Tag: banjir

  • Cuaca Hari Ini: Mayoritas Kota Hujan, Waspada Banjir Rob di Dua Wilayah Ini

    Cuaca Hari Ini: Mayoritas Kota Hujan, Waspada Banjir Rob di Dua Wilayah Ini

    7cloud.asia – Ditengah musim kemarau, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan mayoritas kota berpotensi hujan. Potensi banjir rob terjadi di dua wilayah pada Kamis (05/09/2024).

    Kedua wilayah tersebut adalah pesisir Sumatera Utara dan Pesisir Kalimantan Timur. Banjir rob ini dipicu oleh gelombang tinggi antara 2,5 hingga 4 meter.

    Gelombang tinggi ini diprediksi terjadi di Samudera Hindia barat Bengkulu hingga Lampung dan Samudera Hindia dari selatan Jawa.

    Dalam akun youtube resmi BMKG, sebagian besar kota di Indonesia berpeluang terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir.

    Hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Jambi, Pangkal Pinang, Jakarta, Serang, Bandung, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Manado, Kendari, dan Ambon

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Padang, Bengkulu, Tanjung Selor, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayapura dan Jayawijaya.

    Sementara hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Pontianak, Palangkaraya, Mamuju, Palu dan Ternate.

    Suhu berkisar antara 16 hingga 35 derajat celsius. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Jayawijaya dan suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Pangkal Pinang. Tingkat kelembaban udara bekisar antara 41 hingga 100 persen.

     

  • Cara Nelayan Demak Atasi Kenaikan Permukaan Laut: Meninggikan Lantai Rumah hingga Migrasi

    Cara Nelayan Demak Atasi Kenaikan Permukaan Laut: Meninggikan Lantai Rumah hingga Migrasi

    7cloud.asia – Banjir besar di kawasan pantai utara Jawa, khususnya Demak, Jawa Tengah menjadi fokus penanggulangan bencana pemerintah pada bulan April lalu.

    Banjir sempat merendam 11 kecamatan sampai-sampai menimbulkan isu munculnya selat Muria—yang sempat memisahkan kawasan gunung Muria dan Jepara dengan Pulau Jawa.

    Banjir di Demak disebabkan hujan ekstrem yang merusak tanggul hingga penurunan permukaan tanah sehingga air laut (rob) masuk ke permukiman.

    Perubahan iklim akibat ulah manusia yang menyebabkan cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan laut juga turut memperparah dampak banjir di Demak.

    Melalui artikel ini, tim dari BRIN menyoroti bagaimana keluarga nelayan skala kecil yang terdampak banjir hampir setiap tahun beradaptasi untuk mempertahankan ruang hidup dan pendapatan mereka.

    Tulisan ini berdasarkan temuan riset BRIN yang mendapati bahwa keluarga nelayan di Demak melakukan sejumlah langkah adaptasi, mulai dari meninggikan rumah setiap tahun hingga berpindah sementara untuk menumpang hidup dengan kerabat di luar Demak.

    Praktik umum menghadapi banjir
    Penelitian BRIN menemukan bahwa peninggian rumah adalah praktik adaptasi yang umum digunakan keluarga nelayan pesisir Demak untuk menghadapi banjir. Studi ini berbasiskan observasi lapangan dan diskusi terpumpun di Desa Morodemak dan Purworejo, Demak.

    Warga meninggikan rumah dengan cara mengurug lantai dasar dengan tanah atau pasir. Setelah itu, mereka membuat lantai baru dengan ketinggian tertentu.

    Ketika lantai dasar masih memungkinkan untuk dihuni, meskipun saat memasuki rumah perlu membungkuk, maka mereka masih bisa beraktivitas di lantai tersebut.

    Namun, jika ketinggian air yang memasuki rumah semakin tinggi dari tahun ke tahun, pengurugan untuk menambah ketinggian rumah bisa mencapai tiga hingga empat meter—seolah-olah mereka telah membuat lantai dua.

    Selain meninggikan rumah, banyak pula penduduk yang membangun tanggul sederhana di sepanjang batas rumah mereka. Hal ini berguna untuk mencegah air masuk ke rumah.

    Strategi adaptasi ini memang menekankan tanggapan warga terhadap ancaman genangan pesisir yang semakin meningkat akibat kenaikan permukaan air laut. Ini menyoroti pendekatan proaktif yang diambil oleh unit keluarga untuk mengurangi potensi risiko rob.

    Walau begitu, upaya peninggian rumah ataupun pembuatan tanggul memaksa nelayan mengeluarkan dana lebih. Padahal, di tengah risiko pencarian ikan dan cuaca ekstrem, pendapatan nelayan semakin tidak menentu.

    Strategi-strategi adaptasi memang dimulai dari hal-hal yang bisa dikontrol dan dikerjakan oleh tiap keluarga, seperti meninggikan rumah, pembangunan tanggul di sekitar pemukiman, dan pemindahan barang-barang penting ke tempat yang lebih tinggi.

    Tanggapan awal tersebut dirancang untuk mengurangi risiko langsung yang terkait dengan peristiwa rob.

    Namun hal tersebut memiliki konsekuensi penurunan kualitas hidup apabila dilakukan setiap tahun tanpa ada solusi lain.

    Peninggian rumah dan pembuatan tanggul akan menjadi never ending story karena selalu berulang setiap tahun dan membutuhkan biaya yang sangat besar.

    Hal ini tentu saja meningkatkan kerentanan dan memberatkan keluarga nelayan. Mereka tidak bisa mengalokasikan penghasilan untuk hal yang lebih penting seperti memperbarui alat tangkap hingga membiayai kuliah anak.

    Migrasi sementara dan permanen
    Pertimbangan lingkungan, ekonomi, sosial, dan infrastruktur berperan penting dalam proses pengambilan keputusan keluarga nelayan skala kecil dalam menanggapi kenaikan permukaan laut dan kejadian banjir.

    Awalnya, keluarga cenderung menerapkan strategi adaptif seperti meninggikan rumah sebelum mempertimbangkan opsi migrasi permanen. Selama kejadian banjir, mereka juga sering berpindah sementara untuk mencari perlindungan dari rob.

    Perpindahan penduduk sementara adalah adaptasi lanjutan yang merupakan pemandangan umum ketika keluarga mengungsi sementara ke daerah yang lebih aman sampai rumah surut dari rob.

    Ini adalah langkah praktis untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan anggota keluarganya jika peningkatan intensitas rob tidak bisa diikuti dengan langkah adaptasi sebelumnya.

    Setelah semua dilakukan dan tidak ada perubahan, pilihan sulit harus diambil masyarakat pesisir Demak: migrasi permanen.

    Migrasi berperan penting dalam meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang sedang berlangsung.

    Ini dianggap sebagai salah satu dari berbagai cara populasi manusia beradaptasi dengan perubahan lingkungan sejak zaman dulu.

    Sayangnya, meskipun migrasi dapat memberikan peluang peningkatan kehidupan dan akses sumber daya para keluarga nelayan, hal itu tidak selalu merupakan strategi adaptasi yang efektif.

    Efektivitas migrasi sebagai strategi adaptasi bergantung pada berbagai faktor, antara lain ketersediaan sumber daya, jaringan sosial, dan sistem pendukung di daerah tujuan.

    Masalah sosial bisa saja muncul karena migrasi, seperti pengangguran keluarga nelayan akibat tidak memilki keterampilan lain selain di sektor perikanan.

    Riset dari proyek penelitian kolaboratif, BlueUrban, menemukan warga dusun Simonet di Pekalongan kehilangan akses ke mata pencaharian, umumnya sebagai petani melati atau nelayan muara, karena desa mereka tenggelam.

    Kesejahteraan mental penduduk yang mengungsi juga menuntut pertimbangan yang cermat, mengingat potensi trauma dan stres yang timbul dari akar budaya yang tercerabut.

    Upaya mitigasi bencana
    Dalam hubungan antara bencana dan perubahan iklim, migrasi dan perpindahan berperan penting dalam transformasi masyarakat. Namun, upaya untuk mengatasi kompleksitas migrasi lingkungan memerlukan pendekatan yang menyeluruh.

    Pemerintah perlu segera membuat kebijakan dan strategi untuk mengurangi dampak bencana dan perubahan iklim terhadap migrasi dan pengungsian. Keluarga nelayan skala kecil di Demak yang tengah menghadapi tantangan ganda akibat kenaikan permukaan air laut dan banjir dapat menjadi contoh sasaran.

    Saat ini belum ada kebijakan dan program khusus dari pemerintah untuk menangani banjir rob akibat kenaikan muka air laut. Sebab, rob belum dikategorikan sebagai bencana.

    Pemerintah memang memiliki kebijakan penanggulangan bencana banjir akibat tingginya curah hujan. Sayangnya, penerapan kebijakan—khususnya di Demak—masih belum menyeluruh karena belum memerhatikan karakteristik bentang lahan daerah tersebut yang mengalami penurunan muka tanah.

    Migrasi dari desa yang terendam memang keputusan terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun, langkah ini seharusnya bukan menjadi sekadar strategi “pelarian” masalah.

    Pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya perlu ikut serta dengan upaya mitigasi bencana lainnya seperti pembuatan “benteng pesisir” melalui pemulihan ekosistem mangrove yang sehat.

    Dibutuhkan juga perencanaan penggunaan lahan yang bijaksana, dan penggabungan langkah-langkah adaptasi perubahan iklim lainnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation Penulis: Mochammad Wahyu Ghani (Peneliti BRIN) dan Inayah Hidayati (Peneliti Mobilitas Penduduk di Pusat Riset Kependudukan BRIN).

  • Banjir Besar Landa Eropa Tengah, Uni Eropa Harus Kucurkan Dana Triliunan Rupiah untuk Pemulihan

    Banjir Besar Landa Eropa Tengah, Uni Eropa Harus Kucurkan Dana Triliunan Rupiah untuk Pemulihan

    7cloud.asia – Uni Eropa menyiapkan miliaran euro untuk membantu upaya pemulihan dari banjir besar yang melanda sejumlah negara di Eropa Tengah.

    Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dalam pernyataannya Kamis (19/9/2024), menjanjikan dukungan untuk negara-negara yang terkena dampak banjir.

    Banjir terburuk yang melanda Eropa tengah setidaknya dalam satu dekade terakhir telah menyebabkan kerusakan luas mulai dari Rumania hingga Polandia, menewaskan sedikitnya 24 orang.

    Banjir menghancurkan jembatan, menenggelamkan mobil, dan meninggalkan kota-kota yang dipenuhi lumpur dan puing-puing.

    Banjir tersebut disebabkan oleh hujan deras yang terjadi sejak sepekan lalu dan berlangsung selama beberapa hari sehingga menyebabkan sungai-sungai meluap di beberapa wilayah di wilayah tersebut.

    “Saya di sini untuk meyakinkan Anda bahwa Eropa mendukung Anda,” katanya pada konferensi pers di kota Wroclaw, Polandia, sambil berdiri di samping para pemimpin negara-negara yang terkena dampak.

    “Ini adalah momen yang sangat membutuhkan… bencana alam dan kita semua harus berdiri bersama untuk mengatasi tantangan ini.”

    Baca: Badai Francine picu banjir di Meksiko

    Von der Leyen mengatakan bahwa 10 miliar euro (sekitar 11,16 miliar dolar) akan disediakan dari dana kohesi Uni Eropa.

    Beberapa persyaratan yang biasanya melekat pada dana tersebut, seperti pembiayaan bersama oleh negara-negara anggota, akan dicabut untuk mempercepat respons.

    Dia juga mengatakan bahwa dana dari Dana Solidaritas Uni Eropa, yang mendukung negara-negara anggota yang terkena bencana alam, akan digunakan untuk membangun kembali infrastruktur.

    Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan kepada Polsat News bahwa Polandia bisa mendapatkan 5 miliar euro.

    “Apa yang kita perlukan sekarang adalah membangun dan memperbaiki infrastruktur dengan cepat, hal ini akan menghabiskan banyak uang, dan akan sulit untuk menanganinya dari anggaran nasional,” kata Perdana Menteri Ceko Petr Fiala,

    Petr mengungkapkan rasa terima kasih atas usulan konkrit von der Leyen. untuk bantuan penanganan banjir ini.

    Baca: Lebih 500 orang tewas akibat Topan Yagi di kawasan Indocina

    Menteri Keuangan Ceko Zbynek Stanjura mengatakan sebelumnya pada hari Kamis bahwa pemerintah akan menyediakan 30 miliar crown (1,3 miliar dolar), atau sekitar 0,38% PDB, dalam amandemen anggaran tahun 2024

    Ceko juga mengalokasikan 10 miliar crown lagi dalam anggaran tahun 2025 untuk membantu mengatasi kerusakan akibat banjir.

    Menteri Dalam Negeri Ceko Vit Rakusan mengatakan sebagian besar pasokan listrik harus tersambung kembali pada Jumat (20/9/2024).

    Negara ini mengadakan pemilihan umum daerah akhir pekan ini dan pihak berwenang mengatakan sambungan satelit telah dipasang di tempat-tempat yang sinyal selulernya kurang, agar pemungutan suara dapat dilanjutkan.

    Sementara itu, pertahanan terhadap banjir di kota terbesar ketiga di Polandia, Wroclaw, tampaknya telah kokoh pada hari Kamis.

    Gelombang banjir yang menggenangi wilayah perbatasan Polandia-Ceko sejak akhir pekan mencapai Wroclaw dalam semalam, namun tidak ada tanda-tanda kerusakan serius.

    “Sistem perkotaan bertahan dan menyerap gelombang utama banjir yang melanda Silesia Bawah dan wilayah sekitarnya selama seminggu,” kata otoritas setempat dalam sebuah pernyataan di Facebook.

    Baca: WMO ingatkan perubahan cepat dari ElNino ke LaNina picu badai

    Namun, pihak berwenang memperingatkan bahwa tingkat air yang lebih besar dari biasanya akan terus mengalir melalui kota tersebut dalam beberapa hari mendatang.

    Tentara mengatakan 16.000 tentara membantu di wilayah tersebut, bersama polisi dan ribuan sukarelawan. Polandia telah memperingatkan warganya untuk waspada terhadap disinformasi mengenai banjir.

    Di Hungaria, banyak kota yang bersiap menghadapi naiknya Sungai Danube, dan Perdana Menteri Viktor Orban mengatakan ketinggian air di Budapest diperkirakan mencapai puncaknya pada Sabtu sore atau malam hari.

    Namun ketinggian air diperkirakan akan lebih rendah dari rekor tertinggi yang tercatat pada tahun 2013.

    Pihak berwenang menutup jalan-jalan dan stasiun kereta api. Sementara itu, feri di sepanjang Sungai Danube dihentikan, dan beberapa layanan transportasi juga dihentikan.

    Di ibu kota, Budapest, air meluap ke dermaga di kota itu dan mengancam akan mencapai jalur trem dan metro.

    Lebih jauh ke hulu, di wilayah yang dikenal sebagai Lengkungan Sungai Danube, rumah-rumah dan restoran di dekat tepi sungai terendam banjir sementara para pejabat dan relawan terus menempatkan karung pasir untuk memperkuat tanggul.

    Sumber:reuters.com/VOAIndonesia

  • Permukaan Sungai Danube Meluap ke Level Tertinggi di Budapest

    Permukaan Sungai Danube Meluap ke Level Tertinggi di Budapest

    7cloud.asia – Sungai Danube meluap ke tingkat tertinggi baru di ibu kota Hongaria, Budapest, pada Sabtu (21/9/2024) pagi, mencapai hingga 830 sentimeter menurut kantor berita nasional MTI.

    Tingkat air mulai surut setelah memuncak sekitar pukul 05.00 pagi waktu setempat, dilaporkan akan menurun dua cm dalam dua hingga tiga jam berikutnya.

    Banjir ini mencatatkan level tertinggi keempat yang pernah tercatat di kota tersebut, lebih tinggi beberapa sentimeter melampaui level air historis pada tahun 2010.

    Perdana Menteri Viktor Orban menyampaikan keterangan kepada media, menyatakan tepi sungai Danube dapat dibuka kembali paling cepat pada pekan depan.

    Namun, dia juga menyatakan penurunan tingkat air akan berlangsung lambat.

    Ramalan dari otoritas pengelolaan air negara itu menunjukkan bahwa tingkat air dapat turun menjadi 620 sentimeter pada 25 September 2024.

    Jika hal itu terjadi, lalu lintas di sepanjang tepi sungai mungkin dapat dibuka kembali, yang berpotensi mengurangi kemacetan di kota.

    Banjir parah telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa pada awal pekan ini ketika sebagian wilayah Eropa Timur dan Tengah dilanda Badai Boris.

    Puluhan ribu orang telah dievakuasi dari rumah mereka di berbagai daerah di Austria, Republik Ceko, Hongaria, Rumania, dan Slovakia

    Sementara jumlah korban dilaporkan meningkat menjadi setidaknya 20 korban tewas, tujuh di Rumania, lima di masing-masing Polandia dan Austria, serta tiga di Republik Ceko.

    Setelah melanda Austria, Republik Ceko, Polandia, dan Rumania, banjir diperkirakan akan mempengaruhi Slovakia dan Hongaria selanjutnya akibat sistem tekanan rendah dari utara Italia yang telah mengguyur hujan lebih banyak di wilayah tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

  • Badai Helene Picu Banjir Terparah dalam Seabad Terakhir di Florida, AS

    Badai Helene Picu Banjir Terparah dalam Seabad Terakhir di Florida, AS

    7cloud.asia – Badai Helene melanda wilayah Big Bend di Florida sebagai badai Kategori 4 pada Kamis (26/9/2024) malam. Daya rusak badai itu dirasakan tidak hanya di Florida, tetapi juga ratusan mil dari wilayah itu di Georgia, North Carolina dan Tennessee.

    Setidaknya 40 orang dilaporkan tewas akibat Badai Helene, mereka tersebar di empat negara bagian di AS

    Badai Helene memicu banjir dan bencana besar di sebagian wilayah tenggara dan selatan Appalachian,” kata Pusat Badai Nasional (National Hurricane Center/NHC) dalam peringatan terbarunya pada Jumat (27/9/2024) waktu setempat.

    Gubernur Georgia Brian Kemp mengatakan puluhan orang masih terjebak di gedung-gedung yang rusak akibat badai Helene

    Pihak berwenang “kesulitan mencapai tempat-tempat” tersebut, sehingga tim menggunakan gergaji mesin “untuk membebaskan jalan,” kata Kemp dalam konferensi pers.

    Badai Helene menerjang daratan pada Kamis malam di wilayah yang jarang penduduknya dengan kecepatan angin maksimum 140 mph (225 kpj) di daerah pedesaan Big Bend, rumah bagi desa-desa nelayan dan tempat liburan yang tak banyak diketahui orang, di lokasi bertemunya Panhandle dengan semenanjung Florida.

    Namun kerusakan meluas ratusan mil ke utara, dan banjir mencapai North Carolina, akibat air di danau yang pernah menjadi lokasi film “Dirty Dancing” itu meluap dari bendungan.

    Aliran listrik di beberapa rumah sakit di Georgia selatan padam dan satu rumah sakit di Tennessee ditutup.

    Baca: WMO sebut transisi cepat dari El Nino ke La Nina memicu musim badai

    “Puji Tuhan, kami berdua masih hidup untuk menceritakannya,” kata Rhonda Bell setelah pohon ek yang menjulang tinggi di luar rumahnya di Valdosta, Georgia, menghantam atap tempat tinggal mereka.

    Video di situs media sosial memperlihatkan hujan deras turun dan dinding bangunan terlepas dari bangunan di Perry, Florida, dekat tempat yang dilanda badai tersebut.

    Satu stasiun berita lokal memperlihatkan sebuah rumah yang terbalik, dan banyak komunitas memberlakukan jam malam.

    “Ini benar-benar memilukan,” kata Stephen Tucker, setelah badai itu merusak atap baru di gerejanya di Perry, Florida. Atap itu harus diganti setelah diterjang Badai Idalia tahun lalu.

    Gubernur Florida Ron DeSantis mengatakan kerusakan akibat Helene di daerah itu tampaknya lebih besar daripada gabungan kerusakan akibat Idalia dan Badai Debby pada bulan Agustus. “Ini menyedihkan,” katanya.

    Presiden Joe Biden mengatakan dia berdoa untuk keselamatan para korban saat kepala Badan Manajemen Darurat Federal bertolak untuk meninjau daerah tersebut. Badan tersebut telah mengerahkan lebih dari 1.500 pekerja, dan membantu menyelamatkan 400 orang hingga menjelang siang.

    Banyak orang yang terdampar di tempat-tempat seperti Tampa hanya dapat dijangkau dengan perahu. Para pejabat di tempat lain memperingatkan bahwa dalam air banjir terdapat kabel listrik, limbah, benda tajam, dan puing-puing lainnya.

    NHC juga memperingatkan kemungkinan tornado akan terjadi pada Jumat (27/9/2024) di timur South Carolina, tengah dan timur North Carolina, dan selatan Virginia.

    Baca: WMO sebut perubahan iklim memicu lebih banyak bencana ekologis

    Kantor sheriff di Citrus County, Florida, mengunggah peringatan di Facebook, “Jika Anda terjebak dan butuh bantuan, silakan hubungi tim penyelamat – JANGAN MENCOBA MELINTASI BANJIR SENDIRI,” sambil menyuarakan kekhawatiran bahwa air pasang dapat membawa gelombang lain hingga sekitar 3 meter.

    Menurut poweroutage.us, yang melacak laporan listrik, lebih dari 4 juta rumah dan bisnis di Florida, Georgia, dan South Carolina mengalami pemadaman listrik Jumat pagi (27/9/2024).

    Kemp mengatakan sedikitnya 11 orang di negara bagiannya tewas. Sedikitnya enam orang lainnya tewas di South Carolina, dua di Florida, dan dua di North Carolina.

    Salah satu korban tewas di Florida akibat rambu yang menimpa mobil mereka. Dua orang lainnya dilaporkan tewas akibat yang diduga sebagai tornado di Georgia selatan saat badai mendekat.

    Badai itu mendarat di dekat muara Sungai Aucilla di Pantai Teluk Florida. Lokasi itu hanya sekitar 32 kilometer di barat laut tempat badai Idalia menghantam tahun lalu dengan keganasan yang hampir sama dan menyebabkan kerusakan yang meluas.

    Kota-kota yang jauh di pedalaman seperti Atlanta ‘terendam banjir’, hanya kotak surat dan atap mobil yang menyembul dari air di beberapa lingkungan. Kemp mengerahkan 1.000 orang Garda Nasional tambahan, setelah sebelumnya mengerahkan 500 orang.

    Saat mata badai melewati dekat Valdosta, kota berpenduduk 55.000 orang di dekat perbatasan Florida, puluhan orang berkerumun pada Jumat pagi di lobi hotel yang gelap. Sementara angin menderu di luar, air menetes dari lampu di ruang makan lobi.

    Fermin Herrera, 20 tahun, istrinya, dan putri mereka yang berusia 2 bulan meninggalkan kamar mereka di lantai atas hotel, tempat mereka berlindung karena khawatir pohon-pohon tumbang di rumah mereka di Valdosta.

    Baca: Pemanasan global picu masalah serius pada lingkungan

    “Kami mendengar suara gemuruh,” kata Herrera, sambil menggendong bayi yang sedang tidur di lorong lantai bawah.

    Helene adalah badai ketiga yang melanda kota itu hanya dalam waktu satu tahun, setelah badai Tropis Debby memutus aliran listrik ke ribuan orang pada Agustus, dan Badai Idalia merusak sekitar 1.000 rumah di Valdosta dan daerah sekitar Lowndes County setahun yang lalu. 

    Segera setelah badai itu melintasi daratan, Helene melemah menjadi badai tropis, dengan kecepatan angin maksimum yang berkelanjutan mencapai 110 kpj.

    Pusat Badai Nasional di Miami melaporkan, pada pukul 11 pagi hari Jumat, badai tersebut berada sekitar 165 km di timur laut Atlanta, bergerak ke utara dengan kecepatan 52 kpj dengan kecepatan angin maksimum 75 kpj.

    Bahkan sebelum tiba, amukan badai terasa luas, dengan angin kencang berkekuatan badai tropis dan hembusan angin topan di sepanjang pantai barat Florida. Para pejabat menyerukan warga untuk mengungsi.

    “Silakan tulis nama, tanggal lahir, dan informasi penting di lengan atau kaki Anda dengan SPIDOL PERMANEN sehingga Anda dapat diidentifikasi dan keluarga dapat diberi tahu,” kantor sheriff di Taylor County, Florida, yang sebagian besar merupakan daerah pedesaan, memperingatkan mereka yang memilih untuk tidak mengungsi dalam sebuah unggahan Facebook.

    Pemberitahuan itu serupa dengan yang diberikan pejabat lain selama badai sebelumnya.

    Di luar Florida, hujan hingga 25 sentimeter turun di pegunungan North Carolina, dengan kemungkinan lebih banyak hujan hingga 36 sentimeter sebelum air bah itu berakhir, yang bisa menyebabkan banjir.

    Para peramal cuaca mengatakan banjir ini bisa jadi banjir terparah dalam seabad terakhir. Evakuasi sedang berlangsung di beberapa wilayah negara bagian pada hari Jumat, dan sekitar 300 jalan ditutup.

    Garda Nasional Angkatan Darat Connecticut mengirim helikopter untuk membantu evakuasi di negara bagian tersebut.

    “Mengerikan sekali. Saya tidak tahu apakah saya akan melihat kejadian seperti ini lagi,” kata Spencer Tate Andrews, warga Asheville, North Carolina.

    Sumber:VOAINdonesia

  • Banjir Dahsyat Landa Nepal, Ratusan Orang Tewas dan Puluhan Lainnya Hilang

    Banjir Dahsyat Landa Nepal, Ratusan Orang Tewas dan Puluhan Lainnya Hilang

    7cloud.asia – Sedikitnya 112 orang tewas dan 68 orang hilang akibat banjir dahsyat di Nepal yang disebabkan oleh hujan terderas dalam 54 tahun terakhir.

    Menurut laporan surat kabar Nepal The Kathmandu Post pada Minggu (29/9/2024), hingga Sabtu malam, Kementerian Dalam Negeri setempat secara resmi mengonfirmasi 99 kematian, 68 orang hilang, dan 100 orang terluka.

    Banjir dan tanah longsor telah mengganggu banyak jalan raya dan akses jalan di seluruh negeri, menyebabkan ratusan rumah dan jembatan terkubur atau tersapu.

    Baca: WMO sebut pemanasan global picu bencana ekologi

    Surat kabar tersebut juga melaporkan banjir memaksa ribuan orang dari ratusan keluarga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.

    Selain itu, pemberitaan tersebut juga menambahkan bahwa ribuan penumpang terjebak di berbagai lokasi akibat gangguan jalan.

    Pihak berwenang terus melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, dengan melibatkan lebih dari 20.000 petugas keamanan di seluruh negeri.

    Baca: WMO ingatkan perubahan cepat dari El Nino ke La Nina picu musim badai

    Petugas memperkirakan masih ada korban lain di wilayah yang terkena bencana banjir yang belum dievakuasi.

    Pada Sabtu (28/9/2024), Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal melaporkan bahwa Lembah Kathmandu dilanda hujan deras dengan curah hujan mencapai 240 milimeter hujan dalam 24 jam.

    Angka itu merupakan curah hujan tertinggi yang tercatat di ibu kota sejak tahun 1970.

    Sumber: Sputnik-OANA

  • Banjir Besar di Eropa Tengah Bukti Ancaman Perubahan Iklim di Depan Mata

    Banjir Besar di Eropa Tengah Bukti Ancaman Perubahan Iklim di Depan Mata

    7cloud.asia – Badai Boris yang menerjang kawasan Eropa Tengah awal bulan September ini, menyebabkan Hujan lebat selama empat hari yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah ini.

    Hujan yang sangat deras menyebabkan sungai dan waduk meluap hingga tingkat yang mengkhawatirkan. Hujan yang sangat deras yang memicu banjir mematikan berdampak pada dua juta orang.

    Semua negara yang terdampak –Austria, Republik Ceko, Hongaria, Polandia, Rumania, Slovakia, dan Italia utara– dilanda banjir dan pemadaman listrik. Puluhan ribu orang dievakuasi dan sedikitnya 24 orang tewas.

    Bencana ekologi seperti ini dua kali lebih mungkin terjadi akibat kenaikan suhu global dan perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia, demikian laporan terbaru World Weather Attribution (WWA).

    WWA yang merupakan kolaborasi akademis yang mempelajari peristiwa ekstrem, menyebut kemungkinan 7 persen hujan lebih deras akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia.

    Baca: Butuh dana miliaran euro untuk pulihkan dampak banjir besar di Eropa Tengah

    Studi cepat yang dilakukan oleh kelompok tersebut mengungkapkan bahwa curah hujan yang turun antara tanggal 12-16 September adalah yang terberat yang pernah tercatat di seluruh Eropa Tengah.

    Sedangkan banjir yang dipicunya mencakup wilayah yang bahkan lebih luas daripada banjir bersejarah sebelumnya yang tercatat pada tahun 1997 dan 2002.

    Hujan deras ini terjadi ketika udara dingin kutub dari utara bertemu dengan udara hangat di Eropa Selatan di atas Pegunungan Alpen.

    Panas dan kelembapan yang berasal dari Mediterania dan Laut Hitam, yang jauh lebih panas dari biasanya selama lebih dari setahun, memperburuk badai, memicu badai selama berhari-hari sebelum kembali ke daratan.

    Beberapa hari sebelum peristiwa tersebut terjadi, pemodelan cuaca menandai potensi terjadinya “curah hujan besar-besaran” dan “bencana banjir,” yang mendorong para ilmuwan untuk meningkatkan kewaspadaan dan pihak berwenang mengeluarkan peringatan dini menghadapi banjir.

    Baca: Langkah mitigasi menghadapi potensi bencana ekologi saat suhu Bumi naik 2°C

    Menjelang terjadinya badai, pihak berwenang Ceko mengeluarkan air dalam jumlah besar dari bendungan anak sungai di bagian Timur negara tersebut untuk menurunkan permukaan waduk dan menciptakan tempat penyimpanan.

    “Banjir ini besar, meluas dan sangat merusak. Bencana ini telah diperkirakan dengan baik dan perencanaan serta tindakan yang diambil, baik oleh individu maupun pihak berwenang, tidak diragukan lagi membantu menyelamatkan nyawa,” kata Hannah Cloke, Profesor Hidrologi di Universitas Reading dan salah satu penulis studi tersebut.

    Namun, ujarnya, masih banyak orang yang meninggal secara tragis. Bagi sebagian orang, mereka tidak dapat membayangkan dampak dari curah hujan yang begitu deras.

    ”Karena curah hujan ekstrem yang semakin ekstrem, sangatlah penting bagi kita untuk mengembangkan cara-cara baru untuk membantu masyarakat memahami risikonya,” imbuhnya.

    Dilansir earth.org, WWA memperingatkan bahwa pembakaran bahan bakar fosil secara terus-menerus akan semakin meningkatkan kemungkinan dan intensitas badai dahsyat.

    Di dunia yang suhunya mencapai 2°C, peristiwa seperti Badai Boris akan 5 persen lebih intens dan 50 persen lebih sering terjadi, demikian peringatan dari 24 peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut.

    Baca: Dampak kenaikan suhu Bumi 2°C pada kelestarian lingkungan

  • Memasuki Musim Hujan, BMKG Ajak Masyarakat Waspada Potensi Banjir

    Memasuki Musim Hujan, BMKG Ajak Masyarakat Waspada Potensi Banjir

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah saat ini mulai memasuki musim hujan. Meski curah hujan normal, masyarakat tetap diminta waspada potensi bencana banjir.

    Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Fachri Radjab menjelaskan curah hujan di Indonesia sebanyak 64 persen bersifat normal.

    “Sebagian besar wilayah Indonesia mulai mengalami hujan normal. Namun meskipun bersifat normal bukan berarti kita tidak meningkatkan kewaspadaan, karena saat ini kondisi normal saja curah hujan sudah terlihat tinggi,” jelas Fachri seperti yang dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Fachri menjelaskan prediksi BMKG, saat ini musim hujan sudah terjadi di beberapa wilayah dan akan segera menyusul di berbagai wilayah lainnya di Indonesia.

    Baca: Banjir bandang landa Ternate, 14 orang meninggal

    Karena itu ia meminta seluruh pihak khususnya di daerah dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor dengan menyiapkan langkah mitigasi bersama para mitra.

    Dia mengatakan para pemangku kepentingan di daerah dapat mengintensifkan kerja sama, menggencarkan informasi perubahan iklim kepada masyarakat melalui edukasi dan literasi.

    “Kita harus masif sosialisasi kepada masyarakat terkait informasi cuaca dan bagaimana penanganan dan pemanfaatannya,” katanya.

    Sebelumnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan musim hujan di Indonesia kali ini tidak terjadi secara bersamaan.

    Baca: BMKG prediksi puncak musim hujan bulan November

    “Musim hujan 2024-2025 telah terjadi di sebagian kecil wilayah pada Agustus 2024. Kemudian diprediksi akan terjadi di sebagian besar wilayah lainnya pada bulan September hingga November 2024,” jelas Dwikorita.

    Sebanyak 10,7 persen dari 669 zona musim di Indonesia sudah mulai mengalami musim hujan pada bulan September.

    Diantaranya pesisir timur perairan Sumatera Utara, Riau bagian selatan, Jambi, sebagian Bengkulu, Sumatera Selatan bagian barat, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Timur dan sebagian Papua.

    Kemudian memasuki bulan Oktober 2024, sebanyak 30,04 persen dari 669 zona yang akan mengalami musim hujan. Yaitu sebagian besar Sumatera Selatan, sebagian besar pulau Jawa, sebagian besar pulau Kalimantan.

    Baca: Banjir rendam ratusan rumah di Sorong, warga mengungsi ke hutan

    Selain itu, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, Maluku Utara, sebagian kecil Maluku dan Papua Barat juga diprediksi mengalami musim hujan di bulan Oktober 2024.

    Sementara sebanyak 25,9 persen wilayah akan memasuki musim hujan di bulan November yaitu Lampung bagian selatan, pulau Jawa bagian timur, sebagian besar pulau Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Merauke bagian selatan.

    Selanjutnya pada periode Januari – Februari 2025 diprakirakan terjadi yang di antaranya Lampung, Pulau Jawa bagian utara, sebagian kecil dari Pulau Sulawesi, Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan sebagian besar Pulau Papua.

  • Pramono Anung Akan Lanjutkan Naturalisasi Sungai di Cipinang Melayu

    Pramono Anung Akan Lanjutkan Naturalisasi Sungai di Cipinang Melayu

    7cloud.asia – Calon gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2024 nomor urut tiga, Pramono Anung mengatakan siap melanjutkan naturalisasi 34 bidang lahan untuk mengantisipasi banjir di Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

    “Banjir Kanal Timur (BKT) hingga kini masih terhambat, masih jadi persoalan juga,” kata Pramono di kawasan Cipinang Melayu Jakarta, Jumat.

    Pramono Anung menyoroti dua titik, yakni yang berada langsung di bantaran Kali Sunter dan BKT harus ada penanganan maksimal untuk mengatasi banjir di kawasan Cipinang.

    Salah satu yang paling mungkin dikerjakan secara cepat adalah melakukan naturalisasi 34 bidang lahan yang sudah diajukan sejak masa pemerintahan gubernur sebelumnya.

    Pramono Anung menyatakan, pemilik lahan-lahan itu sudah setuju dan melakukan pendataan dan menandatangani kesepakatan dengan pemerintah untuk bagian yang terkena dampak naturalisasi sungai.

    Baca: Pemkot Jakarta Selatan perbanyak embung untuk atasi banjir

    “Apalagi kalau dari 34 bidang itu, bukan lahan yang luas-luas sekali. Sehingga kalkulasinya kan bisa dilakukan,” jelasnya.

    Sebelumnya, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta menetapkan waktu minimal banjir surut di wilayahnya kurang dari dua jam dengan cara mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk melakukan penanganan cepat.

    SDA DKI juga menerapkan enam inovasi pengendali banjir yang di tempatkan pada lokasi-lokasi langganan banjir setiap kali hujan deras.

    Inovasi tersebut mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali banjir di berbagai wilayah Jakarta, hingga optimalisasi dan pemeliharaan sarana prasarana pengendali banjir.

    Baca: Ada 147 embung dan waduk untuk atasi banjir di Jakarta

    Enam inovasi pengendalian banjir tersebut, antara lain pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti waduk atau embung, penguatan tanggul kali, pembangunan sistem polder atau pompa,

    Juga penyiagaan dan pengecekan berkala rumah pompa, pintu air, hingga alat berat, menyiagakan satuan tugas (satgas) di lapangan dan meningkatkan kapasitas drainase kawasan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total kejadian banjir di seluruh Jakarta yakni 246 kejadian dan di Jakarta Selatan tercatat 108 kejadian hingga 2024.

    Kemudian, total kejadian banjir di puncak kemarau sebanyak 30 kejadian dan 28 kejadian banjir terjadi di Jakarta Selatan. (Sumber:Antaranews.com)

  • Cuaca Hari Ini: Termasuk Pesisir Jakarta, Banjir Rob Berpotensi Terjang Wilayah Ini

    Cuaca Hari Ini: Termasuk Pesisir Jakarta, Banjir Rob Berpotensi Terjang Wilayah Ini

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sejumlah wilayah terjadi banjir rob, termasuk pesisir Jakarta pada Sabtu (19/10/2024).

    Banjir rob ini diprediksi terjadi akibat adanya tinggi gelombang antara 0,5 hingga 2,5 meter. Wilayah yang berpotensi terjadi banjir rob selain pesisir Jakarta adalah pesisir Sumatera Utara, Pesisir Jawa Tengah.  

    BMKG juga memperkirakan beberapa kota di Indonesia masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat.

    Hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Pekanbaru, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, Palembang, Bandung, Mataram, Denpasar, Samarinda, Ternate, Manokwari, Sorong, Jayapura dan Merauke.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan, Manado, Nabire dan Jayawijaya. Kemudian hujan disertai petir diperkirakan akan melanda Kota Tanjung Selor, Palangkaraya, Banjarmasin, Mamuju dan Palu.

    Sedangkan untuk seluruh wilayah  wilayah DKI Jakarta cuaca diperkirakan cerah berawan dari pagi hingga malam hari.

    Suhu udara di Indonesia berkisar antara 16 hingga 34 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara antara 42 hingga 100 persen.

    Suhu terendah diprediksi akan terjadi di Kota Jayawijaya sementara suhu tertinggi diperkirakan akan dirasakan warga yang berada di Kota Palembang, Yogyakarta, Serang, Semarang, Surabaya, Kupang dan Gorontalo.