Tag: dbd

  • Guru Besar UI: Bakteri Wolbachia Tidak Menginfeksi Manusia

    Guru Besar UI: Bakteri Wolbachia Tidak Menginfeksi Manusia

    7cloud.asia – Guru Besar Ilmu Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) Prof Anom Bowolaksono menjelaskan bahwa bakteri Wolbachia tidak menginfeksi manusia.

    Menurutnya bakteri Wolbachia merupakan bakteri alami yang terdapat di dalam tubuh serangga, termasuk nyamuk.

    Penggunaan bakteri Wolbachia untuk menekan populasi nyamuk aedes aegepty, kata dia, telah diterapkan di beberapa negara, seperti Australia dan Singapura.

    Penggunaan bakteri Wolbachia terbukti efektif menekan laju kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan lewat gigitan nyamuk aedes aegepty.

    Baca: Bakteri wolbachia efektif turunkan kasus DBD

    Menurutnya, masalah bagi manusia adalah bagaimana menurunkan angka penderita DBD. Sampai saat ini penyakit DBD masih belum ada obatnya.

    “Maka dari itu salah satu alternatifnya adalah memutus rantai vektor dengan cara menekan populasi nyamuk pembawa virus Dengue,” katanya sebagaimana dikutip Antaranews.com.

    Untuk mengendalikan terjadinya wabah atau penyakit, menurutnya, maka harus dilihat dari jumlah vektor dan jumlah penderitanya.

    Jika jumlah vektornya turun, maka penyakit tidak akan tertular dengan baik dan berujung pada penurunan angka penyebaran.

    Baca: Penggunaan bakteri wolbachia turunkan kasus DBD di Yogyakarta

    Lebih lanjut Prof Anom mengatakan bahwa secara penelitian bakteri Wolbachia mampu mengurangi kapasitas nyamuk dengan menyasar pada jaringan reproduksi.

    Jika bakteri Wolbachia pada hewan jantan, maka akan membuat nyamuk jantan tersebut menjadi lebih feminin dan tidak bisa menghasilkan spermatozoa.

    Begitu pun pada hewan betina, Wolbachia akan menyerang jaringan reproduksi dan menyebabkan nyamuk betina tidak bisa bertelur.

    Nantinya, nyamuk menjadi tidak berkembang dan tidak mampu menularkan virus Dengue pada manusia yang terkena gigitan.

    Baca: Gerebek Jumantik, cara mudah mencegah penularan nyamuk

    Prof Anom juga menjelaskan nyamuk yang telah diinjeksi bakteri Wolbachia ini tidak ada kaitannya dengan penyakit radang otak atau Japanese encephalitis, seperti yang belakangan ini banyak menjadi perbincangan di media sosial.

    Ia mengatakan penyakit radang otak Japanese encephalitis memang disebarkan oleh nyamuk. Namun, nyamuk yang menyebarkannya atau sebagai vektornya adalah nyamuk Culex.

    Sedangkan yang diinfeksi bakteri Wolbachia di negara Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti.

    Sumber; Antaranews.com

     

  • Musim Hujan, Kasus DBD di Jakarta Selatan Meningkat Hingga 100 Persen Lebih

    Musim Hujan, Kasus DBD di Jakarta Selatan Meningkat Hingga 100 Persen Lebih

    7cloud.asia – Musim hujan telah tiba. Berbagai penyakit musiman pun tiba. Diantaranya Demam Berdarah dengue (DBD). Bahkan kasus DBD di wilayah Jakarta Selatan pada bulan Februari naik hingga 100 persen lebih.

    Menurut Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan (Sudinkes Jaksel), Yudi Dimyati kenaikan itu terjadi pada bulan Februari saat curah hujan di wilayah Jakarta Selatan tinggi.

    “Berdasarkan data ada 149 kasus DBD sepanjang Februari,” kata Yudi Dimyati seperti dikutip Antaranews.

    Menurut Yudi, jumlah ini melonjak jika dibandingkan pada Januari 2024. Kasus DBD di wilayah Jakarta Selatan saat itu mencapai 81 kasus.

    Baca: Musim hujan, orangtuaharus waspada penyakit

    Tetapi meski jumlah kasus DBD meningkat, tidak ada pasien yang sampai meninggal dunia. Semua pasien dapat ditangani dengan baik oleh rumah sakit.

    para pasien DBD umumnya mengalami gejala awal seperti demam tinggi. Karena itu sebelum dibawa ke rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya, dianjurkan untuk memperbanyak minum air putih.

    “Selain itu menurunkan panas dengan kompres dan obat penurun panas, makan makanan bergizi dalam jumlah lebih banyak,” katanya.

    Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menjelaskan hingga 19 Februari 2024, tercatat ada 627 kasus dengan indeks rasio DKI Jakarta sebanyak 5,57 per 100.000 penduduk.

    Menurutnya, berdasarkan tren data kasus mingguan 2024, tercatat sudah terjadi peningkatan kasus jika dibandingkan pada pekan awal Januari.

    Baca: Stunting jadi sorotan di Pilpres 2024

    Ketika memasuki pekan ke-9, saat itu data kasus menunjukkan peningkatan yang tajam mulai pekan ke-5, yaitu di awal Februari.

    “Kami mengimbau warga waspada dan menerapkan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M plus yaitu menguras, menutup, mendaur ulang plus kegiatan lain yang mencegah perkembangbiakan dan gigitan nyamuk aedes aegypti,” jelasnya.

    Berdasarkan data dari dinas kesehatan DKI Jakarta, kasus DBD di wilayah Jakarta Pusat sebanyak 34 kasus, Jakarta Utara sebanyak 74 kasus, Jakarta Barat sebanyak 208 kasus.

    Kasus tertinggi terjadi di wilayah Jakarta Timur yang mencapai 161 kasus dan Jakarta Selatan sebanyak 145 kasus. Kasus DBD terendah di wilayah Kepulauan Seribu sebanyak lima kasus.

    “Kami terus memantau perkembangan kasus DBD di setiap wilayah Jakarta. Sejauh ini, tidak tercatat kematian atas kasus tersebut,” ujarnya Ani.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Terapi Kombinasi Ramuan Daun Pepaya, Alternatif Baru Menangani Pasien DBD

    Terapi Kombinasi Ramuan Daun Pepaya, Alternatif Baru Menangani Pasien DBD

    7cloud.asia – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) mulai merebak pada musim hujan ini. Berbagai cara dilakukan untuk pengobatan penyakit DBD. Di antaranya terapi kombinasi dengan ramuan daun pepaya segar.

    Ramuan daun pepaya untuk pengobatan DBD ini diungkapkan oleh Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr (Cand.) dr Inggrid Tania, MSi.

    Menurutnya terapi dengan menggunakan daun pepaya seperti ini dapat mempercepat kenaikan trombosit pada pasien DBD.

    “Bisa diracik sendiri atau kalau enggak mau rasakan pahit, bisa minum ekstrak dalam kapsul yang bisa dibeli di apotek atau toko herbal,” jelas Inggrid seperti yang dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Inggrid menjelaskan pada manusia normal keping darah merah (trombosit) berkisar antara 150.000-400.000 per mikroliter.

    Baca: Kasus DBD di Jaksel meningkat hingga 100 persen lebih

    Tetapi virus demam berdarah dengue (DBD) bisa menurunkan jumlah trombosit hingga kurang dari 150.000 mikroliter.

    Hal ini menyebabkan pasien DBD mudah mengalami memar dan mengalami perdarahan yang sulit berhenti.

    Inggrid mengatakan sejumlah data penelitian baik itu in vitro atau prosedur eksperimen yang dilakukan di laboratorium, praklinis maupun uji klinis menunjukkan manfaat daun pepaya dalam meningkatkan kadar trombosit secara signifikan pada pasien DBD.

    Dia menjelaskan ramuan ini dapat dibuat sendiri dengan menyiapkan 50 gram daun pepaya dan sebisa mungkin daun pepaya muda.

    Kemudian iris kasar daun lalu tumbuk dengan air matang sebanyak 50 mililiter.

    Baca: Waspada penyakit yang sering terjadi di musim hujan

    “Idealnya ditumbuk karena tidak merusak serat, kandungan nutrisi dan senyawa aktif di dalamnya,” ujar Inggrid.

    setelah itu, saring dan peras daun. Bisa menambahkan madu 1,5 hingga 2 sendok teh madu ke dalam hasil perasan daun untuk mengurangi rasa pahit.

    Pasien DBD bisa meminum sebanyak sebanyak 30 ml ramuan daun pepaya sesudah makan, tiga kali sehari, hingga kondisinya pulih 100 persen.

    Daun pepaya mengandung enzim papain seperti halnya buah pepaya. Enzim ini bermanfaat untuk meningkatkan trombosit juga memperbaiki pencernaan dan nafsu makan, khususnya pasien DBD  agar lebih cepat pulih.

    Selain itu, daun ini juga mengandung sejumlah senyawa aktif seperti polifenol terutama flavanoid dan asam fenolik yang bersifat antioksidan sekaligus membantu meningkatkan imunitas tubuh.

    Baca: Musim hujan, waspada penyakit kulit

    Sebelumnya diberitakan kasus DBD khususnya di DKI Jakarta mengalami peningkatan di musi hujan seperti sekarang ini.

    Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan hingga 19 Februari 2024 mencatat sebanyak 627 kasus DBD dengan rasio indeks DKI Jakarta sebanyak 5,57 per 100.000 penduduk.

    Ani merinci data sebaran kasus DBD di wilayah DKI Jakarta, yakni Jakarta Pusat sebanyak 34 kasus, Jakarta Utara sebanyak 74 kasus, Jakarta Barat sebanyak 208 kasus, Jakarta Selatan sebanyak 145 kasus, Jakarta Timur sebanyak 161 kasus, dan Kepulauan Seribu sebanyak 5 kasus.

    Peningkatan ini terjadi karena kelembapan yang tinggi dan meningkatnya curah hujan, berpotensi pada peningkatan vektor penular DBD, yaitu nyamuk aedes aegypti.

    Baca: Vaksin untuk orang dewasa

    Karena itu diperlukan upaya pengendalian penyebab DBD secara masif dengan melibatkan peran serta seluruh aspek masyarakat pada tujuh tatanan.

    Yaitu permukiman, perkantoran, institusi pendidikan, tempat-tempat umum, tempat pengelolaan makanan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan fasilitas olahraga.

    Pihaknya juga telah menginstruksikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Jakarta untuk dapat melakukan deteksi dini dan tata laksana kasus DBD sesuai standar, serta menyiapkan ketersediaan ruang rawat dan logistik untuk perawatan pasien.

    “Seluruh fasilitas kesehatan di Jakarta siap melayani masyarakat jika tertular DBD,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Puncak DBD Diperkirakan April, Masyarakat Diimbau Bersihkan Rumah

    Puncak DBD Diperkirakan April, Masyarakat Diimbau Bersihkan Rumah

    7cloud.asia – Kasus demam berdarah dengue (DBD) saat ini meningkat. Diperkirakan akan mencapai puncaknya pada April mendatang. Karena itu, masyarakat diimbau mengantisipasi dengan membersihkan rumah.

    Imbauan untuk mengantisipasi puncak wabad DBD ini disampaikan oleh Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Tamansari, dr. Ngabila Salama seperti yang dilansir Antaranews.

    “Maka kita perkirakan (kasus DBD, red) April 2024 naik lagi. Untuk itu warga harus mulai bersiap-siap dengan membersihkan rumah dan lingkungan masing-masing,” katanya.

    Lebih jauh Ngabila menjelaskan masing-masing kelurahan seharusnya saat ini sudah mulai mengaktifkan kegiatan satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik).

    Baca: Alternatif pengobatan DBD dengan terapi daun pepaya

    Jumantik inilah yang nantinya memantau kegiatan memberantas sarang nyamuk dengan cara menguras, menutup, dan mengubur (3M).

    “Warga diharap juga melakukan langkah serupa minimal seminggu sekali setiap Jumat,” ujarnya.

    Selain itu, upaya lainnya adalah menanam tumbuhan pengusir nyamuk seperti lavender dan memelihara ikan pemakan jentik seperti jenis cupang.

    Masyarakat juga diimbau agar membiasakan perilaku hidup sehat dengan tidak membiasakan menggantung pakaian yang sudah dipakai.

    “Penelitian juga memperlihatkan nyamuk DBD aktif jam 8-10 pagi dan 16-18 malam. Akan lebih baik melakukan penyemprotan nyamuk atau menggunakan losion antinyamuk pada jam-jam tersebut,” jelasnya.

    Baca: kasus DBD di Jakarta Selatan naik hingga 100 persen lebih

    Tak hanya di pemukiman warga, pemberantasan sarang nyamuk juga perlu dilakukan di sembilan tatanan.

    Terdiri atas lingkungan masyarakat, permukiman dan fasilitas umum, satuan pendidikan, satuan pasar, pariwisata, tatanan transportasi dan tertib lalu lintas jalan.

    Tatanan lainnya di perkantoran dan perindustrian, perlindungan sosial, serta tatanan pencegahan dan penanggulangan bencana.

    Masyarakat juga diimbau untuk segera melakukan deteksi dini. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah keparahan hingga meninggal akibat DBD.

    “Deteksi dan pengobatan dini adalah kunci. Bawa ke puskesmas segera jika ada gejala DBD untuk cek darah lengkap dan pemeriksaan NS1 untuk deteksi cepat DBD, pemeriksaan ini gratis,” paparnya.

    Baca: Musim hujan, waspada penyakit kulit

    Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menjelaskan hingga 19 Februari 2024, tercatat ada 627 kasus dengan indeks rasio DKI Jakarta sebanyak 5,57 per 100.000 penduduk.

    Data dari dinas kesehatan DKI Jakarta, kasus DBD di wilayah Jakarta Pusat sebanyak 34 kasus, Jakarta Utara sebanyak 74 kasus, Jakarta Barat sebanyak 208 kasus.

    Kasus tertinggi terjadi di wilayah Jakarta Timur yang mencapai 161 kasus dan Jakarta Selatan sebanyak 145 kasus. Kasus DBD terendah di wilayah Kepulauan Seribu sebanyak lima kasus.

    Menurutnya, berdasarkan tren data kasus mingguan 2024, tercatat sudah terjadi peningkatan kasus jika dibandingkan pada pekan awal Januari.

    Ketika memasuki pekan ke-9, saat itu data kasus menunjukkan peningkatan yang tajam mulai pekan ke-5, yaitu di awal Februari.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kasus DBD Meningkat di Jakarta, Masyarakat Diminta Disiplin Terapkan 3M Plus

    Kasus DBD Meningkat di Jakarta, Masyarakat Diminta Disiplin Terapkan 3M Plus

    7cloud.asia – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di DKI Jakarta terus meningkat seiring dengan curah hujan yang tinggi di wilayah ini. Karena itu, masyarakat harus disiplin menerapkan perilaku 3M Plus.

    Melansir Detik.com, Pejabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono menjelaskan 3M Plus itu adalah menguras, menutup, mendaur ulang serta kegiatan mencegah perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.

    “Pertama, DBD tentunya puskesmas dan pak lurah berusaha untuk mengatasi ini. Masyarakat sendiri harus menerapkan 3M ya, mengatasinya salah satunya mengentas sarang nyamuk, membersihkan tempat tempat dari air yg tergenang,” jelas Heru Budi.

    Baca: Puncak DBD diperkirakan bulan April

    Selain itu Heru mengimbau agar orang tua waspada terhadap gigitan nyamuk aedes aegypti kepada anak-anaknya.

    Salah satunya dengan cara menjaga kebersihan atau memakaikan anaknya pakaian lengan panjang saat berada diluar rumah.

    “Tentunya anak-anak kita kalau keluar rumah bisa menggunakan pakaian lengan panjang dan menjaga kebersihan,” katanya.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta terjadi peningkatan kasus DBD hingga 19 Februari 2024, ada 627 kasus dengan indeks rasio DKI Jakarta sebanyak 5,57 per 100.000 penduduk.

    Baca: Terapi daun pepaya untuk pasien DBD

    Berdasarkan tren data kasus mingguan 2024, tercatat sudah terjadi peningkatan kasus jika dibandingkan pada pekan awal Januari.

    Ketika memasuki pekan ke-9, saat itu data kasus menunjukkan peningkatan yang tajam mulai pekan ke-5, yaitu di awal Februari.

    Data sebaran kasus DBD di wilayah DKI Jakarta, yakni Jakarta Pusat sebanyak 34 kasus, Jakarta Utara sebanyak 74 kasus, Jakarta Barat sebanyak 208 kasus.

     Di wilayah Jakarta Selatan sebanyak 145 kasus, Jakarta Timur sebanyak 161 kasus dan Kepulauan Seribu sebanyak 5 kasus.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kasus DBD di Tasikmalaya Capai 215, Satu Anak Meninggal

    Kasus DBD di Tasikmalaya Capai 215, Satu Anak Meninggal

    7cloud.asia – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat terus bertambah.

    Sejak Januari hingga 13 Maret 2024 jumlah kasus DBD tercatat 215 kasus. Satu diantaranya meninggal dunia.

    Melansir Detik.com, Kabid Layanan Kesehatan Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya, Iyen Nuryani mengatakan data kasus DBD berasal dari setiap puskesmas.

    Selanjutnya Iyen menjelaskan pasien yang meninggal tersebut adalah pasien anak berasal dari Rajapolah. Pasien tersebut terlambat mendapat penanganan karena dianggap sembuh.

    “Yang meninggal dunia merupakan warga Rajapolah, itu karena saat sakit akibat DBD ada penurunan suhu badan, sehingga dianggap sembuh padahal itu awal mulanya ada penurunan trombosit,” ungkap Iyen.

    Baca: Puncak DBD diperkirakan bulan April

    Berdasarkan data dari RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya menyebut sebanyak 14 pasien DBD yang tengah menjalani perawatan. Enam pasien di antaranya merupakan pasien anak.

    “Ada 8 pasien dewasa dan 6 pasien anak. Semua dirawat di RSUD SMC,” ujar dr Sudaryan, Kasie Pelayanan Medik RSUD SMC.

    Sementara kasus DBD di Propinsi Jawa Barat hingga 8 Maret 2024,tercatat 7.654 kasus.

    Daerah dengan kasus tertinggi adalah Kota Bogor 800 kasus, Kabupaten Bandung Barat 800 kasus dan  Subang 700 kaaus.

    Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jabar Vini Adiani Dewi, dari jumlah kasus tersebut, jumlah kematian sebanyak 71 kasus kematian.

    Baca: Kasus DBD di wilayah Jakarta Selatan meningkat hingga 100 persen

    Vini menjelaskan, perubahan cuaca menjadi faktor utama banyaknya nyamuk Aedes Aegypti yang menyebabkan DBD. Kalau tidak ada nyamuk itu, tidak akan menular.

    “Perkembangbiakan nyamuk juga didukung karena faktor lingkungan yang kurang baik,” jelas Vini.

    Karena itu, lanjut Vini, perlu dilakukan pencegahan dengan membuat lingkungan lebih bersih dan rapi, selain penanganan yang lainnya.

    “Tentu pencegahan dengan menabur serbuk abate, pengasapan, itu juga baik, tetapi yang utama adalah dengan 3M Plus. Masyarakat harus terus diedukasi untuk itu,” tegasnya.

    Baca: Pro kontra mencegah DBD dengan nyamuk berbakteri wolbachia 

    3M Plus itu menurut Vini selain menguras, menutup dan mendaur ulang, juga menanam ikan di kolam-kolam. 

    Masyarakat juga disarankan untuk menanam tumbuhan pengusir nyamuk seperti lavender, sereh dan lain-lain, atau menggunakan obat penangkal nyamuk di badan.

    Imbauan tersebut kata Vini sudah dibuat surat edarannya ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota sejak Desember 2023 lalu, untuk disebarluaskan kepada masyarakat.

    “Selain membuat surat edaran, Dinkes Jabar juga melakukan updating keilmuan untuk para dokter tentang perkembangan kasus demam berdarah, terkait tanda bahaya, ciri-ciri dan penanganannya,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Praktisi Kesehatan Sebut Ada Kaitan Antara Peningkatan Kasus DBD dengan Perubahan Cuaca

    Praktisi Kesehatan Sebut Ada Kaitan Antara Peningkatan Kasus DBD dengan Perubahan Cuaca

    7cloud.asia – Meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini tak terlepas dari adanya perubahan cuaca yang semakin ekstrem.

    Praktisi kesehatan masyarakat, Ngabila Salama menyoroti kasus DBD di Indonesia biasa naik per tiga tahun sekali seperti yang terjadi pada tahun 2016, 2019 dan 2022 lalu.

    Namun, pada tahun ini yang diprediksinya puncak DBD maju sedikit cepat, disebabkan oleh peralihan cuaca La Nina ke El Nino yang sedikit berbeda.

    “Saya melihat fenomena kasus dengue atau DBD biasanya mengalami kenaikan atau Kejadian Luar Biasa (KLB) karena berhubungan dengan cuaca atau iklim,” jelas Ngabila seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Satu anak meninggal di Tasikmalaya karena DBD

    Selanjutnya Staf Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan ini menjelaskan perlu masukan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta entomology (ahli nyamuk).

    Hal ini perlu dilakukan untuk mencari solusi dan bukti konkret adanya  pengaruh iklim dan cuaca terhadap pola perilaku nyamuk tertentu yang berubah dan mempengaruhi.

    “Kalau iklim selain kelembapan atau relative humidity (RH), juga punya peranan penting untuk naik turunnya kasus. Juga tetesan air hujan menjadi media utama untuk modal perkembangan nyamuk,” jelasnya.

    Sementara terkait dengan indikasi demam yang dicurigai dengue, dia menjelaskan jika kasus demam dengan trombositopenia yang diindikasikan terduga demam berdarah perlu dilakukan penapisan infeksi lain.

    Terutama adanya infeksi virus lain seperti influenzae, parainfluenzae, adenovirus, rinovirus, campak, rubella, HMFD, cikungunya hingga mumps (gondongan).

    Baca: Puncak BDB diperkirakan April

    “Perlu sampling pemeriksaan panel virus untuk surveilans aktif berbasis laboratorium dan pada kasus trombositopenia diperiksakan minimal NS1 sebagai pemeriksaan sederhana dengue, atau jika memungkinkan pemeriksaan IgM dan IgG dengue meski tidak dicover BPJS,” urainya.

    namun hal terpenting untuk mencegah sakit akibat penularan dengue adalah menjadikan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus di sembilan tatanan kota sehat sebagai sebuah rutinitas.

    “Jadi tidak hanya di rumah atau pemukiman. Misal di taman, di tanah kosong yang melakukan PSN petugas pertamanan dan kebersihan misalnya atau RT/RW terkait,” katanya.

    Selain itu mengadakan surveilans aktif berbasis masyarakat baik itu dari RT, RW, kader kesehatan dan jumantik kepada puskesmas.

    Baca: Kasus DBD di Jakarta meningkat

    Menurutnya, sistem rujukan dari puskesmas atau FKTP ke rumah sakit juga perlu ditingkatkan.

    “Yang terpenting juga laporan dari rumah sakit untuk kasus dengue penting disampaikan segera agar puskesmas dapat melakukan penyelidikan segera, dan jika dibutuhkan dilakukan fogging. Kemudian jika diperlukan audit medis pada beberapa kasus yang unik dari gejala rutin yang ditemukan dan audit kematian,” ucap Ngabila.

    Data dari Kementerian Kesehatan per 18 Maret 2024, total kasus DBD sudah mencapai angka 35.556 kasus.

    Ada lima propinsi yang menyumbang kasus terbanyak adalah Jawa Barat 10.428 kasus, Jawa Timur 3.638 kasus, Sulawesi Tenggara 2.763 kasus, Kalimantan Tengah 2.309 kasus, Kalimantan Selatan 2.068 kasus dan Lampung 1.761 kasus.

    Sementara kasus kematian yang diakibatkan oleh dengue pun sudah mencapai 290 kasus.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

     

  • Kasus DBD di Indonesia Naik Dua Kali Lipat pada Musim Hujan

    Kasus DBD di Indonesia Naik Dua Kali Lipat pada Musim Hujan

    7cloud.asia – Curah hujan yang tinggi menyebabkan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia meningkat hingga dua kali lipat .

    Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), peningkatan kasus DBD tersebut terjadi pada bulan Maret 2024 jika dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

    “Memang kalau kita bandingkan 2023 dengan 2024 terjadi peningkatan kasus dengue atau DBD yang tadinya 15 ribu kasus menjadi 35 ribu,” jelas Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi seperti yang dikutip Antaranews.

    Dari laporan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kemenkes, kenaikan kasus mulai terjadi sejak akhir Februari 2024 yang semula berkisar 15.977 kasus.

    Baca: Kasus DBD di Tasikmalaya tinggi, 1 orang meninggal

    Ada lima kabupaten/kota dengan kasus DBD tertinggi yaitu Tangerang, Bandung Barat, Kota Kendari, Subang, dan Lebak.

    Nadia mengatakan angka kasus saat ini kasus kematian akibat DBD juga meningkat. “Angka kematian juga meningkat, tapi memang tidak sebesar peningkatan kasus dengue,” ujarnya.

    Hingga pekan ke delapan tahun ini, sebanyak 124 pasien dengue atau DBD dilaporkan meninggal dunia.

    Menurut Nadia, kenaikan ini dipicu oleh berbagai faktor, diantaranya pemanasan global, termasuk El Nino yang belakangan ini melanda Indonesia.

    “Karena ada El Nino pergeseran dari musim kemarau yang memanjang menjadi musim hujan, makanya demam berdarah terjadi peningkatan,” terangnya.

    Baca: Puncak DBD diperkirakan bulan April

    Selain itu, cuaca panas juga menyebabkan siklus hidup nyamuk sejak dalam telur hingga dewasa tumbuh lebih cepat.

    Kondisi ini diperparah dengan curah hujan yang tinggi dan menyebabkan banyaknya genangan air di sejumlah tempat. Akibatnya nyamuk aedes aegypti bertelur dengan mudah.  

    Nadia memperkirakan kenaikan kasus dengue atau DBD masih akan terus berlangsung hingga masa puncak di April 2024.

    Karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk melakukan pengendalian dengue atau DBD di antaranya melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN), 3M plus, hingga gerakan satu rumah satu Jumantik.

    Selain itu masyarakat juga diimbau menanam tanaman pengusir nyamuk hingga memelihara ikan pemakan jentik nyamuk pada genangan air yang rawan pertumbuhan nyamuk.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kasus DBD Melonjak: Lima Daerah Menetapkan Status Kejadian Luar Biasa dan Banyak Pasien Tak Terlayani

    Kasus DBD Melonjak: Lima Daerah Menetapkan Status Kejadian Luar Biasa dan Banyak Pasien Tak Terlayani

    7cloud.asia – Pemerintah diminta mengerahkan sumber daya yang dimiliki untuk menangani lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) dalam dua bulan terakhir. 

    Saat ini, setidaknya, lima daerah di Indonesia telah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus DBD. Angka DBD secara nasional juga naik dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Kenaikan drastis angka kasus DBD ini juga diikuti dengan kenaikan angka kematian. Wakil Ketua Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati menyebut, pemerintah Pusat dan Daerah perlu memusatkan sumber daya untuk melakukan respons cepat dari hulu ke hilir.

    Mulai dari pencegahan hingga memastikan kesiapan fasilitas kesehatan ketika kasus DBD melonjak.

    “Semua tindakan pencegahan bukan hanya disosialisasikan tapi dilakukan bersama masyarakat semisal fogging, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), 3M Plus yang publik mungkin hanya mengenal 3 M saja,” ungkap Kurniasih dalam keterangan kepada Parlementaria, Senin (25/3/2024).

    Baca: Kasus DBD diperkirakan akan memuncak pada April

    Dia mendorong gerakan ini dilakukan langsung oleh kelurahan ke bawah yang langsung bersentuhan dengan masyarakat

    Mitigasi dari sisi tindakan di fasilitas kesehatan juga perlu diperhatikan dengan jaminan ketersediaan kamar perawatan.

    Hal itu mengingat fasilitas dan layanan kesehatan (Fasyankes) di wilayah KLB mungkin kerepotan dengan membludaknya pasien.

    “Apalagi kita juga menghadapi bencana di beberapa wilayah. Sehingga potensi fasilitas kesehatan harus semuanya siap dan siaga mengingat siklus DBD tidak satu dua hari tapi cukup lama. Jangan sampai ketika kondisi sudah darurat, fasilitas kesehatan keteteran,” terangnya. 

    Kurniasih berharap masyarakat juga meningkatkan kewaspadaan dengan merebaknya kasus DBD di berbagai daerah ini. 

    Baca: Kasus DBD di Jakarta Selatan meningkat 100 persen dibanding tahun lalu

    Melakukan gotong-royong minimal di rumah sendiri dengan memastikan gerakan PSN dan 3M Plus bisa dilakukan. 

     “Jangan segan-segan memeriksakan ke Fasyankes terdekat jika ada gejala-gejala, sebagai ikhtiar untuk mendeteksi dini gejala DBD dan bisa tepat sasaran dalam penanganannya,” urainya.

    Terpisah anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto menegaskan bahwa masyarakat miskin harus mendapatkan layanan kesehatan.

    Dia mengungkapkan kasus DBD di DKI Jakarta meningkat, namun layanan kesehatan terbatas, sehingga tak sedikit anggota masyarakat kesulitan mendapatkan fasilitas kesehatan.

    Banyak masyarakat yang kena demam berdarah, ujarnya, harus muter-muter nyari rumah sakit penuh, dia miskin tidak punya dana pake BPJS, kena demam berdarah, dia muter sampai tiga, empat rumah sakit penuh semua, akhirnya ada tidak mendapat perawatan.

    “Pertanyaan saya apa upaya pemerintah untuk menjamin ketika ada ledakan kasus seperti ini, jangan sampai masyarakat yang miskin ini tidak memperoleh tempat tidur di rumah sakit, terutama di Jakarta,” papar Edy di ruang rapat Komisi IX, Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (25/3/2024).

    Baca: Alternatif pengobatan DBD dengan ramuan daun pepaya

    Menurutnya pasien demam berdarah harus mendapatkan pelayanan kesehatan secara cepat dan tepat, jika tidak tertangani secara baik maka berakibat fatal. Bahkan dia mendapat aduan ada pasien yang tidak tertangani dengan secara semestinya.

    “Karena DBD ini masa urgennya hanya lima hari. Ketika lima hari ini tertolong ya sembuh, ketika tidak ya lewat,” jelas Edy.

    Politisi PDI-Perjuangan ini menyampaikan, DBD juga menyangkut soal lingkungan, dulu waktu tahun 80an dan 90an upaya pemberantasan yang melibatkan publik itu campainnya sedemikian kuat, sehingga ada gotong-royong masyarakat.

    “Dengan kemandirian mereka, lalu mereka membersihkan lingkungan, lalu sarang-sarang nyamuk menjadi minim,” ujar Edy.

    Dia juga mengatakan penyakit menular lainya di masyarakat, semua dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama lingkungan, layanan kesehatan baik yang primer atau yang berbasis pemberdayaan masyarakat.

    “Tadi saya dengar pak wamen menyampaikan peran serta masyarakat menurun,” ungkap Edy.

    Baca: Peningkatan kasus DBD terkait perubahan cuaca

  • Dibutuhkan 5,4 Juta Lebih Telur Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia untuk Pengendalian DBD di Bandung

    Dibutuhkan 5,4 Juta Lebih Telur Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia untuk Pengendalian DBD di Bandung

    7cloud.asia – Sebanyak 5,4 juta lebih telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia, per pekan dibutuhkan untuk uji coba pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bandung, Jawa Barat.

    Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Maxi Rein Rondonuwu menjelaskan kebutuhan telur nyamuk tersebut akan dikirim dari insektarium Universitas Gajah Mada atau Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga.

    Melansir Antaranews, Maxi mengungkapkan uji coba pengendalian DBD di Kota Bandung dilakukan karena kasus DBD di Kota Bandung merupakan kasus terbanyak di Indonesia.

    Baca: Satu anak meninggal dalam kasus DBD di Tasikmalaya

    “Tahun 2024 di pekan ke-10, kasus dengue terlaporkan sebanyak 27.852 kasus dan kematian sebanyak 250 kematian. Kota Bandung merupakan kota dengan kasus dengue tertinggi di Indonesia mencapai 1.301 kasus dan kematian yang cukup tinggi, tujuh kematian,” ungkapnya.

    Dalam pertemuan koordinasi pilot project teknologi Wolbachia dengan Pemkot Bandung, Senin (18/03/2024), disampaikan kebutuhan telur nyamuk ber-Wolbachia berdasarkan luas lahan Kota Bandung 129 kilometer persegi diperkirakan mencapai 5.410.000 telur per pekan.

    Selanjutnya Maxi menjelaskan dibutuhkan 20.782 titik penitipan ember yang menjadi sarang perkembangbiakan telur. Hal ini perlu dilakukan agar sebaran nyamuk ber-Wolbachia efektif.

    Baca: Kasus DBD di Jakarta Selatan naik hingga 100 persen lebih

    Selain itu, Kemenkes juga akan memanfaatkan citra satelit untuk memposisikan ember di lokasi yang tepat dengan merekrut masyarakat setempat sebagai orang tua asuh pelaksanaan uji coba nyamuk ber-Wolbachia.

    Sesuai panduan yang diterbitkan Peneliti Pusat Kedokteran Tropis UGM, metode pelepasan nyamuk ber-Wolbachia dilakukan menggunakan ember berisi air bersih yang tersimpan 250 hingga 300 telur nyamuk dengan angka penetasan telur sekitar 90 persen.

    Setiap ember diletakkan pada jarak 75 meter per segi. Jumlah ember berisi telur nyamuk minimal harus mencapai 10 persen dari populasi Aedes aegypti di daerah tersebut.

    Penyebarannya dilakukan sebanyak 12 kali. Satu kali penyebaran diasumsikan hanya 1 persen dari populasi nyamuk.

    Baca: Kasus DBD di Indonesia naik hingga 2 kali lipat

    Universitas Gajah Mada, Yayasan Tahija dan Monesh University bekerja sama melakukan inovasi Program penanggulangan dengue berteknologi nyamuk ber-Wolbachia selama kurang lebih 10 tahun.

    Wolbachia adalah bakteri alami, simbion yang umum ditemukan di hewan arthropoda, dengan mekanisme menghambat replikasi virus dengue yang diperankan oleh Wolbachia.
    Hasil penelitian tersebut mampu menurunkan 77 persen incidence rate (IR) dengue dan mengurangi risiko perawatan di rumah sakit sebesar 86 persen.

    Atas pertimbangan itu, Kemenkes mengadopsi teknologi Wolbachia dengan menerbitkan Kepmenkes Nomor 1341 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Teknologi Wolbachia di lima kota yaitu Semarang, Bontang, Jakarta Barat, Kupang, dan Kota Bandung.

    Reporter: Nurakhmayani