Tag: perubahan iklim

  • Pendidikan Lingkungan Hidup Dimulai dari Keluarga, Mendapa Tidak?

    Pendidikan Lingkungan Hidup Dimulai dari Keluarga, Mendapa Tidak?

    7cloud.asia – Pendidikan lingkungan hidup diyakini penting dalam upaya manahan laju perubahan iklim.

    Pendidikan lingkungan hidup dapat memberdayakan para pengambil keputusan di masa depan dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perubahan iklim.

    Namun, menghubungkan siswa dengan sumber daya yang mereka perlukan untuk memahami pemanasan global bisa jadi sulit – terutama jika siswa tinggal di negara seperti Amerika Serikat, dimana perubahan iklim kadang dipandang sebagai isu “politik” yang partisan.

    Orang tua yang sadar akan perubahan iklim dapat mengenalkan anak-anak mereka terhadap perubahan iklim melalui permainan di luar ruangan di lingkungan yang alami.

    Taman bermain alami, seperti taman bermain yang terbuat dari bahan-bahan ramah lingkungan dan benda-benda temuan, adalah tempat yang tepat untuk mendiskusikan perlindungan lingkungan dan pentingnya pengelolaan sumber daya bumi.

    Menjalani gaya hidup berkelanjutan di rumah dapat menjadi bagian penting dari pendidikan lingkungan hidup bagi anak-anak.

    Baca: Pentingnya pendidikan lingkungan dalam memerangi perubahan iklim

    Orang tua dapat membantu anak-anak mereka memahami pentingnya keberlanjutan dengan mengurangi jejak karbon di rumah mereka secara bersama-sama.

    Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan dan mempraktikkan kebiasaan ramah lingkungan di rumah seperti mendaur ulang furnitur dan membuat kompos sisa makanan serta mengajari anak-anak cara mendaur ulang.

    Atau juga dengan membantu mengurangi emisi kita sendiri dan meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

    Namun, pelajar yang peduli terhadap perubahan iklim juga harus diberdayakan untuk terlibat dalam aktivisme untuk pelestarian sumber daya alam bumi dalam jangka panjang.

    Aktivisme pemuda juga memiliki dampak yang berarti terhadap kebijakan dan menunjukkan kepada politisi bahwa perubahan iklim adalah isu hangat bagi para pemilih di masa depan.

    Baca: Cara generasi muda berkontribusi dalam upaya memerangi perubahan iklim

    Aktivisme yang sukses dimulai dengan mendidik siswa tentang isu-isu tersebut. Guru dapat memperkuat pemahaman siswa mereka tentang perubahan iklim dan perlindungan ekologi dengan mengadakan proyek siswa yang mendorong pembelajaran di luar ruangan.

    Dengan cara ini, siswa akan belajar untuk merasa bangga dengan dunia di sekitar mereka dan menjadi siap untuk berbagi pengetahuan mereka dengan orang lain.

    Sebagian besar sekolah menengah atas dan universitas memiliki kelompok advokasi iklim yang dapat diikuti oleh generasi muda untuk memperkuat suara mereka dan membuat perbedaan.

    Siswa dapat melanjutkan advokasi iklim mereka dengan bergabung dengan kelompok yang telah bermitra dengan Climate Action Network (CAN assist 1900+).

    Organisasi ini mendapatkan dukungan dan pendanaan yang mereka perlukan untuk mencegah degradasi lingkungan dan melawan perubahan iklim.

    Siswa yang sadar iklim juga dapat bermitra dengan organisasi non-pemerintah (LSM), seperti WWF, Yayasan Konservasi Afrika, Born Free AS, Bebaskan Diri Dari Plastik

    LSM-LSM ini menangani permasalahan lingkungan hidup terbesar saat ini dan dapat menempatkan siswa pada posisi untuk memaksimalkan dampaknya dan memperoleh keterampilan pengembangan profesional yang penting.

    Sumber:earth.org

  • Pendidikan Lingkungan Hidup Sejak Dini: Daftar Website Sediakan Info Soal Perubahan Iklim

    Pendidikan Lingkungan Hidup Sejak Dini: Daftar Website Sediakan Info Soal Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Mengantisipasi dampak perubahan iklim, dunia memerlukan lebih dari sekadar niat baik dan pemahaman masyarakat.

    Dunia butuh aksi nyata dan kebijakan yang bertujuan untuk menahan laju perubahan iklim sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim.

     

    Para pengambil keputusan di masa depan perlu dibekali dengan keterampilan interdisipliner untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.

    Namun, banyak guru yang tidak memiliki perlengkapan yang memadai untuk mengajarkan pendidikan lingkungan hidup di kelas mereka.

    Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk memberdayakan guru yang sadar perubahan iklim. Para profesor harus merasa nyaman mendiskusikan fakta-fakta mengenai perubahan iklim di kelas mereka.

    Baca: Peran pendidikan dalam upaya mengatasi perubahan iklim

    Kabar baiknya, para guru saat ini bisa melakukannya temukan banyak sumber daya gratis tentang perubahan iklim dari situs-situs yang terpercaya.

    Beberapa laman berita lingkungan hidup yang didedikasikan untuk pemirsa muda, earth.org memiliki situs web Anak-anak yang bertujuan untuk menjelaskan berbagai topik lingkungan kepada generasi muda.

    Kunjungi Kids.Earth.Org untuk mempelajari lebih lanjut tentang perubahan iklim

    Selain itu juga ada NASA’s Vital Signs of the Planet, WWF’s Science that Affects Our World
    British Council’s Climate Resources for School Teachers

    Laman-laman ini dapat diakses secara gratis dan menyediakan informasi tentang lingkungan yang dapat diterapkan di kelas mana pun. 

    Baca: Mengenalkan isu perubahan iklim dari rumah

    Sebuah proyek yang terinspirasi oleh perubahan iklim akan membantu siswa memahami pentingnya pendidikan lingkungan.

    Ini juga akan memberi mereka keterampilan yang mereka perlukan untuk menghadapi orang-orang yang skeptis di masa depan.

    Pendidikan lingkungan hidup adalah kunci untuk memahami perubahan iklim. Pendidikan iklim yang kuat dapat memberdayakan siswa dan membantu mencegah mereka terlibat dalam kelompok advokasi dan aktivis.

    Bahkan pengalaman pendidikan kecil, seperti berpartisipasi dalam aksi bersih lingkungan, dapat membantu siswa memahami pentingnya pengelolaan dan membangun keterampilan interdisipliner yang mereka perlukan untuk mengadvokasi perlindungan lingkungan.

    Sumber:earth.org

  • Seperti Ini Dampak Perubahan Iklim terhadap Masyarakat Kota

    Seperti Ini Dampak Perubahan Iklim terhadap Masyarakat Kota

    7cloud.asia – Perubahan iklim sangat memengaruhi lingkungan, ekosistem bumi, kehidupan, serta kesejahteraan manusia yang tinggal di planet Bumi.

    Salah satunya, perubahan iklim berpengaruh terhadap ketersediaan sumber daya air sehingga berdampak sangat besar pada pembangunan dan keamanan manusia.

    Dampak perubahan iklim terutama pada sumber daya air akan diulas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam webinar Professor Talk bersama para pakar pada Selasa (23/7/2024).

    Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian mengungkapkan dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air di antaranya meliputi krisis air bersih perkotaan, kerawanan pangan, meningkatnya frekuensi penyakit, perubahan pola curah hujan dan kerawanan bencana.

    “Dalam periode 2010-2017, terjadi peningkatan 887 kejadian bencana hidrometeorologi dengan bencana iklim hidrologi antara lain banjir, longsor, kekeringan, angin puting beliung, kebakaran hutan, gelombang pasang dan abrasi,” ujarnya.

    Baca: Daftar website yang bisa jadi rujukan info tentang perubahan iklim

    Sementara itu Profesor Riset Bidang Meteorologi, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan, perubahan iklim telah berdampak pada meningkatnya permukaan air laut.

    Pada tahun 2010 muka air laut telah meningkat sebanyak 0,4 meter dan hal ini berdampak pada hilangnya daratan seluas 7.408 km2.

    Diperkirakan pada tahun 2050 muka air laut akan meningkat sebanyak 0.56 meter yang akan menyebabkan hilangnya luas daratan Indonesia sekitar 30.120 km2.

    “Dampak perubahan iklim tidak terbatas pada keberlangsungan sumber daya air semata, melainkan pada penentuan kalender tanam, hilangnya pulau-pulau kecil, banjir dan lain sebagainya,“ ujarnya.

    Baca: Peran pendidikan dalam upaya mengatasi perubahan iklim

    Eddy menambahkan, diperkirakan tahun 2100 Indonesia akan kehilangan 115 pulau-pulau berukuran sedang yang berada di Provinsi Sumatera Utara sampai ke Papua Barat.

    Pada kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Utama Pengelolaan DAS, Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Irfan Budi Pramono mengatakan Solusi Berbasis Alam (Nature Based Solutions) mempunyai potensi yang besar untuk mengatasi masalah sumber daya air seiring dengan perubahan iklim.

    Di mana paradigma pengaturan air yang semula dari ‘mengalirkan’ menjadi ‘meresapkan’ ke dalam tanah.

    “NBS ini bukan satu-satunya cara untuk mengatasi masalah sumber daya air, namun akan melengkapi solusi-solusi lainnya seperti melengkapi dan mengoptimalkan fungsi grey infrastruktur,” ungkapnya.

    Baca: Peran anak muda dalam upaya mengatasi perubahan iklim

    Irfan menambahkan, penerapan NBS dalam pengelolaan sumber daya air seiring dengan perubahan iklim perlu melibatkan banyak pihak baik pemerintah maupun masyarakat.

    Secara umum perubahan iklim berpengaruh terhadap sumber daya air baik langsung atau tidak langsung antara lain meningkatnya intensitas curah hujan pada musim basah, meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.

    Tanda perubahan iklim juga terlihat dari berkurangnya curah hujan dan debit sungai pada musim kemarau serta bertambah panjangnya periode musim kering, meningkatnya temperatur yang diikuti gelombang panas, perubahan ekosistem dan layanan ekosistem,

    Perubahan iklim juga memicu meningkatnya intensitas dan frekuensi badai, serta meningkatnya tinggi gelombang, abrasi pantai, dan meluasnya kawasan yang terpengaruh intrusi air laut.

  • Bagaimana Kita Berkontribusi dalam Pelestarian Lingkungan

    Bagaimana Kita Berkontribusi dalam Pelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Perubahan iklim dan dampaknya sudah semakin nyata. Bencana ekologis seperti banjir, tanah longsor, kekeringan ataupun kebakaran lahan semakin sering terjadi.

    Pun demikian dengan kenaikan permukaan air laut yang dipicu pemanasan global yang telah menenggelamkan ribuan desa di kawasan pesisir.

    Sayangnya, masih banyak orang yang abai atau bahkan mencibir fakta perubahan iklim ini. Padahal peran ataupun kontribusi publik secara masif sangat dibutuhkan untuk Bumi dan lingkungan yang lebih berkelanjutan

    Jika Anda bertanya-tanya, bagaimana saya bisa berkontribusi menahan laju perubahan iklim dan ikut menyumbang planet Bumi yang lebih berkelanjutan, berikut sejumlah aksi yang bisa dilakukan seperti dilansir earth.org:

    1. Ikut Aksi Iklim
    Gunakan hak demokrasi Anda dengan mendukung kandidat dan kebijakan yang memprioritaskan mitigasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan.

    Baca: Thrifting, cara melawan limbah fast fashion

    2. Kurangi Jejak Karbon 
    Buatlah pilihan secara sadar untuk mengurangi jejak karbon Anda. Pilihlah sumber energi terbarukan, hemat energi di rumah, gunakan transportasi umum atau carpool.

    Anda juga bisa menerapkan praktik berkelanjutan seperti daur ulang dan pengomposan.

    3. Dukung Organisasi Lingkungan
    Bergabunglah dengan organisasi lingkungan di sekitarmu yang berdedikasi untuk mendidik masyarakat tentang masalah dan solusi lingkungan.

    Dukung organisasi yang mendukung upaya konservasi, meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggung jawab, dan mengadvokasi solusi lingkungan yang efektif upaya dan mendorong perubahan positif.

    4. Terapkan Kebiasaan Berkelanjutan
    Buatlah pilihan yang ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari Anda. Kurangi penggunaan plastik sekali pakai, pilih produk ramah lingkungan,

    Prioritaskan pola makan nabati dan kurangi konsumsi daging, serta pilihlah fesyen dan transportasi yang ramah lingkungan.

    Baca: Class action jadi cara efektif menekan pengambil kebijakan

    5. Suarakan kepedulian pada lingkungan
    Libatkan dan edukasi orang-orang di sekitar kamu untuk terus menyebarkan kesadaran tentang krisis iklim dan pentingnya pengelolaan lingkungan.

    Terlibat aktif dalam percakapan, berbagi informasi, dan menginspirasi orang lain untuk mengambil tindakan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.

    6. Berdiri bersama Aktivis Perubahan Iklim
    Tunjukkan dukungan nyata Anda kepada para aktivis yang berada di garis depan aksi perubahan iklim.

    Hadiri protes, demonstrasi, dan pawai damai yang menyerukan aksi nyata pengurangan emisi dan perusakan lingkungan lainnya.

    Anda juga bisa bergabung dalam kampanye online untuk meningkatkan kesadaran dan perubahan kebijakan gerakan untuk keadilan iklim dan masa depan yang berkelanjutan.

  • Bahas Perubahan Iklim, Negara Anggota IPPP Komitmen Kurangi Emisi Karbon

    Bahas Perubahan Iklim, Negara Anggota IPPP Komitmen Kurangi Emisi Karbon

    7cloud.asia – DPR RI dan parlemen-parlemen negara Pasifik kembali menggelar sidang ke-2 IPPP (Indonesia-Pacific Parliamentary Partnership) di Jakarta.

    Digelar dengan tiga panel diskusi, salah satu yang menjadi pembahasan adalah mengenai isu perubahan iklim (climate change). Di mana sebagai negara kepulauan, Indonesia dan negara-negara Pasifik sangat merasakan dampak dari perubahan iklim.

    Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR, Dyah Roro Esti mengatakan, sebagai negara kepulauan yang sangat amat rawan dengan adanya peningkatan permukaan air laut, (sehingga) tentu sangat terancam untuk kemudian hilang (pulau tenggelam, red).

    Maka dari itu mereka berupaya untuk menyuarakan betapa pentingnya kita bekerja sama untuk mencari solusi yang tepat untuk mengurangi dampak dampak negatif dari perubahan iklim tersebut,” kata dikutip Parlementaria, Kamis (25/7/2024).

    Baca Juga: Peran Penting Pendidikan dalam Perjuangan Melawan Perubahan Iklim

    Oleh karena itu, Roro mengungkap, masing-masing negara anggota IPPP dalam forum tersebut berkomitmen untuk dapat mengurangi emisi karbon guna menghadang laju perubahan iklim.

    Ia menyebut, Indonesia sendiri telah meratifikasi The Paris Agreement, di mana komitmen Indonesia sudah sangat jelas untuk mengurangi emisi karbon sebesar 32 persen.

    Menurut Roro, peran parlemen dalam hal ini adalah mendorong pemerintah masing-masing negara untuk dapat membuat kebijakan-kebijakan dalam mengurangi dampak negatif perubahan iklim. Ia pun menilai, kolaborasi antarnegara anggota IPPP menjadi amat penting.

    Mengingat bahwa ranah parlemen sebagai legislator dan pemerintah sebagai eksekutor. Oleh karena itu program-program pemerintah itu harus lebih fokus terhadap bagaimana kita bisa menciptakan masa depan yang berkelanjutan.

    Baca Juga: DPR: Politik Anggaran yang Berpihak pada Lingkungan Mendesak Dilakukan untuk Antisipasi Perubahan Iklim

    “Kebijakan anggaran itu menjadi kunci juga dan kami dalam hal ini mempunyai ranah untuk memberikan masukan,” jelas Politisi Fraksi Partai Golkar ini.

    Ia berharap nantinya hasil kesepakatan dari Sidang ke-2 IPPP dapat menjadi masukan kepada pemerintah masing-masing negara untuk terus berkomitmen merealisasikan upaya-upaya mengurangi emisi karbon.

    Agreement apapun yang nanti akan dihasilkan dari IPPP ini, ujarnya, menjadi masukan yang saya rasa sangat penting untuk dikemukakan dan disampaikan kepada pemerintah bahwa kami sudah bertemu dengan sebelas negara ini dengan catatan a,b,c.

    “Mohon komitmennya dari pemerintah untuk kemudian direalisasikan tujuan besar yang sudah disepakati pada kegiatan hari ini,” tutup Anggota Komisi DPR yang berkaitan dengan isu renewable energy ini.

  • Prediksi iklim Jawa tahun 2100: Waspadai Panas Menyengat di Perkotaan

    Prediksi iklim Jawa tahun 2100: Waspadai Panas Menyengat di Perkotaan

    7cloud.asia – Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada memprediksi, jika dunia membiarkan emisi karbon tanpa dibarengi upaya pengurangan dapat memicu kekeringan yang lebih parah di Pulau Jawa pada masa depan

    Dalam laporan yang terbit di The Conversation, situasi ini sepatutnya menjadi catatan pemerintah Indonesia dan dunia untuk terus meningkatkan upaya mengatasi perubahan iklim semaksimal mungkin.

    “Penelitian kami juga mencatat, pada 2100, seluruh penduduk Jawa akan merasakan kenaikan suhu setidaknya 1,5°C-2,5°C,” demikian laporan yang ditulis Vempi Satriya Adi Hendrawan, anggota tim peneliti.

    Berikut artikel tersebut selengkapnya. Penelitian memperkirakan, mayoritas penduduk (63 persen) yang bermukim di kota-kota padat penduduk seperti Jabodetabek, Surabaya, Bandung, dan Semarang dapat terdampak kenaikan suhu 3°C bahkan lebih.

    Kenaikan suhu, apabila terjadi saat musim kemarau, berisiko memicu intensifikasi suhu panas di perkotaan (urban heat).

    Meskipun ancamannya tidak akan seserius di negara subtropis, suhu panas ekstrem di kota dapat meningkatkan kebutuhan pendinginan dalam ruangan. Walhasil, pada saat tersebut konsumsi energi juga akan meningkat.

    Sementara itu, bagi puluhan juta penduduk kota-kota besar di Jawa yang tidak memiliki akses pendinginan memadai, panas ekstrem dapat menurunkan kebugaran, gangguan kecemasan, bahkan kematian.

    Baca: Prediksi iklim di Jawa pada 2100

    Tak hanya kekeringan
    Tak hanya kekeringan, studi kami juga meramalkan kenaikan hujan deras ekstrem di sepanjang dataran tinggi pulau Jawa. Kenaikannya rata-rata 5,6 persen di dataran tinggi—apabila dihitung berdasarkan total hujan selama 5 hari berturut-turut.

    Hujan yang semakin deras dan sering di wilayah hulu sungai berisiko memicu banjir bandang dan banjir kiriman ke kawasan bantaran sungai di daerah hilir. Fenomena ini juga menaikkan ancaman tanah longsor di lereng-lereng curam.

    Ada sekitar 10 jutaan penduduk di kawasan yang membentang sepanjang pegunungan Jawa, mulai dari hulu sungai Cidanau di Banten hingga sungai Bajulmati Banyuwangi, yang berisiko menjadi korban.

    Ini belum termasuk kerugian materi apabila bangunan dan hewan ternak tersapu air bah dan longsor. Pasokan komoditas tanaman hortikultura yang acap ditanam di dataran tinggi seperti kentang, tomat, dan sebagainya juga dapat terganggu.

    Jika meluas, banjir dari hulu juga dapat merusak pertanian padi juga akan terdampak. Ini terjadi di bantaran sawah Bengawan Solo pada tahun 2007 dan 2013.

    Antisipasi sejak dini
    Pembuat kebijakan, akademisi, dan masyarakat harus bekerja sama untuk mengembangkan dan menerapkan strategi guna mengurangi dampak peningkatan kejadian ekstrem di masa depan.

    Baca: Gegara panas ekstrem setengah juta penduduk dunia meninggal per tahun

    Proses pengambilan keputusan juga perlu disertai kesadaran akan potensi perubahan di masa depan.

    Sektor pertanian Indonesia perlu berbenah. Kita bisa melakukan upaya seperti memperbaiki sistem pengelolaan irigasi, penerapan praktik pertanian yang tahan terhadap kekeringan dan panas ekstrem, dan sebagainya.

    Petani dan masyarakat juga perlu kita libatkan dalam upaya beradaptasi dengan peningkatan suhu.

    Kita pun perlu memerhatikan ancaman banjir dan longsor, khususnya di hulu sungai-sungai besar di Jawa.

    Pemerintah perlu meredam alih fungsi lahan, mencegah sedimentasi, memulihkan ekosistem alami di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), begitu juga daerah tangkapan air di kawasan hulu.

    Perancangan infrastruktur mitigasi banjir juga harus mulai mempertimbangkan perubahan pola hujan ekstrem dan banjir di masa depan.

    Baca: Apakah Indonesia bakal terus terhindar dari gelombang panas?

    Sebagai contoh, dimensi infrastruktur pengendali banjir seperti tanggul tidak bisa lagi kita desain berdasarkan data-data empiris masa lalu.

    Sebaliknya, Indonesia harus mendesain dimensi bangunan-bangunan infrastruktur mitigasi bencana dengan mempertimbangkan perubahan pola hujan ekstrem masa depan.

    Indonesia juga perlu berinvestasi dalam sistem peringatan dini dan perbaikan infrastruktur pencegah bencana untuk mengurangi risiko bencana terkait cuaca ekstrem.

    Mitigasi bencana terbukti sangat efektif dan efisien dalam mengurangi kerusakan, korban jiwa, dan kerugian materi ketika bencana terjadi.

    Selain itu, saat melakukannya, pemerintah harus memastikan partisipasi masyarakat secara aktif dalam sistem kesiapsiagaan dan respons terhadap bencana.

    Ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman warga seputar risiko bencana agar mereka bisa meredam dampaknya.

    Sumber: The Conversation, penulis: Vempi Satriya Adi Hendrawan, Dosen UGM

  • Perubahan Iklim Picu Gelombang Panas Akan Makin Sering Terjadi

    Perubahan Iklim Picu Gelombang Panas Akan Makin Sering Terjadi

    7cloud.asia – Perubahan iklim, yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil, diperkirakan akan membuat gelombang panas lebih lama terjadi. lebih intens, dan lebih sering.

    Selanjutnya, gelombang panas yang makin sering terjadi karena perubahan iklim menimbulkan risiko yang signifikan sebagai salah satu bencana alam yang paling berbahaya.

    Baru-baru ini, cuaca panas menewaskan puluhan orang di negara-negara Asia Tenggara termasuk Thailand dan sebagian Amerika Serikat.

    Sementara di Mekkah, Arab Saudi, lebih dari 1.300 jamaah haji kehilangan nyawa karena cuaca panas ekstrem selama ibadah haji tahunan.

    Dampak gelombang panas terhadap kehidupan manusia dan lingkungan sering kali diremehkan sehingga memerlukan perhatian dan membangun kesadaran yang lebih besar.

    Gelombang panas adalah periode cuaca sangat panas yang berlangsung lama, baik pada siang hari maupun pada malam hari.

    Baca: Gelombang panas landa Timur Tengah, suhu capai 50°C

    Walaupun panas ekstrem mungkin tidak terlihat mencolok seperti badai atau banjir, dampaknya sangat besar dampak ekonomi serta sangat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan manusia.

    Dampak gelombang panas, khususnya dirasakan kalangan kelompok masyarakat yang paling rentan, seperti anak-anak dan orang lanjut usia, perempuan, dan mereka yang tinggal di pemukiman informal.

    Stres pada tubuh manusia yang disebabkan oleh gelombang panas menghalangi aktivitas normal sehari-hari dan kemampuan kita untuk mendinginkan tubuh dengan baik. Area yang umumnya memiliki kelembapan lebih tinggi juga dapat membahayakan nyawa.

    Keringat membantu tubuh manusia menjadi dingin, namun kelembapan mengubah cara keringat menguap dari tubuh.

    Ketidakmampuan untuk melakukan pendinginan dapat membahayakan kesehatan seseorang, dan dapat menyebabkan peningkatan komplikasi kardiovaskular dan pernapasan, dehidrasi, sengatan panas, tekanan darah tinggi, dan kurang tidur.

    Baca: Waspadai suhu panas di perkotaan

    Kondisi yang terlalu panas dan lembab bisa berakibat fatal, karena mempengaruhi termoregulasi manusia, yaitu proses yang menjaga suhu internal tubuh tetap stabil – idealnya antara 36,5 hingga 37,5°C ​​– meskipun terjadi perubahan kondisi eksternal

    Batas atas teoritis kemampuan beradaptasi tubuh manusia terhadap panas ekstrem, yang ditetapkan para ilmuwan pada suhu 35°C – dilanggar, keringat tidak akan cukup untuk mendinginkan tubuh.

    Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 489.000 kematian terkait panas terjadi secara global setiap tahun antara tahun 2000 dan 2019.

    Di Amerika Serikat, gelombang panas merupakan peristiwa cuaca yang paling mematikan selama tiga dekade terakhir. Di tempat lain di dunia, panas ekstrem juga telah mengakibatkan kematian yang tak terhitung jumlahnya.

    Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa di Eropa saja, lebih dari 60.000 orang meninggal karena panas di benua ini – yang merupakan negara dengan pemanasan tercepat di dunia – angka kematian akibat panas telah meningkat sekitar 30 persen dalam dua dekade terakhir.

    Baca: Gelombang panas landa Asia, sekolah diliburkan

    Sementara kematian akibat panas diperkirakan meningkat di 94 persen wilayah Eropa yang dipantau.

    Selain terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia, gelombang panas juga mempunyai dampak yang signifikan terhadap keselamatan publik, infrastruktur, dan lingkungan alam.

    Suhu panas yang ekstrem semakin meningkat di wilayah perkotaan, sehingga memperburuk polusi udara sistem pendingin udara di gedung-gedung dan mobil, yang pada gilirannya menghasilkan emisi dan polusi udara yang lebih tinggi.

    Selain itu, gelombang panas dapat berdampak negatif terhadap kinerja infrastruktur penting dengan mempengaruhi bahan-bahan yang digunakan dalam konstruksinya dapat mempercepat korosi pada logam dan kerusakan material batu bata dan batu.

    Selanjutnya kondisi ini dapat melemahkan struktur baja yang tertanam di dalam eksterior beton suatu bangunan.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, penulis: Jolin Li

  • Seperti Ini Emisi Gas Rumah Kaca Memicu Gelombang Panas Ekstrem

    Seperti Ini Emisi Gas Rumah Kaca Memicu Gelombang Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Akibat emisi gas rumah kaca, dunia baru saja melampaui ambang batas pemanasan global sebesar 1,5°C selama 12 bulan berturut-turut, dengan bulan Juni menjadi bulan Juni terpanas dalam sejarah – bulan ke-13 berturut-turut yang mencatatkan suhu yang memecahkan rekor.

    Peningkatan panas ekstrem ini merupakan akibat langsung dari emisi gas rumah kaca yang dipicu aktivitas manusia. Emisi gas rumah kaca inilah yang menyebabkan perubahan iklim.

    Ketika emisi gas rumah kaca memerangkap lebih banyak panas di atmosfer, gelombang panas –jenis peristiwa cuaca ekstrem yang paling mematikan– menjadi lebih lama dan lebih panas.

    Studi atribusi yang dilakukan oleh World Weather Attribution (WWA) menemukan bahwa gelombang panas yang melanda India dan Pakistan pada Maret 2022 sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia

    Ini membuatnya setidaknya 30 kali lebih mungkin terjadi gelombang panas yang melanda Siberia pada tahun 2020, dan 600 kali lebih tinggi akibat perubahan iklim dibandingkan yang terjadi secara alami.

    Baca: Perubahan iklim membuat gelombang panas semakin ekstrem

    Vikki Thompson, ilmuwan iklim di Cabot Institute, Universitas Bristol pernah menjelaskan, perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih panas dan bertahan lebih lama di seluruh dunia.

    ”Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa banyak gelombang panas tertentu menjadi lebih intens karena sinyal perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia bahkan dapat dideteksi dalam jumlah kematian yang disebabkan oleh gelombang panas,” ujarnya.

    Penjelasan ini sejalan dengan Laporan Penilaian ke-6 dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), yang menyatakan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas sejak tahun 1950-an.

    Diperkirakan kondisi ini akan terus meningkat seiring dengan pemanasan global yang terus berlanjut dan tidak diimbangi dengan pengurangan emisi gas rumah kaca.

    Baca: Apakah gelombang panas di Eropa dipicu perubahan iklim?

    Penyebab gelombang panas
    Gelombang panas biasanya berasal dari adanya sistem udara bertekanan tinggi yang disebut juga antisiklon.

    Kondisi atmosfer ini menyebabkan udara di atas suatu wilayah menumpuk dan terkompresi, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu dan penurunan kadar air, memerangkap panas yang diserap di dalam lanskap.

    Secara bersamaan, sistem bertekanan tinggi menggantikan udara yang lebih dingin dan menyebarkan awan, sehingga sinar matahari tidak terputus mencapai permukaan tanah.

    Akibatnya, udara di dekat permukaan tanah terus-menerus dipanaskan hingga melampaui suhu rata-rata.

    Baca: Gegara panas ekstrem setengah juta penduduk dunia meninggal per tahunnya

    Daerah gelombang panas sangat umum terjadi di daerah kering seperti gurun Barat Daya dan di dataran tinggi, di mana pembentukan sistem tekanan tinggi lebih rentan terjadi.

    Kelembapan di dalam tanah dapat mengurangi dampak panas akibat sinar matahari, seperti halnya keringat mendinginkan tubuh melalui penguapan.

    Namun, ketika tanah, saluran air, dan jumlah vegetasi atau tumbuh-tumbuhan penahan air semakin terbatas, kapasitasnya untuk menyerap panas akan berkurang secara signifikan.

    Kondisi ini akan meninggalkan udara sebagai media utama untuk retensi atau penahan panas sehingga suhu panas berlangsung lebih lama.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, penulis: Jolin Li, pelaporan tambahan: Martina Igini.

  • Organisasi Lingkungan Minta Pemerintah Hentikan Promosi dan Implementasi Carbon Capture Storage, Ini Alasannya

    Organisasi Lingkungan Minta Pemerintah Hentikan Promosi dan Implementasi Carbon Capture Storage, Ini Alasannya

    7cloud.asia – Melalui pelaksanaan The International and Indonesia CCS Forum 2024, Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Carbon Capture Storage juga disebut sebagai bagian dari aksi iklim untuk mencegah krisis akibat pemanasan global dan perubahan iklim.

    Melalui teknologi Carbon Capture Storage ini karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber industri (PLTU batubara, PLTG, industri baja, industri migas, dll) akan dipisahkan, diolah, dan disimpan ke dalam lokasi penyimpanan jangka panjang, biasanya ke dalam formasi geologi di bawah tanah.

    Para promotor teknologi ini menyebut bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan demikian memitigasi perubahan iklim.

    Baca: Apa itu carbon capture storage

    Namun faktanya, teknologi Carbon Capture Storage ini adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.

    Carbon Capture Storage juga memberi tambahan beban finansial dalam operasinya, serta berpotensi memberi dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan komunitas.

    Permasalahan pertama yang sangat nampak adalah bahwa Carbon Capture Storage memiliki sejarah panjang tantangan teknis dan finansial yang signifikan.

    Dilansir di laman walhi.or.id, kondisi ini telah mengakibatkan proyek-proyek Carbon Capture Storage berakhir dengan kegagalan, memiliki kinerja buruk dan mengakibatkan pembengkakan biaya.

    Permasalahan kedua yang muncul dari operasi proyek Carbon Capture Storage/CCUS adalah dampak lingkungan dari peningkatan tekanan air, pengasaman laut.

    Baca: Tanggapan DPR soal carbon capture storage

    Juga ada kemungkinan proyek CCS memicu gempa bumi akibat penginjeksian CO₂ ke bawah tanah, serta risiko kesehatan akibat risiko kebocoran CO₂.

    Selain itu masih ada sederet potensi masalah lain yang dipicu proyek ini yang justru bisa berdampak negatif pada lingkungan.

    Oleh karena itu, 18 organisasi lingkungan menandatangani pernyataan bersama ini meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk berhenti mempromosikan Carbon Capture Storage/CCUS sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Organisasi tersebut juga meminta pemerintah idak menerapkan Carbon Capture Storage/CCUS dalam kebijakan dan program transisi energi serta penanganan krisis iklim.

    “Carbon Capture Storage/CCUS tidak lebih adalah solusi palsu dari upaya mencegah pemanasan global dan krisis iklim, yang hanya dipakai dalih oleh para pemain kongsi dagang krisis untuk bisa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, terus memenuhi atmosfer dengan emisi gas rumah kaca, dan memperburuk dampak pemanasan global dan krisis iklim.” demikian pernyataan yang diunggah di laman resmi Walhi Indonesia.

  • Gen Z dan Baby Boomers, Mana yang Paling Menderita Akibat Perubahan Iklim?

    Gen Z dan Baby Boomers, Mana yang Paling Menderita Akibat Perubahan Iklim?

    7cloud.asia – Kajian di tingkat global maupun nasional banyak kaum muda dari Generasi Z (Gen Z) dan Milenial sangat risau terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim.

    Gen Z merupakan kelompok penduduk global yang lahir dalam periode 1998-2012, sedangkan Milenial lahir di antara 1981-1995.

    Level keresahan mereka pada kondisi bumi saat ini, khususnya perubahan iklim, lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, seperti Generasi X (1965-1989) dan Baby Boomers (1946-1964).

    Kondisi tersebut melahirkan aksi iklim yang sangat kencang dari kaum muda Gen Z maupun Milenial dibandingkan orang-orang tua.

    Bahkan, aksi tersebut juga memicu lahirnya meme “Ok Boomer”, sebagai sindiran sejumlah anak muda terhadap generasi tua yang dianggap kolot terhadap langkah maju, termasuk aksi iklim.

    Sayang, sindiran ini justru menimbulkan sentimen antargenerasi dan tindakan saling menyalahkan. Generasi muda menganggap generasi tua telah merusak lingkungan dan memperparah perubahan iklim. Generasi tua juga dicap lamban untuk mengatasinya.

    Baca: Perubahan iklim membuat fenomena gelombang panas ekstrem

    Sementara itu, generasi tua mengeluhkan anak muda yang mereka anggap “mental lembek” dan hanya doyan main gadget. Mereka juga acap “menyuruh” yang muda untuk bertindak mengurus persoalan lingkungan.

    Membawa sentimen generasi dalam isu perubahan iklim justru tidak menyederhanakan persoalan. Banyak faktor yang akhirnya luput dari pertimbangan saat melihat akar masalah krisis iklim serta dampak-dampaknya.

    Meskipun meme-meme bernada sindiran menambah paparan publik terhadap isu lingkungan, percakapan semacam ini justru bisa menggeser fokus publik terhadap cara penanganan perubahan iklim.

    Setiap generasi membutuhkan lebih banyak perbincangan seputar dampak perubahan iklim. Dengan bercakap-cakap lebih banyak, antargenerasi seharusnya saling berempati dan berdialog untuk merumuskan aksi bersama, sesegera mungkin.

    Generasi mana yang paling menderita?
    Kejadian tak menyenangkan akibat perubahan iklim baik panas ekstrem, kebakaran hutan, puting beliung, banjir, maupun ombak dahsyat mengakibatkan kerugian banyak orang di berbagai negara dan juga daerah di Indonesia.

    Namun, pengalaman terhadap kejadian maupun bencana antargenerasi jelas berbeda

    Baca: Waspadai suhu panas di masa depan

    Gen Z yang lahir dalam periode 1998-2012 bertumbuh di situasi suhu Bumi sudah lebih hangat setidaknya 0,5°C sejak era praindustri (1850-an), dibandingkan generasi Baby Boomers yang lahir di antara tahun 1948-1962.

    Perbedaan ini juga terasa apalagi oleh Generasi Alpha yang lahir dalam periode 2013-2022.

    Kedua generasi ini, termasuk Millenial yang lahir dalam periode 1981-1995, menjadi kelompok yang sangat merasakan dampak perubahan iklim di masa depan.

    Jikalau seluruh negara dunia serius dan ambisius meredam perubahan iklim (termasuk melenyapkan pembakaran batu bara), mereka akan menjalani sebagian besar hidupnya di tengah kenaikan suhu Bumi sebesar 1,5-2,4°C.

    Semakin panas suhu Bumi, kemalangan yang menimpa manusia akan terus parah. Ini dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.

    Sementara itu, dengan skenario yang sama, generasi Baby Boomers merasakan kenaikan suhu 1,9°C.

    Baca: Sekjen PBB serukan pengurangan bahan bakar fosil tuk hadang perubahan iklim

    Karena mayoritas sudah berusia lanjut, Boomers mereka lebih rentan mengalami dampak perubahan iklim dalam waktu dekat seperti panas menyengat, kebakaran hutan, longsor, dan hujan ekstrem.

    Di negara berkembang seperti Indonesia, situasi itu bisa berefek lebih memprihatinkan. Sebagai contoh, generasi tua yang menjadi petani, mulai dari Generasi X hingga Boomers, banyak terpapar panas ekstrem di ladang dan ketidakpastian cuaca.

    Ini berdampak pada kesehatan sekaligus sumber nafkah mereka.

    Nelayan generasi Baby Boomers di desa-desa pesisir Sumbawa, misalnya, tak bisa disalahkan atas dan perubahan iklim. Sebaliknya, mereka justru menjadi korban.

    Dalam kasus lain, ada pemuda yang terbukti menerima suap dari perusahaan perusak lingkungan yang membuat Bumi semakin celaka.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Diah Ayu Prawitasari, Dosen Tetap Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta