Tag: eropa

  • Gelombang Panas di Eropa, Apakah Dipicu Perubahan Iklim?

    Gelombang Panas di Eropa, Apakah Dipicu Perubahan Iklim?

     

    Foto satelit suhu permukaan sepanjang Eropa pada 10 Juli lalu. ESA/Copernicus Sentinel data (2023)CC BY-NC-SA

    7cloud.asia – Gelombang panas menerjang Eropa. Di Italia, misalnya, panas terik akan mencapai 40℃ hingga 45℃. Panas juga berpeluang melampaui temperatur 48.8℃, temperatur tertinggi yang tercatat di Sisilia pada 2021.

    Gelombang panas yang ditandai dengan suhu panas membara juga menyebar ke negara-negara lain di Eropa selatan dan timur, termasuk Prancis, Spanyol, Polandia, dan Yunani.

    Gelombang panas ini mempersulit rencana perjalanan orang-orang menuju tujuan liburan populer di seluruh wilayah Eropa

    Gelombang panas atau cuaca panas di suatu lokasi selama periode tertentu bisa sangat berbahaya. Fenomena merusak ini sudah beberapa kali terjadi di Eropa.

    Baca: PBB ingatkan tahun 2023 hingga 2027 bakal jadi periode terpanas

    Pada 2009, gelombang panas menyapu seluruh Eropa, menyebabkan kematian hingga 70 ribu orang. Tahun lalu, gelombang panas terjadi lagi dan menyebabkan hampir 62 ribu korban jiwa.

     

    Adapun gelombang panas kali ini disebabkan oleh fenomena cuaca antisiklon Cerberus–makhluk dari mitologi Yunani berupa monster anjing berkepala yang menjaga dunia bawah.

    Antisiklon, atau sistem bertekanan tinggi, adalah fenomena cuaca yang mengisap air dari bagian atas atmosfer sehingga menyebabkan masa kemarau dan cuaca yang tenang (formasi awan sedikit dan minim angin).

    Gerakan sistem bertekanan tinggi cenderung lambat, berlangsung hingga berhari-hari hingga sepekan. Di area yang luas, sistem ini bisa menjadi semipermanen.

    Baca: Gelombang panas di India tewaskan hampir seratus orang

    Ketika terbentuk di sekitar daratan yang panas seperti di gurun Sahara, sistem bertekanan tinggi kian memanaskan udara hangat sehingga temperatur jauh lebih meningkat lagi.

    Fenomena antisiklon dapat berakhir ataupun mereda sehingga gelombang panas dapat berlalu. Menurut Italian Meteorological Society, gelombang panas Cerberus dapat berlangsung hingga dua pekan.

    Pertanyaan muncul, apakah perubahan iklim berperan? Beberapa tahun belakangan, sistem bertekanan tinggi seperti yang melanda Eropa cenderung bergerak ke kawasan utara.

    Cukup sulit untuk menerka suatu fenomena seperti gelombang panas terkait langsung dengan perubahan iklim.

    Baca: Riset mengungkap emisi karbon catat rekor tertinggi

    Walau begitu, saat suhu terus menghangat, kita terus melihat perubahan pola sirkulasi atmosfer yang dapat meningkatkan jumlah kejadian temperatur ekstrem dan kekeringan di Eropa.

    Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengonfirmasi tren ini. Data mereka menunjukkan peningkatan frekuensi dan tingginya intensitas cuaca ekstrem sejak dekade 1950-an.

    Analisis terpisah turut menemukan peningkatan keparahan gelombang panas Eropa sejak dua dekade belakangan.

    Pada musim panas 2022, kawasan Eropa selatan dilanda suhu tinggi dari biasanya. Spanyol, Perancis, dan Italia mengalami temperatur maksimum harian melebihi 40°C. Lembaga Copernicus Climate Change Service Eropa mengaitkan kondisi panas tak biasa ini  dengan perubahan iklim.

    Prediksinya, fenomena panas menyengat akan menjadi lebih sering, intens, dan berlangsung lama di masa depan. Taksiran ini mengindikasikan bahwa tren serupa bakal terjadi tahun ini.

    Baca: Peran padang lamun untuk atasi kenaikan suhu bumi

    Bahaya panas ekstrem

    Gelombang panas dan suhu ekstrem menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti serangan panas (heatstroke) dengan gejala sakit kepala dan pusing. Dehidrasi akibat cuaca panas juga berdampak pada pernapasan dan aktivitas jantung.

    Sudah ada sejumlah kasus gangguan kesehatan terkait panas di Eropa akibat gelombang panas kali ini. Misalnya, tewasnya seorang pekerja jalanan di Italia dan berbagai laporan tentang serangan panas di Spanyol maupun Italia.

    Menteri Kesehatan Italia telah mengimbau warga dan pengunjung di daerah terdampak untuk berjaga-jaga, misalnya menghindari sengatan matahari langsung selama jam-jam kala hari panas. Ada juga saran untuk tetap terhidrasi dan menghindari konsumsi alkohol.

    Walau begitu, gelombang panas tak hanya berdampak bagi kesehatan. Ada juga imbas sosial dan ekonominya. Panas ekstrem dapat merusak permukaan jalanan dan menyebabkan rel kereta melengkung.

    Gelombang panas juga mengurangi pasokan air sehingga mengganggu produksi listrik, pengairan tanaman, dan air minum.

    Baca: Fenomena El Nino mendekati puncak, warga diminta antisipasi kekeringan

    Pada 2022, panas menyengat di Perancis menyebabkan pembangkit listrik negara nuklir tak bisa beroperasi secara penuh karena temperatur sungai dan rendahnya muka air mengganggu proses pendinginan.

    Sebuah penelitian menyatakan panas ekstrem memperlambat pertumbuhan ekonomi di Eropa sebesar 0.5% pada satu dekade silam.

    Saat suhu terus meningkat, gelombang panas akan semakin parah. Karena itu, penting bagi pemerintah di seluruh dunia untuk bertindak cepat dan tegas untuk segera mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Patut dicatat bahwa sekalipun kita berhasil meredam laju emisi gas rumah kaca hari ini, iklim bumi akan terus menghangat. Pasalnya, laut sudah terlanjur menyerap dan menyimpan panas.

    Walaupun laju pemanasan global melambat, dampak perubahan iklim di masa depan akan terus kita alami.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

  • Irlandia, Norwegia dan Spanyol Resmi Mengakui Negara Palestina, Israel Bereaksi Keras

    Irlandia, Norwegia dan Spanyol Resmi Mengakui Negara Palestina, Israel Bereaksi Keras

    7cloud.asia – Irlandia, Norwegia dan Spanyol, Rabu (22/5/2024), resmi mengumumkan pengakuan mereka terhadap negara Palestina.

    Perang Israel-Hamas di Gaza dan kebutuhan untuk mencapai solusi dua negara demi perdamaian abadi di Palestina menjadi alasan ketiga negara Eropa tersebut.

    “Perang yang sedang berlangsung di Gaza telah memperjelas bahwa pencapaian perdamaian dan stabilitas harus didasarkan pada penyelesaian masalah Palestina,” kata Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store.

    Ia menambahkan, “Perang tersebut merupakan titik terendah dalam konflik berkepanjangan Israel-Palestina. Situasi di Timur Tengah belum pernah seburuk ini selama bertahun-tahun.”

    Norwegia mengatakan ada konsensus internasional yang luas mengenai perlunya solusi dua negara, termasuk pemungutan suara di Majelis Umum PBB bulan ini untuk mengakui Palestina sebagai negara yang memenuhi syarat untuk bergabung dengan badan dunia tersebut.

    Baca: 142 negara dukung Palestina menjadi anggota PBB

    Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan keputusan negaranya didasarkan pada “perdamaian, keadilan dan koherensi.”

    “Waktunya telah tiba untuk beralih dari kata-kata menjadi tindakan,” kata Sanchez.

    Ketiga negara tersebut mengatakan pengakuan mereka terhadap negara Palestina akan berlaku pada 28 Mei ini.

    Menteri luar negeri Israel, Israel Katz segera mengumumkan penarikan duta besar Israel dari Irlandia dan Norwegia sebagai tanggapan atas pengumuman pada hari Rabu itu.

    Katz mengatakan pengakuan negara Palestina adalah sebuah hadiah bagi Hamas dan Iran, dan sebuah “ketidakadilan dalam ingatan” mereka yang tewas dalam serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober.

    “Israel tidak akan tinggal diam menghadapi pihak-pihak yang merusak kedaulatannya dan membahayakan keamanannya,” kata Katz.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan Palestina yang merdeka?

    Perdana Menteri Irlandia, Simon Harris, mengatakan Irlandia dengan tegas mengakui Israel dan haknya untuk hidup “aman dan damai dengan tetangga-tetangganya.”

    Harris menyerukan agar semua sandera yang saat ini ditahan oleh Hamas di Gaza dibebaskan.

    Harris menunjuk pada sejarah Irlandia sendiri dan pentingnya mendapatkan pengakuan dari negara lain.

    Visi negara Palestina yang diusung Norwegia bukanlah visi yang dipimpin oleh militan Hamas yang menguasai Jalur Gaza sejak 2007, melainkan visi yang berasal dari Otoritas Palestina yang menguasai sebagian Tepi Barat.

    Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store mengatakan bahwa situasi di Timur Tengah “belum pernah separah ini selama bertahun-tahun,”.

    Baca: UE sebut pengakuan dua negara Israel dan Palestina sebagai kunci

    Ia menambahkan, mengakui negara Palestina adalah sebuah cara untuk “mendukung kekuatan moderat yang telah kehilangan kekuatan dalam konflik yang berkepanjangan dan brutal ini.”

    “Di tengah perang, dengan puluhan ribu orang terbunuh dan terluka, kita harus tetap menghidupkan satu-satunya alternatif yang menawarkan solusi politik bagi Israel dan Palestina: Dua negara, hidup berdampingan, dalam perdamaian dan keamanan,” kata Store.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pariwisata Eropa

    Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pariwisata Eropa

    7cloud.asia – Perubahan iklim telah mengakibatkan musim panas di Eropa dirasakan makin membara dan mengintensifkan gelombang panas dan kebakaran hutan beberapa tahun belakangan ini.

     

    Musim panas yang terlalu terik akibat perubahan iklim ini tak hanya berdampak pada keseharian warga, tapi juga pada pariwisata di sejumlah negara Eropa.

    Industri pariwisata dan wisatawan perlu menyesuaikan diri dengan dampak perubahan iklim yang semakin meningkat. Ini menjadi isu yang lebih besar bagi negara-negara di Eropa selatan yang mengandalkan pariwisata untuk meningkatkan perekonomian mereka.

    Sejumlah wisatawan yang merencanakan liburan ke negara-negara Mediterania yang lebih hangat, mengeluhkan cuaca yang terlalu panas.

    Minat untuk mengunjungi negara-negara Mediterania menurun pada tahun 2023 akibat gelombang panas dan kebakaran hutan yang memecahkan rekor.

    Baca: Sekjen PBB serukan tinggalkan bahan bakar fosil tuk hadang krisis iklim

    Tempat tujuan wisata yang lebih sejuk menjadi semakin populer di Eropa, kata para ahli.

    Panas ekstrem akibat perubahan iklim ini memiliki potensi untuk makin mendorong pergeseran wisatawan ke Eropa utara yang lebih sejuk.

    Pengaruh perubahan iklim terhadap tempat tujuan liburan turis akan memiliki dampak serius bagi beberapa negara yang sangat bergantung pada pendapatan dari wisatawan mereka.

    Di Yunani, sektor pariwisata menyumbang hampir 41 miliar dollar AS atau sekitar 20 persen dari seluruh ekonomi negara, menurut World Travel and Tourism Council.

    Sementara di Italia, peringatan tingkat tiga terkait gelombang panas telah dikeluarkan untuk kota-kota seperti Roma, Perugia, dan Palermo.

    Baca: Krisis iklim dan pemanasan global ancam pariwisata dunia

    Sektor pariwisata menyumbang 10 persen perekonomian seluruh negeri ini. Di mana satu dari delapan pekerjaan di negeri itu terkait dengan industri ini.

    Para wisatawan di Eropa selatan disarankan untuk beradaptasi sebelum melakukan aktivitas fisik yang berat di bawah terik matahari.

    Selain panas ekstrem, perubahan iklim juga mempengaruhi munculnya populasi nyamuk pembawa penyakit ke wilayah-wilayah baru di Eropa, menurut European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC).

    Penduduk seperti Clark, yang saat ini menginap di Skyros, mengatakan bahwa jumlah nyamuk sangat banyak selama musim panas pada awal Juni.

    Prediksi masa depan pariwisata Eropa di tengah krisis iklim Eduardo Santander, CEO European Travel Commission (ETC), mengatakan kepada CNN Travel, bahwa kekhawatiran wisatawan tentang perubahan iklim cenderung bersifat sementara.

    Baca: Kebakaran lahan tewaskan puluhan warga di Yunani pada tahun lalu

    Namun, ia menambahkan bahwa di masa depan hal ini bisa menyebabkan lebih banyak wisatawan mengunjungi Eropa selatan selama musim semi dan akhir musim gugur daripada selama musim panas yang lebih panas.

    Krisis iklim dan krisis panas yang semakin parah memaksa industri pariwisata di Eropa untuk memikirkan adaptasi iklim yang lebih serius.

    Salah satunya adalah dengan fleksibilitas dalam aturan pemesanan penerbangan dan hotel.

    Selain itu, wisatawan juga diprediksi akan lebih gemar bepergian pada malam hari saat udara sejuk, sehingga wisata malam berpotensi berkembang.

    Sumber:CNNTravel

  • Perdebatan Guna Ulang vs Daur Ulang Kemasan Plastik di Uni Eropa

    Perdebatan Guna Ulang vs Daur Ulang Kemasan Plastik di Uni Eropa

    7cloud.asia – Bulan Maret 2024 mengakhiri salah satu pertarungan kebijakan yang paling kontroversial di Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir, yakni antara daur ulang versus guna ulang kemasan plastik.

    Banyak yang berharap Peraturan Pengemasan dan Limbah Pengemasan (PPWR) akan menandai pertarungan sengit untuk mengakhiri era kemasan sekali pakai di Uni Eropa sekaligus beralih ke sistem guna ulang.

    Upaya mengakhiri kemasan sekali pakai ditandai dengan lobi besar-besaran para pendukung daur ulang di ruang-ruang kekuasaan, guna memastikan bahwa daur ulang tetap menjadi prioritas dalam pengelolaan limbah Uni Eropa dan bukan sistem guna ulang.

    Namun, jika dilihat lebih dalam, narasi yang ada bukan semata-mata tentang kekalahan. Seperti halnya di banyak sektor kehidupan, kesepakatan tentang guna ulang ini adalah revolusi diam-diam yang dimulai dari hal kecil dan terus tumbuh.

    Penggunaan kembali atau guna ulang –sebuah istilah yang dulunya hanya sekadar istilah pinggiran dalam dialog lingkungan hidup– kini menjadi buah bibir semua orang.

    Uni Eropa mencatat rekor 177 kilogram sampah kemasan sekali pakai per orang pada tahun 2020, sehingga tuntutan masyarakat ditambah dengan bukti ilmiah bahwa sistem penggunaan kembali dapat dikurangi.

    Baca: KTT Plastik Ottawa tak lahirkan kesepakatan pengurangan produksi plastik

    Apa yang dilakukan di Eropa untuk mencapai tujuan ini adalah dengan melakukan upaya-upaya nyata yang berbasis komunitas dan menghasilkan dampak nyata.

    Cerita selanjutnya adalah cetak biru penggunaan kembali yang dibuat oleh Reuse Vanguard Project (RSVP) yang memberikan peluang nyata bagi kota-kota di Eropa untuk melokalisasi kebijakan lingkungan hidup, meningkatkan keterlibatan masyarakat.

    Upaya penerapkan sistem guna ulang telah diterapkanvsejumlah kota di Eropa, seperti Paris (Prancis), Rotterdam dan Aarhus (Belanda). Ini akan kita ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Kita tahu sekarang ada alasan bisnis untuk menggunakan kembali. Namun sistem guna ulang yang efektif bergantung pada desain sistem yang kuat yang dapat ditingkatkan oleh PPWR.

    Infrastruktur yang kuat termasuk jaringan pengantaran, logistik pengembalian, dan fasilitas pencucian, serta tata kelola yang ketat yang menetapkan aturan operasional yang jelas, sangat penting untuk efektivitas sistem guna ulang.

    Kepadatan populasi yang lebih besar hanya akan meningkatkan efisiensi dan kelayakan ekonomi dari sistem guna ulang ini.

    Baca: Perbedaan sistem guna ulang dengan daur ulang

    Inisiatif RSVP bertujuan untuk menetapkan target penggunaan kembali yang spesifik untuk industri dan memperkenalkan pajak atas kemasan sekali pakai, dengan tujuan menyeluruh yaitu Mencapai pengurangan sampah sebesar 15 persen pada tahun 2030.

    Ketika kita merenungkan pemilu di Eropa, pertaruhan terhadap kebijakan lingkungan hidup yang progresif masih tetap tinggi.

    Kemajuan yang mengkhawatirkan dari kelompok sayap kanan memberikan tantangan terhadap upaya yang sedang berjalan, namun dengan dukungan dari kota-kota seperti Rotterdam, Aarhus, dan Paris, masih akan ada peluang untuk mencapai tujuan tersebut.

    Komitmen untuk memperjuangkan sistem guna ulang dan kelestarian lingkungan hidup menyuntikkan energi untuk perjuangan ini.

    Mengingat pentingnya masalah ini, perlu dedikasi yang lebih kuat untuk tidak hanya melestarikan namun juga memajukan apa yang telah dicapai.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, Penulis: Nathan Dufour, kepala Zero Waste Europe’s.

     

  • Upaya Menerapkan Sistem Guna Ulang di Sejumlah Kota di Eropa

    Upaya Menerapkan Sistem Guna Ulang di Sejumlah Kota di Eropa

    7cloud.asia – Bulan Maret 2024 lalu menjadi akhir salah satu pertarungan kebijakan yang paling kontroversial soal kemasan plastik di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, yakni antara daur ulang versus guna ulang. 

    Banyak yang berharap Peraturan Pengemasan dan Limbah Pengemasan (PPWR) akan  mengakhiri era kemasan plastik sekali pakai di Uni Eropa dan mendorong sistem guna ulang.

    Apa yang dilakukan Uni Eropa untuk mendorong sistem guna ulang adalah dengan melakukan upaya-upaya nyata yang berbasis komunitas dan menghasilkan dampak nyata.

    Cerita selanjutnya adalah cetak biru sistem guna ulang yang dibuat oleh Reuse Vanguard Project (RSVP) yang memberikan peluang nyata bagi kota-kota di Eropa untuk melokalisasi kebijakan lingkungan hidup, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat.

    Sistem guna ulang telah coba diterapkan sejumlah kota di Eropa, seperti di Paris (Prancis), Rotterdam dan Aarhus (Belanda).

    Baca: Perdebatan guna ulang vs daur ulang di Eropa

    Di Paris, Florentin Letissier, Wakil Walikota Paris, mengatakan bahwa kota tersebut berfokus pada penerapan praktik berkelanjutan untuk acara berskala besar, termasuk Olimpiade Paris.

    Paris juga merencanakan pusat penyimpanan untuk mengelola bahan-bahan yang dapat digunakan kembali di tingkat regional.

    Paris juga untuk menargetkan untuk menggunakan kursi plastik daur ulang, namun hal ini belum mencapai standar ekonomi sirkular dibandingkan dengan masalah limbah besar lainnya.

    Olimpiade Paris menjadi ajang uji coba praktik berkelanjutan ini, dengan penggunaan sistem cangkir yang dapat digunakan kembali untuk pertama kalinya di acara olahraga terbesar di dunia.

    Meski menimbulkan pertanyaan tentang kelanggengan dan peningkatan inisiatif ini pasca-Olimpiade, dunia pantas merayakan inisiatif besar ini dan memastikan semua pembelajaran dipusatkan untuk mempersiapkan landasan bagi Olimpiade berikutnya guna meraih skor lebih tinggi lagi.

    Baca: KTT Plastik Ottawa tak hasilkan kesepakatan kurangi produksi plastik

    Guna ulang di Belanda
    Pada 2021, Belanda memajukan agenda lingkungannya dengan menerapkan sistem pengembalian deposit (DRS) baru sebesar 15 sen pada semua botol plastik di bawah satu liter.

    Langkah ini dilakukan Menteri Lingkungan Hidup Stientje van Veldhoven untuk melawan tindakan sukarela yang tidak efektif selama beberapa dekade oleh industri engemasan.

    Sistem ini telah memposisikan Belanda sebagai pemimpin dalam praktik pengelolaan sampah Eropa.

    Berdasarkan momentum ini, inisiatif “Evernew” di Rotterdam kini memelopori peralihan menuju praktik perkotaan berkelanjutan dengan uji coba inovatif yang bertujuan mengurangi sampah melalui ekosistem guna ulang yang terukur.

    Inovasi ini dilakukan inovator lingkungan Packback, didukung oleh Kementerian Infrastruktur & Waterstaat dan investor swasta seperti Invest NL, proyek ini mengembangkan ekosistem guna ulang yang mulai diuji-cobakan di Stasiun Pusat Rotterdam.

    Baca: Mengapa guna ulang lebih dianjurkan ketimbang daur ulang

    Di kota-kota lain seperti Aarhus, pejabat kota sedang mendiskusikan penyesuaian cetak biru proyek agar selaras dengan tujuan keberlanjutan kota yang lebih luas.

    Menghadapi biaya pengelolaan sampah tahunan sekitar 5 juta euro, yang 48 persen di antaranya berasal dari kemasan makanan dan minuman, pemerintah kota memandang inisiatif ini sebagai sebuah kegagalan.

    Didukung oleh investasi dari Tomra, proyek pertama dalam skala dan pendekatan ini memanfaatkan partisipasi sukarela dan insentif yang menarik secara ekonomi, termasuk sistem simpanan yang terintegrasi dengan perusahaan kartu kredit besar untuk pengembalian dana instan.

    Dalam waktu beberapa bulan, sistem yang dirancang dengan baik dan nyaman ini telah mencatat pengembalian hampir 300.000 cangkir melalui sistem dan tingkat pengembalian keseluruhan di atas 80 persen. Hasil yang cukup signifikan.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, Penulis: Nathan Dufour, kepala Zero Waste Europe’s.

  • WMO: Polusi Udara di Eropa dan China Menurun pada Tahun Lalu

    WMO: Polusi Udara di Eropa dan China Menurun pada Tahun Lalu

    7cloud.asia – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Kamis (5/9/2024) menyebut, polusi udara partikel halus menurun di wilayah Eropa serta China pada tahun lalu.

    Penurunan tingkat polusi udara ini karena emisi yang terkait dengan aktivitas manusia menurun di dua wilayah tersebut.

    “Data pada 2023 menunjukkan anomali negatif, yang artinya terjadi penurunan PM2,5 dibandingkan dengan periode referensi rentang 2003-2023 di China dan Eropa.” kata Lorenzo Labrador, seorang ilmuwan di Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO).

    Nanopartikel yang dikenal sebagai PM2,5 (karena ukurannya kurang dari 2,5 mikrometer secara diameter) – menimbulkan risiko kesehatan yang serius jika terhirup dalam jangka waktu lama, karena ukurannya cukup kecil untuk masuk ke aliran darah.

    Partikel yang memicu polusi udara tersebut berasal dari aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, transportasi dan industri, serta kebakaran hutan dan debu gurun yang tertiup angin.

    Baca: Polusi udara terburuk terkosentrasi di enam negara

    WMO, dalam buletin tahunan yang diterbitkan menjelang Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru pada 7 September, menekankan bahwa kualitas udara dan perubahan iklim saling terkait erat.

    “Perubahan iklim dan kualitas udara tidak dapat ditangani secara terpisah. Keduanya berjalan beriringan dan harus ditangani bersamaan,” kata Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett dalam sebuah siaran pers.

    WMO menekankan, bahwa zat kimia yang bertanggung jawab atas polusi atmosfer biasanya dipancarkan bersamaan dengan gas rumah kaca.

    “Siklus perubahan iklim yang kejam, kebakaran hutan dan polusi udara memiliki dampak negatif yang terus meningkat pada kesehatan manusia, ekosistem, dan pertanian,” katanya.

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), sembilan dari sepuluh orang menghirup udara yang sangat tercemar.

    ‘Status quo’ di Amerika Serikat
    WMO, menggunakan data dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (National Aeronautics and Space Administration/NASA) dan Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus Uni Eropa (Copernicus Atmosphere Monitoring Service), mencatat bahwa PM2,5 mencapai tingkat yang lebih tinggi dari rata-rata di India akibat aktivitas manusia dan industri.

    Baca: Cara pemerintah China kendalikan polusi udara di wilayahnya

    Labrador mengatakan tingkat partikel halus tersebut mengalami peningkatan di wilayah anak benua India dan beberapa bagian Asia Tenggara.

    Namun, China dan Eropa mencatat tingkat polusi udara yang lebih rendah dari rata-rata, kata WMO.

    “Kita cenderung berpikir bahwa penurunan polusi di Eropa dan China merupakan hasil langsung dari usaha penurunan emisi di kedua wilayah tersebut selama bertahun-tahun,” kata Labrador.

    Itu adalah temuan yang tidak terlalu mengejutkan bagi para ilmuwan di WMO, katanya, yang telah memperhatikan tren ini sejak mereka pertama kali menerbitkan buletin tersebut pada 2021.

    Meski Labrador mengatakan polusi udara di Amerika Serikat mempertahankan “status quo”, kebakaran hutan di wilayah Amerika Utara pada 2023 menyebabkan “emisi yang sangat kuat” dibandingkan dengan dua dekade sebelumnya, menurut laporan tersebut.

    Organisasi tersebut juga melaporkan, bahwa tingkat emisi debu lebih rendah dari biasanya di wilayah Jazirah Arab dan Afrika Utara.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Permukaan Sungai Danube Meluap ke Level Tertinggi di Budapest

    Permukaan Sungai Danube Meluap ke Level Tertinggi di Budapest

    7cloud.asia – Sungai Danube meluap ke tingkat tertinggi baru di ibu kota Hongaria, Budapest, pada Sabtu (21/9/2024) pagi, mencapai hingga 830 sentimeter menurut kantor berita nasional MTI.

    Tingkat air mulai surut setelah memuncak sekitar pukul 05.00 pagi waktu setempat, dilaporkan akan menurun dua cm dalam dua hingga tiga jam berikutnya.

    Banjir ini mencatatkan level tertinggi keempat yang pernah tercatat di kota tersebut, lebih tinggi beberapa sentimeter melampaui level air historis pada tahun 2010.

    Perdana Menteri Viktor Orban menyampaikan keterangan kepada media, menyatakan tepi sungai Danube dapat dibuka kembali paling cepat pada pekan depan.

    Namun, dia juga menyatakan penurunan tingkat air akan berlangsung lambat.

    Ramalan dari otoritas pengelolaan air negara itu menunjukkan bahwa tingkat air dapat turun menjadi 620 sentimeter pada 25 September 2024.

    Jika hal itu terjadi, lalu lintas di sepanjang tepi sungai mungkin dapat dibuka kembali, yang berpotensi mengurangi kemacetan di kota.

    Banjir parah telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa pada awal pekan ini ketika sebagian wilayah Eropa Timur dan Tengah dilanda Badai Boris.

    Puluhan ribu orang telah dievakuasi dari rumah mereka di berbagai daerah di Austria, Republik Ceko, Hongaria, Rumania, dan Slovakia

    Sementara jumlah korban dilaporkan meningkat menjadi setidaknya 20 korban tewas, tujuh di Rumania, lima di masing-masing Polandia dan Austria, serta tiga di Republik Ceko.

    Setelah melanda Austria, Republik Ceko, Polandia, dan Rumania, banjir diperkirakan akan mempengaruhi Slovakia dan Hongaria selanjutnya akibat sistem tekanan rendah dari utara Italia yang telah mengguyur hujan lebih banyak di wilayah tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

  • Tujuh Negara Eropa Tak Akan Diamkan Penderitaan Warga Gaza

    Tujuh Negara Eropa Tak Akan Diamkan Penderitaan Warga Gaza

    7cloud.asia – Tujuh negara Eropa pada Jumat (16/5/2025) menegaskan bahwa mereka tidak akan berdiam diri terhadap penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza akibat agresi militer Israel.

    Tujuh negara Eropa tersebut adalah Islandia, Irlandia, Luksemburg, Spanyol, Slovenia, Malta, dan Norwegia.

    “Kami tidak akan diam saja melihat bencana kemanusiaan buatan manusia yang sedang terjadi di depan mata kita di Gaza. Lebih dari 50.000 pria, wanita, dan anak-anak telah kehilangan nyawa mereka,” demikian pernyataan bersama mereka.

    Negara-negara Eropa ini memperingatkan lebih banyak warga Gaza terancam kehilangan nyawa akibat kelaparan dalam beberapa hari mendatang karena Israel masih memblokade bantuan kemanusiaan ke wilayah kantong Palestina itu.

    “Kami menyerukan kepada pemerintah Israel untuk segera membatalkan kebijakan mereka saat ini,” kata negara-negara Eropa itu.

    Baca: Israel dituduh sengaja menciptakan krisis kemanusiaan di Gaza

    Israel diminta untuk segera menghentikan operasi militer dan mencabut blokade agar bantuan kemanusiaan bisa disalurkan dengan aman dan tanpa hambatan ke seluruh Gaza “sesuai prinsip-prinsip kemanusiaan.”

    Ketujuh negara itu juga mengecam eskalasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur oleh Israel, termasuk kekerasan oleh pemukim ilegal, perluasan permukiman ilegal, dan operasi militer Israel yang kian intensif di sana.

    Menurut mereka, mengusir rakyat Palestina, dengan cara apa pun, tidak bisa diterima dan akan melanggar hukum internasional.

    “Kami menolak segala rencana atau upaya untuk mengubah demografi. Kita harus memikul tanggung jawab untuk menghentikan kehancuran ini,” kata mereka dalam pernyataan itu.

    Hamas melaporkan bahwa lebih dari 250 warga Palestina tewas baru-baru ini karena Israel menerapkan kebijakan “bumi hangus” di Gaza.

    Baca: Layanan kesehatan di Gaza runtuh

    Kelompok perlawanan Palestina itu menuduh Israel melakukan “pembantaian mengerikan” dan melancarkan serangan tanpa henti di wilayah yang terkepung itu.

    Israel telah melakukan serangan brutal terhadap Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

    Pada November tahun lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya, Yoav Gallant, atas tuduhan melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkannya di wilayah Palestina itu.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Laporan Copernicus Sebut Eropa Alami Bencana Terburuk Akibat Perubahan Iklim pada Tahun Lalu

    Laporan Copernicus Sebut Eropa Alami Bencana Terburuk Akibat Perubahan Iklim pada Tahun Lalu

    7cloud.asia – Negara-negara Eropa mengalami “dampak serius” dari cuaca ekstrem dan perubahan iklim pada tahun 2024, menurut laporan baru yang diterbitkan April lalu.

    Data yang dikumpulkan oleh Layanan Perubahan Iklim Uni Eropa Copernicus dan Organisasi Meteorologi Dunia mengungkapkan, daratan Eropa dilanda badai “yang sering kali dahsyat” yang memicu banjir paling luas sejak 2013.

    Eropa Barat terkena dampak paling parah, di mana tahun 2024 tercatat sebagai salah satu di antara sepuluh tahun terbasah sejak 1950.

    Diperkirakan 413.000 orang terkena dampak, dan sedikitnya 335 orang kehilangan nyawa.

    Peristiwa penting termasuk banjir mematikan di Valencia, sebuah provinsi di Spanyol timur. Curah hujan hingga 500 milimeter (20 inci) – setara dengan satu tahun untuk beberapa lokasi – turun hanya dalam delapan jam pada akhir Oktober, menjebak orang-orang di rumah dan mobil mereka.

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global capai 2°C

    Badai yang belum pernah terjadi sebelumnya itu dipicu oleh air laut yang lebih hangat dari biasanya yang kemungkinan terjadi setidaknya 50 hingga 300 kali lebih besar akibat perubahan iklim.

    Menurut laporan tersebut, suhu permukaan laut di seluruh Eropa 0,7°C di atas rata-rata dan Laut Mediterania 1,2°C di atas rata-rata tahun lalu.

    Banjir tersebut menewaskan sedikitnya 232 orang di seluruh wilayah, menjadikannya peristiwa terkait cuaca paling mematikan tahun ini.

    Sebulan sebelumnya, hujan deras yang sama memicu banjir dahsyat di delapan negara di Eropa tengah dan timur.

    Perubahan iklim juga telah meningkatkan kemungkinan dan intensitas badai yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang merenggut sedikitnya 19 nyawa.

    Baca: Pemanasan suhu Bumi mampaui ambang batas 1,5°C

    Sebagai akibat dari peristiwa banjir ini dan lainnya, 30 persen jaringan sungai Eropa melampaui ambang batas banjir “tinggi” selama tahun itu, sementara 12 persen melampaui ambang batas banjir “parah”, ungkap laporan hari Selasa.

    Perubahan iklim mengintensifkan siklus air, membawa curah hujan yang lebih deras dan kemudian memicu banjir besar

    Saat permukaan laut menghangat, udara di atasnya pun ikut menghangat, yang menyebabkan air terbawa ke tempat yang lebih tinggi untuk membentuk awan, dan meninggalkan zona tekanan rendah di bawahnya yang menyebabkan lebih banyak udara masuk.

    Kondisi ini kemudian memicu angin kencang atau bahkan badai. Laporan tersebut menyebut, semakin hangat udara, semakin banyak air yang dapat ditampungnya

    Di mana untuk setiap satu derajat Celsius pemanasan tambahan, udara dapat menahan 7 persen lebih banyak uap air.

    Baca: Uni Eropa dorong pengurangan emisi hingga 90 persen

  • Gelombang Panas yang Dipicu Perubahan Iklim Sebabkan 2300 Kematian di Eropa

    Gelombang Panas yang Dipicu Perubahan Iklim Sebabkan 2300 Kematian di Eropa

    7cloud.asia – Gelombang panas cukup parah yang melanda Eropa sejak pekan lalu diperkirakan telah menyebabkan sekitar 2.300 kematian, menurut sebuah studi yang dirilis pada Rabu (9/7/2025)

    Sekitar 1.500 dari sekitar 2.300 kematian akibat panas dikaitkan dengan perubahan iklim, yang mengakibatkan gelombang panas yang lebih parah di seluruh benua Eropa.

    Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Imperial College London dan London School of Hygiene and Tropical Medicine tersebut menyatakan perubahan iklim melipatgandakan kematian akibat panas di awal musim panas di seluruh Eropa.

    Para peneliti berfokus pada 10 hari cuaca panas dari 23 Juni hingga 2 Juli dan mencakup 12 kota di Eropa, termasuk London, Paris, Frankfurt, Budapest, Zagreb (Kroasia), Athena, Roma, Milan, Sassari (Italia), Barcelona, Madrid, dan Lisbon.

    Baca: Suhu Bumi semakin panas dan dampaknya semakin nyata

    “Temuan analisis ini dan banyak lainnya sangat jelas: suhu panas ekstrem di seluruh Eropa meningkat dengan cepat akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia,” menurut penelitian tersebut.

    Penelitian itu lebih lanjut menggarisbawahi bahwa kota-kota tersebut mengalami peningkatan suhu hingga 4 derajat Celsius.

    Studi tersebut memperingatkan bahwa suhu gelombang panas akan terus meningkat, dan kemungkinan akan meningkatkan jumlah kematian.

    Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa juga menyatakan dalam buletin iklim bulanan pada Rabu bahwa Juni 2025 merupakan Juni terhangat ketiga secara global.

    Baca: Langkah mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global 

    “Juni 2025 mencatatkan gelombang panas luar biasa yang berdampak pada sebagian besar Eropa barat, dengan sebagian besar wilayah mengalami tekanan panas yang sangat kuat,” kata Samantha Burgess, pimpinan strategis untuk urusan iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa.

    “Gelombang panas ini diperparah oleh rekor suhu permukaan laut di Mediterania barat,” imbuhnya.

    Burgess memperingatkan bahwa gelombang panas kemungkinan akan menjadi “lebih sering, lebih intens,” dan berdampak pada lebih banyak orang di seluruh Eropa.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu