Tag: ekonomi sirkular

  • UNEP Dorong Ekonomi Sirkular untuk Keberlanjutan Lingkungan

    UNEP Dorong Ekonomi Sirkular untuk Keberlanjutan Lingkungan

    7cloud.asia – Dalam pernyataan yang dirilis baru-baru ini, UNEP mendorong penerapan ekonomi sirkular untuk merawat kelangsungan lingkungan.

    Dalam pernyataan itu disebutkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) target ke 8.4 menekankan efisiensi sumber daya global dalam konsumsi dan produksi serta memisahkan pertumbuhan ekonomi dari degradasi lingkungan.

    Berikut pernyataan UNEP selengkapnya:

    Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa perekonomian dunia tidak dapat lagi bergantung pada ekstraksi, penggunaan, dan pemborosan sumber daya alam yang terus-menerus.

    Kesehatan planet Bumi semakin memburuk, mengancam kesejahteraan kolektif kita dan generasi mendatang.

    Laporan dari IPCC, IPBES, dan Panel Sumber Daya Internasional menyoroti bahwa pola penggunaan sumber daya yang tidak berkelanjutan mendorong krisis yang saling terkait yang dihadapi, baik di tingkat planet maupun sosial.

    Tanpa tindakan yang mendesak dan terpadu, pada tahun 2060 ekstraksi sumber daya dapat meningkat sebesar 60 persen dari tingkat tahun 2020, yang semakin memperburuk krisis ini.

    Pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan bukanlah hambatan bagi pembangunan. Pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan merupakan katalis bagi peluang ekonomi dan untuk menyeimbangkan kesenjangan konsumsi antarnegara.

    Menurut IRP, negara-negara berpenghasilan tinggi mengonsumsi bahan per kapita enam kali lebih banyak dan berkontribusi sepuluh kali lebih besar terhadap dampak iklim dibandingkan negara-negara berpenghasilan rendah.

    Mengatasi kesenjangan ini akan berimplikasi terhadap perekonomian dan laba bersih, terhadap lapangan kerja dan keterampilan, serta terhadap kebijakan sumber daya.

    Tiga prinsip ekonomi sirkular, yaitu menghilangkan limbah dan polusi, mensirkulasikan produk dan material, serta meregenerasi alam – merupakan solusi yang saling menguntungkan bagi pemerintah dan perusahaan, untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan perluasan pasar.

    Ekonomi sirkular memungkinkan pertumbuhan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi dengan penggunaan sumber daya dan dampak lingkungan yang lebih sedikit.

    Ekonomi sirkular dapat membuka potensi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 triliun dolar dan menciptakan enam juta lapangan kerja baru, banyak di antaranya akan berada di negara-negara berkembang dan akan mendukung industrialisasi lebih lanjut.

    Prinsip-prinsip ini juga menciptakan opsi untuk akses dan ketersediaan material yang lebih aman di dalam negara-negara.

    Bekali kaum muda dengan keterampilan untuk memungkinkan transisi menuju sirkularitas dan decoupling. Transisi menuju ekonomi sirkular memberikan peluang nyata bagi kaum muda untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

    Sangatlah penting untuk membekali kaum muda dengan keterampilan yang diperlukan agar sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja.

    Upaya UNEP untuk memajukan SDG 8 berfokus pada sektor-sektor berdampak tinggi, melalui sembilan tindakan sirkular: menolak, mengurangi, mengisi ulang, memperbaiki, memperbarui, memproduksi ulang, menggunakan kembali, mendaur ulang, dan mendesain ulang sistem dan produk

    Ini semua termasuk melalui Kerangka Kerja 10 Tahun Program Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan dan Pakta Pekerjaan Hijau untuk Pemuda.

    UNEP tetap berkomitmen untuk mendukung negara-negara dalam upaya mereka mencapai efisiensi sumber daya global yang lebih baik serta menciptakan keterampilan dan pekerjaan baru yang diperlukan agar transisi ini dapat terwujud.

  • Menunggu Kabar Baik dari Perundingan Plastik di Jenewa: Akankah Ada Pembatasan Produksi Plastik Global?

    Menunggu Kabar Baik dari Perundingan Plastik di Jenewa: Akankah Ada Pembatasan Produksi Plastik Global?

    7cloud.asia – Program Lingkungan PBB (UNEP) mengingatkan, jika tak ada perjanjian internasional yang disepakati bersama, sampah plastik diproyeksikan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2060.

    Ledakan sampah plastik ini akan menyebabkan kerusakan yang signifikan, baik pada lingkungan maupun terhadap kesehatan manusia.

    UNEP telah memfasilitasi perundingan internasional terkait penanganan sampah plastik, yang dihelat di Jenewa, Swiss pada 5 hingga 14 Agustus 2025. Perundingan ini merupakan lanjutan dari serangkaian perundingan yang dimulai pada tahun 2022.

    Saat itu, negara-negara anggota sepakat untuk mengembangkan instrumen internasional yang mengikat guna mengakhiri krisis polusi plastik, dalam waktu tiga tahun atau harus terealisasi tahun 2025

    “Mendaur ulang bukanlah jalan keluar dari krisis polusi plastik: Dunia membutuhkan transformasi sistemik untuk mencapai transisi menuju ekonomi sirkular,” tegas Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen saat membuka perundingan plastik tersebut.

    Menurut draft yang digunakan untuk memandu perundingan Komite Negosiasi Antarpemerintah (INC) Jenewa tersebut, tujuan kesepakatan ini mencakup pengaturan seluruh siklus hidup plastik, mulai dari desain hingga produksi dan pembuangan.

    Baca: INC Jenewa diharapkan mampu mengerem produksi plastik global

    “Untuk mendorong sirkularitas plastik dan mencegah kebocoran plastik ke lingkungan,” demikian dikutip un.org.

    Draft setebal 22 halaman ini berisi 32 draf pasal yang membahas secara rinci pengelolaan siklus plastik global. Teks ini dirancang untuk membentuk instrumen masa depan dan akan berfungsi sebagai titik awal negosiasi.

    Delegasi dari 179 negara akan mempelajari teks tersebut bersama lebih dari 1.900 peserta lain dari 618 organisasi pengamat termasuk ilmuwan, pemerhati lingkungan, dan perwakilan industri.

    Tujuan utama pertemuan ini adalah untuk mencapai kesepakatan akhir mengenai pembatasan produksi plastik dunia. Tujuan yang lebih luas adalah untuk memperkuat cara-cara yang telah teruji dan terbukti untuk mengurangi polusi plastik di seluruh dunia.

    Menjelang perundingan di Jenewa, jurnal medis ternama The Lancet menerbitkan peringatan bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam plastik menyebabkan penyakit yang luas “di setiap tahap siklus hidup plastik dan di setiap tahap kehidupan manusia”.

    Mengutip puluhan pakar kesehatan dari seluruh dunia, laporan itu menyebut bayi dan anak-anak sangat rentanvterhadap polusi plastik.

    Baca: Perjalanan panjang menuju lahirnya perjanjian plastik global

    “Plastik merupakan bahaya yang serius, terus berkembang, dan kurang disadari bagi kesehatan manusia dan planet ini” dan bertanggung jawab atas kerugian ekonomi terkait kesehatan yang melebihi 1,5 triliun dolar per tahun,” catat jurnal tersebut.

    Perundingan plastik di Jenewa ini dipimpin adalah Jyoti Mathur-Filipp, Sekretaris Eksekutif Komite Negosiasi Antarpemerintah (atau INC) tentang Polusi Plastik, dan Kepala Sekretariat INC.

    “Pada tahun 2024 saja, umat manusia diproyeksikan akan mengonsumsi lebih dari 500 juta ton plastik. Dari jumlah tersebut, 399 juta ton akan menjadi sampah,” ujarnya.

    Prakiraan terbaru menunjukkan bahwa kebocoran plastik ke lingkungan akan meningkat 50 persen pada tahun 2040.

    “Biaya kerusakan akibat polusi plastik dapat meningkat hingga mencapai 281 triliun dolar kumulatif antara tahun 2016 dan 2040,” ujarnya.

    Baca: Daur ulang tak akan mampu mengatasi ledakan polusi plastik global

  • Penerapan Ekonomi Sirkular untuk Mengurangi Limbah Makanan

    Penerapan Ekonomi Sirkular untuk Mengurangi Limbah Makanan

    7cloud.asia – Pelaku usaha dapat memetik manfaat dari pengurangan limbah makanan baik secara ekonomi, sosial, dan dalam skala yang lebih luas, memetik manfaat untuk lingkungan.

    Terinspirasi oleh upaya keberlanjutan Patagonia, Tim Proyek Mitchell Center di University of Maine, AS melakukan penelitian yang bertujuan untuk memberdayakan pelaku bisnis agar mengadopsi praktik pengelolaan pangan yang lebih berkelanjutan.

    Penelitian ini dilakukan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan dari berbagai industri terkait pangan di Maine, mulai dari toko kelontong dan pertanian hingga restoran dan rumah sakit.

    Dilansir Earth.org, tujuan proyek ini adalah untuk menentukan seberapa mudah perubahan ini dapat diadaptasi agar sesuai dengan gaya hidup masing-masing konsumen.

    Dengan menggunakan pendekatan tiga tujuan utama, sektor bisnis didorong untuk memprioritaskan keuntungan finansial mereka secara seimbang dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial mereka.

    Peneliti merekomendasikan perubahan sistem pangan dari sistem linier menjadi sistem sirkular. Dalam sistem linier, terdapat hubungan sederhana antara produksi dan konsumsi, yang menghasilkan limbah.

    Baca: Opsi untuk mengatasi limbah makanan

    Sementara, dalam ekonomi sirkular, tujuannya adalah mendaur ulang limbah termasuk limbah makanan menjadi sumber daya yang dapat digunakan untuk menciptakan produk baru.

    Berikut enam solusi dikembangkan untuk penerapan ekonomi sirkular di sektor pangan melalui kolaborasi pemangku kepentingan, yang masing-masing berfokus pada pengurangan, pemulihan, atau daur ulang:

    1. Mengukur dan melacak semua stok makanan
    Pelaku usaha didorong untuk menggunakan teknologi pelacakan limbah makanan yang sudah ada. Sistem ini dapat membantu pelaku usaha menyadari uang yang mereka buang untuk limbah makanan yang tidak pernah sampai ke konsumen.

    2. Menciptakan sistem “Penyelamatan Makanan”
    Solusi ini memanfaatkan sistem berbasis web yang mencocokkan makanan yang tersedia secara lokal dengan kebutuhan pangan lokal dan para relawan untuk menyalurkan makanan tersebut kepada mereka yang paling membutuhkan.

    3. Edukasi limbah konsumen dan produsen di seluruh negara bagian
    Edukasi dan kesadaran konsumen tentang sistem pangan dan limbah didorong. Hal ini membantu masyarakat melihat nilai sebenarnya dari makanan yang mereka beli.

    Menerapkan program edukasi di sekolah juga dapat menjadi cara yang efektif untuk mengedukasi masyarakat.

    Baca: Limbah makanan jadi ancaman serius untuk lingkungan

    4. Membangun infrastruktur penanganan dan pemrosesan makanan
    Solusi ini berfokus pada “mendaur ulang” makanan yang sudah ada dalam sistem, misalnya mengubah tomat menjadi saus tomat dan meningkatkan permintaan dalam pengalengan dan pemrosesan makanan untuk penyimpanan jangka panjang.

    Tujuannya adalah untuk menghubungkan anggota kunci sistem pangan dan menciptakan sinergi di antara para pemangku kepentingan dalam penanganan dan pengolahan.

    Adapun isu-isu utama yang perlu ditangani adalah ketersediaan transportasi, keterbatasan penyimpanan, dan pembatasan terkait donasi makanan.

    5. Mengedukasi produsen tentang keuntungan donasi
    Tujuan utamanya adalah mengedukasi para pemangku kepentingan tentang insentif donasi makanan, perlindungan hukum, dan memberikan panduan kepada instansi pemerintah terkait.

    6. Alternatif Pengomposan
    Solusi ini bertujuan untuk meningkatkan pilihan pengomposan dan alternatif lain selain pembuangan makanan di tempat pembuangan akhir (TPA).

    Mengembangkan praktik di seluruh negara bagian untuk mengalihkan sampah makanan dari TPA dapat menghasilkan penghematan biaya yang sangat besar.

    Baca: Kota di Eropa dorong warganya pelihara ayam untuk atasi limbah makanan rumah tangga

     

     

  • Membangun Ekonomi Sirkular Sejak dari Proses Perencanaan

    Membangun Ekonomi Sirkular Sejak dari Proses Perencanaan

    7cloud.asia – Meskipun ekonomi sirkular telah membuat kemajuan yang nyata, adopsi global yang sesungguhnya membutuhkan pergeseran tingkat sistem, dari bagaimana kita mendesain produk hingga bagaimana kita mendefinisikan nilai.

    Pertama, produk harus dirancang secara sirkularitas (mudah dan dapat didaurulang), bukan hanya keberlanjutan.

    Ini berarti memprioritaskan modularitas dengan menggunakan material yang mudah dipisahkan, dan pelabelan yang jelas untuk memungkinkan perbaikan, penggunaan kembali, dan daur ulang sejak awal.

    Tanpa prinsip desain tersebut, daur ulang menjadi mahal, tidak efisien, atau bahkan tidak mungkin. Akibatnya ekonomi sirkular akan sulit berjalan.

    Baca: 20 Kota di Dunia Dipercaya Memimpin Gerakan Ekonomi Sirkular

    Kedua, kebijakan harus membuat limbah menjadi mahal dan sirkularitas menguntungkan melalui mekanisme seperti kewajiban produsen yang diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR).

    Selain itu juga dibutuhkan insentif untuk model bisnis yang menerapkan ekonomi sirkular serta sanksi untuk pembuangan material berharga ke tempat pembuangan sampah.

    Ketiga, keuangan dan investasi sangat penting untuk meningkatkan infrastruktur ekonomi sirkular.

    Hal ini termasuk pendanaan teknologi pemulihan material, sistem logistik terbalik, dan kemitraan publik-swasta untuk mendukung pusat penggunaan kembali, terutama di negara-negara Selatan.

    Baca: Sejumlah Produsen yang Telah Menerapkan Sirkularitas

    Karena material bergerak secara global, dunia juga membutuhkan rantai pasokan yang transparan dan standar internasional untuk kandungan daur ulang, kemampuan daur ulang, dan kinerja lingkungan untuk mengukur kemajuan secara konsisten.

    Sirkularitas atau ekonomi sirkular bukan hanya soal teknis, tetapi juga tentang perilaku atau budaya.

    Konsumen harus diberdayakan melalui edukasi, layanan seperti penyewaan dan perbaikan, serta pergeseran pola pikir dari menghargai “barang baru” menjadi menghargai “barang yang tahan lama”.

    Hanya ketika semua pilar ini selaras, sirkularitas atau ekonomi sirkluar dapat benar-benar mendunia.

  • Tren Produk “Reusable” Dapat Mendorong Perkembangan Ekonomi Sirkular

    Tren Produk “Reusable” Dapat Mendorong Perkembangan Ekonomi Sirkular

    7cloud.asia – Meningkatnya penggunaan produk ramah lingkungan yang dapat digunakan kembali (reusable) di kalangan generasi muda menjadi angin segar bagi industri hijau.

    Lembaga kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memproyeksikan tren positif ini dapat mendorong percepatan ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia,
    seiring meningkatnya permintaan terhadap produk berkelanjutan.

    Peneliti CELIOS Rani Septyarini menjelaskan bahwa adopsi gaya hidup bebas sampah ini selaras dengan upaya pemulihan lingkungan global.

    “Tren ini bisa mendorong perkembangan ekonomi sirkular karena penggunaan produk reusable pada dasarnya sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memperpanjang usia pakai produk dan mengurangi sampah,” kata Rani dikutip Antaranews.com, Rabu (10/6/2026).

    Baca: Daur Ulang Sampah Puntung Rokok Jadi Produk Bernilai Tinggi

    Menurut Rani, tingginya kepedulian generasi muda terhadap isu kelestarian lingkungan secara perlahan telah mengubah lanskap pola konsumsi massal.

    Konsumen kontemporer saat ini cenderung lebih kritis dalam menimbang dampak ekologis dari setiap produk yang hendak mereka konsumsi.

    Rani menambahkan, perilaku konsumen ini menjadi peluang pasar produk ramah lingkungan.

    Perubahan fundamental pada perilaku konsumen ini, ujarnya, bakal menjadi stimulus kuat bagi para pelaku usaha untuk segera bermigrasi menyediakan produk yang lebih ramah lingkungan.

    Lebih lanjut, Rani menjabarkan bahwa indikator keputusan pembelian di kalangan anak muda kini telah bergeser. Aspek harga tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan utama.

    Baca: Tak Sekadar Mengolah Sampah Plastik, Robries Memberi Nilai Lebih 

    Konsumen, ujarnya, makin memedulikan rantai pasok produksi, jejak karbon yang dihasilkan, hingga nilai sosial (social value) yang diusung oleh sebuah produk.

    “Ketika permintaan terhadap produk yang berkelanjutan terus meningkat, pelaku usaha akan memiliki insentif ekonomi untuk berinvestasi pada desain produk yang lebih tahan lama, penggunaan bahan daur ulang, hingga sistem pengelolaan limbah yang lebih baik,” ujarnya.

    Insentif Ekonomi
    Menurut peneliti lulusan Universitas Airlangga tersebut, masifnya permintaan pasar terhadap komoditas berbasis keberlanjutan ini secara otomatis membuka keran implementasi ekonomi sirkular di lintas sektor usaha.

    Hadirnya tren ini tidak hanya menekan potensi kerusakan lingkungan, melainkan juga melahirkan ceruk bisnis baru yang menjanjikan lewat perancangan model produksi dan konsumsi yang jauh lebih efisien dalam memanfaatkan sumber daya alam.

    “Artinya, perubahan perilaku konsumen ini bisa menjadi pendorong pasar untuk menuju ekonomi sirkular. Makin besar permintaan produk yang berkelanjutan, makin besar pula peluang ekonomi sirkular berkembang,” pungkas Rani.

    Baca: DemiBumi Ada Karena Planet Bumi adalah Titipan dari Generasi Mendatang

     

  • Pengelolaan Taman Hutan Tropis dengan Penerapan Prinsip Ekonomi Sirkular

    Pengelolaan Taman Hutan Tropis dengan Penerapan Prinsip Ekonomi Sirkular

    7cloud.asia – Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadikan kawasan Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia di Banjarbaru sebagai contoh penerapan ekonomi sirkular.

    Ekonomi sirkular diwujudkan melalui pemanfaatan serasah daun dan ranting menjadi pupuk kompos untuk mendukung pelestarian lingkungan berkelanjutan.

    Dilansir Antaranews.com, Kepala Dishut Kalsel Fathimatuzzahra di Banjarbaru, Rabu, mengatakan pemanfaatan limbah organik menjadi kompos merupakan bagian dari pengelolaan kawasan berbasis lingkungan.

    Langkah ini tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menghasilkan produk bermanfaat bagi pemeliharaan vegetasi.

    “Kegiatan pembersihan kawasan tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan, tetapi juga menghasilkan serasah daun dan ranting yang dapat diolah menjadi pupuk kompos untuk mendukung pemeliharaan tanaman secara ramah lingkungan,” ujar Fathimatuzzahra.

    Ia menyebutkan kegiatan tersebut dilakukan melalui gotong-royong rutin yang melibatkan jajaran ASN dalam membersihkan kawasan taman hutan tropis sekaligus mengumpulkan material organik yang dapat dimanfaatkan kembali.

    “Kegiatan pemeliharaan mencakup pembersihan sampah, pemangkasan ranting pohon, pembersihan saluran air, serta pengumpulan serasah daun yang tersebar di berbagai area kawasan taman hutan tropis tersebut,” katanya.

    Dia menjelaskan serasah daun dan ranting yang terkumpul, kemudian dipilah serta diolah menjadi kompos, sehingga memiliki nilai guna lebih tinggi dibandingkan apabila hanya menjadi limbah organik yang dibiarkan menumpuk di kawasan.

    Setelah itu, kompos yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman di kawasan taman hutan tropis maupun pada kegiatan penghijauan di lokasi lain yang memerlukan dukungan pupuk organik.

    Fathimatuzzahra menuturkan pengolahan serasah menjadi kompos merupakan bentuk pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan karena mampu mengurangi volume limbah organik sekaligus mengembalikan unsur hara ke lingkungan melalui penggunaan pupuk alami.

    “Langkah tersebut sebagai komitmen menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali sumber daya agar memberikan nilai tambah bagi pengelolaan kawasan dan pelestarian ekosistem,” ujar dia.

    Di kawasan Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia tersebut, Dishut Kalsel mengkonservasi berbagai jenis tanaman khas hutan Kalimantan, seperti pohon ulin, sekitar 14 ribu tanaman meranti, serta jenis tumbuhan endemik lainnya.

    Flora ini menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat konservasi di provinsi itu.