Tag: perubahan iklim

  • Terdampak Perubahan Iklim, Indonesia Berpeluang Dapatkan Dana Loss and Damage

    Terdampak Perubahan Iklim, Indonesia Berpeluang Dapatkan Dana Loss and Damage

     

    Konferensi perubahan iklim (COP 27) di Mesir tahun lalu telah menyepakati untuk mengalokasikan dana guna membantu negara berkembang mengatasi kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim. Inisiatif ini diwujudkan dalam bentuk loss and damage fund.

    Istilah loss and damage sebenarnya belum didefinisikan secara rinci dalam perhelatan tersebut. Namun, sejauh ini, istilah tersebut merujuk pada dampak negatif dan kerugian yang timbul akibat perubahan iklim.

    Secara historis, negara berkembang memproduksi gas rumah kaca yang jauh lebih kecil dibanding negara maju, tapi jadi pihak yang paling terdampak akibat perubahan iklim. Oleh karena itu, negara-negara berkembang menuntut negara maju untuk memberikan kompensasi atas kerugian yang mereka terima dari dampak perubahaan iklim ini.

    Sejauh ini, belum ada kesepakatan seputar bagaimana dana loss and damage akibat perubahan iklim  tersebut akan dioperasionalkan. COP27 hanya membentuk komite khusus yang bertugas menyusun rekomendasi operasionalisasi dana tersebut pada COP28.

    Jika sudah beroperasi, dana loss and damage ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk mengatasi persoalan-persoalan iklim yang krusial. Kami menilai Indonesia dapat menggunakan tambahan pembiayaan iklim dari dana tersebut setidaknya untuk empat hal.

    Baca: Polusi udara akibatkan 7 juta kematian dini per tahun

    Melindungi rakyat kecil

    Indonesia dapat menggunakan tambahan pembiayaan dari dana loss and damage tersebut untuk memperkuat program-program asuransi iklim.

    Komisi Sosial dan Ekonomi PBB untuk Asia dan Pasifik (UN ESCAP) memperkirakan Indonesia setiap tahunnya kehilangan sekitar 31,2 miliar dolar AS (Rp 478 triliun) akibat bencana yang salah satunya dipicu perubahan iklim . Sebagian besar di antaranya (23,3 miliar dolar AS atau Rp 357 triliun) diakibatkan oleh bencana kekeringan.

    Kekeringan secara langsung dapat mengakibatkan kegagalan panen yang mengancam produksi pertanian dan penghidupan petani. Jika persoalan ini memburuk, kekeringan juga dapat mengancam ketahanan pangan Indonesia.

    Selain kekeringan, perubahan iklim juga menyebabkan kenaikan suhu air laut sehingga mengancam kelestarian sumber daya kelautan Indonesia yang bernilai US$ 256 miliar (Rp 3.929 triliun).

    Kenaikan suhu air laut juga mengakibatkan coral bleaching atau pemutihan terumbu karang yang merusak habitat ikan. Sejauh ini, diperkirakan hanya 30% terumbu karang yang memiliki kondisi baik di Indonesia. Rusaknya terumbu sebagai habitat ikan mengakibatkan turunnya populasi ikan.

    Kenaikan suhu air laut juga membuat ikan-ikan berpindah ke laut yang lebih dalam sehingga nelayan perahu kecil akan cenderung sulit menggapai ikan-ikan tersebut.

    Dampak perubahan iklim seperti [perubahan curah hujan dan meningkatnya keasaman air laut] turut menyebabkan pengurangan produktivitas ikan budidaya. Pengurangan produksi tersebut juga mengancam penghidupan pembudidaya ikan.

    Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan Strategi Pembiayaan dan Asuransi Risiko Bencana (PARB) Indonesia memandatkan program asuransi petani, pembudidaya ikan, dan nelayan untuk mengatasi dampak perubahan iklim.

    Baca: Dua alasan untuk segera beralih ke mobil listrik

    Pemerintah pun memiliki program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan 80% subsidi premi, serta Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK) dan Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) dengan premi dibayarkan penuh oleh pemerintah.

    Sayangnya, program ini baru menggapai sebagian penerima manfaat potensial karena keterbatasan anggaran serta beberapa kekurangan di desain program. Misal, capaian tahunan tertinggi Asuransi Tani hanya 1,7 juta petani atau sekitar 12% dari penerima manfaat potensial.

    Tekanan COVID-19 terhadap anggaran negara juga mengharuskan pemangkasan setengah penerima manfaat Asuransi Usaha Tani Padi. Pemerintah juga sementara menghentikan program subsidi Asuransi Pembudidaya Ikan dan Bantuan Asuransi Nelayan. Oleh karena itu, pembiayaan tambahan diperlukan untuk memperluas penerima manfaat dan menghidupkan kembali program yang terhenti.

    Produk asuransi iklim juga masih terbatas, belum ada produk untuk buah-buahan, hortikultura, dan sebagian besar komoditas perikanan ekspor tinggi. Oleh karena itu, pembiayaan tambahan juga diperlukan untuk pengembangan produk baru.

    Pembiayaan tambahan ini dapat berasal dari dana loss and damage dan dapat digunakan untuk pos-pos berikut ini:

    Pemulihan pascabencana daerah pesisir

    Pemerintah dapat memanfaatkan dana kerugian dan kerusakan untuk membantu kawasan pesisir yang mulai tenggelam akibat perubahan iklim yang terjadi.

    Kenaikan muka air laut membahayakan daerah pesisir. DKI Jakarta dan sebagian pantai utara Jawa diprediksi akan tenggelam. Selain itu, terdapat pula 115 pulau kecil yang berisiko tenggelam pada 2100.

    Mayoritas rumah pesisir yang terdampak dimiliki oleh warga miskin. Mereka membutuhkan bantuan untuk memperbaiki rumah ataupun berpindah ke kawasan lokasi yang lebih aman.

    Pembiayaan tambahan dari dana loss and damage dapat digunakan untuk membantu program relokasi warga yang terdampak (dari rumah tenggelam atau tidak layak huni). Selain itu, program pemulihan pascabencana (pemulihan trauma dan peningkatan kapasitas) juga dapat ditingkatkan melalui tambahan pembiayaan ini.

    Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah menjalankan berbagai program perumahan rakyat bersama mitra pembangunan dan lembaga swadaya masyarakat. Pembiayaan tambahan dana loss and damage ini dapat digunakan untuk memperkuat program-program ini.

    Rehabilitasi mangrove dan lahan gambut

    Indonesia dapat memanfaatkan tambahan pembiayaan dari dana loss and damage untuk merehabilitasi gambut dan mangrove yang rusak.

    Indonesia adalah rumah bagi sepertiga lahan gambut dan seperlima lahan mangrove dunia. Keduanya berperan penting dalam penyimpanan karbon serta pencegahan abrasi dan banjir, sehingga amat penting bagi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

    Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) memiliki inisiatif Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+) untuk melindungi hutan, gambut, maupun mangrove. Indonesia pun memiliki strategi nasional, beberapa program, serta lembaga khusus untuk menjalankan REDD+.

    Tambahan pembiayaan dari dana loss and damage dapat membantu upaya Indonesia memangkas emisi, dan pemanfaatan solusi alam untuk adaptasi abrasi dan banjir.

    Walau begitu, upaya ini masih bergantung pada bagaimana dana tersebut dikelola. Apakah dana tersebut hanya untuk kompensasi kerugian yang telah terjadi atau dibolehkan untuk membiayai upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim ?

    Perkuat “Dana Bersama Penanggulangan Bencana” Indonesia

    Terakhir, tambahan dana loss and damage dapat digunakan untuk memperkuat Dana Bersama Penanggulangan Bencana atau yang sering disebut Pooling Fund Bencana (PFB) Indonesia.

    PFB – yang dikelola badan layanan umum di bawah Kementerian Keuangan – merupakan dana yang dicanangkan untuk memperkuat pembiayaan di semua fase bencana (kesiapsiagaan, respons, dan pascabencana). Dana ini juga dicanangkan menjadi sumber pembiayaan yang lebih fleksibel dan responsif dari pada APBN.

    Saat ini, pemerintah telah menginvestasikan Rp 7,3 triliun ke PFB. Dana awal ini setara dengan pengeluaran pascabencana tahunan Indonesia sekitar US$ 300-500 juta (Rp 4,6-7,6 triliun). Namun, hanya return atau keuntungan dari PFB ini yang bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan penanggulangan bencana.

    Oleh karena itu, tambahan dana dari dana loss and damage ini dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan dana PFB. Sehingga, keuntungan dari PFB dapat lebih besar dan dapat memberikan pembiayaan bencana yang signifikan.

    PFB sebenarnya diperuntukkan bagi bencana secara umum. Namun, pemerintah dapat merumuskan ketentuan yang mengatur bahwa pendanaan tambahan dana dari dana loss and damage ini hanya diperuntukkan untuk bencana terkait iklim.

     

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

  • Ribuan Desa Pesisir di Indonesia Timur Terancam Krisis Akibat Perubahan Iklim

    Ribuan Desa Pesisir di Indonesia Timur Terancam Krisis Akibat Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Sejumlah organisasi sipil yang tergabung dalam Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia (Jaring Nusa KTI) menyatakan ribuan desa yang ada di pesisir pantai khususnya di wilayah Indonesia timur terancam mengalami krisis atau bahkan hilang akibat dampak perubahan iklim.

    Pusat Data dan Informasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA 2017) sendiri  mencatat jumlah desa pesisir di Indonesia sebanyak 12.827 desa.

    Manajer Kampanye Pesisir dan Laut Eksekutif Nasional WALHI Parid Ridwanuddin dalam pertemuan Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia dengan tema Coastal and Small Island People Summit 2022 di Denpasar, Bali, pada September lalu menyatakan bahwa desa pesisir di Indonesia Timur yang terancam oleh dampak buruk krisis perubahan iklim terutama berada di Maluku. 

    Dampak buruk perubahan iklim tersebut, kata dia, salah satunya dipengaruhi oleh aktivitas industri ekstraktif yang telah dan sedang merusak ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil di kawasan Timur Indonesia.

    Akibatnya, masyarakat pesisir yang hidupnya tergantung pada sumber daya pesisir dan laut kehilangan ruang hidupnya akibat ekspansi tambang yang tidak ramah lingkungan.

    Baca: Dua alasan untuk segera beralih ke mobil listrik

    Berikut daftar desa yang akan mengalami dampak buruk perubahan iklim berdasarkan penelitian Jaring Nusa KTI yakni:

    175 desa pesisir di Bali,

    297 desa pesisir di NTB,

    1.018 desa pesisir di NTT,

    783 desa Pesisir di Sulawesi Utara,

    1.011 desa pesisir di Sulawesi Tengah,

    527 desa pesisir di Sulawesi Selatan,

    954 desa pesisir di Sulawesi Tenggara, dan

    201 desa pesisir di Gorontalo.

    152 desa pesisir di Sulawesi Barat,

    1.064 desa pesisir di Maluku,

    934 desa pesisir di Maluku Utara,

    lebih dari 570 desa pesisir di Papua Barat,

    662 desa pesisir di Papua.

    Baca: Polusi udara akibatkan 7 juta kematian dini setiap tahun

    Jaring Nusa KTI sendiri merupakan simpul jaringan belajar antar berbagai CSO (Civil Society Organizations) dan kelompok masyarakat di Kawasan Timur Indonesia yang memiliki fokus, perhatian khusus, serta komitmen pada kesejahteraan masyarakat pesisir, nelayan serta lestarinya kelautan.

    Mereka menilai perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi masyarakat pesisir. Sayangnya hal ini masih luput dari perhatian pemerintah pusat.

    Sementara itu, berdasarkan catatan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI ) Maluku Utara, pertambangan nikel telah mengakibatkan hilangnya hutan alam di pulau kecil seluas 16.000 hektar dalam 15 tahun terakhir.

    Selain itu, Industri pertambangan nikel turut menyebabkan pencemaran laut dan menyebabkan penurunan jumlah nelayan. 

    Seluruh peserta yang tergabung dalam pertemuan Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia dengan tema Coastal and Small Island People Summit 2022 ini memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi seluruh proyek industri ekstraktif di wilayah pesisir dan pulau kecil di Kawasan Timur Indonesia.

    Tak hanya itu,  pemerintah juga diharapkan menjamin pengakuan dan perlindungan wilayah kelola rakyat di wilayah pesisir pulau kecil, serta segera menyusun skema penyelamatan desa-desa pesisir di kawasan tersebut dari ancaman dampak buruk perubahan iklim tersebut.

     

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Kampanye Perubahan Iklim Picu Ketakutan bukan Kesadaran, Ini Solusinya

    Kampanye Perubahan Iklim Picu Ketakutan bukan Kesadaran, Ini Solusinya

    7cloud.asia – Berbagai berita yang terbit terkait perubahan iklim, seperti laporan terbaru Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), sering memakai judul yang menakutkan seperti “peringatan terakhir”“sekarang atau tidak sama sekali”.

    Beberapa aktivis menyebut pendekatan ini sebagai climate doomism. Mereka  mengkritik beragam konten media ataupun pesohor yang memakai pendekatan ini dalam mengingatkan ancaman perubahan iklim. 

    Nuansa climate doomism menyiratkan manusia telah kalah menghadapi perubahan iklim. Yang tersisa tinggal perasaan gelisah dan tak berdaya.

    Dalam survei global masif yang tayang pada 2021, sekitar 10 ribu anak dan anak muda (usia 16-25) membagikan perasaan mereka tentang kondisi lingkungan terkait perubahan iklim.

    Hasilnya mencengangkan: dari Brazil sampai Prancis, Nigeria hingga Inggris, setidaknya 84% dari mereka merasakan kekhawatiran yang moderat tentang perubahan iklim.

    Terdapat 59% di antaranya mengaku sangat atau sungguh-sungguh khawatir akan ancaman perubahan iklim dan dampaknya.

    Baca: Ribuan desa pesisir terancam hilang akibat perubahan iklim

     

    Lantas, apa gunanya menakut-nakuti orang yang sudah merasa ngeri? Nuansa informasi yang kita bagikan bisa sangat mempengaruhi interaksi orang dengan informasi terkait perubahan iklim tersebut.

    Saat menerima informasi, termasuk scrolling berita, respons alamiah kita berupa “fight or flight” (melawan atau kabur) juga bekerja. Penelitian menunjukkan bahwa rasa takut membuat efek suatu informasi semakin parah, menyerang seluruh indera kita.

    Kita harus bereaksi. Namun, tanpa instruksi yang jelas bagaimana kita menyalurkan energi, kemungkinan kita akan kabur dari informasi itu.

    Pada dekade 1960-an, seorang psikolog sosial dari Yale University mengadakan eksperimen seputar pengaruh cerita menakutkan terhadap pengambilan keputusan. Mereka meminta sekelompok mahasiswa membaca selebaran tentang risiko infeksi tetanus. Setelah itu, mereka ditanyakan apakah ingin divaksinasi untuk mencegah risiko itu.

    Ada empat versi pamflet, masing-masing memuat level penggambaran ketakutan yang berbeda seputar penyakit dan studi kasusnya. Ada beberapa selebaran yang memberikan rekomendasi detail tempat vaksinasi.

    Peneliti menemukan, mahasiswa pembaca teks selebaran yang paling dramatis memiliki tingkat ketakutan, kekhawatiran, dan bahkan kemuakan yang tinggi. Baguslah, kata peneliti, mahasiswa yang ketakutan pasti akan mengikuti vaksinasi.

    Namun ternyata, mayoritas mahasiswa justru tidak mau pergi ke pusat vaksinasi–padahal ada di sudut gedung. Hanya 15% mahasiswa yang mendatangi tempat itu. Mereka inilah yang membaca selebaran yang memuat rekomendasi jelas. Mereka jadi tahu di mana pusat vaksinasi. Melihat peta, jam operasional, sekaligus pengingat bahwa vaksinasi itu gratis.

    Penelitian ini dan juga studi lainnya menunjukkan bahwa ketakutan dapat mengalahkan kita, kecuali kita memiliki instruksi yang jelas untuk menghadapinya.

    Menggugah harapan menjadi aksi

    Saya mempelajari jurnalisme viral, upaya jurnalis membuat berita yang menjadi trending topic di media sosial sekaligus menggaet pembaca. Saya melihat beberapa langkah yang bisa digunakan agar publik tertarik membaca sebuah berita.

    Perasaan terpukau, marah, dan khawatir bisa memancing orang untuk menyukai, mengklik, berkomentar, ataupun membagikan berita. Narasumber saya bilang, reaksi “LOL (laugh out loud atau terbahak), WTF (what the fuck atau astaga), dan OMG (oh my god: ya Tuhan) bisa menjamin suatu berita di-klik.

    Sebaliknya, konten yang terlalu sedih malah membuat pembaca mundur, terdiam, dan tidak membagikan ataupun meng-klik beritanya. Hal ini juga berlaku untuk isu perubahan iklim.

    Ada cara lain ketimbang doomism dalam postingan tentang perubahan iklim di media sosial yang memotivasi orang untuk bertindak. Sebelum kamu membagikan link atau membagikan posting tentang perubahan iklim di Instagram story, ada beberapa hal yang bisa diingat.

    1. Bantu pembaca ‘melihat’ dirinya sendiri

    Penelitian saya mengungkapkan bahwa, cara mudah membuat suatu cerita menjadi viral adalah dengan identity spin. Artinya, ketika subjek cerita memiliki kesamaan identitas dengan pembaca– orang tua, mahasiswa, anak –dapat “melihat dirinya sendiri” dan lebih terhubung dengan cerita.

    Pikirkan, postingmu menyasar siapa. Mahasiswa akan tertarik dengan cerita tentang mahasiswa usia 20 tahun yang menderita karena panas terkait iklim berpeluang menarik perhatian mahasiswa lainnya. Cerita yang lebih umum seperti “Orang kota”.

    Cerita berisi kiat menghadapi eco-anxiety (keresahan lingkungan) dengan gambar perempuan muda Gen Z bagus dibagikan kepada perempuan dengan demografi yang sama.

    2. Sertakan solusi sederhana

    Psikolog terkenal Albert Bandura menjelaskan bahwa orang-orang menggunakan langkah kecil untuk menambah kepercayaan diri ataupun mengembangkan keahlian mereka. Saat berhasil menapaki langkah kecil, kita bisa lebih terpacu untuk terus melompat lebih tinggi dan mematok target lebih besar.

    Konsep yang self-efficacy ini juga bisa diterapkan ke aksi iklim. Meski mungkin terlihat remeh, solusi-solusi individu sebenarnya bisa membuka kunci self efficacy kita.

    Bayangkan, berbagi informasi bisa membantu orang-orang memulai langkah sederhana seperti belanja barang bekas, mempraktikkan penggunaan ulang barang-barang (recycle), mengubah pola makan, dan memilih politikus yang serius menangani perubahan iklim.

    3. Berpikiran positif

    Studi menunjukkan bahwa citra dan cerita pencapaian maupun solusi bisa memantik self efficacy pembacanya. Orang-orang bisa mengubah perilaku setelah melihat panel surya dalam berbagai cerita dan berita, ketimbang melihat kepulan asap dari cerobong pabrik.

    Siapapun kamu: jurnalis, influencer, aktivis, ataupun pengguna sosial media lainnya, berbagi cerita yang mendiskusikan perkembangan lingkungan yang baik lebih merangsang tindakan orang lainnya dibandingkan topik ‘krisis’ ataupun ‘kiamat’ .

    Kita tidak mengatasi situasi menakutkan dengan menambah ketakutan, melainkan dengan mengendalikan rasa takut.

     

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

     

     
  • Peringatan Soal Perubahan Iklim Muncul Sejak 70 Tahun Silam

    Peringatan Soal Perubahan Iklim Muncul Sejak 70 Tahun Silam

     

    7cloud.asia – Beberapa waktu belakangan ini, kita dijejali dengan informasi mengenai perubahan iklim.

    Dari waktu ke waktu, kita begitu terbiasa menyaksikan beraneka tayangan tentang lingkungan yang menjadi bagian dari sejarah perubahan iklim. Mulai dari foto kebakaran hutan ataupun hewan yang dikremasi.

    Ada juga bongkahan es raksasa yang runtuh ke laut, hingga janji-janji pemimpin dunia bahwa mereka akan memperhatikan “peringatan terakhir” dari para ilmuwan terkait perubahan iklim.

    Orang-orang berusia di bawah 40 tahun mungkin tak mengingat masa ketika media-media belum memberitakan emisi CO2 yang terkait “efek rumah kaca”, “pemanasan global”, “perubahan iklim”, hingga istilah populer saat ini: krisis iklim.

    Pada musim panas yang panjang tahun 1988 atau 35 tahun silam menjadi momentum pemimpin dunia mulai membicarakan hal yang benar terkait perubahan iklim

    Calon Presiden Amerika Serikat saat itu (yang menjadi Presiden), George H.W. Bush, berjanji bakal menggunakan “Efek Gedung Putih” (kantor Presiden AS) untuk mengatasi “Efek gas rumah kaca” yang dipercaya memicu perubahan iklim. Namun janjinya tidak ditepati.

    Perdana Menteri Inggris kala itu, Margaret Thatcher, juga pernah mengingatkan bahwa Bumi sedang melakukan sebuah eksperimen besar terhadap sistemnya sendiri menghadapi perubahan iklim.

    Ucapan Bush dan Tatcher merupakan sejarah 35 tahun silam. Namun sebenarnya, 35 tahun sebelumnya (70 tahun dari bulan Mei ini)-–topik soal bahaya emisi CO2 di atmosfer yang bisa memicu perubahan iklim pertama kali menjelajahi dunia.

    Dampak CO2 yang memerangkap panas adalah hal biasa. Ilmuwan asal Irlandia, John Tyndall (yang menggambar karya seorang warga Amerika, Eunice Foote) menunjukkan bahwa dampak emisi CO2 sudah disinggung sejak pertengahan 1800-an.

    Pada 1895, peraih Penghargaan Nobel asal Swedia, Svante Arrhenius, mengemukakan bahwa—selama seratus tahun—-CO2 yang mengepul akibat pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas akan memerangkap panas yang bisa melelehkan tundra dan membuat musim dingin tinggal sejarah.

    Meski mendapatkan tentangan, karya Svante beberapa kali muncul di jurnal populer. Pada 1938, misalnya, teknisi mesin uap asal Inggris bernama Guy Callendar berkata di depan Royal Society di London (organisasi sains terkemuka di Inggris) bahwa pemanasan bumi tengah berlangsung yang bisa memicu perubahan iklim

    Hingga pada awal Mei 1953, dalam pertemuan para pakar geofisika di American Geophysical Union, fisikawan asal Kanada Gilbert Plass–yang sudah bertukar surat dengan Callendar–berkata di depan para ilmuwan bahwa petaka sedang berjalan.

    Baca: Kondisi lingkungan dan pengaruhnya pada pasien asma

    Plass berkata:

    Lonjakan aktivitas industri abad ini melepaskan begitu banyak CO2 ke atmosfer sehingga temperatur rata-rata naik 1,5°C per 100 tahun.

    Sentilan Plass lantas dikutip media Associated Press dan kantor berita lainnya serta tayang di berbagai koran di seluruh dunia (bahkan media di tempat yang jauh seperti Sydney Morning Herald). Tujuh hari berselang, Peringatan Plass juga muncul di dua majalah beken yakni Newsweek pada 18 Mei dan Time.

    Fakta bahwa dunia tengah menghangat saat itu bukanlah hal yang mengejutkan di kalangan ilmuwan. Namun, keterkaitannya dengan emisi CO2 inilah–sebagaimana dikatakan Plass–menjadikannya bernilai berita. Ucapan Plass juga sekaligus menentang teori lainnya yang mencoba menjelaskan kenaikan suhu bumi akibat guncangan orbit ataupun aktivitas bintik matahari (sunspot).

    Minat Plass mencari tahu soal CO2 muncul kala dia bekerja di Ford Motor Company. Dia melihat bahwa emisi CO2 di Bumi sebenarnya bukan cuma terkait muka air laut (tanpa penjelasan yang rumit).

    Banyak ilmuwan yang akhirnya mengabaikan karya Arrhenius karena berbasiskan kepercayaan palsu bahwa CO2 beraktivitas dengan pergerakan yang sama seperti di stratosfer.

    Plass terus meneliti persoalan ini. Dia menerbitkan berbagai publikasi teknis maupun popular selama dekade 1950-an. Pada 1956, dia menulis artikel ilmiah berjudul “Teori Karbon Dioksida Perubahan Iklim” yang diterbitkan jurnal ilmiah Tellus Swedia. Ada juga artikel populer yang terbit di media American Scientist. Dia juga menghadiri sejumlah pertemuan penting untuk mendiskusikan pembentukan karbon dioksida.

    Baca: Pemicu cuaca panas akhir-akhir ini

     
     
    Media The Irish Times mendiskusikan perubahan iklim pada 1954. Irish Times / allouryesterdays.info

    Teori karbon dioksida kemudian jadi bahan ulasan para ilmuwan maupun jurnalis. Salah satu di antaranya, George Wendt, menuliskan temuannya dalam media bereputasi, UNESCO Courier, dan disebarkan oleh media Irish Times pada 1954. Pada tahun yang sama, wartawan Inggris mulai menuliskan teori Plass.

    Pada 1957, majalah New Scientist menyinggung teori tersebut. Hingga pada akhir dekade 1950-an, hampir setiap pembaca koran akhirnya mengetahui gagasan Plass.

    Selama dekade 50-an dan 60-an, ilmuwan Swedia, Jerman, dan Uni Soviet, memeriksa persoalan CO2. Pada 1965, Presiden Lyndon Johnson bahkan menyinggung CO2 dalam pidatonya di hadapan Kongres AS.

    Pada akhir 1960-an, kolaborasi internasional akhirnya dimulai, meski membutuhkan banyak pemantauan. Misalnya, pada April 1969, ilmuwan AS Charles Keeling, yang mengukur konsentrasi CO2 di atmosfer di observatorium Hawaii, mengungkapkan bahwa dia diminta mengubah judul paparan kuliahnya dari “Jika CO2 dari bahan bakar fosil berdampak pada lingkungan, apa yang akan kita lakukan untuk mengubahnya?” menjadi “Apakah CO2 dari bahan bakar fossil berdampak pada lingkungan?”

     
    Plass mempromosikan teorinya di majalah Scientific American pada 1959. Scientific American (1959)

    Bagi sejarawan iklim seperti saya, dekade 1970-an adalah periode yang menarik dalam pengukuran yang intens, pemodelan, observasi, dan pemikiran terkait perubahan iklim. Pada akhir dekade itu, semuanya berkontribusi menghasilkan kesimpulan bahwa masalah serius sedang terjadi. Kerja keras Plass pun berhasil.

    Ketika Plass kembali bersuara, konsentrasi CO2 di atmosfer mencapai 310 parts per million (ppm). Saat ini konsentrasinya mencapai sekitar 423. Setiap tahun, saat kita terus membakar minyak bumi, batu bara, dan gas, konsentrasi CO2 naik sehingga panas semakin terperangkap di atmosfer.

    Pada waktu ketika peringatan Plass berusia seabad, konsentrasinya akan jauh lebih tinggi. Kemungkinan besar kita akan melampaui batas “aman” pemanasan suhu bumi sebesar 2°C.


     

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, baca artikel asli di sini

  • 3 Cara Agar Pendidikan Turut Memberi Solusi bagi Perubahan Iklim

    3 Cara Agar Pendidikan Turut Memberi Solusi bagi Perubahan Iklim

    Siswa SMAN 14 Semarang saat mengerjakan projek pembuatan pupuk organik di sekolah. Foto: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

    7cloud.asia – Sebagai generasi yang tinggal di Bumi di masa depan, anak-anak perlu menyadari situasi Bumi semakin genting akibat dampak perubahan iklim

    Pemanasan global sekitar 1,2° C sejak 150 tahun lalu mengakibatkan berbagai dampak buruk bagi kehidupan: cuaca ekstrem, kebakaran hutan, pemanasan laut, hingga penurunan keanekaragaman hayati. Sebagian dampak dari perubahan iklim di antaranya sudah kita rasakan.

    Perubahan suhu Bumi berisiko mengubah iklim lebih drastis lagi pada 2050. Efek dari perubahan iklim bisa lebih parah, dan anak-anaklah yang paling berisiko merasakannya.


    Baca juga: “Neraka pada 2050”: krisis iklim isu hidup mati bagi generasi muda


    Nah, pendidikan dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenali situasi dan risiko akibat perubahan iklim tersebut.

    Studi menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan yang berkualitas dapat meningkatkan kesadaran akan ancaman perubahan iklim, bukan hanya terhadap anak-anak, tapi juga sampai “menular” ke orang tua dan keluarga mereka.

    Peran ini krusial, terutama bagi Indonesia, yang hanya 47% penduduknya percaya bahwa pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia.

     

    Kami mencoba melakukan telaah singkat dokumen Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka yang diterbitkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Dokumen ini adalah sekumpulan arahan materi dan kompetensi yang mesti dicapai siswa pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari usia dini hingga menengah.

    Secara umum, kami mendapati literasi perubahan iklim dan energi sudah tercantum pada sejumlah mata pelajaran di semua jenjang pendidikan, dengan berbagai kata kunci, di antaranya: pemanasan global, perubahan iklim, energi alternatif, dan energi terbarukan.

    Namun, arahan dalam berbagai Capaian Pembelajaran ini belum berhasil diterjemahkan menjadi sesuatu yang dekat dan relevan bagi murid. Sekolah sering mengambil contoh yang justru jauh, tidak relevan, dan parsial.

    Contohnya adalah ajakan untuk melakukan 3R (mengurangi, menggunakan ulang, mendaur ulang sampah) tanpa menelaah aspek konsumsi yang berkelanjutan di dalamnya. Ada juga target bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk memahami teknologi pengolahan hasil dan pengujian mutu pertanian di tengah perubahan iklim.

    Realitasnya, tidak semua SMK tersebut memiliki fasilitas seperti laboratorium dan akses internet yang baik.


    Baca juga: Riset awal tunjukkan nilai kesadaran perubahan iklim Gen-Z di Indonesia sangat tinggi


    Indonesia perlu memperkuat pendidikan perubahan iklim di sekolah sejak dini. Menurut kami, setidaknya ada tiga langkah pembenahan yang perlu dilakukan oleh pemerintah maupun pihak sekolah.

    Harapannya, para siswa dapat mengetahui langkah-langkah terbaik sejak dini untuk menanggulangi dampak perubahan iklim, ataupun beradaptasi di ruang hidup masing-masing.

    1. Memperbanyak materi belajar tentang perubahan iklim

    Siswa saat mengunjungi kawasan ekowisata berbasis keanekaragaman hayati. (KLHK)

    Pemerintah perlu memperbanyak materi belajar tentang krisis iklim pada mata pelajaran dalam kurikulum.

    Kami mencoba melakukan telaah awal dokumen Capaian Pembelajaran dengan menggunakan kata kunci “perubahan iklim”. Hasilnya, istilah perubahan iklim disebutkan 64 kali, dan tercakup dalam 32 topik dalam mata pelajaran.

    Sayangnya, mayoritasnya (28 topik) adalah mata pelajaran SMK. Sisanya tersebar di jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Padahal, jumlah SMK hanya sekitar 3,2% dari total 443 ribu sekolah di Indonesia.

    Oleh karena itu, agenda utama reformasi pendidikan di Indonesia harus memprioritaskan usaha untuk memberikan lebih banyak paparan tentang perubahan iklim kepada 96,8% sekolah lainnya.

    Upaya Kementerian Pendidikan (Kemdikbudristek) memadukan Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) patut diapresiasi sebagai langkah awal mengenali kondisi Bumi dan interaksinya dengan kehidupan manusia.

    Langkah selanjutnya adalah memperbanyak capaian pembelajaran perubahan iklim dalam IPAS sejak tingkat sekolah dasar (SD).

    Materi ini tak harus selalu seragam, tapi menyesuaikan dengan kondisi di setiap daerah. Misalnya, siswa SD di daerah pesisir akan lebih cepat menangkap fenomena abrasi ataupun ombak ganas sebagai imbas perubahan iklim dibandingkan siswa yang tinggal di dataran tinggi.

    Beberapa studi eksperimen menyimpulkan bahwa pembelajaran terkait isu perubahan iklim tepat dimulai pada usia SD (9-12 tahun). Pada usia ini, siswa dianggap sudah memiliki pemahaman konseptual dan kemampuan komunikasi yang baik.

    Siswa juga lebih mampu meniru dan mengadopsi perilaku-perilaku baik yang diamati dari proses pembelajaran topik perubahan iklim.


    Baca juga: Bagaimana mengajari anak-anak tentang perubahan iklim dan menginspirasi mereka untuk mengambil tindakan


    Indonesia dapat belajar dari Australia yang memiliki sumber materi pembelajaran berupa kumpulan studi kasus yang dapat diakses secara terbuka oleh guru dan siswa. Mereka menyediakan platform “Curious Climate” sebagai wadah anak-anak untuk bertanya seputar perubahan iklim dan dijawab langsung oleh ahlinya.

    Pemerintah dapat memilah sumber daya yang tersedia, menambah sumber daya, dan meletakkannya di portal yang sama untuk menjadi platform terpadu yang dapat digunakan oleh guru dan siswa.

    Platform yang sudah disediakan pemerintah, yaitu Merdeka Mengajar, dapat melayani tujuan ini.

    2. Pembelajaran berbasis projek

    Kurikulum Merdeka mewajibkan sekolah untuk menggunakan 20-30% waktunya untuk menyelenggarakan pembelajaran berbasis projek, dengan model Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila .

    Projek ini memuat isu lingkungan sebagai pilihan tema yang dapat diangkat, yaitu “Gaya Hidup Berkelanjutan”. Penerapannya berbeda-beda sesuai tingkat pendidikan.

    Projek dapat menjadi alat yang ampuh untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam terhadap isu perubahan iklim. Sebab, siswa diharapkan lebih aktif mencari informasi, melihat masalah, merancang projek, serta melaksanakan perencanaan tersebut secara individu maupun kelompok.

    Projek juga dapat mengintegrasikan ilmu alam dan sosial ke dalam kegiatan yang dilaksanakan.

    Salah satu penulis artikel ini (Vivi Fitriyanti) pernah menerapkan pembelajaran berbasis projek dengan memadukan isu lingkungan dan perubahan iklim dengan seni. Selama mengerjakan projek, siswa diajak untuk melakukan studi literatur, wawancara, dan observasi secara langsung ke Tempat Pembuangan Akhir Bantargebang, Kabupaten Bekasi.

    Anak-anak kemudian merespons isu dan hasil riset yang telah mereka lakukan dengan membuat sebuah karya seni dalam berbagai bentuk, seperti: instalasi, fotografi, dan seni kerajinan jarum, yang dipamerkan kepada masyarakat umum.

    Selain itu, penulis mengajak anak-anak untuk diskusi di sekolah terkait isu perubahan iklim dan mengundang pihak luar untuk berbicara terkait isu ini. Penulis dan guru lainnya juga mengajak anak-anak untuk ikut aksi langsung, yaitu parade Jeda untuk Iklim.


    Hal di atas tentu saja tidak akan terjadi apabila tidak ada kepemimpinan sekolah yang membolehkan kami untuk turun ke jalan. Maka dari itu, kepemimpinan sekolah yang sadar akan perubahan iklim dibutuhkan sebagai ruang transformasi dalam menumbuhkan kesadaran perubahan iklim pada anak-anak.

    Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila telah diterapkan di sekitar 142 ribu sekolah di seluruh tanah air pada 2022. Seratus ribu sekolah lainnya juga diperkirakan akan bergabung pada tahun 2023. Pemerintah perlu membuat perencanaan berjangka agar setiap sekolah di seluruh Indonesia dapat menerapkan pembelajaran berbasis projek tersebut.

    3. Kerja sama antarpihak

    Pemerintah perlu membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat pendidikan perubahan iklim di sekolah.

    Beberapa pihak ini, misalnya, organisasi pegiat isu lingkungan yang bisa menambahkan dan mengembangkan lebih banyak materi pengetahuan untuk guru secara gratis ke dalam platform Merdeka Mengajar.

     

    Sektor swasta juga dapat berkontribusi dengan menyediakan program magang untuk menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, terutama mengenalkan lebih banyak peluang kerja hijau dan memaparkan mereka pada masalah dunia nyata. Sekolah, universitas, dan perusahaan dapat bekerja sama untuk mewujudkan hal ini.

    Terakhir, wali atau orang tua juga perlu berperan aktif dalam pendidikan anaknya dan mengenalkan isu perubahan iklim di rumah. Mereka dapat terlibat dalam percakapan dan diskusi yang bisa menginspirasi anak-anak.


    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation. Barry Mikhael Cavin, Content Manager Strategy and Core, GovTech Edu turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

  • Perubahan Iklim Akibatkan Musim Hujan Lebih Panjang, Banjir Akan Lebih Sering Terjadi

    Perubahan Iklim Akibatkan Musim Hujan Lebih Panjang, Banjir Akan Lebih Sering Terjadi

     
    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fenomena Perubahan Iklim telah menyebabkan musim hujan menjadi lebih panjang di Indonesia.
     
    Untuk itu masyarakat diminta lebih hati-hati dan lebih waspada mengantisipasi kondisi akibat perubahan iklim yang disebut bisa memicu semakin terjadinya banjir.

    Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan, Perubahan Iklim telah terjadi selama hampir dua dekade terakhir pada periode tahun 2000 sampai 2019.

    Perubahan Iklim mengakibatkan durasi musim hujan lebih panjang di beberapa wilayah selatan di Indonesia.

    “Di Sumatera Selatan dan Kalimantan dan sebagian wilayah di selatan Pulau Sulawesi selama 49 hari. Perubahan Iklim, lanjutnya, mengakibatkan durasi musim hujan di Lampung dan bagian barat Pulau Jawa berlangsung lebih panjang 12 hari,” kata Erma di Jakarta, Maret lalu.

    Baca: Agar pendidikan turut jadi solusi untuk perubahan iklim

    Erna menambahkan, perubahan iklim juga mengakibatkan hari-hari kering mengalami peningkatan selama musim hujan untuk wilayah selatan Indonesia.

    Untuk memantau Perubahan Iklim inim Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN membangun model prediksi musim Decision Support System (DSS) Kamajaya 

    Kamajaya merupakan aplikasi sistem kajian awal musim jangka madya berbasis model atmosfer. Data yang dihasilkan Kamajaya kemudian dikembangkan untuk mendukung riset atmosfer maupun aplikasinya. 

    Pada Januari 2023, European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) menyatakan bahwa pemanasan global diperkirakan mencapai 1,21 derajat Celcius. Pemanasan global ini diyakini telah memperparah perubahan iklim
     
    Dalam 30 tahun, pemanasan global ini dapat berlanjut hingga mencapai 1,5 derajat Celcius pada Maret 2023. Ini yang menyebabkan perubahan iklim terasa makin nyata.

    Baca:  Peringatan ancaman perubahan iklim sudah dimunculkan 70 tahun silam

    Erma menjelaskan bahwa perubahan iklim di Indonesia memiliki dampak dan efek yang berbeda di setiap wilayah di Indonesia. Namun, pengamatan BRIN terfokus pada daerah yang selama ini dikenal sebagai sumber pangan.

    “Fokus pengamatan kami di selatan Indonesia, karena selatan Indonesia merupakan tempat sentra pangan di Indonesia serta memiliki penduduk terbanyak,” kata Erma.

    Perubahan iklim telah mengakibatkan peningkatan hujan yang lebih ekstrem pada musim hujan.

    Adapun selama musim kemarau, hujan ekstrem semakin sering terjadi di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

    Baca:  Agar tumbuhkan kesadaran, begini seharusnya kampanye perubahan iklim dilakukan

    Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa hasil penelitian BRIN terkait perubahan iklim menunjukkan adanya perubahan temperatur signifikan di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (tahun 2021-2050 terhadap 1991-2020).

    Perubahan iklim juga mengakibatkan temperatur minimum mengalami penurunan di sebagian besar pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta bagian tengah Jawa Barat.

     
    Sedangkan, temperatur maksimum mengalami peningkatan di sebagian besar pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    Adapun perubahan iklim mengakibatkan hari-hari tidak hujan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan diproyeksikan meningkat, sehingga lebih kering dan mengalami peningkatan kering yang signifikan, sama halnya di Sumatera Selatan hingga Lampung.

    Baca:  Ribuan desa pesisir di Indonesia terancam hilang akibat perubahan iklim

    Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya badai vorteks dan siklon tropis di selatan Nusa Tenggara Timur, sehingga dampaknya meningkatkan hujan dan menimbulkan banjir di Madura dan wilayah Jawa Timur lainnya.

    Selain itu, perubahan iklim juga mengakibatkan penghangatan suhu permukaan laut di Laut Jawa bagian utara Jakarta.

    Di sisi lain, suhu permukaan laut yang mendingin terbentuk di Laut China Selatan telah menciptakan tekanan tinggi.

    Baca:  Tentang dana loss and damage terkait perubahan iklim 

    Erma menuturkan perlu model prediksi cuaca resolusi tinggi secara temporal dan spasial dengan wilayah dominan yang luas.
     
    Selain itu juga perlu mengedukasi masyarakat secara komprehensif untuk mengantisipasi kebencanaan yang mungkin terjadi akibat badai badai vorteks dan siklon tropis yang akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. 
     
    Terakhir, sangat perlu untuk membangun Weather Ready Nation yang merupakan upaya memaksimalkan peringatan dini terhadap kejadian vortex.
     
    “Ini untuk memastikan jalur koordinasi dan komunikasi di daerah dengan kesigapan maksimal dan meminimalisasi dampak perubahan iklim yang terjadi, pungkasnya dalam webinar yang diselenggarakan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) tersebut,” pungkas Erna. 
     
    Sumber: BRIN
     

     

  • Jokowi : Dunia Butuh Aksi Nyata untuk Hadapi Perubahan Iklim Bukan Hanya Kata-kata

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong semua negara turut berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.

    Hal itu disampaikan Jokowi dalam pidatonya pada Sesi Kerja Mitra G7 yang membahas soal iklim, energi, lingkungan dan perubahan iklim yang berlangsung di Grand Prince Hotel Hiroshima, Jepang, pada Sabtu (20/05/2023).

    “(Untuk menghadapi perubahan iklim) Pendekatan lama harus ditinggalkan, burden shifting, propaganda. Bumi ini butuh aksi nyata, bukan talk the talk yang tidak berujung konkret,” ujar Jokowi.

    Baca: Polusi picu 7 juta kematian dini setiap tahun

    Menurut Jokowi, mengantisipasi perubahan iklim ini Indonesia telah meningkatkan target penurunan emisi sebesar 31,89 persen dengan kemampuan sendiri dan 43,2 persen dengan dukungan internasional.

    “Sebuah komitmen yang harus diikuti dengan kemitraan yang memberdayakan,” imbuhnya.

    Selain itu, Presiden Jokowi menegaskan bahwa dukungan pendanaan iklim bagi negara berkembang harus konstruktif dan jauh dari kebijakan diskriminatif yang mengatasnamakan lingkungan.

    Dukungan pendanaan dalam bentuk seperti utang, menurutnya hanya akan menjadi beban bagi negara berkembang yang sangat merasakan dampak perubahan iklim.

    “Saya harus sampaikan, jujur negara berkembang ragu terhadap komitmen pendanaan negara maju yang hingga kini komitmen USD100 miliar/tahun masih belum terpenuhi,” lanjutnya.

    Baca: Pemanasan global akibatkan ribuan danau mengering

    Lebih lanjut, Jokowi mendorong semua negara untuk meningkatkan aksi konkret menghadapi ancaman perubahan iklim.

    Kepala Negara pun menyampaikan sejumlah aksi nyata yang telah dilakukan Indonesia dalam menghadapi ancaman perubahan iklim tersebut.

    “Indonesia telah lakukan banyak hal, seperti laju deforestasi turun signifikan dan terendah selama 20 tahun terakhir, rehabilitasi 600.000 hektare hutan mangrove selesai di 2024,” cetus Jokowi

    Selain itu Jokowi juga menyebut bahwa Indonesia telah merehabilitasi 3 juta hektare lahan kritis, kebakaran hutan turun 88 persen.

    Indonesia, lanjut Jokowi, juga telah membangun 30.000 hektare kawasan industri hijau, dan mendorong pengembangan ekosistem mobil listrik atau Electric Vehicle yang diharapkan bisa menurunkan emisi ke nol persen.

    Sumber: Setkab

  • 10 Tantangan Besar yang Dihadapi pada 2050

    10 Tantangan Besar yang Dihadapi pada 2050

    7cloud.asia – Selama beberapa bulan pada 2017 lalu, BBC Future Now telah meneliti beberapa masalah terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini.

    Masalah itu antara lain adalah penggunaan lahan untuk mengakomodasi populasi yang jumlahnya meledak, masa depan energi nuklir, jurang antara orang kaya dan orang miskin – dan banyak lagi.

    Tapi bagaimana dengan tantangan besar yang akan dihadapi pada masa depan? Dalam 30 tahun kemudian atau pada 2050. Masalah apa yang mungkin ada dalam agenda dunia untuk dipecahkan pada tahun 2050?

    Tidak mungkin untuk memprediksi apa yang akan terjadi pada 2050, tapi kita bisa mendapatkan petunjuk dari bagaimana tren terkini dalam sains dan teknologi dapat dimainkan.

    Berikut adalah beberapa potensi masalah besar yang mungkin akan dihadapi pada tahun 2050.

    Modifikasi genetika manusia

    Perdebatan di kalangan ilmuwan mulai menggaung sejak tahun lalu karena teknologi baru yang memungkinkan kita mengedit DNA manusia. Ini disebut Crispr (diucapkan ‘krisper’) dan ini adalah sebuah cara mengubah DNA orang untuk menghilangkan penyakit seperti kanker.

    Kedengarannya bagus, bukan? Tapi bagaimana jika ada dampak etis yang gelap, dan ini berubah menjadi proyek genetika untuk menghasilkan ‘bayi-bayi yang didesain’, dengan memilih embrio yang menghasilkan bayi-bayi yang memiliki kecerdasan dalam jumlah tertentu atau memiliki karakteristik fisik tertentu?
     

    Meskipun masih belum cukup banyak digunakan untuk dipertimbangkan sebagai “tantangan besar” pada saat ini, ini adalah kemajuan yang akan terjadi pasa masa mendatang dan ada akibatnya yang luas yang perlu dipersiapkan – dan itulah banyak alasan untuk memastikan para ahli keetikaan berada di tiap-tiap laboratorium, universitas, dan perusahaan yang mungkin tidak sabar untuk mengubah DNA kita.

    “Refleksi yang tepat tentang bagaimana kita mungkin ingin melestarikannya membutuhkan waktu – ini harus mengacu pada perspektif yang luas tentang apa artinya menjadi manusia,” kata Nicholas Agar, profesor etika di Universitas Victoria Wellington di Selandia Baru kepada BBC Future Now pada awal tahun ini.

    “Sulit untuk menyisihkan waktu untuk merefleksikan keetisan ketika kemungkinan teknologi baru tampak semakin tebal dan cepat.”

    Jumlah penduduk manula membengkak

    Kita tidak akan hanya bergumul dengan fakta bahwa populasi dunia meledak pada 2050 – tapi orang juga hidup lebih lama dari sebelumnya. Mana yang hebat – tapi semua warga lanjut usia itu akan membutuhkan perawatan.

    Faktanya, jumlah penduduk lanjut usia akan meningkat lebih dari 50 kali – dari 500.000 saat ini menjadi lebih dari 26 juta pada tahun 2100. Dari Inggris sampai Jepang hingga Cina, negara dengan jumlah penduduk yang berusia lebih dari 65 tahun akan menjadi lebih biasa.

    Dalam beberapa dekade ke depan, karena kenaikan itu mulai terjadi, kita akan memerlukan perawatan yang lebih baik untuk para orang lansia (Jepang bahkan mempertimbangkan penggunaan robot) dan mungkin kebijakan untuk memungkinkan lebih banyak imigran untuk mencoba dan menggantikan tenaga kerja yang sudah tua, dan dalam beberapa kasus ada penurunan tingkat kelahiran.

    Kota-kota yang hilang

     

    Anda tidak perlu mencari dengan susah payah tempat seperti Miami untuk melihat bagaimana kota-kota berubah pada Abad ke 21 – kenaikan permukaan air laut secara bertahap membuat beberapa bagian dari kota tersebut menghilang.

    Dipicu oleh perubahan iklim, tidak hanya banjir menjadi lebih umum di jalanan, namun pola cuaca yang berubah juga mempengaruhi desain bangunan.

    Selain lebih banyak tembok laut, kota ini mengharuskan semua bangunan baru dibangun dengan lantai pertama yang dibangun lebih tinggi. Tapi itu semua tembok buatan – jika tren yang ada saat ini terus berlanjut, kita mungkin harus menyesuaikan diri dengan kehilangan seluruh wilayah kota, pulau, dan daerah dataran rendah seperti Bangladesh. Dampak ekonomi terhadap daerah akan sangat besar, dan begitu pula dengan jumlah pengungsi karena perubahan iklim bisa menjadi hal yang biasa.

    Tekanan sudah berkembang di kota-kota, seiring dengan pertumbuhan populasi perkotaan. Jika perubahan iklim memaksa migrasi massal, maka infrastruktur, layanan, dan ekonomi yang ada mungkin terbentang sampai titik terakhir.

    Evolusi Media Sosial

    Media sosial telah mempersulit cara kita berkomunikasi untuk bagian yang lebih baik dalam satu dekade. Dan itu tidak akan berjalan ke mana-mana dalam waktu dekat ini, karena kebanyakan orang mendapatkan kabar mereka dari saat ini. Itu bahkan sebelum kita juga terlibat dalam kekacauan tentang pelecehan daring. Seperti apa media sosial dalam 30 tahun kemudian, dan pada saat itu, apa saja ancaman yang mungkin ditimbulkannya?

    Sebuah dunia tanpa privasi, untuk seseorang. Itu satu masalah yang sudah kita lihat. Dan selain menghilangkan rasa dan keinginan kita untuk anonimitas dan privasi, media sosial juga membawa banyak masalah penindasan dalam dunia maya.

    Banyak badan amal dan organisasi nirlaba di seluruh dunia telah memobilisasi diri dalam perang melawan pengganggu di internet, namun ini adalah pertanyaan terbuka tentang apakah lembaga penegak hukum dan perusahaan media sosial dapat memperbaikinya atau apakah situasi ini akan memburuk.

    Lalu ada juga masalah diet informasi yang harus dipertimbangkan yaitu jika status quo berita palsu di mana-mana tetap ada, bagaimana berita tersebut membentuk bagaimana orang-orang melihat dunia?

    Jika individu menghabiskan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun dalam kehidupan mereka hanya terpapar pada sumber berita yang tidak dapat dipercaya, maka hal itu tidak akan baik bagi masyarakat dan diskusi yang beradab.

    Konon, mengingat seberapa cepat media sosial datang di dunia masa kini, seorang optimis mungkin menyarankan agar masalah tersebut dapat segera diselesaikan. Dalam waktu 30 tahun, kita mungkin berurusan dengan isu media sosial yang bahkan belum kita duga. Toh, Facebook baru berumur 13 tahun.

    Ketegangan geopolitik

    Tahun lalu telah tampak gangguan total dari keseimbangan rapuh dalam geopolitik kita. Itu bisa membuat stabilitas global beberapa dekade berikutnya menjadi sebuah tanda tanya yang besar.

    Peluncuran rudal Korea Utara. Ribuan pengungsi melintasi perbatasan untuk melarikan diri dari kekacauan. Peretas ikut campur tangan dalam pemilihan umum negara lain. Meningkatnya sentimen nasionalis di seluruh dunia.

    Judul utama pada tahun 2016 (dan sejauh ini, 2017) telah didominasi oleh drama politik yang tidak pernah berakhir yang telah memicu ‘ladang ranjau geopolitik’ dan ‘pergeseran geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya’ – apakah itu dengan cara mengelola Korea Utara yang tidak dapat diprediksi, penderitaan pengungsi Suriah, atau transisi yang dialami Inggris sebagai akibat dari keluarnya dari Uni Eropa.

    Peretasan yang meluas, rudal nuklir dan teknologi berbahaya lainnya, dan ini mudah

    Perjalanan dengan mobil aman

    Terlepas dari urbanisasi dan pembicaraan kereta peluru yang pesat dan teknologi fantastis seperti Hyperloop yang datang di masa depan, mobil tidak akan pergi ke mana-mana – dan pada kenyataannya, dalam beberapa dekade berikutnya, akan ada lebih banyak lagi di jalan.

    Teknologi mobil tanpa sopir dengan cepat diluncurkan, dengan perusahaan teknologi dan mobil besar secara agresif berusaha meluncurkan kendaraan bebas-manusia di tahun-tahun mendatang. Tapi selain itu, banyaknya mobil – mengemudi sendiri atau tidak – akan meroket. Demikian hasil studi menunjukkan.

    Di negara-negara seperti Cina yang dianggap sebagai kelas menengah yang sedang tumbuh berkembang, kebutuhan lingkungan dan infrastruktur yang semakin diminati oleh penduduk kota akan menjadi tantangan besar. Bagaimana kita memastikan keamanan, melawan polusi, dan memastikan mobil tanpa sopir tidak menjadi ancaman di jalan?

    Sumber daya berkurang

    Teknologi dan perangkat baru yang menjadi ciri Abad ke-21 semua memerlukan logam langka dari dalam Bumi untuk membuatnya – sebuah ponsel pintar rata-rata memiliki lebih dari 60 “bahan”.

    Itu membuat tekanan pada sumber daya alam di Bumi ini: di Cina, di mana 90% logam langka yang ada di dunia ditemukan, diperkirakan tambangnya akan habis dalam dua dekade ke depan – dan pengganti yang baik untuk bahan tersebut sulit didapat.

    Menetap di planet lain

    Bagaimana perusahaan wisata ruang angkasa memastikan bahwa kegiatan mereka aman? Bagaimana kita menemukan cara untuk mengirim manusia ke Mars atau planet lain untuk tinggal di sana, seperti yang didesakkan oleh Stephen Hawking agar kita mencari tahu?

    Perjalanan luar angkasa mungkin tampak seperti domain agen antariksa dan miliarder saat ini, namun karena hal itu semakin mudah diakses orang lain, seluruh tantangan baru akan muncul.

    Angkasa luar semakin terlihat kurang seperti perbatasan akhir dan lebih mirip seperti halaman belakang rumah kita, dan dengan lebih banyak uang yang dikucurkan untuk mengirim manusia mencapainya daripada sebelumnya, logistik, keamanan, dan diplomasi di balik tantangan ini menuntut pertimbangan serius.

    Kekuatan otak yang distimulasi

    Sudah menjadi hal umum menggunakan obat untuk meningkatkan kemampuan otak (entah itu kopi, atau sesuatu yang lebih kuat, seperti modafinil), dan sebagian besar negara maju sekarang mengandalkan ponsel pintar mereka sebagai memori ‘eksternalisasi’ – tapi mari kita memperkirakannya beberapa dekade lagi.

    Bayangkan obat-obatan yang ditargetkan membuat kita berpikir lebih cepat daripada kemungkinan saat ini, dan implan teknologi yang membantu kita berkonsentrasi melampaui kemampuan manusia normal selama berjam-jam atau berhari-hari, misalnya – kemajuan ini sudah berjalan dengan baik di laboratorium di seluruh dunia.

    Pertanyaan yang muncul adalah apa yang terjadi pada mereka yang tidak mampu menggunakan perangkat tambahan semacam itu? Mungkinkah hal itu memperlebar ketidaksetaraan, dan memperbolehkan orang kaya menjadi lebih kaya lagi?

    Lalu ada juga masalah kelegalan dan keetisan, yaitu dapat diterima untuk minum kopi sebelum Anda mengikuti ujian, tapi apa boleh menggunakan implan atau obat-obatan pendorong kepintaran? Tantangan yang ditimbulkan oleh peningkatan kecerdasan hanya muncul baru-baru ini.

    Dominasi AI (Kecerdasan buatan) dalam kehidupan kita

    Pakar masa depan Ray Kurzweil telah membuat sejumlah prediksi – beberapa prediksi inspirasional lainnya benar-benar mengkhawatirkan. Salah satunya adalah gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah menunjukkan bahwa kecerdasan buatan suatu saat akan menjadi lebih kuat daripada kecerdasan manusia dan memperbaiki dirinya sendiri pada tingkat eksponensial, atau dikenal sebagai ‘singularitas’.

    Ini jauh dari pandangan mayoritas, namun hanya sedikit yang menyangkal bahwa AI hanya akan menjadi lebih kuat. Jadi, seperti dalam kasus pengeditan genetika, komunitas teknologi dan AI perlu mempertimbangkan implikasi etis dan sosial dari pekerjaan mereka karena AI hadir untuk membentuk lebih banyak bidang kehidupan kita, mulai dari perawatan kesehatan hingga pasar keuangan.

    Seperti skenario cerita kepunahan akhir dunia, ini sejujurnya tidak mungkin – tapi itu seharusnya tidak mengaburkan fakta bahwa AI siap mengubah bagaimana cara kita hidup dan bekerja dengan cara yang mendalam.

    Bukan juga tidak mungkin AI tertentu dapat mengalami kegagalan beroperasi atau para pencipta mereka tak bisa mengendalikannya lagi, sehingga menyebabkan bencana manusia, di mana kehidupan punah atau jutaan dolar melayang.

    Tulisan asli dalam bahasa Inggris10 grand challenges we’ll face by 2050 dan artikel-artikel lain bisa Anda baca di BBC Future.

  • Penjelasan Mengapa Pupuk Kandang Lebih Baik untuk Lingkungan

    Penjelasan Mengapa Pupuk Kandang Lebih Baik untuk Lingkungan

    Guru Besar Agronomi dan Hortikultura dari Institut Pertanian Bogor, Sobir, mengatakan pemanfaatan pupuk kandang dapat menjadi solusi dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang dialami oleh lahan-lahan pertanian.

     

    “Kita menambah pupuk kandang karena memiliki tiga manfaat,” ujarnya dalam kegiatan kunjungan ke fasilitas pengembangan produk bioteknologi di Malang, Jawa Timur, Selasa (23/5/2023).

     

    Sobir menjelaskan pupuk kandang bisa menyimpan air hingga lima kali lipat dari volumenya lantaran keberadaan bahan organik yang terkandung pada pupuk kandang.

     
    Baca: Cara sederhana mengolah sampah rumah tangga 

     
    Menurutnya, pupuk kandang membuat lahan-lahan pertanian yang semula kering bisa kembali terisi air dan airnya tidak cepat menguap.

     

    “Pupuk kandang meningkatkan water holding capacity atau kapasitas penyimpanan air,” kata Sobir.
     
    Kedua, pupuk kandang meningkatkan kesuburan biologis tanah. Semakin banyak pupuk kandang yang dipakai di lahan-lahan pertanian, maka semakin banyak pula mikroorganisme yang bisa membantu tanaman untuk menjaga kekeringan dan menyerap hara lebih baik, sehingga tanaman lebih efisien dari sisi produksi.

     

    “Ketiga, pupuk kandang juga menyediakan hara,” ucapnya.

     

    Sobir mengungkap tingkat kesuburan lahan yang ada di Indonesia sudah menurun karena kandungan bahan organik sudah berkurang. Dan, ini bisa diperbaiki dengan penggunaan pupuk kandang.

     

    Dia menjelaskan tanah subur memiliki kandungan organik minimal 2 persen. Sedangkan, mayoritas lahan pertanian di Indonesia dengan angka sekitar 60 persen memiliki kandungan organik di bawah 1 persen.
     

     

    Faktor kebiasaan petani yang menggunakan pupuk kimia telah menyebabkan kesuburan tanah berkurang. Kondisi itu menjadi masalah yang cukup serius bagi sektor pertanian di Indonesia.

     

    “Orang merasa yakin dengan penggunaan pupuk kimia karena lebih praktis. Pupuk kandang butuh 10 ton untuk setiap hektare lahan, kalau pupuk kimia paling hanya beberapa ratus kilogram,” kata Sobir.
     
    Kondisi itu menyebabkan banyak residu dari pupuk kimia tersimpan di dalam tanah dan membuat struktur tanah menjadi tidak baik.
     
    “Penambahan pupuk kandang akan meningkatkan struktur tanah menjadi lebih baik dan ada mikroorganisme yang membantu menyerap itu,” imbuhnya.

     

    Pada akhir April 2023 lalu, Presiden Joko Widodo menekankan penggunaan pupuk organik, termasuk pupuk kandang, untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan juga menjaga tingkat kesuburan tanah di Indonesia.
     

     

    Presiden meminta Kementerian Pertanian untuk memacu produktivitas produsen pupuk organik terkhusus pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

     

    Ketua Kemitraan Strategis dan Advokasi Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), Sidi Asmono, mengatakan beberapa sentra pertanian kian masif menggunakan pupuk organik. Bahkan, para petani sudah mulai memproduksi pupuk organik secara mandiri.

     

    Menurutnya, petani adalah pengusaha sekaligus peneliti yang melakukan riset dari pengalaman-pengalaman pribadi untuk membuat pupuk organik.

     

    “Mereka melakukan inovasi pupuk organik di tingkat desa. Ini yang perlu kita dorong terus, sehingga kesuburan tanah diperbaiki, kemudian produksi bisa ditingkatkan,” pungkas Sidi.
     
    Sumber: Antaranews.

  • Kelompok Disabilitas Rentan Terdampak Perubahan Iklim Tetapi Tak Pernah Dilibatkan dalam Penanganan

    Kelompok Disabilitas Rentan Terdampak Perubahan Iklim Tetapi Tak Pernah Dilibatkan dalam Penanganan

    7cloud.asia – Yasinda Atok adalah saksi hidup apa yang dialami penyandang disabilitas saat badai Seroja menghantam sejumlah wilayah di Nusa Tenggara termasuk di kotanya di Malaka, Nusa Tenggara Timur pada 2021 silam.

    Di Kabupaten malaka, NTT, ada tiga kecamatan yang sangat merasakan dampak badai Seroja pada awal 2021 lalu.

    Di sela diskusi Webinar bertajuk Gerakan Perubahan Iklim di Indonesia: Sudah Terlibatkah Penyandang Disabilitas? pada Senin (21/5/2023) yang dihelat secara daring, Yasinda menceritakan apa yang dialami para penyandang disabilitas saat bencana alam yang menewaskan ratusan orang itu terjadi, 

    “Mereka terjebak di dalam rumahnya, tertinggal saat evakuasi saat para korban dievakuasi. Bahkan keluarganya melupakan mereka dan terjebak di rumah yang terendam banjir sampai banjir berlalu, ketika keluarganya kembali ternyata masih selamat,” ujarnya.

    Baca: Peran masyarakat adat hadapi perubahan iklim

    Sementara, kelompok disabilitas yang berhasil dievakuasi harus menghadapi tempat pengungsian yang tidaka inklusif.  

    “Saat ke toilet tidak tersedia fasilitas yang mereka butuhkan. Pun saat antri ambil makanan, juga harus secara umum, yang memakai tongkat/kursi roda kesulitan,” imbuhnya.

    Belajar dari pengalaman ini, Yasinda dan aktivis disabilitas kemudian melakukan edukasi kepada masyarakat apa seharusnya yang dilakukan saat bencana terjadi. kami, ujarnya, mengedukasi keluarga penyandang disabilitas untuk memprioritaskan anggota keluarganya yang disabilitas dan jangan sampai tertinggal.  

    Baca: Peringatan ancaman perubahan iklim sudah dirilis sejak 70 tahun silam

    Selain itu Yasinda bersama aktivis lainnya juga terus mendorong agar ke depan, saat kembali terjadi bencana, disiapkan pengungsian yang inklusif bagi semua kelompok termasuk penyandang disabilitas.

    Apa yang disampaikan oleh Yasinda mungkin menjadi potret bagaimana pengendalian dampak perubahan iklim di Indonesia. Di mana penanganan dan perumusan kebijakan justru sering tidak melibatkan kelompok yang paling rentan.

    Masih ada beberapa kelompok di masyarakat yang masih tertinggal serta belum terlibat secara penuh dalam perjuangan melawan krisis iklim. Salah satunya adalah kelompok penyandang disabilitas.

    Baca: Mengurai kemiskinan ekstrem di Indonesia

    Yeni Rosa Damayanti dari Perkumpulan Jiwa Sehat mengatakan, tak hanya dalam penanganan, pengenalan ancaman dan dampak perubahan iklim masih jauh untuk bisa diakses oleh kelompok disabilitas. 

    Ia memaparkan, tantangan tak hanya dihadapi kelompok disabilitas fisik, tetapi juga disabilitas netra, tuli dan sebagainya. Perangkat dan materi kampanye perubahan iklim yang ada sama sekali belum menyentuh kelompok ini.

    “Untuk kelompok disabilitas intelektual, belum ada instrumen yang bisa menjelaskan tentang perubahan iklim dan dampaknya dalam bahasa yang mudah dimengerti,” ujarnya.

    Baca: Peran pendidikan dalam menghadapi perubahan iklim

    Abdul Ghofar dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi mengatakan, Indonesia sebagai negara kepulauan menduduki posisi nomor tiga paling rentan akibat banjir dan kenaikan suhu.

    Ia memaparkan, dampak perubahan iklim akan makin terasa dalam beberapa dekade mendatang dan dampaknya tidak merata, berbeda antar kelompok, sehingga dalam merumuskan kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing kelompok. 

    Ghofar lantas menyebut sejumlah kelompok yang paling rentan, seperti negara berkembang dan negara miskin serta negara kepulauan.

    Sementara di masyarakat, masuk dalam kelompok rentan antar alain adalah kelompok disabilitas, anak-anak, masyarakat kurang mampu, masyarakat adat, orang tua, orang dengan masalah kesehatan, disabilitas, perempuan hamil dan menyusui.

    “Kelompok disabilitas memiliki risko empat kali lipat dibanding yang lain saat terjadi bencana,” ujar Ghofar. 

    Baca: Seperti ini seharusnya kampanye perubahan iklim dilakukan

    Namun sayangnya, hingga saat ini kelompok disabilitas nyaris ditinggalkan dalam  pembahasan konsep pengendalian perubahan iklim. Pembahasan masih terbatas di kalangan elit yang tidak merasakan dampak sebagaimana yang dirasakan kelompok rentan.

    Pembahasan konsep pengendalian perubahan iklim yang inklusif, ujarnya, tidak mungkin tanpa keterlibatan penyandang disabilitas karena penyandang disabilitas adalah salah satu kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

    “Sayangnya sampai saat ini upaya untuk memberikan informasi yang cukup serta melibatkan penyandang disabilitas dalam isu perubahan iklim masih belum banyak dilakukan,” ujarnya.