatan, hingga kesejahteraan rakyat Aceh secara keseluruhan.

  • Minimalisme: Ubah Hidup Anda dengan Melakukan Lebih Sedikit dengan Tujuan yang Jelas

    Minimalisme: Ubah Hidup Anda dengan Melakukan Lebih Sedikit dengan Tujuan yang Jelas

    7cloud.asia – Banyak orang mencari informasi, metode yang sempurna, sistem yang tepat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Semua itu dilakukan, seolah-olah semakin banyak hal adalah jawaban atas apa yang ingin dilakukan.

    Namun, apa pun yang Anda lakukan –apakah mencoba mengambil tindakan dalam hidup menciptakan sesuatu dari tempat yang lebih dalam, membawa bisnis atau kepemimpinan Anda ke tingkat berikutnya– lebih banyak informasi, sistem, taktik, dan kerja keras jarang sekali menjadi jawabannya.

    Hal itu hanya menyebabkan lebih banyak kebingungan, lebih banyak keraguan, dan lebih banyak kelelahan. Minimalisme bisa memberi jalan keluar dari masalah ini.

    Leo Babatua dalam tulisannya mengungkapkan, selama bertahun-tahun memimpin orang lain melalui pekerjaan ini, bahwa ada satu hal yang dapat mengubah segalanya: yakni melakukan lebih sedikit tetapi dengan tujuan yang jelas.

    “Ini tentang bersikap bijaksana, dan bersedia untuk melihat secara jujur ​​semua yang Anda lakukan dan bertanya: apa yang sebenarnya penting?“ tulisnya.

    Leo menambahkan, semua ini membutuhkan keberanian, karena menambahkan lebih banyak hal ke dalam pekerjaan Anda secara ironis adalah jawaban yang lebih mudah.

    Baca: 10 Hal yang Tak Akan Dibeli Penganut Minimalisme

    Pengurangan memaksa Anda untuk menghadapi apa yang selama ini dihindari. Itu memaksa Anda untuk fokus, menggali lebih dalam, dan menemukan apa yang memberikan dampak yang memang seharusnya Anda berikan.

    Ada sebuah pengamatan luar biasa dari Blaise Pascal bahwa sebagian besar masalah kita berasal dari ketidakmampuan kita untuk duduk tenang sendirian di sebuah ruangan.

    Dengan bahasa lain, dapat dikatakan masalah kita berasal dari ketidakmampuan kita untuk menahan diri mengisi setiap ruang yang tersedia dengan aktivitas.

    Bagaimana Penerapannya dalam Praktik
    Prinsip ini tidak akan terlihat sama dalam praktiknya untuk semua orang. Melakukan lebih sedikit, dengan tujuan, bukanlah solusi yang bisa disamakan untuk semua orang.

    Apa yang “lebih sedikit” bagi Anda akan terlihat berbeda dari apa yang terlihat bagi orang lain. Berikut beberapa versi bagaimana penerapannya:

    Untuk produktivitas dan mengambil tindakan:
    Jika Anda mencoba mengambil tindakan dan memajukan hidup Anda, maka akan sangat bermanfaat untuk berhenti bekerja dari tempat yang reaktif dan mendesak, dan untuk memperlambat dan bekerja dari tempat yang tenang dan bertujuan.

    Baca: Menguak Kebohongan di Balik Konsumerisme 

    Membersihkan kebisingan (kotak masuk, pesan, pekerjaan yang tidak penting) dan fokus pada apa yang sebenarnya layak mendapatkan fokus Anda.

    Untuk para kreator, siapa pun yang merupakan penulis, seniman, pembuat tahu bahwa gangguan dan pekerjaan yang tidak penting adalah musuh kreativitas yang lebih dalam.

    Kita perlu memperlambat tempo dan bersedia memilih kreasi kita sendiri serta mengerahkan seluruh kemampuan. Fokuslah untuk melakukan hal yang Anda sukai sepenuhnya.

    Untuk para pemimpin dan pemilik bisnis, kadang Anda ditarik ke begitu banyak arah sehingga sulit untuk menentukan prioritas dan arah yang jelas.

    Tetapi itulah praktik seorang pemimpin dan pengusaha: memperlambat tempo dan menentukan apa yang penting. Para pemimpin dan bisnis yang memberikan dampak adalah mereka yang belajar fokus.

    Pekerjaan sebenarnya dalam semua kasus ini bukanlah tentang kiat-kiat produktivitas. Ini tentang belajar untuk menggali lebih dalam, dan memahami apa yang penting bagi Anda.

    Melakukan lebih sedikit dengan sengaja, berarti menemukan jenis orang seperti apa yang ingin Anda jadikan diri Anda, dan apa yang Anda perjuangkan. Apa yang Anda pilih untuk dibangun, dan apa yang tidak akan Anda bangun.

    Itu bisa menjadi pekerjaan yang tidak nyaman, jadi kita menghindarinya dengan melakukan pekerjaan yang sibuk dan hal-hal yang mendesak.

    Ketika Anda siap menghadapi ketidaknyamanan ini, saya mendorong Anda untuk bertanya: apa yang memanggil Anda? Berani menerima tantangan ini?

  • Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata: Pemerintah Tak Bisa Terus Menerus Mengandalkan Modifikasi Cuaca

    Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata: Pemerintah Tak Bisa Terus Menerus Mengandalkan Modifikasi Cuaca

    7cloud.asia – Rilis yang dikeluarkan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) (14/05/2026) menunjukkan bahwa El Niño akan segera muncul pada Mei-Juli 2026 dengan peluang terjadi sebesar 82 persen.

    Sejumlah pemantauan suhu permukaan laut juga memperlihatkan anomali panas yang terus meningkat di wilayah Pasifik tengah dan timur, yang berpotensi memicu dampak cuaca ekstrem di berbagai negara, termasuk Indonesia.

    Sementara, BMKG memprediksi El Niño mulai aktif pada Juni 2026 dengan intensitas moderat hingga kuat, dengan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak kemarau pada Agustus-September 2026.

    Pengkampanye Iklim dan Isu Global WALHI, Patria Rizky Ananda mengatakan, fenomena ini tidak bisa dipisahkan dari krisis iklim global yang semakin nyata akibat model pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam yang rakus.

    Sejumlah kajian menunjukkan bahwa bencana dan cuaca ekstrem yang dulu dianggap langka kini terjadi semakin sering—dari yang sebelumnya berulang dalam rentang 100-200 tahun, kini dapat muncul hanya dalam siklus 20-50 tahunan.

    ”Situasi ini menegaskan bahwa krisis yang dihadapi bukan lagi sekadar anomali alam, melainkan konsekuensi sistemik dari krisis ekologis yang terus diproduksi dan dibiarkan berlangsung,” katanya dalam pernyataan resmi yang dirilis di laman resmi WALHI.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Patria menambahkan bahwa Godzilla/Super El Niño sudah seharusnya menjadi alarm serius bagi pemerintah Indonesia untuk segera memperkuat langkah mitigasi dan adaptasi krisis iklim.

    Hal ini terutama melalui perlindungan ekosistem-ekosistem penting seperti hutan, gambut, karst, dan mangrove sebagai upaya pencegahan dampak El Niño di kawasan hulu.

    Fenomena El Niño ekstrem tidak hanya mengancam sektor pertanian dan ketahanan pangan, tetapi juga memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak serius terhadap kesehatan publik.

    Hal tersebut sebagaimana pernah terjadi dalam tragedi karhutla besar tahun 1997 dan 2015 yang meninggalkan kerugian ekologis, sosial, dan ekonomi dalam skala luas.

    Patria mengingatkan, dampak El Niño dapat memburuk selama pemerintah tetap membiarkan deforestasi, perusakan gambut, ekspansi tambang, dan perkebunan monokultur berlangsung.

    Baca: Kencangkan Suara untuk Pelestarian Lingkungan

    Pasalnya, kerusakan kawasan hulu membuat alam kehilangan kemampuan menyimpan air dan memperbesar risiko kekeringan, gagal panen, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan

    WALHI juga menilai pemerintah masih terjebak pada penanganan darurat tanpa menyentuh akar persoalan berupa model pembangunan ekstraktif.

    ”Ini termasuk kebijakan seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang justru dapat berisiko mengganggu siklus hidrologi dan menciptakan rasa aman semu dalam menghadapi krisis iklim,” kata Patria.

    Untuk itu, alih-alih berfokus pada respons darurat, WALHI mendesak pemerintah untuk segera menghentikan izin-izin yang merusak kawasan hutan dan gambut.

    Pemerintah juga diminta untuk memperkuat perlindungan wilayah kelola rakyat, memastikan pemulihan ekosistem di daerah tangkapan air, serta membangun sistem mitigasi krisis iklim yang berpihak pada keselamatan warga.

    “Tanpa perubahan arah kebijakan lingkungan dan pembangunan, Indonesia akan terus berada dalam kondisi rentan menghadapi bencana iklim yang semakin ekstrem akibat krisis iklim global,” tutup Patria.

    Baca: Ilmuwan Menghapus Skenario Perubahan Iklim Terburuk

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Transisi Energi Bersih di Bali hingga Pertumbuhan Ekonomi yang Rapuh

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Transisi Energi Bersih di Bali hingga Pertumbuhan Ekonomi yang Rapuh

    7cloud.asia – Artikel mengenai sejumlah hotel di Bali memanfaatkan energi surya sebagai upayanya menuju transisi energi bersih menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel mengenai kondisi sosial ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi yang rapuh dan penutupan ritel modernn untuk koperasi merah putih

    Artikel terkait isu lingkungan yakni ditunjuknya Gubernur DKI Jakarta menjadi pemimpin gerakan net zero emisssion juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. Sektor pariwisata Bali beralih ke energi bersih
    Sektor pariwisata di Bali terus berupaya mengimplementasikan strategi energi bersih sebagai bisnis jangka panjang. Sejumlah hotel premium di Pulau Dewata kini mempercepat adopsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.

    Langkah ini tidak hanya untuk memenuhi target keberlanjutan, tetapi juga mengurangi risiko akibat volatilitas suplai dan harga energi global.

    Wujud komitmen ini adalah pemasangan PLTS atap yang baru saja rampung di sebuah resor internasional premium di Bali yang dikembangkan bersama dengan Greenvolt Power Indonesia.

    Sistem tersebut memiliki kapasitas terpasang sekitar 323 kilowatt-peak (kWp) dan memberikan kontribusi terhadap tren adopsi PLTS atap di sektor perhotelan Bali.

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. Kritik terhadap pengembangan Koperasi Merah Putih
    Anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto menyoroti polemik penutupan sejumlah gerai ritel modern di Lombok Tengah untuk pengembangan koperasi desa merah putih yang memicu keresahan di kalangan pekerja.

    Menurutnya, persoalan ini tidak boleh hanya dilihat sebagai isu penataan usaha atau perizinan daerah, tetapi juga harus dilihat dari dampaknya terhadap tenaga kerja yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.

    Dikutip Parlementaria, Edy menilai, munculnya narasi yang membenturkan keberadaan gerai ritel modern dengan pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tidak tepat.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. C40 Cities dan upaya Jakarta turunkan emisi
    C40 Cities pekan lalu mengumumkan penunjukan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebagai Wakil Ketua Steering Committee C40 Cities.

    C40 Cities adalah jaringan global yang terdiri dari hampir 100 kota besar di dunia yang berkomitmen untuk mengatasi krisis iklim.

    Jaringan ini berfokus pada kolaborasi antar-kota untuk berbagi pengetahuan, mendorong inovasi kebijakan, serta mempercepat implementasi solusi iklim yang berdampak nyata

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. Militerisasi membuat demokrasi mati suri
    Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) mengecam keras semakin terbukanya praktik militerisasi ruang sipil yang dilakukan TNI.

    PBHI menilai keterlibatan militer dalam pengawasan warga sipil kritis hingga penanganan kriminalitas jalanan menjadi indikator serius kemunduran demokrasi dan bangkitnya kembali multifungsi TNI.

    Ketua Badan Pengurus Nasional PBHI, Kahar Muamalsyah, menegaskan tindakan aparat militer yang memantau, mendata, hingga mendekati warga sipil karena kritik politik merupakan pola intimidasi yang identik dengan rezim otoritarian.

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. Pertumbuhan ekonomi 5,1 persen yang rapuh
    Baru-baru ini BPS merilis angka pertumbuhan PDB Q1 2026 sebesar 5,61 persen year on year, angka tertinggi sejak 2012 di luar periode pandemi Covid-19.

    Namun kajian terbaru yang dilakukan Ikhsan dan Riefky (2026) mengidentifikasi adanya inkonsistensi internal di dalam data BPS itu sendiri.

    Inkonsistensi itu ditunjukkan oleh kontraksi sektor listrik sebesar −0,99 persen seiring dengan sektor Manufaktur yang tumbuh sebesar +5,04 persen menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai integritas pengukuran.

    Apabila inkonsistensi tersebut dikoreksi, maka perkiraan pertumbuhan yang wajar berkisar pada 4,4 hingga 5,2 persen

    Baca berita selengkapnya di sini

  • Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Cuaca terasa lebih panas akhir-akhir ini? Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi kondisi ini akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

    Dalam laporan Global Annual-to-Decadal Climate Update,  memprediksi suhu rata-rata global akan tetap berada pada atau mendekati level tertinggi yang pernah tercatat hingga 2030.

    WMO memperkirakan suhu rata-rata global pada periode 2026-2030 akan berada 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius di atas rata-rata era pra-industri (1850-1900).

    Laporan tersebut menyebutkan terdapat peluang 86 persen bahwa salah satu tahun antara 2026 hingga 2030 akan melampaui rekor panas tahun 2024 (sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat).

    Baca: Kematia Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Lebih Tinggi 10 Kali Lipat

    WMO juga memperkirakan peluang 91 persen suhu global akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius setidaknya dalam satu tahun selama periode tersebut.

    Bahkan, kemungkinan rata-rata suhu lima tahunan 2026-2030 melebihi 1,5 derajat Celsius mencapai 75 persen.

    Penulis utama laporan, Dr. Leon Hermanson, dalam rilis WMO mengatakan prediksi kemunculan fenomena El Niño pada akhir 2026 berpotensi mendorong 2027 menjadi tahun pemecahan rekor suhu global berikutnya.

    Baca: Skenario Terburuk El Nino 2026, Neraka Panas yang Mengancam

    “Ada prediksi El Niño pada akhir tahun 2026, yang meningkatkan peluang tahun berikutnya, 2027, menjadi tahun pemecahan rekor berikutnya,” kata Leon.

    Selain itu, kawasan Arktik diprediksi mengalami pemanasan jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Suhu musim dingin di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 2,8 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, disertai penyusutan es laut di sejumlah wilayah utama.

    WMO menegaskan bahwa peningkatan suhu sementara di atas 1,5 derajat Celsius tidak otomatis berarti target jangka panjang dalam Perjanjian Paris gagal tercapai.

    Namun, frekuensi kejadian tersebut diperkirakan akan semakin sering seiring terus meningkatnya suhu bumi akibat perubahan iklim.

    Baca: Mengenal Lebih Jauh Godzilla El Nino

    Sementara di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 di Indonesia pada Agustus mendatang.

    Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menerangkan pada musim kemarau kali ini, Indonesia akan memasuki fenomena El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat pada Juli.

    Kondisi ini memperkuat terjadinya musim kemarau hingga mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.  “Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan akan dirasakan di banyak daerah,” ungkap Faisal.

    Selanjutnya Faisal menjelaskan, sebenarnya musim kemarau telah dimulai pada April dan akan berlangsung lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

    “Musim kemarau mulai dari April, Mei hingga Juni, dan banyak wilayah masuk pada Mei,” katanya.

    Baca: BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Agustus Mendatang

    Musim kemarau pada April akan lebih dahulu terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

    Bulan-bulan selanjutnya musim kemarau mulai meluas ke Pulau Jawa, terutama wilayah pesisir dan dataran tinggi, hingga ke Sumatera bagian selatan.

    BMKG menyebut ada enam provinsi yang diprediksi paling terdampak, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

     

     

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Status Siaga Hujan Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah Jawa Barat

    Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Status Siaga Hujan Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah Jawa Barat

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini hujan intensitas lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Jawa Barat pada Senin (01/06/2026). Status cuaca, “Siaga”

    Melalui akun instagram (IG) resminya, hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah Jawa Barat yang meliputi Kabupaten Bogor, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kabupaten Cianjur.

    Wilayah lain yang berstatus “Siaga” hujan lebat hingga sangat lebat adalah Maluku Utara yang meliputi Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Tengah dan Kabupaten Halmahera Timur.

    Peringatan dini ini juga berlaku disejumlah wilayah Maluku yang meliputi Kota Ambon, Kabupaten Buru Selatan, Kabupaten Seram bagian Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru.

    Sementara di Papua, peringatan dini hujan lebat hingga sangat lebat berlaku untuk Kabupaten Dogiyai.

    Sedangkan untuk wilayah Jakarta, BMKG memprediksi cuaca berawan hingga berawan tebal hampir di seluruh wilayah pada pagi hari. Peluang hujan dengan intensitas sedang terjadi di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

    Hujan ini masih akan terus berlanjut hingga siang dan sore. Sementara wilayah lainnya diprediksi berawan tebal hingga hujan berintensitas ringan.

    Malamnya, hampir semua wilayah Jakarta berpeluang terjadi hujan dengan intensitas ringan. Hanya wilayah Kepulauan Seribu yang diprediksi berawan tebal.