Tag: demensia

  • Awas! Kebiasaan Begadang Bisa Memicu Kepikunan atau Demensia

    Awas! Kebiasaan Begadang Bisa Memicu Kepikunan atau Demensia

    7cloud.asia – Buat kamu yang punya kebiasaan begadang harus hati-hati. Pasalnya, kebiasaan begadang di usia muda dapat mempengaruhi fungsi metabolisme otak dan meningkatkan potensi demensia atau pikun.

    Kaitan kebiasaan begadang dan demensia ini diungkapkan Psikiater Klinik dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo, Gina Anindyajati dalam diskusi daring dengan tema ‘Membangun Keselarasan Dunia Kerja dengan Kehidupan Pribadi’ beberapa waktu lalu.

    “Akibatnya di masa yang akan datang seseorang yang kebiasaan tidur larut malam atau begadang akan berisiko mengalami gangguan fungsi kognitif yang terkenal dengan demensia atau pikun,” ucapnya.

    Gina menambahkan bahwa kebiasaan begadang akan menghambat otak yang seharusnya melakukan fungsi perbaikan di malam hari pada saat seseorang tidur.

    Baca:Waktu-tidur-ideal-dan-kapan-waktunya

    Selain itu, pada usia pekerja, kebiasaan begadang juga akan menimbulkan gangguan konsentrasi sehingga timbul masalah dalam menyelesaikan pekerjaannya.

    Kondisi ini dapat berujung pada perubahan suasana hati yang menjadi lebih sensitif terhadap sekitarnya.

    “Pada orang yang sulit tidur ada perubahan suasana perasaan lebih sensitif lebih mudah marah, toleransi sosialnya rendah, jadi alih-alih kerjaannya cepat selesai malah tambah ruwet dan jadi tekanan baru,” ucap Gina.

    Tak hanya itu, kebiasaan tidur malam yang dibarengi dengan konsumsi makanan cepat saji atau makanan instan juga dapat menyebabkan masalah Kesehatan yang mengintai di kemudian hari.

    Baca:Yuk, kenali-penyebab-kurang-tidur-dan-gangguan-kualitas-tidur

    Saat mengonsumsi makanan cepat saji yang asin atau manis sambil bekerja larut malam, menyebabkan penumpukan lemak karena kurangnya aktifitas fisik yang dilakukan.

    Akibatnya akan muncul risiko kesehatan seperti risiko stroke, penyakit jantung dan pernapasan, gangguan metabolisme lain seperti tekanan darah tinggi dan berat badan berlebih atau obesitas.

    “Sebetulnya tidur yang cukup adalah investasi di masa muda untuk masa tua yang tetap fit dan bugar dan bisa bekerja kalau perlu bekerja di masa tua,” ucapnya.

    Ia menyebutkan dalam konferensi yang dilakukan di Inggris mengenai perubahan di masyarakat ternyata mempengaruhi status kesehatan fisik seseorang.

    Baca:Menata-kamar-tidur-berdasar-feng-shui

    Peradaban manusia yang berubah dari waktu ke waktu mempengaruhi penyakit pada manusia di zaman sekarang.

    Gina menambahkan, kondisi fisik dipengaruhi oleh berbagai hal seperti orang-orang yang kurang aktifitas fisik, makan makanan cepat saji dan minum alkohol, tidurnya larut malam,

    “Ini adalah contoh kebiasaan sederhana yang mungkin kita lakukan sehari-hari dan akhirnya berdampak pada kondisi kesehatan,” ucapnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Sama-sama Menyerang Lansia, Berikut Perbedaan Penyakit Alzheimer dan Demensia

    Sama-sama Menyerang Lansia, Berikut Perbedaan Penyakit Alzheimer dan Demensia

    7cloud.asia – Penyakit Alzheimer dan demensia merupakan dua jenis penyakit degeneratif pada lansia yang membuat penderitanya mengalami gejala penurunan daya ingat, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir, hingga perubahan perilaku.

    Gejala-gejala yang hampir sama tersebut membuat demensia dan Alzheimer sulit untuk dibedakan, terutama bagi orang awam.  

    Perlu diketahui bahwa demensia bukanlah sebuah penyakit tunggal, melainkan istilah untuk kumpulan gejala yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi aktivitas sehari-hari penderitanya.

    Demensia merupakan istilah umum, menggambarkan gejala yang terjadi ketika otak dipengaruhi oleh penyakit atau kondisi tertentu.

    Lansia dengan demensia akan menurun kemampuannya dalam berkomunikasi, berpikir, bersosialisasi, dan daya ingat.

    Sementara itu, Alzheimer adalah salah satu jenis demensia yang paling umum. Alzheimer adalah gangguan yang memengaruhi fungsi kognitif, di mana penderitanya dapat mengalami masalah pada ingatan, perilaku, dan kemampuan dalam berpikir. 

    Baca: Gejala depresi terselubung pada lansia

    Dilansir alzi.or.id, demensia terjadi ketika otak mengalami kerusakan karena penyakit, seperti penyakit Alzheimer atau pun serangkaian stroke.

    Ada berbagai jenis demensia, meskipun ada beberapa yang lebih umum daripada yang lain karena sering dinamai sesuai dengan kondisi yang telah menyebabkan demensia tersebut.

    Penyakit Alzheimer menjadi penyebab paling umum dari demensia. Selama sakit berlangsung, zat kimia dan struktur otak berubah sehingga menyebabkan kematian sel-sel otak.

    Penyakit Alzheimer, pertama kali dijelaskan oleh ahli saraf Jerman, yaitu Alois Alzheimer, merupakan penyakit fisik yang mempengaruhi otak. Selama berjalannya waktu penyakit protein plak dan serat yang berbelit berkembang dalam struktur otak yang menyebabkan kematian sel-sel otak.

    Orang dengan Alzheimer juga memiliki kekurangan beberapa bahan kimia penting dalam otak mereka. Bahan kimia ini terlibat dengan pengiriman pesan dalam otak.

    Alzheimer adalah penyakit progresif, yang berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu dan menyebabkan lebih banyak bagian otak yang rusak. Karena itulah gejala yang muncul menjadi lebih parah.

    Baca: Kebiasaan mereka yang mencapai sukses saat Lansia

    Mild Cognitive Impairment (MCI)
    Baru-baru ini beberapa dokter telah mulai menggunakan istilah Mild Cognitive Impairment (MCI) yaitu kerusakan kognitif ringan ketika seseorang memiliki kesulitan mengingat hal-hal atau berpikir jernih tetapi gejalanya tidak cukup berat untuk mengarah ke diagnosis penyakit Alzheimer.

    Penelitian terbaru menunjukan bahwa orang dengan MCI memiliki peningkatan risiko untuk berkembang ke penyakit Alzheimer.

    Namun, peningkatan dari MCI ke Alzheimer rendah (sekitar 10 hingga 20 persen setiap tahun) dan akibatnya diagnosis MCI tidak selalu berarti bahwa orang tersebut akan terus berkembang menjadi Alzheimer.

    Tahapan Alzheimer
    Semua jenis demensia bergerak secara progresif. Ini berarti bahwa struktur kimia otak menjadi semakin rusak dari waktu ke waktu. Kemampuan seseorang untuk mengingat, memahami, berkomunikasi dan berpikir secara bertahap pun menurun.

    Seberapa cepat perkembangan demensia tergantung pada masing-masing individu. Setiap orang unik dan mengalami demensia dengan cara mereka sendiri.

    Bagaimana seseorang mengalami demensia tergantung pada banyak faktor, termasuk kondisi fisik, ketahanan emosional dan dukungan bagi mereka.

    Baca: Manfaat bekerja pada kelompok lansia

    Melihat demensia sebagai serangkaian tahapan, dapat menjadi cara yang berguna untuk memahami suatu penyakit tetapi penting untuk menyadari bahwa cara ini hanya memberikan panduan kasar di dalam melihat perkembangan kondisi.

    Penyebab Alzheimer
    Sejauh ini, tidak ada satu faktor utama yang telah diidentifikasi sebagai penyebab penyakit Alzheimer.

    Sangat mungkin bahwa kombinasi beberapa faktor mempengaruhi seperti usia, pembawaan genetik, faktor lingkungan, gaya hidup dan kesehatan umum. Pada beberapa orang, penyakit ini dapat berkembang diam-diam selama bertahun-tahun sampai gejalanya muncul.

    1. Usia
    Usia merupakan faktor risiko terbesar untuk demensia. Demensia mempengaruhi satu dari 14 orang di atas usia 65 tahun dan satu dari enam di atas usia 80 tahun.

    2. Faktor genetik
    Kita tahu bahwa ada beberapa keluarga yang jelas mempunyai pembawaan penyakit dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam keluarga, hal ini sering terjadi dimana penyakit muncul relatif lebih awal.

    Dalam sebagian besar kasus, pengaruh gen penyakit Alzheimer yang diwariskan oleh orang tua tampaknya kecil.

    Jika orang tua atau anggota keluarga lain cenderung terkena Alzheimer, kemungkinan terserang Alzheimer yang hanya sedikit lebih tinggi daripada orang yang tidak memiliki kasus Alzheimer pada keluarga dekatnya.

    Baca: Indonesia masuki era Aging Population

    3. Faktor lingkungan
    Faktor lingkungan yang dapat berkontribusi pada timbulnya penyakit Alzheimer masih harus diidentifikasi.

    Beberapa tahun yang lalu, ada kekhawatiran bahwa paparan aluminium dapat menyebabkan penyakit Alzheimer. Namun, ketakutan ini sebagian besar telah diabaikan.

    4. Faktor lain
    Dapat dikarenakan oleh perbedaan kromosom, orang dengan down sindrome memiliki peningkatan risiko berkembangnya penyakit Alzheimer.

    Orang yang memiliki cedera kepala berat atau leher (whiplash injuries) juga memiliki peningkatan risiko mengalami perkembangan demensia. Petinju yang menerima pukulan terus menerus di kepala juga memiliki risiko tersebut.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang merokok, memiliki tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi atau diabetes memiliki peningkatan risiko perkembangan penyakit Alzheimer.

    Risiko Alzheimer dapat dikurangi dengan tidak merokok, makan diet seimbang yang sehat dan melakukan pemeriksaan tekanan darah serta kolesterol secara rutin di usia pertengahan.

    Menjaga berat badan dan gaya hidup sehat serta menggabungkan kegiatan mental dan sosial juga akan membantu.

  • Hindari Tiga Jenis Minuman Ini Karena Bisa Memicu Demensia

    Hindari Tiga Jenis Minuman Ini Karena Bisa Memicu Demensia

    7cloud.asia – Penyakit regeneratif macam demensia dan alzheimer ternyata tak hanya dipengaruhi usia. Gaya hidup dan pola makan juga bisa memicu alzheimer.

    Ahli syaraf terkemuka yang mengkhususkan diri pada pencegahan alzheimer, Robert Love mengemukakan perlunya mewaspadai jenis-jenis minuman yang berpeluang meningkatkan risiko demensia.

    Dalam sebuah unggahan video di Instagram, peneliti demensia asal Amerika Serikat itu menyebut daftar tiga minuman populer yang berpeluang meningkatkan risiko demensia.

    Sebagaimana dikutip dalam siaran Medical Daily pada Kamis (30/1/2025), Love mengatakan bahwa minuman beralkohol menempati posisi teratas sebagai minuman yang bisa memicu demensia.

    Baca: Begadang meningkatkan risiko kepikunan atau demensia

    Ahli demensia yang berbasis di Florida itu mengatakan bahwa alkohol bersifat neurotoksik, bisa merusak dan membunuh neuron, serta buruk bagi bakteri usus.

    “Itu sangat penting karena apa yang baik untuk usus Anda juga baik untuk otak. Jadi, dengan merusak bakteri usus Anda, itu buruk bagi otak,” katanya.

    Selain berdampak buruk terhadap kesehatan otak dan memori, alkohol menimbulkan risiko lain termasuk kerusakan hati, gangguan tidur, dan peradangan.

    Love menyebut, bir sebagai pilihan minuman terburuk bagi kesehatan otak karena mengandung gluten, yang memiliki sifat inflamasi. Bir juga dapat meningkatkan asam urat, yang meningkatkan penyimpanan lemak perut.

    Baca: Kenali perbedaan alzheimer dan demensia

    Jenis minuman lain yang perlu dikurangi atau bahkan dihindari karena bisa menimbulkan dampak buruk pada kesehatan otak, menurut Love, adalah minuman bersoda.

    Minuman bersoda punya kandungan gula tinggi tinggi dan kadar serat rendah, berisiko menyebabkan lonjakan kadar gula darah dan insulin yang bisa memicu peradangan, salah satu faktor risiko utama alzheimer.​​​​​​​

    Frappuccino berukuran besar yang populer di kedai-kedai kopi, menurut Love, juga sebaiknya dihindari karena kandungan gula dan kafeinnya tinggi.

    Ia mengatakan, kombinasi kadar gula dan kafein tinggi bisa menstimulasi tubuh secara berlebihan sehingga berpotensi membahayakan jantung, pembuluh darah, dan otak.

    “Sebaliknya, cobalah kopi hitam atau matcha. Itu bagus untuk otak, pastikan anda mendapatkan kopi organik karena kopi konvensional dapat mengandung pestisida, dan pestisida dapat merusak otak,” katanya.

  • Enam Cara Sederhana Mencegah Demensia

    Enam Cara Sederhana Mencegah Demensia

    7cloud.asia – Demensia, gangguan kesehatan berupa berkurangnya kemampuan berpikir dan mengingat, bukanlah konsekuensi proses penuaan yang tak bisa dihindari.

    Sekitar 40 persen kasus demensia diperkirakan dapat dicegah–-atau setidaknya diperlambat kejadiannya–-dengan mengubah gaya hidup tertentu.

    Aktivitas ini bisa kamu lakukan dengan menjadi proaktif dan konsisten sejak dini dalam mengatasi 12 faktor risiko terkait penyebab terbesar demensia, termasuk konsumsi alkohol berlebih hingga cedera otak traumatis.

    Fokus mengatasi faktor risiko penyebab demensia dapat meningkatkan kesehatan otak dan kesejahteraan hidup secara menyeluruh, termasuk mengurangi risiko mengalami demensia di kemudian hari.

    Cara menjaga kesehatan otak
    Agar kesehatan otak tetap terjaga, berikut enam gaya hidup yang sangat penting untuk kamu lakukan di usia muda, terutama 20-30an:

    1. Konsumsi nutrisi yang baik untuk otak
    Bobot otak hanya mewakili 2 persen dari berat tubuh, tetapi aktivitasnya bisa menguras 20 persen pasokan energi harian. Karena itu, asupan nutrisi yang baik sangat krusial untuk kesehatan otak.

    Pola makan sehat membantu menjaga berat badan ideal, termasuk mengurangi risiko obesitas dan diabetes–keduanya dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 1 persen.

    Selain itu, menjaga pola makan sehat bermanfaat dalam mencegah tekanan darah tinggi (hipertensi) yang dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 2 persen.

    Salah satu pola makan sehat terbaik untuk mendukung kesehatan otak adalah diet Mediterania. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diet Mediterania dikaitkan dengan peningkatan fungsi otak yang lebih baik dan penurunan risiko demensia.

    Jadi, jika kamu ingin menjaga kesehatan otak, lakukan diet Mediterania dengan mengonsumsi banyak biji-bijian utuh, sayur-sayuran, buah-buahan (terutama beri), kacang-kacangan (seperti buncis), dan ikan berminyak. Sebaliknya, batasi konsumsi kue kering, permen, makanan yang digoreng, dan keju.

    Bagi kebanyakan orang, fokus memperbaiki pola makan dapat memberikan manfaat positif untuk kesehatan otak, dibandingkan dengan mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral–kecuali kamu mengalami kekurangan nutrisi (malnutrisi).

    Baca: Tiga jenis minuman ini dapat memicu demensia

    2. Minum air putih yang cukup
    Sekitar 60 persen tubuh kamu terdiri dari air. Karena itu, sangat penting untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi guna mendukung fungsi otak maupun kesejahteraan tubuh secara menyeluruh.

    Pasalnya, kehilangan cairan tubuh (dehidrasi) dapat memengaruhi kemampuan fisik dan mental dalam banyak hal–termasuk meningkatkan rasa lelah dan mengurangi efisiensi kerja otak.

    Dehidrasi dapat berdampak pada daya ingat, perhatian, konsentrasi, dan kecepatan reaksi otak.

    Cegah dampak buruk dehidrasi tersebut dengan mencukupi kebutuhan air agar otak bekerja dengan optimal dan mengurangi risiko penurunan fungsi otak secara drastis.

    3. Batasi minum alkohol
    Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko demensia sebesar 1 persen.

    Selain berdampak buruk terhadap fungsi otak, alkohol juga bisa mengubah struktur otak. Studi mengungkapkan bahwa kebiasaan minum alkohol berkaitan dengan kerusakan neuron (sel pengirim sinyal ke seluruh otak), berkurangnya materi putih (jaringan serabut saraf yang mendukung komunikasi antarbagian otak), serta penyusutan otak. Sederet perubahan ini memengaruhi kinerja otak.

    Kebiasaan mengonsumsi lebih dari 21 unit alkohol per pekan dikaitkan dengan peningkatan risiko terkena demensia. Satu unit alkohol setara dengan 10 ml atau 8 gram alkohol murni.

    Konsumsi alkohol juga berisiko meningkatkan beberapa jenis penyakit, seperti kanker (di mulut, tenggorokan, dan payudara), stroke, dan jantung.

    Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris menyarankan batas aman seseorang mengonsumsi alkohol, yaitu tidak lebih dari 14 unit per minggu.

    Baca: Perbedaan alzheimer dan demensia

    4. Jalani gaya hidup aktif
    Olahraga memberikan banyak manfaat bagi otak. Kegiatan ini meningkatkan aliran darah ke otak sehingga fungsinya menjadi lebih baik, mengurangi peradangan otak, serta meningkatkan aktivitas maupun volume otak yang mendorong kinerjanya jadi lebih efisien.

    Semua perubahan tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan otak dalam jangka panjang, termasuk melindungi dari risiko penurunan kemampuan kognitif.

    Untuk memperoleh manfaat kesehatan otak, setidaknya kamu harus berolahraga intensitas sedang selama 150 menit per pekan atau menjalani olahraga intensitas tinggi selama 75 menit per pekan–kamu juga bisa mengombinasikan keduanya.

    Di luar itu, penelitian menunjukkan kebiasaan berjalan kaki sebanyak 7.500 langkah per hari bermanfaat untuk meningkatkan volume otak.

    5. Rajin bersosialisasi
    Kebiasaan menyendiri dan merasakan kesepian memiliki keterkaitan dengan peningkatan risiko terkena depresi dan penurunan kemampuan kognitif.

    Menurut penelitian, rutin menjalin hubungan sosial yang baik–seperti hidup bersama orang lain, terlibat kegiatan mingguan bersama kelompok masyarakat serta bertemu dengan keluarga dan teman setiap pekan–dapat memperlambat penurunan kemampuan kognitif.

    Selain itu, bersosialisasi dapat merangsang perhatian dan ingatan serta memperkuat jaringan otak kamu.

    Terlibat dalam acara komunitas setempat, menjadi sukarelawan, maupun rutin nongkrong bareng teman saban pekan merupakan cara yang baik untuk menjaga kesehatan otak.

    6. Terus belajar
    Kendati sudah bertahun-tahun menamatkan sekolah, kamu tidak boleh berhenti belajar karena belajar bermanfaat melindungi otak. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang selalu belajar sepanjang hidupnya berisiko 7 persen lebih kecil mengalami demensia.

    Sejumlah aktivitas terbaik yang bisa kamu lakukan untuk menjaga kesehatan otak melingkupi belajar bahasa baru, mencoba olahraga baru, bermain alat musik serta menyusun puzzle.

    Hal lain yang perlu dilakukan
    Selain melakukan gaya hidup di atas, kamu juga bisa mengurangi risiko demensia, dengan menggunakan alat bantu dengar apabila mengalami gangguan pendengaran, menghindari kegiatan yang dapat menyebabkan cedera otak traumatis, serta memiliki kebiasaan tidur setidaknya selama 6-8 jam.

    Otak merupakan salah satu organ tubuh terpenting yang kamu miliki. Dengan merawat kesehatannya sejak usia muda, kamu memastikan otak tetap berfungsi dengan baik seiring berkembangnya usia.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Jitka Vseteckova (Senior Lecturer Health and Social Care, The Open University) dan Corrina Grimes (Atlantic Fellow, Global Brain Health Institute, Trinity College Dublin)

     

  • Studi Mengungkap Hipertensi Memengaruhi Risiko Demensia

    Studi Mengungkap Hipertensi Memengaruhi Risiko Demensia

    7cloud.asia – Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine, mengungkapkan hipertensi atau tekanan darah tinggi bisa memengaruhi risiko seseorang terkena demensia ketika usia tua.

    Dilansir dari laman Medical Daily, Jumat (25/4/2025) studi itu melibatkan 34.000 orang dewasa berusia di atas 40 tahun dari berbagai desa di China.

    Dalam studi yang berlangsung selama lebih empat tahun itu peneliti menemukan hubungan antara hipertensi (tekanan darah tinggi) yang tidak diobati dengan demensia.

    Peserta dengan hipertensi yang tidak diobati ditemukan memiliki risiko 42 persen lebih tinggi seumur hidup mengalami demensia dibandingkan mereka yang tidak.

    Untuk mengetahui apakah intervensi dapat memberikan dampak, peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok.

    Baca: Enam cara sederhana mencegah demensia

    Kelompok pertama terdiri dari 17.000 pasien yang mendapat obat hipertensi dengan dukungan yang disesuaikan dengan masing-masing orang, seperti pelatihan memantau tekanan darah di rumah, kebiasaan hidup sehat dengan mengurangi asupan natrium dan alkohol, serta konsistensi menjalani perawatan.

    Kelompok kedua mendapatkan perawatan standar, pelatihan dasar dan pemeriksaan klinis.

    Setelah tindak lanjut selama empat tahun, mereka yang berada dalam kelompok intervensi tidak hanya mengalami kontrol tekanan darah lebih baik, tetapi, juga mengalami risiko penurunan kognitif yang jauh lebih rendah.

    Risiko terkena demensia menurun hingga 15 persen, dan kemungkinan gangguan kognitif menurun hingga 16 persen.

    Mengomentari studi tersebut, Direktur Muda Riset dan Inovasi Alzheimer Society Dr. Richard Oakley menyambut baik penelitian tersebut dan menyambutnya sebagai sebuah langkah maju.

    Baca: Perbedaan penyakit Alzheimer dan demensia

    “Kami akan sangat antusias untuk melihat penelitian lebih lanjut yang memberikan informasi lebih lanjut tentang dampak pengendalian tekanan darah dalam jangka panjang dan pada populasi lain,” ujar Oakley.

    Direktur Riset di British Heart Foundation Profesor James Leiper, mengatakan penting untuk melihat apakah penurunan risiko berlanjut lebih lama dari periode tindak lanjut empat tahun dalam penelitian ini.

    Selain itu juga perlu diteliti apakah efek serupa terlihat pada populasi lain yang menerima perawatan yang sama.

    “Jika demikian, penggunaan perawatan tekanan darah tinggi yang lebih luas pada orang dengan kondisi tersebut dapat direkomendasikan untuk melawan dampak demensia yang semakin meningkat,” kata Leiper.

  • Sering Lupa Belum Tentu Pertanda Demensia

    Sering Lupa Belum Tentu Pertanda Demensia

    7cloud.asia – Banyak orang mengeluh, dengan bertambahnya usia Kadang lupa nama, lupa tempat menaruh barang, salah kata saat berbicara makin sering terjadi.

    Tak hanya itu, dengan bertambahnya usia butuh waktu lebih lama dari sebelumnya untuk mengingat sesuatu dapat terjadi seiring dengan bertambahnya usia.

    Namun, meningkatnya kesadaran mengenai demensia membuat orang jadi bertanya-tanya apakah masalah-masalah ingatan semacam itu merupakan tanda awal kepikunan.

    Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, demensia atau kepikunan mencakup kumpulan gejala penurunan fungsi kognitif otak yang menimbulkan gangguan daya ingat, kemampuan berpikir, kemampuan komunikasi, perilaku, dan emosi yang memburuk.

    Walaupun kadang bisa menimbulkan frustrasi, sesekali lupa atau kesulitan mengingat sesuatu sebagian besar bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

    Menurut siaran Medical Daily pada Kamis (1/5/2025), masalah semacam ini adalah gangguan memori terkait usia dan merupakan bagian normal dari penuaan.

    Baca Juga: Enam Cara Sederhana Mencegah Demensia

    Dalam perubahan memori terkait usia yang normal, kelupaan cenderung terjadi sesekali dan biasanya melibatkan ingatan dari masa lalu yang lebih jauh.

    Sedangkan gangguan ingatan yang terjadi akibat demensia sering kali dimulai dengan kehilangan ingatan ringan tetapi semakin memburuk seiring waktu.

    Penderita demensia sering kali kesulitan mengingat kejadian baru, seperti lupa tentang percakapan yang mereka lakukan sebelumnya pada hari itu atau tidak mengenali seseorang yang baru saja mereka temui.

    Selain itu, gejala demensia dapat meliputi kesulitan berbahasa dan memahami; disorientasi atau kebingungan mengenai waktu, tempat, atau orang; perubahan perilaku dan kepribadian;

    Juga kesulitan melakukan aktivitas yang biasa dilakukan; kesulitan memahami ruang dan jarak sehingga mudah terjatuh; serta kesulitan membedakan warna.

    Jadi, sering lupa tidak selalu berarti demensia. Faktor lain seperti stres atau kelelahan bisa pula membuat orang jadi sering lupa.

    Baca Juga: Sama-sama Menyerang Lansia, Berikut Perbedaan Penyakit Alzheimer dan Demensia

    Masalah ingatan dapat terjadi karena cedera kepala seperti gegar otak, tumor, atau infeksi otak; masalah tiroid; efek samping obat; penyalahgunaan obat, gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan; masalah tidur; atau kekurangan nutrisi.

    Jika masalah ingatan sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, maka sebaiknya menemui dokter untuk berkonsultasi.

    Tanda peringatan dari masalah ingatan yang perlu diwaspadai dapat meliputi mengulang pertanyaan yang sama berulang kali, tersesat di tempat yang sudah dikenal, atau kesulitan mengurus diri sendiri.

    Namun, penting untuk diingat bahwa memperhatikan gejala seperti kehilangan ingatan atau kebingungan saja tidak cukup untuk mendiagnosis demensia.

    Hanya tenaga kesehatan profesional yang dapat membuat diagnosis tersebut setelah melakukan evaluasi secara menyeluruh, termasuk memeriksa riwayat medis, hasil tes kognitif dan pemeriksaan fisik, serta citra otak.

    Dalam beberapa kasus, orang dewasa lebih tua yang sering lupa mungkin didiagnosis dengan gangguan kognitif ringan.

    Tidak seperti demensia, orang dengan gangguan kognitif ringan biasanya masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

    Baca Juga: Studi Mengungkap Hipertensi Memengaruhi Risiko Demensia

  • Nutrisi yang Efektif Menghadang Memburuknya Gejala Demensia

    Nutrisi yang Efektif Menghadang Memburuknya Gejala Demensia

    7cloud.asia – Demensia atau kepikunan adalah istilah umum yang digunakan untuk menyebut gejala penurunan fungsi otak yang cukup parah

    Demensia umumnya dialami mereka yang sudah berusia lanjut atau lansia. Namun, dalam beberapa kasus demensia juga dialami mereka yang masih relatif muda sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

    Dilansir di laman resmi Kementerian Kesehatan, gejala demensia antara lain meliputi penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir, kemampuan berkomunikasi,

    Gejala demensia juga ditandai menurunnya kemampuan untuk mengendalikan perilaku dan emosi yang memburuk sampai mengganggu kemampuan bersosialisasi.

    Sampai saat ini belum ada obat untuk mengatasi demensia, tetapi ada langkah-langkah pencegahan yang bisa dijalankan. Selain pengaturan pola makan, aktivitas fisik, manajemen stres, dan kualitas tidur juga dapat mempengaruhi kesehatan otak.

    Sebagaimana dikutip dalam siaran Eating Well pada 13 Juni 2025, para peneliti dari Universitas Columbia melakukan penelitian untuk mengetahui nutrisi-nutrisi yang berkaitan dengan penurunan dan peningkatan risiko demensia.

    Baca: Cara sederhana mencegah demensia

    Studi yang hasilnya dipublikasikan di jurnal Nutrients itu melibatkan 6.280 peserta Health and Retirement Study di Amerika Serikat yang memenuhi kriteria peneliti, yang mencakup informasi diet lengkap dan penilaian kognitif.

    Hasil studi menunjukkan bahwa ada lima zat gizi yang berkaitan dengan penurunan risiko demensia, yakni isorhamnetin (sejenis flavonol), mangan, serat makanan, serta beta tokoferol dan beta tokotrienol (vitamin E).

    Mari kita bahas satu per satu nutrisi yang terbukti efektif memperlambat laju demensia yang kami rangkum dari berbagai sumber:

    1. Isorhamnetin
    Isorhamnetin atau flavonol telah dipelajari untuk potensi manfaat kesehatannya, termasuk aktivitas antioksidan, antikanker, dan kardioprotektif menurut penelitian ilmiah.

    Isorhamnetin dapat ditemukan dalam buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian, termasuk beri, ceri, pir, apel, anggur hijau, kacang almond, minyak biji bunga matahari, dan ginkgo biloba.

    2. Mangan
    Mineral mangan terdapat dalam kacang-kacangan, polong-polongan, biji-bijian utuh, dan sayuran berdaun hijau.

    Baca: Hipertensi mempengaruhi risiko demensia

    Selain berperan dalam proses metabolisme dan pembangunan kekebalan tubuh, mangan bertindak seperti antioksidan, melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.

    3. Vitamin E
    Sebagaimana mangan, vitamin E memiliki sifat antioksidan, dapat melindungi sel dari kerusakan.

    Adapun sumber vitamin E meliputi kacang-kacangan, biji-bijian, bibit gandum, minyak biji bunga matahari, bayam, dan brokoli.

    4. Makanan berserat
    Serat makanan dapat berperan dalam menurunkan risiko demensia. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan asupan serat yang lebih tinggi memiliki tingkat demensia yang lebih rendah.

    Serat, terutama yang larut, dapat ditemukan dalam buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

    Jika khawatir tidak menyertakan cukup makanan dengan kandungan zat-zat gizi tersebut, pertimbangkan untuk memperbaiki pola makan.

    Misalnya dengan mengganti camilan biasa dengan camilan yang lebih kaya nutrisi seperti segenggam kacang dan beri.

    Baca: Sering lupa belum tentu pertanda demensia

     

  • Menggantikan Jantung Iskemik, Demensia Menjadi Penyebab Utama Kematian di Australia

    7cloud.asia – Data dari Biro Statistik Australia (Australian Bureau of Statistics/ABS) menyebut demensia menjadi penyebab utama kematian di Australia pada 2024, dan menjadi penyakit paling mematikan di negara tersebut.

    Ini untuk kali pertama kali terjadi dalam sejarah Australia. ABS mengaitkan ini dengan usia penduduk Australia yang kian menua, menurut data resmi yang dirilis pada Jumat (14/11/2025).

    Laporan itu menunjukkan bahwa demensia, termasuk penyakit Alzheimer, menggantikan penyakit jantung iskemik sebagai penyebab utama kematian di negara tersebut pada tahun lalu.

    Dari 187.268 kematian yang tercatat di Australia pada 2024, ABS mengatakan bahwa 17.549 di antaranya disebabkan oleh demensia.

    Angka kematian akibat demensia telah meningkat 160 persen lebih dari 6.550 pada 2006, sementara angka kematian akibat penyakit jantung turun 29,6 persen dalam periode yang sama, dari 23.132 menjadi 16.275 pada 2024.

    Baca: Perbedaan penyakit alzheimer dan demensia

    ABS mengaitkan meningkatnya demensia sebagai penyebab kematian dengan populasi Australia yang menua.

    Badan statistik itu menyebutkan bahwa 68,2 persen dari seluruh kasus kematian pada 2024 merupakan warga yang berusia di atas 75 tahun, naik dari 63,3 persen pada 2004.

    “Orang-orang kini lebih mungkin hidup hingga usia di mana mereka memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena demensia. Hal ini terutama berlaku bagi wanita yang memiliki harapan hidup lebih panjang.

    Data saat ini menunjukkan bahwa 62,4 persen orang yang meninggal akibat demensia berjenis kelamin perempuan,” papar Lauren Moran, kepala statistik kematian ABS.

    Demensia telah menjadi penyebab utama kematian bagi perempuan di Australia sejak 2016. Sementara itu, penyakit jantung koroner tetap menjadi penyebab utama kematian bagi laki-laki, dengan 10.153 kematian pada 2024.

    Baca: Enam cara sederhana mencegah demensia

    Institut Kesehatan dan Kesejahteraan Australia (Australian Institute of Health and Welfare) dalam sebuah laporan yang dirilis pada September menyebutkan bahwa jumlah warga Australia yang hidup dengan demensia diperkirakan akan meningkat.

    Data menyebut warga dengan demensia mencapai 425.000 pada 2024, diperkirakan naik menjadi lebih dari satu juta per 2065.

    Penyakit pernapasan bawah kronis menjadi penyebab kematian paling umum ketiga pada 2024, diikuti oleh penyakit serebrovaskular dan kanker paru-paru.

    Selain itu, ABS juga menyebutkan bahwa kematian akibat obat-obatan dan alkohol meningkat pada 2024, sementara 3.307 orang tercatat meninggal karena bunuh diri.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • Cegah Demensia dengan Jalani Gaya Hidup Ini Sejak Muda

    Cegah Demensia dengan Jalani Gaya Hidup Ini Sejak Muda

    7cloud.asia – Demensia, gangguan kesehatan berupa berkurangnya kemampuan berpikir dan mengingat, bukanlah konsekuensi proses penuaan yang tak bisa dihindari.

    Penelitian mengungkap, 40 persen kasus demensia diperkirakan dapat dicegah–atau setidaknya diperlambat kejadiannya–dengan mengubah gaya hidup tertentu.

    Aktivitas ini bisa Anda lakukan dengan menjadi proaktif dan konsisten sejak dini dalam mengatasi 12 faktor risiko terkait penyebab terbesar demensia, termasuk konsumsi alkohol berlebih hingga cedera otak traumatis.

    Fokus mengatasi faktor risiko penyebab demensia dapat meningkatkan kesehatan otak dan kesejahteraan hidup secara menyeluruh, termasuk mengurangi risiko mengalami demensia di kemudian hari.

    Cara menjaga kesehatan otak
    Agar kesehatan otak tetap terjaga, berikut enam gaya hidup yang sangat penting untuk Anda lakukan di usia muda, terutama di usia 20-30an:

    1. Konsumsi nutrisi yang baik untuk otak
    Bobot otak hanya mewakili 2 persen dari berat tubuh, tetapi aktivitasnya bisa menguras 20 persen pasokan energi harian. Karena itu, asupan nutrisi yang baik sangat krusial untuk kesehatan otak.

    Pola makan sehat membantu menjaga berat badan ideal, termasuk mengurangi risiko obesitas dan diabetes–keduanya dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 1 persen. Selain itu, menjaga pola makan sehat bermanfaat dalam mencegah tekanan darah tinggi (hipertensi) yang dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 2 persen.

    Salah satu pola makan sehat terbaik untuk mendukung kesehatan otak adalah diet Mediterania. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diet Mediterania dikaitkan dengan peningkatan fungsi otak yang lebih baik dan penurunan risiko demensia.

    Jadi, jika Anda ingin menjaga kesehatan otak, lakukan diet Mediterania dengan mengonsumsi banyak biji-bijian utuh, sayur-sayuran, buah-buahan (terutama beri), kacang-kacangan (seperti buncis), dan ikan berminyak. Sebaliknya, batasi konsumsi kue kering, permen, makanan yang digoreng, dan keju.

    Bagi kebanyakan orang, fokus memperbaiki pola makan dapat memberikan manfaat positif untuk kesehatan otak, dibandingkan dengan mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral–kecuali kamu mengalami kekurangan nutrisi (malnutrisi).

    2. Minum air putih yang cukup
    Sekitar 60 air tubuh manusia terdiri dari air. Karena itu, sangat penting untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi guna mendukung fungsi otak maupun kesejahteraan tubuh secara menyeluruh.

    Pasalnya, kehilangan cairan tubuh (dehidrasi) dapat memengaruhi kemampuan fisik dan mental dalam banyak hal–termasuk meningkatkan rasa lelah dan mengurangi efisiensi kerja otak. Dehidrasi dapat berdampak pada daya ingat, perhatian, konsentrasi, dan kecepatan reaksi otak.

    Cegah dampak buruk dehidrasi tersebut dengan mencukupi kebutuhan air agar otak bekerja dengan optimal dan mengurangi risiko penurunan fungsi otak secara drastis.

    3. Batasi minum alkohol
    Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko demensia sebesar 1 persen.

    Selain berdampak buruk terhadap fungsi otak, alkohol juga bisa mengubah struktur otak. Studi mengungkapkan bahwa kebiasaan minum alkohol berkaitan dengan kerusakan neuron (sel pengirim sinyal ke seluruh otak).

    Alkohol juga mengakibatkan berkurangnya materi putih (jaringan serabut saraf yang mendukung komunikasi antarbagian otak), serta penyusutan otak. Sederet perubahan ini memengaruhi kinerja otak.

    Kebiasaan mengonsumsi lebih dari 21 unit alkohol per pekan dikaitkan dengan peningkatan risiko terkena demensia. Satu unit alkohol setara dengan 10 ml atau 8 gram alkohol murni.

    Konsumsi alkohol juga berisiko meningkatkan beberapa jenis penyakit, seperti kanker (di mulut, tenggorokan, dan payudara), stroke, dan jantung. Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris menyarankan batas aman seseorang mengonsumsi alkohol, yaitu tidak lebih dari 14 unit per minggu.

    4. Jalani gaya hidup aktif
    Olahraga memberikan banyak manfaat bagi otak. Kegiatan ini meningkatkan aliran darah ke otak sehingga fungsinya menjadi lebih baik, mengurangi peradangan otak, serta meningkatkan aktivitas maupun volume otak yang mendorong kinerjanya jadi lebih efisien.

    Semua perubahan tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan otak dalam jangka panjang, termasuk melindungi dari risiko penurunan kemampuan kognitif.

    Untuk memperoleh manfaat kesehatan otak, setidaknya kamu harus berolahraga intensitas sedang selama 150 menit per pekan atau menjalani olahraga intensitas tinggi selama 75 menit per pekan–kamu juga bisa mengombinasikan keduanya.

    Di luar itu, penelitian menunjukkan kebiasaan berjalan kaki sebanyak 7.500 langkah per hari bermanfaat untuk meningkatkan volume otak.

    5. Rajin berhubungan sosial
    Kebiasaan menyendiri dan merasakan kesepian memiliki keterkaitan dengan peningkatan risiko terkena depresi dan penurunan kemampuan kognitif.

    Menurut penelitian, rutin menjalin hubungan sosial yang baik–seperti hidup bersama orang lain, terlibat kegiatan mingguan bersama kelompok masyarakat serta bertemu dengan keluarga dan teman setiap pekan–dapat memperlambat penurunan kemampuan kognitif.

    Selain itu, bersosialisasi dapat merangsang perhatian dan ingatan serta memperkuat jaringan otak Anda.

    Terlibat dalam acara komunitas setempat, menjadi sukarelawan, maupun rutin nongkrong bareng teman saban pekan merupakan cara yang baik untuk menjaga kesehatan otak.

    6. Terus belajar
    Kendati sudah bertahun-tahun menamatkan sekolah, Anda tidak boleh berhenti belajar karena belajar bermanfaat melindungi otak. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang selalu belajar sepanjang hidupnya berisiko 7 persen lebih kecil mengalami demensia.

    Sejumlah aktivitas terbaik yang bisa kamu lakukan untuk menjaga kesehatan otak melingkupi belajar bahasa baru, mencoba olahraga baru, bermain alat musik serta menyusun puzzle.

    Hal lain yang perlu dilakukan
    Selain melakukan gaya hidup di atas, Anda juga bisa mengurangi risiko demensia, dengan menggunakan alat bantu dengar apabila mengalami gangguan pendengaran.

    Anda juga perlu menghindari kegiatan yang dapat menyebabkan cedera otak traumatis, serta memiliki kebiasaan tidur setidaknya selama 6-8 jam.

    Otak merupakan salah satu organ tubuh terpenting yang kamu miliki. Dengan merawat kesehatannya sejak usia muda, Anda memastikan otak tetap berfungsi dengan baik seiring berkembangnya usia.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Jitka Vseteckova (Senior Lecturer Health and Social Care, The Open University) dan Corrina Grimes (Atlantic Fellow, Global Brain Health Institute, Trinity College Dublin)

  • Studi Terbaru Ungkap Risiko Demensia Dapat Muncul Sejak Masa Kanak-kanak

    Studi Terbaru Ungkap Risiko Demensia Dapat Muncul Sejak Masa Kanak-kanak

    7cloud.asia – Studi yang dilakukan para peneliti di Swedia dan Republik Ceko pada tahun 2023 menemukan sejumlah faktor kelahiran terkait dengan sedikit peningkatan risiko demensia di kemudian hari.

    Dikutip dari laman Science Alert, Sabtu (20/12/2025) beberapa faktor risiko demensia dapat dimulai bahkan sebelum lahir, seperti berbagi rahim dengan kembar, jarak kelahiran yang lebih pendek, dan kehamilan di atas usia 35 tahun.

    Sementara faktor risiko demensia lainnya muncul seiring melewati masa kanak-kanak hingga dewasa muda.

    Selama ini sebagian besar penelitian demensia berfokus pada perubahan yang terkait dengan penurunan kognitif di usia lanjut.

    Namun, semakin banyak bukti yang mengungkap bahwa perbedaan dalam struktur dan fungsi otak yang terkait dengan demensia, sebagian diduga telah ada sejak masa kanak-kanak.

    Tim penelitian tersebut mengungkapkan dalam studi jangka panjang di mana kemampuan kognitif seseorang dilacak sepanjang hidupnya, salah satu faktor terpenting yang menjelaskan kemampuan kognitif seseorang pada usia 70 tahun adalah kemampuan kognitif mereka ketika berusia 11 tahun.

    Baca: Gaya hidup ini bisa turunkan risiko demensia 

    “Artinya, orang dewasa yang lebih tua dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah sering kali memiliki kemampuan yang lebih rendah ini sejak masa kanak-kanak, dan perbedaan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh penurunan yang lebih cepat di usia lanjut,” kata tim peneliti.

    Jika dilihat secara keseluruhan, peneliti menyarankan pencegahan demensia dianggap sebagai tujuan seumur hidup, bukan hanya fokus untuk usia lanjut.

    Dalam studi mereka tahun 2024, beberapa faktor risiko yang diidentifikasi mungkin tampak jelas.

    Minum alkohol dan merokok, misalnya, diketahui buruk bagi kesehatan secara umum, dan mengalami cedera otak merupakan risiko langsung untuk demensia di kemudian hari

    Hal ini dapat dilakukan melalui kampanye kesehatan masyarakat dan pendidikan di sekolah, serta didanai melalui pajak atas zat-zat yang berdampak negatif terhadap kesehatan otak, seperti alkohol atau rokok.

    Tim juga perlu melakukan identifikasi faktor baru yang muncul memerlukan studi lebih lanjut, termasuk makanan ultra-olahan, penggunaan narkoba, waktu di depan layar, stres, dan paparan mikroplastik.

    Baca: Perbedaan penyakit Alzheimer dan Demensia

    “Mungkinkah akar penyebab demensia bermula sejak masa kanak-kanak atau bayi? Bukti yang semakin banyak menunjukkan ya, dan paparan faktor risiko pada dekade pertama kehidupan (atau bahkan saat masih dalam kandungan) dapat memiliki implikasi seumur hidup terhadap risiko demensia,” jelas tim tersebut dalam artikel di The Conversation.

    Studi lainnya
    Studi lain yang diterbitkan pada akhir tahun 2024 meneliti faktor risiko demensia pada orang dewasa muda berusia 18 hingga 39 tahun.

    Sebuah tim yang dipimpin oleh Global Brain Health Institute (GBHI) di Irlandia mengumpulkan sekelompok ahli dari 15 negara di seluruh dunia untuk membantu mengembangkan rencana seumur hidup untuk meningkatkan kesehatan otak.

    Ahli saraf di GBHI, Francesca Farina mengatakan, masa dewasa muda merupakan periode penting untuk intervensi yang dapat secara signifikan mengurangi risiko demensia di kemudian hari,

    “Untuk memastikan hasil kesehatan otak yang lebih baik, kaum muda harus dilibatkan sebagai mitra kunci dalam upaya penelitian, pendidikan, dan pembuatan kebijakan,” katanya

    Dari faktor risiko yang diidentifikasi oleh para peneliti, beberapa di antaranya terkait dengan gaya hidup, termasuk konsumsi alkohol berlebihan, merokok, kurangnya aktivitas fisik, dan isolasi sosial.

    Faktor lainnya bersifat lingkungan, seperti paparan polusi, cedera otak traumatis, gangguan pendengaran atau penglihatan, atau tingkat pendidikan yang rendah.

    Selain itu, obesitas, diabetes, hipertensi, kolesterol LDL, dan depresi adalah masalah kesehatan yang mungkin timbul dari pilihan gaya hidup yang memicu risiko demensia.

    Baca: Demensia menjadi penyebab utama kematian di Australia