Tag: eropa

  • Mengapa Gelombang Panas Semakin Mematikan?

    Mengapa Gelombang Panas Semakin Mematikan?

    7cloud.asia – Gelombang panas yang mulai melanda Eropa pada akhir Juni dan berlanjut hingga Juli, membawa suhu di atas 40°C di beberapa negara dan memecahkan rekor suhu di Spanyol dan Portugal, dengan suhu tertinggi mencapai 46°C.

    Cuaca yang terik ini mendorong pembatasan jadwal kerja di luar ruangan di Italia, penutupan lebih dari 1.300 sekolah dan beberapa reaktor nuklir di Prancis, serta terjadinya kebakaran hutan di Mediterania.

    Peningkatan suhu panas ekstrem ini disebut sebagai akibat langsung dari pemanasan global, yang didorong oleh gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer.

    Hal ini meningkatkan suhu permukaan Bumi, yang menyebabkan gelombang panas yang lebih panjang dan lebih panas di belahan bumi utara.

    Bulan lalu tercatat sebagai bulan Juni terpanas kelima di Eropa, meskipun sebagian besar Eropa barat dan tengah mengalami suhu udara yang lebih hangat dari rata-rata.

    Baca: Gelombang panas memicu ribuan kematian di Eropa

    Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, Eropa Barat secara keseluruhan mencatat Juni terhangat yang pernah tercatat, dengan suhu rata-rata 20,49°C, atau 2,81°C lebih tinggi dari rata-rata periode 1991–2020.

    Kehangatan luar biasa juga terjadi di Laut Mediterania, yang mencapai rekor suhu 27°C pada bulan Juni, 3,7°C lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang.

    ‘Pembunuh Senyap’
    Gelombang panas, terutama yang berlangsung lama sangat berbahaya bagi manusia karena mengganggu proses fisiologis yang seharusnya menjaga tubuh tetap dingin.

    Sekitar 1.500 dari sekitar 2.300 kematian akibat panas pada bulan Juli dikaitkan dengan perubahan iklim, yang mengakibatkan gelombang panas yang lebih parah di seluruh benua Eropa.

    Tekanan pada tubuh manusia akibat panas mencegah aktivitas sehari-hari yang normal dan kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri dengan baik. Area yang umumnya lebih lembap juga dapat membahayakan nyawa.

    Baca: Suhu Bumi makin panas dan dampaknya semakin nyata

    Keringat membantu tubuh kita mendinginkan diri, tetapi kelembapan mengubah cara keringat menguap dari tubuh.

    Ketidakmampuan untuk mendinginkan diri membahayakan kesehatan manusia, dan dapat menyebabkan peningkatan komplikasi kardiovaskular dan pernapasan, dehidrasi, sengatan panas, tekanan darah tinggi, dan kurang tidur.

    Beberapa kondisi kesehatan ini dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

    Meskipun tidak ada yang benar-benar kebal terhadap panas ekstrem, faktor-faktor seperti usia dan kondisi kesehatan, serta variabel paparan termasuk pekerjaan dan keadaan sosial ekonomi, dapat meningkatkan kerentanan seseorang.

    Studi menunjukkan bahwa perempuan – terutama ibu hamil, anak-anak, dan lansia – sangat berisiko mengalami gejala parah terkait udara panas.

    Gelombang panas bulan lalu secara tidak proporsional memengaruhi kategori rentan ini, menurut studi Atribusi Cuaca Dunia, dengan penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai sekitar 88 persen dari kematian berlebih.

    Baca: Mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global sebesar 2°C

    Gelombang panas membunuh hampir setengah juta orang setiap tahun di seluruh dunia, menjadikannya peristiwa cuaca ekstrem paling mematikan.

    Panas sering disebut sebagai “pembunuh diam-diam”, karena pemantauan akurat kematian terkait panas merupakan tantangan dan banyak negara masih kekurangan sistem pencatatan yang memadai.

    Akibatnya, jumlah kematian terkait panas yang terdokumentasi seringkali jauh lebih rendah daripada jumlah sebenarnya.

    “Meskipun beberapa kematian telah dilaporkan di Spanyol, Prancis, dan Italia, ribuan orang lainnya diperkirakan meninggal akibat suhu yang sangat tinggi dan kematian mereka tidak akan tercatat sebagai kematian terkait panas,” kata Malcolm Mistry, Asisten Profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine dan salah satu penulis studi ini.

    “Kebanyakan orang yang meninggal akibat gelombang panas meninggal di rumah atau di rumah sakit karena tubuh mereka kewalahan dan menyerah pada kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya,” tambahnya.

    Baca: Dampak pemanasan global pada kehidupan manusia

  • Gelombang Panas Landa Yunani, Suhu Udara Capai 46 Derajat Celsius

    Gelombang Panas Landa Yunani, Suhu Udara Capai 46 Derajat Celsius

    7cloud.asia – Gelombang panas (heat wave) mulai melanda sejumlah negara di Eropa. Salah satunya Yunani. Bahkan gelombang panas di negara ini mencapai suhu hingga hampir 46 derajat celsius pada Jumat (25/07/2025).

    Melansir AFP, Observatorium Nasional di Athena mencatat pada Jumat lalu suhu terpanas yang tercatat adalah 45,8°C di wilayah Peloponnesos, Messinia.

    Di Athena, suhu tertinggi di beberapa bagian ibu kota adalah 42°C, yang juga tercatat di pelabuhan utama Piraeus.

    Badan Meteorologi Yunani (EMY) menjelaskan gelombang panas ini telah berlangsung sejak Senin lalu dan diprediksi masih akan terus berlangsung hingga lebih dari seminggu.

    Baca: Gelombang panas sebabkan 2300 kematian di Eropa

    Kondisi cuaca seperti ini membuat para pejabat mengubah jam buka Akropolis, situs arkeologi terkemuka di negara itu. Hal ini dilakukan demi keselamatan pengunjung dan staf.

    Monumen tersebut ditutup dari tengah hari hingga pukul 17.00, waktu terpanas dalam sehari-sesuai dengan aturan keselamatan yang berlaku.

    Gelombang panas yang menerjang Yunani ini juga meningkatkan resiko kebakaran. Apalagi adanya peningkatan angin dari arah utara yang dapat memicu bencana tersebut.

    Baca: Gelombang panas semakin mematikan, ini penyebabnya

    Sebelumnya, pada awal pekan ini kebakaran hutan telah menghancurkan lebih dari 2.800 hektar hutan dan padang rumput di dekat desa pegunungan Feneos di Peloponnesos.

    Observatorium Nasional mengungkap kebakaran tersebut dipicu oleh dua pekerja yang menggunakan peralatan las di dekat hutan. Lebih dari separuh area yang terdampak adalah hutan pinus yang tidak dapat beregenerasi.

    Pada hari Jumat, kebakaran yang terjadi di dekat kota Kilkis di Yunani utara memaksa evakuasi sebuah universitas, rumah, dan bisnis, kata dinas pemadam kebakaran.

    Baca: Gelombang panas di Prancis tewaskan 2 orang

    Suhu tertinggi 44°C diperkirakan terjadi di Yunani pada hari Sabtu, dengan suhu maksimum 42°C diperkirakan terjadi di Athena.

    Di negara tetangga Albania, terdapat 10 kebakaran aktif, termasuk satu di Delvina, dekat perbatasan dengan Yunani.

    Kebakaran lain di Kakavia, dekat perbatasan dengan Yunani, berhasil dikendalikan pada hari Kamis (24/07/2025).

    (AFP/detik.com)

     

     

  • Cuaca Panas Mengakibatkan Sejumlah Pembangkit Listrik di Eropa Ditutup Sementara

    Cuaca Panas Mengakibatkan Sejumlah Pembangkit Listrik di Eropa Ditutup Sementara

    7cloud.asia – Sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Eropa terpaksa ditutup sementara karena cuaca panas dan penggunaan pendingin ruangan (AC) yang berlebihan, Financial Times melaporkan pada Minggu (3/8/2025).

    Dalam laporan itu disebutkan, beberapa PLTN harus mengurangi kapasitas atau ditutup sementara akibat sumber air untuk mendinginkan reaktor juga berada di bawah tekanan yang hebat.

    Misalnya, PLTN di Prancis dan Swiss menangguhkan atau mengurangi aktivitasnya karena lebih sulit untuk mendinginkan reaktor dalam cuaca panas. Di Prancis, 17 dari 18 PLTN mengurangi kapasitasnya.

    Baca: Gelombang panas semakin ganas

    Financial Times melaporkan bahwa Juni menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat di Eropa yang mendorong peningkatan penggunaan AC dan kenaikan tajam harga listrik.

    Selama gelombang panas yang berlangsung dari 23 Juni hingga 3 Juli, total permintaan listrik di Uni Eropa naik sebesar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Mengutip data yang disediakan oleh badan industri Eurelectric, disebutkan bahwa cuaca panas di Spanyol peningkatan permintaan listrik mencapai 16 persen.

    Baca: Gelombang panas memicu ribuan kematian di Eropa

    Pada Mei lalu, Reuters melaporkan, mengutip pejabat Eropa, bahwa jaringan listrik Eropa yang menua dan kapasitas penyimpanan energi yang terbatas mungkin memerlukan investasi triliunan dolar.

    Hal ini untuk mengatasi tantangan yang muncul seperti meningkatnya produksi energi hijau, meningkatnya permintaan listrik, dan upaya untuk menghindari pemadaman listrik.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik

  • Penerapan UU Antideforestasi Eropa Kembali Ditunda: Peluang Membangun Rantai Pasok yang Adil

    Penerapan UU Antideforestasi Eropa Kembali Ditunda: Peluang Membangun Rantai Pasok yang Adil

     

    7cloud.asia – Saat kamu memilih produk berlabel “bebas minyak sawit” di supermarket, barangkali kamu sudah merasa berkontribusi menyelamatkan orangutan dan melindungi keanekaragaman hayati. Tapi, kenyataan di balik label tersebut sebenarnya jauh lebih kompleks daripada yang terlihat.

    Penelitian kami bersama IUCN Oil Crop Task Force menunjukkan, mengganti minyak sawit dengan alternatif lain justru meningkatkan kebutuhan lahan.

    Studi terbaru dari IUCN serta pelaku industri seperti Musim Mas mengonfirmasi bahwa minyak sawit sangat efisien, mampu menghasilkan empat hingga sepuluh kali lebih banyak minyak per hektare dibandingkan kedelai atau bunga matahari.

    Oleh karenanya, memboikot minyak sawit secara membabi-buta malah berisiko memindahkan “bencana lingkungan” atau pembukaan jutaan hektare lahan di tempat lain.

    Sebagai seorang ahli biologi konservasi yang sudah bertahun-tahun bekerja di kawasan perbatasan hutan bersama komunitas lokal, saya belajar betul bahwa batas antara pertanian “baik” dan “buruk” jarang ditentukan oleh jenis tanamannya, melainkan pengelolaannya.

    Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR) sebenarnya dibuat untuk menangani kompleksitas masalah ini. Namun, aturan ini masih belum cukup detail, sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan efek samping yang bisa merugikan kelompok tertentu.

    Karena itulah, penundaan pelaksanaan EUDR semestinya bisa menjadi momentum untuk perbaikan.

    Kabut transpasransi

    Analisis kami (2025) terhadap tiga jaringan supermarket besar barat—yang dipilih berdasarkan keterbukaan daftar bahan produknya secara daring—menunjukkan bahwa klaim soal “minyak sawit ada di 50 persen produk konsumen” sepertinya berlebihan, setidaknya ini berdasarkan data kami.

    Dari produk yang diteliti, hanya 8% yang jelas-jelas tertulis mengandung minyak sawit di labelnya. Meski begitu, ada kemungkinan sekitar 40% produk ‘menyembunyikan’ kandungan minyak sawit, baik dalam bentuk turunan (bahan olahan) maupun dicantumkan dengan label samar seperti “emulsifier”.

    Kabut label ini membuat konsumen sulit menelusuri asal-usul produk, sehingga mitos acap kali mengalahkan fakta dalam pengelolaan rantai pasok.

    EUDR dalam hal ini menawarkan solusi penting. EUDR mewajibkan sejumlah komoditas utama—termasuk daging sapi, kakao, kopi, minyak sawit, karet, kedelai, dan kayu—yang masuk ke Uni Eropa harus bebas dari deforestasi dan diproduksi secara legal. Regulasi ini menetapkan standar tinggi dalam perdagangan global.

    Namun, implementasinya menghadapi tantangan besar.

    Parlemen Eropa pun menunda penerapan EUDR untuk kedua kalinya, sehingga pelaksanaan ‘niat baik’ dari aturan ini tampaknya masih terjebak karena kebuntuan politik.

    Aturan pada naskah utama tetap berlaku, tapi ada beberapa rencana penyederhanaan pada awal 2026, termasuk perampingan kewajiban pelaporan dan memperjelas daftar produk yang diatur, seperti sabun berbahan dasar minyak sawit dan kopi instan.

    Mengapa Indonesia, Inggris, dan negara lain harus peduli dengan penundaan aturan ini?

    EUDR berdampak besar bagi negara-negara tropis dan mitra dagangnya, termasuk Inggris. Perusahaan Inggris pengekspor barang yang mengandung komoditas tertera harus mematuhi standar EUDR agar tetap bisa masuk pasar Uni Eropa.

    Sementara aturan deforestasi di Inggris terbilang lebih longgar. Perbedaan regulasi ini berpotensi meningkatkan biaya kepatuhan bagi perusahaan Inggris sekaligus menjadikan negara tersebut sebagai “tempat pembuangan” bagi produk yang terkait deforestasi yang ditolak oleh Uni Eropa.

    Nah, momentum penundaan ini semestinya bisa menjadi peluang bagi Inggris untuk menyelaraskan kebijakannya dengan EUDR, sekaligus mengurangi risiko perdagangan, dan memperkuat kembali posisinya dalam rantai pasok yang etis.

    Bagi negara eksportir minyak sawit seperti Indonesia, isu utamanya adalah keadilan. EUDR bergantung pada “peta dasar” berbasis satelit untuk memverifikasi kehilangan tutupan hutan, tapi peta ini memiliki banyak kelemahan.

    Penelitian menunjukkan bahwa sistem agroforestri di Indonesia memiliki risiko 63% keliru diklasifikasikan sebagai “deforestasi”. Kesalahan satu piksel saja bisa membuat petani kecil yang jujur di Sumatra kehilangan akses ke pasar Eropa.

    Analisis terbaru dari Mongabay juga memperingatkan bahwa biaya tinggi untuk pelacakan dan pemetaan lokasi lahan bisa memberatkan petani kecil.

    Akibatnya, mereka mungkin bakal lebih memilih untuk menjual produknya ke pasar lain yang tidak diatur seketat EUDR alias “bocor” (leakage) ke pasar lain. Pada akhirnya, tujuan EUDR untuk melindungi hutan sulit terwujud, karena produksi tetap menimbulkan deforestasi di tempat lain.

    Sejauh ini, negara seperti Indonesia, Malaysia, dan
    Brasil menuding regulasi ini sebagai bentuk “proteksionisme hijau”.

    Kekecewaan ini bisa dimengerti: mereka yang melihat aturan ini tidak adil mengingat Eropa yang dulu menebangi hutannya untuk meraih kejayaan, kini menggurui negara lain tentang deforestasi tanpa memberikan dukungan yang memadai.

    Dengan menempatkan Brussels sebagai satu-satunya penentu legalitas, regulasi ini dianggap melemahkan kedaulatan nasional.

    Menuju sistem yang lebih adil

    Agar EUDR berhasil dan diterima, penundaan ini harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan perubahan nyata.

    Pertama, Uni Eropa harus memperlakukan negara produsen seperti Indonesia sebagai mitra, bukan cuma memberi aturan sepihak.

    Caranya dengan membuat peta bersama dengan resolusi tinggi yang bisa membedakan secara akurat antara hutan yang dikelola secara berkelanjutan (agroforestri) dan pembukaan hutan untuk industri besar.

    Transparansi harus dianggap sebagai kepentingan publik yang didanai bersama, bukan dibebankan sepenuhnya pada petani atau produsen kecil yang rentan.

    Kedua, transparansi harus diterapkan secara menyeluruh. EUDR harus berlaku untuk semua produk pertanian yang berdampak pada penggunaan lahan, bukan hanya beberapa komoditas.

    Dan tanggung jawab ini bukan cuma ada pada produsen, tapi juga pada pengecer serta supermarket. Dengan data dari EUDR, pelabelan produk bisa dibuat lebih jelas, sehingga konsumen tahu dari mana produk itu berasal dan memastikan produksinya dilakukan secara berkelanjutan.

    Dan yang penting juga, untuk benar-benar menjaga keanekaragaman hayati global, Uni Eropa harus memastikan bahwa sistem ini memberikan penghargaan kepada petani kecil yang patuh serta para penjaga hutan tradisional, bukan hanya menguntungkan perusahaan besar.

    Terakhir, kita harus menyadari fakta bahwa Uni Eropa hanya mencakup sekitar 10 hingga 15 persen dari perdagangan global komoditas yang terkait deforestasi.

    Jika EU membatasi impor tanpa mengatasi akar penyebab deforestasi, produksi hanya akan bergeser ke pasar yang lebih longgar. Hutan akan tetap gundul di tempat lain, sementara harga komoditas di dalam negeri meroket.

    Pertanyaannya: apakah kita hanya membayar lebih mahal demi menenangkan hati, tanpa benar-benar menyelesaikan masalah deforestasi?

    Tentu saja, kita memang harus memulai dari suatu titik, dan transparansi adalah langkah yang tepat. Oleh karena itu, paket penyederhanaan dan peninjauan EUDR pada 2026 ini harus memprioritaskan perubahan mendasar.

    EUDR berpotensi besar mendukung keberlanjutan global—tapi hanya jika ia mampu memperhitungkan berbagai kerumitan di lapangan, bukan hanya aturan kaku dengan hitung-hitungan sederhana.


    Douglas Sheil, Professor, Faculty of Environmental Sciences and Natural Resource Management, Wageningen University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Gelombang Panas Kian Menyengat di Eropa, 14 Ribu Orang Meninggal

    Gelombang Panas Kian Menyengat di Eropa, 14 Ribu Orang Meninggal

    7cloud.asia – Data kematian awal dan estimasi peneliti menunjukkan sedikitnya 14.000 orang meninggal di enam negara Eropa yang paling terdampak gelombang panas pada akhir Juni, jauh di atas tingkat kematian normal, lapor Politico.

    Pada paruh kedua Juni, sekitar 2.000 kematian dini tercatat di Prancis, 1.740 di Belgia, 6.800 di Jerman, dan 480 di Belanda, ungkap laporan yang dirilis Senin.

    Spanyol dan Inggris juga terdampak gelombang panas dengan masing-masing sekitar 810 dan 2.200 kematian selama periode yang sama.

    Laporan tersebut menyebut kematian itu diduga berkaitan dengan gelombang panas karena para peneliti tidak menemukan penyebab lain atau ancaman kesehatan masyarakat yang dapat menjelaskan lonjakan kematian tersebut.

    Gelombang panas ekstrem melanda Eropa sejak pertengahan Juni, dengan suhu di sejumlah negara mendekati, bahkan di beberapa wilayah melampaui, 40 derajat Celsius.

    Pada pekan terakhir Juni, sejumlah negara Eropa mencatat rekor suhu tertinggi baru selama periode gelombang panas.

     

    Sumber: Antara/Sputnik