Mengenal Lebih Dekat Kali Angke dan Banjir di Jakarta Barat

Written by

in

7cloud.asia – Meluapnya Kali Angke mengakibatkan sejumlah wilayah di Jakarta tergenang banjir sejak Sabtu (6/7/2024).

Hingga Minggu (7/7/2024) pagi setidaknya 4 rukun tetangga (RT) di pinggiran Kali angke masih tergenang banjir dengan ketinggian air antara 30 hingga 60 centimeter.

Wilayah yang masih tergenang tersebut antara lain Kelurahan Kedaung Kaliangke, terdapat 3 RT yang masih tergenang dengan ketinggian 30 centimeter, dan Kelurahan Rawa Buaya terdapat 1 RT yang tergenang dengan ketinggian 60 centimeter.

Daerah di sepanjang Kali Angke seperti Pinang, Cipondoh, Ciledug, Joglo, Kembangan, Rawa Buaya, Duri Kosambi, dan Cengkareng memang sudah lama dikenal sebagai daerah langganan banjir.

Namun demikian, dibanding sungai lain yang memicu banjir di Jakarta, Kali Angke memang relatif kurang dikenal.

Baca Juga: Tunas: Upaya Komunitas Tumbuh Pohon Nusantara Merawat Kali Angke

Padahal sungai yang berhulu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini juga memegang peran penting bagi kehidupan dan perjalanan sejarah Kota Jakarta.

Dalam tulisan ini, 7cloud.asia ingin mengajak para pembaca untuk mengenal lebih dekat Kali Angke.

Kali Angke atau Cikeumeuh adalah nama sebuah sungai di Jakarta, Indonesia. Dilansir di wikipedia.com, ada dua pendapat yang menyebt asal Kali Angke.

Pendapat pertama menyebut Nama Kali Angke diberikan setelah terjadinya peristiwa pembantaian etnis Tionghoa selama tiga hari oleh VOC di Batavia pada tanggal 9 Oktober 1740.

Dikatakan demikian, karena warna air sungai ini berubah menjadi merah oleh darah etnis Tionghoa. Sejak itu namanya berubah menjadi Kali Angke.

Baca Juga: Puluhan Remaja Ramaikan Aksi Rehabilitasi Kali Angke yang Dihelat Komunitas Tunas

Kali adalah pengganti kata sungai. Sedangkan angke disebut berasal dari dialek Hokkian, yang berarti merah.

Pendapat yang lain beranggapan bahwa nama Angke berasal dari perkataan Hokkian ang kee dengan arti yang lain, yaitu ‘sungai yang kerap banjir’.

Hal ini dituliskan dalam “Sejarah Kawasan Angke Di Batavia” karya Horde, G. dkk pada tahun 2012.

Artikel pada laman Budaya Tionghoa bertanggal 20 Maret 2012 ini memaparkan adanya tokoh bernama Ratu Bagus Angke yang tinggal di dekat sungai ini kira-kira pada akhir abad-16.

Atau sekitar 150 tahun sebelum kejadian pembantaian besar-besaran etnis Tionghoa.
Fakta ini mengisyaratkan kemungkinan bahwa nama Angke telah dikenal orang setidaknya pada saat itu atau bahkan pada waktu yang sebelumnya.

Baca Juga: Ciliwung Muara Bersama: Cara Sederhana Warga Jagakarsa Merawat Sungai Ciliwung

Hidrologi
Kali Angke memiliki panjang 9.125 kilometer dan berhulu di daerah Bogor, melintasi wilayah Jawa Barat, Banten dan Jakarta sebelum bermuara di Laut Jawa tepatnya di Muara Angke, Jakarta Barat.

Sungai ini berhulu di Kelurahan Menteng dan Cilendek Timur di Kota Bogor, Jawa Barat. Sungai ini selanjutnya melewati wilayah Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan bermuara di wilayah Muara Angke, Jakarta Utara.

Sungai ini tidak pernah kering selama musim kemarau, karena berhulu langsung di wilayah yang kawasan banyak hujan di daerah Bogor, sebagaimana Kali Pesanggrahan dan Ciliwung.

Panjang sungai tercatat 91,25 kilometer, dengan Daerah Pengaliran Sungai (DPS) seluas 480 kilometer persegi.

Seperti yang dicerminkan oleh namanya, setiap musim hujan Kali Angke meluap dan menimbulkan banjir, khususnya pada hari-hari dengan curah hujan yang tinggi.

Baca Juga: Sungai Ciliwung, Sejarah dan Maknanya Bagi Warga Jakarta

Ekologi
Flora yang tumbuh di tepian Kali Angke di antaranya adalah rengas (Gluta renghas), pandan kapur (Pandanus tectorius), bambu tali (Bambusa vulgaris), putat (Planchonia valida).

Ada juga pulai (Alstonia scholaris), kecapi (Sandoricum koetjape), waru (Hibiscus tiliaceus) dan sebagainya.

Kali angke juga memiliki tempat bersejarah, salah satunya adalah Benteng Angke dibangun oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di sebelah barat kota Jakarta pada tahun 1657.

Benteng Angke dibangun di titik pertemuan Kali Mookervaart dan Kali Angke. Nama benteng ini sering ditulis dalam berbagai bentuk: Anké, Anckee, Anke, Ankee.

Esti Utami, dari berbagai sumber

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *