Tag: drama korea

  • Drama Korea “Incomplete Life“: Perjuangan Pekerja Medioker di Perusahaan Multinasional

    Drama Korea “Incomplete Life“: Perjuangan Pekerja Medioker di Perusahaan Multinasional

    7cloud.asia – Drama Korea bertema kehidupan sehari-hari di dunia kerja akan terus membekas di hati penontonnya karena terasa begitu nyata. Pun demikian dengan serial Incomplete Life yang tayang pada tahun 2014.

    Drama Korea Incomplete Life terasa begitu relate dengan keseharian kita, karena tidak dibangun pada plot twist besar, konfrontasi dramatis atau pun kisah romantis yang mendayu.

    Incomplete Life yang skenarionya ditulis Jung Yoon-jung dan disutradarai Kim Won-seok ini memotret dunia kerja orang-orang biasa.

    Bagaimana para pekerja harus bangun setiap hari, pergi bekerja, dan berjuang sepenuh hati melakukan yang terbaik, tetapi kemudian gagal atau dipecundangi lawan atau kawan sendiri.

    Kisah Incomplete Life menunjukkan aturan tak tertulis di kantor, tekanan untuk berprestasi, kerja sama, persaingan, intrik dan juga kesepian yang dapat terjadi bahkan di tempat kerja yang ramai.

    Pada saat yang sama, penonton juga disuguhi kenyamanan yang dirasakan pekerja dalam hal-hal kecil seperti makan bersama setelah hari yang panjang, saling bertukar pandangan pengertian, atau duduk dalam keheningan dengan seseorang yang memahami.

    Baca: Review drama Korea My Mister

    Incomplete Life yang juga dikenal sebagai “Misaeng” secara luas dianggap sebagai salah satu penggambaran kehidupan korporat yang paling jujur ​​dan menyentuh secara emosional di Korea Selatan.

    Berdasarkan webtoon populer karya Yoon Tae Ho, Incomplete Life menyingkirkan klise K-drama yang biasa dan malah menangkap realitas yang seringkali sunyi dan melelahkan dari bekerja di kantor.

    Tokoh utama dalam Incomplete Life adalah Jang Geu Rae (Yim Si Wan), seorang pemuda yang seluruh masa mudanya didedikasikan untuk menguasai Baduk (Go), permainan tradisional yang menuntut kesabaran, strategi, dan ketangguhan mental.

    Ketika mimpinya untuk menjadi pemain profesional runtuh, Geu Rae mendapati dirinya tidak siap menghadapi kehidupan dewasa.

    Hanya berbekal ijazah SMA dan tanpa pengalaman kerja formal, Geu Rae memasuki dunia korporat dengan beban berat kegagalan dan keraguan diri.

    Melalui rekomendasi pribadi, ia mendapatkan magang di One International, sebuah perusahaan perdagangan bergengsi. Sejak hari pertama, Geu Rae diperlakukan sebagai orang luar.

    Baca: Drama Korea “Love Me“: Menjadi lajang tak selalu berarti kesepian

    Ditempatkan di Tim Penjualan 3, Geu Rae bekerja di bawah Oh Sang Shik (Lee Sung Min), seorang manajer yang ketat dan terlalu banyak bekerja, dan Kim Dong Shik (Kim Dae Myung), seorang asisten manajer yang kehangatan dan empatinya diam-diam menyatukan tim.

    Tidak seperti rekan-rekan seangkatannya, Geu Rae bertahan bukan dengan pesona atau kepercayaan diri, tetapi dengan menerapkan prinsip-prinsip yang dipelajarinya dari Baduk.

    Dia mengamati dengan cermat, bersabar, dan memahami bagaimana tindakan kecil dapat memengaruhi hasil yang lebih besar.

    Kantor dan dunia kerja digambarkan sebagai medan perang yang penuh dengan perebutan kekuasaan, tenggat waktu yang ketat, dan kompromi moral

    Di mana kerja keras tidak selalu berujung pada imbalan materi, tetapi juga dalam bentuk lainnya seperti pengetahuan, pengalaman dan penghormatan.

    Karakter pendukung memperkaya kedalaman emosional drama Incomple Life ini. Ahn Young Yi (Kang So Ra), salah satu rekrutan paling berbakat, menghadapi perlakuan meremehkan terus-menerus hanya karena jenis kelaminnya.

    Baca: Drama Korea “Typhoon Family”: Kisah mereka yang bangkrut dan berjuang melawan krisis

    Jang Baek Gi (Kang Ha Neul), yang tampaknya sempurna di atas kertas, berjuang dengan ekspektasi tinggi dan harga diri pribadi, sementara Han Seok Yool (Byun Yo Han) menyembunyikan frustrasinya di balik humor saat ide-idenya dicuri oleh atasannya.

    Bersama-sama, karakter-karakter ini mewakili perjuangan diam-diam dan tekanan tak terlihat yang jamak ditemukan dalam kehidupan kantor.

    Salah satu kekuatan terbesar serial Incomplete Life adalah bagaimana drama ini menggambarkan hubungan antar kolega.

    Ikatan dan kesetiakawanan terbentuk bukan melalui tindakan besar, tetapi melalui kegagalan bersama, keberhasilan kecil, dan pemahaman diam-diam.

    Serial ini beresonansi karena mencerminkan emosi nyata siapa pun yang pernah merasa diabaikan, mempertanyakan nilai diri mereka, atau meragukan apakah usaha benar-benar penting.

  • Drama Korea “Honour“: Solidaritas Para Perempuan Melawan Sistem yang Tak Adil

    Drama Korea “Honour“: Solidaritas Para Perempuan Melawan Sistem yang Tak Adil

    7cloud.asia – Tayang perdana pada Senin, 2 Februari 2026 drama Korea terbaru ENA, “Honour” langsung mencuri perhatian publik.

    Dilansir Soompi, “Honour” meraih rating pemirsa nasional rata-rata 3,1 persen untuk episode perdananya. Ini merupakan rating terbaik ENA untuk penayangan perdana drama Senin-Selasa.

    Didasarkan serial Swedia, “Honour” adalah drama thriller misteri yang menceritakan kisah tiga perempuan pengacara dalam membela hak-hak perempuan.

    Ketiganya bergabung firma hukum L&J (Listen and Join), yang mengkhususkan diri mewakili korban kejahatan terhadap perempuan.

    Para perempuan pengacara Yoon Ra Young (Lee Na Young), Kang Shin Jae (Jung Eun Chae), dan Hwang Hyun Jin (Lee Chung Ah) sudah bersahabat sejak lama dan sama-sama memilih menjadi pengacara.

    Baca: Drama Korea Beyond the Bar menggugat penegakan hukum yang tak sempurna

    Rasa saling percaya yang terbangun selama 20 tahun bersahabat dan energi ketiganya menghidupkan firma hukum L&J dalam misinya membela perempuan.

    “Honour” tak hanya mengungkap bagaimana sebuah firma hukum berjalan. Tetapi juga bagaimana perempuan saling mendukung, bagaimana perempuan yang menjadi korban berjuang bangkit dari keterpurukannya.

    Sejak awal, “Honour” juga mengungkap bagaimana para perempuan korban kekerasan berjuang melawan sistem yang tidak adil, sekaligus menggugat masyarakat yang lebih sering mereviktimasasi ketimbang berdiri di pihak para korban

    Sejak episode pertama, “Honour” memunculkan konflik batin para tokohnya. Di episode awal digambarkan bagaimana tiga perempuan ini menjalani perannya.

    Yoon Ra Young, pengacara seleb yang tegas dan lugas membela perempuan. Kang Shin Jae yang menjadi penopang acara dengan otoritasnya yang tenang dan penuh percaya diri sebagai CEO L&J, serta pengacara Hwang Hyun Jin yang bersemangat.

    Baca: Jatuh bangun anak muda membangun usaha rintisan di Start Up

    Dua episode awal “Honour” juga memunculkan dengan arus bawah dari insiden di masa yang akan datang mulai bertabrakan, secara bertahap mengungkapkan retakan yang tersembunyi di balik penampilan luar mereka yang terlihat sempurna.

    Peringatan 10 tahun firma hukum L&J yang ternyata menjadi titik awal simbolis yang mengungkapkan keadaan karakter saat ini dan arah yang akan mereka tuju.

    Bagaimana ketiganya menyambut tamu dengan penuh percaya diri, mewakili wajah firma yang berwibawa lewat jalan yang dipilihnya.

    Bersama-sama, mereka merayakan satu dekade L&J—yang dibangun di atas cita-cita bersama, kepercayaan timbal balik, dan kerja sama tim selama bertahun-tahun.

    Ekspresi cerah mereka dan suasana perayaan yang tenang dan meriah jelas mencerminkan posisi kokoh yang telah mereka capai. Namun, kemeriahan itu dikoyak oleh peristiwa yang bakal menguak rahasia dari masa lalu tiga perempuan pengacara itu.

    Baca: Drama Korea Good Partner mengungkap bagaimana pengacara perceraian bekerja

    Kejadian ini memaksa ketiganya menghadapi sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa kelam di masa lalu mereka. Peristiwa tersebut bahkan tidak pernah mereka ceritakan ke orang lain selama bertahun-tahun.

    Tim promosi “Honour” mengatakan, sejak episode pertama, emosi para tokohnya dan peristiwa terungkap dengan intensitas yang tinggi.

    ”Cerita akan mempertahankan tempo yang menegangkan yang tidak pernah membiarkan penonton lengah, jadi pastikan untuk menonton penayangan perdananya.” janji tim promosi “Honour” dalam pernyataannya sebagaimana dikutip Soompi.

    Dan, saya harus akui kebenaran pernyataan ini. Setelah mengikuti dua episode pertama “Honour“ saya terus bertanya-tanya bagaimana jalinan cerita ini akan bermuara.

    Buat Anda yang penasaran, drama Korea ini dapat diikuti di layanan streaming Viu dan Vidio

  • Drama Korea “Tell Me What You Saw“: Klise Tapi Sukses Mengungkap Sistem yang Tidak Adil

    Drama Korea “Tell Me What You Saw“: Klise Tapi Sukses Mengungkap Sistem yang Tidak Adil

    7cloud.asia – Selamat hari Minggu sore para pencinta drama Korea. Kali ini kita akan membahas drama Korea Tell Me What You Saw atau Bondaero Malhara.

    Drama Korea dengan genre thriller-kriminal ini tayang di OCN mulai 1 Februari hingga 22 Maret 2020 atau hampir enam tahun lalu, tetapi saya baru merampungkan beberapa hari ini.

    Drama-drama kriminal semacam Tell Me What You Saw akan menekan sineasnya untuk mampu menampilkan motif kriminal baru yang segar, agar berbeda dengan drama sejenis yang mendahuluinya.

    Sayangnya, sampai beberapa episode berjalan pun, Tell Me What You Saw belum menunjukkan sentuhan bedanya. Ceritanya memang sedikit klise dan membosankan, yakni persaingan antara polisi baik dan polisi korup dalam mengungkap dan menutupi kejahatan.

    Pun demikian dengan premisnya, karena sudah terlalu banyak drama Korea yang mengangkat karakter tokoh yang menjadi polisi karena ingin mengungkap pembunuh orang tuanya.

    Namun, di balik semua ini saya masih menangkap pesan dan kritik sosial di dalamnya. Penulis drakor Tell Me What You Saw, Ko Young-jae dan Han Ki-hyun berhasil memotret sistem yang tidak adil.

    Baca: Drama Korea “Honour“ mengangkat solidaritas para perempuan melawan kekerasan

    Bagaimana orang miskin dan kelompok disabilitas sering diabaikan dan menjadi korban ketidakadilan. Sementara mereka yang berkuasa dan berduit bisa mendapatkan lebih banyak kemudahan dan previlege.

    Saya juga menangkap sisi kemanusiaan dari para detektif yang sehari-hari harus bergelut dengan pembunuhan ini. Bahwa para korban bukanlah sekadar seonggok mayat yang tak bernyawa.

    Mereka adalah anggota keluarga -bisa ayah, ibu, anak ataupun seseorang yang dicintai orang lain. Maka mereka juga pantas diperlakukan dengan hormat.

    Tell Me What You Saw yang disutradarai Kim Sang-hoon ini mampu menonjolkan alur cerita dramatis dan detail dalam pengambilan gambarnya, sehingga tetap disukai oleh para penggemar akting kedua aktor dan aktris tersebut.

    Sinopsis
    Dalam Tell Me What You Saw ini Choi Soo-young yang memerankan tokoh utama Cha Soo-young beradu akting dengan salah satu aktor ternama drama spesialis genre kriminal yaitu Jang Hyuk.

    Cha Soo-young adalah seorang anak yang lahir dari pasangan suami istri bisu tuli. Kondisi itu membuat Soo-young kecil malu. Ia pun menghindar dari sang ibu ketika dijemput saat pulang sekolah.

    Baca: Drama Korea Beyond the Bar menggugat penegakan hukum yang tak sempurna

    Namun ibunya malah menjadi korban tabrak lari seseorang yang menggunakan plat palsu. Pihak kepolisian seperti bersikap setengah hati dalam mengusut kasus tersebut.

    Kejadian ini menyisakan trauma dan dendam hingga Soo-young tumbuh dewasa. Ia berharap dapat menangkap pembunuh ibunya. Meski tak pintar, ia berhasil lolos ujian menjadi seorang polisi.

    Suatu hari ia menemukan mayat perempuan yang dimutilasi di dalam koper. Desa tempatnya tinggal adalah wilayah terpencil dengan kasus kejahatan yang biasa-biasa saja sehingga penemuan mayat itu mengejutkan.

    Ternyata korbannya berasal dari daerah lain, begitu pula pelakunya. Kejadian ini ternyata menjadi pintu yang mengantarkan Soo-young untuk mewujudkan mimpinya untuk menangkap pelaku tabrak lari yang menewaskan ibunya.

    Pembunuhan ini ternyata adalah pembunuhan berantai, di mana sang pelaku memiliki ciri khas meletakkan permen peppermint pada korbannya.

    Baca: Drama Korea yang mengangkat isu kesehatan mental

    Soo-young yang memiliki ingatan di atas rata-rata mampu mengingat dengan jelas detail penemuan mayat dalam koper tersebut. Ia pun ditarik ke kota dan bekerja di kantor polisi wilayah regional untuk menangani kasus tersebut.

    Di sini, Soo-young bertemu dengan Oh Hyun-jae (Jang hyuk) seorang profiler kriminal jenius yang mampu memecahkan kasus beku dengan menggunakan kemampuan deduksi yang luar biasa.

    Juga ada sosok Hwang Ha-young (Jin Seo-yeon) perempuan berkepala dingin yang memimpin unit investigasi kejahatan khusus. Ia mempunyai masa lalu yang kelam membuatnya sangat ingin membunuh sang pembunuh berantai.

    Dengan bimbingan Hyun-jae dan Ha-young, kemampuan memori fotografi Soo-young yang jauh di atas rata-rata akhirnya terasah sempurna. Dia sangat membantu dalam pemecahan kasus yang ditangani timnya.

    Meski para aktor berakting cukup bagus, saya masih merasakan adanya kekakuan dalam hubungan mereka. Chemistry para pemain kurang terasa.

    Masing-masing tokoh terkesan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Semua terasa terlalu datar dan kaku. Namun demikian, semua ini tak membuat Tell Me What You Saw tidak menarik diikuti.

  • Menyoal Tujuan Pendidikan, Drama Korea ‘Teach You a Lesson’ Ramai Ditonton

    Menyoal Tujuan Pendidikan, Drama Korea ‘Teach You a Lesson’ Ramai Ditonton

     

    7cloud.asia – Sepekan setelah dirilis, drama Korea terbaru Netflix, Teach You a Lesson besutan sutradara Hong Jong-chan, memuncaki peringkat global untuk kategori serial non-Bahasa Inggris periode 1-7 Juni.

    Diadaptasi dari webtoon populer Get Schooled (2020), serial berisi sepuluh episode ini mengisahkan unit bentukan pemerintah yang berupaya membenahi karut-marut di sekolah. Tak butuh waktu lama, serial tersebut langsung melejit dengan rating tinggi.

    Bahkan, artikel Forbes menyebutnya sebagai “salah satu drama paling adiktif dan memuaskan tahun ini.” Popularitas serial drama Korea Teach You a Lesson ini pun langsung meledak di Asia dan berbagai belahan dunia lainnya.

    Namun, di balik balutan aksi, drama, dan balas dendam, serial ini sebenarnya menyimpan pertanyaan besar yang menggelitik para orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan di mana pun: untuk apa sebenarnya pendidikan itu ada, ketika ruang kelasnya sendiri sedang berada dalam krisis?

    Pelajaran berharga

    Teach You a Lesson memotret realitas masyarakat Korea Selatan yang sistem pendidikannya tengah berada di titik nadir akibat melonjaknya kasus kekerasan di sekolah dan runtuhnya wibawa guru.

    Dikisahkan, Menteri Pendidikan Korea Selatan, Choi Gang-seok (diperankan oleh Lee Sung-min), mendirikan Biro Perlindungan Hak-Hak Pendidikan (ERPB) setelah putrinya yang berprofesi sebagai guru tewas secara tragis di tangan seorang murid.

    Unit ERPB ini pun dibekali wewenang hukum luar biasa untuk mengintervensi sekolah-sekolah yang bermasalah.

    Garda terdepan unit ini dipimpin oleh Na Hwa-jin (dimainkan oleh Kim Mu-yeol). Ia adalah sosok pahlawan aksi dalam serial ini, sekaligus menantu sang menteri dan mantan kapten pasukan khusus yang beralih tugas menjadi inspektur.


    Dari kiri: Inspektur Im Han-rim (diperankan oleh Jin Ki-joo), Pemimpin ERPB Na Hwa-jin (Kim Mu-yeol), Menteri Choi Gang-seok (Lee Sung-min), dan Wakil Manajer Bong Geun-dae (Pyo Ji-hoon).
    Netflix

    Dalam aksinya, Hwa-jin berkolaborasi dengan Im Han-rim, sosok eksentrik tapi terlatih, serta Bong Geun-dae yang canggung tetapi genius dalam urusan teknologi.

    Bak drakor populer Taxi Driver (2021) tapi versi ruang kelas, setiap episode serial ini mengupas tuntas kasus yang berbeda—mulai dari perundungan, korupsi, kecurangan akademis, kriminalitas remaja, perjudian, peredaran narkoba, hingga eksploitasi.

    Ketika institusi resmi gagal melindungi mereka, para korban pun meminta bantuan kepada ERPB—yang siap turun tangan memberikan keadilan secara instan dan memuaskan (cathartic justice).

    Kasus-kasus yang dihadapi juga sangat beragam: mulai dari anak manja seorang politisi kuat yang kebal hukum setelah melakukan perundungan, realitas kelam sekolah vokasi yang mendewakan kekerasan, hingga seorang siswa influencer yang menggunakan media sosial sebagai senjata untuk menyerang para guru (yang berujung pada konsekuensi tragis).

    Episode-episode lainnya turut menyoroti skandal kecurangan ujian, pola asuh orang tua yang terlalu mengekang, hingga ketatnya tekanan kompetisi. Banyak di antaranya bahkan diangkat dari kisah nyata, termasuk kasus memilukan di Seoul pada tahun 2023, saat seorang guru muda nekat mengakhiri hidupnya akibat intimidasi dari orang tua murid.

    Dengan mengangkat kisah-kisah personal yang begitu kuat, Teach You a Lesson berhasil menyoroti krisis pendidikan langsung dari kacamata korban.

    Ini selaras dengan jawaban Menteri Choi saat menanggapi tudingan bahwa bironya sekadar menjadi wadah balas dendam pribadi: “Kami tidak berdiri di sisi guru ataupun murid. Kami berdiri di sisi korban.”

    Fantasi yang melegakan

    Dalam serial ini, jika anak seorang politisi merundung orang lain, cerita akan menjatuhkan politisi tersebut. Jika seorang guru mengeksploitasi murid yang jujur, guru itu akan dimintai pertanggungjawaban.

    Realitas di dunia nyata memang pahit. Itulah mengapa fantasi semacam ini terasa begitu melegakan.

    Kendati demikian, Teach You a Lesson tetap menuai kritik dari para praktisi pendidikan di Korea Selatan. Serial ini dinilai mengglorifikasi kekerasan dan hukuman fisik melalui narasi yang menyuguhkan hukuman fisik atau aksi mempermalukan di depan umum bagi para remaja bermasalah, orang tua yang kasar, hingga pendidik yang korup.


    Lewat tamparan, tendangan, dan senyum sinisnya, Na Hwa-jin sukses membuat para remaja pembuat onar ini bertekuk lutut.
    IMDb

    Namun, popularitas serial ini mengisyaratkan bahwa penonton mencari sesuatu yang lebih dari sekadar kepuasan menyaksikan aksi main hakim sendiri. Dialog-dialognya yang menggugah semangat serta penggambaran karakter yang begitu hidup tidak hanya menawarkan eskapisme, tetapi juga memantik refleksi mendalam atas bobroknya sistem pendidikan di dunia nyata.

    Pada hakikatnya, serial ini berporos pada komitmen untuk berdiri di sisi para korban. Salah satu kutipan paling menohok muncul saat Hwa-jin merenungkan runtuhnya wibawa di lingkungan sekolah: “Jika orang dewasa mulai takut pada anak-anak, maka hancurlah dunia.”


    Aksi Na Hwa-jin saat menyelamatkan seorang murid dalam serial ‘Teach You a Lesson’ (2026).
    IMDb

    Berulang kali, drama ini menekankan pentingnya hak untuk dilihat dan didengar. Para korban didorong untuk berani bersuara. Seperti yang dikatakan Hwa-jin kepada salah satu murid korban perundungan: “Jika rasa sakit itu terus disembunyikan, tidak akan ada yang tahu bahwa pertolongan sedang dibutuhkan.”

    Serial ini juga menolak terjebak dalam dikotomi hitam-putih antara pahlawan melawan penjahat.

    Salah satu pelaku kriminal remaja di pusat penahanan anak, misalnya, ternyata dulunya adalah korban. Penderitaannya di masa lalu luput dari perhatian hingga akhirnya mengkristal menjadi perilaku kekerasan.

    Permohonannya kepada Hwa-jin—”Bisakah kamu berjanji satu hal saja padaku? Tolong pastikan tidak ada lagi orang yang berakhir seperti aku”—terasa seperti pesan yang tidak hanya ditujukan untuk sang karakter, tetapi juga langsung kepada penonton.

    Untuk apa, dan siapa, sebenarnya pendidikan itu?

    Pertanyaan inilah, bukan aksi ataupun konfrontasi dramatis, yang berhasil menjelaskan mengapa Teach You a Lesson begitu memikat penonton global.

    Daya tarik dari fantasi yang ditawarkan serial ini meluas jauh ke luar Korea Selatan. Serial ini terpantau sempat viral di Cina bertepatan dengan musim “gaokao”—ujian masuk perguruan tinggi negeri di Cina yang terkenal sangat kompetitif—menjadi pelampiasan atas besarnya tekanan, isu keadilan, hingga perebutan kesempatan dalam dunia pendidikan.

    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan publik di banyak negara terhadap pendidikan modern kian merosot. Para orang tua mengkhawatirkan maraknya perundungan, para guru mengeluhkan beban kerja yang tak lagi rasional serta wibawa mereka yang terkikis. Sementara itu, para pembuat kebijakan terseok-seok menyelaraskan berbagai tuntutan yang ada di sekolah.

    Pada saat yang sama, Teach You a Lesson juga berakar kuat pada kultur pendidikan Korea Selatan yang sarat kompetisi tinggi. Di sana, pencapaian akademis erat kaitannya dengan mobilitas sosial, sehingga dunia persekolahan memikul beban emosional dan ekonomi yang luar biasa besar.


    Konfrontasi final Hwa-jin dengan murid yang membunuh istrinya, di koridor yang sama.
    IMDb

    Di episode pamungkas, Hwa-jin berujar kepada murid yang bertanggung jawab atas kematian istrinya: “Kesempatan bukanlah sesuatu yang diberikan padamu, melainkan sesuatu yang kamu raih saat kamu benar-benar menginginkannya.”

    Kutipan ini merekam keyakinan yang mengakar kuat di Asia Timur dan berbagai belahan dunia lain bahwa pendidikan adalah kesempatan terbaik untuk meraih kehidupan yang lebih layak.

    Namun, apa yang akan terjadi ketika para pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan tidak lagi memiliki sarana memadai untuk mengatasi tumpukan masalah yang ada—hingga akhirnya sebagian orang harus menjadi korban? Jika sudah begitu, untuk apa sebenarnya pendidikan?

    Yanyan Hong, Adjunct Fellow in Communication, Media and Film Studies, Adelaide University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.