Tag: palestina

  • KTT OKI Lahirkan Resolusi Kecam Genosida di Gaza, Pengamat Nilai Upaya OKI untuk Palestina Belum Optimal

    KTT OKI Lahirkan Resolusi Kecam Genosida di Gaza, Pengamat Nilai Upaya OKI untuk Palestina Belum Optimal

    7cloud.asia – Konferensi Tingkat Tinggi Konferensi Negara-negara Islam atau KTT OKI diBanjul, Gambia, ditutup Minggu (5/5/2024) waktu setempat dengan menghasilkan resolusi yang mengecam genosida di Gaza.

    Dipantau dari Youtube CNBC, Resolusi OKI itu juga mendesak 57 negara Islam anggotanya untuk menjatuhkan sanksi kepada Israel, termasuk tekanan baik politik, hukum maupun ekonomi untuk mencegah genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina.

    Resolusi KTT OKI ini juga menyerukan segera dilakukannya gencatan senjata permanen tanpa syarat di Gaza.

    Terpisah, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi menilai upaya negara-negara OKI dalam membela Palestina belum optimal.

    Hal tersebut, lanjutnya, disebabkan oleh perbedaan sikap di antara ngara-negara anggota OKI sehingga respons untuk dapat menghentikan peperangan tidak bisa kompak.

    “Mereka mencoba untuk melakukan pendekatan ke negara-negara lain agar bisa memberikan tekanan kepada Israel, tapi tidak berhasil. Usulan Iran agar menggunakan sumberdaya minyak yang dimiliki anggota OKI guna menekan Israel juga tidak diakomodasi,” ujar Yon kepada VOA, Senin (6/5/2024).

    Baca: Indonesia ingatkan OKI berutang membebaskan Palestina dari pendudukan Israel

    Menurut Yon, OKI harus kembali pada pertemuan terakhir yang memberi mandat kepada enam negara untuk bisa berupaya menghentikan agresi Israel ke Gaza.

    Dia mengatakan mandat itu harus dievaluasi dan apa langkah selanjutnya yang dilakukan oleh OKI dalam menghadapi rencana Israel menginvasi Rafah.

    Indonesia Siap Suarakan Keadilan bagi Palestina di Mahkamah Internasional
    Dia mengakui negara-negara OKI, terutama negara Arab, terpecah dalam hal menyikapi kemerdekaan Palestina.

    Ketika mereka melakukan normalisasi hubungan dengan israel artinya mereka sudah tidak komitmen lagi terhadap visi dan tujuan dari pendirian OKI.

    Di samping itu, salah satu asas pendirian Liga Arab adalah mencegah berdirinya negara Israel. Namun kenyatannya, banyak dari negara Arab bekerja sama dengan Israel dan kurang memberikan dukungan kepada Palestina.

    Yon memandang momentum saat ini tepat untuk mengukuhkan kembali bahwa tidak akan ada pengakuan terhadap Israel sebelum Palestina merdeka.

    Baca: Arab Saudi tak akan akui Israel jika tak ada pengakuan terhadap Palestina

    Bagi negara-negara OKI yang sudah menjalin hubungan diplomatik, bisa mengancam Israel untuk mengevaluasi relasi mereka.

    Jika mereka memilih mempertahankan hubungan, maka negara-negara OKI yang bersangkutan harus dibuktikan dengan mempercepat upaya terwujudnya kemerdekaan Palestina secara serius.

    Hal ini penting agar mereka tidak dianggap berkhianat terhadap rakyat Palestina.

    Dia melihat Palestina bukan menjadi agenda bagi negara-negara yang membina hubungan resmi dengan Israel. Negara-negara tersebut lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka dalam konteks kerja sama ekonomi dan pertahanan dengan Israel.

    Negara-negara yang memiliki relasi resmi dengan Israel memandang Israel dengan dukungan Amerika Serikar (AS) bisa memperkuat sistem pertahanan mereka.

    Di samping itu, lanjut Yon, secara realistis mereka melihat kerjasama dengan Israel tidak harus diikuti dengan persyaratan negara Palestina.

    Baca: Uni Eropa pengakuan terhadap negara Palestina kunci keamanan Israel

    Karena itu, Yon menilai dukungan negara-negara Arab terhadap perjuangan bangsa Palestina sudah memudar karena kepentingan nasional mereka.

    Sedangkan Indonesia menjadi negara yang paling vokal dalam menyuarakan isu kemerdekaan Palestina.

    Dia menegaskan negara-negara Arab tersebut seharusnya malu kepada Indonesia, secara geografis jauh dari Palestina, tapi mendukung Palestina untuk merdeka.

    Dia mengharapkan negara-negara OKI yang memiliki sumber daya minyak menggunakan sumber dayanya itu untuk melakukan tekanan secara global.

    Yon mencontohkan membatasi produksi minyak sebagai tekanan terhadap negara-negara pendukung Israel merupakan upaya yang efektif.

    Hasbi Aswar, pengajar hubungan internasional di Universitas Islam Indonesia mengatakan OKI memang memiliki komitmen secara lisan untuk terus membela Palestina.

    Baca:Mungkinkah-mewujudkan-Palestina-merdeka-dan-berdaulat

    Namun secara praktis, komitmen tersebut sulit dilaksanakan karena masing-masing anggota OKI memiliki kepentingan berbeda.

    Hal itulah menyebabkan OKI bersikap lamban dan tidak efektif dalam menangani isu Palestina.

    Dalam kondisi saat ini, OKI harus mengambil upaya-upaya diplomatik yang lebih kuat dalam menekan Israel untuk menghentikan agresi militernya di Gaza.

    Dia mencontohkan negara-negara Arab bisa melarang wilayahnya digunakan untuk lalu lintas barang dan jasa sebagai salah satu upaya menekan Israel.

    Menurut Hasbi, negara-negara Arab dan OKI harus satu kompak dalam menyuarakan secara lantang di berbagai forum bahwa Palestina berhak untuk merdeka.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    7cloud.asia – Serangan darat yang dilakukan pasukan Israel akan menimbulkan ‘risiko bencana’ bagi ratusan ribu anak yang selama ini berlindung di Rafah, Gaza Selatan.

    Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNICEF merilis pernyataan tersebut pada Senin (6/5/2024), setelah Israel memerintahkan evakuasi di beberapa lingkungan di Rafah menjelang kemungkinan invasi darat.

    “Rafah sekarang menjadi kota anak-anak yang tidak punya tempat aman untuk dikunjungi di Gaza,” kata Catherine Russell, direktur eksekutif UNICEF.

    “Jika operasi militer skala besar dimulai di Rafah, anak-anak tidak hanya akan berisiko terkena kekerasan, tapi juga kekacauan dan kepanikan, dan pada saat kondisi fisik dan mental mereka sudah melemah,” tambahnya.

    Baca Juga: KTT OKI Lahirkan Resolusi Kecam Genosida di Gaza, Pengamat Nilai Upaya OKI untuk Palestina Belum Optimal

    UNICEF mengatakan anak-anak di Rafah tidak boleh direlokasi secara paksa, dan infrastruktur serta bantuan yang mereka andalkan harus dilindungi.

    Kebanyakan anak-anak di Rafah terluka, sakit, kekurangan gizi, trauma atau hidup dengan disabilitas.

    Menyusul perintah evakuasi pada Oktober untuk pindah ke selatan, diperkirakan 1,2 juta warga Palestina berlindung di Rafah, yang dulunya merupakan rumah bagi sekitar 250 ribu orang.

    Sekitar setengah dari populasi Rafah adalah anak-anak, banyak di antaranya telah berulang kali menjadi pengungsi.

    Baca Juga: Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    Chaterine mengatakan, anak-anak ini terpaksa berlindung di tenda-tenda dan perumahan yang tidak stabil.

    Anak-anak, ujarnya, lebih rentan terhadap dampak perang di Jalur Gaza dibandingkan orang dewasa.

    UNICEF mengatakan jumlah mereka yang terbunuh dan terluka sangatlah banyak dan menderita lebih parah akibat gangguan terhadap layanan kesehatan, pendidikan dan akses terhadap makanan dan air.

    Sumber:VOAIndonesia

  • UNRWA: 80.000 Warga Palestina Tinggalkan Rafah Sejak Invasi israel

    UNRWA: 80.000 Warga Palestina Tinggalkan Rafah Sejak Invasi israel

    7cloud.asia – Badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina, UNRWA, Kamis (9/5/2024) mengatakan bahwa sekitar 80 ribu orang telah mengungsi dari Rafah sejak Israel meningkatkan operasinya pada Senin (6/5/2024).

    “Apa yang dialami keluarga-keluarga ini tidak tertahankan. Tidak ada tempat yang aman,” tulis UNRWA di X.

    Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, Kamis (9/5/2024) mengatakan bahwa militer Israel “akan terus memerangi Hamas hingga kehancurannya.”

    Pernyataannya disampaikan sehari setelah Presiden AS Joe Biden mengatakan AS tidak akan memberikan senjata ofensif kepada Israel untuk digunakan di Rafah, sambil menyatakan komitmen terhadap pertahanan Israel.

    Baca Juga: Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    Langkah itu diambil setelah para pejabat AS berpekan-pekan menyatakan tentangan terhadap rencana Israel melakukan ofensif di Rafah.

    Sementara itu para pejabat Israel mengatakan perlunya melakukan operasi di kota itu untuk mencapai target mengalahkan Hamas dan memastikan pembebasan para sandera yang ditawan di Gaza.

    Para saksi mata melaporkan Israel hari Kamis (9/5/2024) menggempur Rafah, sementara militer Israel melaporkan pihaknya menyerang posisi-posisi Hamas di Gaza Tengah.

    Para pejabat PBB menyatakan kekhawatiran mengenai pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk bahan bakar, di tengah-tengah serangan Israel di kawasan Rafah.

    Baca Juga: 12 Relawan MER-C Masih Terjebak di Rafah Saat Israel Lancarkan Serangan

    Rafah adalah penyeberangan utama untuk membawa masuk bantuan dari Mesir, sementara penyeberangan di dekatnya, Kerem Shalom, memungkinkan pengiriman bantuan itu dari Israel ke Gaza Selatan.

    Militer Israel, Rabu (8/5/2024) mengatakan telah membuka kembali pos penyeberangan Kerem Shalom.

    Namun, PBB mengatakan belum ada bantuan kemanusiaan yang sudah masuk wilayah Palestina karena tak seorang pun yang hadir untuk menerimanya. Para pekerja meninggalkan daerah itu sebelumnya karena serangan Israel di dekatnya.

    Penyeberangan Kerem Shalom ditutup akhir pekan lalu setelah serangan roket Hamas menewaskan empat tentara Israel.

    Baca Juga: Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    Pada hari Selasa, satu brigade tank Israel merebut penyeberangan Rafah yang berada di antara Gaza dan Mesir, yang juga memaksa penutupannya.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sekitar 1,2 juta orang berlindung di Rafah, dan lebih dari setengahnya adalah anak-anak.

    Banyak dari mereka berasal dari daerah-daerah lain di Gaza yang mengungsi untuk mencari keselamatan dan perlindungan, sewaktu serangan Israel terhadap Hamas menyebabkan sebagian besar Jalur Gaza hancur.

    Perang Israel-Hamas dipicu oleh serangan Hamas 7 Oktober lalu di Israel Selatan yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan sekitar 250 orang disandera, menurut para pejabat Israel.

    Baca Juga: Di Tengah Ancaman Serangan ke Rafah, Optimisme Warnai Perundingan Israel-Hamas di Kairo, Mesir

    Sekitar 100 sandera telah dibebaskan dalam gencatan senjata sepekan pada akhir November 2023 lalu.

    Serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 34.900 orang Palestina, sekitar dua per tiganya adalah perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan di Gaza.

    Militer Israel mengatakan korban tewas mencakup ribuan anggota Hamas yang dibunuhnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Unjukrasa Pro-Palestina Tolak Keikutsertaan Israel di Kompetisi Lagu Pop Eurovision di Malmo, Swedia

    Unjukrasa Pro-Palestina Tolak Keikutsertaan Israel di Kompetisi Lagu Pop Eurovision di Malmo, Swedia

    7cloud.asia – Ribuan demonstran pro-Palestina pada Kamis (9/5/2024) turun ke jalan-jalan di Malmo, Swedia untuk menentang keikutsertaan Israel dalam kompetisi lagu pop Eurovision.

    Para pengunjukrasa memadati Lapangan Stortorget yang bersejarah, di dekat balai kota Malmo yang sudah berdiri sejak abad ke-16 tersebut.

    Mereka melambai-lambaikan bendera Palestina yang berwarna hijau, putih dan merah. Mereka melanjutkan perjalanan ke pusat kota, beberapa kilometer dari lokasi penyelenggaraan kontes Eurovision.

    Sebagian demonstran menyalakan suar asap yang berwarna hijau, putih dan merah sambil meneriakkan slogan “from the river to the sea, Palestine will be free!” dan “Israel adalah negara terror!”

    Para demonstran juga menyerukan gencatan senjata segera di Gaza.

    Baca Juga: UNRWA: 80.000 Warga Palestina Tinggalkan Rafah Sejak Invasi israel

    Polisi dalam jumlah besar tampak berjaga-jaga di setiap sudut kota, sementara helikopter berputar-putar di atas lokasi demonstrasi. Sejumlah personil aparat keamanan tampak mengamati dengan teropong dari atap-atap gedung.

    “Eurovision dilangsungkan di Malmo dan Israel ikut serta, kami kira ini salah. Israel tidak boleh diizinkan ikut kompetisi ini, sebagaimana larangan yang diberlakukan terhadap Rusia.

    ”Kita harus memprotes hal ini demi kemanusiaan, demi warga Palestina di sana,” ujar salah seorang demonstran, Lorenzo Mayr.

    Para demonstran mengecam keras keputusan penyelenggara Eurovision yang tetap mengizinkan Israel berkompetisi, dengan mengatakan Rusia dikeluarkan dari Eurovision pada tahun 2022 setelah invasi besar-besaran ke Ukraina.

    Setahun kemudian Belarusi juga dikeluarkan karena tindakan keras pemerintahnya terhadap perbedaan pendapat di negara itu.

    Baca Juga: Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    Perang Israel-Hamas yang telah menewaskan hampir 35.000 warga Palestina, sangat kontras dengan situasi di Malmo jelang Eurovision.

    Para penggemar musik dengan pakaian berpayet warna-warni atau berbalut bendera nasional mereka berbaur di jalanan dengan para pendukung perjuangan Palestina yang mengenakan syal keffiyeh.

    Bendera-bendera Palestina berkibar dari jendela dan balkon di sepanjang jalan raya untuk pejalan kaki yang untuk sementara waktu dinamai “Jalan Eurovision.”

    Kelompok-kelompok pro-Palestina berencana menggelar demonstrasi besar-besaran kembali pada hari Sabtu (11/5/2024) saat final Eurovision berlangsung.

    Pemerintah Israel telah memperingatkan warga negaranya tentang “kekhawatiran nyata” bahwa mereka dapat menjadi target serangan di Malmo selama acara itu.

    Baca Juga: KTT OKI Lahirkan Resolusi Kecam Genosida di Gaza, Pengamat Nilai Upaya OKI untuk Palestina Belum Optimal

    Penyelenggara kontes, yang berusaha menjaga agar Eurovision tetap menjadi acara nonpolitik, telah menolak seruan untuk melarang Israel atas perangnya melawan Hamas.

    Namun mereka meminta Israel untuk mengubah lirik lagu yang diikutsertakan, yang awalnya berjudul “October Rain” – yang merujuk pada serangan Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan memicu perang.

    Lagu tersebut kemudian diubah menjadi “Hurricane” dan penyanyi Israel Eden Golan diizinkan untuk tetap mengikuti kontes tersebut. Ia bertanding di babak semifinal pada Kamis.

    Sebagian penonton yang menghadiri gladi resik pada hari Rabu (8/5/2024) terdengar mencemooh penampilan Golan.

    Sumber;vOAIndonesia

  • Pasukan Israel Mulai Masuk ke Pusat Kota Rafah

    Pasukan Israel Mulai Masuk ke Pusat Kota Rafah

    7cloud.asia – Tank-tank Israel pada Selasa (14/5) bergerak menuju pusat Rafah, kota di ujung selatan Jalur Gaza, sementara puluhan ribu warga mengungsi untuk menghindari serangan darat Israel, lapor sumber setempat.

    Sumber menjelaskan kepada Xinhua bahwa tank-tank itu telah mencapai wilayah permukiman Al-Geneina dan bergerak menuju pusat kota “di tengah gempuran tembakan senjata berat.”

    Setelah Rafah dihujani pengeboman udara dan artileri yang intensif malam sebelumnya, gerak maju tank-tank Israel ke daerah itu menandai perluasan operasi darat yang dimulai oleh militer Israel di wilayah timur Rafah beberapa hari lalu, imbuhnya.

    Dalam sebuah pernyataan pers gabungan, sayap militer Hamas Brigade Al-Qassam dan sayap militer gerakan Jihad Islam Palestina Brigade Al-Quds mengumumkan bahwa pejuang mereka telah menggempur pasukan Israel di Rafah.

    Baca: Lebih dari 15 ribu anak tewas akibat serangan Israel

    Para sayap militer itu mengeklaim bahwa mereka telah “menghancurkan sebuah kendaraan pengangkut pasukan dengan sebuah granat di wilayah permukiman Al-Salam, sebelah timur Kota Rafah.”

    Dalam sebuah pernyataan terpisah, Brigade Al-Quds menambahkan bahwa pihaknya telah menggempur tentara dan kendaraan Israel di dekat perlintasan Rafah menggunakan peluru mortir.

    Hampir 450.000 orang telah diungsikan secara paksa dari Rafah sejak 6 Mei, kata Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) melalui pernyataan pada Selasa.

    “Orang-orang terus-menerus mengalami kelelahan, kelaparan, dan ketakutan. Tidak ada tempat yang aman. Gencatan senjata secepatnya adalah satu-satunya harapan,” imbuh pernyataan itu. 
     

    Sumber: Antaranews

  • Lagi, Jurnalis Palestina Gugur Akibat Serangan Israel, Kini Mencapai 147 Orang

    Lagi, Jurnalis Palestina Gugur Akibat Serangan Israel, Kini Mencapai 147 Orang

     

    7cloud.asia – Kantor Media Gaza berduka atas kematian baru empat jurnalis yang gugur dalam serangan udara Israel di wilayah kantong tersebut pada Kamis (16/5).

    “Keempatnya syuhada, termasuk seorang perempuan,” katanya.

    “Editor video Al-Aqsa Media Network, Hail al-Najjar, jurnalis foto situs Palestine Post, Mahmoud Jahjouh, jurnalis foto situs Kanaan Land dan Palestinian Media Foundation, Moath Mustafa al-Ghefari dan satu presenter program sekaligus editor di beberapa media, Amina Mahmoud Hameed”

    ”Semuanya gugur dalam perang genosida di Jalur Gaza,” imbuh pernyataan tersebut.

    Baca: UNESCO beri penghargaan kepada jurnalis Palestina peliput perang

    Kantor Media Gaza mengumumkan bahwa sejak 7 Oktober jurnalis yang gugur di Gaza sudah mencapai 147 orang.

    Pihak kantor media tersebut tidak menjelaskan secara spesifik kronologi kematian para jurnalis itu.

    Pasukan Israel hingga kini masih melakukan serangan brutal di Gaza meskipun adanya resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.

    Lebih dari 35.200 warga Palestina terbunuh, mayoritas perempuan dan anak-anak, dan 79.200 lebih lainnya terluka sejak awal Oktober 2023 menyusul serangan yang diluncurkan Hamas.

    Baca: Sebanyak 40 jurnalis masih ditahan Israel

    Selama lebih dari tujuh bulan perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur di tengah pemutusan akses makanan, air bersih serta dan obat-obatan yang melumpuhkan.

    Israel dituding telah melakukan “genosida” dalam gugatan yang diajukan ke Mahkamah Internasional (ICJ).

    Putusan sementara ICJ pada Januari memerintahkan Tel Aviv untuk memastikan pasukan mereka tidak melakukan aksi genosida dan mengambil sejumlah langkah untuk menjamin bahwa bantuan kemanusiaan menjangkau warga sipil di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Irlandia, Norwegia dan Spanyol Resmi Mengakui Negara Palestina, Israel Bereaksi Keras

    Irlandia, Norwegia dan Spanyol Resmi Mengakui Negara Palestina, Israel Bereaksi Keras

    7cloud.asia – Irlandia, Norwegia dan Spanyol, Rabu (22/5/2024), resmi mengumumkan pengakuan mereka terhadap negara Palestina.

    Perang Israel-Hamas di Gaza dan kebutuhan untuk mencapai solusi dua negara demi perdamaian abadi di Palestina menjadi alasan ketiga negara Eropa tersebut.

    “Perang yang sedang berlangsung di Gaza telah memperjelas bahwa pencapaian perdamaian dan stabilitas harus didasarkan pada penyelesaian masalah Palestina,” kata Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store.

    Ia menambahkan, “Perang tersebut merupakan titik terendah dalam konflik berkepanjangan Israel-Palestina. Situasi di Timur Tengah belum pernah seburuk ini selama bertahun-tahun.”

    Norwegia mengatakan ada konsensus internasional yang luas mengenai perlunya solusi dua negara, termasuk pemungutan suara di Majelis Umum PBB bulan ini untuk mengakui Palestina sebagai negara yang memenuhi syarat untuk bergabung dengan badan dunia tersebut.

    Baca: 142 negara dukung Palestina menjadi anggota PBB

    Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan keputusan negaranya didasarkan pada “perdamaian, keadilan dan koherensi.”

    “Waktunya telah tiba untuk beralih dari kata-kata menjadi tindakan,” kata Sanchez.

    Ketiga negara tersebut mengatakan pengakuan mereka terhadap negara Palestina akan berlaku pada 28 Mei ini.

    Menteri luar negeri Israel, Israel Katz segera mengumumkan penarikan duta besar Israel dari Irlandia dan Norwegia sebagai tanggapan atas pengumuman pada hari Rabu itu.

    Katz mengatakan pengakuan negara Palestina adalah sebuah hadiah bagi Hamas dan Iran, dan sebuah “ketidakadilan dalam ingatan” mereka yang tewas dalam serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober.

    “Israel tidak akan tinggal diam menghadapi pihak-pihak yang merusak kedaulatannya dan membahayakan keamanannya,” kata Katz.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan Palestina yang merdeka?

    Perdana Menteri Irlandia, Simon Harris, mengatakan Irlandia dengan tegas mengakui Israel dan haknya untuk hidup “aman dan damai dengan tetangga-tetangganya.”

    Harris menyerukan agar semua sandera yang saat ini ditahan oleh Hamas di Gaza dibebaskan.

    Harris menunjuk pada sejarah Irlandia sendiri dan pentingnya mendapatkan pengakuan dari negara lain.

    Visi negara Palestina yang diusung Norwegia bukanlah visi yang dipimpin oleh militan Hamas yang menguasai Jalur Gaza sejak 2007, melainkan visi yang berasal dari Otoritas Palestina yang menguasai sebagian Tepi Barat.

    Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store mengatakan bahwa situasi di Timur Tengah “belum pernah separah ini selama bertahun-tahun,”.

    Baca: UE sebut pengakuan dua negara Israel dan Palestina sebagai kunci

    Ia menambahkan, mengakui negara Palestina adalah sebuah cara untuk “mendukung kekuatan moderat yang telah kehilangan kekuatan dalam konflik yang berkepanjangan dan brutal ini.”

    “Di tengah perang, dengan puluhan ribu orang terbunuh dan terluka, kita harus tetap menghidupkan satu-satunya alternatif yang menawarkan solusi politik bagi Israel dan Palestina: Dua negara, hidup berdampingan, dalam perdamaian dan keamanan,” kata Store.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Inggris: Saat Ini Bukan Saat yang Tepat untuk Mengakui Palestina

    Inggris: Saat Ini Bukan Saat yang Tepat untuk Mengakui Palestina

    7cloud.asia – Inggris menyatakan bahwa bukan saat yang tepat bagi negaranya untuk mengakui Palestina sebagai sebuah negara, namun menambahkan bahwa pihaknya akan terus meninjau hal tersebut.

    Pernyataan sikap Inggris soal Palestina tersebut disampaikan Menteri Keuangan Inggris, Jeremny Hunt pada Rabu (22/5/202) waktu setempat.

    “Kami memiliki posisi dalam jangka panjang mengenai hal ini, bahwa kami akan siap untuk mengakui negara Palestina, pada saat itu hal yang paling membantu proses perdamaian,” kata Jeremy Hunt kepada media Sky News.

    Baca: 142 negara mendukung Palestina menjadi anggota PBB

    Pernyataannya tersebut muncul sebagai jawaban atas pertanyaan apakah Inggris akan mengikuti keputusan Irlandia, Spanyol dan Norwegia yang mengakui Palestina sebagai sebuah negara.

    “Posisi kami saat ini bukanlah saat yang tepat untuk melakukan hal tersebut,” kata Hunt.

    Pengakuan Palestina sebagai negara muncul saat Israel melanjutkan serangannya di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menuntut gencatan senjata segera di wilayah kantong Palestina yang terkepung itu.

    Baca: ICC rilis surat perintah penangkapan terhadap pejabat Israel dan petinggi Hamas

    Lebih dari 35.600 warga Palestina tewas, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, dan hampir 79.900 lainnya terluka.

    Lebih dari tujuh bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur dan lumpuh akibat blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Israel dituntut melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang memerintahkannya untuk memastikan bahwa pasukannya tidak melakukan tindakan genosida.

    Israel juga didesak untuk mengambil tindakan untuk menjamin bantuan kemanusiaan diberikan kepada warga sipil di Gaza.

    Sumber: Anadolu-OANA

  • Pemimpin Oposisi Israel Desak Netanyahu Akui Palestina dengan Kondisi Tertentu

    Pemimpin Oposisi Israel Desak Netanyahu Akui Palestina dengan Kondisi Tertentu

    7cloud.asia – Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid pada Rabu (22/5) mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengakui Palestina sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat.

    Namun, Lapid mengusulkan adanya kondisi dan jaminan tertentu untuk pengakuan terhadap Palestina ini.

    Lapid, ketua partai Yesh Atid yang berhaluan tengah, membuat pernyataan tersebut setelah Norwegia, Irlandia, dan Spanyol pada Rabu mengumumkan bahwa mereka mengakui Palestina sebagai negara mulai 28 Mei 2024.

    Baca Juga: Irlandia, Norwegia dan Spanyol Resmi Mengakui Negara Palestina, Israel Bereaksi Keras

    Namun, Lapid menyalahkan Menteri Keamanan Nasional Ben-Gvir yang mencegah Netanyahu untuk mengadopsi langkah tersebut, menurut laporan harian lokal Yedioth Ahronoth.

    Dia mengkritik ekstremis Ben-Gvir, yang “tidak mengizinkan” Netanyahu mengumumkan kesiapannya untuk mengakui Palestina sebagai sebuah negara, dan menggambarkan situasi saat ini sebagai “kegilaan yang kami alami.”

    “Netanyahu harus menyatakan bahwa dalam kondisi tertentu dan jaminan khusus, dia bersedia menerima negara Palestina di masa depan yang ikut memerangi terorisme,” ujarnya.

    Baca Juga: 142 Negara Mendukung Palestina Menjadi Anggota Penuh PBB, 9 Negara Menolak

    Namun, Lapid tidak menjelaskan secara rinci dalam konferensi pers mengenai kondisi dan jaminan tersebut, atau sifat kerja sama dari negara Palestina yang diusulkan.

    “Ini tidak akan terjadi dengan pemerintahan ini. Kita perlu menggantikan (pemerintahan Netanyahu) dan membentuk pemerintahan yang efektif,” tegas Lapid.

    Sejak 2022, Israel telah diatur oleh koalisi sayap kanan pimpinan Netanyahu, yang menolak keras ide pembentukan negara Palestina.

    Baca Juga: Inggris: Saat Ini Bukan Saat yang Tepat untuk Mengakui Palestina

    Namun, pengumuman dari tiga negara Eropa tersebut ternyata selaras dengan pernyataan kepala kebijakan luar negeri UE Josep Borrell pada X.

    Borrell bersumpah akan “bekerja tanpa henti” untuk mempromosikan posisi bersama Uni Eropa mengenai solusi dua negara.

    Borrelli juga menyinggung adanya peningkatan tekanan terhadap Israel untuk menerima hak-hak Palestina dan mengakhiri serangan yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.

    Baca Juga: Maju Mundur Pendudukan Israel di Gaza, Palestina

    Pengumuman oleh tiga negara Eropa muncul ketika Israel terus melanjutkan serangan brutalnya di Jalur Gaza sejak 7 Oktober, meskipun resolusi Dewan Keamanan PBB menyerukan gencatan senjata segera.

    Palestina sudah diakui oleh delapan negara Eropa yaitu Bulgaria, Polandia, Republik Ceko, Rumania, Slovakia, Hongaria, Swedia, dan pemerintahan Siprus Yunani.

    Sebelumnya, sebanyak 142 negara juga mendukung Palestina menjadi negara anggota penuh PBB.

    Sumber: Anadolu

  • Perwakilan 38 Negara Serukan Pengakuan Dua Negara untuk Akhiri Konfik di Palestina

    Perwakilan 38 Negara Serukan Pengakuan Dua Negara untuk Akhiri Konfik di Palestina


    7cloud.asia – Perwakilan dari 38 negara pada hari Minggu (26/5/2024), bertemu di Brussels, Belgia.

    Mereka menyerukan gencatan senjata di Jalur Gaza dan solusi dua negara untuk mengakhiri konflik di Palestina.

    Berbicara setelah pertemuan yang diketuai bersama oleh Arab Saudi dan Norwegia, Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, mengatakan bahwa situasi di Gaza “sangat buruk” dan bisa lebih buruk lagi.

    Baca Juga: UE: Pengakuan terhadap Negara Palestina Kunci Keamanan Israel

    “Situasinya berbahaya… Jika kita tidak bergerak maju, kita akan terjerumus lebih dalam lagi ke dalam jurang kekerasan yang mengilhami lebih banyak kekerasan, sebuah lingkaran kekerasan,” demikian ujar Barth Eide memperingatkan.

    Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud mendorong tercapainya gencatan senjata segera dalam perang yang tengah berlangsung.

    Faisal menggambarkan situasi di Palestina sebagai kondisi kemanusiaan yang “sama sekali tidak dapat diterima.”

    Baca Juga: Pemimpin Oposisi Israel Desak Netanyahu Akui Palestina dengan Kondisi Tertentu

    “Kita melihat langkah-langkah tambahan yang diambil oleh Israel yang tidak hanya berdampak pada warga sipil di Gaza, tetapi juga menempatkan penduduk sipil di Tepi Barat dalam situasi yang sangat, sangat sulit,” tambah Faisal.

    Perwakilan Tinggi Uni Eropa Josep Borrell, yang mewakili Uni Eropa dalam pertemuan tersebut, mendesak terciptanya solusi dua negara.

    Dia mengatakan, bahwa pengakuan dua negara adalah “satu-satunya jaminan jangka panjang untuk keamanan dan kemakmuran Israel.”

    Sumber: VOA Indonesia