Tag: gaza

  • Iran Syaratkan Gencatan Senjata sebagai Cara Tunda Respons Iran terhadap Israel

    Iran Syaratkan Gencatan Senjata sebagai Cara Tunda Respons Iran terhadap Israel

    7cloud.asia – Tiga pejabat senior Iran mengatakan bahwa hanya kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang dapat mencegah Iran melakukan pembalasan langsung terhadap Israel.

    Mereka mengaitkan potensi respons dengan kematian pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di wilayah tersebut. Gencatan senjata di Gaza diharapkan berlangsung pada pekan ini.

    Iran bertekad untuk memberikan respons tegas terhadap pembunuhan Haniyeh, yang terjadi saat kunjungannya ke Teheran akhir bulan lalu. Israel dituding berada di balik pembunuhan itu.

    Namun, Israel belum mengonfirmasi atau membantah mengenai keterlibatannya. Untuk memperkuat pertahanan Israel, Angkatan Laut AS telah mengerahkan kapal perang dan kapal selam ke Timur Tengah.

    Seorang pejabat keamanan senior Iran mengungkapkan bahwa Iran, bersama sekutunya seperti Hizbullah, akan melancarkan serangan langsung jika pembicaraan tentang Gaza gagal atau jika Israel dianggap menunda negosiasi.

    Pejabat tersebut tidak menyebutkan berapa lama Iran akan menunggu sebelum mengambil tindakan.

    Baca: Balasan Iran ke Israel diperkirakan akan segera dilakukan

    Dengan meningkatnya risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah setelah pembunuhan Haniyeh dan komandan Hizbullah Fuad Shukr, Iran terlibat dalam dialog intensif dengan negara-negara Barat dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir mengenai cara mengatur pembalasan.

    Sumber-sumber tersebut, yang berbicara secara anonim karena sensitivitas masalah ini, mengungkapkan informasi itu.

    Duta besar AS untuk Turki mengonfirmasi lewat pernyataan pada Selasa bahwa Washington telah meminta sekutunya untuk membantu meyakinkan Iran untuk meredakan ketegangan di kawasan.

    Tiga sumber pemerintah regional menjelaskan bahwa percakapan dengan Teheran dilakukan untuk menghindari eskalasi menjelang perundingan gencatan senjata Gaza yang dijadwalkan mulai Kamis di Mesir atau Qatar.

    “Kami berharap respons kami akan dilakukan tepat waktu dan dengan cara yang tidak mengancam kemungkinan gencatan senjata,” kata misi Iran untuk PBB dalam sebuah pernyataan pada Jumat.

    Kementerian Luar Negeri Iran pada Selasa menyatakan bahwa seruan untuk menahan diri “bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional.”

    Baca: Iran bertekad membalas pembunuhan Ismail Haniyeh

    Kementerian Luar Negeri Iran dan Korps Garda Revolusi tidak segera menanggapi pertanyaan untuk berita ini. Kantor Perdana Menteri Israel dan Departemen Luar Negeri AS tidak menanggapi pertanyaan.

    “Sesuatu dapat terjadi minggu ini oleh Iran dan proksinya… Itu adalah evaluasi AS dan juga Israel,” kata juru bicara Gedung Putih John Kirby kepada wartawan pada Senin.

    “Jika ada kejadian pada minggu ini, hal tersebut bisa mempengaruhi pembicaraan yang kami rencanakan digelar pada Kamis,” tambahnya.

    Pada akhir pekan lalu, Hamas meragukan apakah pembicaraan akan dilanjutkan. Israel dan Hamas telah melakukan beberapa putaran pembicaraan dalam beberapa bulan terakhir tanpa berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata.

    Banyak pengamat Israel yang percaya bahwa Iran akan memberikan responsnya segera setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyatakan bahwa Iran akan “memberi hukuman berat” kepada Israel atas serangan di Teheran.

    Kebijakan regional Iran diputuskan oleh Garda Revolusi yang elite, yang langsung melapor kepada Khamenei, pemimpin tertinggi negara tersebut.

    Baca: Ini syarat yang diajukan Hamas untuk perundingan gencatan senjata

    Sejak dilantik bulan lalu, presiden baru Iran yang relatif moderat, Masoud Pezeshkian, terus menegaskan sikap anti-Israel dan dukungannya terhadap gerakan perlawanan di seluruh wilayah.

    Menurut dua sumber, Iran sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan seorang perwakilan ke perundingan gencatan senjata, yang akan menjadi yang pertama sejak perang dimulai di Gaza.

    Perwakilan tersebut tidak akan hadir secara langsung dalam pertemuan, tetapi akan terlibat dalam diskusi di balik layar “untuk menjaga jalur komunikasi diplomatik” dengan Amerika Serikat selama negosiasi berlangsung.

    Pejabat di Washington, Qatar, dan Mesir belum memberikan tanggapan mengenai apakah Iran akan memainkan peran tidak langsung dalam perundingan.

    Dua sumber senior yang dekat dengan Hizbullah Lebanon mengatakan bahwa Teheran akan memberi kesempatan pada negosiasi tersebut, tetapi tetap akan melanjutkan niatnya untuk membalas.

    Menurut salah satu sumber, gencatan senjata di Gaza akan memberi Iran alasan untuk merespons dengan cara yang lebih terbatas dan bersifat “simbolis.”

    Sumber: VOA Indonesia

  • Kasus Polio Terkonfirmasi di Gaza, Kelompok Bantuan Serukan Gencatan Senjata Segera untuk Program Vaksinasi

    Kasus Polio Terkonfirmasi di Gaza, Kelompok Bantuan Serukan Gencatan Senjata Segera untuk Program Vaksinasi

    7cloud.asia – Kelompok-kelompok bantuan untuk menyerukan gencatan senjata segera di Gaza agar mereka dapat melangsungkan vaksinasi massal dan mencegah terjadinya wabah polio dalam skala besar.

    Seruan ini disampaikan menyusul ancaman wabah polio meningkat pesat di Jalur Gaza. Satu kasus polio telah terkonfirmasi di Gaza, sementara beberapa lainnya masih diduga.

    Virus polio juga terdeteksi di air limbah di enam lokasi berbeda pada bulan Juli. Di pusat kota Deir al-Balah, jalanan dibanjiri air limbah.

    Setiap hari, anak-anak dan orang dewasa berjalan melewati kawasan banjir dan tumpukan sampah yang memenuhi jalanan.

    Karena tidak adanya tempat yang aman, beberapa pengungsi mendirikan tenda mereka di sisi jalan dekat saluran pembuangan, sementara Israel melanjutkan kampanye militernya di wilayah yang terkepung itu.

    Polio telah diberantas di Gaza 25 tahun yang lalu, namun vaksinasi menurun setelah perang dimulai 10 bulan yang lalu dan wilayah tersebut telah menjadi tempat berkembang biaknya virus tersebut, kata kelompok-kelompok bantuan.

    Ratusan ribu pengungsi Palestina berdesakan di tenda-tenda yang kekurangan air bersih atau tempat pembuangan limbah dan sampah yang layak.

    Baca: WHO akan kirim satu juta vaksin polio ke Gaza

    Untuk mencegah wabah meluas, kelompok bantuan bersiap untuk memvaksinasi lebih dari 600.000 anak dalam beberapa pekan mendatang.

    Mereka mengatakan rencana vaksinasi yang ambisius ini tidak mungkin dilakukan tanpa adanya jeda dalam pertempuran antara Israel dan Hamas.

    Kemungkinan kesepakatan gencatan senjata tidak akan terwujud dalam waktu dekat.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF, badan urusan anak-anak PBB, mengatakan dalam pernyataan bersama pada hari Jumat (16/8/2024) bahwa, setidaknya, jeda tujuh hari diperlukan untuk melaksanakan program vaksinasi massal.

    PBB bertujuan untuk mengirimkan 1,6 juta dosis vaksin polio ke Gaza, di mana sistem sanitasi dan air telah hancur, meninggalkan banyak kotoran manusia di kamp-kamp yang penuh sesak.

    Keluarga yang tinggal di kamp hanya mempunyai sedikit air bersih atau bahkan sabun untuk menjaga kebersihan dan terkadang menggunakan air limbah untuk minum atau membersihkan pakaian dan piring.

    Baca: UNRWA sebut wabah polio membayangi Gaza

    Setidaknya 225 tempat pembuangan sampah tidak resmi telah bermunculan di sekitar Gaza – banyak di antaranya dekat dengan tempat di mana banyak keluarga berlindung, menurut laporan yang dirilis pada bulan Juli oleh PAX.

    PAX adalah organisasi nirlaba berbasis di Belanda yang menggunakan citra satelit untuk melacak lokasi tersebut.

    Polio, yang sangat menular, terutama melalui kontak dengan tinja, air atau makanan yang terkontaminasi, dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan kelumpuhan permanen, biasanya pada kaki.

    Penyakit ini khususnya menyerang anak-anak kecil dan terkadang berakibat fatal.

    Kelompok bantuan Mercy Corps memperkirakan sekitar 50.000 bayi yang lahir sejak perang dimulai belum diimunisasi polio.

    WHO dan UNICEF mengatakan pada hari Jumat bahwa tiga anak diduga terinfeksi dan sampel tinja mereka sedang diuji oleh laboratorium di Yordania.

    Kementerian Kesehatan di Ramallah di Tepi Barat mengatakan pada Jumat malam bahwa tes yang dilakukan di Yordania mengonfirmasi satu kasus pada seorang anak berusia 10 bulan di Gaza.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Presiden Joe Biden Berjanji Segera Akhiri Perang di Gaza di Tengah Menguatnya Desakan untuk Tidak Mempersenjatai Israel

    Presiden Joe Biden Berjanji Segera Akhiri Perang di Gaza di Tengah Menguatnya Desakan untuk Tidak Mempersenjatai Israel

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden berjanji akan mengakhiri perang di Jalur Gaza dan membawa pulang para sandera.

    “Saya akan terus berupaya membawa pulang para sandera, mengakhiri perang di Gaza, dan membawa perdamaian serta keamanan di Timur Tengah,” ucap Biden di malam pertama Konvensi Nasional Demokratik di Chicago, Illinois, Senin (19/8/2024) waktu setempat.

    “Kami bekerja tanpa henti…untuk mencegah perang meluas, untuk menyatukan kembali para sandera dengan keluarganya,” kata Joe Biden.

    Biden juga menyatakan akan meningkatkan bantuan kesehatan dan makanan kemanusiaan ke Gaza.

    “Untuk mengakhiri penderitaan rakyat sipil Palestina dan pada akhirnya mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri perang ini,” tambah Biden akan segera mengakhiri kepemimpinannya

    Baca: Iran syaratkan gencatan senjata di Gaza, agar tak balas serangan Israel 

    Saat dimulainya konvensi pada Senin pagi, ribuan pengunjuk rasa pro-Palestina berkumpul di Chicago.

    Para pengunjukrasa itu meminta pemerintahan Biden segera mengakhiri dukungan perang Israel di Gaza, dimana lebih dari 40.100 warga Palestina terbunuh.

    Saat para delegasi tiba di pusat konvensi, para pengunjuk rasa berjalan melewati pusat kota sambil menyerukan kata-kata “bebaskan, bebaskan Palestina,” beberapa jam sebelum Biden berpidato.

    “Para pengunjuk rasa di jalan, mereka benar. Banyak orang tak bersalah kehilangan nyawa, di kedua pihak,” kata Biden.

    Biden juga mengatakan telah menulis perjanjian perdamaian untuk Gaza, seraya menambahkan “Saya mengajukan proposal yang membawa kita lebih dekat untuk melakukan hal tersebut dibandingkan yang telah kita lakukan sejak 7 Oktober.”

    Baca: Hamas syaratkan perundingan gencatan senjata di Gaza dilandasi hasil perundingan sebelumnya

    Hentikan Pemberian Senjata ke Israel
    Dalam konvensi yang sedang berlangsung, beberapa peserta membentangkan spanduk bertuliskan “Hentikan Mempersenjatai Israel.”

    Ketika peserta lainnya melihat spanduk tersebut mereka mulai menyerukan “Kami Cinta Joe.”

    Sementara itu di media sosial terlihat seorang pria berusaha merobek spanduk tersebut.

    Pekan lalu, usai perundingan gencatan senjata di Doha, AS, Mesir dan Qatar mengatakan bahwa mereka telah menyampaikan kepada Israel dan Hamas apa yang disebut sebagai “proposal penghubung” untuk lebih mempersempit “kesenjangan yang tersisa hingga memungkinkan terlaksananya kesepakatan tersebut dengan cepat.”

    Di sisi lain, kelompok Hamas mengatakan pada Minggu (18/8/2024) bahwa proposal baru tersebut hanya memenuhi “persyaratan Netanyahu dan sejalan dengan Israel dan sekutunya.

    Baca: Ambigu sikap Israel, sepakat berunding tapi tetap lancarkan serangan

    Hamas terutama menyorot penolakan Netanyahu terhadap gencatan senjata permanen, penarikan sepenuhnya pasukan dari Jalur Gaza,

    Hamas juga menyoroti keinginan Israel untuk melanjutkan pendudukan di persimpangan Netzarim (yang memisahkan utara dan selatan Jalur Gaza), penyeberangan Rafah, dan Koridor Philadelphi (di selatan).”

    Hamas menekankan komitmennya terhadap apa yang disepakati pada 2 Juli.

    Biden mengatakan pada Mei bahwa Israel mengajukan kesepakatan tiga fase yang akan mengakhiri permusuhan di Gaza dan menjamin pembebasan sandera yang ditahan di wilayah pesisir tersebut.

    Rencana tersebut mencakup gencatan senjata, pertukaran sandera-tahanan, dan rekonstruksi Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Konflik di Gaza Berlanjut, 113 Jurnalis Tewas

    Konflik di Gaza Berlanjut, 113 Jurnalis Tewas

    7cloud.asia – Sedikitnya 113 jurnalis dan pekerja media telah tewas sejak dimulainya konflik antara Israel dan Gaza, menjadikannya periode paling mematikan yang pernah tercatat sejak 1992, kata Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) pada Selasa.

    “Hingga 20 Agustus 2024, penyelidikan awal CPJ menunjukkan bahwa setidaknya 113 jurnalis dan pekerja media termasuk di antara lebih dari 41.000 orang yang tewas sejak perang dimulai,” kata CPJ dalam laporan terbaru dan sementara tentang jurnalis di masa perang.

    Laporan itu juga menyebutkan, periode perang Israel itu menjadikannya periode paling mematikan bagi jurnalis sejak CPJ mulai mengumpulkan data pada 1992. CPJ menyebutkan bahwa mereka yang tewas termasuk 108 warga Palestina, dua warga Israel, dan tiga warga Lebanon.

    Baca: Tentara Israel tutup Rafah, 1000 anak meninggal

    Selain itu, 32 jurnalis terluka, dua orang hilang, dan 52 lainnya dideportasi atau ditangkap.

    Wartawan sering menjadi korban serangan, serangan siber, dan sensor, tambahnya.

    Pada Selasa sebelumnya, kantor media pemerintah Gaza mengatakan bahwa menurut perhitungannya sendiri, sekitar 170 jurnalis telah tewas di zona konflik akibat serangan Israel.

    Korban terbaru adalah jurnalis Hamza Abd Ar-Rahman Mutarja, yang bekerja di wilayah tersebut dengan sejumlah media.

    Baca: Sebanyak 100 orang lebih terbuh akibat serangan Israel ke sekolah di Gaza

    Pada 7 Oktober 2023, Israel mengalami serangan roket yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Jalur Gaza, di mana para pejuang Hamas menyusup ke wilayah perbatasan, menembaki militer dan warga sipil, serta menyandera mereka.

    Otoritas Israel mengatakan bahwa sekitar 1.200 orang tewas selama serangan tersebut.

    Pasukan Pertahanan Israel meluncurkan Operasi Pedang Besi di Jalur Gaza dan mengumumkan blokade penuh terhadap wilayah tersebut.

    Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober tahun 2023 telah melebihi 40.000 orang.

    Sumber : Sputnik

  • Serukan Gencatan Senjata, Palestina Ajak Anggota Dewan Keamanan PBB Kunjungi Gaza

    Serukan Gencatan Senjata, Palestina Ajak Anggota Dewan Keamanan PBB Kunjungi Gaza

    7cloud.asia – Utusan Palestina untuk PBB Riyad Mansour menegaskan kembali seruannya untuk gencatan senjata di Jalur Gaza dan mengundang anggota Dewan Keamanan PBB untuk menyaksikan secara langsung kengerian yang dialami oleh warga Palestina.

    Berbicara pada sesi Dewan Keamanan tentang Palestina, pada Kamis (22/8), Mansour menyerukan semua orang yang punya nyali untuk datang dan mengatakan kami datang untuk menuntut gencatan senjata dan menuntutnya sekarang di Jalur Gaza.

    Dirinya menegaskan bahwa Gaza tidak membutuhkan lebih banyak kelumpuhan dan kematian.

    Gaza disebutnya telah menyaksikan kehidupan yang hancaru oleh bom dan peluru, lalu kini ditambah dengan kelaparan dan penyakit yang dipicu pendudukan.

    Baca: UNRWA kutuk pembantaian anak-anak oleh Zionis

    “Gaza membutuhkan kehidupan untuk dipulihkan, dan Gaza membutuhkannya sekarang juga,” kata Mansour.

    Menggambarkan runtuhnya layanan-layanan penting akibat serangan Israel yang sedang berlangsung, dia berkata rakyat Palestina di Jalur Gaza telah menyaksikan dan merasakan secara langsung runtuhnya semua kebutuhan hidup.

    “Pemerintah Israel bahkan tidak peduli terhadap warga negaranya sendiri… Mereka lebih peduli pada pembunuhan warga Palestina dibandingkan menyelamatkan warga Israel,” ucapnya.

    Mansour mengingatkan pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden tentang perlunya sedikitnya 600 truk bantuan kemanusiaan untuk memasuki Jalur Gaza setiap hari dan bertanya siapa yang menghentikan Dewan Keamanan PBB untuk melaksanakan pernyataan Biden.

    Baca: Lebih dari 100 orang tewas dalam serangan Israel ke sekolah di Gaza

    “Tidak ada alasan bagi Israel untuk terus membunuh warga sipil Palestina yang tidak bersalah, anak-anak, bayi. Berapa lama lagi kita akan mengecewakan mereka?,” ucapnya.

    Lebih lanjut dia menyoroti rencana kepemimpinan Palestina untuk melakukan tindakan lebih lanjut di PBB.

    Termasuk mendorong penerapan pendapat penasihat Mahkamah Internasional untuk mengakhiri pendudukan Israel.

    “Kami akan memulai tindakan lain untuk mengakhiri pendudukan ilegal ini sesegera mungkin,” sebutnya.

    Sembari menekankan bahwa waktu untuk menunggu sudah berakhir dan waktu untuk bertindak adalah sekarang.

    Baca: Biadab! Tentara Israel perkosa tahanan Palestina secara bergilir

    Dia meminta Dewan Keamanan PBB memenuhi mandatnya dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.

    Selain itu, ia mendesak anggota dewan menerapkan gencatan senjata segera, menghentikan penderitaan, serta melindungi anak-anak dan semua warga sipil sebagaimana yang dituntung pada hukum internasional dan kemanusiaan.

    Sementara itu, utusan baru Israel untuk PBB Danny Dannon menyebut Mansour seorang teroris berjas dan mengeklaim jika utusan Palestina itu tidak mengutuk Hamas, maka ia adalah salah satu dari mereka.

    Sumber : Anadolu

  • Israel Hanya Sisakan 9,5 Persen Wilayah Zona Aman Bagi Pengungsi Palestina di Gaza

    Israel Hanya Sisakan 9,5 Persen Wilayah Zona Aman Bagi Pengungsi Palestina di Gaza

    7cloud.asia – Pasukan Israel mengubah “zona kemanusiaan aman” di Jalur Gaza menjadi tumpukan puing-puing dan abu, menyisakan hanya 9,5 persen wilayah yang disebut “zona aman” bagi warga sipil yang mengungsi, kata Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, Sabtu.

    Menurut pernyataan yang dirilis otoritas tersebut, pada awal invasi darat Israel ke Gaza awal November 2023, pasukan Israel mengusir ratusan ribu warga sipil dari Gaza utara ke Gaza selatan, mengklaim area tersebut sebagai “zona kemanusiaan yang aman.”

    Awalnya, zona tersebut meliputi 230 kilometer persegi atau 63 persen dari total wilayah Gaza, termasuk lahan pertanian dan fasilitas komersial, ekonomi, dan layanan yang tersebar di wilayah seluas 120 kilometer persegi.

    Baca: Palestina ajak Dewan Keamanan PBB kunjungi Gaza

    Ketika serangan militer Israel berlanjut, ukuran zona aman tersebut menyusut drastis, kata pernyataan itu.

    Otoritas tersebut menjelaskan bahwa pada awal Desember 2023, menyusul serangan Israel ke Khan Younis di Gaza selatan, wilayah kemanusiaan yang ditetapkan telah dikurangi menjadi 140 kilometer persegi, yang mencakup 38,3 persen total wilayah Gaza.

    Wilayah ini mencakup beberapa lahan pertanian, serta bangunan ekonomi, komersial dan jasa.

    Pengurangan lebih lanjut terjadi pada Mei 2024, selama serangan Israel ke Rafah, ketika zona kemanusiaan menyusut menjadi 79 kilometer persegi, atau 20 persen dari total wilayah Gaza, tambah pernyataan itu.

    Pada pertengahan Juni 2024, zona tersebut diperkecil menjadi menjadi 60 kilometer persegi, yang hanya mencakup 16,4 persen dari total wilayah Gaza.

    Baca: UNRWA kutuk pembantaian anak-anak oleh Zionis

    Wilayah tersebut meliputi jalanan biasa, jalan raya, area layanan, dan bahkan pemakaman, yang tidak satu pun dapat dianggap sebagai tempat berlindung yang benar-benar aman bagi warga sipil yang mengungsi, katanya.

    Pada pertengahan Juli 2024, wilayah yang disebut “aman” oleh pasukan Israel berkurang lagi, kali ini menjadi 48 kilometer persegi, atau 13,15 persen dari total wilayah Gaza.

    Akhirnya, pada Agustus 2024, tentara Israel mengurangi “zona kemanusiaan yang aman” ini menjadi hanya 35 kilometer persegi, atau 9,5 persen dari total wilayah Gaza.

    Zona tersebut hanya mencakup sekitar 3,5 persen dari area pertanian, layanan dan komersial, yang kemudian mempersempit ruang tempat warga sipil berlindung, kata otoritas, merinci bagaimana pasukan Israel secara sistematis menghancurkan “zona aman.”

    Berkurangnya zona aman yang terus berlangsung itu memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza, karena warga sipil memiliki tempat yang lebih kecil untuk melarikan diri dari aksi kekerasan.

    Baca: Sebanyak 100 orang terbunuh akibat serangan Israel ke sekolah di Gaza

    Israel melanjutkan serangan brutalnya di Jalur Gaza menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, meski resolusi Dewan Keamanan PBB menyerukan gencatan senjata segera.

    Serangan tersebut menewaskan lebih dari 40.200 warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 93 ribu luka-luka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Blokade yang terus berlangsung di Gaza menyebabkan kelangkaan akut pada bahan makanan, air bersih dan obat, dan menyebabkan kehancuran pada sebagian besar wilayah tersebut.

    Israel menghadapi tudingan melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang memerintahkan penghentian operasi militer di kota selatan Rafah, di mana lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum wilayah itu diserang pada 6 Mei.

    Sumber: Anadolu-OANA

  • Mesir Tegas Menolak Kehadiran Israel di Sepanjang Wilayah Perbatasan dengan Gaza

    Mesir Tegas Menolak Kehadiran Israel di Sepanjang Wilayah Perbatasan dengan Gaza

    7cloud.asia – Mesir kembali menolak kehadiran Israel di sepanjang wilayah perbatasan Gaza-Mesir, termasuk penyeberangan perbatasan Rafah dan Koridor Philadelphi.

    Pernyataan itu disampaikan oleh sumber informasi Mesir sebagaimana dikutip saluran Al-Qahera News yang berafiliasi dengan pemerintah Mesir.

    Saat ini, Kairo terus menjadi tuan rumah pembicaraan gencatan senjata di Gaza antara Israel dan kelompok Hamas yang dilanjutkan Kamis lalu.

    “Mesir menegaskan kembali kepada semua pihak terkait penolakannya terhadap kehadiran Israel (di sisi Palestina) penyeberangan Rafah atau Koridor Philadelphi,” kata sumber tersebut.

    Koridor Philadelphi, zona penyangga demiliterisasi di sepanjang perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir, tetap menjadi salah satu titik hambatan utama dalam negosiasi Israel-Hamas.

    Baca: Perundingan gencatan senjata di Gaza berlangsung alot

    “Mesir sedang mengatur mediasi antara dua pihak yang bertikai (Hamas dan Mesir) sesuai dengan keamanan nasionalnya dan melindungi hak-hak rakyat Palestina,” ucapnya.

    Sumber tersebut juga mengatakan bahwa Mesir melakukan upaya terbaik untuk membawa kedua pihak mencapai konsensus dan mengoordinasikan upayanya dengan Qatar dan Amerika Serikat (AS).

    Selama berbulan-bulan, Qatar, Mesir dan AS berusaha mendorong tercapainya kesepakatan antara Israel dan Hamas untuk memastikan pertukaran tahanan dan gencatan senjata serta memungkinkan bantuan kemanusiaan memasuki Gaza.

    Namun upaya mediasi terhenti karena Netanyahu menolak memenuhi tuntutan Hamas untuk menghentikan perang.

    Israel terus melanjutkan serangan brutalnya di Jalur Gaza menyusul aksi penyerbuan kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.

     

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Serangan berlanjut Israel di Jalur Gaza telah mengakibatkan lebih dari 40.400 warga Palestina tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

    Selain itu ada lebih dari 93.400 warga Palestina yang terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Blokade yang sedang berlangsung di Gaza telah menyebabkan warga Palestina kekurangan makanan, pasokan air bersih dan obat-obatan, dan menyebabkan sebagian besar wilayah tersebut hancur.

    Israel menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional yang telah memerintahkan penghentian operasi militer di kota selatan Rafah.

    Rafah saat ini menjadi tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan sebelum wilayah tersebut diserbu pada 6 Mei.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-OANA

  • Israel Hanya Beri Waktu Tiga Hari Jeda Kemanusiaan untuk Vaksinasi Polio Massal di Gaza

    Israel Hanya Beri Waktu Tiga Hari Jeda Kemanusiaan untuk Vaksinasi Polio Massal di Gaza

    7cloud.asia – Para pejabat Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengatakan, Israel telah memberi lampu hijau kepada badan-badan PBB itu untuk mulai melakukan vaksinasi polio terhadap ratusan ribu anak-anak Palestina di Jalur Gaza.

    Dr. Rik Peeperkorn, perwakilan WHO untuk Wilayah Pendudukan Palestina mengatakan kampanye vaksinasi polio massal untuk mengimunisasi lebih dari 640.000 anak terhadap penyakit yang melumpuhkan ini akan dimulai pada Minggu, 1 September.

    Vaksinasi polio akan memberikan dua tetes vaksin oral polio baru tipe 2 (nOPV2) kepada lebih dari 640.000 anak di bawah usia 10 tahun.

    Peeperkorn mengatakan bahwa 1,26 juta dosis vaksin dan 500 tempat penyimpanan vaksin telah dikirim ke Gaza, sementara 400.000 dosis vaksin tambahan akan segera tiba.

    Ia mencatat bahwa lebih dari 2.180 tenaga kesehatan dan pekerja penyuluh masyarakat telah dilatih untuk memberikan vaksinasi dan memberi tahu masyarakat tentang kampanye tersebut.

    Baca Juga: Kasus Polio Terkonfirmasi di Gaza, Kelompok Bantuan Serukan Gencatan Senjata Segera untuk Program Vaksinasi

    “Setidaknya 90 persen cakupan vaksinasi selama setiap putaran kampanye diperlukan untuk menghentikan wabah dan mencegah penyebaran polio secara internasional,” tegasnya.

    Berbicara dari Deir al Balah di Gaza tengah, Peeperkorn mengatakan kepada wartawan di Jenewa, Jumat (30/8/2024), bahwa Israel telah menyetujui serangkaian jeda kemanusiaan.

    “Kami ingin menekankan bahwa tanpa jeda kemanusiaan, pelaksanaan kampanye (vaksinasi), yang sudah dilaksanakan dalam keadaan yang sangat kompleks dan menantang, tidak akan mungkin terjadi,” kata Peeperkorn.

    “Jadi, kami menyambut baik komitmen awal terhadap jeda kemanusiaan khusus wilayah ini selama kampanye,” katanya.

    Peeperkorn menyerukan semua pihak untuk menghentikan pertempuran agar anak-anak dan keluarga dapat mengakses fasilitas kesehatan dengan aman.

    Baca Juga: WHO akan Kirim 1 Juta Vaksin Polio ke Gaza

    Sebaliknya, petugas juga bisa menjangkau masyarakat untuk memberikan vaksinasi polio kepada anak-anak yang tidak dapat mengakses fasilitas kesehatan.”

    Kampanye vaksinasi polio, yang dijalankan oleh Kementerian Kesehatan Gaza, WHO, Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) dan mitra-mitranya, akan dibagi menjadi tiga fase, yang masing-masing berlangsung selama tiga hari.

    Imunisasi dimulai dari Gaza tengah, diikuti oleh Gaza selatan, dan terakhir Gaza utara.

    Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (30/8/2024) mengatakan bahwa waktu yang disepakati untuk kampanye vaksinasi polio di Gaza “kemungkinan tidak cukup” untuk mencapai cakupan yang memadai.

    Kampanye vaksinasi polio untuk anak-anak di bawah usia 10 tahun akan dimulai di Gaza pada Minggu (1/9/2024) dan akan berlangsung selama tiga hari di setiap zona: tengah, selatan, dan utara Gaza, di mana jeda kemanusiaan akan diberlakukan selama distribusi vaksin.

    Baca Juga: UNRWA: Wabah Polio Membayangi Lokasi Pengungsian di Seluruh Jalur Gaza

    “Karena kondisi keamanan yang tidak stabil, kerusakan pada jalan dan infrastruktur, serta perpindahan dan pergerakan penduduk, tiga hari di setiap area kemungkinan tidak cukup untuk mencapai cakupan yang memadai,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah konferensi pers.

    “Cakupan vaksinasi akan dipantau sepanjang kampanye, dan telah disepakati bahwa vaksinasi akan diperpanjang satu hari di mana pun diperlukan,” tambah Tedros.

    Ia menekankan bahwa tim vaksinasi harus dilindungi dan diizinkan untuk menjalankan kampanye dengan aman, dan mendesak semua pihak untuk memastikan perlindungan mereka, serta fasilitas kesehatan dan anak-anak.

    “Jeda kemanusiaan sangat diperlukan, tetapi pada akhirnya, satu-satunya solusi untuk menjaga kesehatan anak-anak Gaza adalah gencatan senjata,” tegasnya.

    Sumber: VOAIndonesia/Anadolu-OANA

  • Mendekati Tahun Kedua Anak-anak Gaza Tidak Bisa Sekolah

    Mendekati Tahun Kedua Anak-anak Gaza Tidak Bisa Sekolah

    7cloud.asia – Sebanyak 625.000 anak usia sekolah di Gaza kehilangan hampir satu tahun penuh pendidikan. Sekolah-sekolah ditutup menyusul serangan Israel sebagai balasan atas serangan Hamas pada 7 Oktober.

    Belum jelas kapan anak-anak di Gaza bisa kembali bersekolah karena perundingan-perundingan untuk menghentikan perang antara Israel dan Hamas belum membuahkan hasil.

    Lebih dari 90 persen gedung sekolah di Gaza rusak akibat pengeboman Israel, termasuk sekolah dikelola oleh UNRWA, badan PBB yang menangani pengungsi Palestina.

    Menurut Klaster Pendidikan Global, sebuah koalisi organisasi bantuan yang dipimpin oleh UNICEF dan organisasi nirlaba, Save the Children, sebanyak 85 persen bangunan sekolah mengalami kerusakan parah hingga memerlukan rekonstruksi bertahun-tahun.

    Universitas-universitas di Gaza juga hancur. Israel berpendapat bahwa militan Hamas beroperasi di sekolah-sekolah tersebut.

    Baca: Israel hanya beri waktu tiga hari untuk vaksinasi polio di Gaza

    Sekitar 1,9 juta dari 2,3 juta penduduk Gaza diusir dari rumah mereka dan kini tinggal di kamp-kamp tenda yang tidak memiliki sistem air atau sanitasi.

    Banyak dari mereka juga bertumpuk di sekolah-sekolah PBB dan pemerintah yang kini berfungsi sebagai tempat penampungan.

    Kelompok-kelompok bantuan berupaya menyiapkan alternatif pendidikan, tetapi hasilnya terbatas karena mereka harus menangani berbagai kebutuhan mendesak lainnya.

    UNICEF dan lembaga-lembaga bantuan lainnya mengoperasikan 175 pusat pembelajaran sementara, sebagian besar didirikan sejak akhir Mei, yang melayani sekitar 30.000 siswa dengan bantuan sekitar 1.200 guru sukarelawan, kata Ingram.

    Mereka menawarkan kelas literasi dan numerasi serta kegiatan untuk kesehatan mental dan pengembangan emosional.

    Baca: Mesir menolak kontrol Israel atas perbatasan Mesir-Gaza

    Namun, dia mengatakan mereka kesulitan memperoleh perlengkapan seperti pena, kertas, dan buku karena barang-barang tersebut tidak dianggap sebagai material prioritas penyelamatan nyawa.

    Sementara kelompok bantuan harus berjuang untuk mengirimkan cukup makanan dan obat-obatan ke Gaza.

    Pada Agustus, UNRWA meluncurkan program “kembali belajar” di 45 sekolah yang beralihfungsi menjadi tempat penampungan. Program ini menyediakan kegiatan seperti permainan, drama, seni, musik, dan olahraga untuk anak-anak.

    Program ini bertujuan memberi mereka waktu istirahat, kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman-teman, dan merasakan kembali masa kanak-kanak mereka, kata juru bicara Juliette Touma.

    Palestina telah lama menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Sebelum perang, Gaza memiliki tingkat literasi yang sangat tinggi, hampir 98 persen.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Saat terakhir kali mengunjungi Gaza pada April, Ingram mengungkapkan bahwaanak-anak sering mengatakan kepadanya bahwa mereka rindu kembali bersekolah, teman-teman, dan guru-guru mereka.

    Ketika seorang anak laki-laki menjelaskan betapa dia ingin kembali ke kelas, dia tiba-tiba berhenti dengan panik dan bertanya, “Saya bisa kembali, bukan?”

    “Itu sangat memilukan bagi saya,” katanya.

    Orang tua melaporkan bahwa tanpa adanya kegiatan belajar mengajar di sekolah, ditambah dengan trauma dari pengungsian, pengeboman, serta kerugian keluarga, anak-anak mereka mengalami perubahan emosional.

    Beberapa menjadi cemberut dan menarik diri, sementara yang lain mudah gelisah atau frustrasi.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Konflik Hamas-Israel Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Palestina

    Konflik Hamas-Israel Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Palestina

    7cloud.asia – Serangan Israel yang telah berlangsung lebih 11 bulan meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Gaza dan menimbulkan krisis kemanusiaan.

    Israel mengatakan bahwa serangannya bertujuan untuk melenyapkan Hamas agar organisasi tersebut tidak dapat mengulangi serangan pada 7 Oktober.

    Saat itu, serangan kelompok militan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan menculik 250 lainnya.

    Sejak saat itu perang antara Israel dan Hamas tak kunjung berakhir, hingga hari ini.

    Hingga hari ini, lebih dari 40.000 warga Palestina tewas, dan lebih 100.000 orang lainnya terluka, menurut pejabat kesehatan Gaza.

    Baca: Potret buram anak-anak korban perang di Gaza

    Konflik Israel dan Hamas tersebut juga menghambat pendidikan bagi anak-anak Palestina di Tepi Barat, di mana Israel juga mengintensifkan pembatasan pergerakan dan melakukan penggerebekan besar-besaran.

    Anak-anak adalah salah satu yang paling parah terdampak. Malnutrisi dan penyebaran penyakit meluas di Gaza.

    Ketika Gaza memulai tahun ajaran sekolah kedua tanpa kegiatan belajar-mengajar, sebagian besar anak-anak usia sekolah malah sibuk membantu keluarga mereka bertahan hidup di tengah serangan Israel yang menghancurkan.

    Anak-anak berjalan tanpa alas kaki melalui jalan tanah untuk membawa air dalam jeriken plastik dari titik distribusi ke keluarga mereka yang tinggal di kota-kota tenda yang dipenuhi pengungsi Palestina.

    Baca: Wabah polio mengancam anak-anak di Gaza

    Sementara itu, yang lain mengantre di dapur umum untuk mendapatkan ransum.

    Tess Ingram, juru bicara regional Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation’s Children Fund/UNICEF) mengatakan hampir semua dari 1,1 juta anak di Gaza diperkirakan memerlukan bantuan psikososial.

    “Pada hari apa pun sejak Oktober, antara 8 persen dan 20 persen sekolah di Tepi Barat ditutup,” kata Ingram. Ketika sekolah dibuka, tingkat kehadiran siswa juga berkurang karena anak-anak takut, katanya.

    Para orang tua di Gaza mengungkapkan kesulitan dalam memberikan pelajaran informal kepada anak-anak mereka di tengah kekacauan yang melanda sekitar mereka.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Di sebuah sekolah di pusat Kota Deir al-Balah, ruang kelas terlihat dipenuhi keluarga yang mengungsi.

    Cucian mereka tampak digantung di tangga luar. Jajaran tenda-tenda rombeng dari seprai dan terpal, disangga dengan batang-batang, memenuhi halaman sekolah.

    “Masa depan anak-anak hancur,” kata Umm Ahmed Abu Awja, dikelilingi oleh sembilan cucunya yang masih kecil.

    “Apa yang mereka pelajari tahun lalu benar-benar terlupakan. Jika mereka kembali ke sekolah, mereka harus memulai dari awal.”

    Sumber:VOAIndonesia