7cloud.asia – Ribuan orang di berbagai kota besar di Eropa menggelar aksi besar-besaran pada 15 Mei untuk memperingati Hari Nakba — hari ketika lebih dari 700.000 warga Palestina terusir dari tanah mereka usai berdirinya zionis Israel pada 1948.
Aksi di Hari Nakba itu juga menjadi bentuk kecaman atas serangan brutal Israel ke Jalur Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023 silam.
Aksi massa memperingati Hari Nakba antara lain berlangsung di Stockholm (Swedia), di mana ribuan orang memadati Lapangan Odenplan membawa bendera Palestina, foto anak-anak korban serangan, dan spanduk bertuliskan “Hentikan genosida rezim Zionis di Palestina.”
Pawai masif memperingati Hari Nakba juga berlangsung di ibukota Inggris, London yang diikuti ratusan ribu orang berkumpul dan melakukan pawai menuju Downing Street.
Mereka menuntut dihentikannya genosida Israel terhadap warga Jalur Gaza, bertepatan dengan peringatan 77 tahun Nakba.
Baca: Negara-negara OKI serukan terwujudnya Negara Palestina merdeka
Di Berlin (Jerman), ratusan orang juga berkumpul di Potsdamer Platz dengan membawa bendera Palestina dan poster bertuliskan “Diam berarti ikut bersalah” serta “Kalian tidak bisa membunuh kami semua.”
Di Amsterdam (Belanda), ratusan orang berkumpul di Lapangan Dam untuk menyuarakan penolakan terhadap kekerasan Israel dan memperingati tragedi Nakba.
Mohammed Kotesh menegaskan bahwa genosida yang terjadi kini semakin parah, dan mendesak agar blokade Gaza dicabut agar bantuan kemanusiaan bisa masuk tanpa hambatan. Menurutnya, Gaza berada di ambang Nakba baru.
Tiga jam aksi damai di Athena, Yunani, para peserta berbaris membawa bendera Palestina dan mengenakan keffiyeh, berjalan menuju Kedutaan Besar AS dan Israel.
Ketua Asosiasi Muslim Yunani, Naim el-Ghandour, menyerukan agar diselenggarakan pertemuan global yang dipimpin Turki untuk mendorong perdamaian. Ia yakin tekanan internasional dapat menghentikan perang dan mengisolasi Israel secara diplomatik.
Baca: Negara-negara Arab tolak rencana AS ambil alih Gaza
Muhammed el-Batta, warga Gaza yang hadir dalam aksi, mengatakan bahwa kekerasan ini bukan perang, melainkan genosida yang telah berlangsung selama 80 tahun dan kini memasuki fase akhir.
Ia menyebut kekerasan meningkat karena Israel berupaya mengosongkan Gaza dari warga Palestina.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel melancarkan serangan brutal ke Jalur Gaza dan telah menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas agresinya terhadap Jalur Gaza.
Sumber: Antaranews.com/Anadolu

Leave a Reply