Tag: dbd

  • Kasus DBD Tinggi, Menkes Minta Warga Waspada dan Tidak Panik

    Kasus DBD Tinggi, Menkes Minta Warga Waspada dan Tidak Panik

    7cloud.asia – Meski jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia tinggi, tetapi Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat waspada dan tidak panik serta khawatir.

    Dia memastikan ketersediaan tempat tidur dan ruangan untuk merawat pasien DBD di rumah sakit saat ini masih cukup.

    “Buat teman-teman supaya enggak panik, rumah sakit Jakarta masih cukup tempatnya karena pengalaman kita sama Covid itu fasilitasnya banyak sekali jadi jangan khawatir,” jelas Budi pada Kamis (28/03/2024) malam seperti yang dikutip Medcom.

    Baca: Kasus DBD di Indonesia naik 2 kali lipat

    Selanjutnya Budi mengatakan yang harus dilakukan masyarakat jika diketahui ada yang mengalami gejala DBD, maka perlu dipastikan dengan rapid test atau membawanya ke puskesmas atau rumah sakit

    Menurut Budi hal terpenting yang dilakukan masyarakat adalah dengan melakukan pencegahan penyebaran DBD.

    Diantaranya memerhatikan kondisi lingkungan tempat nyamuk aedes aegypti berkembang biak.

    “Pertama, bak sampahnya supaya jangan ada genangan (air). Yang kedua, kita sudah siapkan larvasida untuk mematikan jentik-jentik (nyamuk), kita siapkan insektisida kalau di-fogging (pengasapan),” urainya.

    Baca: Ada kaitan kenaikan kasus DBD dengan perubahan cuaca

    Budi mengungkapkan angka kematian (fatality rate) akibat DBD cenderung rendah. “Jadi kena, yang meninggalnya itu sangat rendah karena semua rumah sakit sudah tahu, tinggal diberi infus yang penting jangan terlambat,” katanya.

    Memang Budi mengakui DBD merupakan penyakit menular yang menduduki peringkat keempat di Indonesia dengan jumlah kasus kurang lebih 120.000 per tahun setelah malaria (400.000 kasus), HIV (500.000 kasus), dan tuberkulosis (1 juta kasus).

    Sementara pemerintah saat ini tengah mengimplementasikan teknologi nyamuk dengan bakteri wolbachia yang diyakini berhasil menurunkan incidence rate demam berdarah.

    Bakteri wolbachia dipercaya dapat menghambat perkembangan virus dengue di tubuh nyamuk aedes aegypti.

    Baca: Kasus DBD di Jakarta melonjak

    Sehingga kemampuan nyamuk dengan wolbachia dalam menularkan virus ke manusia akan berkurang.

    Ketika nyamuk aedes aegypti dengan wolbachia berkembang biak di populasi nyamuk, maka kasus dengue akan menurun.

    Mengutip data Kementerian Kesehatan, di Yogyakarta, implementasi teknologi wolbachia berhasil menurunkan incidence rate demam berdarah di bawah standar WHO, yaitu 1,94 per 100 ribu penduduk data pada Juli 2023.

    Hal serupa juga diterapkan di kota lain seperti Bandung, Bontang, Kupang, Jakarta, dan Semarang.

    “Kita lakukan itu karena contohnya di Yogyakarta turun jauh. Dengue secara total naik di dunia karena pengaruh iklim. Tapi di Kota Yogyakarta itu satu-satunya nya kota yang turun sejak Wolbachia diluncurkan,” ungkapnya.

    Baca: Lima daerah tetapkan status KLB DBD

    Sebelumnya Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, total jumlah kasus DBD di Indonesia hingga Februari 2024 adalah 38.462 orang.

    Provinsi dengan jumlah kasus DBD tertinggi adalah Jawa Barat (10.428), Jawa Timur (3.638), Jawa Tengah (3.152), Sulawesi Utara (2.763), dan Kalimantan Tengah (2.309).

    Sedangkan total jumlah kasus kematian akibat DBD di RI hingga Februari 2024 sudah mencapai 316 orang.

    Adapun, lima kabupaten/kota dengan kasus kematian tertinggi adalah Jepara, Jawa Tengah; Kabupaten Bandung, Jawa Barat; Subang, Jawa Barat; Kendal, Jawa Tengah; dan Blora, Jawa Tengah.

    Dari total 316 kematian hingga Februari 2024, sebaran tertinggi kasus kematian DBD Indonesia terjadi di Jawa Barat (94), Jawa Tengah (77), Jawa Timur (37), Kalimantan Tengah (13), dan Sumatra Selatan (13).

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Kasus DBD Naik Hingga Nyaris 3 Kali Lipat

    Kasus DBD Naik Hingga Nyaris 3 Kali Lipat

    7cloud.asia – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia meningkat hingga 3 kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2023 lalu di periode bulan yang sama.

    Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi dalam Arbovirus Summit yang disiarkan di kanal YouTube Kemenkes RI.

    Pada minggu ke 15 tahun 2024, jumlah kasus DBD di Indonesia mencapai 62.001 pasien.

    Sementara, pada minggu yang sama pada tahun 2023, jumlah kasus DBD ‘hanya’ 22.551 kasus. Artinya, terjadi kenaikan hampir tiga kali lipat.

    Baca: Kaus DBD naik, kemenkes imbau warga tak panik

    Selanjutnya Imran menjelaskan kasus demam berdarah di Indonesia sempat mengalami penurunan dari 143 ribu kasus pada tahun 2022 menjadi 115 ribu pada tahun 2023.

    Tetapi kasus DBD kembali naik bahkan hingga nyaris 3 kali lipat akibat adanya perubahan iklim pada 2024.

    Karena itu, lanjut Imran, sistem diagnosis Dengue perlu ditingkatkan agar dapat mengetahui penyakit yang bersifat zoonosis serta yang disebabkan oleh lingkungan.

    “Kita butuh deteksi, seperti yang Pak Menteri bilang, yang menyebut tentang rapid test, karena ini perlu didistribusikan di fasilitas kesehatan dasar kita, karena Dengue memiliki (konsekuensi) yang parah apabila telat ditangani,” jelasnya.

    Baca: Kasus DBD naik hingga 2 kali lipat pada musim hujan

    Menurutnya setelah COVID-19, gejala-gejala Dengue sudah tidak lagi berupa gejala klasik, sehingga perlu diwaspadai. Bahkan sekitar 50 persen kasus Dengue tidak memiliki gejala.

    Oleh karena itu, kata dia, perlu adanya sistem yang sensitif guna mendeteksi penyakit tersebut.

    Sistem tersebut, kata dia, harus dapat mendeteksi penyakit baik yang ditularkan melalui binatang atau disebabkan karena lingkungan, termasuk yang terdampak perubahan iklim.

    “Perubahan iklim tak hanya membebani pelayanan kesehatan, karena membuat kasus semakin naik dan naik, tetapi kami juga menimbang bahwa perubahan iklim akan membebani sistem kesehatan. Sebagai contoh, kekeringan,” urainya.

    Baca: Kasus DBD di Jakarta menigkat, masyarakat harus terapkan 3M Plus

    Ketika desa diterpa kekeringan, kata dia, orang-orang pun pindah ke kota. Ketika pindah ke kota, maka kota semakin padat dan hal itu dapat membuat kasus semakin naik.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan penyakit-penyakit arboviral mengancam kesehatan serta perekonomian secara global.

    Menurut dia cakupan geografis arbovirus semakin besar karena adanya urbanisasi, perubahan iklim, serta penambahan populasi nyamuk yang sangat cepat.

    “Pada 2023 lebih dari enam juta kasus Dengue dilaporkan secara global dan sekitar tiga juga kasus sudah dilaporkan tahun ini, meskipun musim pancaroba paling intens belum mulai di sejumlah daerah,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Cek Fakta Benarkah Perubahan Iklim Memicu Kenaikan Kasus DBD?

    Cek Fakta Benarkah Perubahan Iklim Memicu Kenaikan Kasus DBD?

    7cloud.asia – Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan perubahan iklim tak hanya membebani pelayanan kesehatan.

    Imran menyebut, perubahan iklim menyebabkan tren kasus demam berdarah dengue (DBD) kembali naik pada 2024 setelah sempat menurun pada 2023.

    ”Karena membuat kasus semakin naik dan naik, tetapi kami juga menimbang bahwa perubahan iklim akan membebani sistem kesehatan.”

    ”Sebagai contoh kekeringan. Ketika desa diterpa kekeringan, orang-orang pun pindah ke kota. Ketika pindah ke kota, maka kota semakin padat dan hal itu dapat membuat kasus semakin naik.” ujar Imran Pambudi dalam pertemuan International Arborius Summit di Bali, 22 April 2024.

    Baca Juga: Kasus DBD Naik Hingga Nyaris 3 Kali Lipat

    Benarkah pernyataan Imran ini? The Conversation berkolaborasi dengan peneliti kesehatan publik dari Universitas Airlangga, Ilham Akhsanu Ridlo, untuk memeriksa pernyataan Imran.

    Dan, dia mengatakan pernyataan Imran bahwa perubahan iklim memicu kasus DBD adalah benar.

    Ilham mengatakan, bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan iklim menjadi penyebab utama kenaikan kasus DBD.

    “Meningkatnya suhu global antara tahun 1950-2018 telah meningkatkan kesesuaian iklim untuk penularan virus dengue oleh vektor nyamuk Aedes aegypti,” ujar Ilham, yang menyitir informasi dari jurnal kesehatan terkemuka, The Lancet.

    Baca Juga: Kasus DBD Melonjak: Lima Daerah Menetapkan Status Kejadian Luar Biasa dan Banyak Pasien Tak Terlayani

    Informasi tersebut turut diperkuat dengan studi di Argentina yang menunjukkan adanya hubungan peningkatan kasus demam berdarah dengan jumlah hari dan bulan dengan suhu optimal untuk penularan demam berdarah dari waktu ke waktu.

    Di Indonesia, studi ekologi spasial turut menemukan kejadian demam berdarah selama 2006-2016 di Sumatra dan Kalimantan sangat bersifat musiman dan terkait dengan faktor iklim dan deforestasi.

    “Penelitian ini lebih jauh memerlukan telaah lanjut untuk menggabungkan indikator iklim ke dalam surveilans berbasis risiko mungkin diperlukan untuk demam berdarah di Indonesia,” ujar Ilham.

    Selain faktor perubahan iklim, Ilham menambahkan faktor lainnya yang mendorong kenaikan kasus demam berdarah atau DBD.

    Baca Juga: Terapi Kombinasi Ramuan Daun Pepaya, Alternatif Baru Menangani Pasien DBD

    Beberapa di antaranya adalah urbanisasi, peningkatan pergerakan orang dan barang, serta persoalan air dan sanitasi.

    “Namun, perubahan iklim dianggap sebagai faktor utama yang mendorong peningkatan dramatis kasus demam berdarah secara global dalam beberapa dekade terakhir,” kata dia.

  • Sebanyak 621 Orang Meninggal Akibat DBD, Terbanyak di Bandung

    Sebanyak 621 Orang Meninggal Akibat DBD, Terbanyak di Bandung

    7cloud.asia – Hingga minggu ke 17 tahun 2024, sebanyak 621 kasus kematian akibat demam berdarah dengue (DBD).

    Kematian akibat DBD terbanyak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang mencapai 29 kematian.

    Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, jumlah kematian pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu, 209 kematian.

    Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan setelah Kabupaten Bandung, Kabupaten Jepara menyusul peringkat kedua terbanyak dengan 21 kematian dan Kota Bekasi 19 kematian.

    Baca: Kasus DBD naik hampir 3x lipat

    “Kabupaten Subang 18 kematian, Kabupaten Kendal 17 kematian,” ungkap Siti seperti dikutip Antaranews.

    Sebelumnya pada minggu ke-16 tahun 2024 terdapat sebanyak 540 kematian dan 76.132 kasus.

    Sementara untuk jumlah kasus juga meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu. Pada minggu ke-17 terdapat 88.593 kasus DBD.

    Sementara pada periode yang sama pada 2023 ada 28.579 kasus DBD.

    Baca: Benarkah perubahan iklim memicu kenaikan kasus DBD?

    Lebih lanjut, Siti menjelaskan lima kabupaten dan kota dengan kasus DBD tertinggi, yaitu Kota Bandung (3.468), Kabupaten Tangerang (2.540), dan Kota Bogor (1.944).

    “Kota Kendari 1.659 kasus, Kabupaten Bandung Barat 1.576 kasus,” ujarnya.

    Karena itu, Siti mengingatkan masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah demam berdarah dengue, seperti pembersihan sarang nyamuk (PSN).

    Selain itu, ia juga mengimbau agar masyarakat dapat menguras, menutup, dan mengubur (3M) tempat yang berisiko menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

    “Bila demam tiga hari tidak menurun juga, segera ke RS/puskesmas, pastikan lingkungan sekitar kita bersih,” katanya..

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kenali Ciri-ciri, Siklus, dan Sebaran Nyamuk Aedes Aegypti Si Penyebar DBD

    Kenali Ciri-ciri, Siklus, dan Sebaran Nyamuk Aedes Aegypti Si Penyebar DBD

    7cloud.asia – Kasus demam berdarah dengue atau DBD di Indonesia melonjak tajam pada tahun 2024 ini.

    Menurut Kemenkes, sampai minggu ke 17 tahun 2024 terdapat 88.593 kasus DBD, sementara kematian akibat DBD tercatat sebanyak 621.

    Kasus DBD terlaporkan dari 456 kabupaten/kota di 34 provinsi, dan kematian akibat dengue terjadi di 174 kabupaten/kota di 28 provinsi.

    Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tri Ramadhani memaparkan, melonjaknya kasus DBD tidak bisa dilepaskan dari nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor.

    Bagaimana perilaku nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue penyebab penyakit DBD, seperti tempat bertelur, jarak terbang, waktu menggigit, dan tempat istirahat penting diketahui untuk mencegah penularan DBD.

    Nyamuk Aedes aegypti memiliki pola berbentuk garis putih yang berjumlah dua buah dipunggungnya dan terdapat pola garis-garis pendek berwarna putih yang cukup banyak. Inilah penyebab nyamuk ini terlihat memiliki motif belang-belang.

    Baca Juga: Cek Fakta Benarkah Perubahan Iklim Memicu Kenaikan Kasus DBD?

    Nyamuk Aedes aegypti memiliki adaptasi yang sangat tinggi, sehingga dia mampu berkembang di wilayah yang memang bukan wilayahnya.

    Ditandai dengan awal dia berkembang di hutan, menyebar sampai berkembang ke area perkotaan. Menyebar ke hampir seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan sub tropis.

    Sebaran nyamuk Aedes aegypti hampir di seluruh wilayah dunia, yang berawal dari hutan di Afrika dan menyebar ke Asia Tenggara.

    Nyamuk Aedes aegypti juga dapat hidup dan berkembang biak sampai ketinggian daerah ±1.000 m dari permukaan air laut.

    Sedangkan di atas ketinggian 1.000 m nyamuk ini tidak dapat berkembang biak, karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah.

    “Jarak terbang nyamuk ini sekitar 100 meter atau radiun 20 rumah. Menurut WHO, batas ketinggian penyebarannya di kawasan Asia Tenggara berkisar 1000 – 1500 m, sedangkan di Kolombia mencapai 2200 m di atas permukaan laut,” jelasnya pada webinar Nasional dengan tema Perkembangan Terkini Pengendalian Vektor Dengue di Indonesia, pekan lalu.

    Baca Juga: Dibutuhkan 5,4 Juta Lebih Telur Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia untuk Pengendalian DBD di Bandung

    Siklus hidup Aedes aegypti antara lain pertama saat dalam bentuk telur, maka telur tersebut diletakan di permukaan air dengan jumlah bervariasi 100-300 butir rata-rata 150, dengan ukuran 0.5 mm berwarna hitam.

    Frekuensi telur 2-3 hari sekali, setelah 1-2 hari telur akan menetas menjadi larva. Telur menempel pada dinding wadah seperti lem, dan dapat bertahan hidup dalam kekeringan hingga 8 bulan.

    Kedua, apabila setelah berbentuk larva, dia akan berganti kulit 4 kali. Kecepatan tumbuh meningkat dengan naiknya suhu dan tersedianya makanan cukup. Pengelupasan kulit pada tingkat (instar) ke IV merupakan awal pembentukan pupa.

    Waktu jentik menjadi pupa 5-7 bahkan sampai 15 hari, tergantung suhu, dan tersedianya makanan.

    Ketiga, bentuk pupa adalah stadium istirahat, dan tidak makan, kemudian terjadi proses pembentukan alat tubuh seperti alat kelamin, sayap, dan kaki.

    Tahap pupasi akan memerlukan waktu 1-2 hari. Pada umumnya nyamuk jantan menetas lebih dahulu daripada nyamuk betina.

    Keempat, nyamuk yang baru muncul dari pupa, beberapa saat tubuhnya akan mengeras dan mencari tempat istirahat.

    Baca Juga: Sebanyak 621 Orang Meninggal Akibat DBD, Terbanyak di Bandung

    Proses tersebut memakan waktu lebih kurang 10-15 menit kemudian terbang. Nyamuk betina kawin satu kali dalam hidupnya, setelah keluar dari kepompong.

    Umur nyamuk jantan pendek + 1 minggu, dan biasanya terbang di sekitar tempat perindukan. Sedangkan umur betina rata-rata 1-2 bulan.

    Makanan nyamuk betina adalah darah yang dibutuhkan untuk perkembangan telur, sedangkan Jantan memerlukan cairan buah atau tumbuh-tumbuhan.

    Menurut Tri, perilaku Aedes aegypti saat menghisap darah, nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2-3 hari sekali.

    Lebih banyak menggigit pada siang hari daripada malam hari, yaitu pukul 08.00-12.00 dan pukul 15.00-17.00.

    Posisi menghisap darah sejajar dengan permukaan kulit manusia, nyamuk betina sangat menyukai darah manusia (antropofilik). Untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering menggigit lebih dari satu orang.

    Baca Juga: Kasus DBD Meningkat di Jakarta, Masyarakat Diminta Disiplin Terapkan 3M Plus

    Resting habit atau kebiasaan beristirahatnya meliputi istirahat sebenarnya yaitu selama waktu menunggu proses perkembangan telur antara 2 sampai 3 hari.

    Istirahat sementara adalah pada waktu sebelum dan sesudah mencari darah.

    Tri menegaskan, Aedes aegypti suka beristirahat di tempat yang gelap, lembab dan tersembunyi di dalam rumah atau bangunan termasuk di kamar tidur, kamar mandi, maupun di dapur.

    Suhu yang disukai di lingkungan tersebut berkisar antara 150C – 400C dengan kelembaban berkisar 60 – 89%.

  • Perubahan Iklim Akibatkan Interval Puncak Peningkatan Kasus DBD Makin Pendek

    Perubahan Iklim Akibatkan Interval Puncak Peningkatan Kasus DBD Makin Pendek

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan, karena perubahan cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim interval puncak peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) makin pendek.

    Interval puncak peningkatan kasus DBD yang awalnya terjadi setiap 10 tahun sekali kian pendek, menjadi 5 tahun bahkan setiap 3 tahun.

    Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi mengatakan, di Indonesia DBD pertama ditemukan pada tahun 1968.

    Dahulu, ujarnya, peningkatan kasusnya setiap 10 tahun sekali, bersamaan dengan terjadinya El Nino.

    “Bahkan kalau di Jakarta itu tidak ada (intervalnya), setiap tahun pasti ada kasus demam berdarah. Jadi inilah yang saya kira perlu diwaspadai,” ujar Imran dalam ASEAN Dengue Day 2024 yang disiarkan di Jakarta, Kamis (27/6/2024).

    Baca: Perubahan iklim menyebabkan kenaikan kasus DBD

    Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG, kata dia, puncak musim kemarau adalah Juli dan Agustus.

    Oleh karena itu perlu waspada karena nyamuk Aedes aegypti yang menyebarkan penyakit itu menggigit 2,5 kali lebih sering saat suhu meningkat.

    “Apalagi nanti yang kami khawatirkan kalau hujannya seperti sekarang di Batam. Hujan sebentar cukup deras pada pagi hari, kemudian 3 hari atau seminggu nggak ada hujan lagi. Maka genangan-genangan air ini yang akan menjadi breeding places,” katanya.

    Menurutnya, perubahan iklim tidak dapat dicegah, namun yang terpenting adalah cara menghadapinya.

    Setiap ada puncak kasus itu, kata dia, ada intervensi sehingga kasusnya turun. Kemudian, katanya, kasus naik lagi, yang menandakan bahwa cara intervensi yang lama tidak lagi optimal. Oleh karena itu dia menilai perlunya upaya-upaya inovatif dalam mengatasi DBD.

    Baca: Mengenal vaksin DBD dan efektivitasnya

    Selain melakukan upaya pemberantasan nyamuk, menurutnya, pemerintah daerah (pemda) juga perlu melakukan evaluasi mulai dari ketepatan aktivitasnya, frekuensinya, sasarannya, bahkan sebersih apa tempat mereka dari jentik nyamuk guna memastikan efektivitas upaya-upaya tersebut.

    Imran mengatakan nyamuk adalah binatang paling ganas, karena menjadi binatang pembunuh nomor satu di dunia. Setiap tahun, nyamuk membunuh sekitar 1 juta orang di dunia.

    Di Indonesia, kata dia, angka kematian akibat DBD sejauh ini atau minggu ke-25 tahun 2024 adalah 869 kasus, sedangkan total kematian pada 2023 adalah 894 kasus.

    Adapun untuk kasus DBD, kata Imran, sejauh ini terdapat 146 ribu kasus pada 2024 dan pada 2023 terdapat sekitar 114 ribu kasus.

    Sementara itu sebaran kasus DBD terbanyak pada 2023 dan 2024 di wilayah padat penduduk, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, dan Bali.

    Sumber:Antaranews.com

  • Nyamuk Aedes Aegypti Berwolbachia Dilepas di Jakarta Mulai Oktober Ini

    Nyamuk Aedes Aegypti Berwolbachia Dilepas di Jakarta Mulai Oktober Ini

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melepas nyamuk aedes aegypti yang mengandung bakteri wolbachia, pada Oktober ini guna menguatkan program pengendalian demam berdarah dengue (DBD).

    “Per 4 Oktober nanti ketika kita melakukan rilis aedes aegypti berwolbachia pertama di Kecamatan Kembangan Jakarta Barat,” Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, Rabu (25/9/2024).

    Wolbachia adalah salah satu bakteri alami yang ditemukan pada beberapa serangga, termasuk nyamuk aedes aegypti.

    Kemampuannya menghambat reproduksi virus dengue dalam tubuh nyamuk membuatnya dinilai efektif dalam mencegah penyebaran penyakit seperti dengue, zika, demam kuning dan chikungunya.

    Ia menjelaskan, dengan pelepasan itu berarti, pemerintah punya satu inovasi lagi.

    “Mudah-mudahan ini akan lebih menguatkan program pengendalian DBD yang ada di Jakarta,” katanya.

    Ani juga menjelaskan, kegiatan itu dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) nomor 1341 tentang penyelenggaraan implementasi wolbachia sebagai inovasi penanggulangan dengue.

    Lebih lanjut Ani mengatakan, Jakarta Barat dipilih karena merupakan salah satu wilayah yang memiliki status kasus DBD tinggi dibandingkan dengan wilayah Jakarta lainnya.

    Menurut data, di Jakarta sendiri lonjakan kasus DBD yang cukup tinggi pada 2024 terjadi sekitar bulan Maret-Mei. Secara angka hingga September tahun ini, Jakarta sudah 12.000 lebih kasus DBD.

    Pada Maret saja, tercatat 2.200 kasus DBD, lalu melonjak di April jadi 3164 kasus dan mulai menurun pada Mei dengan 3019 kasus. Hingga saat ini, status kasus DBD pun terus menurun.

    Baca juga: Jakpus tunggu arahan Kemenkes-Dinkes soal nyamuk Wolbachia

    Khusus di Jakarta, Jakarta Barat tercatat telah terjadi 716 kasus, disusul Jakarta Selatan 576, Jakarta Timur 562, Jakarta Utara 262 kasus, Jakarta Pusat 172 dan Kepulauan seribu 18 kasus.

    Meskipun nantinya nyamuk tersebut sudah dilepaskan, Ani mengatakan kegiatan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dan 3M Plus tetap perlu dilakukan.

    “Sebenarnya teknologi wolbachia ini merupakan salah satu inovasi yang melengkapi strategi pengendalian yang sudah tertuang sebelumnya di dalam strategi nasional tentang pengendalian dengue,” kata Ani.

    Metode pelepasan
    Ani menjelaskan, telah disediakan sebanyak 800 orang tua asuh yakni rumah-rumah yang nantinya akan dititipkan ember berisi telur-telur nyamuk aedes aegypti berwolbachia.

    “Rencananya akan dilakukan di RW 7, Kelurahan Kembangan Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Sudah kami petakan. Setiap 50 kali 50 meter persegi pasti diletakkan satu ember,” kata Ani.

    Proses penetasan telur tersebut berjalan kurang lebih selama dua minggu. Setelah itu, nantinya para orang tua asuh akan diberikan ember berisi telur nyamuk berwolbachia kembali. Hal ini akan dilakukan terus menerus selama enam bulan.

    Pada 2025 ditargetkan pelepasan nyamuk aedes aegypti dilakukan di seluruh kecamatan Jakarta Barat.

    Ani mengatakan, indikator keberhasilan kegiatan itu adalah populasi nyamuk wolbachia minimal 60 persen dari populasi aedes aegypti yang ada di lingkungan tersebut.

    Kendati demikian, Ani mengatakan dampak keberhasilan program tersebut baru dapat dirasakan setelah dua tahun sebab proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang.

    Sumber:Antaranews.com

  • Riset: Perubahan Iklim Memicu Penyebaran Demam Berdarah atau DBD

    Riset: Perubahan Iklim Memicu Penyebaran Demam Berdarah atau DBD

    7cloud.asia – Para peneliti Amerika mengatakan, perubahan iklim bertanggung jawab atas hampir seperlima dari rekor jumlah kasus demam berdarah atau dengue (DBD) di seluruh dunia pada tahun ini.

    Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (16/11/2024) para peneliti ini terus berupaya menjelaskan bagaimana kenaikan suhu membantu menyebarkan DBD.

    Para peneliti telah berupaya untuk menunjukkan bagaimana perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia berkontribusi langsung terhadap peristiwa cuaca ekstrem seperti angin topan, kebakaran, kekeringan, dan banjir.

    Namun menghubungkan bagaimana pemanasan global dan perubahan iklim mempengaruhi kesehatan –seperti memicu wabah atau menyebarkan penyakit– masih merupakan bidang baru.

    “Demam berdarah (DBD) adalah penyakit pertama yang baik untuk dijadikan fokus karena sangat sensitif terhadap iklim,” kata Erin Mordecai, ahli ekologi penyakit menular di Universitas Stanford, kepada AFP.

     

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C 

    Demam berdarah dipicu virus, dan ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, menyebabkan demam dan nyeri tubuh serta, dalam beberapa kasus, dapat mematikan.

    Demam berdarah biasanya hanya terjadi di daerah tropis dan subtropis, tetapi peningkatan suhu global telah menyebabkan nyamuk merambah daerah baru dan membawa serta demam dengue.

    Untuk studi baru itu, yang belum ditelaah oleh rekan sejawat, tim peneliti Amerika mengamati bagaimana suhu yang lebih panas dikaitkan dengan infeksi demam berdarah di 21 negara di Asia dan Amerika.

    Rata-rata, sekitar 19 persen kasus demam berdarah saat ini di seluruh dunia “disebabkan oleh pemanasan iklim yang telah terjadi,” kata Mordecai, penulis senior untuk studi pra-cetak tersebut.

    Mordecai mengatakan suhu antara 20-29 derajat Celcius (68-84 derajat Fahrenheit) ideal untuk penyebaran demam berdarah.

    Baca: Perubahan iklim membahayakan masyarakat rentan

    Para peneliti menemukan bahwa daerah dataran tinggi di Peru, Meksiko, Bolivia, dan Brasil yang akan menghangat hingga kisaran suhu ini dapat mengalami peningkatan kasus demam dengue sebanyak 200 persen dalam 25 tahun ke depan.

    Analisis tersebut memperkirakan setidaknya 257 juta orang saat ini tinggal di wilayah di mana pemanasan global dapat melipatgandakan angka demam dengue selama periode tersebut.

    Bahaya ini hanyalah “alasan lain mengapa Anda harus peduli terhadap perubahan iklim,” kata Mordecai.

    Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), lebih dari 12,7 juta kasus demam berdarah dengue tercatat di seluruh dunia hingga September 2024, hampir dua kali lipat rekor total pada 2023.

    Namun Mordecai mengatakan, banyaknya laporan yang tidak dilaporkan berarti jumlah sebenarnya kemungkinan mendekati 100 juta.

    Penelitian ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Tropical Medicine and Hygiene di Kota New Orleans, negara bagian Louisiana, Amerika Serikat.

  • Kontroversi Penggunaan Bakteri Wolbachia untuk Mengatasi Kasus DBD Dengue

    Kontroversi Penggunaan Bakteri Wolbachia untuk Mengatasi Kasus DBD Dengue

    7cloud.asia – Perdebatan terkait penggunaan bakteri wolbachia untuk menekan kasus demam berdarah dengue (DBD) terus berulang di Indonesia. Sejumlah pihak menganggap teknik ini sebagai rekayasa genetika.

    Dilansir VOA Indonesia, pemanfaatan bakteri wolbachia untuk menekan penyebaran kasus DBD adalah murni terobosan ilmu pengetahuan.

    Bersikap positif, Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D, peneliti utama riset nyamuk ber-wolbachia di Indonesia menganggap pro-kontra yang terjadi justru diharapkan memperbaiki pemahaman masyarakat terkait teknologi ini.

    “Tidak ada rekayasa genetika. Wolbachia-nya tetap sama dengan wolbachia yang ada di inang aslinya, lalat buah. Nyamuknya juga tetap sama. Nyamuk Aedes aegypti yang ada wolbachia sama dengan nyamuk Aedes Aegypti yang ada di alam,” kata Adi Utarini.

    Adi Utarini sudah bergelut dengan riset nyamuk ber-wolbachia selama lebih 12 tahun. Hasilnya, secara perlahan diterapkan di lingkungan, khususnya di sejumlah desa di Yogyakarta.

    World Mosquito Program (WMP), program berskala dunia terkait nyamuk, melaporkan pada 2019, kasus DBD di lokasi di mana riset ini dilakukan, turun hingga lebih 77 persen.

    Baca: Nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia untuk pengendalian DBD di Bandung

    Adi Utarini terpilih menjadi satu dari 100 orang paling berpengaruh menurut majalah Times, pada 2021, berkat ketekunannya dalam riset ini. Tokoh dunia, dan lembaga-lembaga ternama termasuk Melinda Gates dan lembaga filantropinya, mengucapkan terimakasih untuk riset jangka panjang itu.

    Menjadi pertanyaan besar, ketika perdebatan terkait wolbachia di Indonesia justru terus muncul, sementara banyak negara lain mulai memanfaatkannya.

    Bukan Rekayasa Genetik
    Adi Utarini tegas menyebut, wolbachia bukan hasil rekayasa genetik. Ini adalah bakteri alami yang ada di alam, bahkan 60 persen spesies serangga memilikinya.

    Secara sederhana, para ahli bekerja untuk mengambil bakteri itu dari inang aslinya, misalnya lalat buah, dan kemudian memasukkannya ke badan nyamuk Aedes Aegypti.

    Ini adalah jenis nyamuk yang menyebarkan demam berdarah, karena ada virus dengue di dalam tubuhnya. Bakteri wolbachia ini akan “membunuh” virus dengue di dalam tubuh nyamuk.

    Kisah kuda troya, menyelundupkan pasukan untuk masuk ke benteng pertahanan musuh, bisa menjadi gambaran visual dari langkah ini.

    Baca: Perubahan iklim memicu penyebaran demam berdarah

    “Cara bekerjanya adalah, bakteri alami wolbachia ini ketika berada di tubuh nyamuk itu, dia dapat menghambat replikasi virus denguenya,” tambah Adi Utarini.

    “Dengan replikasi virusnya dihambat, maka ketika nyamuk menggigit manusia, itu tidak terjadi penularan virus dengue,” jelasnya lagi.

    Adi Utarini beserta tim riset, memasukkan bakteri wolbachia ke dalam tubuh nyamuk, dan kemudian menyebarkan nyamuk itu ke alam.

    Secara alami, nyamuk ber-wolbachia akan kawin dengan nyamuk Aedes Aegypti, dan proses penyebaran bakteri akan terjadi. Upaya ini, kata dia, bukan langkah membunuh nyamuk, tetapi menjadikan nyamuk Aedes Aegypti tidak mampu menularkan DBD ke manusia.

    “Jadi ini yang terus menerus harus disampaikan ke masyarkat, nyamuknya mungkin masih ada, sangat sulit untuk menghilangkan nyamuk, akan tetapi dengue-nya yang tidak ada,” kata dia.

    Pengendalian Vektor
    Karena DBD tidak dapat diatasi dengan obat atak vaksin, maka yang dikendalikan adalah faktor penyebarnya, dalam hal ini nyamuk Aedes Aegypti. Pendapat itu disampaikan dr. Eggi Arguni, M.Sc., Ph.D., Sp.A(K), peneliti di Pusat Kedokteran Tropis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

    “Inti dari kita bisa menanggulangi dengeu adalah pencegahan. Karena kita belum punya obat yang khusus untuk dengue, pencegahannya adalah dengan memberantas atau mengendalikan vektornya. Jadi vektornya adalah nyamuk Aedes aegypti itu,” paparnya.

    Baca: Pemanasan global hingga 2°C picu penularan penyakit

    Eggi menyebut istilah yang lebih tepat untuk DBD adalah infeksi dengue. Seseorang akan jatuh sakit setelah terinfeksi oleh nyamuk yang di dalam tubuhnya terdapat virus dengue. Virus itu masuk ke dalam tubuh manusia, dan berkembang biak.

    Masa inkubasi rata-rata adalah lima hingga tujuh hari hingga timbul gejala, seperti demam, kadang nyeri tulang, nyeri otot, pusing, mual, muntah dan nyeri perut. Dalam kasus lebih berat, lanjut Eggi, bisa terjadi tanda-tanda pendarahan.

    “Lebih berat lagi, akan timbul kebocoran plasma yang hebat, sampai terjadi shock dan kemudian bisa meninggal,” tambahnya.

    Eggi mengingatkan, infeksi dengue belum tersedia obatnya, bahkan sejak kasusnya mulai muncul pada era sekitar tahun 1940-an.

    Karena belum ada obat untuk mengatasi dampak buruk infeksi dengue, dibutuhkan strategi lain dalam meredam kasusnya. Pemanfaatan bakteri wolbachia, sejauh ini, dinilai cukup efektif.

    Risiko Sudah Dikaji
    Pemanfataan bakteri wolbachia untuk menekan kasus DBD diawasi banyak pihak, termasuk pemerintah. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Prof Dr Aryati dr MKes SpPK(K) menjadi bagian dari Tim Ahli Kajian Risiko Wolbachia, Kementerian Kesehatan sejak 2016.

    Baca: Pendidikan perubahan iklim bantu cegah penularan penyakit

    Dalam penjelasan resmi di laman Unair, Aryati mengatakan bahwa wolbachia merupakan bakteri Gram negatif yang secara alami ada pada serangga seperti kupu-kupu, lalat, dan lebah.

    “Tapi yang paling terkenal kandungan wolbachia ada di lalat buah drosophila melanogaster,” kata Aryati.

    Uniknya nyamuk Wolbachia ini menghasilkan siklus yang berbeda saat proses perkawinan. Nyamuk Wolbachia jantan yang kawin dengan yang betina tidak akan menghasilkan telur yang menetas.

    “Nyamuknya jadi mandul, tidak bisa menghasilkan keturunan,” tambahnya.

    Sementara nyamuk ber-wolbachia betina yang kawin dengan jantan, akan menghasilkan telur dengan gen wolbachia.

    “Bakterinya tidak mungkin pindah, karena bakteri hanya berada pada tubuh nyamuk saja. Kalau tergigit tidak akan menyebabkan manusia sakit,” kata Prof Aryati lagi.

  • Hingga Pertengahan November, Kasus DBD di Jakarta Selatan Capai 1.384

    Hingga Pertengahan November, Kasus DBD di Jakarta Selatan Capai 1.384

    7cloud.asia – Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Selatan telah menangani 1.384 kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak Januari hingga pertengahan November 2025.

    “Sampai pertengahan November ini, total kasus DBD di Jakarta Selatan tercatat 1.384,” kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Yudi Dimyati.

    Yudi mengatakan angka tersebut berasal dari laporan bulanan di 10 kecamatan, dengan pola fluktuatif sejak Januari 2025

    Menurut data Sudinkes Jaksel, kasus tertinggi terjadi pada Juli sebanyak 181 kasus, disusul Januari 169 kasus dan Februari 141 kasus.

    Baca: Kasus DBD Tinggi, Menkes Minta Warga Tidak Panik

    Kemudian, secara wilayah, lima kecamatan dengan kasus tertinggi sepanjang 2025 adalah Pancoran dengan 216 kasus, Jagakarsa 192 kasus, Mampang Prapatan 171 kasus, Pasar Minggu 160 kasus, dan Pesanggrahan 145 kasus.

    Dia mengatakan kasus DBD masih menjadi perhatian serius, meski beberapa bulan terakhir menunjukkan tren penurunan. “Kita terus memonitor dan memperkuat langkah pencegahan di seluruh kecamatan,” ucapnya.

    Upaya Suku Dinas Jakarta Selatan menangani DBD di wilayahnya, di antaranya memaksimalkan peran kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dua kali seminggu.

    Baca: Kasus DBD Naik Hampir 3 Kali Lipat

    Lalu, melakukan pengasapan atau fogging di lingkungan sekolah dan pemukiman warga, serta sosialisasi kepada warga tentang pencegahan DBD, termasuk juga praktek pembuatan perangkap nyamuk (flytrap) di sejumlah sekolah.

    Yudi juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala demam tinggi, nyeri otot, atau tanda-tanda yang mengarah pada DBD.

    Berdasarkan data yang dihimpun ANTARA, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menangani 9.362 kasus DBD hingga pertengahan November 2025. Jakarta Barat menjadi wilayah kasus DBD tertinggi di Jakarta dengan 2.676 kasus.

    Sumber: Antaranews