Tag: ekonomi sirkular

  • Mendulang Cuan dari Model Ekonomi Sirkular

    Mendulang Cuan dari Model Ekonomi Sirkular

    7cloud.asia – Sistem ekonomi linier, di mana barang hanya sekali digunakan kemudian secara bertahap mulai ditinggalkan. Ini karena ekonomi linier dinilai tidak berkelanjutan untuk jangka panjang karena menggunakan pendekatan “ambil-pakai-buang”.

    Sebagai gantinya, kini masyarakat dunia mulai beralih ke ekonomi sirkular. Model ekonomi sirkular berupaya memperpanjang siklus hidup dari suatu produk, bahan baku, dan sumber daya yang ada agar dapat dipakai selama mungkin.

    Prinsip ekonomi sirkular mencakup pengurangan limbah dan polusi, menjaga produk dan material terpakai selama mungkin, dan meregenerasi sistem alam (Ellen Macarthur Foundation).

    Melalui ekonomi sirkular, kita bisa mencapai lebih banyak uang dengan menggunakan lebih sedikit sumber daya

    Baca: Cara sederhana mengelola sampah rumah tangga

    Di Indonesia, ekonomi sirkular disebut dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024. 

    Ekonomi Sirkular berada dibawah payung Pembangunan Rendah Karbon (PRK) yang juga merupakan salah satu upaya untuk mencapai ekonomi hijau dengan menekankan kegiatannya pada lima sektor prioritas.

    Tiga dari lima sektor PRK berkaitan erat dengan prinsip-prinsip ekonomi sirkular, yakni pengelolaan limbah, pembangunan energi berkelanjutan, dan pengembangan industri hijau.

    Implementasi ekonomi sirkular mampu mengurangi timbulan limbah yang dihasilkan, mengutamakan penggunaan energi terbarukan, dan mendukung efisiensi penggunaan sumber daya alam, produk yang dihasilkan, serta proses yang lebih ramah lingkungan.

    Model ekonomi sirkular secara sederhana terwujud lewat daur ulang sampah. Model ekonomi sirkular yang satu ini sering dipandang remeh, namun di tangan orang yang kreatif sampah disulap menjadi berbagai macam bisnis daur ulang sampah yang sangat menjanjikan.

    Baca: Cari lokasi bank sampah lewat aplikasi ini

    Ketersediaan sampah yang melimpah terutama sampah plastik bisa mendatangkan rupiah  dengan cara mengolahnya menjadi bentuk lain yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

    Berikut ini adalah berbagai contoh ekonomi sirkular dari bisnis daur ulang sampah : 

    Cacahan Plastik

    Bisnis cacahan plastik merupakan contoh nyata penerapan ekonomi sirkular. Sampah plastik seperti botol plastik dikumpulkan berdasarkan dengan jenis dan warnanya, kemudian botol tersebut dicuci bersih, dicacah dengan mesin dan dijemur sampai benar-benar kering.

    Barulah nantinya cacahan plastik tersebut dikirim sampai ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan China.

    Salah satu pebisnis yang sukses dengan bisnis daur ulang sampahnya adalah Nadhariyat Syafei pria yang berasal dari Kubu Raya Kalimantan Barat. Untuk mendapatkan sampah yang diolah menjadi cacahan pria berusia 26 tahun tersebut mendapatkannya dari pemulung.

    Pemulunglah yang setiap hari menyetorkan plastik hasil memulungnya yang mana untuk setiap sampah dihargai berbeda. Untuk botol plastik dibeli dengan harga Rp 1.000 sampai dengan Rp 2.000 sedangkan barang plastik bekas dibeli dengan harga Rp 3.000 sampai dengan Rp 4.000.

    Ketika sudah diolah menjadi cacahan plastik, harga pun akan melonjak naik bahkan sampai puluhan juta rupiah. 

    Pupuk Kompos

    Model ekonomi sirkular juga diimplementasikan dengan mengolah sampah organik yang  dihasilkan dari sisa sayuran bekas yang busuk atau juga sampah sisa hasil dari rumah tangga menjaid kompos.

    Untuk bisa mendulang rupiah dari sampah organik adalah bisa dengan memanfaatkannya menjadi pupuk kompos yang sangat bermanfaat untuk pertanian yang ada di Indonesia.

    Salah satu pebisnis sukses dengan pupuk komposnya adalah Hasanuddin warga Dusun Teluk Kabba Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur. Awalnya Hasanussin hanya mengeluarkan modal 3 juta, namun bisnisnya tersebut berhasil meraup untung sampai puluhan juta setiap bulan.

    Laki-laki berusia 40 tahun ini juga sukses memperkerjakan karyawan sebanyak 20 dari warga sekitar sehingga berkatnya lapangan pekerjaan untuk warga menjadi tercipta.

    Awalnya, Hasanuddin berprofesi sebagai petani namun akibat kebakaran lahan dan juga musim kemarau panjang membuat hasil pertanian menurun drastis sehingga tidak ada pemasukan samasekali.

    Berkat kegigihannya kini Hasanuddin bisa mendistribusikan pupuk kompos buatannya di Sangatta dan juga Bontang.

    Sumber: 

    Ekonomi Sirkular

     

  • Ekonomi Sirkular Belum Sempurna Jika Tak Terapkan Hal Ini

    Ekonomi Sirkular Belum Sempurna Jika Tak Terapkan Hal Ini

    7cloud.asia – Sejumlah produsen yang menggunakan kemasan plastik mengklaim dan menggencarkan iklan telah menerapkan ekonomi sirkular.

    Namun demikian, klaim perapan ekonomi sirkular ini belum bisa dikatakan benar jika produknya belum menggunakan plastik hasil daur ulang (rPET). Ini karena konsep ekonomi sirkular terbaik adalah model Close Loop atau menjadikan hasil plastik daur ulang kembali sebagai bahan kemasan.

    Demikian salah satu topik yang diangkat dalam webinar bertema “Akuntabilitas Program Pengelolaan Sampah Plastik Produsen” yang diselenggarakan secara daring oleh Aliansi Profesi Jurnalis Indonesia (APJI), Rabu (15/6/2023).

    Ujang Solihin “Uso” Sidik, Kasubdit Tata Laksana Produsen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, penarikan kembali dan daur ulang botol-botol plastik itu merupakan bagian penting dari ekonomi sirkular.

    Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastik

    Menurutnya, langkah ini ada arahan kebijakan atau semacam directive dalam pengelolaan sampah plastik, namun belum secara tegas dinyatakan sebagai mandatory.

    “Tapi, directive ke depan bahwa kemasan-kemasan botol-botol plastik AMDK, baik yang kecil maupun ukuran besar atau galon itu harus mengandung recycle content, harus mengandung bahan daur ulang,” ujarnya.

    Uso menambahkan, di Uni Eropa, tahun depan recycle content itu sudah 25% harus mandatory.

    “Jadi, produk-produk yang berbasis kemasan PET tidak bisa dipasarkan di seluruh negara Eropa kalau tidak mengandung 25% bahan daur ulang di dalam kemasan,” ungkapnya.

    Baca: Pemerintah-produsen dan konsumen harus bahu membahu tangani sampah plastik

    Karena, kata Uso, dalam prinsip pendauran ulang atau recycle, produsen wajib untuk melakukan pendauran ulang produk atau kemasan produk yang mereka hasilkan melalui
    penarikan kembali.

    “Jadi, post costumer packaging itu harus ditarik lagi, dikumpulkan lagi oleh para produsen untuk kemudian masuk ke jalur daur ulang. Tentunya harus dipastikan di awal bahwa kemasan itu memang kemasan yang layak, mudah didaur ulang,” tandasnya.

    Uso menegaskan, ketika bicara daur ulang, yang ideal itu adalah model close loop (botol harus kembali ke botol) dan dan bukan open loop atau down cycle (botolnya dari daur ulang
    menjadi produk lain).

    Dia menyebutkan sudah ada beberapa produsen terutama produsen yang menghasilkan produk minuman dengan wadah kemasan plastik PET yang sudah menerapkan model close loop atau recycle PET.

    Baca: Botol kaca dan botol plastik, mana yang lebih ramah lingkungan?

    “Berdasarkan data kami, yang sudah bergerak ke sana itu Danone Aqua atau Danone Indonesia yang produknya bermerk Aqua. Kemudian yang sudah bergerak ke arah sana juga, tapi ini baru tahap awal atau rencana dan mereka sudah bangun pabrik juga yaitu Coca Cola dengan produk PET. Yang lainnya belum, baru dua itu,” tuturnya.

    Bisuk Abraham Sisungkunon, Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) mengatakan esensi dari ekonomi sirkular kadang
    hanya terbatasi oleh yang namanya pendauran ulang. Padahal, lanjutnya, sebetulnya sirkulasi ekonomi jauh lebih luas.

    “Kita ingin menghasilkan sebuah close loop. Jadi diupayakan agar produsen itu bisa menarik lagi bekas kemasan plastiknya sehingga itu bisa masuk lagi ke dalam siklus produksi. Hal ini
    bisa mengurangi jumlah sampah yang akan tertumpuk di TPS itu akan menjadi lebih sedikit daripada yang sebelumnya,” ujarnya.

    Baca: Robries, cara unik daur ulang sampah plastik

    Guru Besar Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, Mochamad Arief Budihardjo mengatakan, menjadi tantangan bagi industri AMDK untuk menerapkan model close loop sebagai realialisasi ekonomi sirkular.

    Karena, menurutnya, pada saat berbicara tentang close loop, itu akan kembali lagi menjadi sebuah kemasan seperti yang didesain pada awalnya atau air minum menjadi kemasan air minum lagi.

    “Tidak semua industri siap menerapkan konsep ini karena membutuhkan sebuah tantangan. Karenanya perlu mulai dipikirkan bagaimana kita bisa meng-encourage konsumen kita atau pengguna produk ini untuk mengembalikan atau untuk terlibat dalam sebuah close loop system,” ucapnya.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace, menyambut baik dengan adanya dorongan kepada produsen AMDK untuk menerapkan model circular close loop.

    Menurutnya, dengan daur ulang menjadi produk yang sama akan jauh lebih baik karena tidak perlu lagi mencari atau mengambil sumber daya yang baru.

    “Tapi memang pada praktiknya di lapangan tentu ini tidak mudah. Tapi, sebenarnya model sirkuler yang ideal itu adalah ketika didaur ulang yaitu menjadi resource yang sama, itu akan bertahan menjadi satu produk yang sama,” katanya.

    Baca: Plastik ramah lingkungan yang ada di Indonesia

    Reza Andreanto, Ketua Umum PRAISE dan juga Sustainability Manager TetraPak Indonesia bahkan mengutarakan bahwa dalam konteks ekonomi sirkular, model close loop ini levelnya lebih tinggi.

    Tapi, menurutnya, untuk bisa mengarah ke model close loop ini dibutuhkan proses mengingat pengendaliannya di masyarakat itu juga cukup berat.

    “Kalau di lapangan ini tantangan cukup besar sehingga pelaksanaannya tidak bisa diterapkan secara otomatis tapi harus bertahap,” tukasnya.

    Penulis: Charles Maruli Siahaan

  • Ekonomi Sirkular Antar Jawa Tengah Raih Gelar Provinsi dengan Pembangunan Daerah Terbaik

    Ekonomi Sirkular Antar Jawa Tengah Raih Gelar Provinsi dengan Pembangunan Daerah Terbaik

    7cloud.asia – Pemprov Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Ganjar Pranowo berkomitmen untuk terus mengembangkan ekonomi sirkular.

    Untuk itu, keterlibatan anak muda kreatif sangat penting, mengingat ekonomi sirkular semakin menjadi tren dan dapat menyelesaikan beberapa persoalan di masyarakat, khususnya terkait masalah lingkungan.

    “Sebenarnya ekonomi sirkular kan menjadi tren ya. Kalau kemudian masyarakat punya problem di tempatnya masing-masing dan mereka ingin menyelesaikan, ternyata berdasarkan sumber atau resources yang ada di situ, mereka mampu untuk mengolah kembali, dan ternyata praktik-praktik baik itu ada. Kita mencoba mendampingi,” kata Ganjar Pranowo usai rapat paripurna di Gedung DPRD Jawa Tengah, awal Juni lalu.
     
     
    Ditambahkan, perkembangan ekonomi sirkular, juga terlihat dari semakin tingginya minat masyarakat untuk melakukan daur ulang.
     
    Perkembangan ekonomi sirkular ini sejalan dengan semakin banyaknya generasi muda yang peduli dengan isu lingkungan dan ingin membuat dunia menjadi lebih baik dan nyaman.
     
    “Banyak sekali kelompok masyarakat yang muda dan demen banget sama ekonomi sirkular. Generasi muda sekarang itu sangat berorientasi pada isu lingkungan, bagaimana kemudian dunia itu lebih baik dan lebih nyaman, semua yang hari ini mengganggu, contohnya sampah begitu, mereka mencoba mengolah,” tuturnya.
     
     
    Ganjar Pranowo lantas menyebutkan contoh penerapan ekonomi sirkular yang dilakukan sejumlah anak muda dengan mengolah sampah baru menjaid produk fesyen.
     
    Beberapa waktu lalu, Ganjar Pranowo menerima kiriman baju dengan pewarna alam, dan memanfaatkan material bekas untuk kancing baju.
     
    “Biasa saja kalau dilihat tetapi setelah saya tanya, pewarnanya itu natural. Hitam natural baru saya lihat sekali itu bagus, tidak terlalu gelap tapi hitamnya kelihatan dominan. Kedua, beberapa kancing bajunya itu beberapa materi-materi yang dibuang. Ini contoh dari ekonomi sirkular,” katanya.
     
     
    Ganjar Pranowo menegaskan, produk itu menjadi bukti, di tangan generasi muda sampah dapat diolah kembali dan menghasilkan produk yang bagus. 
     
    “Oleh anak-anak muda didesain dengan sedemikian rupa bagusnya, kemudian menjadi produk yang bagus. Ini contoh-contoh saja. Mudah-mudahan menjadi trendsetter ya, ekonomi sirkular dan orang mau melakukan aktivitas di situ,” ungkapnya.
     
    Menurutnya, penerapan ekonomi sirkular yang mulai dikembangkan di Jawa Tengah mendapat apresiasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 
    Bappenas.
     
    Jawa Tengah menjadi provinsi terbaik pertama dalam Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) 2023. Penghargaan dari Bappenas ini juga pernah diterima Jawa Tengah pada 2019 dan 2020.

     
     
    Namun Ganjar Pranowo menegaskan penghargaan ini hanyalah efek dari penerapan ekonomi sirkular.
     
    “Penghargaan itu bukan tujuan, tapi substansi dari program, termasuk ekonomi sirkular harus menyentuh kelompok masyarakat,” tandasnya.
     
    Peghargaan ini juga tak lepas dari penerapan energi baru terbarukan atau EBT. Itu terlihat dari banyaknya jumlah desa mandiri energi (DME) di Jawa Tengah.
     
    Saat ini telah berjumlah 2.353 DME. Seluruh DME tersebut terdiri dari 2.167 DME inisiatif, 160 DME berkembang, dan 26 DME mapan.
     
    Sumber: jawatengah.go.id
     
     

     

     

     

     

     

  • Daur Ulang Minyak Jelantah ke Biodiesel Menjadi Bisnis Menjanjikan

    Daur Ulang Minyak Jelantah ke Biodiesel Menjadi Bisnis Menjanjikan

    7cloud.asia – Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman menyampaikan bahwa pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel menjadi salah satu opsi penerapan ekonomi sirkular.

    Pemanfaatan minyak jelantah menjadi biodiesel berarti memanfaatkan sumber daya untuk terus menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

    Saleh memaparkan potensi pengolahan minyak jelantah menjadi potensi bisnis yang bagus bagi penerapan ekonomi sirkular.

    Dikutip esdm.go.idm, kajian awal TNP2K dan Traction Energi Asia tentang Potensi Minyak Jelantah Untuk Biodiesel dan Penurunan Kemiskinan di Indonesia (2020) mencatat bahwa pada tahun 2019, konsumsi minyak goreng sawit nasional mencapai 16,2 juta kilo liter (KL).

    Baca: Plus minus penggunaan biodiesel berbahan sawit

    Dari angka tersebut rata-rata minyak jelantah yang dihasilkan berada pada kisaran 40-60% atau berada di kisaran 6,46 – 9,72 juta KL.

    “Sayangnya minyak jelantah yang dapat dikumpulkan di Indonesia baru mencapai 3 juta KL atau hanya 18,5% dari total konsumsi minyak goreng sawit nasional,” terang Saleh.

    Kajian tersebut menemukan bahwa hanya sebagian kecil minyak jelantah di Indonesia yang dimanfaatkan sebagai biodiesel.

    Dari 3 juta KL yang berhasil dikumpulkan, hanya sekitar 570 KL yang dikonversi untuk biodiesel dan kebutuhan lainnya.

    Sementara sisanya sekitar 2,4 juta kilo liter digunakan untuk minyak goreng daur ulang dan ekspor.

    Baca: Mendulang cuan dari ekonomi sirkular

    TNP2K dan Traction Energy Asia menyebut, hal itu disebabkan belum adanya mekanisme pengumpulan minyak jelantah baik dari restoran, hotel dan rumah tangga.

    Sebaran lokasi sumber minyak jelantah yang tidak simetris dengan lokasi pabrik pengolahan biodiesel, teknologi pengolahan (terutama yang dikelola oleh masyarakat) yang belum cukup efisien. 

    Selain itu kualitas biodiesel hasil olahan minyak jelantah yang masih perlu diuji lebih jauh, menjadi tantangan selanjutnya.

    Padahal, pengolahan minyak jelantah untuk biodiesel, khususnya jika dilakukan oleh masyarakat, akan mendatangkan banyak manfaat baik dari sisi ekonomi, kesehatan maupun lingkungan.

    Baca: Insentif dibutuhkan untuk mendorong pasar mobil listrik

    Dari sisi ekonomi mendaur ulang minyak jelantah menjaid biodiesel juga sangat menjanjikan.

    Sardji Sarwan, pengelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di Tarakan Timur mengatakan bahwa omzet produksi biodiesel yang dihasilkan kelompoknya sudah mencapai Rp 2 juta per hari.

    Untuk omzet sebesar itu ia mempekerjakan sembilan karyawan yang bekerja 4 jam per hari, dengan bayaran Rp 2 juta per bulan per orang.

    Produk biodiesel yang dihasilkan bisa mencapai 180 liter per hari dan dijual dengan harga Rp11.000 per liter.

    Walaupun data yang ada memang menunjukkan bahwa biaya konversi biodiesel berbahan baku minyak jelantah lebih besar daripada biaya konversi biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit.

    Namun demikian, harga indeks produksi (HIP) minyak jelantah untuk biodiesel lebih rendah dibanding HIP minyak kelapa sawit karena faktor bahan baku.

    Baca: DPR usulkan insentif untuk kawasan yang dipertahankan sebagai penghasil oksigen 

    Dari sisi kesehatan, serapan minyak jelantah untuk produksi biodiesel bisa mengurangi alokasi penggunaan minyak jelantah yang didaur-ulang sebagai bahan masakan, sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi risiko meningkatnya kadar HNE.

    HNE adalah zat beracun yang mudah diserap dalam makanan yang dapat mengakibatkan stroke, alzheimer dan Parkinson.

    Dari sisi lingkungan, pengolahan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel bisa berdampak positif terhadap pengurangan limbah B3.

    Mengolah kembali minyak jelantah berarti juga mengurangi pembuangan minyak jelantah yang dapat mencemari lingkungan dan mengganggu ekosistem.

    Baca: Mengapa pemerintah berencana terapkan pajak karbon

    Minyak jelantah yang dibuang sembarangan memberikan risiko meningkatnya kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) di perairan. Hal ini menyebabkan tertutupnya permukaan air dengan lapisan minyak.

    Akibatnya, sinar matahari tidak dapat masuk ke perairan yang mendorong matinya biota dalam perairan, serta berpotensi mencemari air tanah. 

    Selain itu sifat biodiesel yang bisa terurai dengan bantuan mikroorganisme lain, tidak beracun dan dapat menggantikan bahan bakar solar tanpa modifikasi lebih lanjut.

    Kondisi ini menjadikannya sebagai sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan sebagai pengganti bahan bakar fosil.

    Sejak 2018 biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit dijadikan mandatori oleh Pemerintah dan saat ini implementasinya sudah sampai B30, dengan campuran FAME 30 persen dan solar 70 persen.

    Ini tentu pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel merupakan salah satu opsi bisnis menjanjikan di masa depan.

     

  • Menyelesaikan Masalah Sampah Plastik dengan Ekonomi Sirkular

    Menyelesaikan Masalah Sampah Plastik dengan Ekonomi Sirkular

    7cloud.asia – Hingga hari ini, sampah khususnya sampah plastik masih menjadi masalah lingkungan yang serius yang dihadapi Indonesia. Bahkan, Indonesia kerap disorot sebagai salah satu negara dengan penanganan sampah yang buruk.

    Data dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyebutkan, Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.

    Setiap tahun, Indonesia memproduksi setidaknya 3,2 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola.

    Dari angka tersebut, sebanyak 1,29 juta ton atau hampir separuh sampah plastik berakhir begitu saja di laut.

    Sementara, data dari Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, sebanyak 11,3 juta ton sampah di Indonesia tidak dapat terkelola.

    Baca: Saset Produk FMCG Penyumbang Terbesar Sampah Plastik

    Angka ini setara 36,7 persen dari total timbulan sampah nasional yang mencapai 31,9 juta ton hingga 24 Juli 2024. Timbulan sampah di Tanah Air memang tak bisa terhindarkan.

    Meski demikian, sampah plastik sebenarnya bisa menjadi berkah jika terkelola dengan baik. Ekonomi sirkular merupakan salah satu solusi strategis dalam pengelolaan sampah khususnya sampah plastik.

    Konsep ini tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru. Indonesia sendiri telah mengadopsi konsep ekonomi sirkular ke dalam strategi dan kebijakan jangka panjang pembangunan melalui Visi Indonesia 2045.

    Strategi tersebut mengedepankan prinsip 5R, yaitu reduce (kurangi), reusev(gunakan ulang), recycle (daur ulang), refurbish (olah ulang), dan renew (perbarui).

    Dengan lima prinsip ini, pendekatan ekonomi sirkular membuka potensi perekonomian baru bagi pengelolaan sampah Indonesia.

    Baca: Sistem Isi Ulang dari SIKLUS kurangi sampah plastik

    Dikutip dari laporan bertajuk “Ringkasan bagi Pembuat Kebijakan: Manfaat Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan dari Ekonomi Sirkular di Indonesia” susunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) pada 2021, penerapan ekonomi sirkular dapat menghasilkan tambahan PDB.

    Adapun tambahan ke produk domestik bruto (PDB) diperkirakan senilai Rp 593 triliun hingga Rp 628 triliun pada 2030.

    Tak sekadar peningkatan PDB, penerapan ekonomi sirkular dapat mengurangi emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca lain serta konsumsi air bersih.

    Hal ini dapat membantu Indonesia mencapai target pembangunan rendah karbon dan pembangunan berkelanjutan. Kemudian, pendekatan ekonomi sirkular juga akan menghasilkan 4,4 juta lapangan kerja hijau (green jobs) hingga 2030.

  • Ekonomi Sirkular: Sejumlah Produsen Mulai Terapkan Daur Ulang Produknya

    Ekonomi Sirkular: Sejumlah Produsen Mulai Terapkan Daur Ulang Produknya

    7cloud.asia – Banyak orang membuat, mengonsumsi, dan membuang barang tanpa menyadari bahwa masih banyak barang yang terbuang menjadi sampah/limbah daripada yang terlihat.

    Sementara beberapa bahan mengalami degradasi dengan setiap upaya daur ulang, bahan lain dapat diubah tanpa henti, tanpa kehilangan nilainya.

    Memahami mana bahan yang dapat didaur-ulang dan tidak, dapat mengubah cara kita membangun, membeli, dan berpikir tentang keberlanjutan.

    Ekstraksi dan pemrosesan material mentah menyumbang hampir setengah dari emisi global. Ekstrasi bahan mentah juga menyumbang lebih dari 90 persen hilangnya keanekaragaman hayati dan tekanan air.

    Melalui perbaikan, pembuatan ulang, penggunaan kembali, daur ulang, dan desain cerdas, ekonomi sirkular dapat secara drastis menurunkan emisi Cakupan 1, 2, dan 3.

    Ekonomi sirkular atau daur ulang juga mengurangi ketergantungan pada ekstraksi sumber daya mentah, dan menyelaraskan produksi dengan batas yang bisa ditolerir planet Bumi.

    Saat prinsip ekonomi sirkular dan daur ulang mendapatkan perhatian secara global, beberapa perusahaan telah membuka jalan dengan solusi yang kreatif dan berdampak tinggi.

    Baca: Empat jenis plastik yang dapat didaur ulang

    Apple: Mendesain untuk Pembongkaran
    Pada tahun 2021, Apple mengumumkan akan menyediakan komponen untuk memperbaiki perangkatnya bagi konsumen perorangan, langkah pertamanya untuk bergabung dengan gerakan hak untuk memperbaiki.

    Perusahaan teknologi tersebut telah berinvestasi besar dalam pemulihan material. Robot internalnya, Daisy, dapat membongkar 200 iPhone per jam, mengambil elemen tanah jarang, emas, dan aluminium dari perangkat lama.

    Material ini kemudian didaur ulang menjadi produk baru, menjaga sumber daya yang berharga dalam siklus tertutup.

    Patagonia: Perbaikan, Penjualan Kembali, Pemakaian Kembali
    Program Worn Wear Patagonia adalah contoh cemerlang dari ekonomi sirkular di sektor tekstil. Pelanggan dapat mengembalikan perlengkapan bekas, yang diperbaiki dan dijual kembali, atau digunakan kembali menjadi desain baru.

    Merek tersebut juga menggunakan poliester daur ulang dan bereksperimen dengan bahan yang sepenuhnya sirkular yang dapat digunakan kembali berkali-kali.

    Baca: Industri daur ulang kekurangan suplai sampah plastik

    IKEA: Furnitur Sebagai Layanan Sirkular
    IKEA sedang menguji coba program yang mendesain furnitur agar dapat dibongkar, diperbarui, dan dijual kembali.

    Perusahaan asal Swedia ini memperkenalkan skema Beli Kembali & Jual Kembali, yang mengubah furnitur lama menjadi pendapatan baru, bukan tempat pembuangan sampah.

    Ini adalah pendekatan produk sebagai layanan yang menempatkan penggunaan kembali sebagai inti dari pengalaman pelanggan.

    Ekonomi sirkular membuat teknologi bersih menjadi lebih bersih
    Sektor energi bersih dibangun atas dasar keberlanjutan, tetapi ironisnya, infrastrukturnya tidak selalu sirkular. Panel surya dan bilah turbin angin menimbulkan tantangan limbah besar-besaran di akhir masa pakainya.

    Panel surya tradisional sulit didaur ulang karena lapisan kaca, silikon, dan logamnya yang rumit. Namun, perusahaan seperti First Solar memelopori daur ulang siklus tertutup, memulihkan hingga 90 persen material (seperti kadmium dan telurium) untuk membuat panel baru.

    Sementara itu, dalam sistem siklus terbuka, kaca dari panel yang dinonaktifkan digunakan kembali menjadi insulasi wol kaca, dan rangka digunakan kembali dalam konstruksi, sehingga memperpanjang masa pakai material di sektor-sektor baru.

    Bilah turbin angin terbuat dari material komposit yang sulit dipecah. Namun, solusinya mulai bermunculan. Siemens Gamesa telah menciptakan RecyclableBlades, yang menggunakan sistem resin yang dapat dilarutkan dan dipulihkan di akhir masa pakainya.

    Dengan cara siklus terbuka, bilah lama telah digunakan kembali menjadi jembatan pejalan kaki, taman skate, dan bahkan elemen arsitektur.

    Beberapa perusahaan menggilingnya menjadi material pengisi untuk produksi semen, sehingga memberikan fungsi baru pada apa yang dulunya merupakan limbah.

     

     

  • Ekonomi Sirkular Punya Peran Penting dalam Menurunkan Emisi Karbon Dunia

    Ekonomi Sirkular Punya Peran Penting dalam Menurunkan Emisi Karbon Dunia

    7cloud.asia – Dalam upaya menekan emisi karbon atau dekarbonisasi ekonomi global dan mengantisipasi krisis iklim, mata dunia lebih banyak menyorot energi terbarukan, kendaraan listrik, dan penangkapan karbon.

    Padahal, ada pengungkit lain yang sama kuatnya dalam menekan emisi karbon hingga mendekati nol persen yang sering kali beroperasi di balik layar yaitu ekonomi sirkular yang juga disebut sebagai sirkularitas.

    Ekonomi sirkular atau sirkularitas bukan sekadar strategi pengelolaan limbah, tetapi juga pemikiran ulang sistemik tentang cara mendesain, memproduksi, sekaligus dalam mengonsumsi.

    Ekonomi sirkular adalah strategi yang menata ulang limbah sebagai sumber daya, merangkul penggunaan ulang daripada penggantian, dan melihat nilai dalam material jauh setelah masa pakai pertamanya.

    Dan, yang terpenting, ekonomi sirkular memiliki potensi yang sangat besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di setiap sektor industri.

    Dalam ekonomi linier, kita diajarkan untuk memperlakukan produk dengan pola pikir “satu-dan-selesai”; gunakan sekali, buang, dan lanjutkan. Pola ini terbukti hasilkan banyak limbah.

    Baca: Menyelesaikan masalah polusi plastik dengan ekonomi sirkular

    Sebaliknya, ekonomi sirkular mendorong orang untuk mengambil material dan menggunakannya kembali sebagaimana adanya, atau mengubahnya menjadi sesuatu yang lain untuk digunakan.

    Ekonomi sirkular cenderung menyingkirkan model “ambil, buang, buat” dan meminta kita untuk mencoba menggunakan kembali material selama mungkin. Banyak hal yang mendasari ekonomi sirkular bergantung pada material apa yang dimasukkan ke dalam siklus sirkular.

    Namun, masalahnya adalah tidak semua material bisa digunakan berulang kali. Material seperti kaca, aluminium, dan baja, yang dapat dilebur dan dibentuk ulang tanpa kehilangan sifat intinya, memiliki potensi tertinggi untuk sirkularitas sejati.

    Material tersebut dapat didaur ulang berulang kali, dengan kemurnian dan kekuatan material yang tetap terjaga setiap siklusnya. Kaca dapat dilebur dan dibentuk ulang tanpa degradasi, dan logam, seperti aluminium, mempertahankan kualitasnya bahkan setelah digunakan berkali-kali.

    Jenis plastik tertentu, khususnya termoplastik, juga dapat dilebur dan dibentuk ulang, meskipun cenderung mengalami degradasi pada setiap siklus daur ulang.

    Namun, tidak semua material sesuai dengan pola ini. Sebut saja kayu, tekstil, dan komposit tidak dapat dilebur atau dibentuk ulang dengan cara yang sama.

    Baca: Mendulang cuan dari model ekonomi sirkular

    Meskipun kayu dapat digunakan kembali atau didaur ulang (menjadikannya produk bermutu rendah, seperti membuat rak atau palet kayu dari meja yang rusak), setiap penggunaan baru mengurangi kualitasnya.

    Keramik sangat tahan lama tetapi tidak dapat dengan mudah dicairkan atau didaur ulang dengan cara tradisional. Bahan yang kita daur ulang secara teratur seperti kardus juga tidak mengalami siklus tanpa akhir.

    Setelah beberapa siklus, seratnya menjadi lebih pendek dan lebih lemah, dan kardus kehilangan integritas strukturalnya. Inilah sebabnya mengapa bubur kayu baru sering dicampur dengan bahan daur ulang untuk memastikan kekuatannya.

    Tekstil juga menghadapi keterbatasan; mereka dapat digunakan kembali atau dibuat kompos tetapi tidak dapat digunakan kembali tanpa henti dalam bentuk aslinya.

    Bahan-bahan seperti ini masih dapat berkontribusi pada ekonomi sirkular, tetapi tidak dalam siklus daur ulang “tak terbatas” yang sama seperti yang dinikmati logam dan kaca.

    Daur ulangnya sering kali melibatkan daur ulang, atau diproses secara biologis, seperti dengan pengomposan atau penguraian/biodegradasi.

    Apa saja jenis ekonomi sirkular dan bagaimana ekonomi ini dapat diterapkan, akan diulas dalam tulisan selanjutnya. Jangan lewatkan!

    Baca: Sejumlah merek global mulai terapkan ekonomi sirkular

     

  • Tiga Alasan Mengapa Ekonomi Sirkular Makin Banyak Dipraktekkan

    Tiga Alasan Mengapa Ekonomi Sirkular Makin Banyak Dipraktekkan

    7cloud.asia – Ekonomi sirkular atau sirkularitas sering disebut sebagai pengungkit lain yang sama kuatnya dalam menekan emisi karbon hingga mendekati nol persen yang sering kali beroperasi di balik layar

    Adapun ekonomi sirkular dapat terjadi dalam dua cara umum; dapat terjadi dalam sistem loop terbuka atau tertutup.

    Dalam sistem loop tertutup, bahan didaur ulang atau digunakan kembali menjadi produk atau kategori produk yang sama, berulang kali, tanpa penurunan kualitas yang signifikan. Ini sering kali menjadi standar ideal ekonomi sirkular.

    Misalnya, aluminium mempertahankan kualitasnya melalui proses daur ulang, dapat melalui loop tak terbatas dengan sedikit atau tanpa kehilangan material sehingga kaleng aluminium dilebur dan dibuat ulang menjadi kaleng baru.

    Sebaliknya, ekonomi sirkular sistem loop terbuka melibatkan bahan yang didaur ulang menjadi produk atau aliran material yang berbeda, sering kali dengan nilai atau fungsi yang lebih rendah.

    Contohnya adalah konversi botol plastik menjadi serat tekstil untuk pakaian atau karpet. Bahan-bahan ini biasanya tidak dapat didaur ulang berulang kali setelah digunakan dalam bentuk yang berbeda, sehingga akan berakhir di pembuangan.

    Baca: Ekonomi Sirkular berperan penting menurunkan emisi karbon

    Ada tiga alasan yang memungkinkan ekonomi sirkular makin banyak dipraktekkan pelaku usaha di seluruh dunia, yaitu.

    Manfaat ekonomi
    Sulit untuk mengadvokasi, dan mengejar, inisiatif berkelanjutan ketika tidak ada manfaat finansial yang terbukti.

    Perusahaan-perusahaan semakin menyadari bahwa merancang tanpa limbah, menjaga bahan-bahan tetap digunakan, dan meregenerasi sistem alami tidak hanya baik untuk planet ini; tetapi juga baik untuk keuntungan.

    Baik itu Apple yang mengambil kembali unsur-unsur tanah jarang yang berharga dari iPhone, atau IKEA yang menghemat biaya dengan memperbarui furnitur bekas, adalah contoh bisnis-bisnis menyadari bahwa limbah berarti nilai yang hilang.

    Model-model sirkular mengurangi biaya material, meningkatkan ketahanan terhadap guncangan rantai pasokan, dan membuka aliran pendapatan baru (misalnya, layanan perbaikan, penjualan kembali, model berbasis langganan).

    Tanpa alasan ekonomi yang kuat, bahkan ide-ide yang paling berkelanjutan pun cenderung menjadi debu.

    Baca: Ekonomi Sirkular jadi solusi mengatasi polusi plastik

    Sains dan teknologi
    Setiap upaya berkelanjutan perlu didukung dengan sains dan metodologi teknologi yang terbukti. Tidak ada solusi sirkular yang berhasil tanpa kelayakan teknis.

    Insinyur dan ilmuwan membuat sirkularitas menjadi nyata dengan mengembangkan desain modular, bahan-bahan yang dapat didaur ulang, sistem pemulihan limbah, logistik terbalik, dan alat pelacakan material.

    Dari bioplastik yang dapat terurai secara hayati hingga bangunan yang dirancang untuk dibongkar, inovasi dalam desain, ilmu material, dan pemikiran sistem membuat ekonomi sirkular dapat diskalakan.

    Prinsip desain sirkular seperti daya tahan, kemampuan untuk ditingkatkan, dan pembuatan ulang semuanya tertanam dalam segala hal mulai dari elektronik konsumen hingga mesin industri.

    Teknologi dan sains adalah cara ekonomi sirkular bergerak dari teori atau gagasan menjadi kenyataan.

    Baca: Ekonomi sirkular hasilkan keuntungan hingga 108,5 miliar dolar setahun

    Kebijakan
    Jika Anda memiliki dukungan finansial dan teknologi, kebijakan berfungsi untuk mengkatalisasi proses dan memberi insentif kepada pasar. Pemerintah dan lembaga memainkan peran penting dalam memungkinkan dan mempercepat transisi sirkular.

    Melalui tanggung jawab produsen yang diperluas (EPR), undang-undang hak untuk memperbaiki, larangan plastik, target pengalihan limbah, dan mandat pengadaan hijau, kebijakan menciptakan kerangka kerja regulasi dan sinyal pasar yang mendorong adopsi.

    Jika dirancang dengan tepat, kebijakan menggeser lapangan permainan ekonomi untuk memberi penghargaan atas perilaku sirkular dan menghukum praktik pemborosan.

    Rencana Aksi Ekonomi Sirkular Uni Eropa, misalnya, menetapkan tolok ukur global untuk menyelaraskan aktivitas ekonomi dengan prinsip sirkular. Tanpa kebijakan, praktik sirkular tetap bersifat opsional.

    Dengan kebijakan akan mendorong praktik ekonomi sirkular menjadi normal baru.

    Baca: Sejumlah merek global mulai terapkan ekonomi sirkular

  • Butuh Perubahan Sistem Agar Ekonomi Sirkular Dapat Diadopsi Secara Global

    Butuh Perubahan Sistem Agar Ekonomi Sirkular Dapat Diadopsi Secara Global

    7cloud.asia – Meskipun ekonomi sirkular atau sirkularitas telah membuat langkah-langkah yang menginspirasi, adopsi global yang sesungguhnya menuntut perubahan pada tingkat sistem.

    Perubahan ini, mulai dari cara industri mendesain produk hingga cara mereka mendefinisikan nilai.

    Seiring dengan pergerakan material secara global, industri juga memerlukan rantai pasokan yang transparan dan standar internasional untuk konten daur ulang, kemampuan daur ulang, dan kinerja lingkungan untuk mengukur kemajuan secara konsisten.

    Sirkularitas bukan hanya teknis, tetapi juga masalah kultural. Konsumen harus diberdayakan dengan pendidikan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sirkularitas

    Baca: Peran ekonomi sirkular dalam menurunkan emisi

    Layanan seperti penyewaan dan perbaikan, serta perubahan pola pikir dari menghargai “yang baru” menjadi menghargai “yang awet.”

    Hanya ketika semua pilar ini selaras, sirkularitas dapat benar-benar mendunia. Berikut hal mendasar yang perlu ditekankan agar sirkularitas bisa benar-benar diterapkan.

    1. Prinsip sirkularitas
    Produk harus dirancang untuk sirkularitas, bukan hanya keberlanjutan. Ini berarti memprioritaskan modularitas dengan menggunakan bahan yang mudah dipisahkan.

    Juga pelabelan yang jelas untuk memungkinkan perbaikan, penggunaan kembali, dan daur ulang sejak awal.

    Tanpa prinsip desain yang mengedepankan sirkularitas seperti itu, daur ulang menjadi mahal, tidak efisien, atau bahkan mustahil.

    Baca: Mengapa ekonomi sirkular makin digaungkan

    2. Kebijakan
    Kebijakan harus membuat limbah menjadi mahal dan sirkularitas menguntungkan melalui mekanisme seperti EPR, insentif untuk model bisnis loop tertutup, dan hukuman untuk penimbunan bahan berharga.

    3. Sektor pembiayaan
    keuangan dan investasi sangat penting untuk meningkatkan skala infrastruktur ekonomi sirkular secara sglobal.

    Ini termasuk pendanaan teknologi pemulihan material, sistem logistik terbalik, dan kemitraan publik-swasta untuk mendukung pusat penggunaan kembali, terutama di negara-negara berkembang atau Global South.

     

  • Kolaborasi Le Minerale-Pijak Bumi dan Kivee Luncurkan Produk Fesyen Hasil Ekonomi Sirkular

    Kolaborasi Le Minerale-Pijak Bumi dan Kivee Luncurkan Produk Fesyen Hasil Ekonomi Sirkular

    7cloud.asia – Le Minerale berkolaborasi bersama dua merek lokal, Pijak Bumi dan Kivee meluncurkan koleksi produk fesyen hasil ekonomi sirkular berbahan botol plastik bekas.

    Kolaborasi ini dilakukan di bawah bendera Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional (GESN).

    Kolaborasi antara Le Minerale dan Kivee akan dirilis secara eksklusif dan terbatas. Dibuat dari satu jenis kain yaitu campuran Tencel dan PET daur ulang, koleksi pertama terdiri atas kemeja lengan pendek, kemeja lengan panjang, dan celana pendek.

    Chief Of Operations Kivee Helen Bellina mengatakan fesyen tidak hanya soal gaya, tapi juga soal nilai dan dampaknya.

    “Selain menggunakan kain daur ulang bahan rPET, juga merangkul para pengrajin wanita di Sumba untuk motif sulamannya. Produk-produk hasil kolaborasi ini adalah bukti bahwa kita bisa tetap keren sambil peduli lingkungan,” jelasnya.

    Baca: Butuh perubahan sistem agar ekonomi sirkular diadopsi secara global

    Creative Director Kivee Holy Veronica menambahkan, pihaknya sudah lama memiliki keinginan besar untuk meluncurkan koleksi daur ulang. Dengan kolaborasi yang dilakukan bersama Le Minerale akhirnya impian ini bisa tercapai.

    Di sisi lain, gambaran proses daur ulang botol PET, juga ditampilkan di sepatu kets dari Pijak Bumi. Desain ini menampilkan kain PET daur ulang 100 persen di bagian luar sepatu.

    “Semoga melalui kolaborasi ini, masyarakat semakin aware bahwa bahan daur ulang bisa diubah menjadi produk kreatif yang nyaman untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Vania Audrey, Co-Founder Pijak Bumi.

    Program ini menjadi langkah nyata Le Minerale untuk terus berkomitmen dan berupaya dalam hal penanganan dan pengelolaan sampah plastik kemasan pasca konsumsi hingga mewujudkan tercapainya ekonomi sirkular di Indonesia.

    Sustainability Manager Le Minerale Irene Atmadja, dalam keterangan pers yang diterima Senin (12/5/2025) mengatakan, lewat gerakan ekonomi sirkular ini pihaknya ingin menunjukkan bahwa plastik PET bernilai tinggi dan banyak diminati.

    Baca: Ekonomi Sirkular berperan penting dalam menurunkan emisi global

    ”Salah satunya adalah industri fashion yang biasanya menggunakan bahan polyester yang notabene bahannya dari botol plastik PET yang didaurulang,” katanya.

    Fesyen hasil ekonomi sirkular ini bentuk komitmen perusahaan untuk mendukung Peraturan Menteri LHK No. 75 Tahun 2019 yang menargetkan pengurangan sampah nasional sebesar 30 persen pada tahun 2029.

    Irene mengatakan, pihaknya terus melakukan berbagai program sebagai implementasi nyata. Dia menekankan, Kolaborasi ini bukan hanya tentang fashion, tapi juga sebuah pernyataan sikap.

    Melalui program bersama ini, Le Minerale ingin mengajak masyarakat untuk melihat bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil, seperti memilah sampah, sehingga sampah plastik yang bernilai bisa dikelola dan didaur ulang.

    “Selama ini banyak orang belum tahu bahwa botol dan galon plastik tidak menjadi sampah bila dikelola dengan baik serta bisa punya ‘kehidupan kedua’ yang bermakna dan fungsional atau bisa #JadiBaruLagi sebagai produk fashion yang stylish dan bisa dipakai sehari-hari,” ujar Irene.

    Le Minerale berharap, dengan adanya kolaborasi ini bisa mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap siklus hidup produk yang mereka konsumsi.

    Baca: Tangani masalah polusi plastik dengan ekonomi sirkular