7cloud.asia – Parlemen Iran sedang menyiapkan rancangan undang-undang (RUU) untuk mengatur pelayaran di Selat Hormuz, termasuk pungutan biaya melintas dan larangan bagi kapal AS dan Israel.
“RUU terkait rezim hukum di Selat Hormuz telah siap,” kata Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, pada Jumat (8/5/2026), seperti dikutip kantor berita Fars.
Ebrahim menambahkan bahwa RUU tersebut akan disahkan dalam sidang paripurna parlemen sebelum diserahkan kepada Dewan Wali untuk mendapatkan persetujuan.
Komisi parlemen itu sebelumnya telah menyetujui rancangan awal UU tersebut, yang mengatur mekanisme pungutan di Selat Hormuz.
Baca: Perundingan Damai Iran-AS Jalan di Tempat, Keselamatan Pelayaran di Selat Hormuz Jadi Taruhan
RUU itu juga mencakup larangan melintas bagi kapal AS, Israel, dan negara-negara yang terlibat dalam kebijakan sanksi terhadap Iran.
Bank sentral Iran juga disebut telah membuka empat rekening baru dalam mata uang rial Iran, yuan, dolar AS, dan euro, untuk menampung pembayaran pungutan di Selat Hormuz.
Pada 28 Februari, AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan terhadap Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Serangan sepihak ini memicu serangan balasan dari Iran.
Iran kemudian menutup Selat Hormuz dan mengancam akan menembak kapal yang nekad melintasi jalur utama minyak dunia itu tanpa seizin militer Iran.
Baca: Meski Tak Percaya pada Amerika Serikat, Iran Siap Menempuh Jalur Diplomasi
Pada 8 April, gencatan senjata disepakati dengan mediasi Pakistan, tetapi tahap pertama perundingan damai di Islamabad, Pakisatan pada 11 April gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Meski kedua pihak tak lagi saling serang, AS telah memblokade lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz.
Pakistan sebagai mediator masih terus berupaya untuk memfasilitasi putaran baru perundingan antara AS dan Iran.
Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

Leave a Reply