Tag: gaza

  • Marak Terjadi Penyerangan, Jurnalis di Gaza Desak Perlindungan Internasional

    Marak Terjadi Penyerangan, Jurnalis di Gaza Desak Perlindungan Internasional

    7cloud.asia – Puluhan jurnalis pada Sabtu (3/5) menggelar aksi unjuk rasa di Khan Younis, Gaza selatan, mendesak komunitas internasional untuk melindungi para pekerja media dari serangan yang dilakukan berulang kali oleh Israel, lapor Kantor Berita Xinhua.

    Aksi unjuk rasa tersebut diselenggarakan oleh Sindikat Jurnalis Palestina (Palestinian Journalists Syndicate) untuk memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia.

    Para jurnalis itu berkumpul di Kompleks Medis Nasser di kota tersebut dan mengangkat papan bertuliskan “Stop Membunuh Jurnalis.”

    Baca: Para jurnalis bertaruh nyawa saat meliput perang di jalur Gaza

    Dalam sebuah pidato saat aksi unjuk rasa itu, Tahseen Al-Astal, wakil ketua sindikat tersebut, menuduh Israel melakukan “kejahatan terhadap jurnalis Palestina dengan secara langsung membunuh dan menghancurkan rumah mereka.”

    Al-Astal menganggap situasi media di Gaza sebagai salah satu yang “paling berbahaya di dunia, mengingat tidak adanya jaminan keamanan, penghancuran institusi pers, serta perampasan alat kerja yang paling mendasar.”

    Baca: UNESCO anugerahkan guillermo cano 2024 untuk para jurnalis Palestina yang meliput perang di Gaza

    Mengatakan bahwa pendudukan Israel bertanggung jawab penuh atas kejahatan ini, dirinya mengimbau institusi-institusi internasional untuk mengambil tindakan serius guna “meminta pertanggungjawaban para pembunuh.”

    Sejak perang Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, Israel telah menewaskan 212 jurnalis, melukai 409 jurnalis, dan menangkap 48 jurnalis, seperti dilaporkan kantor media yang dikelola Hamas pada Sabtu tersebut.

    Sumber: Antaranews

  • Blokade Israel Masuki Bulan ke-4, Krisis Kemanusiaan di Gaza Semakin Parah

    Blokade Israel Masuki Bulan ke-4, Krisis Kemanusiaan di Gaza Semakin Parah

    7cloud.asia – Blokade Israel yang telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut, mengakibatkan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk

    Blokade Israel di Gaza secara signifikan membatasi masuknya makanan, air, dan pasokan-pasokan penting ke daerah kantong pesisir tersebut, rumah bagi lebih dari 2 juta warga Palestina.

    Antrean panjang di luar dapur-dapur amal dan pusat-pusat distribusi makanan menjadi pemandangan yang kerap ditemui di seluruh Gaza. Di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, ratusan warga menunggu selama berjam-jam dengan harapan mendapatkan satu porsi makanan.

    “Situasinya sangat sulit. Tidak ada cukup makanan atau air bersih,” kata Umm Rami, seorang ibu dari empat anak, ketika sedang menunggu di luar sebuah pusat distribusi.

    Dapur-dapur amal, yang kerap menjadi satu-satunya sumber makanan bagi para pengungsi, saat ini mengalami kesulitan untuk dapat terus beroperasi di tengah menipisnya pasokan.

    Sebagian besar makanan yang tersedia bersumber dari bantuan kemanusiaan atau sumbangan lokal yang terbatas, yang keduanya menurun drastis akibat penutupan perbatasan yang berkepanjangan.

    Baca: Puluhan anak di Gaza meninggal karena kurang gizi

    “Jika perbatasan terus ditutup, kemungkinan kami terpaksa berhenti beroperasi dalam beberapa hari ke depan,” kata Abdullah Skaik, pengawas sebuah dapur amal di permukiman al-Amal di Khan Younis, kepada Xinhua.

    “Sebelumnya, kami bisa mendapatkan beras, kacang lentil, dan tepung yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sekarang, kami mengandalkan stok sisa yang sudah hampir habis.”

    Israel menghentikan masuknya barang dan pasokan ke Gaza sejak 2 Maret setelah berakhirnya perjanjian gencatan senjata tahap pertama dengan Hamas yang mulai diberlakukan pada Januari.

    Perjanjian gencatan senjata tahap kedua belum dapat terlaksana karena ketiadaan konsensus antara Israel dan Hamas.

    Skaik menggambarkan tekanan emosional yang dialami para sukarelawan dan keluarga pengungsi yang mereka bantu.

    “Kami menyaksikan malanutrisi menyebar di depan mata kami. Jika tidak ada perubahan, yang terjadi bukan hanya kekurangan makanan, tetapi kelaparan akut,” paparnya.

    Baca: Harga kebutuhan pokok di Gaza melonjak hingga 500 persen

    PBB telah memperingatkan tentang bencana kemanusiaan yang akan terjadi di Gaza. PBB melaporkan bahwa tanda-tanda kelaparan akut semakin meningkat, khususnya di kalangan anak-anak.

    Meskipun ada upaya-upaya berkelanjutan oleh institusi lokal dan lembaga bantuan internasional, para pekerja bantuan kemanusiaan mengatakan bahwa sumber daya saat ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang sangat besar dan terus bertambah.

    Hamas menuduh Israel memanfaatkan “kelaparan sebagai senjata perang sistematis,” dan menegaskan bahwa lebih dari 1 juta anak di Gaza menderita kelaparan setiap harinya.

    Kepresidenan Palestina juga mengutuk blokade dan operasi militer Israel yang sedang berlangsung, serta mendesak masyarakat internasional untuk bertindak.

    Dalam pernyataan yang dikeluarkan melalui kantor berita resmi Palestina, WAFA, kepresidenan Palestina menyerukan intervensi mendesak untuk menghentikan apa yang digambarkannya sebagai pelanggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rakyat Palestina.

    Sumber:Antaranews.com/Xinhua

  • Spanyol Akan Ajukan Resolusi Baru untuk Atasi Krisis Kemanusiaan di Gaza

    Spanyol Akan Ajukan Resolusi Baru untuk Atasi Krisis Kemanusiaan di Gaza

    7cloud.asia – Pemerintah Spanyol pada Rabu (7/5/2025) menyatakan akan mengusulkan resolusi soal pentingnya upaya konkret menghentikan pembunuhan rakyat sipil dan jaminan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza kepada Majelis Umum PBB.

    Dalam pernyataannya di Parlemen Spanyol, Perdana Menteri Pedro Sanchez menegaskan bahwa komunitas internasional tak boleh pasif di tengah memburuknya kekerasan dan krisis kemanusiaan di Palestina, khususnya di Gaza.

    “Pemerintah telah memutuskan untuk mengajukan sebuah rancangan resolusi kepada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menangani apa yang terjadi di Gaza,” kata Sanchez.

    Baca: Blokade Israel terhadap Gaza memasuki bulan ke-4

    Menurut Sanchez, pemerintahannya berupaya mendorong tindakan mendesak untuk menghentikan pembunuhan warga sipil yang tak bersalah dan memastikan adanya bantuan kemanusiaan melalui forum multilateral.

    “Saya yakin bahwa komunitas internasional tak boleh terdiam terhadap apa yang terjadi di Palestina. Kami pun, setidaknya, tidak akan tinggal diam,” ucap dia.

    Meski demikian, dia tidak menjabarkan rincian dan waktu resolusi tersebut akan diajukan kepada PBB.

    Baca: Puluhan anak di Gaza meninggal karena kurang gizi

    Sejak 2 Maret, Israel terus menutup semua titik perbatasan Gaza untuk bantuan kemanusiaan, termasuk makanan dan obat-obatan, sehingga memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah kantong tersebut.

    Agresi Israel ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 juga telah menewaskan lebih dari 52.600 warga Palestina, yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, di wilayah itu.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • 16.000 Lebih Anak Tewas di Jalur Gaza Sejak Agresi Israel

    16.000 Lebih Anak Tewas di Jalur Gaza Sejak Agresi Israel

    7cloud.asia – Lebih dari 16.000 anak tewas di Jalur Gaza sejak dimulainya serangan militer Israel pada 7 Oktober 2023, yang berarti satu anak tewas setiap 40 menit, demikian dilaporkan otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Senin (5/5/2025).

    Marwan al-Hams, direktur rumah sakit lapangan dari otoritas kesehatan Gaza, mengatakan korban tewas meliputi 16.278 anak, termasuk 908 bayi dan 311 bayi baru lahir yang meninggal pascakelahiran.

    Pernyataan itu disampaikan oleh Al-Hams dalam konferensi pers di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Gaza selatan.

    Ia menyoroti bahwa situasi kemanusiaan memburuk secara signifikan sejak Israel menutup perlintasan pada awal Maret lalu, menghambat layanan kesehatan penting.

    Baca: Puluhan anak di Jalur Gaza meninggal karena kurang gizi

    Hal ini menyebabkan ribuan anak dan ibu hamil tidak dapat mengakses perawatan medis, yang semakin memperburuk krisis.

    Ia juga menyebutkan bahwa ribuan anak tinggal di pusat-pusat pengungsian tanpa kebutuhan dasar, sementara ibu hamil menghadapi tantangan signifikan ketika ingin menjangkau rumah sakit.

    Sejumlah besar anak terpaksa hanya makan satu kali dalam sehari dengan menu yang tidak lengkap, dengan akses terbatas ke air minum bersih dan nutrisi yang layak, akibat tindakan Israel yang menyasar infrastruktur dan menutup akses bantuan, katanya.

    Baca: Israel blokir bantuan, kondisi anak-anak di Gaza memprihatinkan

    Israel menghentikan penyaluran barang dan pasokan ke Gaza pada 2 Maret, menyusul berakhirnya tahap pertama kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas pada Januari.

    Tahap kedua dari kesepakatan itu belum terwujud karena kedua belah pihak belum mencapai titik temu.

    Sementara itu, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, melaporkan sedikitnya 54 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel pada Senin, yang menyasar rumah, kendaraan, dan tempat berkumpulnya warga Palestina di berbagai wilayah di Gaza.

    Baca: Israel blokir vaksin polio, lebih dari 600 ribu anak terdampak

    Lebih dari 52.000 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak Oktober 2023, termasuk sekitar 2.500 orang yang tewas sejak Israel melanjutkan serangannya ke Gaza pada 18 Maret lalu, yang menandai berakhirnya gencatan senjata selama dua bulan.

    Ia juga menyebutkan bahwa ribuan anak tinggal di pusat-pusat pengungsian tanpa kebutuhan dasar, sementara ibu hamil menghadapi tantangan signifikan ketika ingin menjangkau rumah sakit.

    Lebih dari 52.000 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak Oktober 2023, termasuk sekitar 2.500 orang yang tewas sejak Israel melanjutkan serangannya ke Gaza pada 18 Maret lalu, yang menandai berakhirnya gencatan senjata selama dua bulan.

    sumber: Antaranews

  • Pemerintah Gaza Tolak Rencana Israel Dirikan Kamp Isolasi Mirip Ghetto Nazi

    Pemerintah Gaza Tolak Rencana Israel Dirikan Kamp Isolasi Mirip Ghetto Nazi

    ruangkota.vom – Israel berencana mendirikan kamp-kamp isolasi mirip “ghetto Nazi” bagi warga Palestina dengan menggunakan mekanisme distribusi bantuan.

    “Kami dengan tegas menolak rencana penjajah untuk membangun kamp isolasi paksa seperti ghetto Nazi melalui pengendalian dan pendistribusian bantuan kemanusiaan,” Kantor Media Pemerintah Gaza dalam sebuah pernyataan pada Rabu (7/5).

    “Ini adalah bagian dari kebijakan pemisahan sistematis yang jelas-jelas melanggar prinsip-prinsip hukum internasional,” kata pernyataan itu.

    Baca: Israel tangkap lebih dari 360 tenaga kesehatan

    Pada Minggu, Kabinet Keamanan Israel menyetujui rencana gabungan Israel-AS untuk menyalurkan bantuan secara terbatas ke Gaza melalui dana internasional dan perusahaan swasta.

    Bantuan itu akan dikirim ke “kompleks kemanusiaan” di Gaza selatan.

    Pemerintah Gaza menyebut rencana Israel itu “tidak manusiawi” dan “tidak bisa diterima”, seraya menegaskan bahwa seluruh rakyat Palestina akan menentang “skema kejahatan” itu.

    Mereka menilai rencana tersebut berupaya memanfaatkan bantuan kemanusiaan untuk mengepung, memicu kelaparan, dan menundukkan warga Palestina.

    Baca: Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah

    Pemerintah Gaza juga meminta masyarakat dan organisasi internasional untuk segera turun tangan menghentikan “lelucon” Israel tersebut dan mengakhiri kekacauan sistematis di wilayah kantong Palestina itu.

    Sejak pintu perlintasan ditutup Israel pada 2 Maret, 57 warga Gaza—sebagian besar adalah anak-anak—telah kehilangan nyawa akibat kelaparan, menurut otoritas kesehatan Gaza.

    Laporan terbaru dari Bank Dunia mengungkapkan bahwa 2,4 juta warga Palestina di Gaza saat ini bergantung sepenuhnya pada bantuan setelah 20 bulan menghadapi perang genosida dan blokade Israel yang menghancurkan perekonomian dan infrastruktur di wilayah itu. 

     

    Sumber: Anadolu/Antaranews

  • Layanan Kesehatan Runtuh, Ribuan Warga Gaza Terancam Alami Kebutaan

    Layanan Kesehatan Runtuh, Ribuan Warga Gaza Terancam Alami Kebutaan

    7cloud.asia – Layanan kesehatan mata warga Palestina di Jalur Gaza terancam runtuh akibat agresi Israel yang terus berlangsung sejak Oktober 2023.

    Sumber-sumber medis di Jalur Gaza mencatat setidaknya 1.500 warga Gaza buta dan 4.000 lainnya berisiko mengalami kebutaan akibat kejahatan militer rezim Zionis ini.

    Para dokter setempat melaporkan bahwa perang genosida dan gempuran Israel yang terus menerus itu telah mengganggu layanan bedah rumah sakit —terutama untuk penyakit retina, retinopati diabetik serta pendarahan internal terkait trauma.

    Baca: Ratusan tenaga kesehatan di Gaza ditangkap Israel

    Rumah Sakit Mata Kota Gaza yang merupakan fasilitas utama untuk operasi mata di wilayah kantong Palestina itu terpaksa secara berulang menggunakan tiga gunting bedah. Kondisi dramatis ini meningkatkan risiko kematian terhadap pasien.

    Persediaan obat-obatan penting seperti asam hialuronat dan benang bedah hampir habis dan banyak warga yang menderita cedera mata akibat ledakan bom Zionis yang sangat membutuhkan bahan-bahan medis tersebut.

    Tanpa obat-obatan itu, pengobatan mata yang cedera tidak mungkin dilakukan, kata staf medis setempat.

    Baca: Krisis air di Jalur Gaza

    Dia memperingatkan bahwa tanpa intervensi internasional segera untuk memasok persediaan dan peralatan darurat, rumah sakit sama sekali tidak akan mampu melakukan operasi mata apa pun.

    Tak hanya rumah sakit mata, agresi dan blokade yang dilancarkan militer Israel juga melumpuhkan layanan kesehatan lainnya di Gaza.

    Otoritas kesehatan di Gaza menyebut, sebanyak 20 dari 38 rumah sakit di Jalur Gaza hanya dapat beroperasi sebagian karena pembatasan akses bantuan ataupun ditahannya petugas kesehatan.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA

  • Organisasi Dokter Sebut Israel Sengaja Menciptakan Krisis Kemanusiaan di Gaza

    Organisasi Dokter Sebut Israel Sengaja Menciptakan Krisis Kemanusiaan di Gaza

    7cloud.asia – Organisasi medis internasional Doctors Without Borders (MSF) menuduh penjajah Israel sengaja menciptakan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.

    Seperti diketahui Israel menerapkan blokade terhadap wilayah Gaza sejak awal Maret lalu sehingga mengakibatkan jutaan warga Gaza kekurangan pasokan makanan, air dan obat-obatan.

    Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs web resminya, MSF, Kamis (15/5/2025) memperingatkan bahwa kondisi di Gaza sudah semakin memprihatinkan.

    “Kondisi yang ada saat ini mengarah pada pemusnahan warga Palestina di Gaza,” dan menyebut wilayah tersebut sebagai “neraka di bumi bagi rakyat Palestina.”

    Baca: Layanan kesehatan di Gaza runtuh

    Organisasi tersebut juga menyoroti adanya peningkatan sebesar 32 persen dalam jumlah pasien yang mengalami malnutrisi selama dua pekan terakhir, berdasarkan temuan tim medis lapangan mereka.

    “Fasilitas kesehatan yang masih beroperasi — yang sudah sangat kekurangan kapasitas dan tenaga medis — terus menjadi sasaran serangan,” kata MSF.

    “Fasilitas kesehatan tersebut juga semakin kehabisan obat-obatan dan pasokan penting lainnya.”

    MSF juga melaporkan bahwa tim mereka di Gaza tidak menerima pasokan medis selama 11 pekan terakhir, dan saat ini menghadapi kekurangan bahan dasar yang sangat kritis seperti kasa dan sarung tangan steril.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA-OANA

  • Tujuh Negara Eropa Tak Akan Diamkan Penderitaan Warga Gaza

    Tujuh Negara Eropa Tak Akan Diamkan Penderitaan Warga Gaza

    7cloud.asia – Tujuh negara Eropa pada Jumat (16/5/2025) menegaskan bahwa mereka tidak akan berdiam diri terhadap penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza akibat agresi militer Israel.

    Tujuh negara Eropa tersebut adalah Islandia, Irlandia, Luksemburg, Spanyol, Slovenia, Malta, dan Norwegia.

    “Kami tidak akan diam saja melihat bencana kemanusiaan buatan manusia yang sedang terjadi di depan mata kita di Gaza. Lebih dari 50.000 pria, wanita, dan anak-anak telah kehilangan nyawa mereka,” demikian pernyataan bersama mereka.

    Negara-negara Eropa ini memperingatkan lebih banyak warga Gaza terancam kehilangan nyawa akibat kelaparan dalam beberapa hari mendatang karena Israel masih memblokade bantuan kemanusiaan ke wilayah kantong Palestina itu.

    “Kami menyerukan kepada pemerintah Israel untuk segera membatalkan kebijakan mereka saat ini,” kata negara-negara Eropa itu.

    Baca: Israel dituduh sengaja menciptakan krisis kemanusiaan di Gaza

    Israel diminta untuk segera menghentikan operasi militer dan mencabut blokade agar bantuan kemanusiaan bisa disalurkan dengan aman dan tanpa hambatan ke seluruh Gaza “sesuai prinsip-prinsip kemanusiaan.”

    Ketujuh negara itu juga mengecam eskalasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur oleh Israel, termasuk kekerasan oleh pemukim ilegal, perluasan permukiman ilegal, dan operasi militer Israel yang kian intensif di sana.

    Menurut mereka, mengusir rakyat Palestina, dengan cara apa pun, tidak bisa diterima dan akan melanggar hukum internasional.

    “Kami menolak segala rencana atau upaya untuk mengubah demografi. Kita harus memikul tanggung jawab untuk menghentikan kehancuran ini,” kata mereka dalam pernyataan itu.

    Hamas melaporkan bahwa lebih dari 250 warga Palestina tewas baru-baru ini karena Israel menerapkan kebijakan “bumi hangus” di Gaza.

    Baca: Layanan kesehatan di Gaza runtuh

    Kelompok perlawanan Palestina itu menuduh Israel melakukan “pembantaian mengerikan” dan melancarkan serangan tanpa henti di wilayah yang terkepung itu.

    Israel telah melakukan serangan brutal terhadap Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

    Pada November tahun lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya, Yoav Gallant, atas tuduhan melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkannya di wilayah Palestina itu.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Unjuk Rasa Besar-besaran di Eropa Kecam Agresi Israel ke Palestina

    Unjuk Rasa Besar-besaran di Eropa Kecam Agresi Israel ke Palestina

    7cloud.asia – Ribuan orang di berbagai kota besar di Eropa menggelar aksi besar-besaran pada 15 Mei untuk memperingati Hari Nakba — hari ketika lebih dari 700.000 warga Palestina terusir dari tanah mereka usai berdirinya zionis Israel pada 1948.

    Aksi di Hari Nakba itu juga menjadi bentuk kecaman atas serangan brutal Israel ke Jalur Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023 silam.

    Aksi massa memperingati Hari Nakba antara lain berlangsung di Stockholm (Swedia), di mana ribuan orang memadati Lapangan Odenplan membawa bendera Palestina, foto anak-anak korban serangan, dan spanduk bertuliskan “Hentikan genosida rezim Zionis di Palestina.”

    Pawai masif memperingati Hari Nakba juga berlangsung di ibukota Inggris, London yang diikuti ratusan ribu orang berkumpul dan melakukan pawai menuju Downing Street.

    Mereka menuntut dihentikannya genosida Israel terhadap warga Jalur Gaza, bertepatan dengan peringatan 77 tahun Nakba.

    Baca: Negara-negara OKI serukan terwujudnya Negara Palestina merdeka

    Di Berlin (Jerman), ratusan orang juga berkumpul di Potsdamer Platz dengan membawa bendera Palestina dan poster bertuliskan “Diam berarti ikut bersalah” serta “Kalian tidak bisa membunuh kami semua.”

    Di Amsterdam (Belanda), ratusan orang berkumpul di Lapangan Dam untuk menyuarakan penolakan terhadap kekerasan Israel dan memperingati tragedi Nakba.

    Mohammed Kotesh menegaskan bahwa genosida yang terjadi kini semakin parah, dan mendesak agar blokade Gaza dicabut agar bantuan kemanusiaan bisa masuk tanpa hambatan. Menurutnya, Gaza berada di ambang Nakba baru.

    Tiga jam aksi damai di Athena, Yunani, para peserta berbaris membawa bendera Palestina dan mengenakan keffiyeh, berjalan menuju Kedutaan Besar AS dan Israel.

    Ketua Asosiasi Muslim Yunani, Naim el-Ghandour, menyerukan agar diselenggarakan pertemuan global yang dipimpin Turki untuk mendorong perdamaian. Ia yakin tekanan internasional dapat menghentikan perang dan mengisolasi Israel secara diplomatik.

    Baca: Negara-negara Arab tolak rencana AS ambil alih Gaza

    Muhammed el-Batta, warga Gaza yang hadir dalam aksi, mengatakan bahwa kekerasan ini bukan perang, melainkan genosida yang telah berlangsung selama 80 tahun dan kini memasuki fase akhir.

    Ia menyebut kekerasan meningkat karena Israel berupaya mengosongkan Gaza dari warga Palestina.

    Sejak 7 Oktober 2023, Israel melancarkan serangan brutal ke Jalur Gaza dan telah menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.

    Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas agresinya terhadap Jalur Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • 80 Hari Blokade Israel, Hanya 9 Truk Bantuan Kemanusiaan yang Diizinkan Masuk ke Gaza

    80 Hari Blokade Israel, Hanya 9 Truk Bantuan Kemanusiaan yang Diizinkan Masuk ke Gaza

    7cloud.asia – Setelah hampir 80 hari memberlakukan pengepungan ketat, Israel akan mengizinkan hanya sembilan truk bantuan kemanusiaan untuk memasuki Gaza, demikian laporan media Israel pada Senin (19/5/2025).

    Saat ini diperkirakan ada sekitar 2,4 juta jiwa tinggal di Gaza Utara yang sebagian besar wilayahnya porak poranda akibat agresi Israel.

    “Sembilan truk bermuatan bantuan kemanusiaan, termasuk makanan bayi, akan memasuki Gaza melalui Israel dalam beberapa jam ke depan,” kata Ghassan Alian, Kepala Kantor Koordinasi Kegiatan Pemerintahan di Wilayah (COGAT) milik militer Israel, kepada Radio Angkatan Darat.

    Radio itu juga menyebutkan bahwa truk-truk bantuan akan diarahkan ke gudang milik organisasi internasional untuk kemudian didistribusikan kepada warga Palestina.

    Sejak 2 Maret, Israel menutup seluruh jalur masuk ke Gaza untuk pengiriman makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan.

    Baca: Unjuk rasa besar-besaran di Eropa kecam blokade Israel

    Blokade Israel ini memperburuk krisis kemanusiaan yang telah sangat parah di wilayah tersebut, menurut laporan pemerintah, organisasi hak asasi manusia, dan lembaga internasional.

    Berdasarkan data Bank Dunia, hampir seluruh populasi Gaza — sekitar 2,4 juta orang — sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan.

    Kantor Pemimpin Otoritas Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu menyatakan bahwa Tel Aviv akan mengizinkan masuknya “jumlah dasar makanan” ke Gaza guna “mencegah terjadinya krisis kelaparan.”

    Netanyahu menambahkan bahwa kelaparan dapat “mengancam kelanjutan Operasi Kereta Perang Gideon (Gideon’s Chariot),” merujuk pada fase baru serangan darat Israel di wilayah utara dan selatan Gaza.

    Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, mengutip seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa kebijakan itu bersifat sementara dan diperkirakan hanya berlangsung sekitar satu pekan

    Baca: Negara-negara OKI serukan terwujudnya Palestina merdeka

    Kebijakan ini berlaku hingga pusat distribusi bantuan selesai didirikan — kebanyakan berada di Gaza selatan, berada di bawah pengawasan militer Israel dan dijalankan oleh kontraktor keamanan asal Amerika Serikat.

    Sejak Oktober 2023, militer Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza yang telah menewaskan lebih dari 53.300 warga Palestina, mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

    Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Kepala Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait agresinya di wilayah tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu