7cloud.asia – Konferensi Tingkat Tinggi Konferensi Negara-negara Islam atau KTT OKI diBanjul, Gambia, ditutup Minggu (5/5/2024) waktu setempat dengan menghasilkan resolusi yang mengecam genosida di Gaza.
Dipantau dari Youtube CNBC, Resolusi OKI itu juga mendesak 57 negara Islam anggotanya untuk menjatuhkan sanksi kepada Israel, termasuk tekanan baik politik, hukum maupun ekonomi untuk mencegah genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina.
Resolusi KTT OKI ini juga menyerukan segera dilakukannya gencatan senjata permanen tanpa syarat di Gaza.
Terpisah, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi menilai upaya negara-negara OKI dalam membela Palestina belum optimal.
Hal tersebut, lanjutnya, disebabkan oleh perbedaan sikap di antara ngara-negara anggota OKI sehingga respons untuk dapat menghentikan peperangan tidak bisa kompak.
“Mereka mencoba untuk melakukan pendekatan ke negara-negara lain agar bisa memberikan tekanan kepada Israel, tapi tidak berhasil. Usulan Iran agar menggunakan sumberdaya minyak yang dimiliki anggota OKI guna menekan Israel juga tidak diakomodasi,” ujar Yon kepada VOA, Senin (6/5/2024).
Baca: Indonesia ingatkan OKI berutang membebaskan Palestina dari pendudukan Israel
Menurut Yon, OKI harus kembali pada pertemuan terakhir yang memberi mandat kepada enam negara untuk bisa berupaya menghentikan agresi Israel ke Gaza.
Dia mengatakan mandat itu harus dievaluasi dan apa langkah selanjutnya yang dilakukan oleh OKI dalam menghadapi rencana Israel menginvasi Rafah.
Indonesia Siap Suarakan Keadilan bagi Palestina di Mahkamah Internasional
Dia mengakui negara-negara OKI, terutama negara Arab, terpecah dalam hal menyikapi kemerdekaan Palestina.
Ketika mereka melakukan normalisasi hubungan dengan israel artinya mereka sudah tidak komitmen lagi terhadap visi dan tujuan dari pendirian OKI.
Di samping itu, salah satu asas pendirian Liga Arab adalah mencegah berdirinya negara Israel. Namun kenyatannya, banyak dari negara Arab bekerja sama dengan Israel dan kurang memberikan dukungan kepada Palestina.
Yon memandang momentum saat ini tepat untuk mengukuhkan kembali bahwa tidak akan ada pengakuan terhadap Israel sebelum Palestina merdeka.
Baca: Arab Saudi tak akan akui Israel jika tak ada pengakuan terhadap Palestina
Bagi negara-negara OKI yang sudah menjalin hubungan diplomatik, bisa mengancam Israel untuk mengevaluasi relasi mereka.
Jika mereka memilih mempertahankan hubungan, maka negara-negara OKI yang bersangkutan harus dibuktikan dengan mempercepat upaya terwujudnya kemerdekaan Palestina secara serius.
Hal ini penting agar mereka tidak dianggap berkhianat terhadap rakyat Palestina.
Dia melihat Palestina bukan menjadi agenda bagi negara-negara yang membina hubungan resmi dengan Israel. Negara-negara tersebut lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka dalam konteks kerja sama ekonomi dan pertahanan dengan Israel.
Negara-negara yang memiliki relasi resmi dengan Israel memandang Israel dengan dukungan Amerika Serikar (AS) bisa memperkuat sistem pertahanan mereka.
Di samping itu, lanjut Yon, secara realistis mereka melihat kerjasama dengan Israel tidak harus diikuti dengan persyaratan negara Palestina.
Baca: Uni Eropa pengakuan terhadap negara Palestina kunci keamanan Israel
Karena itu, Yon menilai dukungan negara-negara Arab terhadap perjuangan bangsa Palestina sudah memudar karena kepentingan nasional mereka.
Sedangkan Indonesia menjadi negara yang paling vokal dalam menyuarakan isu kemerdekaan Palestina.
Dia menegaskan negara-negara Arab tersebut seharusnya malu kepada Indonesia, secara geografis jauh dari Palestina, tapi mendukung Palestina untuk merdeka.
Dia mengharapkan negara-negara OKI yang memiliki sumber daya minyak menggunakan sumber dayanya itu untuk melakukan tekanan secara global.
Yon mencontohkan membatasi produksi minyak sebagai tekanan terhadap negara-negara pendukung Israel merupakan upaya yang efektif.
Hasbi Aswar, pengajar hubungan internasional di Universitas Islam Indonesia mengatakan OKI memang memiliki komitmen secara lisan untuk terus membela Palestina.
Baca:Mungkinkah-mewujudkan-Palestina-merdeka-dan-berdaulat
Namun secara praktis, komitmen tersebut sulit dilaksanakan karena masing-masing anggota OKI memiliki kepentingan berbeda.
Hal itulah menyebabkan OKI bersikap lamban dan tidak efektif dalam menangani isu Palestina.
Dalam kondisi saat ini, OKI harus mengambil upaya-upaya diplomatik yang lebih kuat dalam menekan Israel untuk menghentikan agresi militernya di Gaza.
Dia mencontohkan negara-negara Arab bisa melarang wilayahnya digunakan untuk lalu lintas barang dan jasa sebagai salah satu upaya menekan Israel.
Menurut Hasbi, negara-negara Arab dan OKI harus satu kompak dalam menyuarakan secara lantang di berbagai forum bahwa Palestina berhak untuk merdeka.
Sumber:VOAIndonesia









