Tag: banjir

  • Ratusan Rumah di Sorong Selatan Terendam Banjir, Warga Mengungsi ke Hutan

    Ratusan Rumah di Sorong Selatan Terendam Banjir, Warga Mengungsi ke Hutan


    7cloud.asia – Sedikitnya 330 unit rumah warga di Distrik Kokoda Utara, Sorong Selatan (Sorsel), Papua Barat Daya terendam banjir sejak 14 Juni 2024.

    Dilansir Antaranews.com, banjir di Sorong Selatan ini mengakibatkan ratusan warga yang bermukim di tiga kampung terpaksa mengungsi ke dusun terdekat, bahkan ada yang mengungsi ke hutan.

    Kepala Distrik Kokoda Utara Leonard Takoye di Teminabuan, Selasa (18/6/2024), mengatakan tiga kampung yang terdampak banjir di Sorong Selatan tersebut, yakni Kampung Udagaga, Kampung Kayobiro dan Kampung Adonan.

    Baca: Harapan penyelamatan hutan adat di balik tagar #AllEyesonPapua

    “Masyarakat sekarang sedang mengungsi ke hutan dan dusun terdekat untuk mencari perlindungan dari banjir susulan,” kata Leonard.

    Ia mengatakan banjir yang merendam pemukiman warga tersebut kini sudah mulai surut, namun sebagian anggota masyarakat belum bisa kembali.

    “Dengan hidup di hutan masyarakat bisa mencari makanan, karena jika memilih bertahan tidak ada pasokan makanan,” ujarnya.

    Baca: Hujan deras bisa picu banjir di 4 provinsi termasuk Papua Barat Daya.

    Ia mengatakan pihaknya tengah berupaya membangun komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sorong Selatan untuk mengambil langkah selanjutnya.

    “Banjir merendam rumah warga sejak 14 Juni lalu hingga sekarang, namun sudah mulai surut,” kata Leonard.

    Ia juga mengimbau kepada masyarakat Kampung Nebes agar mengantisipasi meluasnya banjir, karena diperkirakan hujan masih akan mengguyur wilayah tersebut.

    Baca: Sejumlah wilayah Indonesia diingatkan fenomena La Nina pada Juli ini

    “Banjir kemungkinan akan meluas. Oleh karena itu, masyarakat di sembilan kampung yang berada di Nebes agar waspada,” ujarnya.

    Sebelumnya, BMKG telah memperingatkan potensi banjir yang dipicu oleh curah hujan berintensitas sedang-deras di empat provinsi, termasuk Papua Barat Daya pada periode 11 – 20 Juni 2024.

  • Kampung Sepaku Kembali Dilanda Banjir, Dampak Pembangunan IKN?

    Kampung Sepaku Kembali Dilanda Banjir, Dampak Pembangunan IKN?

    7cloud.asia – Banjir kembali melanda Kampung Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur atau titik nol Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Menurut salah seorang warga, Arman Jais, setidaknya ada sekitar 80 rumah di RT 03 yang terdampak. Ia berujar, air semakin tinggi setelah hujan deras mengguyur pada Senin pagi.

    Banjir ini dipicu hujan yang mengguyur kampung Sepaku sejak Minggu, 23 Juni 2024. Sebelumnya, banjir juga melanda Kampung Sepaku pada awal Mei 2024 lalu.

    “Semalam, pukul 23.00 ketinggian air masih 10 sentimeter. Pagi tadi, pukul 08.00, sudah satu meter di depan rumah warga,” kata Arman dikutip Tempo.co, Senin, 24 Juni 2024.

    Ia menyebut air sudah sampai merendam beberapa rumah warga. “Yang lain, tinggal 20 cm lagi terendam air.”

    Baca Juga: BPK Temukan Sederet Masalah, Bagaimana Nasib Pembangunan IKN

    Arman menduga banjir kali ini diperparah setelah ada bangunan Intake Sungai Sepaku. Menurut Arman, bangunan itu menutup sungai dengan ketinggian tembok yang melebihi jalan utama kampung.

    “Sungai ditutup, jadi airnya naik,” kata dia. Padahal sebelumnya, Arman berujar, biasanya air tidak langsung naik ke permukiman warga meski hujan deras mengguyur kawasan hulu.

    Intake Sungai Sepaku dibangun dengan kapasitas 3.000 liter per detik. Pengambil air Sungai Sepaku ini dibangun dengan konsep bendung gerak dan memiliki lebar bendung 117,2 meter dan tinggi bendung 2,3 meter.

    Proyek ini ditujukan untuk memasok kebutuhan air baku di Ibu Kota Nusantara atau IKN.

    Baca Juga: Komnas HAM Tengarai Ada Pelanggaran HAM terhadap Petani Penolak Bandara VVIP IKN

    Mengutip Antara, Intake Sungai Sepaku berbeda dengan pemasok air baku bagi IKN lainnya. Sebab, pengambilan air dilakukan dengan dasar sungai ditinggikan kemudian air dialirkan menuju rumah pompa.

    Sebelum air masuk ke rumah pompa juga akan dibersihkan terlebih dahulu dari lumpur. Setelah itu, dialirkan ke instalasi pengolahan air, kemudian dialirkan melalui jaringan pipa menuju IKN.

    Menyoal dampak Intake Sepaku terhadap intensitas banjir di wilayah Sepaku, Tempo mengutip Kepala Satgas Pelaksana Pembangunan Infrastruktur IKN, Danis Sumadilaga.

    Danis pernah mengklaim bahwa proyek IKN tidak memicu banjir di wilayah Sepaku. Pasalnya, dari sisi lokasi, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) tidak berada di atas Sepaku sehingga tidak mengalirkan banjir ke wilayah tersebut.

    Baca Juga: Berdampak pada Kesehatan Warga Palu-Donggala, Tambang Batu dan Pasir untuk Pembangunan IKN Diprotes

    Ia pun mengatakan, banjir di Sepaku terjadi karena wilayah tersebut berada di dekat muara sungai.

    Untuk mengantisipasi banjir, Danis berujar, pemerintah berupaya membangun pengendali banjir di hulu Sungai Sepaku. Termasuk, membangun 15 embung untuk mengantisipasi luapan air.

    Soal banjir yang masih terjadi di IKN, Danies menilai hal itu disebabkan berbagai faktor. Salah satunya, curah hujan yang tinggi.

    “Coba pakai data hidrologi. Karena tidak selalu banjir itu kaitannya dengan pembangunan IKN kata Danis ketika ditemui di Kementerian PUPR, Jumat, 17 Mei 2024.

  • 4 RT di Jakarta Barat Masih Terendam Banjir dengan Ketinggian hingga 60 centimeter

    4 RT di Jakarta Barat Masih Terendam Banjir dengan Ketinggian hingga 60 centimeter

    7cloud.asia – Hingga Minggu (7/7/24) pagi, empat rukun tetangga (RT) di dua kelurahan di DKI Jakarta masih tergenang air akibat curah hujan tinggi pada sabtu (6/7/24).

    Data Badan Pengulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat 4 rukun tetangga (RT) ini berada di Jakarta Barat, dan masih tergenang air dengan ketinggian 30-60 centimeter.

    Untuk kelurahan Kedaung Kaliangke, terdapat 3 RT yang masih tergenang dengan ketinggian 30 centimeter.

    Sementara itu, di kelurahan Rawa Buaya terdapat 1 RT yang tergenang dengan ketinggian 60 centimeter.

    Baca Juga: Embung Pekayon Jakarta Timur Direvitalisasi, Jadi Area Tangkapan Air yang Dilengkapi Pusat Kegiatan Masyarakat

    Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji di Jakarta mengatakan, untuk saat ini dilakukan penyedotan untuk mengurangi debit air pada wilayah tersebut.

    BPPD,vujarnya, terus mengoordinasikan unsur Dinas SDA, Dinas Bina Marga, Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan.

    “Dan memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama dengan para lurah dan camat setempat,” ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji, melalui keterangan resmi. Minggu ( 7/7/24).

    Diberitakan sebelumnya, hujan deras yang menguyur sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya memicu terjadinya genangan di beberapa tempat.

    Baca Juga: Tak Hanya Mengendalikan Banjir di Jakarta, Sodetan Kali Ciliwung Bisa Jadi Pusat Kegiatan

    Tercatat setidaknya 48 RT di Jakarta terendam banjirdengan ketinggian yang beragam
    pada Sabtu (6/7/2024).

    Namun, BPBD DKI melaporkan sebanyak 42 RT di Jakarta surut dalam waktu cepat. Tim BPPD DKI Jakarta juga melakukan penyedotan genangan.

    BPBD DKI Jakarta juga meminta masyarakat untuk berhati-hati terhadap potensi kedaruratan seperti banjir hingga tanah longsor.

    Sebelumnya, BMKG juga mengingatkan hujan dengan intensitas ringan diprakirakan masih berpotensi mengguyur wilayah Jakarta. Untuk itu warga diingatkan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir.

    Sumber;Kompas.com

  • Mengenal Lebih Dekat Kali Angke dan Banjir di Jakarta Barat

    Mengenal Lebih Dekat Kali Angke dan Banjir di Jakarta Barat

    7cloud.asia – Meluapnya Kali Angke mengakibatkan sejumlah wilayah di Jakarta tergenang banjir sejak Sabtu (6/7/2024).

    Hingga Minggu (7/7/2024) pagi setidaknya 4 rukun tetangga (RT) di pinggiran Kali angke masih tergenang banjir dengan ketinggian air antara 30 hingga 60 centimeter.

    Wilayah yang masih tergenang tersebut antara lain Kelurahan Kedaung Kaliangke, terdapat 3 RT yang masih tergenang dengan ketinggian 30 centimeter, dan Kelurahan Rawa Buaya terdapat 1 RT yang tergenang dengan ketinggian 60 centimeter.

    Daerah di sepanjang Kali Angke seperti Pinang, Cipondoh, Ciledug, Joglo, Kembangan, Rawa Buaya, Duri Kosambi, dan Cengkareng memang sudah lama dikenal sebagai daerah langganan banjir.

    Namun demikian, dibanding sungai lain yang memicu banjir di Jakarta, Kali Angke memang relatif kurang dikenal.

    Baca Juga: Tunas: Upaya Komunitas Tumbuh Pohon Nusantara Merawat Kali Angke

    Padahal sungai yang berhulu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini juga memegang peran penting bagi kehidupan dan perjalanan sejarah Kota Jakarta.

    Dalam tulisan ini, 7cloud.asia ingin mengajak para pembaca untuk mengenal lebih dekat Kali Angke.

    Kali Angke atau Cikeumeuh adalah nama sebuah sungai di Jakarta, Indonesia. Dilansir di wikipedia.com, ada dua pendapat yang menyebt asal Kali Angke.

    Pendapat pertama menyebut Nama Kali Angke diberikan setelah terjadinya peristiwa pembantaian etnis Tionghoa selama tiga hari oleh VOC di Batavia pada tanggal 9 Oktober 1740.

    Dikatakan demikian, karena warna air sungai ini berubah menjadi merah oleh darah etnis Tionghoa. Sejak itu namanya berubah menjadi Kali Angke.

    Baca Juga: Puluhan Remaja Ramaikan Aksi Rehabilitasi Kali Angke yang Dihelat Komunitas Tunas

    Kali adalah pengganti kata sungai. Sedangkan angke disebut berasal dari dialek Hokkian, yang berarti merah.

    Pendapat yang lain beranggapan bahwa nama Angke berasal dari perkataan Hokkian ang kee dengan arti yang lain, yaitu ‘sungai yang kerap banjir’.

    Hal ini dituliskan dalam “Sejarah Kawasan Angke Di Batavia” karya Horde, G. dkk pada tahun 2012.

    Artikel pada laman Budaya Tionghoa bertanggal 20 Maret 2012 ini memaparkan adanya tokoh bernama Ratu Bagus Angke yang tinggal di dekat sungai ini kira-kira pada akhir abad-16.

    Atau sekitar 150 tahun sebelum kejadian pembantaian besar-besaran etnis Tionghoa.
    Fakta ini mengisyaratkan kemungkinan bahwa nama Angke telah dikenal orang setidaknya pada saat itu atau bahkan pada waktu yang sebelumnya.

    Baca Juga: Ciliwung Muara Bersama: Cara Sederhana Warga Jagakarsa Merawat Sungai Ciliwung

    Hidrologi
    Kali Angke memiliki panjang 9.125 kilometer dan berhulu di daerah Bogor, melintasi wilayah Jawa Barat, Banten dan Jakarta sebelum bermuara di Laut Jawa tepatnya di Muara Angke, Jakarta Barat.

    Sungai ini berhulu di Kelurahan Menteng dan Cilendek Timur di Kota Bogor, Jawa Barat. Sungai ini selanjutnya melewati wilayah Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan bermuara di wilayah Muara Angke, Jakarta Utara.

    Sungai ini tidak pernah kering selama musim kemarau, karena berhulu langsung di wilayah yang kawasan banyak hujan di daerah Bogor, sebagaimana Kali Pesanggrahan dan Ciliwung.

    Panjang sungai tercatat 91,25 kilometer, dengan Daerah Pengaliran Sungai (DPS) seluas 480 kilometer persegi.

    Seperti yang dicerminkan oleh namanya, setiap musim hujan Kali Angke meluap dan menimbulkan banjir, khususnya pada hari-hari dengan curah hujan yang tinggi.

    Baca Juga: Sungai Ciliwung, Sejarah dan Maknanya Bagi Warga Jakarta

    Ekologi
    Flora yang tumbuh di tepian Kali Angke di antaranya adalah rengas (Gluta renghas), pandan kapur (Pandanus tectorius), bambu tali (Bambusa vulgaris), putat (Planchonia valida).

    Ada juga pulai (Alstonia scholaris), kecapi (Sandoricum koetjape), waru (Hibiscus tiliaceus) dan sebagainya.

    Kali angke juga memiliki tempat bersejarah, salah satunya adalah Benteng Angke dibangun oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di sebelah barat kota Jakarta pada tahun 1657.

    Benteng Angke dibangun di titik pertemuan Kali Mookervaart dan Kali Angke. Nama benteng ini sering ditulis dalam berbagai bentuk: Anké, Anckee, Anke, Ankee.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Hujan Deras Akibatkan Banjir di Gorontalo Utara, Ketinggian Air Ada yang Mencapai 2 Meter

    Hujan Deras Akibatkan Banjir di Gorontalo Utara, Ketinggian Air Ada yang Mencapai 2 Meter

    7cloud.asia – Banjir di wilayah Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, merendam pemukiman dan perkebunan milik warga sejak Sabtu (13/7/2024).

    Kepala Desa Limbato, Udin Lauposo mengatakan, banjir terjadi mulai pukul 15.00 WITA pada Sabtu kemarin akibat luapan Sungai Limbato karena curah hujan tinggi.

    “Pemukiman dan kebun milik warga terendam dengan ketinggian air ada yang mencapai dua meter,” katanya di Gorontalo, Minggu (14/7/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Saat ini, kata dia, banjir mulai surut namun warga diminta tetap waspada, karena cuaca di wilayah tersebut masih berpotensi hujan.

    “Seluruh kepala dusun masih bergerak mendata jumlah warga terdampak, rumah terendam dan kerugian yang ditimbulkan. Kami segera melaporkan kondisi ini ke pemerintah kecamatan dan kabupaten setelah data terkumpul,” kata Udin Lauposo.

    Baca Juga: Penjelasan Pakar Soal Apa yang Akan Terjadi Saat La Nina Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    Menurutnya, pasca-banjir bandang pada Maret 2024 di wilayah tersebut sangat berpotensi banjir.

    “Pasca-banjir bandang, ini merupakan banjir kedua yang melanda desa di wilayah ini. Hal itu dipicu akibat kondisi sungai yang telah rata dengan jalan atau perkebunan.

    Kami berharap ada perhatian untuk normalisasi maupun pengerukan sungai jika pembangunan tanggul yang memerlukan anggaran besar belum dapat dilakukan,” kata Udin.

    Ia mengatakan pembangunan tanggul Sungai Limbato diperkirakan mencapai satu kilometer dan sangat diperlukan untuk mencegah luapan air sungai masuk ke pemukiman warga.

    Tanggul juga akan lindungi perkebunan yang menjadi sumber penghasilan masyarakat.

    Baca Juga: Ribuan Hektare Sawah di Jawa Tengah Terancam Gagal Panen Akibat Banjir

    Mengingat curah hujan tinggi hanya dalam beberapa jam saja, air sungai akan meluber ke perkebunan, jalan utama desa, dan pemukiman warga.

    “Daerah Aliran Sungai (DAS) Limbato memerlukan penanganan untuk mencegah wilayah ini menjadi langganan banjir,” katanya.

    Camat Tolinggula Tony Abas mengatakan banjir melanda wilayah tersebut, khususnya di titik yang menjadi langganan banjir. Banjir terjadi akibat curah hujan tinggi sejak Sabtu sore.

    “Ada pula longsor yang terjadi di perbatasan antara Desa Limbato dan Papualangi,” katanya.

  • Banjir Gorontalo Mulai Surut, Tetapi Lebih dari 7 Ribu Warga Masih Mengungsi

    Banjir Gorontalo Mulai Surut, Tetapi Lebih dari 7 Ribu Warga Masih Mengungsi

    7cloud.asia – Banjir yang melanda Gorontalo sejak Rabu (10/07/2024) lalu, kini mulai berangsur surut. Lebih dari 7 ribu warga mengungsi hingga kini.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menjelaskan  curah hujan di Kota Gorontalo cukup tinggi sejak 10 hingga 13 Juli 2024 lalu.

    Akibatnya air merendam sejumlah wilayah di Kota Gorontalo dengan ketinggian antara 30-150 sentimeter.

    Kondisi geografis wilayah Kota Gorontalo berupa cekungan membuat banjir kali ini menjadi yang terparah di tahun 2024. Data dari BNPB sebanyak 4.686 unit rumah terendam.  

    Baca: Banjir landa Gorontalo, ketinggian air hingga 2 meter

    “Banjir ini merupakan yang keempat kalinya selama bulan Juli 2024,” ungkap Muhari, seperti yang dikutip Sindonews pada Senin (15/7/2024).

    Akibat banjir tersebut, sebanyak 15 kecamatan di 3 wilayah yang terdampak dan 47 kelurahan di sembilan kecamatan se-Kota Gorontalo terdampak banjir.

    Yaitu Kecamatan Kota Barat, Kota Utara, Kota Selatan, Kota Tengah, Kota Timur, Dumbo Raya, Hulonthalangi, Dungingi, dan Sipatana.

    Baca: Ratusan rumah di Sorong Selatan banjir, warga mengungsi ke hutan

    Tak hanya banjir, beberapa kelurahan juga turut terdampak tanah longsor di antaranya Kelurahan Tenilo (Kecamatan Kota Barat), Kelurahan Pohe (Kecamatan Hulanthalangi).

    Selain itu Kelurahan Leato Utara, Leato Selatan, Botu dan Talumolo di Kecamatan Dumbo Raya juga terjadi longsor. Seorang warga Kecamatan Kota Barat meninggal dunia akibat tertimbun material longsor.

    BPBD Kota Gorontalo bekerjasama dengan Pemda setempat dan lintas sektor telah melakkan berbagai upaya tanggap darurat.

    Diantaranya dengan mengevakuasi warga, mendirikan pendirian pos pengungsian, dan pendirian dapur umum.

    Baca: Sungai Ngarai Sianok meluap, 7 rumah rusak berat diterjang banjir

    Total pos pengungsian yang telah didirikan sebanyak 59 titik tersebar di tiap kelurahan. Jumlah total warga mengungsi per 13 Juli 2024 sebanyak 7.486 jiwa.

    Selain itu BPBD Kota Gorotalo bersama tim gabungan juga telah mengevakuasi sarana dan prasarana umum terdampak serta melakukan pengerukan material longsor dan membersihkan sisa banjir.

    Dalam menangani bencana ini, Wali Kota Gorontalo menetapkan status tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor dengan Nomor 256/6/VII/2024 selama 14 hari terhitung sejak tanggal 11 Juli sampai 24 Juli 2024.

     

  • Aliran Sungai Lontar Ditutupi Sampah, Warga Serang “Ngadu” ke Bupati hingga Wapres

    Aliran Sungai Lontar Ditutupi Sampah, Warga Serang “Ngadu” ke Bupati hingga Wapres

    7cloud.asia – Warga Kampung Kebalikan, Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten, mengeluhkan tumpukan sampah yang menutupi aliran Sungai Lontar yang membelah desa mereka.

    Sampah rumah tangga yang menumpuk di Sungai Lontar ini sudah belasan tahun dibiarkan sehingga menimbulkan pendangkalan dan memicu banjir saat musim hujan.

    Tak hanya dampak lingkungan, sampah yang menutupi sungai sejauh sekitar 500 meter itu juga memicu berbagai jenis penyakit menular, seperti demam berdarah dangue, gatal-gatal dan lainnya.

    Ketua RT 013 Desa Lontar, Jenab mengatakan, permasalahan sampah tersebut sudah beberapa kali diajukan kepada pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten.

    Bahkan, bantuan untuk membersihkan sampah telah dilaporkan dan diketahui oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

    Baca: Tumpukan sampah sumbat aliran sungai Citarum

    “Pak Ma’ruf Amin sering ke sini (tahu ada tumpukan sampah), karena sering main ke pantai. Bupati juga udah tahu,” kata Jenab, warga Desa Lontar, Selasa (16/7/2024) seperti dikutip Kompas.com.

    Meski telah diketahui oleh Wapres, persoalan sampah di Sungai Lontar tak kunjung tertangani. Hingga saat ini, sampah dibiarkan menumpuk dan menyumbat aliran Sungai Lontar.

    “Udah lama (Maruf Amin tahu) ke sini berapa kali. Soalnya kan pas pulang ke Tanara (Rumah Ma’ruf Amin) dia mah selalu mampir ke sini, ke pantai mau senam pagi katanya,” imbuh Jenab.

    Camat Tirtayasa, Yayat Wahyu Hidayat membenarkan bahwa permasalahan sampah di Sungai Lontar sudah sampai ke telinga Maruf Amin.

    Bahkan, Pemkab Serang telah mengajukan proposal untuk melakukan normalisasi Sungai Lontar yang dipenuhi sampah.

    Baca: Aksi Pandawara angkat tumpukan sampah sumbat aliran sungai

    Proposal itu, kata Wahyu, telah diterima Wapres Maruf Amin saat berkunjung ke Desa Lontar beberapa tahun lalu.

    “Saat ada kunjungan Pak Ma’ruf Amin ke Lontar saya malam-malam langsung membuat proposal.” “Saya juga sudah langsung ngomong ke Pak Wapres dan Pak Wakil manggil sekretarisnya, katanya tolong dicatat,” ujar dia.

    Wahyu mengatakan, sebelum meminta bantuan kepada Wapres, pihak desa telah mengajukan anggaran ke Pemkab Serang untuk menuntaskan persoalan sampah tersebut.

    Namun, Pemkab Serang hingga Pemprov Banten tidak sanggup dengan alasan anggaran tidak ada atau minim. “Sehingga kita usulkan ke pusat, ke Kementerian,” kata Wahyu.

    Kebiasaan membuang sampah secara sembarangan juga terjadi di sejumlah daerah lainnya. Untuk mengatasi halvini, pemerintah perlu melakukan edukasi selain juga merumuskan kebijakan untuk mengurangi sampah.

  • Banjir Rob Berpotensi Melanda Wilayah Ini Hingga 25 Juli, Masyarakat Diimbau Waspada

    Banjir Rob Berpotensi Melanda Wilayah Ini Hingga 25 Juli, Masyarakat Diimbau Waspada

    7cloud.asia – Banjir pesisir (rob) berpotensi melanda wilayah pesisir Kalimantan Selatan pada 21- 25 Juli mendatang. Masyarakat diimbau waspada.

    Petugas jaga Stasiun Meteorologi pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kalimantan Selatan (BMKG Kalsel), Fitma Surya Arghani di Banjarbaru hmenjelaskan banjir rob ini akibat adanya fase bulan purnama.

    Melansir Antaranews, kondisi tersebut dapat berpotensi air laut pasang hingga mencapai ketinggian maksimum 2,6 meter.

    Menurut Fitma potensi tersebut berdasarkan water level dan prediksi pasang surut dan banjir pesisir.

    Baca: Lebih dari 7 ribu warga mengungsi akibat banjir Gorontalo

    “Masyarakat di pesisir diimbau selalu waspada untuk mengantisipasi dampak pasang maksimum air laut dan fenomena rob,” ujar Fitma.

    Lebih jauh Fitma mengungkapkan pasang maksimum berpotensi terjadi di wilayah perairan Muara Sungai Barito pada pukul 07.00-12.00 Wita dengan ketinggian sekitar 2,6 meter.

    Potensi wilayah yang terdampak di pesisir perairan Sungai Barito, Banjar, Banjarmasin, dan Tanah Laut.

    Banjir rob ini, lanjut Fitma dapat berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat pesisir dan transportasi di sekitar pelabuhan.

    Baca: Banjir di Sorong rendam ratusan rumah
    Sementara itu, potensi pasang gelombang maksimum laut juga meliputi perairan Kalimantan Tengah bagian timur arah angin tenggara-selatan berkecepatan 7-22 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter-2,5 meter.

    Laut Jawa bagian tengah (arah angin timur kaut-tenggara, berkecepatan 7-22 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter-3 meter.

    Laut Jawa bagian timur (arah angin timur-tenggara berkecepatan 6-25 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter-2,5 meter.

    Perairan Kotabaru (arah angin barat daya-timur laut berkecepatan 3-25 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter-2,5 meter.

     

  • Pemkot Jakarta Selatan Bangun 2 Embung pada 2024

    Pemkot Jakarta Selatan Bangun 2 Embung pada 2024

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menambah dua embung pada 2024 untuk mengatasi masalah banjir di wilayah tersebut.

    Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan, Santo mengatakan dua embung itu masing-masing berlokasi di Jalan Pemuda, Jagakarsa dan SDN 01 Pesanggrahan

    Menurut Santo, sebenarnya kedua embung secara non fisik sudah terbentuk dan untuk fisiknya dilakukan pada tahun ini melalui kontrak.

    “Fisiknya baru tahun ini, Insya Allah akhir November ini sudah selesai semua,” ujarnya dilansir Antaranews.com, Jumat (19/7/2024).

    Dijelaskannya, dua lokasi tersebut dipilih setelah pihaknya menemukan lahan kosong yang telah dimanfaatkan ataupun lokasinya berada di bantaran kali.

    Baca Juga: Embung Pekayon Jakarta Timur Direvitalisasi, Jadi Area Tangkapan Air yang Dilengkapi Pusat Kegiatan Masyarakat

    Dia juga menambahkan, pihaknya membidik lahan yang dimiliki Dharma Jaya untuk dilakukan pengerukan yang dimulai November 2024 dan peresmian dilakukan 2025.

    SDA Jakarta Selatan menyatakan terus berupaya menanggulangi masalah banjir dengan membuat lebih banyak embung atau waduk. Embung dan waduk ini juga diharapkan menjadi daerah resapan air hujan.

    Menurut data BPBD DKI Jakarta, terdapat 9 wilayah rawan banjir di Jakarta Selatan, yaitu
    Cipete Utara, Petogogan, Cipulir, Pondok Pinang, Ulujami, Pondok Labu, Bangka, Pejaten Timur dan Jati Padang

    Sejumlah program yang dilaksanakan Suku Dinas SDA Jakarta Selatan untuk menanggulangi banjir antaralain membangun rumah pompa beserta kelengkapan penanganan genangan di Wilayah Cipulir (Seskoal), Kelurahan Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama.

    Pemkot Jaksel juga membangun saluran jacking penanganan genangan di Wilayah Cipulir (Seskoal), Kelurahan Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama, pengadaan pompa pengendalian banjir wilayah Cipulir (Seskoal)

    Baca Juga: Membangun Waduk Menjadi Salah Satu Cara Pemprov Jakarta Atasi Banjir

    Juga pembangunan Polder /Pompa IKPN di IKPN Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan.

    Normalisasi saluran di Jakarta Selatan meliputi kawasan Bukit Duri Tanjakan (Tebet), saluran Phb Dharmawangsa (Kebayoran Baru), saluran Phb Patra (Setiabudi), saluran Jalan Dr. Satrio (Setiabudi) dan saluran Jalan Setiabudi Timur (Setiabudi).

    Saluran Jalan Taman Setiabudi (Setiabudi), saluran Jalan Menteng Wadas (Setiabudi), saluran Jalan Menteng Atas RW 01 (Setiabudi), saluran Jalan Menteng Atas RW 06 (Setiabudi), dan saluran Jalan Kebagusan 1 RW 7 (Pasar Minggu).

    Saluran Jalan Musholah (Pasar Minggu), saluran Jalan Kebagusan 1 RW 01 (Pasar Minggu), saluran Jalan Niming (Pasar Minggu), saluran Jalan Kebagusan 2 (Pasar Minggu), dan saluran Jalan Kebagusan Raya (Pasar Minggu).

  • Cuaca Hari Ini: Waspada Banjir Rob di Wilayah Ini

    Cuaca Hari Ini: Waspada Banjir Rob di Wilayah Ini

    7cloud.asia – Banjir rob akibat gelombang tinggi diperkirakan akan melanda sejumlah wilayah pesisir di Indonesia pada Selasa (23/07/2024).

    Wilayah pesisir Sumatera Utara, pesisir Sumatera Barat, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Banten, pesisir utara Jakarta berpotensi dilanda banjir rob.

    Kondisi yang sama juga berpotensi melanda wilayah pesisir Jawa Tengah, pesisir Kalimantan Timur, pesisir Kalimantan Barat, dan pesisir Maluku Utara.

    Dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tinggi gelombang 2,5 hingga 4 meter diperkirakan melanda wilayah Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Samudra Hindia selatan Pulau Jawa.

    BMKG juga memperkirakan sejumlah kota berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang seperti Kota Pontianak, Tanjung Selor, Mamuju, Ternate, Nabire, dan Jayawijaya.

    Menurut prakirawan BMKG, Eriska Febriati kondisi cuaca tersebut akibat adanya  konvergensi yang memanjang dari Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, hingga Papua Tengah.

    Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah siklon tropis.

    Sementara hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprediksi terjadi di Kota Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, Bengkulu, Serang, Gorontalo, Palu, Ambon, Sorong, Manokwari, dan Jayapura.

    Sedangkan sebagian besar kota lainnya, termasuk Jakarta, diperkirakan cerah berawan pada pagi hingga malam hari.