Tag: kesehatan

  • Kasus Campak Menurun Signifikan, DPR Minta Pengurus Negara Tidak Terlena

    Kasus Campak Menurun Signifikan, DPR Minta Pengurus Negara Tidak Terlena

    7cloud.asia – Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher, mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan laporan penurunan kasus campak hingga 95 persen pada awal 2026.

    Menurut Netty, angka penurunan yang signifikan memang patut diapresiasi sebagai hasil kerja keras pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

    Namun, ia menegaskan bahwa statistik tersebut tidak boleh menutupi fakta masih adanya anak-anak yang meninggal dunia akibat komplikasi campak. Karena itu, capaian tersebut tetap harus dibarengi kewaspadaan terhadap kondisi di lapangan.

    “Penurunan kasus itu memang hasil kerja keras, tetapi fakta bahwa masih ada anak yang meninggal menunjukkan ada sistem yang belum tuntas. Statistik bukan segalanya jika kita masih kehilangan nyawa anak-anak kita,” ujar Netty dikutip Parlementaria, Sabtu (28/3/2026).

    Legislator dari Fraksi PKS itu menyoroti adanya celah kekebalan atau immunity gap yang dinilainya sebagai potensi ancaman serius jika tidak segera ditangani.

    Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “bom waktu” yang dapat memicu kembali lonjakan kasus apabila sistem perlindungan tidak diperkuat secara menyeluruh.

    Baca: Tenaga medis meninggal diduga akibat campak

    Netty menilai, keberhasilan menekan jumlah kasus sejauh ini lebih bersifat langkah darurat. Sementara itu, masih adanya kematian menunjukkan bahwa penanganan di tingkat akar rumput belum sepenuhnya optimal, terutama dalam hal deteksi dini dan penanganan komplikasi.

    “Satu nyawa anak Indonesia itu terlalu mahal untuk dikompensasi dengan angka persentase penurunan. Jangan sampai kita merayakan penurunan kasus, sementara di saat yang sama ada orang tua yang sedang berduka karena anaknya terlambat mendapatkan proteksi,” tegasnya.

    Ia mendesak Kementerian Kesehatan untuk tidak mengendurkan upaya, meskipun tren kasus campak tengah melandai.

    Evaluasi menyeluruh, lanjutnya, perlu dilakukan terhadap distribusi vaksin serta kecepatan layanan penanganan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas, khususnya di wilayah yang sebelumnya menjadi zona merah.

    Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut memasuki minggu ke-11 2026, terdapat 177 suspek dan 121 kasus campak, menunjukkan penurunan sebesar sekitar 95 persen dari minggu pertama yakni sebesar 2.740 suspek dan 2.268 kasus.

    Data Kemenkes mengungkap, sampai minggu ke-9 2026, kasus campak sebanyak 8.716 dengan suspek 10.826, dan pemerintah menggencarkan imunisasi di berbagai daerah guna tindak lanjut pencegahan.

    Baca: Hoaks dan narasi antivaksin picu lonjakan kasus campak di Indonesia

    Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengkonfirmasi di Jakarta, Sabtu (14/3/2026), bahwa pada minggu ke-9, terdapat penambahan sebanyak sekitar 500 kasus.

    Hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan 6 kematian, dan pada minggu ke-7, terdapat 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian.

    Andi mengatakan bahwa turunnya kasus campak pada minggu ke-9 adalah karena imunisasi dan edukasi yang masif tentang pola hidup bersih dan sehat.

    Dia juga menyebutkan bahwa terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

    “Tren mingguan kasus campak dan konfirmasi laboratorium di 11 provinsi terdampak KLB tahun 2026, sebagian besar menunjukkan penurunan kasus kecuali Provinsi NTB (Kab. Bima dan Kota Bima) yang masih menunjukkan kasus yang tinggi,” katanya dilansir Antaranews.com

    Adapun 10 kabupaten dan kota dengan jumlah suspek dan kasus tertinggi pada 2026 antara lain Tangerang Selatan, Bima, Tangerang, Depok, Jakarta Pusat, Palembang, dan Padang.

    Kemudian, katanya, data per 12 Maret 2026 menunjukkan terdapat 22 kabupaten dan kota yang sedang mengalami KLB Campak telah melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) MR untuk sasaran usia 9-59 bulan.

    Baca: Campak bisa berimplikasi serius pada penderitanya

  • Lindungi Tenaga Medis, Kemenkes Rilis Surat Edaran Kewaspadaan Campak

    Lindungi Tenaga Medis, Kemenkes Rilis Surat Edaran Kewaspadaan Campak

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 tentang Kewaspadaan terhadap Penyakit Campak bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.

    Langkah ini diambil menyusul meningkatnya kasus campak dan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah daerah di Indonesia dan meninggalnya tenaga medis akibat campak di Cianjur

    Berdasarkan data hingga minggu ke-11 tahun 2026, tercatat sebanyak 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi. Jumlah kasus sempat mencapai 2.740 pada awal tahun, namun kini menunjukkan tren penurunan menjadi 177 kasus.

    Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni, menegaskan bahwa tenaga medis dan tenaga kesehatan menjadi kelompok yang rentan tertular karena intensitas kontak dengan pasien.

    “Dengan meningkatnya kasus campak dan tingginya angka perawatan di rumah sakit, tenaga medis dan tenaga kesehatan menjadi kelompok yang berisiko tinggi. Oleh karena itu, langkah kewaspadaan dan perlindungan harus diperkuat di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Andi Saguni dilansir di laman resmi Kemenkes.

    Baca: Kasus campak menurun signifikan, pemerintah diminta tidak lengah

    Sebagai upaya pengendalian, Kemenkes telah melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) serta Catch-Up Campaign (CUC) Campak/MR di 102 kabupaten/kota dengan sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan.

    Namun demikian, Andi menegaskan, kewaspadaan harus tetap ditingkatkan, khususnya di lingkungan fasilitas kesehatan.

    Melalui surat edaran ini, Kemenkes menginstruksikan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan

    Langkah itu antara lain meliputi skrining dan triase dini, menyiapkan ruang isolasi, memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD), serta memperkuat sistem pengendalian infeksi.

    Baca: Seorang dokter meninggal diduga akibat campak

    Selain itu, tenaga medis dan tenaga kesehatan juga diminta untuk disiplin menerapkan protokol pencegahan infeksi, serta segera melaporkan apabila mengalami gejala yang mengarah pada campak.

    “Kami mengimbau seluruh tenaga kesehatan untuk tetap disiplin menjalankan protokol pencegahan dan segera melaporkan jika menemukan kasus suspek. Respons cepat sangat penting untuk mencegah penularan yang lebih luas,” tambah Andi Saguni.

    Kemenkes juga menegaskan bahwa seluruh kasus suspek campak harus dilaporkan dalam waktu maksimal 24 jam melalui sistem surveilans yang telah ditetapkan.

    Dengan diterbitkannya surat edaran ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan bersama-sama menekan penyebaran campak, sekaligus melindungi tenaga kesehatan sebagai garda terdepan pelayanan.

  • Pengurus Negara Diminta Menyiapkan Antisipasi Dampak El Nino di Sektor Kesehatan

    Pengurus Negara Diminta Menyiapkan Antisipasi Dampak El Nino di Sektor Kesehatan

    7cloud.asia – Pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi dampak fenomena El Nino tak hanya di sektor pertanian dan pangan, tetapi juga di sektor kesehatan masyarakat.

    Menurut Anggota Komisi IX DPR, Edy Wuryanto, upaya ini berperan krusial untuk menekan kasus penyakit akibat perubahan cuaca ekstrem.

    Pasalnya, fenomena El Nino yang identik dengan musim kemarau panjang berpotensi memicu berbagai persoalan kesehatan, seperti meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dehidrasi, hingga gangguan kesehatan lainnya.

    “Kita harus siap sejak awal. Dampak El Nino ini tidak hanya soal kekeringan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan,” ujar Edy usai Rapat Dengar Pendapat Komisi IX DPR dengan Dewan Pengawas dan Direksi BPJS Ketenagakerjaan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

    Baca: Musim kemarau 2026 lebih kering dan lebih lama

    Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya langkah antisipatif dari pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin meluas.

    Salah satunya melalui penguatan layanan kesehatan dasar di fasilitas kesehatan serta mitigasi pasokan air bersih

    “Puskesmas dan fasilitas kesehatan harus disiapkan, termasuk tenaga kesehatan, obat-obatan, serta alat pelindung seperti masker,” tegas politisi PDI Perjuangan dapil Jawa Tengah III itu.

    Selain itu, Edy juga mendorong peningkatan edukasi kepada masyarakat terkait pola hidup sehat selama musim kemarau, termasuk menjaga hidrasi tubuh dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun.

    Baca: Curah hujan 2026 lebih rendah dibanding rerata curah hujan 30 tahun terakhir

    Pun, dirinya menegaskan koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi dampak El Nino, terutama antara Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dan lembaga terkait lainnya.

    “Jangan sampai kita terlambat merespons. Mitigasi harus dilakukan sejak dini agar dampaknya bisa diminimalisir,” pungkasnya

    Sebelumnya, BMKG memprediksi musim kemarau pada tahun ini akan berlangsung lebih awal dan lebih lama, yang dimulai pada April atau Mei, dengan puncaknya pada Agustus.

    Sebagian daerah akan memasuki musim kemarau, mulai April atau Mei, puncaknya di bulan Agustus, kemudian nantinya akan berakhir di bulan September atau awal Oktober.

  • Studi: Lamanya Feses Tertahan di Dalam Usus Pengaruhi Kesehatan Seseorang

    Studi: Lamanya Feses Tertahan di Dalam Usus Pengaruhi Kesehatan Seseorang

    7cloud.asia – Seberapa cepat feses bergerak melalui usus, hal ini dapat memiliki implikasi yang lebih mendalam bagi kesehatan seseorang secara keseluruhan daripada yang diperkirakan selama ini.

    Menurut tinjauan tahun 2023 yang menggabungkan data dari puluhan studi, perbedaan yang jelas dapat diamati antara mikrobioma usus pada orang yang bergerak cepat dan orang yang bergerak lambat.

    Menurut laporan penelitian yang diterbitkan pada tahun 2023 di jurnal Gut, dijelaskan bahwa mikrobioma usus manusia secara intrinsik mempengaruhi kondisi kesehatan, hal ini dapat memiliki implikasi yang sebelumnya tidak disadari.

    Dilansir sciencealert.org, secara khusus, waktu transit yang lambat dan sembelit telah dikaitkan dengan gangguan metabolisme dan peradangan, serta gangguan neurologis seperti penyakit Parkinson.

    Menemukan profil mikrobioma yang terkait dengan waktu transit usus ini dapat membantu mengembangkan cara baru untuk mengobati dan mengelola kondisi-kondisi ini.

    “Dengan mempertimbangkan perbedaan antarindividu dan intraindividu dalam waktu transit usus, kita dapat meningkatkan pemahaman kita tentang interaksi diet-mikrobiota dan tanda-tanda mikrobioma yang terkait dengan penyakit,” tulis laporan sebuah tim yang dipimpin oleh ahli gizi Nicola Procházková dan Henrik Roager dari Universitas Kopenhagen.

    “Secara keseluruhan, pemahaman yang lebih baik tentang interaksi dua arah yang kompleks antara mikrobiota usus dan waktu transit diperlukan untuk lebih memahami variasi mikrobioma usus dalam kesehatan dan penyakit.”

    Kita tahu bahwa mikrobioma usus, baik dalam komposisi maupun aktivitasnya, memainkan peran penting dalam kesehatan. Kita juga tahu bahwa mikrobioma usus dapat dibentuk oleh berbagai mekanisme, mulai dari olahraga hingga diet hingga penyakit.

    Procházková dan rekan-rekannya ingin mengetahui apakah kita mengabaikan hal yang sangat sederhana yang dapat memengaruhi mikroba usus: berapa lama mereka menghabiskan waktu bersama feses sebelum feses tersebut sampai ke toilet.

    Tim tersebut memanfaatkan penelitian yang telah dipublikasikan sebelumnya tentang waktu transit usus peserta, termasuk konsistensi tinja (sebagai indikator waktu transit), diet, komposisi mikrobioma mereka, dan metabolit yang dihasilkan oleh mikroba tersebut.

    Hasil mereka menggabungkan studi yang secara kolektif melibatkan ribuan pasien, baik orang sehat maupun orang dengan kondisi seperti sindrom iritasi usus besar, sembelit, dan sirosis hati.

    Memahami waktu transit usus tidak sesederhana mencatat jadwal buang air besar seseorang. Hal ini dapat melibatkan kapsul khusus yang dapat ditelan yang dilengkapi dengan sensor yang merekam perjalanannya melalui saluran pencernaan.

    Pendekatan lain adalah Skala Tinja Bristol, alat diagnostik visual yang mengklasifikasikan tinja berdasarkan konsistensinya, dari pelet keras seperti batu (waktu transit lama) hingga bubur encer (waktu transit singkat).

    Beberapa penelitian melacak berapa lama waktu yang dibutuhkan peserta untuk mengeluarkan pewarna biru atau jagung manis yang tertelan.

    Semua memiliki tujuan yang sama: Untuk memperkirakan berapa lama makanan berada di usus besar. Semakin lama waktu transit, semakin banyak waktu yang dimiliki bakteri untuk memfermentasi isi usus, mengatur keasaman usus, dan menghasilkan metabolit yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh dalam berbagai cara.

    Pada akhirnya, analisis tim menghasilkan hasil yang menarik. Orang dengan waktu transit usus yang lebih cepat memiliki mikrobioma yang sangat berbeda dibandingkan dengan mereka yang memiliki waktu transit lebih lambat.

    Menambahkan waktu transit ke data pasien memberikan prediksi mikrobiota usus yang lebih baik daripada hanya memeriksa diet saja.

    Tidak mengherankan, mereka yang memiliki waktu transit usus lebih cepat cenderung memiliki mikrobioma yang didominasi oleh spesies yang tumbuh lebih cepat dan berkembang dengan baik pada diet tinggi karbohidrat dan rendah lemak.

    Sementara itu, waktu transit yang lebih lambat terkadang didominasi oleh spesies yang berkembang dengan baik pada protein.

    Masing-masing ekstrem ini juga memiliki keragaman mikrobioma usus yang lebih rendah daripada orang dengan waktu transit usus rata-rata, menunjukkan bahwa pergerakan cepat dan lambat menciptakan lingkungan di mana spesies spesialis menjadi yang teratas.

    Hal itu kemudian akan menciptakan lingkaran umpan balik di mana spesies dominan di setiap lingkungan melepaskan metabolit yang mempertahankan status quo.

    Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu transit usus merupakan alat yang sering diabaikan untuk memahami cara kerja usus, perannya dalam kesehatan secara keseluruhan, dan bagaimana pasien merespons pengobatan seperti probiotik.

    Hal ini juga dapat membantu menjelaskan mengapa saran kesehatan usus yang sama mungkin tidak berlaku untuk semua orang.

    Dua orang dapat mengonsumsi makanan yang sama persis dan mendapatkan dua hasil yang sangat berbeda, tergantung pada seberapa cepat tinja mereka biasanya bergerak.

    Waktu transit bahkan dapat memengaruhi bagaimana tubuh Anda merespons probiotik dan suplemen atau obat-obatan tertentu yang berinteraksi dengan usus. Ini menunjukkan bahwa mengenali ritme usus individu pasien dapat membantu menyesuaikan pengobatan dan saran diet yang sesuai dengan tubuh mereka.

    “Dengan memasukkan pengukuran waktu transit usus dalam studi terkait mikrobioma usus, kita dapat meningkatkan pemahaman kita tentang hubungan antara mikrobioma usus, diet, dan penyakit,” tulis para peneliti dalam makalah mereka.

    “Wawasan seperti ini mungkin menjadi kunci untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan beberapa penyakit di usus dan di luar usus sepanjang rentang kehidupan.”

  • WHO: Butuh 10 Miliar Dolar untuk Pulihkan Layanan Kesehatan di Gaza

    WHO: Butuh 10 Miliar Dolar untuk Pulihkan Layanan Kesehatan di Gaza

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, pembangunan kembali dan rehabilitasi sistem kesehatan Gaza membutuhkan investasi 10 miliar dolar AS (sekitar Rp172 triliun).

    Dalam konferensi pers pada Jumat (24/5/2026) di Jenewa yang disiarkan dari Yerusalem, Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, Reinhilde Van de Weerdt, mengatakan butuh waktu lima tahun untuk pulihkan layanan kesehatan di Gaza.

    Weerdt merinci, kerusakan di sektor kesehatan di Gaza ditaksir mencapai 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp24 triliun).

    Lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan hancur sebagian atau hancur total, mulai dari rumah sakit besar hingga pusat perawatan kesehatan primer yang lebih kecil, klinik, apotek, dan laboratorium.

    Baca: Ada Upaya Sistematis Israel untuk Melemahkan Reproduksi Rakyat Palestina

    Bangunan yang hancur dan tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi tikus dan hama yang bisa memicu penyebaran penyakit

    “Sebanyak 80 persen dari 1.600 lokasi pengungsian kerap melihat kemunculan tikus dan hama; 80 persen lebih dari lokasi pengungsian ini melaporkan infeksi kulit, seperti rabies, kutu, dan kutu kasur,” katanya.

    Ia mencatat bahwa terlepas dari tantangan ini, upaya untuk meningkatkan sistem kesehatan di Gaza terus berjalan. WHO telah menambah 128 tempat tidur di Rumah Sakit Al-Shifa.

    Namun, ia menekankan perlunya melindungi petugas kesehatan dan memastikan akses bebas hambatan bagi pasokan medis ke Jalur Gaza.

    “Namun, agar penyelamatan nyawa memiliki dampak, kesehatan dan petugas kesehatan harus dilindungi dan obat-obatan serta pasokan penting harus masuk ke Gaza, termasuk penghapusan proses birokrasi dan pembatasan akses terhadap medis dan pasokan penting yang diakui secara global.”

    Baca: Komite Nasional Administrasi Gaza Mulai Bekerja

    Menjawab pertanyaan terkait evakuasi medis, Van de Weerdt mengatakan ini adalah proses yang rumit dari sudut pandang keamanan dan logistik.

    Tetapi dia menekankan, yang terpenting dari sudut pandang hak pasien: pasien dan keluarganya berhak untuk dirawat di tempat tinggal mereka, dan itu artinya pasokan medis harus masuk ke Gaza.

    “Pasien dapat meninggalkan Gaza untuk pergi ke rumah sakit di Yerusalem Timur atau di Tepi Barat: untuk melakukan itu, mereka akan pergi melalui perbatasan Rafah, menuju Mesir dan dari sana ke negara lain, dan baru-baru ini juga kembali ke Yordania,” ujarnya

    Dia menambahkan, evakuasi medis terakhir dilakukan pada 23 April, melalui Rafah, untuk 47 pasien dan 86 pendamping.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA

  • DPR Desak Pemerintah Harus Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    DPR Desak Pemerintah Harus Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    7cloud.asia – Pemerintah diminta memberi ketepatan dan kecepatan informasi mengenai penyebaran hantavirus yang telah memakan korban jiwa. Lebih dari itu, pemerintah didorong untuk menyiapkan infrastruktur kesehatan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus.

    “Pemerintah harus hadir lebih cepat dalam dalam memberikan kepastian informasi dan perlindungan masyarakat dalam menghadapi ancaman Hantavirus. Termasuk ketepatan informasi agar masyarakat tenang dan tidak panik dengan munculnya kasus virus ini,” kata Ketua DPR, Puan Maharani dikutip Parlementaria, di Jakarta, Senin (11/5/2026).

    Seperti diketahui, Hantavirus mendapat sorotan global ketika menyerang kapal pesiar mewah MV Hondius yang tengah berlayar di Samudera Atlantik.

    Tiga penumpang MV Hondius dilaporkan meninggal akibat Hantavirus, sehingga masyarakat dunia waswas karena salah satu variannya, Andes virus diketahui bisa menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.

    Hantavirus merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang umumnya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Virus ini tergolong penyakit zoonosis atau yang dapat menular dari hewan ke manusia.

    Baca: Kasus Hantavirus ditemukan di 9 provinsi

    Sebelum Hantavirus ramai dibicarakan akibat mewabah di kapal pesiar mewah yang berlayar di Eropa, Indonesia ternyata juga sudah mencatat kasus Hantavirus dalam beberapa waktu terakhir.

    Kementerian Kesehatan mengungkap ada 23 kasus hantavirus tersebar di sembilan provinsi.

    Meski telah tercatat tiga kematian sejak tiga tahun terakhir, jenis Hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan yang memicu wabah di kapal pesiar MV Hondius.

    Puan memandang kemunculan kasus Hantavirus di Indonesia perlu ditangani dengan pendekatan yang tenang, terbuka, dan berbasis perlindungan masyarakat.

    “Tantangan terbesar dalam menghadapi munculnya ancaman penyakit yang belum umum perlu dilakukan dari berbagai aspek,” jelasnya.

    “Bukan hanya pada aspek medis saja, tetapi juga pada kemampuan Negara menjaga kepercayaan masyarakat melalui informasi yang jelas, langkah antisipasi yang terukur, dan perlindungan yang dapat dirasakan masyarakat,” imbuh Politisi PDI Perjuangan ini.

    Puan mengingatkan, masyarakat saat ini hidup dalam situasi yang sangat sensitif terhadap isu kesehatan setelah pengalaman pandemi Covid-19.

    Meski penularan Hantavirus tak secepat Covid-19, masyarakat disebut sudah pernah merasakan hidup dalam ketidakpastiaan saat awal Covid-19 muncul sehingga kekhawatiran terhadap penyakit menjadi lebih besar.

    “Karena itu, Negara perlu memastikan bahwa setiap informasi mengenai penyakit menular disampaikan secara transparan dan bertanggung jawab agar tidak memunculkan ketakutan maupun kebingungan di tengah masyarakat,” pesan Puan.

    Sebagai langkah antisipasi penyebaran Hantavirus, Puan memandang Pemerintah perlu bergerak cepat memastikan masyarakat memahami situasi secara utuh.

    “Bagaimana pola penularannya, siapa kelompok yang paling rentan, bagaimana langkah pencegahannya, dan sejauh mana tingkat risikonya bagi masyarakat umum,” ungkapnya.

    Puan menilai keterbukaan informasi menjadi bagian penting dari perlindungan publik. Sebab ketika masyarakat tidak mendapatkan penjelasan yang cukup, ruang disinformasi dan ketakutan dapat berkembang lebih cepat daripada penanganan itu sendiri.

    “Maka penting agar Pemerintah memperkuat komunikasi publik kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat dan mudah dipahami. Bukan hanya berbasis penjelasan teknis yang sulit diakses publik luas. Sosialisasi harus menyentuh langsung akar rumput,” papar Puan.

  • Antisipasi Penyebaran Hantavirus, Bandara Soetta Perketat Pengawasan Perjalanan dari 4 Negara

    Antisipasi Penyebaran Hantavirus, Bandara Soetta Perketat Pengawasan Perjalanan dari 4 Negara

    7cloud.asia – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, melakukan pengetatan pengawasan terhadap kedatangan pelaku perjalanan udara dari empat negara yang diantisipasi terjadinya penemuan kasus penularan Hantavirus.

    “Jadi kami melakukan pengetatan pengawasan terhadap negara-negara yang sudah menemukan atau teridentifikasi ada virus Hanta,” kata Kepala BBKK Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini di Tangerang, Selasa (12/05/2026).

    Ia mengatakan, pengawasan khusus melalui penerapan standar kesehatan yang dilakukan terhadap penumpang udara ke empat negara itu meliputi perjalanan dari Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan satu lagi Panama.

    Baca: Hantavirus Telah Masuk Indonesia

    Langkah tersebut, lanjut Naning, dilakukan sebagai merespon temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atas kasus penularan terhadap tiga penumpang kapal pesiar yang tewas akibat virus tersebut.

    “Jadi itu ada empat negara yang kami melakukan pengetatan ekstra kalau ada flight yang direct ke Soekarno-Hatta. Tapi tidak menutup kemungkinan nanti kalau ada yang baru, tentunya kami akan menambahkan ataupun mengoreksi gitu,” ujarnya.

    Untuk saat ini otoritas Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah kembali menerapkan standar kesehatan bagi pelaku perjalanan udara yang masuk ke Indonesia.

    Baca: Kasus Hantavirus Meningkat Dalam Dua Tahun

    Dimana, pihaknya akan melakukan langkah lanjut yaitu melakukan pemeriksaan oleh dokter, pendalaman pemeriksaan.

    “Kami di Soekarno-Hatta sudah melakukan kesiapsiagaan. Yang pertama adalah melalui isian deklarasi kesehatan di aplikasi Satu Sehat. Dari situ kita nanti akan tahu risiko daripada pesawat itu, ada orang berisiko atau tidak. Yang kedua, begitu turun, itu ada pengamatan tanda dan gejala melalui thermal scanner dan observasi visual,” jelasnya.

    Menurut Naning, di Bandara Soetta memiliki jalur khusus evaluasi untuk penyakit menular. Nantinya jika terdapat penyakit menular yang teridentifikasi pihaknya akan melakukan penanganan lebih lanjut.

    Baca: DPR Desak Pemerintah Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    “Kemudian kami juga punya namanya ambulans khusus penyakit menular. Karena orang yang kita bawa ini, yang mau kita rujuk ini adalah orang dengan penyakit menular,” terang Naning.

    Pihaknya mengimbau kepada pelaku perjalanan udara agar selalu waspada dan menjaga protokol kesehatan. Pasalnya, Hantavirus ini penularannya melalui urin, air liur, serta kontaminasi dari tikus.

    “Yang jelas untuk mencegah penularan kasus ini adalah dengan menjaga protokol kesehatan dan penguatan imun tubuh,” kata dia.

    Sumber: Antaranews

  • Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    7cloud.asia – Indonesia dan dunia internasional kini tengah mewaspadai ancaman hantavirus. Penyakit yang ditularkan melalui tikus dan dapat memicu gangguan serius pada ginjal maupun paru-paru.

    Meski baru ramai diperbincangkan, virus ini sebenarnya telah lama ada di Indonesia dan diduga banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai flu biasa.

    Sejumlah penelitian menunjukkan hantavirus telah ditemukan di Indonesia sejak 1980-an. Dalam studi komprehensif di berbagai kota besar, seroprevalensi hantavirus pada manusia tercatat mencapai sekitar 11,6 persen.

    Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus tersebut meski tidak pernah didiagnosis secara resmi.

    Kondisi ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yakni hanya sebagian kecil kasus yang terlihat, sementara jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar.

    Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus dikategorikan sebagai zoonosis emerging atau penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

    Baca: Hantavirus Telah Masuk Indonesia

    Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam umumnya langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, gejala awal hantavirus hampir identik, mulai dari demam, nyeri otot, mual, hingga kelelahan.

    Akibat kemiripan tersebut, banyak kasus diduga salah diagnosis atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali.

    Berbeda dengan penyakit lain yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, maupun air liur tikus.

    Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, hingga permukaan yang telah terkontaminasi.

    Mengacu pada laman resmi Kemenkes RI, hantavirus memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa.

    Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, hingga gagal ginjal.

    Baca: Konvirmasi Kasus Hantavirus Meningkat Dalam 2 Tahun

    Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang lebih sering ditemukan di Amerika. Jenis ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas.

    Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) hantavirus juga tergolong tinggi. Pada beberapa tipe virus, angka kematiannya bahkan dapat mencapai 50 persen.

    Di Indonesia, jenis hantavirus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV) yang menyebar melalui tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus.

    Karena hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan virus ini dinilai lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas di kawasan hutan atau satwa liar.

    Baca: DPR Desak Pemerintah Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono mengatakan kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar hantavirus.

    Di antaranya pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, hingga masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.

    Menurutnya, risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.

    Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup.

    Baca: Virus Nipah Ditemukan di Indonesia

    Saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan. Area tersebut juga sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.

    Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus.

    “Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” jelas Arief

  • Studi: Terapi Seni Memperlambat Proses Penuaan Biologis

    Studi: Terapi Seni Memperlambat Proses Penuaan Biologis

    7cloud.asia – Beberapa tahun terakhir, para dokter di Kanada mulai ‘meresepkan’ seni kepada pasien mereka. Para dokter memberi akses gratis ke museum lokal untuk para pasiennya

    Idenya adalah bahwa dengan berjalan-jalan di antara karya-karya agung dan merenungkan lukisan-lukisan tersebut, pasien dapat mencapai hasil kesehatan fisik dan mental yang lebih baik.

    Sebuah studi baru dari Inggris menunjukkan bahwa terapi tersebut ternyata tidak terlalu mengada-ada. Seni benar-benar dapat memengaruhi ciri-ciri biologis penuaan.

    Para ilmuwan dari University College London (UCL) menemukan bahwa aktivitas seni atau budaya mingguan dapat memperlambat laju penuaan hampir sama dengan berolahraga sekali seminggu.

    Dilansir di sciencealert.com, filosofi bahwa ‘seni adalah kehidupan’ mungkin memiliki dukungan ilmiah yang nyata.

    “Studi kami memberikan bukti pertama bahwa keterlibatan seni dan budaya terkait dengan laju penuaan biologis yang lebih lambat,” kata penulis senior dan ahli epidemiologi Feifei Bu dari UCL.

    “Ini didasarkan pada semakin banyaknya bukti tentang dampak kesehatan dari seni, dengan aktivitas seni yang terbukti mengurangi stres, menurunkan peradangan, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti halnya olahraga.”

    Para peneliti menganalisis data kesehatan lebih dari 3.500 orang dewasa di Inggris, termasuk beberapa jam epigenetik – yang dapat memberikan perkiraan penuaan biologis – dan seberapa sering peserta terlibat dalam kegiatan seni atau budaya.

    Baca: Kegiatan Berkebun Jadi Terapi Bagi Penyintas Kesehatan Mental

    Kegiatan ini dapat mencakup mengunjungi museum atau perpustakaan, menghadiri pameran seni, membuat kerajinan, melukis, bernyanyi, menari, dan banyak lagi.

    Peserta dalam penelitian yang melakukan salah satu kegiatan ini setidaknya sekali seminggu menunjukkan tanda-tanda penuaan yang lebih lambat daripada mereka yang memiliki repertoar budaya yang lebih sedikit.

    Salah satu jam epigenetik mereka berdetak 4 persen lebih lambat daripada mereka yang jarang terlibat dalam seni.

    Temuan ini paling kuat di antara orang dewasa paruh baya, dan semakin beragam kegiatan seni dan budaya, semakin baik tanda-tanda penuaannya.

    Jam epigenetik adalah model yang tidak sempurna yang dirancang untuk memprediksi seberapa cepat atau lambat seseorang menua.

    Model ini didasarkan pada asosiasi tertentu antara bagaimana gaya hidup kita dapat memengaruhi ekspresi gen kita, dan hasil kesehatan kita.

    Tidak ada satu jam tunggal yang dapat mengukur semuanya, tetapi ada banyak jam berbeda berdasarkan aspek penuaan yang ingin difokuskan oleh para peneliti.

    Studi khusus ini mempertimbangkan tidak kurang dari tujuh versi berbeda. Salah satu jam terbaru yang disertakan disebut DunedinPACE, yang mengukur laju penuaan.

    Baca: Kegiatan Sederhana Berbasis Alam Tingkatkan Kesehatan Mental Siswa

    Dibandingkan dengan mereka yang melakukan aktivitas seni kurang dari tiga kali setahun, mereka yang melakukan setidaknya tiga atau lebih aktivitas setahun menunjukkan penuaan 2 persen lebih lambat pada jam DunedinPACE.

    Sementara itu, aktivitas bulanan dikaitkan dengan penuaan 3 persen lebih lambat pada jam ini, dan aktivitas mingguan dikaitkan dengan penuaan 4 persen lebih lambat.

    Jam lain, yang disebut PhenoAge, membandingkan usia kronologis seseorang dengan usia yang paling sesuai dengan kesehatan mereka, sebuah konsep yang dikenal sebagai ‘usia biologis’.

    Dibandingkan dengan mereka yang jarang terlibat dalam seni, orang yang terlibat dalam aktivitas seni atau budaya setidaknya sekali seminggu rata-rata satu tahun lebih muda, menurut PhenoAge mereka.

    Itu hampir dua kali lipat perbedaan antara mereka yang berolahraga setidaknya sekali seminggu dan mereka yang tidak.

    “Hasil ini menunjukkan dampak kesehatan dari seni pada tingkat biologis,” kata penulis utama dan ahli epidemiologi Daisy Fancourt, yang telah menyelidiki manfaat kesehatan dari seni di UCL selama hampir satu dekade.

    “Hasil ini memberikan bukti bahwa seni dan keterlibatan budaya dapat diakui sebagai perilaku yang meningkatkan kesehatan dengan cara yang mirip dengan olahraga.”

    Mungkin di masa depan, dokter di bagian lain dunia akan meresepkan kunjungan museum atau kegiatan seni kepada pasien mereka. Lagipula, beberapa dokter sudah meresepkan kegiatan ‘alam’.

    Apa perbedaan antara menikmati keindahan alam dengan ‘mandi hutan’ dan menikmati keindahan seni buatan manusia? Mungkin keduanya memanfaatkan ‘bahan’ yang serupa untuk kesehatan dan kebahagiaan.

  • Risiko Asam Urat Meningkat Akibat Pangan Ultraproses dan Obesitas

    Risiko Asam Urat Meningkat Akibat Pangan Ultraproses dan Obesitas

     

    7cloud.asia – Anda perlu hati-hati jika sering mengalami encok atau nyeri di jempol kaki pada malam hari. Bisa jadi asam urat dalam darah kamu sedang tinggi-tingginya atau dikenal sebagai hiperurisemia.

    Kondisi ini terjadi ketika kadar asam urat dalam darah kita melebihi 6 miligram per desiliter (mg/dL) untuk perempuan dan 7 mg/dL untuk laki-laki.

    Dalam keadaan normal, asam urat dibuang oleh ginjal melalui urine. Saat kadarnya berlebih, asam urat menjelma kristal tajam serupa jarum di jaringan sendi—yang memicu peradangan sendi (gout) disertai nyeri hebat.

    Selama ini, asam urat identik dengan “penyakit orang tua”. Namun penelitian global dalam tiga dekade terakhir (1900 – 2019) justru menunjukkan bahwa 5,21 juta kaum muda usia produktif (15-39 tahun) mengalami penyakit asam urat.

    Laki-laki berisiko tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit ini dibandingkan perempuan.

    Di Indonesia, studi nasional soal jumlah orang dengan penyakit asam urat memang belum ada. Namun, beberapa laporan menduga penyakit ini dialami 32% orang di bawah usia 34 tahun.

    Pola konsumsi pengaruhi penyakit asam urat

    Asam urat sendiri merupakan produk akhir dari senyawa purin. Selain ditemukan dalam sel tubuh, purin juga terkandung dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi.

    Konsumsi produk pangan ultraproses (UPF) dan tinggi purin secara signifikan bisa meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Contoh makanan UPF tinggi purin, yaitu daging merah, jeroan, dan makanan laut berpengawet (seperti kerang, ikan teri, udang, dan cumi).

    Sementara, minuman tinggi purin mencakup alkohol serta minuman yang mengandung banyak fruktosa (seperti minuman bersoda, jus buah kemasan, dan minuman energi).

    Sering mengonsumsi produk ultraproses dan tinggi purin bukan cuma meningkatkan penyakit asam urat, tetapi juga obesitas yang juga kian memperbesar risiko terkena penyakit tersebut. Ancaman penyakit kian berlipat ganda jika kita punya gaya hidup tidak aktif.

    Berat badan berlebihan—termasuk perut buncit karena lemak di perut—memperberat kerja ginjal dalam menyaring purin. Alhasil, asam urat menumpuk di dalam darah dan menyebabkan peradangan. 

    Jika melihat tren peningkatan kasus obesitas dan konsumsi makanan berisiko kaum muda di Indonesia, penyakit asam urat sangat perlu diwaspadai.

    Hasil cek kesehatan gratis (CKG) pada 2025 menunjukkan nyaris sembilan juta orang dewasa usia 18-59 tahun di Tanah Air mengalami obesitas sentral alias perut buncit.

    Sementara, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengungkap sekitar 48 persen kaum muda berusia 15-34 tahun mengonsumsi daging olahan berpengawet dan minuman manis lebih dari sekali per pekan. 

    Gaya hidup sehat adalah kunci

    Penyakit asam urat maupun obesitas tidak boleh disepelekan. Dalam jangka panjang, kombinasi keduanya bisa memicu gangguan ginjal hingga penyakit jantung.

    Kita bisa mencegah penyakit asam urat dan obesitas dengan menerapkan gaya hidup sehat. Hindari berlebihan konsumsi produk pangan UPF, tinggi purin, berfruktosa, dan berkalori tinggi.

    Kita masih bisa mengonsumsi makanan laut dan daging merah dalam jumlah terbatas karena proteinnya sangat kaya. Akan tetapi, olah daging dan makanan laut dengan direbus untuk mengurangi jumlah purin.

    Sangat disarankan mengonsumsi pangan minim lemak, gula, dan kalori. Contohnya, daging ayam tanpa kulit atau susu rendah lemak. Konsumsi juga sayuran minimal 350 gram (3 – 4 mangkuk kecil) per hari sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral.

    Untuk bantu membuang kelebihan asam urat, kita perlu mencukupi kebutuhan air putih. Setidaknya, minum sebanyak 7-8 gelas per hari. Selain air putih, teh dan kopi juga masih boleh dikonsumsi asalkan tidak menggunakan pemanis buatan.

    Tak lupa, lakukan latihan fisik secara teratur. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan latihan aerobik (berjalan, berlari, berenang, atau bersepeda) dengan intensitas sedang untuk mempercepat proses tubuh membakar kalori dan mengurangi peradangan asam urat. Lakukanlah minimal selama 150 menit per minggu.

    Alternatif lainnya, kita bisa latihan kekuatan intensitas sedang (seperti push-up atau sit-up) sebanyak dua kali atau lebih per pekan.


    Yulius Dony, Staff of Clinical Pathology Department, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.