Tag: Covid – 19

  • Covid-19 Meningkat Jelang Tahun Baru, Warga Diingatkan Protokol Kesehatan

    Covid-19 Meningkat Jelang Tahun Baru, Warga Diingatkan Protokol Kesehatan

    7cloud.asia – Wali Kota Jakarta Pusat Dhany Sukma mengingatkan warga tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 ataupun penyakit lainnya

    Peringatan soal protokol kesehatan ini dirilis menyusul merebaknya kembali Covid-19 jelang Natal dan Tahun Baru 2024 yang kerap diwarnai dengan kepadatan.

    “Dalam situasi seperti sekarang ini, isu-isu terkait Covid-19 sudah mulai muncul, tentunya kita tetap mengedepankan protokol kesehatan (saat keluar rumah) menghadapi keramaian Natal dan tahun baru,” kata Dhany.

    Dilansir Antaranews, Dhany mengatakan protokol kesehatan itu meliputi penggunaan masker saat ke luar rumah atau ke tempat keramaian.

    Baca: Mengapa Covid-19 kembali marak

    Lalu menjaga kesehatan dan imunitas tubuh agar tidak mudah terpapar penyakit dari luar.

    “Menggunakan masker minimal, lalu kita semua menjaga kesehatan dengan melakukan olahraga dan mencukupi asupan gizi agar tubuh memiliki daya tahan,” ujar Dhany.

    Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada penularan Covid-19 karena tren masih naik hingga pertengahan Januari 2024.

    Baca: Peningkatan kasus Covid-19 terjadi di 21 Provinsi

    Jika melihat polanya di tahun 2023, pada Mei, abis itu turun. Jadi ada kemungkinan akan masih naik sampai tengah Januari 2024, kemudian nanti turun.

    “Itu kalau kita lihat polanya, yang penting kita harus waspada,” kata Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (22/12/2023).

    Ani mengingatkan saat libur akhir tahun nanti, bagi masyarakat dalam kondisi kurang sehat sebaiknya tidak beraktivitas di luar rumah.

    Baca: Apa pentingnya  vaksin Covid-19 dosis lengkap

    Namun, jika keadaan mengharuskan ke luar rumah, maka masyarakat diimbau menggunakan masker.

    Ani menyebutkan, hingga 20 Desember 2023 ditemukan 613 kasus aktif Covid-19. Dari jumlah tersebut sebanyak 414 pasien melakukan isolasi mandiri, sedangkan 199 pasien lainnya menjalani perawatan di rumah sakit.

    Kemudian, terdapat 38 penemuan kasus Covid-19 varian JN.1 di wilayah Jakarta selama 2023.

    Baca: Perayaan malam tahun baru di Jakarta

     

  • Dinkes DKI Jakarta Terapkan Vaksinasi Covid-19 Berbayar Mulai Januari 2024

    Dinkes DKI Jakarta Terapkan Vaksinasi Covid-19 Berbayar Mulai Januari 2024

    7cloud.asia – Menyikapi kembali naiknya kasus Covid-19 Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta berencana akan menerapkan vaksin Covid-19 berbayar pada 1 Januari 2024.

    Untuk itu warga yang belum melengkapi vaksinasi Covid-19 bisa segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah terdekat mumpung masih gratis.

    “Betul, 1 Januari 2024 vaksinasi Covid-19 mulai bayar,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

    Ani menyebut vaksin Covid-19 berbayar ini berlaku untuk penyuntikan semua dosis vaksin.

    Baca: Penyebaran Covid-19 terpantau di 21 Provinsi

    Namun, ada beberapa kelompok yang tetap mendapatkan vaksin Covid-19 secara gratis seperti lansia dan kelompok rentan lainnya.

    Ani belum mengetahui rincian biaya yang akan dikenakan setiap dosis vaksin Covid-19 ini.

    Dinkes DKI Jakarta masih menunggu mekanisme dan teknis pelayanan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

    Ia memperkirakan vaksinasi Covid-19 mungkin akan dilepas ke mekanisme pelayanan biasa. Seperti saat ini ada vaksin program yang tidak berbayar, ada juga vaksin yang bukan vaksin program.

    Baca: DPR minta pemerintah efektifkan vaksin Covid-19 dosis lengkap

    “Mungkin dilepas seperti itu. Tapi kita tunggu regulasi Kemenkes seperti apa terkaitvaksinasi Covid-19 ini,” jelas Ani.

    Lebih lanjut, Ani memastikan khusus di DKI Jakarta vaksinasi Covid-19 gratis masih tersedia di seluruh puskesmas kecamatan hingga akhir tahun.

    Pemprov DKI Jakarta juga terus mengingatkan masyarakat untuk melengkapi vaksinasi Covid-19, menggunakan masker, memastikan tubuh dalam kondisi sehat demi menjaga penyebaran kasus Covid-19 saat libur tahun baru.

    Adapun Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat tetap memakai masker dan menjalani hidup sehat untuk mencegah potensi lonjakan kasus Covid-19.

    Baca: Penularan Covid-19 meningkat, warga diminta terapkan protokol kesehatan

    Protokol ini terutama disarankan untuk golongan lanjut usia dan kelompok yang belum melakukan vaksinasi.

    Imbauan memakai masker ditujukan terutama untuk orang yang sedang sakit (flu), orang yang kontak erat dengan orang yang sedang sakit dan apabila kita berada di keramaian dan kerumunan.

    Sebelumnya, pemerintah pusat juga sudah mengingatkan kepada khalayak bahwa penanganan pasien Covid-19 tidak lagi gratis atau ditanggung pemerintah

    Kebijaka ini diambil setelah ada perubahan status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi.

    Baca: Seperti ini protokol saat endemi Covid-19

    “Ini hati-hati kalau sudah masuk endemi kalau kena Covid-19 bayar. Saat ini masih ditanggung pemerintah, begitu masuk endemi jangan tepuk tangan dulu, sakit Covid-19 bayar. Konsekuensinya itu,” ujar Jokowi Juni lalu. 

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Marak di Singapura, Kemenkes Pastikan Indonesia Aman Covid-19 Varian KP.1 dan KP.2  

    Marak di Singapura, Kemenkes Pastikan Indonesia Aman Covid-19 Varian KP.1 dan KP.2  

     

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan RI memastikan belum ada kasus Covid-19 varian KP.1 dan KP.2 yang saat ini tengah marak di Singapura.

    Kepastian ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Mohammad Syahril dalam keterangan tertulisnya dalam situs Kemenkes.

    “Sampai Mei 2024, kasus Covid-19 yang beredar di Indonesia didominasi oleh subvarian Omicron JN.1.1, JN.1, dan JN.1.39. Kalau subvarian KP, belum ditemukan,” ungkap Syahril.

    Memang Syahril mengakui kasus Covid-19 di Indonesia di bulan Mei mengalami peningkatan pada minggu ke-18 tahun 2024 sebesar 11,76% dibanding minggu sebelumnya.

    Berdasarkan data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) Indonesia 2024, sebagian besar kasus masih didominasi varian JN.1.

    Baca: Covid-19 varian baru mudah menular

    Meski terjadi peningkatan kasus, namun kondisi ini tidak diikuti dengan peningkatan angka rawat inap (hospitalisasi) dan kematian.

    Berdasarkan data Laporan Mingguan Nasional Covid-19 Kemenkes periode 12-18 Mei 2024 mencatat, terdapat 19 kasus konfirmasi, 44 kasus rawat ICU, dan 153 kasus rawat isolasi.

    Tren positivity rate mingguan di angka 0,65% dan nol kematian. Tren orang yang dites per minggu mencapai 2.474 orang.

    Selanjutnya Syahril menjelaskan Indonesia kini telah memiliki strategi untuk menanggulang Covid-19, yaitu mengintensifkan kapasitas mencakup manajemen klinis, surveilans, imunisasi, promosi kesehatan dan sebagainya.

    Baca: Vaksin Covid-19 berbayar dianggap belum tepat waktunya

    Jadi, meskipun kasus varian KP.1 dan KP.2 di Singapura meningkat, pihaknya menganggap belum perlu dilakukan pembatasan perjalanan.

    Namun, dia mengingatkan agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan seperti cuci tangan, menggunakan masker bila sakit termasuk di kerumunan/alat angkut, serta melengkapi vaksinasi Covid-19.

    Sebab masih ada kemungkinan munculnya varian atau subvarian baru yang berpotensi menyebabkan peningkatan kasus atau kematian.

  • Kasus Covid-19 di Indonesia Naik, Kemenkes Imbau Masyarakat Patuhi Prokes

    Kasus Covid-19 di Indonesia Naik, Kemenkes Imbau Masyarakat Patuhi Prokes

    7cloud.asia – Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini tengah meningkat. Hingga Mei 2024, kasus konfirmasi Covid-19 meningkat sebesar 11,76 persen. Masyarakat diimbau patuhi protokol kesehatan (prokes).

    Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Mohammad Syahril Sp.P, MPH,.

    Melansir detikhealth, Syahril menegaaskan bahwa status endemi di Indonesia saat ini bukan berarti Covid-19 telah hilang, melainkan berada dalam situasi yang terkendali.

    Artinya, masih ada kemungkinan muncul varian atau subvarian baru yang berpotensi menyebabkan peningkatan kasus atau kematian.

    Baca: Indonesia aman dari covid-19 varian kp1 dan kp2

    Berdasarkan data Laporan Mingguan Nasional COVID-19 Kemenkes periode 12-18 Mei 2024, terdapat 19 kasus konfirmasi, 44 kasus rawat ICU, dan 153 kasus rawat isolasi.

    Tren positivity rate mingguan di angka 0,65 persen dan nol kematian. Tren orang yang dites per minggu mencapai 2.474 orang.

    “Ini terus kami pantau melalui laporan Bed Occupation Rate (BOR) ruang isolasi dan/atau ICU, baik itu secara harian/mingguan,” kata Syahril.

    Data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) Indonesia 2024, saat ini yang memicu lonjakan kasus di Indonesia adalah varian JN.1.

    Baca: Virus covid-19 varian terbaru mudah menular

    “Sampai Mei 2024, kasus Covid-19 yang beredar di Indonesia didominasi oleh subvarian Omicron JN.1.1, JN.1, dan JN.1.39. Kalau subvarian KP, belum ditemukan,” ungkapnya.

    Meski demikian kenaikan ini tidak diikuti dengan peningkatan angka rawat inap atau hospitalisasi dan kematian.

    Dia mengimbau masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes), seperti cuci tangan, menggunakan masker bila sakit termasuk di kerumunan hingga transportasi umum.

    Selain itu, masyarakat dapat segera melengkapi dosis vaksinasi COVID-19, khususnya pada kelompok berisiko.

    Baca: Satu pasien meninggal akibat covid-19 di Batam

    “Upaya kewaspadaan dan pencegahan masih sama, yaitu segera lakukan vaksinasi COVID-19 lengkap dan booster, terutama untuk kelompok lansia dan orang dengan komorbiditas (penyakit penyerta),” katanya.

    Kemenkes, lanjut Syahril, telah menyiapkan rumah sakit berikut dengan persediaan tenaga medis serta obat-obatan.

    “Upaya yang telah disiapkan adalah rumah sakit sudah memiliki peringatan dini (early warning) dalam konversi tempat tidur, adanya tenaga cadangan, kesiapan perbekalan kesehatan seperti oksigen, obat-obatan serta vaksinasi, terutama bagi kelompok berisiko,” jelasnya.

  • Varian Baru Covid-19 Landa Australia, Pakar Sebut Lebih Cepat Menyebar

    Varian Baru Covid-19 Landa Australia, Pakar Sebut Lebih Cepat Menyebar

    7cloud.asia – Varian baru COVID-19, LB.1, melanda Australia dengan para ahli kesehatan memperingatkan bahwa virus tersebut dapat menyebar lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya, lapor media lokal pada Sabtu. 

    Juru bicara departemen kesehatan Australia mengatakan telah ada kasus LB.1 yang terkonfirmasi di Australia, lapor SBS News.

    Para pakar kesehatan juga memperingatkan bahwa varian baru tersebut dapat menyebar lebih cepat dari varian sebelumnya.

    Baca: Kasus Covid-19 di Indonesia naik lagi

    “Meskipun LB.1 hampir pasti lebih mudah menular dibandingkan KP.2, tetapi tampaknya penyakit ini tidak mengungguli KP.3 dan turunannya,” sebut lembaga penyiaran tersebut mengutip Profesor Adrian Esterman, ketua biostatistik dan epidemiologi Universitas South Australia.

    Seorang dokter penyakit menular dan ahli mikrobiologi klinis di Universitas Queensland Paul Griffin, juga mengatakan bahwa negara tersebut tampaknya mendekati puncak kasus virus corona pada musim dingin ini.

    Baca: Varian baru Covid-19 lebih cepat menular

    Namun ia menambahkan bahwa sulit untuk mengatakan bahwa hal tersebut dapat menyebabkan gelombang baru infeksi.

    “Kami mengalami gelombang besar aktivitas COVID dan itu tampaknya melambat, tetapi saat ini masih cukup banyak,” katanya.

    Sumber: Anadolu-OANA

  • Masih Bingung? Ini Dia Perbedaan dan Persamaan HMPV dan Covid-19

    Masih Bingung? Ini Dia Perbedaan dan Persamaan HMPV dan Covid-19

    7cloud.asia – Beberapa anak di Indonesia saat ini diketahui telah terpapar Virus Human Metapneumovirus (HMPV). Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat tidak panik.  Karena virus ini berbeda dengan Covid-19.

    HMPV merupakan virus pernapasan yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas dan bawah. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 2001 di Belanda, meskipun bukti menunjukkan keberadaannya sejak 1958.

    “Berbeda dengan Covid-19 yang baru muncul beberapa tahun lalu, HMPV adalah virus lama yang sudah ada sejak 2001 dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Selama ini juga tidak terjadi apa-apa juga,” jelas Budi.

    Baca: Kenali gejala dan cara mencegah HMPV

    Melansir The Economic Times dan Deccan Herald, ada beberapa perbedaan dan persamaan HMPV dan Covid-19.

    Perbedaan HMPV dan Covid-19

    Pertama, jenis virusnya. HMPV disebabkan oleh metapneumovirus dari famili Pneumoviridae HMPV yang juga mencakup Respiratory Syncytial Virus (RSV). sementara COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 dari famili Coronavirus.

    Kedua, gejalanya. HMPV cenderung memiliki gejala ringan hingga sedang. Meski demikian gejala ini berpotensi menjadi parah pada kelompok berisiko tinggi. Komplikasinya dapat seperti bronkiolitis atau pneumonia.

    Sedangkan gejala COVID-19 memiliki spektrum yang lebih luas. Bahkan penderita Covid-19 bisa tertular tanpa gejala.

    Gejala Covid-19 dapat memicu terjadinya komplikasi berat seperti sindrom distres pernapasan akut (ARDS) dan kegagalan multi-organ.

    Baca: HMPV telah masuk ke Indonesia

    Ketiga, penularannya. HMPV penularannya lebih rendah dibandingkan Covid-19. Virus ini tidak bertahan lama di udara.

    Sedangkan SARS-CoV-2 dapat menyebar melalui aerosol di ruang tertutup. Seperti varian baru Covid-1, yakni Omicron bahkan memiliki kemampuan penularan yang sangat tinggi.

    Keempat, vaksin. Hingga kini belum ada vaksin untuk HMPV. Sebaliknya, COVID-19 memiliki berbagai vaksin, seperti vaksin mRNA dan vektor virus.

    Baca: Varian baru Covid-19 landa Australia

    Persamaan HMPV dan Covid-19

    Pertama, gejala yang timbul sama. Kedua virus yang berasal dari keluarga berbeda ini memiliki gejala yang sama seperti demam, batuk, sesak napas, dan hidung tersumbat.

    Kedua, sasarannya sama. Kedua virus tersebut akan menyasar kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan imunitas lemah.

    Ketiga, proses penyebarannya. Baik HMPV maupun Covid-19, sama-sama menular melalui droplet pernapasan, kontak langsung atau permukaan yang terkontaminasi.

    Keempat, kasus akan meningkat pada musim tertentu. Kasus HMPV mencapai puncaknya di akhir musim dingin hingga awal musim semi. Lalu COVID-19 akan meningkat selama bulan-bulan dingin.

     

  • Bagaimana Laut Membersihkan Diri Saat Pandemi Covid-19 Berlangsung

    Bagaimana Laut Membersihkan Diri Saat Pandemi Covid-19 Berlangsung

    7cloud.asia – Sebelum masa pandemi Covid-19, kesehatan laut Indonesia sudah mengkhawatirkan. Hal ini tercermin dari Indeks kesehatan laut atau Ocean Health Index (OHI), yang dikembangkan oleh National Center for Ecological Analysis and Synthesis (NCEAS) dan Conservation International,

    NCEAS menempatkan Indonesia pada peringkat 137 dari 221 negara pada tahun 2018, dengan total nilai 65 dari skala 100. Nilai ini masih di bawah rata-rata kesehatan laut dunia yaitu 71.

    Namun, sejak pemberlakuan pembatasan fisik (physical distancing) untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia pada bulan Maret 2020 ternyata memberikan kesempatan lingkungan untuk memulihkan diri secara alami.

    Hal ini karena pembatasan pergerakan manusia mengurangi aktivitas manusia yang menghasilkan polusi dan merusak ekosistem laut.

    Sebagai peneliti kelautan, observasi awal penulis menemukan beberapa perubahan pada kondisi laut di Indonesia selama masa pandemi:

    1. Kemunculan spesies
    Berkurangnya aktivitas manusia di pantai dan laut memberikan waktu bagi pemulihan ekosistem dan biota secara alami.

    Meski masih perlu penelitian lebih lanjut, sudah ada laporan kemunculan spesies laut ke daerah-daerah yang sebelumnya padat oleh kegiatan manusia.

    Contohnya, kemunculan paus pembunuh atau Orca (Orcinus Orca) di Anambas, Kepulauan Riau. Kehadiran mereka sebelumnya sangat jarang di daerah tersebut.

    Baca: Pemanasan suhu laut cetak rekor tertinggi pada 2024

    Di Atlantik Utara, Michelle Fournet, peneliti dari Cornell University di Amerika Serikat menyatakan bahwa selama pandemi terjadi pengurangan drastis polusi suara yang berasal dari kapal yang lalu lalang dan aktivitas manusia lainnya yang mengganggu sensor spesies paus.

    Hal tersebut mengakibatkan paus kembali menjelajah daerah yang sebelumnya padat oleh kegiatan pelayaran dan aktivitas di laut selama pandemi.

    Paus pembunuh atau Orca mulai mendekati wilayah yang ditinggalkan manusia saat protokol pandemi diterapkan. www.pixabay.com

    2. Pengasaman laut melambat
    Beberapa laporan mengindikasikan bahwa adanya penurunan harian emisi karbon dioksida di atmosfer.

    Banyak peneliti berargumen bahwa ini hanya dampak langsung dari penurunan drastis aktivitas manusia meski ada kemungkinan untuk naik kembali.

    Namun, turunnya level karbon dioksida di atmosfer akan memperlambat proses pengasaman laut.

    Laut yang memanas akibat meningkatnya gas rumah kaca, –karbon dioksida (CO₂), nitrogen dioksida (N₂O), metana (CH4), dan freon–, di atmosfer.

    Ini akan meningkatkan tingkat keasaman laut dan menyebabkan pemutihan pada terumbu karang (coral bleaching) yang berujung kepada kematian karang dan spesies laut yang menjadikan terumbu karang rumah mereka.

    Baca: Perubahan iklim ancam keberadaan negara-negara pulau atol Pasifik

    Walaupun pertumbuhan karang tidak sampai 1 cm per tahun, pengurangan aktivitas turis diharapkan dapat mengurangi kerusakan karang dan memberi harapan untuk karang dapat tumbuh kembali.

    Hal ini pernah terjadi di pantai Maya Bay, Kepulauan Phi Phi, Thailand pada tahun 2018.

    Ketika itu pengelola pantai menutup lokasi wisata selama lebih dari 3 bulan untuk memperbaiki ekosistem terumbu karang yang rusak akibat kunjungan turis yang datang karena pantai tersebut menjadi lokasi syuting film, The Beach, yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio di tahun 2000.

    Setelah penutupan, disertai dengan pengawasan ketat dari para peneliti kelautan, biota-biota laut, seperti hiu karang (Carcharhinus limbatus), mulai muncul kembali di daerah tersebut.

    Salah satu ahli konservasi karang dari Malaysia, pendiri dan CEO Ocean Quest Global, sebuah NGO yang fokus terhadap konservasi terumbu karang, Annuar Abdullah, mengatakan bahwa yang terjadi di Pantai Maya Bay menunjukkan bahwa faktor absennya manusia akan mempercepat pemulihan alam secara alami.

    Di Hanauma Bay, Hawaii, AS, peneliti utama dari Coral Reef Ecology Lab, Hawaii Institute of Marine Biology, Ku’ulei Rodgers mengungkapkan optimismenya bahwa berkurangnya pengunjung di masa pandemi akan berdaampak bagus bagi ekosistem.

    Pasalnya hampir 80 persen polusi di laut berasal dari aktivitas manusia.

    Baca: AS Hapus Utang Indonesia hingga 35 Juta Dolar untuk Perbaiki Terumbu Karang

    Kenormalan baru yang ideal
    Masih sulit untuk meneliti dampak Covid-19 secara langsung terhadap kesehatan laut mengingat begitu banyak faktor yang harus dipelajari, belum lagi masih terbatasnya pergerakan manusia.

    Namun, ada sedikit gambaran bahwa ketidakhadiran manusia memberikan sedikit waktu bagi laut untuk menyembuhkan diri.

    Ini karena laut memiliki mekanisme sendiri untuk memulihkan diri jika kita tahu apa yang menjadi penyebab stres pada ekosistem tersebut.

    Memasuki “kenormalan baru” (New Normal), pemerintah seharusnya juga mempersiapkan cara berpikir manusia terhadap kesehatan laut.

    Misalnya, tingkatkan edukasi wisatawan untuk tidak membuang sampah ke laut dan perbaiki cara snorkling atau menyelam yang baik.

    Selanjutnya, pemerintah seharusnya bisa mendorong sektor pariwisata laut untuk mempraktikkan gaya hidup yang rendah karbon, seperti menggunakan sepeda, angkutan massal, menanam tumbuhan, dan mengurangi konsumsi dengan wadah yang tidak bisa dipakai ulang.

    Perlu diingat, laut memberikan kontribusi signifikan terhadap kesehatan manusia. Peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institute bahkan menemukan bakteria laut yang sangat penting untuk mengidentifikasi Covid, AIDS, dan SARS.

    Jadi, kenormalan baru seharusnya bisa membawa kita ke dalam kondisi di mana lingkungan dan manusia adalah satu sistem yang tidak terpisahkan, bukan saling menaklukkan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Noir Primadona Purba (Lecturer and Marine Reseacher, Universitas Padjadjaran)

  • Covid-19 Kembali Merebak di Kawasan ASEAN, Pemerintah Diingatkan Segera Mengambil Langkah Pencegahan

    Covid-19 Kembali Merebak di Kawasan ASEAN, Pemerintah Diingatkan Segera Mengambil Langkah Pencegahan

    7cloud.asia – Kasus Covid-19 kembali merebak di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah negara melaporkan peningkatan kasus Covid-19 yang cukup mengkhawatirkan.

    Contohnya, Singapura mencatat lebih lonjakan kasus menjadi 14.200 selama 27 April-3 Mei, naik dari 11.100 kasus pada pekan sebelumnya. Hal ini disertai kenaikan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan rumah sakit.

    Sementara Thailand melaporkan lebih dari 16.600 kasus baru dan enam kematian dalam periode 4-10 Mei.

    Pada pertengahan Mei 2025, Malaysia sempat mengeluarkan peringatan waspada karena peningkatan kasus tersebut. Peringatan ini dikeluarkan Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, merespons tingginya penularan Covid-19 di Singapura dan Thailand.

    “Malaysia mencatat rata-rata sekitar 600 kasus per minggu, jauh di bawah ambang batas kewaspadaan nasional,” tulisnya di media sosial X, Sabtu (17/5/2025). Ia juga menegaskan, tidak ada laporan kematian akibat Covid-19 di Malaysia sepanjang 2025 sejauh ini.

    Sejak awal tahun ini hingga 10 Mei, Malaysia mencatat total 11.727 kasus Covid-19. Angka tertinggi tercatat pada awal tahun, kemudian menurun dan stabil dalam beberapa minggu terakhir.

    Baca: Laut membersihkan diri saat pandemi Covid-19 berlangsung

    Pemerintah “Negeri Jiran” pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala, serta melindungi kelompok rentan.

    Varian baru virus Covid LF.7 dan NB.1.8 diduga menjadi pemicu kembali merebaknya kasus Covid-19. Kondisi ini jadi alarm bahwa virus Covid-19 masih terus bermutasi dan berada di sekitar kita.

    Pemerintah di banyak negara pun mulai mengambil langkah cepat dengan meningkatkan imbauan protokol kesehatan dan pantau penyebaran Covid lebih ketat.

    Lantas, apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan kasus Covid-19 di negara tetangga?

    Pentingnya sistem kesehatan yang tangguh
    Dalam episode SuarAkademia terbaru, The Conversation berbincang dengan Olivia Herlinda, Chief Research and Policy dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI).

    Menurut Olivia, ada dua faktor terkuat yang memicu kenaikan kasus CovidD-19 di ASEAN, yaitu mutasi virus yang memang tidak bisa dibendung dan menurunnya kekuatan vaksin dalam tubuh.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    Karena itu, dia mengingatkan pentingnya memperketat pengawasan penyebaran virus dan meningkatkan akses vaksin booster untuk masyarakat.

    “Kendati pendekatan vaksinasi Indonesia pada saat pandemi sudah cukup responsif, pendekatan ini perlu ditopang oleh sistem distribusi yang lebih akurat dan inklusif, serta pengumpulan data yang lebih sistematis.” ujar Olivia dikutip The Conversation.

    Dia menambahkan, ketimpangan data antara pemerintah pusat dan daerah selama pandemi memberikan pelajaran soal pentingnya memperbarui sistem surveilans secara fundamental.

    Selain itu, pemerintah perlu memperkuat sistem pengawasan kesehatan. Pasalnya, masih tingginya kesenjangan fasilitas kesehatan antardaerah, menurut Olivia bisa menjadi masalah dalam penanganan kasus Covid-19 mendatang.

    Hal yang tak kalah penting, pemerintah perlu menyampaikan komunikasi risiko menyebarnya kembali kasus Covid-19 secara detail.

    Olivia berharap pemerintah bisa menyampaikan informasi secara transparan, konsisten, dan empatik agar tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.

    Baca: Dampak nyata perubahan iklim terhadap kesehatan manusia

     

  • Kasus Covid-19 di Asia Meningkat, Kemenkes Perketat Pengawasan

    Kasus Covid-19 di Asia Meningkat, Kemenkes Perketat Pengawasan

    7cloud.asia – Kasus Covid-19 di kawasan Asia seperti Thailand, Hongkong, Malaysia, Singapura meningkat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperketat pengawasan orang-orang yang masuk ke Indonesia.

    Langkah ini menyusul diterbitkannya Surat Edaran (SE) Nomor SR.03.01/C/1422/2025 tentang Kewaspadaan Terhadap Peningkatan Kasus Covid-19.

    Surat itu ditandatangani Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Murti Utami, ditetapkan pada 23 Mei 2025 dan dipublikasikan di situs resmi Kemenkes pada tanggal 28 Mei 2025.

    Surat edaran ini bertujuan dalam rangka meningkatkan kewaspadaan Covid-19 maupun penyakit potensial KLB/Wabah lainnya bagi Dinas Kesehatan, UPT Bidang Kekarantinaan Kesehatan, UPT Bidang Laboratorium Kesehatan Masyarakat, Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan para pemangku kepentingan.

    Selain itu juga untuk menanggapi peningkatan kasus Covid-19 di kawasan Asia, yakni Thailand, Hong Kong, Malaysia maupun Singapura. Sepanjang tahun 2025 kasus Covid-19 di negara-negara tersebut meningkat.

    Baca: Covid 19 meningkat, pemerintah harus segera bertindak

    Bahkan Thailand mencatat lebih dari 18 ribu kasus dalam sehari, dengan kumulatif sepanjang 2025 mencapai 240.606 kasus dan 53 kematian.

    Di Thailand, varian Covid-19 yang dominan adalah XEC dan JN.1, di Singapura LF.7 dan NB.1.8 (turunan JN.1), di Hongkong JN.1, dan di Malaysia adalah XEC (turunan JN.1). Namun, transmisi penularannya masih relatif rendah, dan angka kematiannya juga rendah.

    Meski demikian kemenkes tetap melakukan pengawasan dan memperketat orang-orang yang masuk melalui bandara. 

    Jubir kementerian kesehatan, Drg. Widyawati, MKM menjelaskan saat ini ada kecemasan masyarakat Indonesia dengan kenaikan kasus Covid-19 di sejumlah negara tersebut.

    Namun, hingga pekan terakhir Mei 2025 pihaknya memastikan nol kasus di Indonesia.  

    “Kami memperkuat baik melalui sistem sentinel (pengawasan untuk mendeteksi) maupun melalui pintu masuk saat ini melalui sub varian yang masih bersirkulasi di Indonesia ini karakteristiknya masih sama dengan JN1 nya,” jelas Widyawati.

    Baca: Persamaan dan perbedaan hmpv dan covid 19

    Pihaknya juga belum menerapkan aturan pembatasan pertemuan atau social distancing seperti yang pernah dilakukan saat Covid-19 mewabah di Indonesia.

    Meski demikian, Widyawati mengimbau masyarakat agar tetap menjalani protokol kesehatan, menjalani pola hidup sehat. Terutama bagi para lansia dan orang yang memiliki kormobid.

    “Kalau nggak enak badan jangan berpergian, kalaupun harus pergi maka gunakan masker. Batuk, bersin tetap menjaga etika. Bagi yang sehat juga bisa menggunakan masker untuk proteksi diri,” katanya.

    Sementara kemenkes tetap memantau situasi global maupun nasional. Selain itu pihaknya juga mempersiapkan seluruh laboratorium puskesmas, seluruh dinas kesehatan dan jejaringnya.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Ahli Epidemiologi UI Sebut Kasus Covid-19 di Indonesia Berpotensi Meningkat

    Ahli Epidemiologi UI Sebut Kasus Covid-19 di Indonesia Berpotensi Meningkat

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) telah mengeluarkan surat edaran seiring dengan peningkatan kasus Covid-19 di kawasan Asia. Peningkatan kasus Covid juga berpotensi terjadi di Indonesia.

    Data dari Kemenkes, hingga pekan ke-20, kasus Covid-19 di Indonesia didominasi varian MB.1.1. Sementara varian Covid-19 yang menyebar di Thailand adalah XEC dan JN.1.

    Di Singapura varian Covid-19 yang menyebar adalah LF.7 dan NB.1.8 (turunan JN.1), di Hongkong JN.1 dan di Malaysia adalah XEC (turunan JN.1). di Indonesia varian-varian tersebut tidak ditemukan dalam berbagai kasus Covid-19.  Dan jumlahnya kini menurun.

    Ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono memperkirakan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia bisa saja naik, tidak sesuai dengan data dari Kemenkes.

    Baca: Kemenkes perketat pengawasan, antisipasi Covid-19 melonjak di Indonesia

    “Kalau naik pun nggak terdeteksi juga, nggak ada yang mau testing. Siapa sekarang yang mau testing, orang mungkin juga nggak bergejala. Testing kan nggak murah dan bukan jaman seperti COVID-19 yang tesnya bisa gratis,” terang Pandu seperti yang dikutip detikcom.

    Kondisi seperti ini menyebabkan data yang disampaikan Kemenkes tidak akurat, sebab tidak benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.

    “Jadi kalau kita mungkin ada kenaikan kasus, tapi datanya tidak merefleksikan kenyataan yang ada, karena faktanya memang COVID-19 dari dulu sampai sekarang masih ada, masih tetap berlangsung,” jelasnya.

    Pandu memaparkan adanya lonjakan kasus di beberapa negara tidak diikuti dengan peningkatan kasus signifikan pada tren rawat inap, juga kematian seperti kasus Covid-19 yang terjadi pada tahun 2019 lalu.

    Hal ini menunjukkan bahwa penularan COVID-19 sebetulnya masih terjadi, meski kebanyakan kasus tidak bergejala atau hanya bergejala ringan.

    Baca: Pemerintah harus ambil langkah pencegahan kenaikan kasus Covid-19

    “Jadi kalau nggak masuk RS, itu nggak akan ditesting, kalau dia flu berat sampai masuk rumah sakit nah itu baru dicari sebabnya, kenapa kok severe flu mendadak common? Itu kan akan jadi tata pelaksanaan berikutnya, penanganannya gimana,” ujarnya.

    Meski saat ini kasus Covid-19 di Indonesia masih terkendali, namun Pandu khawatir terjadi mutasi virus yang jauh lebih dahsyat atau ‘mematikan’ seperti gelombang COVID-19 Delta.

    Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap melakukan pencegahan seperti menggunakan masker dan menjalani pola hidup bersih dan sehat.

    “Jadi sifatnya sekarang hanya mengingatkan, pentingnya pencegahan, pakai masker kalau perlu saat di ruang publik, sampai sekarang kita lihat petugas kesehatan dokter perawat tetap menggunakan masker kan, jadi waspada itu sifatnya, kalau saat flu pakai masker karena bisa menularkan pada yang lain,” jelasnya.