Tag: demensia

  • Kebiasaan Pagi yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia

    Kebiasaan Pagi yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia

    7cloud.asia – Penelitian terbaru menngungkap, risiko demensia tidak hanya dipengaruhi faktor usia, genetik, atau riwayat keluarga, tetapi juga kebiasaan sederhana yang dilakukan pada pagi hari.

    Dipantau dari laman Eating Well pada Jumat (22/5/2026), sejumlah ahli kesehatan otak menyebut rutinitas sebelum pukul 10 pagi dapat membantu menjaga kualitas tidur, hidrasi, aliran darah, suasana hati, hingga fokus yang berkaitan dengan kesehatan kognitif jangka panjang.

    Berikut empat kebiasaan pagi yang direkomendasikan para ahli untuk membantu menurunkan risiko demensia:

    Paparan cahaya matahari pagi
    Ahli saraf bersertifikat Dr. Jon Stewart Hao Dy mengatakan cahaya matahari pagi membantu mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh yang berperan dalam siklus tidur dan bangun.

    Menurut dia, paparan cahaya alami pada pagi hari membantu tubuh lebih waspada di siang hari dan lebih mudah beristirahat saat malam. Tidur yang berkualitas diketahui penting untuk proses memori, pembelajaran, dan pembersihan limbah metabolik di otak.

    Dy menyarankan orang menghabiskan waktu sekitar 10 hingga 20 menit di luar ruangan setelah bangun tidur, misalnya sambil minum kopi atau berjalan santai.

    Minum segelas air putih setelah bangun tidur
    Neuropsikolog klinis Wilfred G. van Gorp menjelaskan otak manusia terdiri dari sekitar 75 persen air sehingga dehidrasi dapat memengaruhi kecepatan berpikir dan daya ingat kerja.

    Ia mengutip studi kohort 2025 yang menemukan asupan cairan rendah berkaitan dengan peningkatan penumpukan amyloid-beta di otak, salah satu ciri penyakit Alzheimer.

    Minum air putih pada pagi hari dinilai membantu menjaga hidrasi, mendukung aliran darah, serta membantu konsentrasi dan fungsi memori sepanjang hari.

    Menghindari terlalu lama duduk dan menatap layar
    Para ahli menyarankan agar orang tidak langsung menghabiskan pagi dengan duduk di dalam ruangan sambil menatap layar ponsel atau komputer dalam cahaya redup.

    Van Gorp mengatakan aktivitas fisik membantu produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang berperan dalam pertumbuhan dan perbaikan sel saraf.

    Aktivitas ringan seperti berjalan kaki lima hingga 10 menit, peregangan, atau melakukan pekerjaan rumah dapat membantu meningkatkan energi, aliran darah, dan kejernihan mental.

    Merencanakan hal menyenangkan dalam sehari
    Anggota Medical, Scientific & Memory Screening Advisory Board Alzheimer’s Foundation of America Dr. Allison B. Reiss menyarankan orang memulai hari dengan merencanakan tiga hal yang dapat membawa rasa senang atau puas.

    Menurut dia, emosi positif berkaitan dengan kesehatan otak dan dapat membantu menurunkan stres yang selama ini dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif.

    Kegiatan tersebut juga membuat otak tetap aktif karena melibatkan proses pengambilan keputusan, memori, dan pola pikir fleksibel.

    Selain empat kebiasaan tersebut, para ahli juga menyarankan pola makan sehat, tidur cukup, serta tetap aktif secara sosial dan mental untuk membantu menjaga kesehatan otak.

  • Perempuan Lebih Berisiko Alami Demensia, Simak Cara Mencegahnya

    Perempuan Lebih Berisiko Alami Demensia, Simak Cara Mencegahnya

    7cloud.asia – Sejak lama para pakar menyebut, perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami demensia dibandingkan dengan laki-laki. Namun apa penyebabnya belum terungkap dengan jelas

    Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Biology of Sex Differences mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan perempuan lebih berisiko mengalami demensia.

    Menurut siaran Eating Well yang dilansir Rabu (27/5/2026), dalam penelitian itu para periset menganalisis data Health and Retirement Study dari 17.182 peserta berusia 40 tahun atau lebih di Amerika Serikat

    Peneliti fokus pada informasi yang dikumpulkan tahun 2008 dan hampir 60 persen di antaranya adalah perempuan.

    Tim peneliti menelaah 13 faktor kesehatan dan gaya hidup yang dapat diubah atau dikelola seperti depresi, kurang aktivitas fisik, diabetes, hipertensi, obesitas, gangguan tidur, kehilangan pendengaran, dan isolasi sosial.

    Peneliti kemudian membandingkan faktor-faktor tersebut dengan hasil tes kognitif peserta yang mengukur kemampuan mengingat dan berhitung sederhana.

    Baca: Cegah Demensia dengan Jalani Gaya Hidup Ini

    Hasil penelitian menunjukkan perempuan memiliki lebih banyak faktor risiko dibanding laki-laki, termasuk tingkat depresi, kurang aktivitas fisik, dan masalah tidur yang lebih tinggi.

    Meskipun laki-laki lebih mungkin mengalami gangguan pendengaran dan diabetes, keberadaan kondisi-kondisi ini mengakibatkan penurunan fungsi otak yang jauh lebih kuat pada perempuan yang mengalaminya.

    Masalah terkait kesehatan jantung dan metabolisme seperti tekanan darah tinggi serta indeks massa tubuh tinggi juga menunjukkan dampak negatif yang lebih tajam terhadap kemampuan berpikir perempuan.

    Para peneliti menyampaikan, hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko demensia tidak dapat ditangani dengan pendekatan yang sama pada semua orang.

    Hasil penelitian itu dinilai memiliki keterbatasan, dan para peneliti menekankan bahwa studi hanya menunjukkan hubungan keterkaitan, bukan sebab akibat langsung.

    Baca: Risiko Demensia Dapat Muncul Sejak Masa Kanak-kanak

    Kendati demikian, hasil penelitian menunjukkan pentingnya pendekatan kesehatan yang lebih personal berdasarkan jenis kelamin dan kondisi individu untuk menjaga kesehatan otak saat menua.

    Berdasarkan hasil penelitian itu, ada tiga langkah yang dinilai penting dilakukan oleh perempuan untuk menurunkan risiko penurunan fungsi kognitif.

    Pertama, menangani gangguan pendengaran sejak dini dengan menjalani pemeriksaan dan menggunakan alat bantu dengar bila direkomendasikan oleh tenaga kesehatan.

    Kedua, mengelola risiko diabetes dengan menjaga kadar gula darah. Ini bisa dilakukan dengan menerapkan pola makan tinggi serat, rutin berolahraga, dan tidur cukup.

    Ketiga, mengontrol tekanan darah dengan bantuan tenaga medis, rutin melakukan aktivitas fisik, serta menerapkan pola makan yang dapat membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.

  • Studi: Rutin Memasak Berkaitan dengan Penurunan Risiko Demensia pada Lansia

    7cloud.asia – Memasak ternyata berdampak bagus terhadap kesehatan mental, terutama jika hal ini dilakukan pada mereka yang berusia lanjut atau lansia.

    Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology & Community Health baru-baru ini, menemukan bahwa aktivitas memasak seminggu sekali dapat menurunkan risiko demensia pada lansia.

    Peneliti menilai temuan tersebut menunjukkan bahwa memasak di rumah dapat menjadi salah satu aktivitas sederhana yang mendukung kesehatan otak pada usia lanjut, selain memberikan manfaat dari sisi pola makan dan interaksi sosial.

    Dilansir laman Eating Well,, penelitian tersebut menganalisisi data lebih dari 10.000 warga Jepang berusia 65 tahun ke atas yang diikuti selama sekitar enam tahun dalam proyek Japan Gerontological Evaluation Study (JAGES).

    Para periset meneliti hubungan antara frekuensi memasak, kemampuan memasak, dan kejadian demensia pada peserta. Frekuensi memasak diukur berdasarkan seberapa sering peserta menyiapkan makanan sendiri, tidak termasuk makanan siap saji.

    Baca: Indonesia Masuki Fase Aging Population, Pemerintah Diminta Siapkan Sistem Perawatan untuk Lansia

    Selain itu, peneliti juga menilai keterampilan memasak melalui sejumlah kemampuan dasar, seperti mengupas buah, merebus sayuran, dan memanggang ikan.

    Selama masa pemantauan, peneliti menemukan bahwa peserta yang memasak setidaknya sekali dalam seminggu memiliki risiko mengalami demensia sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang memasak kurang dari sekali dalam seminggu.

    Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor lain, seperti usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan kondisi kesehatan awal peserta.

    Penelitian juga menemukan bahwa manfaat terbesar terlihat pada peserta dengan kemampuan memasak yang masih rendah.

    Pada kelompok ini, kebiasaan memasak setidaknya sekali seminggu menurunkan risiko demensia hingga 70 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan mereka yang jarang memasak.

    Baca: Indonesia Masuki Fase Aging Population, Ini Tantangannya

    Menurut peneliti, memasak merupakan aktivitas yang melibatkan berbagai fungsi sekaligus, mulai dari perencanaan, pengambilan keputusan, aktivitas fisik, hingga interaksi sosial.

    Kombinasi aktivitas tersebut diduga membantu menjaga fungsi otak tetap aktif seiring bertambahnya usia.

    Sementara itu, peserta yang telah memiliki keterampilan memasak tinggi sejak awal penelitian memang menunjukkan risiko demensia yang lebih rendah.

    Namun, peningkatan frekuensi memasak tidak memberikan manfaat tambahan yang signifikan pada kelompok tersebut.

    Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab akibat.

    Selain itu, penelitian dilakukan pada populasi lansia di Jepang sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama di negara lain dengan pola makan dan kebiasaan memasak yang berbeda.