Tag: iran

  • Meski Tak Percaya pada Amerika Serikat, Iran Siap Menempuh Jalur Diplomasi

    Meski Tak Percaya pada Amerika Serikat, Iran Siap Menempuh Jalur Diplomasi

    7cloud.asia – Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (6/5/2026) mengatakan bahwa negaranya siap menempuh jalur diplomasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel.

    Namun, dalam pernyataan yang sama Masoud Pezeshkian menegaskan pihaknyaMasoud Pezeshkian akan menjaga hak-hak bangsa Iran.

    Dalam pembicaraan via telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Pezeshkian mengungkapkan ketidakpercayaan mendalam terhadap AS.

    Pezeshkian mengemukakan bahwa ketidakpercayaan itu merujuk pada tindakan permusuhan belum lama ini, termasuk dua serangan terhadap Iran di tengah pembicaraan bilateral.

    Baca: Donald Trump Tunda Pelaksanaan Project Freedom di Selat Hormuz

    Pezeshkian menggambarkan serangan ini sebagai “menusuk Iran dari belakang,” menurut pernyataan yang dipublikasikan di situs web kantornya.

    Pembicaraan telepon itu terjadi setelah Axios, sebelumnya pada hari yang sama melaporkan bahwa AS dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan berupa nota kesepahaman satu halaman untuk mengakhiri perang.

    Laporan itu menyebutkan bahwa kesepakatan kemungkinan akan mencakup komitmen Iran terhadap moratorium mengenai pengayaan nuklir,

    Sementara AS setuju mencabut sanksi, dengan kedua belah pihak sama-sama mencabut pembatasan terhadap pelayaran melintasi Selat Hormuz.

    Baca: Perundingan Damai Iran-AS Jalan di Tempat

    Iran, AS, dan Israel mencapai gencatan senjata pada 8 April, setelah 40 hari berperang yang dipicu oleh serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari.

    Setelah gencatan senjata tersebut, Iran dan AS menggelar satu putaran perundingan damai di Islamabad, ibu kota Pakistan, pada 11 dan 12 April, tetapi gagal menghasilkan kesepakatan.

    Selama beberapa pekan terakhir, kedua belah pihak saling mengajukan usulan rencana untuk mengakhiri perang, dengan rencana terbaru kini sedang ditinjau oleh Iran.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • Iran Siapkan UU Pungutan di Selat Hormuz

    Iran Siapkan UU Pungutan di Selat Hormuz

    7cloud.asia – Parlemen Iran sedang menyiapkan rancangan undang-undang (RUU) untuk mengatur pelayaran di Selat Hormuz, termasuk pungutan biaya melintas dan larangan bagi kapal AS dan Israel.

    “RUU terkait rezim hukum di Selat Hormuz telah siap,” kata Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, pada Jumat (8/5/2026), seperti dikutip kantor berita Fars.

    Ebrahim menambahkan bahwa RUU tersebut akan disahkan dalam sidang paripurna parlemen sebelum diserahkan kepada Dewan Wali untuk mendapatkan persetujuan.

    Komisi parlemen itu sebelumnya telah menyetujui rancangan awal UU tersebut, yang mengatur mekanisme pungutan di Selat Hormuz.

    Baca: Perundingan Damai Iran-AS Jalan di Tempat, Keselamatan Pelayaran di Selat Hormuz Jadi Taruhan

    RUU itu juga mencakup larangan melintas bagi kapal AS, Israel, dan negara-negara yang terlibat dalam kebijakan sanksi terhadap Iran.

    Bank sentral Iran juga disebut telah membuka empat rekening baru dalam mata uang rial Iran, yuan, dolar AS, dan euro, untuk menampung pembayaran pungutan di Selat Hormuz.

    Pada 28 Februari, AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan terhadap Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Serangan sepihak ini memicu serangan balasan dari Iran.

    Iran kemudian menutup Selat Hormuz dan mengancam akan menembak kapal yang nekad melintasi jalur utama minyak dunia itu tanpa seizin militer Iran.

    Baca: Meski Tak Percaya pada Amerika Serikat, Iran Siap Menempuh Jalur Diplomasi

    Pada 8 April, gencatan senjata disepakati dengan mediasi Pakistan, tetapi tahap pertama perundingan damai di Islamabad, Pakisatan pada 11 April gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang.

    Meski kedua pihak tak lagi saling serang, AS telah memblokade lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz.

    Pakistan sebagai mediator masih terus berupaya untuk memfasilitasi putaran baru perundingan antara AS dan Iran.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • Tanggapi Usulan AS, Iran Ajukan Syarat Akhiri Perang: Cabut Sanksi terhadap Iran dan Buka Selat Hormuz

    Tanggapi Usulan AS, Iran Ajukan Syarat Akhiri Perang: Cabut Sanksi terhadap Iran dan Buka Selat Hormuz

    7cloud.asia – Iran menyerukan diakhirinya perang, penghapusan sanksi, serta pencabutan blokade laut di Selat Hormuz, dalam tanggapannya terkait draf rencana perdamaian yang diajukan Amerika Serikat.

    Selain itu, Iran menolak proposal terbaru yang diajukan oleh pihak AS sebelumnya karena dianggap sama saja dengan mendesak Iran untuk menyerah. Presiden AS Donald Trump menyebut hal itu “sama sekali tidak dapat diterima.”

    Draf proposal terbaru Iran untuk perundingan dengan AS menyerukan penghentian segera konflik di Teluk Persia.

    Teheran juga mendesak adanya jaminan bahwa tidak akan ada lagi “agresi” terhadap Iran, dan pencabutan sanksi serta blokade laut AS, lapor kantor berita semi resmi Iran, Tasnim.

    “Proposal tersebut menyoroti perlunya segera mengakhiri perang, memberikan jaminan agar agresi terhadap Iran tidak terulang, dan beberapa isu lainnya dalam sebuah kesepakatan politik,” kata Tasnim dengan mengutip sumber yang mengetahui masalah itu.

    Baca: Perundingan Damai Iran-AS Jalan di Tempat, Keselamatan Pelayaran di Selat Hormuz Jadi Taruhan

    Proposal tersebut juga menuntut jangka waktu 30 hari untuk mencabut sanksi AS terhadap penjualan minyak Iran, dan pelepasan aset Iran yang dibekukan setelah kesepakatan awal, lapor Tasnim.

    “Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut sebagai ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya. SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” tulis Trump beberapa jam kemudian di platform media sosialnya pada Minggu, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

    Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran perlu “memperjelas” bahwa pihaknya tidak berupaya memiliki senjata nuklir, yang dipandang Washington sebagai hal krusial untuk mencapai kesepakatan perdamaian.

    Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak dilaporkan telah saling bertukar usulan rencana yang menguraikan syarat-syarat untuk mengakhiri konflik dengan dimediasi Pakistan.

    Baca: Iran Siapkan UU Pungutan di Selat Hormuz

    Gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai mulai berlaku pada 8 April, diikuti oleh perundingan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad, Pakistan, pada 11 dan 12 April yang berakhir tanpa kesepakatan.

    AS kemudian memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran di selat tersebut.

    AS dan Israel melakukan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lainnya di Iran pada 28 Februari, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat senior Iran dan warga sipil.

    Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan kepentingan AS di kawasan tersebut serta memperketat kendali atas Selat Hormuz.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • China dan AS Sepakati Agar Selat Hormuz Tetap Terbuka

    China dan AS Sepakati Agar Selat Hormuz Tetap Terbuka

    7cloud.asia – Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung kelancaran arus energi global.

    Demikian disebutkan dalam keterangan Gedung Putih pada Kamis usai pertemuan puncak AS-China di Beijing, Kamis (14/5/2026).

    NBC News mengutip pernyataan Gedung Putih, melaporkan bahwa kedua negara tampaknya lebih banyak membahas perang Iran dan situasi Selat Hormuz tanpa menyinggung isu Taiwan.

    Gedung Putih menyebut Xi menegaskan penolakan China terhadap militerisasi Selat Hormuz maupun upaya mengenakan biaya bagi kapal yang melintas di jalur tersebut.

    Baca: Inggris dan Prancis Jadi Tuan Rumah Konferensi Membahas Keamanan Selat Hormuz

    Xi juga menyatakan minat China untuk membeli lebih banyak minyak Amerika guna mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz di masa depan. Kedua negara juga sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

    Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump dan Xi juga membahas upaya memperkuat kerja sama ekonomi, termasuk perluasan akses pasar bagi perusahaan Amerika di China dan peningkatan investasi China di sektor industri AS.

    Trump dan Xi juga menyoroti pentingnya menghentikan aliran prekursor fentanyl ke AS serta meningkatkan pembelian produk pertanian Amerika oleh China.

    Baca: Iran Ajukan Syarat Akhiri Perang, yakni Cabut Sanksi terhadap Iran dan Buka Selat Hormuz

    Sementara itu, kantor berita pemerintah China Xinhua News Agency melaporkan bahwa Xi mengingatkan bahwa hubungan kedua negara dapat memicu bentrokan bahkan konflik jika isu Taiwan tidak ditangani dengan baik.

    Xi juga menegaskan hubungan ekonomi China dan AS bersifat saling menguntungkan dan dapat menghasilkan manfaat bagi kedua pihak.

    Menurut Xinhua, kedua negara sepakat membangun hubungan bilateral yang stabil dan konstruktif sebagai panduan hubungan strategis dalam tiga tahun ke depan dan seterusnya.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • AS Ajukan Proposal Perdamaian Berisi Lima Poin kepada Iran, Menolak Tuntutan Ganti Rugi

    AS Ajukan Proposal Perdamaian Berisi Lima Poin kepada Iran, Menolak Tuntutan Ganti Rugi

    7cloud.asia – Delegasi Amerika Serikat (AS) mengajukan proposal berisi lima poin sebagai tanggapan atas usulan perdamaian yang diajukan Iran, menurut laporan media Iran pada Ahad (17/5/2026).

    Sebelumnya pada Jumat, surat kabar Tehran Times melaporkan bahwa AS menolak proposal Iran yang berisi 14 poin untuk menyelesaikan konflik kedua negara.

    Presiden AS, Donald Trump menyebut respons terbaru Iran terhadap proposal AS sebelumnya sama sekali tidak bisa diterima.

    AS kini menuntut Iran mencabut tuntutan ganti rugi dan kompensasi serta menyerahkan 400 kilogram uranium yang telah diperkaya kepada AS.

    Baca: Maksimalisme Delegasi AS Jadi Pemicu Gagalnya Perundingan Damai Iran-AS

    Menurut laporan tersebut, hanya satu fasilitas nuklir Iran yang akan diizinkan tetap beroperasi. Selain itu, Iran juga diminta mencabut tuntutan pencairan 25 persen asetnya.

    Disebutkan pula, penghentian konflik akan bergantung pada hasil negosiasi atas persyaratan tersebut.

    Pada saat yang sama, kantor berita Fars melaporkan ancaman agresi lanjutan dari AS dan Israel terhadap Iran tetap ada meski Iran menerima seluruh tuntutan itu.

    Perundingan damai antara AS-Iran telah berlangsung sejak awal bulan April lalu, namun hingga kini belum mencapai kata sepakat

    Teheran menyebut, maksimalisme yang dituntutkan delegasi AS menjadi hambatan utama tercapainya kesepakatan damai antara AS-Iran.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik/RIA Novosti

  • Pakistan: AS dan Iran Akan Segera Menandatangani Kesepakatan Sementara

    Pakistan: AS dan Iran Akan Segera Menandatangani Kesepakatan Sementara

    7cloud.asia – Pakistan meyakini Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik di Teluk Persia

    Sejumlah sumber pemerintah Pakistan yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan, kesepakatan dapat tercapai paling cepat pekan ini.

    Antaranews.com mengutip Anadolu melaporkan, kedua belah pihak hanya masih berbeda pendapat mengenai beberapa isu operasional.

    “Ini bukan semacam kebuntuan,” ujar salah satu sumber seraya menyebut kedua pihak pada prinsipnya telah menyepakati rancangan kesepakatan “satu halaman” sambil terus melanjutkan pembahasan mengenai masalah operasional terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

    Menurut sumber tersebut, perbedaan yang tersisa berkaitan dengan implementasi, bukan prinsip politik yang lebih luas.

    “Perselisihan utama saat ini adalah keberadaan militer pasukan AS di dekat perairan teritorial Iran bahkan setelah blokade berakhir,” kata salah satu sumber.

    Sumber itu menambahkan bahwa Washington ingin mempertahankan kehadiran militer di kawasan, sementara “Teheran menginginkan situasi seperti sebelum perang.”

    Sumber-sumber tersebut mengatakan Pakistan bersama mediator regional tengah mencari formula kompromi untuk menjembatani perbedaan yang masih ada.

    Baca: Iran Resmi Bentuk Badan Khusus untuk Kelola Selat Hormuz

    Niat baik dan komitmen semua pihak
    Sebelumnya pada Senin, (25/5/2026) Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan Teheran dan Washington telah mencapai kesimpulan atas “sebagian besar” isu yang dibahas.

    Namun, Esmaeil Baqaei mengingatkan agar tidak menganggap kesepakatan sudah dekat.

    “Benar jika dikatakan bahwa kami telah mencapai kesimpulan atas sebagian besar isu yang dibahas,” kata Baqaei kepada wartawan di Teheran.

    “Namun untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan kesepakatan akan segera dilakukan, tidak seorang pun dapat membuat klaim seperti itu,” tambahnya.

    Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan pada Senin bahwa kemungkinan akan ada perkembangan dalam perundingan dalam waktu dekat.

    “Pekerjaan masih berlangsung. Kami pikir mungkin ada kabar tadi malam, mungkin hari ini …,” kata Rubio kepada wartawan di New Delhi.

    Sumber Pakistan mengatakan kedua pihak kemungkinan pada akhirnya akan mencapai kesepakatan sementara “cepat atau lambat,” namun memperingatkan bahwa mempertahankan kesepakatan tersebut dapat menjadi jauh lebih sulit.

    Baca: Maksimalisme Delegasi AS Jadi Pemicu Gagalnya Perundingan Damai Iran-AS

    Mereka mengatakan tahap kedua perundingan kemungkinan akan membahas isu-isu yang lebih sensitif dan kompleks secara teknis, termasuk program nuklir Iran, pengelolaan persediaan uranium yang diperkaya, dan pengaturan jangka panjang terkait Selat Hormuz.

    Sumber tersebut menyebut pencapaian kesepakatan atas persoalan yang “sangat kompleks” seperti isu nuklir tidak akan menjadi “hal yang mudah.”

    Mereka menambahkan bahwa para mediator telah mengusulkan beberapa kerangka kemungkinan untuk menangani isu nuklir, termasuk model serupa Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) dan mekanisme pengawasan pihak ketiga yang melibatkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

    “Penyelesaian isu-isu kompleks seperti ini selalu membutuhkan niat baik dan komitmen dari semua pihak,” kata salah satu sumber.

    Ketegangan kawasan meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada Februari.

    Teheran kemudian membalas dengan serangan yang menargetkan Israel serta sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, disertai penutupan Selat Hormuz.

    Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan dan kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Iran Resmi Tetapkan Kendali Permanen Atas Selat Hormuz

    Iran Resmi Tetapkan Kendali Permanen Atas Selat Hormuz

    7cloud.asia – Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi menyatakan bahwa pihaknya telah menetapkan kendali permanen atas pelayaran di Selat Hormuz.

    “Saat ini, Iran mengelola selat tersebut sesuai dengan aturan dan mekanismenya sendiri. Tentu saja, penetapan kendali Iran dan penerapan mekanisme pengelolaannya bersifat permanen, bukan sementara,” tegas Azizi kepada RIA Novosti.

    Dia mengatakan Amerika Serikat harus meninggalkan khayalannya bahwa langkah-langkah Iran terkait Selat Hormuz bersifat lokal atau jangka pendek.

    “Negara-negara kawasan juga harus menerima kenyataan ini dan bertindak sesuai dengan aturan Iran,” ujar Azizi.

    Terpisah, rencana Tehran memungut tarif hingga 2 juta dolar atau sekitar Rp35,7 miliar kepada kapal yang melintas di Selat Hormuz memicu penolakan luas dari berbagai negara.

    Amerika Serikat (AS) hingga China dilaporkan sepakat menentang kebijakan tersebut karena dianggap melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas energi global.

    Baca: Iran Resmi Bentuk Badan Khusus untuk Kelola Selat Hormuz

    Seperti diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur energi paling vital di dunia. Sebelum perang Iran pecah, sekitar seperlima konsumsi minyak dan gas dunia melewati kawasan sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu.

    Iran menutup Selat Hormuz, setelah serangan sepihak yang dilancarkan AS dan Israel ke wilayahnya pada akhir Februari lalu.

    Teheran berdalih pungutan tersebut merupakan biaya reparasi perang akibat serangan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus pembayaran jasa keamanan, perlindungan lingkungan, dan layanan navigasi.

    Iran bahkan disebut tengah menyiapkan protokol bersama Oman yang mewajibkan kapal memperoleh izin sebelum melintas. Namun, langkah itu langsung memicu kritik keras.

    Lembaga kajian Institute for the Study of War (ISW) menyebut kebijakan tersebut sebagai praktik “pemerasan maritim”.

    Penolakan dunia terhadap Iran bukan tanpa alasan. Pakar maritim menilai Selat Hormuz berbeda dengan kanal buatan seperti Terusan Suez atau Terusan Panama yang memang dibangun dan dikelola negara tertentu.

    Baca: China dan AS Sepakati Agar Selat Hormuz Tetap Terbuka

    Dalam hukum internasional, Selat Hormuz masuk kategori selat alami internasional yang diatur dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

    Aturan tersebut memberikan hak lintas transit bagi kapal dan pesawat dari seluruh negara tanpa boleh dihambat negara pesisir. Artinya, kapal berhak melintas tanpa harus membayar tarif transit penuh ataupun meminta izin khusus selama tidak berhenti dan tidak mengganggu keamanan.

    Negara pesisir hanya diperbolehkan mengenakan pungutan layanan terbatas seperti jasa pandu kapal atau bantuan navigasi. Karena itu, banyak negara menilai Iran tidak memiliki dasar hukum untuk menarik biaya transit miliaran rupiah dari kapal internasional.

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menegaskan Selat Hormuz harus tetap menjadi perairan internasional yang bebas dilalui siapa pun.

    “Selat itu akan terbuka untuk semua pihak. Itu adalah perairan internasional,” kata Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih.

    Washington juga memperingatkan perusahaan pelayaran agar tidak membayar pungutan tersebut karena berpotensi terkena sanksi sekunder AS akibat dianggap bertransaksi dengan Iran.

    Di tengah memanasnya situasi, AS dan PBB kini mulai menyiapkan skema perlindungan pelayaran pascaperang, termasuk patroli multinasional dan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz.

    Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

  • Ikuti Perintah Trump, Pasukan AS Serang Iran Lagi

    Ikuti Perintah Trump, Pasukan AS Serang Iran Lagi

    7cloud.asia – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangkaian “serangan membela diri tambahan” terhadap sejumlah sasaran di Iran pada Rabu (10/06/2026) berdasarkan arahan Presiden Donald Trump.

    “Pasukan Komando Pusat AS melancarkan serangan membela diri tambahan pada hari ini pukul 17:15 waktu AS timur (04:15 WIB) terhadap sejumlah sasaran di Iran atas instruksi Panglima Tertinggi,” kata CENTCOM melalui media sosial X.

    “Serangan tersebut adalah untuk merespons agresi Iran yang tak beralasan dan terus berlanjut,” menurut militer AS itu.

    Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, rencana serangan militer AS terhadap Iran akan difokuskan pada “fasilitas kunci” di Iran, sembari memperingatkan bahwa operasi yang akan dilakukan dalam waktu dekat tersebut akan “kuat dan jelas”.

    Baca: Iran dan Oman akan Kelola Bersama Selat Hormuz

    “Komando Pusat AS akan sibuk malam ini karena Presiden Trump berkata kita akan menghantam Iran dengan keras, dan kita akan melakukannya,” ucap Hegseth kepada wartawan di Pangkalan Udara MacDill di Tampa, Florida.

    Keputusan Trump untuk melakukan eskalasi serangan terhadap Iran dilakukan menyusul penembakan sebuah helikopter Apache AS oleh Iran awal pekan ini.

    Adapun ketegangan kawasan yang bermula pada 28 Februari setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran tersebut telah memicu serangkaian konfrontasi militer, saling balas serangan, dan ketegangan diplomatik.

    (Sumber: Antara/Anadolu)

     

  • Iran dan AS Hampir Mencapai Kesepakatan

    Iran dan AS Hampir Mencapai Kesepakatan

    7cloud.asia – Iran dan Amerika Serikat (AS) kini berada pada tahap paling dekat untuk mencapai kesepakatan sejak perundingan dimulai, kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

    “Nota Kesepahaman Islamabad kini berada pada tahap yang paling dekat untuk disepakati,” kata Araghchi melalui platform X, Jumat (12/6/2026).

    Ia meminta media untuk tidak berspekulasi mengenai isi kesepakatan tersebut selama proses finalisasi masih berlangsung.

    “Sesuai pendekatan kami yang bertanggung jawab dan transparan, seluruh rinciannya akan diumumkan kepada publik pada waktunya,” kata Araghchi.

    Baca: Iran Ajukan Syarat Ini untuk Akhiri Perang dengan AS

    Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan ketentuan kesepakatan yang dipublikasikan oleh media Iran tidak mencerminkan isi dokumen yang sebenarnya telah disepakati kedua pihak.

    “Ketentuan-ketentuan yang dibocorkan Iran kepada media adalah berita palsu dan sama sekali tidak berkaitan dengan ketentuan yang telah disepakati secara tertulis,” tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social.

    Wakil Presiden AS J.D. Vance juga membantah klaim bahwa dana Iran yang dibekukan akan dicairkan hanya karena Iran-AS menandatangani nota kesepahaman.

    “Saya melihat banyak informasi palsu mengenai kemungkinan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri program senjata nuklir Iran,” kata Vance melalui X.

    Baca: Iran Resmi Tetapkan Kendali Permanen Atas Selat Hormuz

    “Pertama, pihak Iran tidak akan menerima uang tunai apa pun dan tidak ada dana yang akan dicairkan hanya karena menandatangani kesepakatan atau menghadiri pertemuan,” katanya.

    Sebelumnya, kantor berita semi-resmi Iran Mehr melaporkan dengan mengutip draf nota kesepahaman mengenai penyelesaian konflik.

    Menurut laporan tersebut, Iran tidak akan memulai perundingan terkait program nuklirnya hingga AS memenuhi sejumlah syarat.

    Syarat itu antara lain membebaskan setengah dari dana Iran yang dibekukan senilai sekitar 12 miliar dolar AS (sekitar Rp213,4 triliun), menangguhkan sanksi minyak, serta mencabut blokade laut.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • Ketika Sepeda Menjadi Jalan Arezoo Menyebarkan Pesan Persahabatan

    Ketika Sepeda Menjadi Jalan Arezoo Menyebarkan Pesan Persahabatan

    7cloud.asia – Bagi sebagian orang, sepeda mungkin hanya alat transportasi. Namun bagi Arezoo Eskandari, kendaraan dua roda ini menjadi jalan panjang untuk membawa pesan tentang perdamaian, persahabatan, dan hubungan antarmanusia.

    Perempuan asal Kota Esfahan, Iran itu mengayuh sepeda melintasi berbagai negara di Asia selama tujuh bulan. Ribuan kilometer ia tempuh seorang diri, menghadapi berbagai medan, budaya, hingga tantangan sebagai seorang perempuan yang melakukan perjalanan panjang tanpa pendamping.

    Arezoo tiba di Jakarta pada Sabtu (6/6/2026). Kedatangannya bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan bagian dari misi pribadi untuk menunjukkan bahwa perbedaan negara, bahasa, dan budaya bukan penghalang untuk saling mengenal.

    Baca: Mengenal Sosok Ulama Hamka Lewat Film

    Perjalanan panjang itu dimulai ketika ia terbang dari Iran menuju negara awal rutenya. Dari sana, petualangan dengan sepeda dimulai.

    “China menjadi bagian tersulit karena itu negara pertama dalam perjalanan ini. Saya baru memulai dan harus beradaptasi dengan banyak hal. Selain itu, tidak banyak warga lokal yang bisa berbahasa Inggris sehingga komunikasi menjadi tantangan tersendiri,” jelas Arezoo saat berbincang dengan media di Jakarta, Senin (8/6/2026).

    Keputusan Arezoo untuk meninggalkan rutinitas bukan hal mudah. Sebelum memulai perjalanan, psikolog ini bekerja di perusahaan swasta.

    Namun demi mengejar impiannya menjelajah dunia dengan sepeda, ia memilih keluar dari pekerjaannya bahkan rela menjual mobilnya sebagai modal dalam perjalanannnya.

    Baca: Ketidakharmonisan Keluarga Picu Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

    Pilihan tersebut sempat membuat banyak orang bertanya. Termasuk keluarganya yang perlu bertahun-tahun untuk meyakinkan mereka. Apalagi ia menjalankan perjalanan ribuan kilometer itu seorang diri sebagai perempuan berusia 35 tahun.

    Namun Arezoo percaya, banyak ketakutan manusia sebenarnya muncul dari batasan yang diciptakan oleh pikiran sendiri.

    “Banyak ketakutan sebenarnya berasal dari persepsi dan batasan yang kita buat sendiri,” katanya.

    Di sepanjang perjalanan, Arezoo harus berhadapan dengan berbagai situasi yang tidak selalu mudah. Salah satunya adalah menentukan tempat beristirahat. Sebagai perempuan yang bepergian sendiri, ia harus lebih berhati-hati memilih lokasi aman untuk mendirikan tenda.

    Baca: Kwik Kian Gie, Ekonom Kritis yang Tak Mudah Terbeli

    Keterbatasan biaya membuatnya lebih sering bermalam di alam terbuka dibandingkan hotel. Ia juga memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran.

    Sepeda yang menjadi teman perjalanannya pun tidak dalam kondisi ringan. Berbagai perlengkapan berkemah, alat memasak, dan kebutuhan harian membuat beban yang dibawa mencapai sekitar 60 kilogram.

    Setiap hari, Arezoo rata-rata mengayuh sejauh 50 hingga 70 kilometer. Jarak yang bagi kendaraan bermotor hanya membutuhkan waktu singkat, bagi Arezoo menjadi perjalanan panjang yang harus dilalui dengan kesabaran.

    “Mobil bisa menempuh 100 kilometer dalam waktu sekitar satu jam. Saya hanya bisa menempuh sekitar 15 kilometer per jam karena menggunakan sepeda dan membawa beban yang berat,” ungkapnya.

    Baca: Presiden Iran, Ebrahim Raisi Meninggal

    Tantangan lain muncul ketika sepeda mengalami masalah, seperti ban bocor. Di negara yang baru dikunjungi, ia harus mencari bengkel atau bantuan dari orang-orang yang sebelumnya tidak ia kenal.

    Namun di balik semua tantangan itu, ada satu hal yang paling ia rindukan selama tujuh bulan jauh dari rumah.

    “Keluarga, terutama pelukan ibu,” kata Arezoo. Kerinduan itu terasa semakin berat ketika komunikasi dengan keluarga sempat terputus akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

    Saat itu, Arezoo mengaku sempat berada dalam situasi emosional karena harus menghadapi keadaan tersebut sendirian.

    “Itu salah satu momen yang sulit karena saya harus menjalani semuanya sendirian. Sekarang saya bersyukur komunikasi sudah kembali lancar,” katanya.

    Baca: Mengenal Mia Khalifa, Model Majalah Playboy yang Bela Palestina

    Meski perjalanan ini penuh tantangan, Arezoo menganggap setiap kilometer yang ditempuh membawa pelajaran berharga. Baginya, perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga proses mengenal diri sendiri.

    “Perjalanan ini membuat saya menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih menghargai waktu yang sedang saya jalani,” ujarnya.

    Melalui kayuhan panjangnya, Arezoo ingin menyampaikan pesan sederhana, terutama kepada perempuan dan anak-anak perempuan agar tidak ragu mengejar impian. “Jangan takut untuk bermimpi dan mengejar impian kalian,” pesan Arezoo.